BAHAN
KONSTRUKSI CANAI
KELOMPOK 4
1. Rizaldy Pratama (41123030)
2. David Reinhard Putra Pasongli (41123035) 3. Luthfiah Rezky Fajriah (41123037)
4. Sausanra Salwa Hartono (41123046)
LATAR BELAKANG
Pada awalnya, manusia hanya
memanfaatkan alam sekitar mereka untuk membuat suatu bangunan agar bisa
bertahan hidup. Seiring berkembangnya
zaman, manusia pun mulai mengenal
material bangunan modern, hal ini tidak
terlepas dari ilmu pengetahuan yang
berkembang pula.
PEMBAHASAN
Pengertia n canai
Sifat canai
Jenis- jenis canai
Kelebihan canai
0 1
05
0 2
06
0 3
0
Kekurangan 4
canai
Penggunaa
n canai
PEMBAHASAN
Pengujia n kekuata
n
Kesimpul
0 an
7
0
8
Pengertian canai
baja canai adalah salah satu material yang
digunakan dalam
konstruksi yang telah mengalami banyak proses perubahan pemadatan atau pelapisan mekanis.
01
Jenis – jenis canai
1. Baja canai dingin (cold rolled steel)
Proses pembuatannya dengan cara mengurangi ketebalan lembaran baja.
Memiliki daya kuat Tarik 500-800 Mpa.
2. Baja canai panas (hot rolled steel)
Proses pembuatannya memanfaatkan suhu tinggi yaitu >1700 farenheit.
Setelah proses pemanasan dilanjutkan dengan proses pendinginan baja
untuk mencegah deformasi.
Ketebalannya berkisar 600-2060 mm.
02
Sifat-sifat canai
1. Permukaan baja canai 2. Tahan terhadap suhu tinggi 3. Pemuaian termal yang rendah 4. Tidak mudah terbakar
5. Keuletan yang baik
03
Sifat-sifat canai
1. Permukaan baja canai
• Canai dingin cenderung lebih halus karena melakukan pemanasan dengan suhu yang lebih rendah
• Canai Panas cenderung kasar karena melakukan pemanasan yang agresif dengan suhu yang lebih tinggi
03
Sifat-sifat canai
2. Tahan terhadap suhu tinggi
Baja canai memiliki ketahanan yang cukup baik dalam segi suhu tinggi. Sehingga hal ini juga yang menjadi pertimbangan untuk memilih baja canai dalam pengaplikasian yang terpapar panas ekstrem.
03
Sifat-sifat canai
3. Pemuaian termal yang rendah Pada baja canai resiko pemuaian termalnya relative rendah, artinya perubahan dimensinya saat terpapar perubahan suhu yang tinggi akan lebih terbatas dibandingkan beberapa material konstruksi lain.
03
Sifat-sifat canai
4. Tidak mudah terbakar
Hal ini disebabkan karena logam pada baja canai memiliki titik leleh yang lebih tinggi daripada suhu yang diperlukan untuk terbakar.
03
Sifat-sifat canai
5. Keuletan yang baik
Baja canai dikenal sebagai bahan konstruksi yang tidak mudah patah ataupun retak ketika terjadi deformasi (perubahan bentuk atau dimensi apapun dari suatu unsur konstruksi dalam kaitan dengan pengaruh panas, Revisi SNI 03-1741-2000
03
Kelebihan canai
1. Ramah lingkungan
2. Mampu menahan beban tekan
3. Mudah dibentuk dan prosesnya mudah 4. Ketersediaan banyak
5. Berat relative ringan
6. Dapat dikombinasikan
Kekurangan canai
1. Penampang relative tipis
2. Pemrosesan tambahan 3. Mudah korosi
4. Sukar dibentuk kompleks
Penggunaan canai
1. Kerangka struktural 2. Kerangka atap
3. Pintu dan jendela 4. Baja tulangan beton 5. Konstruksi jembatan
06
Kerangka struktural
Kerangka atap
Pintu dan jendela
Baja tulangan beton
Konstruksi jembatan
Pengujian kekuatan
1. Uji tarik 2. Uji geser 3. Uji lentur 4. Uji kekakuan 5. Uji kelelahan 6. Uji sambungan
07
Kesimpulan
Penggunaan baja canai sudah sangat umum digunakan. Kedua jenis bajai canai memiliki
kelebihan dan kekurangannya masing-masing, Di Indonesia, penggunaan baja canai dingin lebih sering digunakan dibandingkan baja canai panas.
Hal ini dikarenakan baja canai dingin memiliki kekuatan yang dapat diandalkan. Namun, bukan berarti baja canai panas kurang dapat diandalkan, hal tersebut kembali lagi pada kebutuhan
konstruksi
Daftar Pustaka
Faisal, E. (2019). Rancang bangun. Pengaruh serat baja canai dingin bergelombang terhadap kekuatan tekan dan lentur beton, volume 5, 1-2.
Juniarta dkk. (2019). Pengaruh pemasangan profil C baja canai dingin secara sentris pada rangka balok baja canai dingin, 17-18.
Sandjaya, A. (2018). Studi eksperimental batang tekan baja canai dingin diperkaku Sebagian, 19.Solehudin, Y. &
Walujodjati, E. (2021). Analisis lentur dan gesek balok beton bertulang profil baja canai dingin, vol. 19, 219.