• Tidak ada hasil yang ditemukan

(1)(2)Society Perception of The Impact of Smog Forest and Land Fire in Shower Gutter Village District Subdistrict Saber Bengkalis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "(1)(2)Society Perception of The Impact of Smog Forest and Land Fire in Shower Gutter Village District Subdistrict Saber Bengkalis"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Society Perception of The Impact of Smog Forest and Land Fire in Shower Gutter Village District Subdistrict Saber Bengkalis

By:

Gerry Aulia Kurnia*Erna Juita**Farida**

Geography Education Students of STKIP PGRI West Sumatra * Lecturer in Geography Education of STKIP PGRI West Sumatra **

ABSTRACT

This research has purpose to get the data, process, analyze and discuss the society perception of the impact of smog forest and land fire in Shower Gutter Village District Subdistrict Saber Bengkalis that include: 1) Public Health, 2) Environment, 3) Role of Government.

Ths research is descriptive research. The population in this reseach is all of house hold in village district subdistrict saber Bengkalis that has total of population are 5.755. The sample of respondents are taken by using proportional random sampling technique with proportion 2,5 percent so that total of sample are 144 house hold

The result of this research is found that: 1) the impact of smoke forest and land fire for the health of this case the data obtained from the research, that there are people attacked with respiratory tract infection, the number of visits to the hospital <2 times, children under 12 years of age are susfective suffer from disease, the impact of the smog very harm, the distance location of the house with land and forest fire >15 km, the people always use a mask, reducing the activity outside the home, always prohibity the kids go out, the substances contained particles of smog is toxic. 2) The impact of smog on the environment resulting in conversion of forest, reduction of air quality, severely damage the ecosystem, biodiversity loss, the people know very well the effects of pollution arising from the smog. 3) The role of the government to mitigate the impact of smog, no supervision, know sanctions which are given, there is no extension, the punishment provided by the government, establishment of punishment to reduce the impact of smog.

Keyword: publid health, environment, role

(3)

PENDAHULUAN

Hutan adalah kumpulan pepohonan yang tumbuh rapat beserta tumbuh- tumbuhan memanjat dengan bunga yang beraneka warna yang berperan sangat penting bagi kehidupan di bumi ini. Dari sudut pandang ekonomis, hutan merupakan tempat menanam modal jangka panjang yang sangat menguntungkan dalam bentuk Hak Pengusaha Hutan (HPH), Arief (2011).

Hutan di Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, baik yang berada di darat maupun yang berada di perairan, sumber daya alam merupakan modal dasar pembangunan nasional di segala sektor, sebagai modal dasar pembangunan nasional sumber daya alam tersebut harus dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan rakyat Indonesia. Hutan perlu di jamin kesinambungan, keserasian,keselarasan dan keseimbangan baik antara manusia dengan pencipta Nya, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungan. (Ensalni dalam Neni,2002:1).

Hutan sebagai bagian dari sumber daya alam nasional, memiliki arti yang penting dalam berbagai aspek kehidupan sosial, pembangunan dan lingkungan hidup. Salah fungsi dari hutan adalah sebagai penopang hidup manusia dan dunia. Hutan juga memiliki fungsi bagi kehidupan yaitu berupa manfaat langsung maupun tidak langsung. Manfaat hutan dapat diperoleh jika hutan dan ekosistemnya dapat dijaga dengan baik, sehingga fungsi hutan dapat berjalan secara optimal, baik itu fungsi ekologi,ekonomi, dan sosial.

Berbagai aturan dalam menjaga pelestarian hutan tidak hanya untuk kepentingan individu, tetapi untuk kepentingan bersama hutan juga bermanfaat untuk anak cucu masa yang akan datang. Hutan juga mempunyai hak untuk dilindungi dan dijaga kelestariannya, karena banyaknya manusia yang tergantung pada pada hutan yang kaya akan sumber bahan mentah yang dapat di

manfaatkan untuk kebutuhan ekonomi masyarakat setempat.

Belakangan ini sangat marak terjadinya pengalihan fungsi hutan dari fungsi yang seharusnya. Hal ini dapat dilihat pada banyaknya pembukaan lahan hutan menjadi lahan pertanian, perumahan, perkantoran, tempat rekreasi dan fasilitas umum lainnya. Secara ekonomi memang hal tersebut dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar, tetapi dilihat dari segi lingkungan hal tersebut akan sangat merugikan.

Kabupaten Bengkalis adalah salah satu kabupaten di Provinsi Riau. Wilayahnya mencakup daratan bagian timur pulau sumatera dan wilayah kepulauan, dengan luas 7.793,93 km2. Kota terbesar di kabupaten ini adalah kota Duri di Kecamatan Mandau. Di Kabupaten Bengkalis terdapat hutan seluas 463.441 ha yang tersebar di 8 kecamatan di kabupaten ini.Hutan di daerah ini terdiri dari berbagai macam flora dan fauna.Hutan mangrove yang banyak terdapat di daerah pantai.

Hutan lainnya ada yang menghasilkan kayu gelondongan, rotan, resin dan bahan baku lainnya yang berasal dari hutan.

Keadaan hutan di Kabupaten Bengkalis khususnya di kecamatan mandau dari tahun ketahun mengalami permasalah kerusakan hutan akibatnya dirasakan oleh masyarakat sekitar hutan dan masyarakat sekitar wilayah Sumatera dan beberapa negara tetangga. Kebakaran hutan di Indonesia juga mengakibatkan pencemaran udara di beberapa negara, khususnya negara Malaysia dan Singapura.

Penyebab kebakaran hutan dan lahan ini merupakan suatu fenomena El Nino yang membuat kondisi cuaca menjadi lebih kering dan menghambat turunnya hujan. Kebakaran hutan dan kabut asap ini bersumber dari aktivitas masyarakat dan perusahaan swasta yang membuka lahan hutan dengan cara membakar dan penebangan liar. Pada tahun 2014 dan 2015 kabut asap semakin parah dan mengakibatkan jarak pandang tidak terlihat jelas.

(4)

Luas kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Bengkalis tersebar sebanyak ± 7.957 hektar (ha) atau 45,58 persen, sedangkan di Kecamatan Mandau luasnya sekitar ± 1.500 hektar (ha). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bengkalis, menyatakan kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di wilayah tersebut terus meluas dan mengancam perkebunan masyarakat yang mayoritas merupakan lahan kosong.

Dampak kebakaran hutan dan lahan ini berupa pencemaran udara atau kabut asap yang tidak hanya dirasakan oleh masyarakat sekitar tetapi juga kenegara- negara tetangga. Kabut asap yang ditimbulkan mengakibatkan penurunan kualitas udara, dan dampak kebakaran hutan dan lahan tidak hanya terkait kepada lingkunga tetapi juga dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat kecamatan mandau.

Berdasarkan catatan dari alat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) pada tanggal 5 Oktober 2015 Kecamatan Mandau, tingkat kepanasan dan kabut asap sudah mencapai 490 PSI (Particular Standar Indeks). Angka ini menunjukkan kabut asap dalam kategori berbahaya dan tidak sehat. Tingginya angka ISPU ini mengancam keselamatan masyarakat, khususnya anak-anak di bawah umur yang rentan penyakit, oleh karen peran serta masyarakat sangat diperlukan dalam pencegahan dan penanggulangan kabut asap akibat pembakaran hutan dan lahan.

Melalui alat ISPU indeks level 0-50 bewarna hijau, ukuran kualitas udara yang baik. Indeks level 101-150 bewarna orange, ukuran kualitas udara tidak sehat bagi anak-anak danmanula. Indeks level 151-200 bewarna merah, kualitas udara berbahaya. Indeks level 200-301 bewarna ungu, kualitas udara sangat tidak sehat.

Indeks level 301-500 bewarna merah marun , kualitas udara sangat tidak berbahaya dan sangat tidak sehat. kualitas udara di Kecamatan Mandau telah memasuki level sangat berbahaya, dan tidak dibolehkan beraktivitas terutama bagi

anak-anak dan manula. Kabut asap juga mengganggu aktivitas masyarakat dan juga dapat mempengaruhi produktivitas dan penghasilan. Kebakaran hutan dapat menghilangkan sejumlah spesies, dan perubahan fungsi hutan.

Berdasarkan data dari Diskes Bengkalis ditemukan sebanyak 4.150 orang warga yang terkena berbagai penyakit yang disebabkan karena kabut asap. Yang tertinggi adalah penderita Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA) yang jumlahnya mencapai 3.335 orang. Dan bedasarkan data yang dihimpun dari seluruh Puskesmas maupun Puskesmas Pembantu (Pustus) ditemukan sebanyak 4.150 orang warga yang terserang berbagai penyakit akibat kabut asap tebal yang terjadi.

Mayoritasnya adalah penderita ISPA, dan umumnya ISPA menyerang anak-anak dibawah umur 12 tahun.

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti ingin melakukan penelitian tentang

Persepsi Masyarakat Tentang Dampak Kabut Asap Pembakaran Hutan dan Lahan Di Kelurahan Talang Mandi Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis “.

Penelitian ini perlu dilakukan karena permasalahan kabut asap pembakaran hutan dan lahan merupakan masalah tahunan yang dialami oleh masyarakat di Kelurahan Talang Mandi Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis, dan masalah kabut asap ini merupakan salah satu masalah yang belum dapat diselesaikan serta dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat sekitar melainkan juga kepada negara-negara tetangga.

METODOLOGI PENELITIAN

Berdasarkan pembatasan masalah, rumusan masalah dan tujuan penelitian maka penelitian ini termasuk kedalam penelitian “Deskriptif” yaitu menurut Arikunto (2010) mengatakan penelian deskriptif yaitu suatu metode penelitian atau prosedur pemecahan masalah yang

(5)

diselidiki dengan menggambarkan dan melukiskan keadaan objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya.

Penelitian yang penulis lakukan ini adalah bertujuan pada pengunkapan masalah yang terjadi pada masa sekarang dan sebagaimana adanya dimana penelitian ini akan mendeskripsikan tentang bagaimana persepsi masyarakat tentang dampak kabut asap pembakaran hutan di Kelurahan Talang Mandi Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga (KK) di Kelurahan Talang Mandi Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis yang berjumlah 5755 KK. Berdasarkan populasi diatas maka sampel responden dalam penelitian ini diambil dengan cara Propotional random sampling dengan proposi 2,5% dari seluruh populasi. Maka jumlah sampel responden dalam penelitian ini adalah 144 KK.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pertama, jenis penyakit yang dialami selama dampak kabut asap pembakaran hutan dan lahan di Kelurahan Talang Mandi Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis dari 144 responden adalah asma sebanyak 7 responden, iritasi pada mata sebanyak 55 responden, gatal-gatal sebanyak 3 responden, dan iritasi pada mata sebanyak 79 responden. pencegahan yang dilakukan masyarakat selama kabut asap yaitu berada dirumah sebanyak 27 responden, menjaga kesehatan sebanyak 27 responden, mengurangi aktivitas diluar sebanyak 87 responden, memperbanyak minum air putih sebanyak 3 responden.

Jadi dapat disimpulkan jenis penyakit yang dialami selama dampak kabut asap pembakaran hutan dan lahan di Kelurahan Talang Mandi Kecamatan Kabupaten Bengkalis pada umunya infeksi saluran pernafasan (54,86%) dan pencegahan yang dilakukan masyarakat dengan mengurangi aktivitas diluar (60,42%).

Berdasarkan hasil di atas menunjukan dampak kabut asap pembakaran hutan dan lahan di Kelurahan Talang Mandi Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis dapat menyebabkan dampak buruk, adanya jenis penyakit yang banyak dialami yaitu ISPA (Infeksi saluran Pernafasan), dan pencegahan yang dilakukan masyarakat dengan mengurangi aktivitas diluar. Oleh karena itu masyarakat diharuskan untuk menjaga kesehatan selama terjadi dampak kabut asap pembakaran hutan dan lahan.

Menurut UU No.36 tahun 2009, Kesehatan merupakn keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Bab 1 ketentuan umum pasal 1 ayat1).

Kedua, dampak kabut asap pembakaran hutan dan lahan terhadap lingkungan yang mengakibatkan perubahan fungsi hutan di Kelurahan Talang Mandi Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis dari 144 responden adalah 5 responden menyatakan sangat baik, 8 responden menyatakan baik, 27 responden menyatakan cukup baik, dan 104 responden menyatakan kurang baik.

Jadi dapat disimpulkan bahwa dampak kabut asap pembakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan perubahan fungsi hutan di Kelurahan Talang mandi Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis umumnya menyatakan kurang baik (72,22%).

Berdasarkan hasil di atas menunjukkan bahwa dampak kabut asap pembakaran hutan dan lahan terhadap lingkungan memberi dampak negatif yang mengakibatkan penurunan kualitas udara, perubahan fungsi hutan. Lingkungan biasanya diartikan sebagai sesuatu yang ada di sekeliling kehidupan atau organisme. Lingkunghan merupakan kumpulan dari segala sesuatu yang membentuk kondisi dan akan mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung baik kepda kehidupan dalam bentuk individual maupun

(6)

kuminitas pada tempat tertentu (Achmad Lutfi,2009)

Ketiga, peran pemerintah dalam menanggulangi kabut asap pembakaran hutan dan lahan di Kelurahan Talang Mandi Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis dari 144 responden adalah 39 responden menyatakan ada pengawasan, 51 responden menyatakan tidak ada pengawasan, 11 responden menyatakan sering, 43 responden menyatakan ada,tapi sekilas saja. Tindakan yang diberikan pemerintah 47 responden menyatakan sanksi, 59 responden menyatakn hukuman, 12 responden menyatakan denda, 26 responden menyatakan kurungan. Jadi dapat disimpulkan bahwa peran pemerintah dalam menanggulangi kabut asap di Keluarahan Talang Mandi Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis umumnya tidak ada pengawasan (35,42%) dan tindakan hukuman (40,97%).

Hasil ini didukung dalam Tornando (2015) bahwa Peranan merupakan perangkat harapan-harapan yang dikenakan pada individu atau kelompok untuk melaksanakan hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pemegang peran sesuai dengan yang diharapkan masyarakat. Setiap orang memiliki macam-macam peranan yang berasal dari pola-pola pergaulan hidup. Hal ini sekaligus berarti bahwa peranan menentukan apa yang diperbuatnya bagi masyarakat serta kesempatan-kesempatan apa yang diberikan oleh masyarakat atau lingkungannya kepadanya.

Menurut Soekanto (2009:212) Peranan merupakan aspek dinamis kedudukan (status) apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibanya sesuai dengan kedudukannya. Dengan demikian peranan adalah kelengkapan dari hubungan- hubungan berdasarkan peran yang dimiliki oleh seseorang karena menduduki status- status sosial.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Hasil penelitian terhadap persepsi masyarakat tentang dampak kabut asap pembakaran hutan dan lahan di Kelurahan Talang Mandi Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis dapat disimpulkan:

1. Persepsi masyarakat tentang dampak kabut asap pembakaran hutan dan lahan cukup baik, ada masyarakat terserang penyakit ISPA (54,86%), anak yang berumur dibawah 12 tahun rentan terkena penyakit dari kabut asap (39,58%), banyak menggunakan masker (42,36%), zat berbahaya dari kabut asap pembakaran hutan dan lahan yaitu partikel beracun (39,58%) dan jarak lokasi pembakaran dengan rumah warga yaitu > 15km (42,36%).

2. Persepsi masyarakat tentang dampak kabut asap pembakaran hutan dan lahan terhadap lingkungan pada umumnya menyatakan berdampak negatif yang menyebabkan perubahan fungsi hutan, merusak ekosistem, hilangnya keragaman hayati, dan mengakibatkan pencemaran udara yang diakibatkan dari kabut asap pembakaran hutan dan lahan.

3. persepsi masyarakat tentang peranan pemerintah dalam menanggulangi dampak kabut asap pembakaran hutan dan lahan pada umumya menyatakan tidak ada pengawasan yang diberikan pemerintah (35,42%), serta tidak adanya penyuluhan yang diberikan pemerintah terhadap masyarakat yang membukan lahan (44,44%) dan tindakan yang diberikan pemerintah terhadap pelaku pembukaan lahan adalah hukuman (47,92%).

(7)

Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas maka penulis memberikan saran-saran sebagai berikut:

1. Diharapkan kepada pemerintah atau instansi yang terkait untuk lebih tegas memberikan pengawasan dan mngeluarkan kebijakan yang jelas mengenai penanganan kabut asap yang terjadi khususnya di Provinsi Riau.

2. Diharapkan pada masyarakat untuk bisa lebih menjaga kelestarian hutan agar tidak terjadi pembakaran yang dapat menyebabkan kabut asap, serta lebih mementingkan kesehatan dalam menanggulangi dampak kabut asap dan perusahaan swasta untuk tidak melakukan pembukaan lahan baru dengan cara dibakar.

3. Bagi peneliti selanjutnya, untuk dapat mengembangkan penelitian ini dengan variabel yang berbeda.

Daftar Pustaka

Arikunto,Suharsimi. 2010. Manajemen Penelitian. Jakarta. Rineka Cipta.

Bakaruddin. 2012. Pengantar Geografi Desa Dan Kota.Padang:Geografi FIS

Universitas Negeri Padang.

Harahap,Adnan dkk. 1997. Islam dan Lingkungan Hidup. Bandung:

PT.Citra Aditia Bakti.

Walgito,Bimo. 2010. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi

Hariyanto (2015), Pengertian persepsi

menurut ahli.

http.belajarpsikologi.com. diambil pada tanggal 12 januari 2016 jam 20.00 Wib

Irwanto (2012), Pengertian dan definisi kebakaran hutan. http. pengertian- definisi.blogspot.co.id. diambil pada tanggal 25 februari 2016 jam 16.00 Wib

Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta.

Purnasari. 2011. Strategi Pencegahan Kebakaran Hutan BerbasisMasyarakat (Kajian Biofisil, Ekonomi, Sosial dan Budidaya Masyarakat Sekitar Kawasan Suaka Margasatwa Padang Sugihan). Skripsi Universitas Diponegoro Semarang.

Setiadi, Elly M, Dkk. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana.

Soekanto, Soerjono. 2009. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

Tarnando, Niko. 2015. Peranan Masyarakat Dan Kebijakan Pemerintah Dalam Perawatan Irigasi Sawah Kenagarian Nyiur Melambai Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan.

STKIP PGRI. Padang.

Wahyuni, Dwi. 2011. Permasalah Kabut Asap Dalam Hubungan Indonesia dan Malaysia Pada Periode 1997-2006. Skripsi UIN Syarif Hidayatullah.

Rossleny, Marliani. 2010. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.

Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Referensi

Dokumen terkait

NO NAMA PESERTA TGL... NO NAMA PESERTA

me©bvg I wµqvc`¸wji †Kv‡bv iƒcvšÍi Ki‡Z bv cvi‡j - AMªMwZ cÖ‡qvRb... welqe¯‘i mwVKZv _vK‡jI avivevwnKZvi Afve