• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "SKRIPSI"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN GURU PAUD LAKI-LAKI DALAM MEMBANGUN KARAKTER DISIPLIN ANAK DI TK MUSLIMAT NU 001

PONOROGO

SKRIPSI

Oleh:

MINATUL NUR LAELA NIM. 205190033

JURUSAN PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO

2023

(2)

ii

ABSTRAK

Laela, Minatul Nur. 2023. Peran Guru PAUD Laki-Laki dalam Membangun Karakter Disiplin Anak di TK Muslimat 001 Ponorogo. Skripsi. Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing Dr. Umi Rohmah, M.Pd.I.

Kata Kunci: Peran Guru, Guru PAUD Laki-Laki, Karakter Disiplin

Peran guru merupakan tugas seseorang untuk mengembangkan materi pembelajaran, merencanakan serta mempersiapkan kegiatan, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan peserta didik. Peran guru di PAUD tidak hanya perempuan, namun juga membutuhkan peran guru PAUD laki-laki dalam lembaga untuk memberikan kontribusi yang sangat besar untuk perkembangan anak usia dini.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, guru PAUD laki-laki di Ponorogo sangat sedikit dibandingkan perempuan serta capaian peningkatan karakter disiplin anak ini membutuhkan peran guru PAUD laki-laki untuk menjadi role model dan sosok ayah ketika di sekolah.

Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan peran guru PAUD laki- laki sebagai pendidik dalam meningkatkan karakter disiplin anak di TK Muslimat NU 001 Ponorogo; (2) mendeskripsikan peran guru PAUD laki-laki sebagai pembimbing dalam meningkatkan karakter disiplin anak di TK Muslimat NU 001 Ponorogo; dan (3) mendeskripsikan capaian tingkat perkembangan karakter disiplin anak di TK Muslimat NU 001 Ponorogo.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan: wawancara, observasi, dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data kualitatif mengikuti konsep yang diberikan Miles dan Huberman, dengan langkah-langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; (1) peran guru PAUD laki-laki sebagai pendidik dalam meningkatkan karakter disiplin yaitu menjadi contoh, panutan, teladan yang baik bagi anak serta menanamkan maskulinitas sebagai anak laki-laki; (2) peran guru PAUD laki-laki sebagai pembimbing dalam meningkatkan karakter disiplin anak di TK Muslimat NU 001 Ponorogo adalah menekankan pada tiga kewajiban yaitu asah, asih, dan asuh pada anak, memberikan motivasi serta membuat kesepakatan antara guru PAUD laki-laki dengan anak; dan (3) capaian perkembangan karakter disiplin anak di TK Muslimat NU 001 Ponorogo secara umum sudah Berkembang Sesuai Harapan (BSH), namun masih ada anak yang belum berkembang secara maksimal.

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

(6)

vi

(7)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak usia dini merupakan golden age yang mana anak mulai kritis terhadap perkembangan manusia dan peka terhadap pemberian rangsangan.

Masa peka anak adalah masa di mana terjadinya fungsi fisik dan psikis anak yang telah siap untuk merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan sekitar.1 Tahun awal kehidupan anak menjadi peletak utama dalam mengembangkan keterampilan dan kompetensi anak yang berpengaruh pada seluruh aspek perkembangan.

Anak usia dini memerlukan stimulus yang dapat diberikan oleh orang tua, guru maupun lingkungan sekitar untuk proses perkembangannya. Stimulus ini dapat diberikan berupa pendidikan yang dilakukan di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan pembelajaran pertama anak di mana anak mulai belajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.2 Pendidikan anak usia dini adalah suatu peran yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.3 Pendidikan Anak Usia Dini adalah

1 Montessori dan Hainstock, Metode Pengajaran Montessori Untuk Anak Prasekolah (Jakarta: Pustaka Delapratasa, 2014), 12.

2 Rina Syafrida Eti Rahmawati, Debibik Nabilatul Fauziah, “Penggunaan Media Video Untuk Pengembangan Kognitif Anak Usia Dini Di Masa Pandemi,” Journal of Early Childhood:

Jurnal Dunia Anak Usia Dini 4, no. 1 (2022): 181.

3 Winda Dwi Putri, “Pengaruh Video Pembelajaran Cerita dan Lagu Terhadap Kemampuan Berbicara Anak,” AUDHI 2, no. 2 (2020): 103.

(8)

pendidikan yang menangani anak baru lahir sampai usia 8 tahun yang masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat bagi kehidupan mereka yang datang.4

Dalam pendidikan anak usia dini maka tidak jauh dari pendidikan karakter, yang mana karakter ini sudah ada sejak lahir dengan bentuk yang berbeda-beda. Karakter adalah nilai-nilai yang khas yang terpatri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku.5 Menurut Samani dan Hariyanto dalam penelitian Hanik Musdhalifah, dkk menyatakan bahwa memaknai karakter dapat dijadikan sebagai nilai dasar membangun perilaku anak yang terbentuk berdasarkan pengaruh hereditas maupun lingkungan sekitar.6 Menurut Mulyasa dikutip dari Muhamad Fadlillah & Lilif Mualifatu Khorida, pendidikan karakter anak usia dini memiliki makna yang lebih tinggi dari pendidikan moral karena tidak hanya berhubungan dengan masalah benar atau salah, namun juga menanamkan kebiasaan untuk berperilaku baik dalam kehidupan sehari hari.7

Terdapat 18 karakter yang dapat dibentuk pada anak usia dini meliputi 1) jujur, 2) mandiri, 3) tanggung jawab, 4) berani, 5) religius, 6) rasa ingin tahu, 7) semangat kebangsaan, 8) kreatif, 9) kerja keras, 10) toleransi, 11) cinta

4 Shofia Maghfiroh and Dadan Suryana, “Media Pembelajaran Untuk Anak Usia Dini Di Pendidikan Anak Usia Dini” 5 (2021): 1560–66.

5 Sukatin dan M. Shoffa Saifillah, Pendidikan Karakter (Yogyakarta: CV Budi Utama, 2021), 4.

6 Jumiatmoko Hanik Musdhalifah, Ruli Hafidah, “Penanaman Karakter Disiplin Pada Anak Usia 5-6 Tahun Di Pondok Pesantren,” Jurnal Kumara Cendekia Guru Pendidikan Anak Usia Dini 10, no. 2 (2022): 87.

7 Muhamad Fadlillah & Lilif Mualifatu Khorida, “Pendidikan Karakter Anak Usia Dini:

Konsep & Aplikasinya Dalam PAUD” (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2014), 43.

(9)

damai, 12) komunikatif, 13) peduli sosial, 14) cinta tanah air, 15) menghargai prestasi, 16) gemar membaca, 17) peduli lingkunngan dan 18) disiplin.8

Karakter disiplin merupakan salah satu karakter yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari baik dari cara bersikap maupun bertindak. Aulina dalam penelitian Lailatul Machfiroh berpendapat bahwa disiplin berasal dari kata “disciple” di mana seorang belajar dengan suka rela mengikuti pimpinan, orang tua dan guru sebagai pimpinan sedangkan anak sebagai peserta didik untuk belajar menuju kehidupan yang berguna dan bahagia.9 Charles Schaefer mengartikan disiplin adalah pengajaran, bimbingan serta dorongan mendidik yang dilakukan orang dewasa bertujuan untuk menolong anak belajar hidup sebagai makhluk sosial serta mencapai pertumbuhan dan perkembangan secara optimal.10 Menurut Hurlock disiplin adalah perilaku yang baik dari seorang pemimpin, orang tua, guru, maupun masyarakat sekitar sebagai pembelajaran untuk menuju kehidupan yang berguna dan bahagia di masa mendatang.11 Disiplin berbeda dengan hukuman, disiplin merupakan kebutuhan mutlak di masa golden age yang mana masa ini merupakan masa paling efektif untuk pembentukan perilaku anak.12 Disiplin dapat berjalan dengan baik apabila terdapat seorang pemimpin yang menjadi panutan peserta didik untuk dijadikan sebagai contoh salah satunya yaitu guru.

8 Muhamad Fadlillah & Lilif Mualifatu Khorida, 190.

9 Lailatul Magfiroh, Ellyn Sugeng Desyanty, and Rezka Arina Rahma, “Pembentukan Karakter Disiplin Anak Usia Dini Melalui Metode Pembiasaan Di Tk Aisyiyah Bustanul Athfal 33 Kota Malang,” Jurnal Pendidikan Nonformal 14, no. 1 (2019): 54-67.

10 Mayke S. Tedjasaputra, Bermain, Mainan, Dan Permainan (Jakarta: PT Grasindo, 2012), 14.

11 Mayke S. Tedjasaputra, 14.

12 Magfiroh, Desyanty, and Rahma, “Pembentukan Karakter Disiplin Anak Usia Dini Melalui Metode Pembiasaan Di Tk Aisyiyah Bustanul Athfal 33 Kota Malang.”, 56.

(10)

Guru memiliki tanggung jawab yang berat, yang mana guru harus mampu menumbuh kembangkan kedisiplinan siswa, karena dengan disiplin orang menjadi lebih baik dan teratur. Disiplin pada anak mencakup mendidik, membimbing, dan mengajar atau dorongan yang dilakukan oleh orang tua maupun guru. Guru berperan membantu proses perkembangan peserta didik dalam mewujudkan tujuan hidup secara optimal.13 Guru adalah pendidik, tokoh, panutan, serta identifikasi untuk peserta didik dan lingkungan.14 Guru menjadi sumber belajar utama bagi peserta didik, tanpa adanya guru pembelajaran tidak dapat dilakukan secara maksimal meskipun beberapa orang dapat belajar secara otodidak. Pembelajaran yang dilakukan tanpa guru berbeda hasilnya dengan pembelajaran yang berada dibawah bimbingan seorang guru.15

Guru yang kompeten lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang menarik, efektif, dan lebih mampu mengelola suasana kelas sehingga pembelajaran dapat optimal. Peran dan komptensi guru dalam mengajar ini meliputi beberapa hal sebagaimana yang dikemukakan oleh Adanms & Decey dalam Basic Principles of Student Teaching, yaitu guru sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, perencana, supervisor, motivator, partisipan, penanya, dan konselor.16

Gambaran tugas dan peran guru dalam pendidikan, guru memiliki pengetahuan yang luas, mampu mengamalkan ilmu, membantu proses belajar mengajar, dan toleransi. Secara prinsip, orang yang disebut sebagai seorang

13 Mulyasa, “Menjadi Guru Profesional Mencip Pembelajaran Kreatif Dan Menyenangkan” (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), 35.

14 Mulyasa, 37.

15 Ngainun Naim, “Menjadi Guru Inspiratif” (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016), 4–5.

16 Uzer Usman, “Menjadi Guru Profesional” (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2017), 7.

(11)

guru bukan hanya yang memiliki kualifikasi keguruan secara formal, namun yang terpenting adalah mempunyai kompetensi keilmuan yang dapat mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Aspek kognitif menjadikan peserta didik cerdas intelektualnya, aspek afektif menjadikan peserta didik memiliki perilaku baik dan sopan, aspek psikomotorik menjadikan peserta didik terampil, efektif, efesien dan tepat guna.17

Guru di lembaga PAUD didominasi oleh perempuan, sehingga hal ini menjadi sesuatu yang lumrah dalam pandangan masyarakat. Keseimbangan antara guru laki-laki dan perempuan sangatlah penting, hal ini dapat dilihat dari kebutuhan perkembangan pendidikan anak usia dini. Namun, pada kenyataannya guru PAUD laki-laki di Indonesia sangat sedikit. Hal ini dapat diketahui dari fakta di lapangan tentang perbandingan jumlah guru PAUD laki-laki dan perempuan. Berdasarkan data statistik PAUD jumlah guru laki- laki di lembaga TK sebanyak 4.673 guru, sedangkan jumlah guru perempuan adalah 256.936 guru.18 Sedangkan jumlah guru PAUD laki-laki di Ponorogo ada 16 guru, yaitu 6 ada di Ponorogo kota, 2 di Siman, 3 di Ngrayun, 1 di Badegan, 1 di sampung, 2 di Jenangan, dan 1 di Slahung.19 Hasil dari perbandingan tersebut jumlah guru laki-laki dan perempuan sangat jauh, namun hal ini tidak mengubah peranan penting guru PAUD laki-laki di lembaga PAUD.

Guru perempuan maupun laki-laki memiliki peran yang sama dalam membangun karakter disiplin anak yaitu mendidik, melatih, membimbing dan

17 Naim, “Menjadi Guru Inspiratif”, 6.

18 Riset dan Teknologi Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, “Data Guru Nasional,", dapo.kemdikbud.go.id, 2021.

19 Agus Effendi “Sebagai Guru Penggerak dan Pengurus IGTK Ponorogo”

(12)

mengajar. Membangun karakter disiplin berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, peneliti menggunakan peran guru PAUD laki-laki sebagai pendidik dan pembimbing untuk memfokuskan penelitian. Guru PAUD laki- laki sebagai pendidik memiliki peran dalam mendidik moral dan kepribadian sehingga berkesinambungan antara masalah yang sedang terjadi dengan peran guru sebagai pendidik yang mana mendidik harus menjadi contoh dan tauladan yang baik bagi anak. Guru PAUD laki-laki sebagai pembimbing harus memiliki moral dan tata tertib yang harus ditaati, sehingga hal ini sangat cocok dengan masalah yang terjadi.20

Peneliti memilih tempat penelitian di TK Muslimat NU 001 Ponorogo karena di lembaga TK ataupun PAUD sangat jarang dijumpai guru PAUD laki-laki, namun di TK Muslimat NU 001 Ponorogo tersebut terdapat dua guru PAUD laki-laki. Sehingga peneliti ingin meneliti guru PAUD laki-laki terutama tentang peranan guru PAUD laki-laki dalam membangun karakter disiplin anak. Hasil observasi yang dilakukan di TK Muslimat NU 001 Ponorogo guru PAUD laki-laki memiliki peran yang penting dalam membangun karakter disiplin anak. Hal ini dapat diketahui dalam beberapa kegiatan seperti masih ada anak yang kurang disiplin saat upacara bendera ataupun apel pagi di halaman, masih ada yang datang terlambat, tidak sabar menunggu antrian, tidak menyelesaikan tugas yang telah diberikan, beberapa anak tidak memakai seragam sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, dan pada saat berdoa sebelum dan sesudah belajar masih banyak anak yang ramai.

Selain itu, guru kelas A4 yang mengajar anak usia 5-6 tahun juga mengatakan

20 Suparlan, “Guru Sebagai Profesi” (Yogyakarta: Hikayat Publishing, 2019), 33.

(13)

bahwa guru PAUD laki-laki ini berperan dalam membangun karakter disiplin anak karena ketika kelas A4 tidak dapat diatasi, maka guru PAUD laki-laki ikut membantu dalam menertibkan anak. Terjadinya perilaku tidak disiplin di sekolah tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi permasalahan serius dalam pembentukan karakter disiplin.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang terkait dengan peran guru PAUD laki-laki sebagai pembimbing dan pendidik serta capaian dalam membangun karakter disiplin anak, sehingga penelitian ini berjudul “Peran Guru PAUD Laki-Laki dalam Membangun Karakter Disiplin Anak di TK Muslimat NU 001 Ponorogo”.

B. Fokus Penelitian

Agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memberikan pandangan terhadap judul skripsi ini, maka peneliti perlu membatasi masalah untuk memfokuskan penelitian tentang peran guru PAUD Laki-laki sebagai pendidik dalam membangun karakter disiplin anak usia 5-6 tahun di TK Muslimat NU 001 Ponorogo, peran guru PAUD Laki-laki sebagai pembimbing dalam membangun karakter disiplin anak usia 5-6 tahun di TK Muslimat NU 001 Ponorogo, dan capaian peningkatan karakter disiplin anak usia 5-6 tahun di TK Muslimat NU 001 Ponorogo. Alasan peneliti membatasi masalah yaitu untuk memfokuskan penelitian di atas karena cocok dengan masalah yang diteliti dalam penelitian di TK Muslimat NU 001 Ponorogo.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

(14)

1. Bagaimana peran guru PAUD laki-laki sebagai pendidik dalam membangun karakter disiplin anak di TK Muslimat NU 001 Ponorogo?

2. Bagaimana peran guru PAUD laki-laki sebagai pembimbing dalam membangun karakter disiplin anak di TK Muslimat NU 001 Ponorogo?

3. Bagaimana capaian peningkatan karakter disiplin anak di TK Muslimat NU 001 Ponorogo?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mendeskripsikan peran guru PAUD laki-laki sebagai pendidik dalam membangun karakter disiplin anak di TK Muslimat NU 001 Ponorogo 2. Mendeskripsikan peran guru PAUD laki-laki sebagai pembimbing dalam

membangun karakter disiplin anak di TK Muslimat NU 001 Ponorogo 3. Mendeskripsikan capaian peningkatan karakter disiplin anak di TK

Muslimat NU 001 Ponorogo E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dilakukannya penelitian ini adalah:

1. Secara Teoretis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi masalah serta menghadapi tantangan lingkungan di mana pengambilan keputusan harus dilakukan dengan cepat. Penelitian ini juga memberikan sumbangan pemikiran berupa referensi dan refleksi mengenai peran guru PAUD laki- laki dalam membangun karakter disiplin anak untuk pelaksanaan pendidikan.

(15)

2. Secara Praktis a. Guru

Hasil penelitian ini bermanfaat bagi guru untuk memberikan wawasan serta pengetahuan tentang pentingnya peran guru PAUD laki-laki dalam mendidik, membimbing, dan membangun karakter disiplin anak.

b. Peserta Didik

Penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi peserta didik.

Pertama, peserta didik mampu bertindak disiplin baik di dalam maupun di luar kelas. Kedua, peserta didik dapat menerapkan perilaku disiplin baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat sekitar.

c. Bagi Sekolah

Penelitian ini dapat memberikan wawasan suatu lembaga atau sekolah akan pentingnya peran guru PAUD laki-laki untuk mendidik dan membimbing anak dalam membangun karakter disiplin anak di sekolah.

d. Bagi Peneliti selanjutnya

Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan dan perbandingan peneliti selanjutnya, memberikan manfaat bagi peneliti untuk mengembangkan wawasan, dan pengetahuan tentang peran guru PAUD laki-laki dalam membangun karakter disiplin anak.

F. Sistematika Pembahasan

Agar skripsi ini mudah pembahasannya, maka peneliti mengelompokkan menjadi 5 bab, yang mana bab satu dengan bab lainnya saling berkaitan dan

(16)

merupakan pembahasan yang utuh dengan sistematika pembahasan sebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan, bab ini merupakan gambaran dari seluruh skripsi yang meliputi latar belakang, fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika pembahasan.

BAB II : Kajian teori sebagai landasan dalam penelitian, dan telaah hasil penelitian terdahulu. Kajian teori meliputi peran guru, guru PAUD laki-laki, dan karakter disiplin.

BAB III : Metode Penelitian meliputi pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, pengecekan keabsahan penelitian, dan tahap-tahap penelitian.

BAB IV : Hasil dan pembahasan meliputi gambaran umum latar belakang masalah penelitian, paparan data serta pembahasan.

BAB V : Penutup meliputi kesimpulan dan saran.

(17)

11 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori 1. Peran Guru

a. Pengertian Peran

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata peran memiliki tiga arti yaitu 1) pemain sandiwara (film), 2) tukang lawak dalam permainan makyong, 3) perangkat tingkah yang diharapkan dapat dimiliki oleh seseorang yang memiliki kedudukan dalam masyarakat.21 Setiap individu manusia memiliki pola yang berbeda dalam berhubungan atau berkomunikasi dengan individu lain, seperti memiliki rasa percaya, tidak senang, ragu, kesal, maupun curiga. Oleh karena itu peran dapat diartikan sebagai suatu rangkaian ucapan, tindakan maupun perasaan yang berhubungan dengan individu lain. 22

Menurut Kamisa peranan merupakan sesuatu yang diperbuat dan memiliki pengaruh yang besar terhadap suatu peristiwa. Sedangkan menurut Ahmadi, peranan adalah suatu kompleks pengharapan manusia terhadap cara individu berbuat dan bersikap dalam situasi tertentu berdasarkan status dan fungsi sosial.23 Menurut Soerjono Soekanto, peran adalah aspek dinamis status seseorang dalam

21 Departemen Pendidikan Nasional, KBBI, Edisi Keti (Balai Pustaka, 2016), 854.

22 Enco Mulyasa, “Manajemen Pendidikan Karakter” (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013), 180.

23 Agung Suharyanto, “Peranan Pendidikan Kewarganearaan Dalam Membina Sikap Toleransi Antar Siswa,” Jurnal Ilmu Pemerintahan Dan Sosial Politik, 2013, 194.

(18)

melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya untuk menjalankan suatu peran.24

Peran adalah pola perilaku normatif yang diharapkan pada suatu kedudukan tertentu.25 Tidak ada peran tanpa kedudukan ataupun kedudukan tanpa peranan. Oleh karena itu, peranan menentukan apa yang diperbuat untuk masyarakat serta kesempatan-kesempatan yang diberikan masyarakat kepadanya. Peran yang sudah melekat dalam diri seseorang, harus berbeda posisi dengan pergaulannya dalam kemasyarakatan. Berdasarkan teori di atas, peran adalah salah satu perilaku seseorang yang memiliki dampak untuk sekitar dalam melaksanakan hak serta kewajiban yang telah diberikan masyarakat.

b. Pengertian Guru

Guru dalam UU No. 20 Tahun 2003 menjelaskan bahwa pendidik merupakan tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, pamong belajar, konselor, tutor, fasilitator dan lain sebagainya sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan, memajukan, dan meningkatkan pendidikan.26 Guru adalah seorang tenaga pendidik profesional yang mendidik, membimbing, mengajarkan suatu ilmu, melatih, serta memberikan evaluasi kepada peserta didik.27

24 Florentinus Chritian Imanuel, “Peran Kepala Desa Dalam Pembangunan Kecamatan Muara Badak,” Jurnal IlmuPemerintahan 3, no. 32 (2015): 1184–85.

25 Amin Nurdin dan Ahmad Abrori, Mengerti Sosiologi: Pengantar Untuk Memahami Konsep-Konsep Dasar (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2019), 47.

26 UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

27 Dewi Safitri, Menjadi Guru Profesional, Edisi Pert (Riau: PT Indragiri, 2019), 5.

(19)

Guru ialah seseorang yang melaksanakan tindakan mendidik dalam suatu kondisi di lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan dengan rasa sabar, ikhlas, dewasa, jujur, serta memiliki rasa kasih sayang. Menurut N.E.A (National Education Association) guru merupakan semua petugas yang langsung terlibat dengan tugas- tugas kependidikan.28 Menurut Raka Joni guru adalah orang yang memiliki pengetahuan serta kondisi kurikulum yang diterapkan dan memiliki tanggung jawab atas keberhasilan hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan.29 Guru adalah manusia biasa yang memiliki kelebihan dan kekurangan serta kemampuan mendidik, mengajar, membimbing dan melatih.30

Guru dibagi menjadi beberapa macam, yaitu 1) guru kelas, guru mempunyai tugas untuk mengajar di satu kelas dan tidak mengajar di kelas lain, 2) guru mata pelajaran, guru yang memiliki tugas untuk mengajar satu mata pelajaran saja, 3) guru bimbingan dan konseling, yakni guru yang diberi tugas untuk memberikan bimbingan bagi peserta didik, 4) guru pustakawan, yaitu guru yang memiliki tugas utama mengurus perpustakaan sekolah, 5) guru esktrakurikuler, yakni guru yang memberikan tambahan esktrakurikuler seperti pramuka, drumband, seni musik, dan sebagainya.31

28 Eti Hadiati Siti Fatimah, Erfha Nurrahmawati, “Peranan Guru Dalam Mengembangkan Kognitif Anak Usia Dini Di TK Raudhatul Ulum Kresnomulyo,” PIAUD Raden Intan Lampung, 4.

29 Nuroktya Ningsih, “Hambatan Guru Pendidikan Kewarganegaraan Dalam Pelaksanaan Evaluasi Pembelajaran Di Sman 1 Sanden,” Jurnal Citizenship 1, No. 42 (2012): 124.

30 Suparlan, “Menjadi Guru Afektif” (Yogyakarta: Hikayat Publishing, 2008), 25–26.

31 Suparlan, 27.

(20)

Berdasarkan penjelasan dari teori di atas maka, guru adalah seseorang yang memiliki wewenang serta tanggung jawab mendidik, membimbing, melatih, mengajar dan membina serta mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik dengan kurikulum dan tujuan pendidikan yang telah ditentukan.

c. Pengertian Peran Guru

Menurut Yudrik Jahja, peran guru adalah sebagai fasilitator dan buku untuk memberikan informasi.32 Menurut Usman peranan guru merupakan serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan dalam suatu kondisi dan situasi tertentu serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa untuk menjadi tujuan utama.33

Peran guru dalam proses belajar mengajar tidak hanya berfokus sebagai pengajar, namun juga mampu beralih sebagai pembimbing, pendidik, dan pelatih.34 Menurut James W. Brown, tugas dan peranan guru adalah menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencanakan serta mempersiapkan kegiatan, mengontrol dan mengevaluasi setiap kegiatan peserta didik.35 Sedangkan menurut Wina Sanjaya terdapat tujuh peran guru yaitu:36

1) Guru sebagai sumber belajar

32 Ayu Septiani, “Peranan Guru Dalam Membangun Karakter Anak Usia Dini Melalui Metode Bercerita Di Taman Kanak-Kanak Sriwijaya Way Dadi Sukarame Bandar Lampung”, 16.

33 Anna Akhsanus Sulukiyah, “Peran Guru Dalam Membentuk Karakter Kedisiplinan Pada Siswa Kelas IV Di Sekolah Dasar Negeri Gondangwetan 1 Kabupaten Pasuruan,” Journal of Chemical Information and Modeling 53, no. 9 (2013): 12.

34 Latifah Husein, “Profesi Keguruan Menjadi Guru Profesional” (Yogyakarta: Pustaka Press, 2017), 43.

35 Ayu Septiani, “Peranan Guru Dalam Membangun Karakter Anak Usia Dini Melalui Metode Bercerita Di Taman Kanak-Kanak Sriwijaya Way Dadi Sukarame Bandar Lampung.”, 15.

36 Wina Sanjaya, “Strategi Pembelajaran” (Jakarta: Kencana, 2016), 21–31.

(21)

Peran guru sebagai sumber belajar berkaitan sangat erat dengan penguasaan materi yang telah dipelajari. Dapat dikatakan guru profesional apabila ia mampu mengusai materi pembelajaran dengan baik sehingga ia mampu menjadi sumber belajar anak.

2) Guru sebagai pembimbing

Guru harus mampu menjadi pembimbing bagi anak yang sedang diajar serta memahami perkembangan anak. Misalnya anak yang baru masuk sekolah diam dan tidak berani bicara, namun lama kelamaan anak mampu aktif dan berani mengungkapkan pendapat saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Selain itu, guru harus terampil dalam merencanakan, baik rencana tujuan, kompetensi yang dicapai, maupun merencanakan proses pembelajaran.

3) Guru sebagai pendidik

Guru berperan mendidik anak agar memiliki tingkah laku yang sesuai dengan moral yang berlaku di lingkungan masyarakat serta mendidik kepribadian anak agar tumbuh menjadi pribadi yang baik. Sebagai pendidik, guru adalah teladan, panutan, contoh dan tokoh yang ditirukan oleh peserta didik. Kedudukan atau peran guru ini menuntut guru untuk memiliki pribadi yang baik, tanggung jawab, berwibawa, mandiri, serta disiplin.37

37 Supardi, “Sekolah Efektif Konsep Dasar Dan Praktiknya” (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), 92.

(22)

4) Guru sebagai fasilitator

Guru berperan memberikan pelayanan untuk memudahkan anak dalam kegiatan belajar mengajar. Beberapa hal yang perlu dipahami oleh guru yaitu pemanfaatan sumber belajar baik dari media, jenis sumber pembelajaran, fungsi suatu media, serta mampu merancang suatu media untuk dijadikan pembelajaran di kelas. Selain itu, guru juga bisa memberikan pertanyaan yang dapat merangsang otak anak untuk berfikir kritis, dan mendorong siswa untuk mencari bahan ajar.

5) Guru sebagai pengelola

Guru berperan mengelola suasana dan kondisi kelas agar anak dapat belajar dengan nyaman, pembelajaran berjalan kondusif, kreatif, produktif, melaksanakan administrasi, dan presensi kelas.

6) Guru sebagai demonstrator

Salah satu peran guru adalah sebagai demonstrator di mana guru menunjukkan pada anak tentang suatu hal sehingga anak mampu mengerti dan memahami setiap pesan yang disampaikan oleh guru. Guru berperan sebagai demonstrator dibagi menjadi dua yaitu guru harus menunjukkan sikap terpuji sehingga menjadi role model bagi anaknya, kedua guru mampu menunjukkan bagaimana materi yang telah disampaikan dapat dipahami dan dimengerti oleh anak.

(23)

7) Guru sebagai motivator

Guru harus menjadi motivator anak memiliki semangat yang tinggi untuk menuntut ilmu. Beberapa motivasi yang diberikan oleh guru yaitu memperjelas tujuan yang ingin dicapai, membangkitkan minat siswa dalam belajar maupun mengembangkan bakat dan minat, memberikan pujian atas hasil yang telah dicapai anak, memberikan penilaian, dan memahami perkembangan anak.

8) Guru sebagai evaluator

Guru berperan untuk mengumpulkan data serta informasi tentang keberhasilan dari pembelajaran yang telah dilakukan. Guru memiliki dua fungsi evaluator yaitu menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan dan menyerap materi, serta menentukan keberhasilan guru dalam melaksanakan kegiatan yang telah diprogramkan sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.

Secara ideal, guru harus memiliki banyak pengetahuan serta keterampilan, tetapi kompetensi akademis yang harus dimiliki guru adalah memiliki kemampuan untuk mentransfer ilmu pengetahuan serta teknologi kepada peserta didik. Beberapa kemampuan yang dapat mendukung kemampuan utama yaitu:

1. Sebagai pendidik, guru menjadi panutan yang memiliki nilai moral, agama dan kepribadian baik untuk menjadi panutan, tokoh, dan identifikasi peserta didik.38

38 Suparlan, “Guru Sebagai Profesi.”, 32.

(24)

2. Sebagai pembimbing, guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, berdasarkan dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki serta bertanggung jawab dengan kelancaran perjalanan tersebut. Berdasarkan ilustrasi tersebut, maka sebagai pembimbing guru memerlukan kompetensi untuk merencanakan tujuan, mengidentifikasi kompetensi yang dicapai, melihat keterlibatan peserta didik dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, guru memaknai kegiatan belajar mengajar, dan melaksanakan penilaian.39

3. Sebagai pengajar, guru mampu mentransfer pengetahuan dengan menggunakan bahan ajar media ataupun teknologi dengan menguasai materi yang diajarkan, strategi dan metode yang digunakan.40

4. Sebagai pelatih, guru memberikan kesempatan peserta didik untuk bereksplorasi sesuai dengan teori yang telah ada untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.41

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam mendidik, membimbing, mengajar, dan melatih.42 Secara terminologis mendidik, membimbing, mengajar, dan melatih dapat dijelaskan sebagai berikut:43

39 Suparlan, 32.

40 Suparlan, 33.

41 Suparlan, 33.

42 Suparlan, “Menjadi Guru Afektif.”, 34

43 Suparlan, 34.

(25)

Tabel. 2.1 Peran guru

No Aspek Mendidik Membimbing Mengajar Melatih

1. Isi Moral dan kepribadian

Norma dan tata tertib

Bahan ajar berupa ilmu pengetahuan dan teknologi

Keterampilan

2. Proses

Menjadi contoh dan

teladan dalam hal moral dan kepribadian

Memberikan motivasi untuk belajar dan mengikuti

tata tertib

Menyampaikan atau mentransfer

bahan ajar yang berupa

ilmu pengetahuan, teknologi dan seni memberi contoh kepada

anak

Memberi contoh kepada anak

3.

Strategi dan metode

Keteladanan , kebiasaan

Motivasi dan pembinaan

Ekspositori, inkuiri

Praktik kerja, simulasi,

magang

Guru juga berperan untuk mengumpulkan data serta informasi tentang keberhasilan belajar yang telah dilakukan. Untuk mencapai suatu tujuan, maka guru perlu menyiapkan materi untuk melaksanakan program yang telah disusun.44 Berdasarkan teori yang dijelaskan di atas, maka peran guru adalah tenaga pendidik yang memiliki tugas, hak, dan kewajiban untuk mencapai tujuan pendidikan sesuai dengan yang diharapkan.

44 Sanjaya, “Strategi Pembelajaran.”, 31.

(26)

2. Guru PAUD Laki-Laki

Secara bahasa, guru berasal dari Bahasa Indonesia yang berarti orang yang mengajar (pendidik, pengajar).45 Dalam Bahasa Jawa, guru adalah sosok tauladan yang berarti digugu lan ditiru.46 Dalam konteks ini, guru dianggap sebagai pribadi yang tidak hanya bertugas mendidik, mentransfer ilmu, namun juga sebagai sumber informasi masyarakat ke arah yang lebih baik sehingga guru memiliki makna yang luas.

Dalam Undang-Undang RI nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen menyebutkan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai serta mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.47

Pentingnya peran laki-laki menjadi pendidik di PAUD memberikan kontribusi yang sangat besar untuk perkembagan anak usia dini. Anak dapat belajar tentang jenis kelamin, serta menanamkan maskulinitas sebagai anak laki-laki. Peran guru PAUD laki-laki dapat menjadi role model bagi anak laki-laki agar memiliki gambaran sikap positif dari dasar seorang laki-laki.48 Peran laki-laki sebagai guru PAUD yaitu sebagai guru yang fleksibel serta mampu melakukan pekerjaaan fisik, sebagai pengganti peran ayah di sekolah. Guru PAUD laki-laki memiliki peran yang menegakkan kedisiplinan anak, sosok yang otoritas, serta tanggung jawab.

45 Ari Riyan Wibowo, “Peran Guru Laki-Laki Terhadap Pendidikan Karakter Anak Di Taman Kanak-Kanak (Tk) Aisyiyah Bustanul Athfal 02 Pelutan Pemalang”, 8.

46 Wibowo, 33.

47 Wiyani Norvan, “Konsep Dasar Paud” (Yogyakarta: Penerbit Gava Media, 2016), 14.

48 Talu, “Faktor Penyebab Kurangnya Minat Laki-Laki Untuk Menjadi Guru PAUD Di Kabupaten Manggarai”, 197-198.

(27)

Oleh karena itu, pandangan tentang profesi guru PAUD hanya perempuan seyogyanya berganti, sebab anak juga membutuhkan sosok laki-laki dan perempuan untuk menjaga keseimbangan.49

Keberadaan guru PAUD laki-laki yang menjadi role model dan uswah bagi anak laki-laki, dapat juga mengurangi pandangan masyarakat bahwa pendidikan anak usia dini di suatu lembaga tidak hanya guru perempuan, namun juga membuka wawasan bahwa guru PAUD laki-laki sangatlah penting untuk menjaga keseimbangan serta perkembangan anak.

Berdasarkan deskripsi di atas, maka pendidik laki-laki memiliki peran utama dalam pendidikan anak usia dini agar anak menjadi berani, disiplin, dan memiliki jiwa kepemimpinan.

3. Karakter Disiplin

a. Pengertian Karakter Disiplin 1) Karakter

Berbicara soal karakter, maka perlu disimak tentang apa yang ada di UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, yang menyebutkan: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,..”.50 UU ini secara jelas ada kata

“karakter”, namun tidak ada penjelasan lebih lanjut terkait apa yang dimaksud karakter sehingga menimbulkan berbagai penafsiran tentang maksud dari kata tersebut.

49 Talu, 198.

50 Sutarjo Adisusilo, “Pembelajaran Nilai Karakter” (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2014).

(28)

Karakter dalam bahasa Yunani dan latin, character dari asal kata charassein yang berarti mengukir corak yang tetap dan tidak dapat dihapuskan. Sedangkan karakter merupakan watak, budi pekerti, akhlak, kepribadian serta perpaduan dari segala tabiat manusia yang bersifat tetap sehingga dapat menjadi tanda khusus untuk membedakan antara satu orang dengan orang lain.51 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia karakter merupakan sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain.52 Individu yang baik adalah individu yang mampu membuat keputusan serta tanggung jawab dari setiap keputusan yang telah dibuat. Selain itu karakter yang baik, mampu mendisiplinkan diri di mana pun dan kapan pun.

Menurut Samani dan Hariyanto dalam penelitian Hanik Musdhalifah, dkk memaknai karakter dapat dijadikan sebagai nilai dasar membangun perilaku anak yang terbentuk berdasarkan pengaruh hereditas maupun lingkungan sekitar.53 Scerenko menjelaskan bahwa karakter adalah salah satu ciri atau atribut yang dapat membentuk pribadi, ciri etis, dan keterampilan mental dari seseorang, kelompok maupun bangsa.54 Hermawan Kertajaya mengemukakan bahwa karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh seorang individu yang mengakar pada kepribadian seseorang yang

51 Daryanto dan Suryatri, Implementasi Pendidikan Karakter Di Sekolah (Yogyakarta:

Gava Media, 2013), 9.

52 Nasional, KBBI.

53 Jumiatmoko Hanik Musdhalifah, Ruli Hafidah, "Penanaman Karakter Disiplin Pada Anak Usia 5-6 Tahun di Pondok Pesantren”, Jurnal Kumara Cendekia Guru Pendidikan Anak Usia Dini 10, no. 2 (2022), 87.

54 Muchlas & Hariyanto, Konsep Dan Model Pendidikan Karakter (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014).

(29)

menjadi mesin pendorong untuk melakukan suatu tindakan, sikap, dan merespon sesuatu.55 Ahli pendidikan Darmiyati Zuchdi memaknai watak (karakter) yaitu sebagai seperangkat sifat-sifat yang dikagumi sebagai tanda kebaikan, kebijakan, dan kematangan moral seseorang.56

Winnie memahami istilah karakter memiliki dua arti yaitu pertama, karakter yaitu bagaimana seseorang menunjukkan sesuatu dengan tingkah laku. Maksudnya, apabila ada yang berperilaku tidak jujur, rakus, berbuat kejam, dan beberapa tingkah laku lainnya yang tidak sesuai dengan norma maka orang tersebut memanifestasikan perilaku mulia. Kedua, karakter berhubungan erat dengan personality. Maksudnya, seorang bisa disebut berkarakter apabila bertingkah sesuai dengan kaidah moral.57

Menurut filosof kontemporer Michael Novak karakter merupakan perpaduan yang harmonis dari seluruh budi pekerti yang terdapat ajaran-ajaran agama, kisah-kisah sastra, cerita orang bijak, dan orang berilmu dari zaman dahulu hingga sekarang.58 Suyanto dalam penelitian Anna Akhsanus Sulukiyah berpendapat bahwa karakter ialah cara berpikir serta berperilaku yang menjadi

55 Sulukiyah, “Peran Guru Dalam Membentuk Karakter Kedisiplinan Pada Siswa Kelas IV Di Sekolah Dasar Negeri Gondangwetan 1 Kabupaten Pasuruan”, 13

56 Sutarjo Adisusilo, “Pembelajaran Nilai Karakter.”, 36.

57 Fathul Muin, “Pendidikan Karakter Kontruksi Teoretik & Praktik” (Yogyakarta: Ar- Ruzz Media, 2016), 160.

58 Suryatri, Implementasi Pendidikan Karakter Di Sekolah, 9.

(30)

ciri khas individu untuk bekal hidup dan bekerja sama baik dalam lingkup keluarga, sekolah, masyarakat, bangsa, dan negara.59

Berdasarkan pendapat para pakar pendidikan di atas dapat dikatakan bahwa karakter adalah suatu sikap yang ada dalam pribadi seseorang dalam bertindak, berucap, dan berperilaku.

Karakter ini dapat dibentuk dengan adanya pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari agar menjadi individu yang baik serta membedakan antara satu orang dengan orang lain.

2) Disiplin

Disiplin berasal dari kata discipline yang berarti seseorang yang belajar dengan sukarela mengikuti seorang pemimpin.

Menurut Mac Millan disiplin berasal dari kata disiplina yang menunjukkan kegiatan belajar mengajar. Secara istilah Bahasa Inggris yaitu Discipline berarti 1) tertib, taat dan mengendalikan tingkah laku, serta penguasaan diri, 2) latihan membentuk, meluruskan serta menyempurnakan sesuatu sebagai kemampuan mental atau karakter moral, 3) hukuman yang diberikan untuk melatih dan memperbaiki, 4) kumpulan sistem peraturan bagi tingkah laku.60 Menurut Prijodarminto, disiplin merupakan suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui serangkaian proses perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, ketertiban, dan

59 Sulukiyah, “Peran Guru Dalam Membentuk Karakter Kedisiplinan Pada Siswa Kelas IV Di Sekolah Dasar Negeri Gondangwetan 1 Kabupaten Pasuruan.”, 27.

60 Sulukiyah, 47.

(31)

keteraturan, yang tercipta melalui proses bimbingan keluarga, pendidikan di sekolah, maupun pengalaman.61

Disiplin merupakan penundukan diri untuk mengatasi hasrat yang mendasar seperti perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan norma maupun tata tertib yang telah ditentukan. Disiplin ini biasanya disamakan artinya dengan kontrol diri.62 Disiplin adalah salah satu kemampuan menunjukkan hal yang terbaik dalam segala situasi melalui pengontrolan emosi, kata-kata, dorongan, keinginan, dan tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.63

Charles Schaefer berpendapat bahwa disiplin adalah sesuatu yang mencakup bimbingan, pengajaran, pendidikan atau dorongan yang dilakukan oleh orang dewasa dengan tujuan untuk menolong anak belajar hidup sebagai makhluk sosial dan mencapai pertumbuhan dan perkembangan secara optimal.64 Disiplin sebagai alat pendidikan sehingga segala peraturan harus ditaati serta dilaksanakan, sehingga dengan adanya disiplin segala peraturan yang telah dibuat dapat ditaati untuk mengatur kehidupan aktivitas di sekolah sehari-hari.65 Tujuan disiplin ialah membentuk perilaku sedemikian rupa sehingga sesuai dengan peran yang telah

61 Raisa Armayanti Nasution, “Penanaman Disiplin Dan Kemandirian Anak Usia Dini Dalam Metode Maria Montessori,” Jurnal Raudhal 5, no. 2 (2017): 4.

62 M. Taufik Rahman Mohamad Mustari, “Nilai Karakter Refleksi Untuk Pendidikan”

(Depok: PT Rajagrafindo Persda, 2017), 38.

63 Zubaedi, “Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi Dan Aplikasinya Dalam Lembaga Pendidikan” (Jakarta: Kencana, 2013).

64 Choirun Nisa Aulina, “Penanaman Disiplin Anak Usia Dini,” Jurnal Pedagogia 5, no.

2 (2017): 388.

65 Basuki & M. Miftahul Ulum, “Pengantar Ilmu Pendidikan Islam” (Ponorogo: STAIN PO Press, n.d.), 143.

(32)

ditetapkan dalam budaya, tempat individu bersosial. Disiplin memiliki tiga aspek yaitu:66

1. Sikap mental yang menjadi sikap taat dan tertib sebagai hasil dari perkembangan latihan, pengendalian pikiran, dan pengendalian watak.

2. Pemahaman yang baik mengenai sistem perilaku, norma, moral, etika, dan standar yang sedemikian rupa untuk menumbuhkan pengertian bahwa taat terhadap aturan merupakan syarat mutlak untuk menuju kesuksesan.

3. Sikap perilaku yang wajar menunjukkan kesungguhan untuk menaati aturan secara cermat serta tertib.

Perilaku disiplin anak dapat diterapkan dan ditingkatkan oleh lingkungan sekitar yaitu orang tua dan guru. Guru harus mampu membantu peserta didik mengembangkan pola perilakunya, meningkatkan standar perilakunya dan melaksanakan aturan sebagai alat untuk menegakkan disiplin. Untuk mendisiplinkan peserta didik perlu dimulai dengan prinsip yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yakni sikap demokratis sehingga peraturan disiplin perlu berpedoman pada hal tersebut yakni dari, oleh dan untuk peserta didik. Sedangkan guru Tut Wuri Handayani Sulaiman mengemukakan bahwa guru berfungsi sebagai

66 Sulukiyah, “Peran Guru Dalam Membentuk Karakter Kedisiplinan Pada Siswa Kelas IV Di Sekolah Dasar Negeri Gondangwetan 1 Kabupaten Pasuruan.”, 48.

(33)

pengemban ketertiban yang patut digugu dan ditiru tapi tidak diharapkan sikap yang otoriter.67

Uraian di atas menjelaskan bahwa disiplin adalah suatu tindakan yang menunjukkan perilaku tertib, taat, dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan yang telah ditetapkan. Disiplin menjadi alat yang ampuh dalam mendidik karakter. Banyak orang yang sukses karena disiplin, namun juga banyak peran yang dilakukan seseorang untuk menuju kesuksesan namun kurang atau bahkan tidak disiplin. Disiplin merupakan hal yang mutlak dalam kehidupan agar tidak merusak sendi-sendi kehidupan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

b. Ciri-ciri Disiplin Anak Usia 5-6 Tahun

Permendikbud Nomor 137 Tahun 2004 menjelaskan tentang Standar Nasional PAUD yang dimuat dalam Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) usia 5-6 tahun yaitu anak mampu menaati aturan dan dapat mengatur diri. Oleh karena itu, ciri- ciri disiplin yang dimiliki anak menurut Conny R. dalam Aditya Lupi Tania yaitu berupa:68

1. Patuh terhadap tata tertib sekolah

2. Menyelesaikan kegiatan saat pembelajaran berlangsung 3. Tidak membuat keributan di lingkungan sekolah

67 Enco Mulyasa, “Manajemen Pendidikan Karakter.”, 172-173.

68 Aditya Lupi Tania, “Usaha Pemberian Layanan Yang Optimal Guru BK Pada Masa Pandemi Covid-19 (Antologi Esai Mahasiswa Bimbingan Dan Konseling)” (Yogyakarta: UAD Press, 2021), 409.

(34)

Adapun pendapat lain yang menjelaskan tentang ciri disiplin anak dalam Sukatin dan Shoffa yaitu:69

1. Kedisiplinan terhadap diri sendiri, siswa semangat belajar, mematuhi peraturan yang telah ditetapkan tanpa adanya paksaan 2. Kedisiplinan dalam menjaga kondisi fisik seperti menjaga pola

makan, sarapan sebelum berangkat sekolah agar mengikuti pembelajaran dengan baik

Menurut Rudinal dan Elizar dalam Ayuk Nur Madiyanah dan Himmatul Farihah menjelaskan bahwa terdapat delapan ciri disiplin yaitu:70

1. Anak datang sekolah tepat waktu

2. Berpakaian sesuai dengan atribut sekolah

3. Berbaris di luar maupun di dalam kelas dengan tertib dan rapi 4. Tanggung jawab atas tugas yang diberikan

5. Berdoa sebelum dan sesudah belajar 6. Antri saat keluar kelas

Berdasarkan pendapat para pakar pendidik di atas mengenai ciri- ciri disiplin anak usia 5-6 tahun, maka dapat dijelaskan bahwa usia 5-6 tahun anak sudah terampil memahami, memiliki sikap positif, dan berpartisipasi aktif dalam meningkatkan kedisiplinan.

69 Sukatin dan M. Shoffa Saifillah, “Pendidikan Karakter” (Yogyakarta: CV Budi Utama, 2020), 182.

70 Himmatul Farihah Ayuk Nur Madiyanah, “Meningkatkan Disiplin Anak Usia Dini Melalui Pemberian Reward,” Jurnal Teladan 5, no. 1 (2020), 147-151.

(35)

c. Unsur-unsur Disiplin Anak

Disiplin yang dibentuk secara terus-menerus membentuk kebiasaan yang baik. Menurut Hurlock dalam Novan Ardy Wiyani agar anak berperilaku disiplin sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, maka disiplin harus memiliki empat unsur pokok yaitu:71 1) Peraturan

Peraturan merupakan pola yang diterapkan untuk tingkah laku yang mana pola tersebut ditetapkan oleh orang tua, guru maupun teman bermain. Tujuan adanya peraturan adalah membekali anak dengan pedoman perilaku yang disetujui dalam situasi tertentu.

2) Hukuman

Hukuman memiliki tiga fungsi dalam perkembangan moral anak yaitu menghalangi, mendidik, dan memotivasi. Disiplin yang dihubungkan dengan hukuman merupakan disiplin yang ada hubungannya dengan orang lain. Hukuman disini berarti konsekuensi yang harus dihadapi ketika melakukan pelanggaran hukum yang telah dilakukan. Di sekolah, disiplin berarti taat terhadap aturan sekolah, dapat dikatakan disiplin apabila sebagai peserta didik mampu mengikuti aturan yang telah ditetapkan.

71 Novan Ardy Wiyani, “Konsep Dasar PAUD” (Yogyakarta: Gava Media, 2016), 27.

(36)

3) Penghargaan

Penghargaan yang diberikan adalah bentuk dari suatu hasil yang baik. Penghargaan tidak materi, namun dapat berupa senyuman, pujian, tepuk tangan dan pemberian bintang.

4) Konsisten

Konsisten berarti tingkat keseragaman atau stabilitas yang dilakukan secara terus menerus. Peraturan, hukuman, dan penghargaan yang konsisten membuat anak tidak bingung terhadap apa yang telah diberikan. Fungsi dari konsisten ini adalah mempunyai nilai mendidik, motivasi yang kuat, dan mempertinggi penghargaan terhadap peraturan dan orang yang berkuasa.

d. Pentingnya Kedisiplinan Anak PAUD

Disiplin perlu ditingkatkan pada anak sejak usia dini untuk membentuk perilaku positif dalam diri anak. Beberapa pentingnya disiplin anak yaitu:72

1. Memberikan motivasi agar terciptanya perilaku positif

2. Memberikan bantuan siswa dalam memahami dan menyesuaikan diri dengan peraturan lingkungan yang telah ditetapkan

3. Cara yang ditunjukkan siswa melakukan tuntutan terhadap lingkungannya

4. Menyeimbangkan keinginan individu dengan individu lainnya 5. Menjauhkan siswa dari peraturan yang dilarang

6. Anak termotivasi untuk melakukan sesuatu yang baik dan benar

72 Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Semarang: UIN Walisongo, 2015.

https://fitk.walisongo.ac.id/pentingya-kedisiplinan-pada-anak/, diakses 3 Juni 2023.

(37)

7. Membiasakan diri untuk melakukan hal yang bermanfaat dan melakukan kebiasaan baik.

Berdasarkan pentingnya disiplin di atas, menunjukkan bahwa peningkatan disiplin anak perlu ditingkatkan sejak usia dini sebagai bekal masa yang akan datang sehingga anak memiliki kebiasaan positif, dan budaya positif di lingkungannya.

e. Faktor-faktor yang Memengaruhi Disiplin Anak PAUD

Pendidikan anak usia dini sangat penting untuk bekal kehidupan di masa depan khususnya karakter disiplin. Oleh karena itu, karakter disiplin pada anak harus dibentuk. Apabila disiplin ditanamkan dengan baik, maka tumbuh kepribadian yang baik pula dan menumbuhkan disiplin diri yang kukuh. Disiplin yang kukuh membentuk kemandirian anak yang kuat. Berdasarkan hasil penelitian J. M Lonan dan Lioew dalam Novan Ardy Wiyane terdapat empat faktor yang mempengaruhi kedisiplinan anak usia dini yaitu:73

1) Banyak sedikitnya anggota keluarga

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh disiplin yang baik terdapat pada keluarga yang mempunyai besar keluarga 2-4 orang. Sehingga semakin besar jumlah anggota dalam keluarga pemberian disiplin terhadap anak semakin baik.

2) Pendidikan orang tua

Pendidikan orang tua sangat mempengaruhi disiplin anak, karena semakin luas wawasan dan pengetahuan orang tua maka

73 Novan Ardy Wiyani, 43.

(38)

semakin paham bahwa pembentukan karakter disiplin anak sangat penting. Hal ini disebabkan oleh pendidikan orang tua berhubungan dengan besarnya komitmen dalam mengasuh anak.

3) Jumlah balita dalam sebuah keluarga

Pola disiplin yang baik memiliki balita satu saja untuk membentuk karakter disiplin anak. Apabila jarak kelahiran terlalu pendek, maka proses pendidikan anak usia dini terlantar sehingga pembentukan karakter disiplin tidak maksimal.

4) Pendapatan orang tua

Semakin besar pendapatan keluarga, maka pola kemandirian semakin berkurang. Sehingga hal ini berpengaruh pada kedisiplinan anak yang terbengkalai.

Selain faktor di atas, Dodson dalam Ayuk Nur Madiyanah dan Himmatul Farihah menyebutkan bahwa beberapa faktor disiplin yang mempengaruhi pembentukan disiplin anak yaitu:74

1. Latar belakang dan kebiasaan hidup keluarga 2. Karakter dan sikap dari orang tua

3. Latar belakang pendidikan dan status sosial ekonomi keluarga 4. Keutuhan dan keharmonisan keluarga

5. Cara-cara dan tipe perilaku parental

Faktor yang mempengaruhi disarankan kepada guru untuk melakukan hal tersebut yaitu:75

74 Ayuk Nur Madiyanah, “Meningkatkan Disiplin Anak Usia Dini Melalui Pemberian Reward.”, 19.

75 Enco Mulyasa, “Manajemen Pendidikan Karakter.”, 172-174.

(39)

1) Memulai seluruh kegiatan dengan disiplin waktu dan patuh atau taat aturan

2) Mempelajari pengalaman peserta didik di sekolah melalui kartu catatan kumulatif

3) Mempelajari nama-nama peserta didik secara langsung

4) Mempertimbangkan lingkungan pembelajaran dan lingkungan peserta didik

5) Memberikan tugas yang jelas dapat dipahami, sederhana dan tidak bertele-tele

6) Menyiapkan kegiatan sehari-hari agar apa yang dilakukan dalam pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan tidak terjadi banyak penyimpangan

7) Bergairah dan semangat dalam melakukan pembelajaran

8) Berbuat sesuatu yang berbeda dan bervariasi tidak monoton sehingga membantu disiplin dan bergairah belajar peserta didik 9) Menyesuaikan argumentasi dengan kemampuan peserta didik tidak

memaksakan peserta didik sesuai dengan pemahaman guru atau mengukur peserta didik dari kemampuan gurunya

10) Membuat peraturan yang jelas dan tegas agar bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh peserta didik dan lingkungan.

Melalui peran tersebut diharapkan terciptanya iklim yang kondusif bagi implementasi pendidikan karakter sehingga peserta didik dapat menguasai berbagai kompetensi sesuai dengan tujuan.

(40)

B. Kajian Penelitian Terdahulu

Dalam tinjauan pustaka, peneliti melakukan langkah awal dengan menelaah penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan. Sejalan dengan hal ini, peneliti mendapatkan rujukan sebagai pendukung, pelengkap, serta pembanding yang relevan dengan penelitian ini, sehingga penelitian skripsi lebih memadai.

Kajian penelitian terdahulu dimaksudkan untuk memperkuat kajian teori berupa penelitian yang sudah ada. Selain itu, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menghargai berbagai perbedaan berupa cara pandang terhadap subjek tertentu, sehingga apabila terdapat kesamaan maupun perbedaan merupakan hal yang wajar dan dapat saling melengkapi antara satu penelitian dengan penelitian lain. Adapun ringkasan penelitian relevan yang dijadikan sumber referensi terkait kajian dalam penelitian ini, dapat dilihat sebagai berikut:

1. Miratul Hidayati, Yubaedi Siron, Erma Hermawati dengan judul Strategi Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Melibatkan Guru Laki-Laki pada tahun 2021. Hasil dari penelitian Miratul Hidayati adalah lembaga membutuhkan peran guru PAUD laki-laki sehingga lembaga dapat membuat beberapa strategi dengan cara pengelolaan, serta gaji disesuaikan dengan porsi laki-laki sebagai pemimpin kepala keluarga. Persamaan penelitian Miratul Hidayati, dkk dengan penelitian ini yaitu sama-sama meneliti tentang terlibatnya guru laki-laki dalam lembaga PAUD.

Perbedaan penelitian Miratul Hidayati, dkk dengan penelitian ini yaitu penelitian Miratul Hidayati, dkk memfokuskan pada strategi lembaga

(41)

untuk menarik minat laki-laki untuk menjadi tenaga pendidikan di lembaga PAUD sedangkan penelitian ini berfokus pada peran guru PAUD laki-laki di PAUD.76

2. Ari Riyan Wibowo dengan judul Peran Guru Laki-Laki Terhadap Pendidikan Karakter Anak Di Taman Kanak-Kanak (Tk) Aisyiyah Bustanul Athfal 02 Pelutan Pemalang pada tahun 2018. Hasil penelitian Ari Riyan Wibowo Guru PAUD laki-laki memiliki peran sebagai tauladan bagi anak didiknya, menjadi pribadi yang lemah lembut, ceria, penyabar, dan menyenangkan membuat anak lebih nyaman dan mudah diarahkan.

Sehingga pendidikan karakter anak dapat terbentuk dengan baik.

Persamaan penelitian Ari Riyan Wibowo dengan penelitian ini yaitu sama- sama meneliti tentang pendidikan karakter anak. Perbedaan penelitian Ari Riyan Wibowo dengan penelitian ini yaitu penelitian Ari Riyan Wibowo berfokus pada pendidikan karaktek anak usia dini sedangkan penelitian ini berfokus pada peran guru PAUD laki-laki dalam meningkatkan karakter disiplin anak.77

3. Ayuk Nur Madiyanah dan Himmatul Farihah dengan judul Meningkatkan Disiplin Anak Usia Dini Melalui Pemberian Reward pada tahun 2020.

Hasil dari penelitian Madiyanah dan Farihah yaitu disiplin anak seperti tepat waktu datang ke sekolah, berseragam rapi, dan tertib masuk kelas dapat ditingkatkan melalui pemberian reward bisa berupa pemberian stiker dan predikat nomor. Persamaan penelitian Madiyanah dan Farihah dengan

76 Yubaedi Siron Miratul Hayati F and Erma Hermawati, “Strategi Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Melibatkan Guru Laki-Laki,” Jurnal Ilmiah Tumbuh Kembang Anak Usia Dini 6, no. 1 (2021): 11–24.

77 Wibowo, “Peran Guru Laki-Laki Terhadap Pendidikan Karakter Anak Di Taman Kanak-Kanak (Tk) Aisyiyah Bustanul Athfal 02 Pelutan Pemalang.”

(42)

penelitian ini yaitu sama-sama meneliti peningkatan karakter disiplin anak usia 5-6 tahun. Perbedaan penelitian Madiyanah dan Farihah dengan penelitian ini yaitu penelitian Madiyanah dan Farihah berfokus pada pelaksanaan pemberian reward untuk meningkatkan karakter disiplin anak sedangkan penelitian ini berfokus pada capaian peningkatan karakter disiplin anak dengan adanya peran guru PAUD laki-laki.

4. Lailatul Machfiroh, Ellyn Sugeng Desyanty, Rezka Arina Rahmah dengan judul Pembentukan Karakter Disiplin Anak Usia Dini Melalui Metode Pembiasaan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 33 Kota Malang. Hasil dari penelitian Lailatul Machfiroh, dkk adalah proses pembentukan karakter disiplin dilakukan dengan melalui model pembiasaan seperti guru datang lebih awal, memberikan motivasi pada anak, memberi pengertian mana yang baik dan tidak. Guru tidak hanya memberikan pembiasaan dengan kata-kata namun juga tindakan. Perilaku berupa tindakan yaitu datang lebih awal untuk menyambut anak-anak masuk sekolah, mengajak anak membereskan mainan bersama-sama, dan menunggu giliran baik saat pelajaran maupun di kamar mandi. Hal ini perlu ada konsistensi dari pihak guru untuk menegakkan disiplin dan mengajak orang tua bekerja sama, namun ada juga orang tua yang susah bahkan tidak mau diajak kerja sama.

Persamaan penelitian Lailatul Machfiroh, dkk dengan penelitian ini yaitu sama-sama meneliti karakter disiplin pada anak usia dini. Perbedaan penelitian Lailatul Machfiroh, dkk dengan penelitian ini yaitu penelitian Lailatul Machfiroh, dkk memfokuskan pada deskripsi dari proses pembentukan karakter disiplin, perilaku disiplin, dan mengetahui faktor

(43)

pendukung dan penghambat pembentukan karakter disiplin pada anak usia dini sedangkan penelitian ini berfokus pada peran guru PAUD laki-laki sebagai pendidik dan pembimbing dalam meningkatkan karakter disiplin anak.

5. Genda Sukma Nita, Deswalantri dengan judul Peran Guru dalam Membentuk Kedisiplinan Anak Usia Dini Di TK Dharmawanita II Muaro Paiti Kecamatan Kapur IX Kabupaten 50 Kota. Hasil dari penelitian Nita dan Deswalantri menyatakan bahwa ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mendisiplinkan anak dengan cara pembiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari seperti berdoa sebelum dan sesudah belajar, bercerita dengan jujur, memberikan kesepakatan dalam menaati aturan, membiasakan anak untuk berperilaku sopan baik di dalam maupun di luar kelas. Persamaan dari penelitian Nita dan Deswalantri dengan penelitian ini yaitu sama-sama meneliti peningkatan karakter disiplin anak.

Sedangkan perbedaan penelitian Nita dan Deswalantri dengan penelitian ini yaitu penelitian Nita dan Deswalantri berfokus pada peran guru dalam meningkatkan karakter disiplin anak usia dini sedangkan penelitian ini berfokus pada peran guru sebagai pendidik dan pembimbing dalam meningkatkan peran guru PAUD laki-laki dalam meningkatkan karakter disiplin anak.

6. Hanik Musdhalifah, Ruli Hafidah, Jumiatmoko dengan judul Penanaman Karakter Disiplin Pada Anak Usia 5-6 Tahun di Pondok Pesantren. Hasil dari penelitian Hanik Musdhalifah dkk menyatakan bahwa terdapat jadwal kegiatan yang dilaksanakan secara terstruktur dalam menjalankan kegiatan

(44)

sehari-hari agar santri terbiasa disiplin waktu, disiplin menegakkan aturan, dan disiplin ketika bersikap. Penanaman tersebut berdampak pada munculnya karakter disiplin anak usia 5-6 tahun. Persamaan penelitian Hanik Musdhalifah dkk dengan penelitian ini yaitu memiliki tujuan yang sama dalam meningkatkan karakter disiplina anak usia 5-6 tahun.

Sedangkan perbedaan penelitian Hanik Musdhalifah dkk dengan penelitian ini yaitu penelitian Hanik Musdhalifah dkk berfokus pada penanaman karakter disiplin anak usia 5-6 tahun di pondok pesantren sedangkan penelitian ini berfokus pada peran guru PAUD laki-laki sebagai pendidik dan pembimbing dalam meningkatkan karakter disiplin anak di TK Muslimat NU 001 Ponorogo.

(45)

39 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Penelitian kualitatif menurut Creswell, J.W adalah suatu proses penelitian dengan memahami masalah manusia serta menjelaskan gambaran secara menyeluruh dan kompleks yang disajikan dalam bentuk kata-kata, menyampaikan pandangan terperinci yang diperoleh dari sumber informasi, serta dilakukan dalam latar yang alamiah.78 Menurut Sugiono, penelitian kualitatif merupakan penelitian yang mendapatkan data dari berbagai sumber, menggunakan teknik pengumpulan yang bermacam-macam, serta dilakukan secara terus menerus.79 Sedangkan menurut Moleong penelitian kualitatif adalah salah satu penelitian yang mana hasilnya berupa data deskriptif atau kata-kata tertulis dari lisan seseorang maupun perilaku yang diamati.80

Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus.

Studi kasus merupakan penelitian yang mana seorang peneliti menggali suatu fenomena tertentu dalam suatu waktu dan kegiatan untuk mendapatkan informasi secara terperinci dan mendalam dengan menggunakan prosedur pengumpulan data selama periode tertentu.81 Creswell mengungkapkan bahwa apabila peneliti memilih studi kasus maka dapat dipilih beberapa teknik

78 John W Creswell, “Qualitative Inquiry and Research Design,” in Choosing among Five Tradition (London: Sage Publications, 2014), 23.

79 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D (Bandung: IKAPI, 2019), 145.

80 Lexy Moleong J, “Metodologi Penelitian Kualitatif” (Bandung: PT Remaja, 2018), 3.

81 Sri Wahyuningsih, Metode Penelitian Studi Kasus Konsep, Teori Pendekatan Psikologi Komunikasi, Dan Contoh Penelitiannya (Madura: UTM Press, 2013).

Referensi

Dokumen terkait