0
THE SOCIO ECONOMIC LIFE OF CAGE FISH FARMER POST- FLOODS IN SUBDISTRICT PADANG CITY
By :
Annisa rahmi*Helfia Edial**Afrital Rezki**
*The geography education student of STKIP PGRI Sumatera Barat
**The lecturer at geography department of STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRACT
This study aims to get the data, process, analyze and discuss the socio-economic life of Cage Fish Farmer Post-Floods In Subdistrict Pauh Padang City seen on: the level of knowledge, income, livelihood, and social interaction.
This type of research is descriptive quantitative. This study population are all of KK fish cage farmers in Sub Pauh Kota. Sampling taken by total sampling with a sample of 62 households in subdistrict Pauh Padang.
Results of the study explained that: (1) socio-economic life of fish cage farmers by education level of farmers classified as medium, generally graduated from high school (59.7%), number of fish cages farmer's son who is studying elementary 1 child (54, 8%), children who are studying SMP after flash floods that 1 child (33.9%), children who are studying SMA, 2 children (3.2%), children who are college educated, namely 1 children (22.6%), children who do not finish school is 1 children (90.3%), the source of the cost is the cost of his own children's education (88.7%), non-formal education which never passed the child after flash floods is not (100%), the child's interest in school education underwent a very high 42%. (2) the economic life of the fish cage farmers after floods income above the income level of West Sumatra> Rp. 1,615,000.00 with a percentage of 80.7% in one month (3) socio-economic life of fish cage farmers after the flood based on the types of livelihood of farmers cages that the majority (25.8%), the status of livelihood is fixed (87.1%), the place of work around the house (48.4%), livelihood be breeder side (11.3%), where a second job around the home (38.7%). (4) social interaction, including fish cage farmers well with the percentage of 67.74%.
Keywords: Education, income, livelihoods, social interaction
0
KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI PETANI KERAMBA IKAN SETELAH BANJIR BANDANG DI KECAMATAN PAUH
KOTA PADANG
OlehAnnisa rahmi*Helfia Edial**Afrital Rezki**
*Mahasiswa Program Studi Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat
**Dosen Program Studi Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data,mengolah, menganalisis dan membahas tentang Kehidupan Sosial Ekonomi Petani Keramba Ikan Pasca Banjir Bandang Di Kecamatan PauhKotaPadang dilihat dari: tingkat pengetahuan, pendapatan, mata pencarian, dan interaksi sosial.
Jenis penelitian ini adalah deskriptif Kuantitatif. Populasi penelitian ini adalahseluruh KK petani keramba ikan di Kecamatan Pauh Kota.Sampel yang diambil secara total samplingdengan jumlah sampel 62 KK di KecamatanPauh Kota Padang.
Hasil penelitian menjelaskan bahwa: (1) Kehidupan sosial ekonomi petani keramba ikan berdasarkan tingkat pendidikan petani tergolong menegah, pada umumnya tamat Sekolah Menengah Atas (59,7%), jumlah anak petani keramba ikan yang sedang menempuh pendidikan SD 1 orang anak (54,8%), anak yang sedang menempuh pendidikan SMP setelah banjir bandang yaitu 1 orang anak (33,9%), anak yang sedang menempuh pendidikan SMA yaitu 2 orang anak (3,2%), anak yang sedang menempuh pendidikan perguruan tinggi yaitu 1 orang anak (22,6%), anak yang tidak tamat sekolah yaitu 1 orang anak (90,3%), sumber biaya pendidikan anak yaitu biaya sendiri (88,7%), pendidikan non formal yang pernah dilalui anak setelah banjir bandang tidak ada (100%), minat anak dalam menjalani pendidikan sekolah sangat tinggi 42%. (2) Kehidupan ekonomi petani keramba ikan setelah banjir bandang tingkat pendapatan diatas pendapatan UMRProvinsi Sumatera Barat >Rp. 1.615.000,00 dengan persentase 80,7% dalam 1 bulan(3) Kehidupan sosial ekonomi petani keramba ikan setelah banjir bandang berdasarkan jenis mata pencarian petani keramba setelah banjir bandang yaitu sebagian besar (25,8%), status mata pencarian yaitu tetap (87,1%), tempat pekerjaan disekitar rumah (48,4%), mata pencarian sampingan menjadipeternak (11,3%), tempat pekerjaan sampingan disekitar rumah (38,7%). (4) interaksi sosial petani keramba ikan termasuk baik dengan persentase 67,74%.
Kata Kunci: Pendidikan, Pendapatan, Mata pencarian, Interaksi sosial
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Indonesia juga terkenal sebagai negara agraris, dimana sebagian besar penduduknya berada atau tinggal di pedesaan. Hal ini menunjukkan sebagian besar penduduk Indonesia mata pencaharian pokoknya adalah bertani. Bentuk pertanian Indonesia adalah pertanian tropika yang
meliputi 4 (empat) kegiatan yaitu Pertanian, perkebunan,perikanan, dan peternakan.
Sektor pertanian masih memegang peranan utama di Indonesia, disebabkan sebagian besar penduduk Indonesia masih hidup atau bekerja sebagai petani sehingga dapat dikatakan bahwa pertanian merupakan tulang punggung kehidupan.
Pembangunan Pertanian di Indonesia diarahkan untuk meningkatkanpendapatan, kesejahteraan daya beli, taraf hidup,
1
kapasitas dan kemandirian, serta akses masyarakat pertanian dalam proses pembangunan melalui peningkatan kualitas dan kuantitas produkhsi dan distribusi serta keanekaragaman hasil pertanian.
Pembangunan di sektor pertanian bertujuan untuk meningkatkan produksi pertanian lebih ekfektif dan efisien. Produksi meningkat maka kehidupan lebih tinggi dan merata (Mubyarto, dalam Puspita : 2010).
Indonesia mempunyai peluang strategis untuk mengembangkan dan menyalurkan produksi pertanian ke berbagai negara dunia.
Salah satu aspek yang perlu dikembangkan dalam pertanian adalah perikanan air tawar. Ikan air tawar adalah salah satu komoditi ekspor yang memegang peran penting bagi peningkatan devisa Negara. Sehubungan dengan itu, Sumatera Barat sebenarnya mempunyai potensi dan kesempatan yang besar untuk mengembangkan dan meningkatkan penghasilan petani karena luasnya lahan untuk daerah pertanian, tetapi taraf hidup petani tetap rendah. Rendahnya tingkat kesejahteraan tentunya akan berpengaruh terhadap kehidupan petani tersebut, dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik kebutuhan primer, sekunder, maupun kebutuhan akan pendidikan. (Survey Ekonomi, 2009: BPS, dalam Yulia Yossi : 2014).
Tujuan pembangunan pertanian sub sektor perikanan adalah meningkatkan produktivitas dan produksi usaha perikanan dalam menuju swasembada pangan protein hewani dalam rangka perbaikan gizi masyarakat, memperbaiki taraf hidup nelayan dan petani ikan serta memperluas kesempatan kerja produktivitas kerja dalam sub sektor pertanian.
Sumatera Barat merupakan provinsi yang mempunyai potensi 2 perikanan yang cukup besar. Di daerah ini terdapat areal perikanan yang cukup besar yang terdiri dari perairan umum seluas 53.212 ha, sedangkan lahan yang berpotensi untuk budidaya mencapai 6.504 ha, pemeliharaan ditambak seluas 130 ha (Balai Informasi Pertanian Sumbar, dalam Yulia Yossi : 2014).
Bagi Kecamatan Pauh sendiri mempunyai luas perikanan darat yang terdiri berbagai kelurahan termasuk kelurahan Lambung Bukit dari areal kolam/empang dengan luas areal 24 ha dengan tingkat
produksi setiap tahunnya 282.467 ton (Dinas Perikanan Tk II Kota Padang, dalam, Yulia Yossi : 2014). Selama ini pemanfaatan peraiaran umum dalam bidang perikanan lebih mengarah pada penangkapan ikan laut saja, sehingga lama kelamaan akan mengakibatkan kelestariaannya. Meskipun beberapa perairan umum kita telah berada dalam keadaan produksi harus tetap. Maka berdasarkan pertambangan ini pembudidayaan ikan tawar perlu ditingkatkan karena lebih mudah diatur kelestarian produknya dibandingkan perikanan di laut (Asmawi dalam Hendri : 2002). Satu pola/ wadah pemeliharaan ikan diperairan umum yang berpotensi cukup tinggi dalam menghasilkan produksi ikan adalah sistem keramba. Keramba adalah kurungan yang terbuat dari bilah kayu,bambu, kawat / jaring. Kermaba dapat diletakkan diperairan umum seperti danau, sungai, saluran irigasi dan sebagainya.
Demikian juga pemasangan dapat dilakukan dengan merendam seluruh badan keramba dalam air / merendam sebagian dari badan keramba di permukaan air (Afrianto Dan Liviawati, 1999).
Menurut Balai Informasi Perikanan Sumatera Barat (2006, dalam Yulia Yossi : 2014) teknik pemeliharaan ikan keramba ini termasuk kedalam sistem pemeliharaan yang tinggi, pemberian makanan tambahan tinggi yang harus didukung oleh kondisi lingkungan yang baik dan perlu pengelolaan yang tepat.
Di Kota Padang Kecamatan Pauh terdapat beberapa petani ikan keramba.
Adapun faktor pendukung sistem keramba ini terletak di kawasan Kecamatan Pauh ini yang mana di aliri oleh tiga sungai yaitu Sungai Batang Kuranji, Sungai Padang Besi Dan Sungai Mangkariang. Dari ketiga sungai tersebut dialiri sungai batang kuranji dan juga dialiri oleh air irigasi yang berasal dari Gunung Nago dengan debit air yang relatif tetap. Di Kecamatan Pauh Kota Padang ini terdapat 62 kk petani keramba ikan dahulunya sebelum terjadinya banjir bandang di kecamatan pauh kelurahan batu busuk. Karena kebanyakan usaha perikanan ini masih bersifat turun-temurun, maka sebagian besar dari bentuk usahanya masih bersifat sederhana, usaha perikanan secara komersil baru keliatan mulai berkembang dan hanya terbatas pada daerah tertentu saja.
2 Di Kecamatan Pauh Jenis ikan yang ada di dalam keramba itu dulunya yaitu Ikan Mas, Ikan Mujahir dan sebagian ada juga memproduksi Ikan Nila. Karena kebanyakan usaha perikanan ini masih turun-temurun, maka sebagian besar dari bentuk usaha keramba ikan ini masih bersifat sederhana.
Modal yang digunakan petani keramba adalah tabungan sendiri, petani keramba menggunakan modal awal sebesar Rp.5000.000 – 10.000.000. penebaran bibit yang dilakukan petani keramba pada pagi hari, bibit ikan tersebut dibeli dipasar.
Tingkat produksi setiap panen, berat hasil produksi yang diperoleh sebanyak 201-300 kg/ekor. Pendapatan petani keramba ikan rata-rata 1.000.000-2.000.000/bulan.
Interaksi sosial petani keramba umumnya terjalin sangat baik petani tidak pernah sama sekali merasa tersaingi dengan petani lainnya.
Pada tanggal 24 juli 2012 banjir bandang telah menghantam kecamatan pauh kelurahan batu busuk kota padang, meluapnya hulu sungai batang kuranji di Kecamatan Pauh diduga karena ketidakmampun perbukitan 30 kilometer dari kawasan kampus UNAND Limau Manis untuk menampung debit air yang turun saat hujan lebat. Puluhan kubik air ini tidak terserap oleh hutan yang di kenal warga sebagai Bukit Danau Karing. Saat puluhan kubik ini meluncur deras menuju deras menuju hilir sungai, air bah tersebut meluap dari sungai batang kuranji. Luapan ini menyapu persawahan, ladang-ladang, dan rumah warga di bantaran sungai.
Banjir bandang yang terjadi dibatu busuk telah membuat bendungan di Gunung Nago Kelurahan Lambung Bukit jebol yang membuat lima kelurahan di Kecamatan Pauh dan Kecamatan Kuranji menjadi kekeringan akibat tidak adanya lagi aliran irigasi.
Sejumlah petani di Kecamatan Kuranji memanen hasil ikan dan hasil tanamannya.
Hal ini mereka lakukan karena takut akan mengalami kerugian yang lebih besar, bahkan padi yang baru menguning dan belum banyak isinya harus di panen. Hal yang sama juga di alami oleh peternak ikan keramba. Terputusnya jaringan irigasi dari bendungan Gunung Nago akibat di hantam banjir bandang menimbulkan bau busuk yang menyengat hidung. Di Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh puluhan
ton ikan warga mati di kolam-kolam yang tidak mendapatkan pasokan air lagi. Di samping itu, warga Lambung Bukit, hal serupa juga di alami warga dan peternak ikan Kampung Pinang, Kuranji, Korong Gadang, dan Kalumbuk.
Bendungan yang rusak telah di perbaiki, warga yang ada di Kecamatan Pauh dan Kecamatan Kuranji tidak lagi mengalami kekeringan. Petani padi sawah sekarang ini telah bercocok tanam lagi karena saluran aliran irigasi sudah diperbaiki, berbeda petani ikan sekarang ini kita tidak dapat dijumpai lagi petani-petani keramba ikan di Gunung Nago Kelurahan Lambung Bukit Kecamatan Pauh. Hal ini terjadi karena banyaknya ikan-ikan yang ada didalam keramba warga yang terbawa oleh arus air sungai yang besar pada saat terjadinya hujan lebat. Dari uraian diatas peneliti ini nantinya akan penulis tuangkan dalam sebuah judul penelitian “ Kehidupan Sosial Ekonomi Petani Keramba Ikan Setelah Banjir Bandang Di Kecamatan Pauh Kota Padang
“
METODOLOGI PENELITIAN
Berdasarkan dengan keadaan dan latar belakang penelitian maka jenis penelitian yans saya teliti adalah termasuk jenis penelitian deskriptif.
Menurut Arikunto dalam Ella Yuliana (2015) Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan, kondisi atau hal-hal lain yang sudah disebutkan, yang hasilnya di paparkan dalam bentuk laporan penelitian.Dalam penggunaan metode ada teknik penelitian utama yang digunakan dalam mengumpulkan data/informasi yang diperlukan antara lain pengamatan atau observasi partisipasi dan wawancara.
Penelitian ini membahas tentang Keadaan Sosial Ekonomi Petani Keramba Ikan Setelah Banjir Bandang Di Kecamatan Pauh Kota Padanh. Sesuai dengan permasslahan diatas maka variabel yang akan di teliti meliputi : 1) Pendidikan, 2) Pendapatan, 3) Mata Pencarian, 4) Interaksi Sosial.
Bungin (2011), dalam Devita Septira (2013) Populasi penelitian merupakan keseluruhan (universum) dari objek penelitianyang dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, udara, gejala,
3
nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya, sehingga objek-objek ini dapat menjadi sumber data penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh KK petani keramba ikan di Kecamatan Pauh Kota Padang. Berdasarkan data yang ada di camat pauh terdapat 62 KK petani keramba ikan.
Menurut Sugiyono (2010), dalam Yulia Yossi (2014) sampel adalah bagian dari jumlah data karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel yang diambil secara total samplingdengan jumlah sampel 62 KK petani keramba.
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Daerah Penelitian
Kecamatan Pauh terletak di antara 0⁰ 58’ LS - 100⁰ 11’ 21” BT, dengan luas wilayah 146,29 km2.
Batas-batas administrasi Kecamatan Pauh adalah sebagai berikut :
1. Utara :Kecamatan Koto Tangah 2. Selatan :Kecamatan Lubuk
Kilangan, Kecamatan Lubuk Begalung
3. Timur :Kabupaten Solok
4. Barat :Kecamatan Kuranji, Kecamatan Padang Timur
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diperoleh gambaran sebagai berikut:
Pertama : Kehidupan sosial ekonomi petani keramba ikan setelah banjir bandang Di Kecamatan Pauh Kota Padang untuk tingkat pendidikan yaitu pendidikan formal yang pernah diikuti petani keramba ikan tergolong Menengah dengan persentase 59,7%, anak yang sedang menempuh pendidikan SD pasca banjir bandang yaitu 3 orang anak dengan persentase sebesar 3,2%, 2 orang anak dengan persentase sebesar 6,5%, 1 orang anak dengan persentase sebesar 35,5%, dan anak yang tidak sedang menempuh pendidikan SD dengan persentase sebesar 54,8%, anak yang sedang menempuh pendidikan SMP pasca banjir bandang yaitu 1 orang anak dengan persentase sebesar 33,9%, anak yang tidak sedang menempuh pendidikan SMP dengan persentase sebesar 66,1%, anak yang sedang menempuh pendidikan SMA yaitu 2 orang anak dengan persentase sebesar 3,2%, 1 orang anak dengan persentase sebesar
32,2%, dan anak yang tidak sedang menempuh pendidikan menempuh SMA dengan persentase sebesar 64,6%, anak yang sedang pendidikan perguruan tinggi yaitu 2 orang anak dengan persentase sebesar 1,6%, 1 orang anak dengan persentase sebesar 22,6%, anak yang tidak sedang menempuh pendidikan perguruan tinggi dengan persentase sebesar 75,8%, anak yang tidak tamat sekolah yaitu 1 orang anak dengan persentase sebesar 90,3%, 2 orang anak dengan persentase sebesar 3,2%, >2 orang anak dengan persentase sebesar 1,6%, dan anak yang tidak ada yang tidak tamat sekolah dengan persentase sebesar 90,3%, sarana pendidikan anak yang dapat dipenuhi yaitu meja belajar, buku, pakaian dengan persentase sebesar 62,9%, meja belajar, buku, pakaian, dan computer dengan persentase sebesar 37,1%, sumber biaya pendidikan anak yaitu biaya sendiri dengan persentase sebesar 88,7%, beasiswa dengan persentase sebesar 9,7%, dan bantuan saudara dengan persentase sebesar 1,6%, pendidikan non formal yang pernah dilalui anak setelah banjir bandang tidak ada sama sekali dengan persentase sebesar 100%, minat anak dalam menjalani pendidikan sekolah sangat tinggi dengan persentase sebesar 42%.
Hal ini sesuai dengan langgulung (2004) yang menyatakan pendidikan adalah suatu proses yang mempunyai tujuan yang biasanya diusahakan untuk menciptakan pola-pola tingkah laku tertentu pada kanak- kanak atau orang yang sedang di didik.
Setiap suasana pendidikan mengandung tujuan-tujuan, maklukat-maklumat berkenaan dengan pengalaman-pengalaman yang dapat dinyatakan sebagai kandungan itu secara berkesan.
Kedua : Kehidupan sosial ekonomi petani keramba ikan setelah banjir bandang Di Kecamatan Pauh Kota Padang untuk tingkat pendapatan yaitu diatas pendapatan UMR Provinsi Sumatera Barat >Rp.
1.615.000,00 dengan persentase 80,7%
dalam 1 bulan.
Hal ini sesuai dengan definisi BPS (2006) dalam Musia Nofi (2013) pendapatan adalah merupakan balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi dalam jangka waktu tertentu. Balas jasa tersebut dapat berupa sewa, upah atau gaji, bunga uang ataupun laba. Dilihat dari pemanfaatan
4 tenaga kerja pendapatan yang berasal dari balas jasa berupa upah atau gaji disebut dengan pendapatan tenaga kerja (labor income). Sedangkan pendapatan dari balas jasa selain tenaga kerja disebut dengan pendapatan bukan tenaga kerja (non labor income). Disamping itu ada pula pendapatan yang bukan berasal dari balas jasa atas pemanfaatan faktor produksi dan tidak bersifat mengikat. Pendapatan ini disebut pendapaan transfer. Pendapatan tranfer ini (transfer income) dapat berasal dari pemberian perseorangan atau institusi (misalnya pemerintah). Pendapatan transfer ini dapat positif maupun negatif tergantung pada besarnya pembayaran atau penerimaan transfer dalam jangka waktu tertentu.
Ketiga : Kehidupan sosial ekonomi petani keramba ikan setelah banjir bandang Di Kecamatan Pauh Kota Padang untuk jenis mata pencarian petani keramba setelah banjir bandang yaitu pedagang dengan persentase sebesar 25,8%, status mata pencarian yaitu tetap dengan persentase sebesar 87,1%, tempat pekerjaan yaitu disekitar rumah dengan persentase sebesar 48,4%, mata pencarian sampingan yaitu, peternak dengan persentase sebesar 11,3%, pedagang dengan persentase sebesar 8,1%, wirausaha dengan persentase sebesar 9,7%, buruh dengan persentase sebesar 4,8%, jasa dengan persentase sebesar 6,4%, dan tidak ada mata pencarian sampingan dengan persentase sebesar 59,7%, tempat pekerjaan sampingan disekitar rumah dengan persentase sebesar 38,7%, kelurahan tetangga dengan persentase sebesar 1,6%, dan tidak ada 59,7%.
Hal ini sesuai dengan Mulyadi (2008) dalam Mustia Nofi (2013) menyatakan Lapangan pekerjaan seseorang adalah bidang kegiatan utama seseorang. Pekerjaan utama biasanya digolongkan atas : (a) pertanian, (b) pertambangan dan penggalian, (c) industri pengolahan, (d) listrik, gas dan air, (e) bangunan, (f) perdagangan besar, eceran, dan rumah makan, (g) angkutan, pergudangan, dan komunikasi, (h) keuangan, asuransi, usaha persewaan bangunan dan tanah serta jasa perusahaan dan (i) jasa kemasyarakatan.
Keempat : Kehidupan sosial ekonomi petani keramba ikan setelah banjir bandang Di Kecamatan Pauh Kota Padang untuk interaksi sosial termasuk Baik dengan
persentase 67,74%. Dari hasil penelitian dapat dilihat kondisi interaksi sosial petani keramba ikan setelah banjir bandang di Kecamatan Pauh Kota Padang tergolong baik. Semakin baiknya interaksi sosial sosial suatu masyarakat berarti dapat meningkatkan hubungan sosial yang terjalin diantara masyarakat baik itu keluarga inti, keluarga besar maupun dengan tetangga.
Hal ini sesuai dengan Soekanto (2009) dalam Hisni Amri Mubarak (2014) yang menyatakan Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang-perorangan dengan kelompok manusia. Apabila dua orang bertemu, interaksi sosial dimulai pada saat itu. Mereka saling mengatur, berjabat tangan, saling berbicara atau mungkin berkelahi. Aktivitas-akivitas semacam itu merupakan bentuk-bentuk interaksi sosial.
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
1.
Kehidupan sosial ekonomi petani keramba ikan berdasarkan Tingkat pendidikan petani keramba ikan paling bnyak amat Sekolah MenengahAtas, tergolong Menengahdengan persentase 59,7%,jumlah anak petani keramba ikan yang sedang menempuh pendidikan SD 3 orang anak (3,2%) 2 orang (6,5%), 1 orang anak (54,8%), anak yang sedang menempuh pendidikan SMP pasca banjir bandang yaitu 1 orang anak (33,9%), anak yang sedang menempuh pendidikan SMA yaitu 2 orang anak (3,2%), 1 orang anak (32,2%), anak yang sedang menempuh pendidikan perguruan tinggi yaitu 2 orang anak (1,6%), 1 orang anak (22,6%), anak yang tidak tamat sekolah yaitu 1 orang anak (90,3%), 2 orang anak (3,2%),>2 orang anak (1,6%). Sarana pendidikan anak yang dapat dipenuhi meja belajar, buku, pakaian, dan computer (37,1%), sumber biaya pendidikan anak yaitu biaya sendiri (88,7%), pendidikan
5
non formal yang pernah dilalui anak setelah banjir bandang tidak ada sama sekali (100%), minat anak dalam menjalani pendidikan sekolah sangat tinggi 42%.
2.
Tingkat pendapatan petani diatas pendapatan UMR Provinsi Sumatera Barat >Rp. 1.615.000,00 dengan persentase 80,7% dalam 1 bulan.3.
Jenis mata pencarian petani keramba setelah banjir bandang yaitu sebagian besarpedagang (25,8%), status mata pencarian yaitu tetap (87,1%), tempat pekerjaan yaitu disekitar (48,4%), mata pencarian sampingan yaitu, peternak (11,3%), tempat pekerjaan sampingan disekitar rumah (38,7%).4.
Interaksi sosial petani keramba ikan termasuk Baik dengan persentase 67,74%. Dari hasil penelitian dapat dilihat kondisi interaksi sosial petani keramba ikan setelah banjir bandang di Kecamatan Pauh Kota Padang tergolong baik. Semakin baiknya interaksi sosial sosial suatu masyarakat berarti dapat meningkatkan hubungan sosial yang terjalin diantara masyarakat baik itu keluarga inti, keluarga besar maupun dengan tetangga.B. Saran
Berdasarkan data yang diperoleh maka saran dari penulis adalah sebagai berikut:
1. Diharapkan kepada pemerintah Kecamatan Pauh Kota Padang untuk lebih memperhatikan kehidupan sosial ekonomi masyarakat Kecamatan Pauh khususnya kehidupan sosial ekonomi petani keramba ikan pasca banjir bandang Di Kecamatan pauh Kota Padang, untuk mendapatkan modal kembali agar bisa membuka usaha keramba ikan lagi bagi msyarakat yang mau membuka usaha sebagai petani keramba ikan lagi.
2. Bagi masyarakat Kecamatan Pauh Kota Padang khususnya petani keramba ikan pasca banjir bandang
lebih meningkatkan kehidupan sosial ekonominya, baik itu berdasarkan tingkat pendidikan anaknya, tingkat pendapatan, mata pencarian, dan jalinan hubungan interaksi sosialnya didalam keluarga dan masyarakat selalu berjalan dengan baik.
3. Bagi peneliti selanjutnya penelitian ini bisa dijadikan bahan rujukan dan pedoman yang bermanfaat dan menambah wawasan pembaca dan peneliti sendiri
DAFTAR PUSTAKA
Langgulung, Hasan. 2004. Manusia Dan Pendidikan. Jakarta: PT. Pustaka Al Husna Baru
Riduwan, 2009. Skala Pengukuran Variabel- Variabel Penelitian. Bandung : Alfabeta.
Yanti Martini, 2014. Studi Sosial Ekonomi Keluarga Petani Keramba Ikan Air Tawar Di Kecamatan Rau Selatan Kabupaten Pasaman. Skripsi Jurusan Geografi. STKIP PGRI SUMATERA BARAT.
Yosi Yulia, 2014. Studi Sosial Ekonomi Petani Keramba Di Kecamatan Pauh Kota Padang. Skripsi Jurusan Geografi. STKIP PGRI SUMATERA BARAT.
Yuliana, Ella, 2015. Dampak Program Konversi Minyak Tanah Ke LPG Dalam Kehidupan Masyarakat Di Kelurahan Tanah Sirah Kecamatan Lubuk Begalung Kota Padang.Skripsi Jurusan Geografi.
STKIP PGRI SUMATERA
BARAT
94