Untuk itu penelitian ini akan mengungkap bagaimana madrasah berkembang di Indonesia menurut pemikiran Imam Suprayogo. Salah satu tokoh yang berjasa dalam pengembangan pendidikan Islam berorientasi madrasah adalah Imam Suprayogo.
KAJIAN TEORI
Pengertian Madrasah
Beberapa pemahaman tersebut muncul karena aliran-aliran yang muncul sebagai hasil perkembangan ajaran agama Islam dan ilmu-ilmu di berbagai bidang berebut pengaruh di kalangan umat Islam dan berusaha mengembangkan aliran atau alirannya sendiri. Dengan demikian, pada awal perkembangannya, kata “madrasah” diartikan sebagai cara berpikir seorang pemikir atau sekelompok pemikir dalam bidang ilmu pengetahuan, kemudian diartikan sebagai tempat belajar atau tempat pendidikan dan pengajaran. institusi, mis. sebagai sekolah dan mempunyai konotasi khusus yaitu banyak mengajarkan ilmu-ilmu keislaman atau ilmu-ilmu keislaman.
Sejarah Kelahiran Madrasah
Kuttab bukan sahaja menyediakan pelajaran menulis dan membaca, tetapi juga mengajar membaca al-Quran dan prinsip-prinsip ajaran agama. Pada mulanya qutab jenis ini adalah pemindahan dari pengajaran al-Quran yang berlaku di masjid, yang bersifat umum (bukan sahaja untuk kanak-kanak, tetapi terutamanya untuk orang dewasa).
Perkembangan Madrasah di Indonesia
Peranan masyarakat Islam di Indonesia dalam pendidikan Islam sangat penting bahkan sangat dominan. Lembaga pendidikan Islam seperti madrasah dan pesantren yang berkembang di Indonesia cukup beragam.
TELAAH HASIL PENELITIAN TERDAHULU
tesis tahun 2013 yang berjudul “Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia (Kajian Pemikiran Azyumardi Azra dalam makalah Ana Nihayati (STAIN Ponorogo, 2013). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa modernisasi kurikulum pendidikan Islam di Indonesia menurut Azyumardi Azra meliputi: (a) dari segi materi, materi yang diberikan kepada peserta didik memenuhi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mengutamakan pemahaman dan pengamalan ajaran agama. Modernisasi manajemen madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam di Indonesia menurut Azyumardi Azra ada dua hal-hal pokok yaitu: (a) dari segi kelembagaan, madrasah antara lain memiliki visi dan misi Islam yang jelas, modern dan humanis, melaksanakan transformasi madrasah, dengan mengarusutamakan pendidikan Islam ke dalam lintasan pendidikan nasional secara menyeluruh, sehingga tercipta sekolah yang unggul. madrasah teladan, sebagai solusi penyelenggaraan pendidikan Islam yang sesuai dengan perkembangan masa kini; (b) dari segi sumber daya manusia antara lain peran kepala madrasah yang merupakan manajer utama harus mampu mengatur dan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menunjang proses belajar mengajar secara optimal, serta mampu berkomunikasi. antar komponen, selain faktor kesiapan guru, siswa dan faktor pendukung (sarana dan prasarana).
Kajian Reposisi Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional Menurut Muhaimini” yang ditulis oleh Taufik Ismail (STAIN Ponorogo, 2014). Aspek reposisi pendidikan Islam menurut Muhaim berkaitan dengan aspek metodologi pembelajaran dari pembelajaran yang bersifat doktrinal-dogmatis menjadi pembelajaran aktual dan kontekstual, yang bertujuan untuk: (a) menanamkan nilai-nilai dan ajaran Islam pada peserta didik agar tidak sekedar menjadi mampu mengetahui dan memahami hanya ajaran Islam yang mampu menafsirkan dan mewujudkan nilai-nilai agama tersebut; (b) Menciptakan iklim dan budaya keagamaan di sekolah serta pada seluruh komponen pendidikan di madrasah, sekolah, dan universitas. Reposisi pendidikan Islam dari segi metodologi pembelajaran dari yang bersifat doktrinal-dogmatis menjadi pembelajaran yang kekinian dan kontekstual sesuai dengan kondisi dan situasi yang terjadi di lingkungan sosial peserta didik saat ini.
Reposisi pendidikan Islam sebagai upaya mewujudkan budaya keagamaan dalam masyarakat sekolah/madrasah memerlukan tiga tingkatan, yaitu:
METODE PENELITIAN
PENDEKATAN DAN JENIS PENELITIAN
Ide-ide yang diberikan Imam Suprayogo dalam pengembangan pendidikan di madrasah cenderung fokus pada pengembangan kurikulum, peran masyarakat dan pemberdayaan sumber daya manusia. Menurut Bungin Burhan, data yang dikumpulkan dalam penelitian berasal dari data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diambil dari sumber data primer atau sumber pertama yang ada di lapangan.
Data primer adalah data yang diperoleh dari sumber pertama.87 Sumber primer terdapat pada karya atau terbitan yang masih ditulis oleh penulis utama.88. Ide, Aksi dan Solusi Pengembangan Madrasah” yang diterbitkan di Yogyakarta oleh Hikayat Publishing pada tahun 2007 dan “Pendidikan dengan Paradigma Al-Qur’an: Perjuangan Membangun Tradisi dan Aksi dalam Pendidikan Islam” oleh UIN Malang Press, Malang, 2004 Sekunder data adalah data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pengumpul data maupun oleh pihak lain atau data pendukung yang sangat diperlukan.
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
TEKNIK ANALISIS DATA
Teknik analisis data yang digunakan dalam penulisan artikel ilmiah ini adalah analisis isi, yaitu teknik yang digunakan untuk menarik kesimpulan melalui upaya menemukan ciri-ciri pesan, dan dilakukan secara obyektif dan sistematis.95.
SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Peran Masyarakat dalam Peningkatan Mutu Madrasah di Indonesia Perspektif Imam Suprayogo
Keanggotaan POMG atau BP3 terdiri dari wali siswa yang mempunyai peran dalam membantu madrasah dalam meningkatkan kualitasnya, terutama hal-hal yang berkaitan dengan penggalangan dana yang diperlukan oleh masing-masing lembaga pendidikan. Inilah yang dimaksud dengan madrasah sebagai lembaga pendidikan oleh masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Namun, jika masyarakat lemah, meskipun memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan, mereka tidak akan mampu mendukung lembaga pendidikan secara memadai.
Silaturahmi dalam bentuk yang sederhana dapat berupa studi banding pada suatu lembaga pendidikan madrasah lanjutan. Madrasah telah berkembang, terutama yang berstatus swasta, didukung oleh orang-orang yang mempunyai cita-cita dan komitmen yang tinggi terhadap lembaga pendidikan Islam. Bahkan, mereka mampu menunjukkan kesadaran akan pentingnya lembaga pendidikan Islam tersebut dengan mengorbankan segala sesuatu yang mereka miliki.
Misalnya, ketika mereka memilih lembaga pendidikan untuk menyekolahkan anaknya, mereka sangat rasional dan mempertimbangkan prospek masa depan.
Pemberdayaan SDM di Madrasah Perspektif Imam Suprayogo 1. Pemberdayaan Kepala Madrasah
Pemberdayaan Guru di Madrasah
Lembaga pendidikan ini secara konseptual ingin mengembangkan bidang kehidupan yang lebih sempurna, yaitu aspek intelektual, spiritual, sosial dan keterampilan sekaligus. Perguruan tinggi di lingkungan Kementerian Agama tidak boleh terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas rendah. Pemikiran seperti ini rasanya sudah tidak relevan lagi ketika jumlah lembaga pendidikan begitu banyak dan masyarakat mulai mengeluhkan rendahnya kualitas pendidikan.
Secara struktural disesuaikan dengan tuntutan masyarakat, Fakultas (jurusan) Tarbiyah berdasarkan kekuatan nyata yang ada bertujuan untuk mengembangkan program studi yang diperlukan bagi lembaga pendidikan tingkat bawah. Lebih lanjut, secara operasional, harus dipahami bahwa lembaga pendidikan yang bermutu selalu didukung oleh kecukupan tenaga, sarana dan prasarana, serta lingkungan belajar. Oleh karena itu, cara strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan pada suatu lembaga pendidikan harus ditempuh dengan meningkatkan mutu seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut.
Jika guru madrasah merupakan lulusan fakultas (jurusan) Tarbiyah yang sesuai dengan kebutuhan lembaga pendidikan madrasah tersebut, maka guru madrasah tidak hanya menjadi sosok yang bekerja di lingkungan madrasah saja, namun juga dapat menjalankan perannya. di tengah-tengah masyarakat.
Peran Masyarakat dalam Peningkatan Mutu Madrasah di Indonesia Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sejatinya masyarakat memiliki andil
Kajian yang dibahas dalam bab ini adalah analisis penulis terhadap perkembangan madrasah di Indonesia pasca Imam Suprayog, yang dijadikan perbandingan dengan pemikiran beberapa tokoh lain pada umumnya. Dengan mengkaji analisis tersebut maka pemikiran Imam Suprayog akan lebih jelas dalam merumuskan konsep pengembangan madrasah di Indonesia. Peran Masyarakat Dalam Peningkatan Mutu Madrasah di Indonesia Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat mempunyai peran nyata.
Keanggotaan POMG dan BP3 terdiri dari wali siswa yang salah satu tujuannya adalah menghimpun dana jika diperlukan oleh lembaga pendidikan (madrasah). Jika masyarakat sudah memasuki budaya yang lebih rasional dan obyektif, maka masyarakat ilmiah dalam memilih jenis lembaga pendidikan akan lebih selektif, yaitu yang menjanjikan masa depan. Dari uraian berbagai pendapat di atas dapat diambil sebuah benang merah bahwa setiap lembaga pendidikan baik itu sekolah maupun madrasah tidak bisa lepas dari peran masyarakat karena masyarakatlah yang mendominasi ada atau tidaknya suatu lembaga pendidikan.
Tanpa dukungan masyarakat, sekolah dan madrasah tidak dapat mempertahankan eksistensinya. Dapat disimpulkan bahwa lembaga pendidikan merupakan suatu konsep dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat, sebagaimana dijelaskan pada Bab 2.
Pengembangan Kurikulum Madrasah di Indonesia
Untuk menindaklanjuti kebijakan yang sudah ada sebelumnya, maka kurikulum madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam hendaknya memiliki dua komponen utama. Visi merupakan pernyataan gagasan atau harapan, yaitu pernyataan atau cita-cita tentang harapan yang ingin dicapai suatu lembaga pendidikan dalam jangka panjang. Meski pada hakikatnya sama dengan pemikiran tokoh-tokoh lain, bahkan tujuannya sebenarnya sama, namun gagasan Imam Suprayogo dalam merumuskan konsep pengembangan kurikulum di madrasah lebih menekankan pada pembahasan tipe lembaga pendidikan ideal.
Tipe lembaga pendidikan yang ideal adalah lembaga pendidikan yang mampu mengembangkan potensi spiritual dan akhlak peserta didik sehingga peserta didik tidak hanya mampu mengembangkan aspek intelektualnya saja, namun juga mampu mengembangkan potensi dan keterampilan sosialnya. Karena banyaknya masyarakat yang memperjuangkan tipe lembaga pendidikan Islam ideal tersebut, maka muncullah istilah lembaga pendidikan integratif yang saat ini biasa disebut dengan sekolah terpadu (madrasah), sekolah teladan (madrasah) dan masih banyak lagi sekolah (madrasah). Lembaga pendidikan yang menamakan dirinya sekolah integratif (madrasah) hendaknya bersifat integratif dalam kurikulum dan model pembelajarannya, yaitu dengan memadukan pengembangan kehidupan beragama dan pengembangan intelektual serta pengembangan kompetensi.
Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa lembaga pendidikan integratif bernuansa Islam perlu menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai landasan penyelenggaraan pendidikan secara menyeluruh, baik pada tataran teologis, filosofis, teoritis akademis bahkan pada tataran praktis. .
Pemberdayaan SDM di Madrasah
Dalam kaitannya dengan sumber daya manusia di lingkungan madrasah, seorang kepala madrasah mempunyai peranan sentral dalam meningkatkan mutu pendidikan di madrasah. Untuk membentuk kepemimpinan yang diinginkan, Imam Suprayogo menekankan bahwa memimpin umat perlu menggunakan prinsip-prinsip dasar yang menjadi penggerak organisasi lembaga pendidikan Islam seperti madrasah, yaitu: (1) sebagai kunci terpenting untuk dikembangkan pada seluruh tingkatan organisasi adalah rasa cinta terhadap institusi. , (2) sikap mental yang harus dikembangkan selanjutnya adalah keikhlasan, (3) kemudian kesadaran tanggung jawab, yaitu sikap mental yang harus dikembangkan secara bersama-sama (4) prinsip penting lainnya adalah seorang pemimpin hendaknya menekankan keimanan, bahwa Allah SWT adalah sosok yang harus selalu menjadi pusat perhatian, baik dalam pelayanan (ibadah) maupun dalam membantu.153 Prinsip-prinsip tersebut merupakan salah satu faktor yang dapat memantapkan kepala madrasah yang berkualitas. Prinsip yang dijelaskan Imam Suprayogo hampir sama dengan pembahasan pada bab sebelumnya yang menguraikan beberapa syarat bagi pimpinan madrasah untuk mewujudkan lembaga pendidikan yang baik.
Pemberdayaan kepala madrasah dapat dilakukan dengan kegiatan yang lebih nyata yaitu melalui Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (SDP). Pengembangan keprofesian berkelanjutan kepala madrasah merupakan kegiatan yang mengarah pada seluruh pembelajaran formal dan informal, yang mampu meningkatkan kepala madrasah dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Ruang lingkup program pengembangan profesi berkelanjutan kepala madrasah adalah pelatihan profesi, pendidikan profesi, dan dukungan profesional.
Kegiatan pengembangan keprofesian kepala madrasah yang berkelanjutan dapat berupa pemeringkatan kepala madrasah, mengikuti petunjuk teknis, mengikuti kursus, mengikuti seminar, belajar mandiri, serta menulis dan menerbitkan artikel ilmiah.
PENUTUP
Kesimpulan
Oleh itu, perlu dibangunkan bahan pengajaran yang mengaitkan (mengintegrasikan) ajaran yang bersumberkan ayat qawliyyah (al-Quran dan hadis) dengan ayat kawniyyah (alam semesta) secara menyeluruh dan bersepadu.
Saran
Nunut Bicara Kurikulum, (online), (http://imamsuprayogo.com/article/nunut-talking-about-curriculum, (ditulis 24 November 2012), diakses 12 April 2017).