• Tidak ada hasil yang ditemukan

SPS M Faiz Al Falah Universitas Negeri Jakarta

N/A
N/A
Yusuf Mahabil Akram

Academic year: 2023

Membagikan "SPS M Faiz Al Falah Universitas Negeri Jakarta"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS CEDERA OLAHRAGA DI KLUB OLAHRAGA PRESTASI PENCAK SILAT UNIVERSITAS NEGERI

JAKARTA

M FAIZ AL FALAH 1603619060

Skripsi Ini Disusun Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Olahraga

PROGRAM STUDI ILMU KEOLAHRAGAAN FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA NOVEMBER 2022

(2)
(3)

BAB I PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang Masalah...1

B. Identifikasi Masalah...3

C. Pembatasan Masalah...3

D. Perumusan Masalah...4

E. Kegunaan Hasil Penelitian...4

BAB II KAJIAN TEORITIK ...5

A. Deskripsi Konseptual...5

B. Kerangka Berpikir...15

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...17

A. Tujuan Penelitan...17

B. Tempat dan Waktu Penelitian...17

C. Metode Penelitian...17

D. Populasi dan Sampel...18

E. Teknik Pengumpulan Data...19

F. Instrumen Penelitian...19

G. Pengujuian Validitas dan Reliabilitas...20

H. Teknik Analisis Data...21 DAFTAR PUSTAKA...

iii

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Olahraga adalah bentuk aktivitas fisik yang biasanya bersifat kompetitif dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan fisik seseorang seraya memberikan hiburan bagi pemain ataupun penonton.Olahraga merupakan aktivitas fisik yang disengaja dan direncanakan mulai dari arah, tujuan, waktu, dan lokasinya.Dalam kehidupan bersosial, olahraga merupakan suatu fenomena sekaligus bentuk ekspresi manusia. Olahraga dapat dilakukan secara individu maupun beregu.

Pencak silat adalah suatu seni bela diri tradisional yang berasal dari Kepulauan Nusantara (Indonesia). Induk organisasi pencak silat di Indonesia adalah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Organisasi yang mewadahi federasi-federasi pencak silat di berbagai negara adalah Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa (Persilat), yang dibentuk oleh Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Setiap empat tahun di Indonesia ada pertandingan pencak silat tingkat nasional dalam Pekan Olahraga Nasional (PON). Pencak silat juga dipertandingkan dalam ajang Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEA Games) sejak tahun 1987.

Dalam Cabang Olahraga Pencak Silat mempunya 2 kategori yaitu tanding dan seni.Kategori seni di bagi menjadi 3 bagian yaitu Tunggal , Ganda

(5)

dan Beregu biasa di singkat TGR. Kategori tanding adalah dimana kita harus berhadapan satu lawan satu dengan seseornag dengan berat yang sudah di tentukan . Kategori Tunggal ini termasuk kategori seni yang di mana kita akan menunjukan gerakan yang sudah di bakukan oleh IPSI dengan indah dan sesuai waktu yang sudah di tentukan. Kategori Ganda,di sini kita akan melakukan gerakan rekayasa yang memiliki unsur serang bela,aktrasi yang telah kita rancang terlebih dahulu dan dilakukan oleh 2 orang pesilat. Yang terakhir,kategori beregu di sini kita membutuhkan 3 orang pesilat yag dimana kita akan memperagakan gerakan yang sudah di bakukan juga oleh IPSI dan dilakukan secara bersamaan dengan kompak.

Cedera Olahraga dalah kerusakan pada jaringan tubuh yang terjadi akibat berolahraga ataupun latihan fisik. Penyebab pasti cedera olahraga bergantung pada jenis cederanya. Namun, sebagian besar luka terjadi pada otot, ligamen, atau tendon. Organ tersebut akan sobek jika dibentangkan terlalu jauh dan terlalu cepat.

Beberapa cedera olahraga yang paling umum adalah patah tulang, dislokasi, otot tegang, keseleo, dan sakit pada tulang kering. Namun, terdapat dua jenis utama dari cedera olahraga: akut dan kronis. Cedera olahraga akut adalah rasa sakit tiba-tiba dan atau ketidakmampuan untuk bergerak atau tekanan pada bagian tungkai sementara cedera olahraga kronis terjadi dari waktu ke waktu dan disebabkan oleh penggunaan dan kerusakan otot, sendi, atau tendon. Orang yang menderita cedera kronis biasanya mengalami sakit ringan pada daerah yang terserang ketika melakukan kegiatan fisik.

(6)

Melihat banyak nya pertandingan Pencak Silat pada masa kini , maka semakin banyak juga atlet atlet Pencak Silat yang mengalami cedera olahraga, disisi lain , penelitian ini di lakukan karena peneliti mengalami pengalaman cedera pada saat bertanding , yang di mana memang cedera tersebut tidak bisa diduga duga , contoh nya seperti menendang sikut lawan , salah jatuh pada saat melakuakan teknik sapuan serta terkilirnya engkel pada saat moving akibat kurang fokus karena kelelahan.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka dapat diidentifikasikan menjadi beberapa masalah diantara nya adalah sebagai berikut:

1. Banyak nya cedera yang di alami atlet pencaksilat di Universitas Negeri Jakarta

2. Cedera yang di alami atlet Universitas Negeri jakarta banyak terjadi di bagian engkel , lutut , bahu

3. Kurang nya pengetahuan penangan cedera

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan Permasalahan yang telah diidentifikasi di atas, maka dalam penelitian ini perlu dibatasi untuk mencegah terjadinya penafsiran yang berbeda-beda.Jika sangat perlu diberikan batasan-batasan. Penelitian ini dibatasi dengan judul Analisis Cedera Olahraga Di Klub Olahraga Prestasi Universitas Negeri Jkarata

(7)

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah yang telah di uraikan di atas maka dapat di rumuskan masalah sebagai berikut

1. Berapa banyak atlet klub olahraga prestasi pencak silat Universitas Negeri Jakarta yang mengalami cedera olahraga pada pertandingan pencak silat UNJ Open III 2022 ?

2. Bagian tubuh mana saja yang serig terjadi cedera olahraga pada atlet klub olahraga prestasi pencak silat Universitas Negeri Jakarta ?

3. Bagaimana cara penanganan cedera olahraga pada atlet klub olahraga prestasi pencak silat Universitas Negeri Jakarta ?

4. Sejauh mana pemahaman atlet klub olahraga pretasi pencak silat tentang cedera olahraga ?

5. Siapakah yang menangani pada saat atlet klub olahraga prestasi pencak silat mengalami cedera olahraga.

E. Kegunaan Hasil Penelitian

1. Atlet klub olahraga prestasi pencak silat memahami penanganan cedera olahraga

2. Dapat meminimalisir terjadi nya cedera olahraga pada atlet klub olahraga prestasi pencak silat

3. Sebagai pengetahuan atlet serta pelatih di klub olahraga pretasi pencak silat

(8)

BAB II

KAJIAN TEORITIK

A. Deskripsi Konseptual 1. Cedera Olahraga

Cedera Olahraga adalah cedera pada sistem integumen, otot dan rangka yang disebabkan oleh kegiatan olahraga. Cedera olahraga disebabkan oleh berbagai faktor antara lain kesalahan metode latihan, kelainan struktural maupun kelemahan fisiologis fungsi jaringan penyokong dan otot ( Novita,2009 )

Cedera olahraga (sport injuries) adalah segala macam cedera yang timbul, baik pada waktu latihan, berolahraga, pertandingan olahraga ataupun sesudahnya (Komang Ayu Tri Widhiyanti,2018)

Cedera olahraga adalah cedera yang terjadi pada tubuh saat seseorang berolahraga atau saat melakukan latihan fisik tertentu (Dyah ayu Woro Setyaningrum,2019)

Berdasarkan waktu nya cedera , cedera olahraga terbagi menjadi 2 bagian yaitu:

1. Cedera akut, adalah suatu cedera berat yang terjadi secara mendadak/tiba-tiba (beberapa jam yang lalu) seperti : cedera goresan, robek pada ligament, atau patah tulang karena terjatuh. Tanda dan gejalanya : sakit, nyeri tekan, kemerahan pada kulit, kulit hangat, dan inflamasi.

(9)

2. Cedera kronis, adalah suatu cedera yang terjadi/berkembang secara lambat seperti : cedera pada otot hamstring : cedera pada level rendah misalnya kram, namun secara berulang-ulang mengalami cedera yang berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan cedera pada level tinggi sehingga menyebabkan otot hamstring mengalami perobekan/putus total. Tanda dan gejalanya : gejala sakit yang timbul dapat hilang dalam beberapa waktu tertentu namun dapat timbul kembali, biasanya karena overuse atau cedera akut yang tidak sembuh sempurna.

Berdasarkan tingkat level atau tingkat keseriusan nya , cedera olahraga ini terbagi menajdi 2 bagian yaitu cedera ringan dan cedera berat , berikut penjelasan nya

1. Cedera ringan, adalah cedera yang tidak diikuti kerusakan yang berarti pada jaringan tubuh misalnya : kekakuan dan kelelahan otot. Cara penanganan pada cedera ini tidak diperlukan pengobatan yang khusus karena akan sembuh dengan sendirinya setelah istirahatkan beberapa waktu.

2. Cedera berat, adalah cedera yang serius dimana pada cedera tersebut ditemukan adanya kerusakan pada jaringan tubuh misalnya : robeknya otot, robeknya ligament, maupun patah tulang (fraktur).

(10)

Berdasarkan jaringan yang terkena cedera , dapat diklasifikasikan menjadi :

1. Cedera Jaringan Lunak a. Cedera pada kulit

Cedera yang paling sering adalah ekskoriasi (lecet), laserasi (robek), maupun punctum (tusukan)

b. Cedera pada otot/tendon dan ligamen

 Strain Adalah cedera yang terjadi pada otot dan tendon.

Biasanya disebabkan oleh adanya regangan yang berlebihan.

Gejala: Nyeri yang terlokalisasi, kekakuan, bengkak, hematom di sekitar daerah yang cedera.

 Sprain Adalah cedera yang disebabkan adanya peregangan yang berlebihan sehingga terjadi cedera pada ligamen. Gejala : nyeri, bengkak, hematoma, tidak dapat menggerakkan sendi, kesulitan untuk menggunakan ekstremitas yang cedera.

2. Cedera Jaringan Keras

Cedera ini terjadi pada tulang atau sendi. Dapat ditemukan bersama dengan cedera jaringan lunak. Yang termasuk cedera ini:

a. Fraktur (Patah Tulang) Yaitu diskontinuitas struktur jaringan tulang.

Penyebabnya adalah tulang mengalami suatu trauma (ruda paksa) melebihi batas kemampuan yang mampu diterimanya. Bentuk dari patah tulang dapat berupa retakan saja sampai dengan hancur berkeping-keping. Patah tulang dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu :

(11)

 Patah Tulang Tertutup

Dimana patah tulang terjadi tidak diikuti oleh robeknya struktur di sekitarnya.

 Patah Tulang Terbuka

Dimana ujung tulang yang patah menonjol keluar. Jenis fraktur ini lebih berbahaya dari fraktur tertutup, karena dengan terbukanya kulit maka ada bahaya infeksi akibat masuknya kuman-kuman penyakit ke dalam jaringan.

b. Dislokasi adalah sebuah keadaan dimana posisi tulang pada sendi tidak pada tempat yang semestinya. Biasanya dislokasi akan disertai oleh cedera ligamen (sprain)

3. Penangan Pada Cedera a. Cedera Pada Kulit

 Luka Lecet (ekskoriasi)

Menurut Potter & Perry (2005) pembersihan luka yang dianjurkan dapat menggunakan cairan pembersih normal salin (NaCl).

Normal salin merupakan cairan fisiologis yang tidak akan membahayakan jaringan luka. Penggunaan normal salin juga bertujuan untuk meningkatkan perkembangan dan migrasi jaringan epitel. Setelah dibersihkan dengan normal salin, tutup luka menggunakan kassa steril dan fiksasi.

(12)

 Luka Robek (Laserasi)

Menurut Junaidi (2011) luka robek pada umumnya memerlukan jahitan. Oleh karena itu, tindakan pertolongan pertamanya ialah melakukan desinfeksi kemudian menutupnya dengan plester atau kassa steril lalu membawa korban ke rumah sakit atau pelayanan kesehatan terdekat. Jika diperlukan dapat diberikan antibiotika dan antitetanus untuk mencegah infeksi atau serangan tetanus.

 Luka Tusuk (punctum)

Menurut Junaidi (2011) apabila tusukan mengenai pembuluh darah yang besar, terlebih dahulu lakukan tindakan untuk menghentikan perdarahan itu. Tutup lukanya menggunakan kain / kassa steril dan balut dengan baik kemudian segera membawa korban ke rumah sakit.

b. Cedera Pada Tendon (sprain dan strain)

Menurut Millar (2014) salah satu cara menangani cedera pada kasus sprain dan strain adalah dengan PRICES (Protection, Rest, Ice, Compression, Elevation, Support), yaitu :

 Protect (Proteksi)

Proteksi bertujuan untuk mencegah cedera bertambah parah dengan mengurangi pergerakan bagian otot yang cedera. Proteksi dapat menggunakan air splint dan ankle brace.

 Rest (Istirahat)

(13)

Istirahatkan bagian tubuh yang cedera selama 2-3 hari untuk mencegah cedera bertambah parah dan memberikan waktu jaringan untuk sembuh.

 Ice (Pemberian Es)

Pemberian kompres es bertujuan untuk mengurangi peradangan.

Kompres es akan menyebabkan menyempitnya pembuluh darah pada daerah yang dikompres sehingga mengurangi aliran darah ke tempat tersebut dan meredakan peradangan. Berikut adalah cara penggunaan kompres es: es ditempatkan dalam kantong dan dibungkus sebelum dipakai. Tidak boleh ada kontak langsung antara es dan kulit. Kompres es pada daerah luka selama 20 menit setiap 2 jam, selama 1-2 hari. Kompres es dihentikan ketika peradangan berkurang. Ciri-ciri adanya peradangan: kemerahan, bengkak, panas, rasa nyeri, dan tidak bisa digerakkan.

 Compression (Kompresi)

Kompresi bertujuan untuk mencegah pergerakan otot dan juga dapat mengurangi pembengkakkan. Kompresi dilakukan dengan menggunakan elastic bandage atau ankle taping. Dalam melakukan kompresi, harus diperhatikan jangan sampai kompresi terlalu ketat.

 Elevation (Elevasi)

Elevasi dilakukan dengan menopang bagian yang cedera dengan suatu benda agar daerah yang cedera lebih tinggi dari permukaan

(14)

jantung. Elevasi bertujuan untuk mengurangi tekanan dan aliran darah ke daerah cedera serta mengurangi pembengkakkan.

a. Fraktur

Menurut Mansjoer (2000) penatalaksanaan fraktur telah banyak mengalami perubahan dalam waktu sepuluh tahun terakhir ini.

Traksi dan spica casting atau cast bracing mempunyai banyak kerugian karena waktu berbaring lebih lama, meski pun merupakan penatalaksanaan non-invasif pilihan untuk anak-anak. Oleh karena itu tindakan ini banyak dilakukan pada orang dewasa. Bila keadaan penderita stabil dan luka telah diatasi, fraktur dapat dimobilisasi dengan salah satu cara dibawah ini:

 Traksi

Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk menangani kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot.

Tujuan traksi adalah untuk menangani fraktur, dislokasi atau spasme otot dalam usaha untuk memperbaiki deformitas dan mempercepat penyembuhan. Traksi menggunakan beban untuk menahan anggota gerak pada tempatnya. Tapi sekarang sudah jarang digunakan. Traksi longitudinal yang memadai diperlukan selama 24 jam untuk mengatasi spasme otot dan mencegah pemendekan, dan fragmen harus ditopang di posterior untuk mencegah pelengkungan. Traksi pada anak-anak dengan fraktur

(15)

femur harus kurang dari 12 kg, jika penderita yang gemuk memerlukan beban yang lebih besar.

 Fiksasi Interna

Fikasi interna dilakukan dengan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batang logam pada pecahan- pecahan tulang. Fiksasi interna merupakan pengobatan terbaik untuk patah tulang pinggul dan patah tulang disertai komplikasi.

 Pembidain

Pembidaian adalah suatu cara pertolongan pertama pada cedera/

trauma sistem muskuloskeletal untuk mengistirahatkan (immobilisasi) bagian tubuh kita yang mengalami cedera dengan menggunakan suatu alat yaitu benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang.

 Pemasangan Gips atau Operasi Dengan ORIF

Gips adalah suatu bubuk campuran yang digunakan untuk membungkus secara keras daerah yang mengalami patah tulang.

Pemasangan gips bertujuan untuk menyatukan kedua bagian tulang yang patah agar tak bergerak sehingga dapat menyatu dan fungsinya pulih kembali dengan cara mengimobilisasi tulang yang patah tersebut.

 Penyemuhan Fraktur

Penyembuhan fraktur dibantu oleh pembebanan fisiologis pada tulang , sehingga dianjurkan untuk melakukan aktifitas otot dan

(16)

penahanan beban secara lebih awal. Tujuan ini tercakup dalam tiga keputusan yang sederhana : reduksi, mempertahankan dan lakukan latihan.

2. Pencak Silart

Pencak silat adalah seni bela diri tradisional yang berasal dari Nusantara (Indonesia). Menurut persebaran berbagai suku bangsa di Nusantara (Indonesia), pencak silat ini dikenal luas di Indonesia, Malaysia, Brunei dan Singapura, Filipina selatan dan Thailand selatan. Unsur bela diri pencak silat adalah pukulan dan tendangan. Pencak silat merupakan seni bela diri yang banyak diminati oleh banyak orang terutama masyarakat Indonesia.

Kini Vietnam juga memiliki petarung yang tangguh berkat pelatih-pelatih Indonesia. Induk organisasi pencak silat Indonesia adalah Persatuan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Organisasi yang menaungi federasi pencak silat nasional adalah Persatuan Pencak Silat Internasional (Persilat) yang beranggotakan Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Pencak silat merupakan olahraga bela diri yang membutuhkan konsentrasi yang intens. pencak silat dipengaruhi oleh budaya Cina, Hindu, Budha dan Islam.

Biasanya setiap daerah di Indonesia memiliki gaya pencak silat yang unik.

Misalnya di Jawa Barat dikenal aliran Cimande dan Cikalong, di Jawa Tengah ada aliran Merpati Putih, dan di Jawa Timur ada aliran PSHT, Perisai Diri, PSCP.

Di Indonesia, kompetisi pencak silat nasional diadakan setiap empat tahun sekali pada Pekan Olahraga Nasional (PON). Pencak silat juga telah mengikuti

(17)

SEA Games sejak 1987. Di luar Indonesia, penggemar pencak silat juga banyak di Australia, Belanda, Jerman dan Amerika Serikat. Di tingkat nasional, olahraga dan pencak silat melalui permainan menjadi salah satu alat pemersatu nusantara bahkan mengharumkan nama bangsa dan jati diri. Gerakan pencak silat sudah berskala internasional.

Pada 13 Desember 2019, Pencak Silat ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia (Intangible Cultural World Heritage).Hal ini adalah salah satu upaya pemerintah dalam memajukan pencak silat sebagai warisan budaya Indonesia. Manfaat Pencak Silat yang diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia adalah mendapat pengakuan dunia internasional, memiliki peluang dipertandingkan dalam cabang olahraga di Olimpiade dan menggali nilai budaya yang terkandung dalam silat.

3. Cedera Olahraga di Pencak Silat

Cedera olahraga (sport injuries) adalah segala macam cedera yang timbul, baik pada waktu latihan, berolahraga, pertandingan olahraga ataupun sesudahnya (Komang Ayu Tri Widhiyanti,2018)

Cedera olahraga di pencak silat bisa dapat terjadi di tempat latihan maupun pada saat pertandingan , mengapa demikian , karena olahraga pencak silat adalah olahraga body contact , maka dari itu kita tidak bisa menghindari benturan benturan yang akan terjadi pada saat latihan maupun di tempat pertandingan, khusus nya untuk kategori tanding dan ganda.

(18)

Cedera olahraga yang di alami atlet pencak silat cukup banyak , biasa nya Contusio (memar) , Angkle Sprain , Strain , Dislokasi, cedera daerah lutut , cedera daerah kepala , hingga pendarahan di bagian tubuh tertentu

B. Kerangka Berfikir

Berdasarkan tingkat level cedera atau tingkat keseriusan nya , cedera olahraga ini terbagi menajdi 2 bagian yaitu cedera ringan dan cedera berat, yang memang bisa saja terjadi unutk atlet pencak silat mengalami cedera ringan maupun berat.

Pencak Silat adalah olahraga body contac jadi memang atlet pencak sulit untuk bisa menghindari benturan benturan , atlet pencak silat yang paling banyak mengalami cedera adalah kategori tanding dan seni ganda. Atlet kategori tandning sering mengalami cedera persendian seperti bahu , lutut dan engkel. Untuk atlet kategori ganda sering mengalami cedera di bagian pinggang akibat lemparan dan bantingan bantingan , engkel hingga mengalami pendarahan di kepala akibat terkana serangan senjata seperti golok, belati,trisula ataupun celurit

Dari penjelasan di atas peneliti menyimpulan bahwa , untuk kategori tanding dan seni ganda sangat sulit untuk bisa menghindari benturan benturan.Sangat berbeda sekali dengan seni tungal baku dan seni beregu yang di mana mereka hanya menampilkan gerakan gerakan yang sudsh di bakukan dengan indah.

Dengan melakukan Analisis Cedera Olahraga di Klub Olahraga Prestasi Pencak Silat Universitas Negeri Jakarta, peneliti berharap agar atlet maupun

(19)

pelatih di klub olahraga prestasi pencak silat Universitas Negeri Jakarta dapat bisa lebih memahai cedera yang terjadi dan dapat di minimalisir cedera dengan baik.

(20)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian

Tujuan peneliti dalam penelitian ini untuk mengetahui presentrasi cedera olahraga pada atlet klub olahraga prestasi pencak silat Universitas Negeri Jakarta

B. Tempat Dan Waktu Penelitian

Peneliti akan melakukan penelitian yang berlokasi di Klub Olahraga Prestasi Pencak Silat Universitas Negeri Jakarta yaitu pada bulan januari tanggal 17,19,21 Januari 2023

C. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif Kuantitatif. Metode penelitian kuantitatif yaitu metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/ statistik (Sugiyono,2016,h.

14).

Metode ini disebut metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik (Sugiyono, 2016, h. 13).

Peneliti menggunakan jenis penelitian kuantitatif karena dalam penelitian ini, hasil data yang didapatkan menggunakan angka. Hasil yang diperoleh

(21)

dari data hasil pertandingan pencak silat tunggal kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif yang dituangkan dalam bentuk persentase.

D. Populasi Dan Sample 1. Populasi

Populasi adalah kumpulan unit yang akan diteliti ciri-ciri (karakteristik) nya, dan apabila populasinya terlalu luas, maka peneliti harus mengambil sampel ( bagian dari populasi) itu untuk diteliti.

Menurut (Sugiyono, 2004, h. 55), Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Populasi pada penelitian ini adalah data hasil pertandingan Atlet Pencak Silat Kategori Jurus Tunggal Jakarta Utara, yang dilakukan dalam Kejuaraan Antar Perguruan Se-Jakarta Utara tahun 2022 yang berjumlah 7 orang terdiri dari 4 atlet putra dan 3 atlet putri.

2. Teknik Sampel

Sampel adalah bagian kecil dari populasi yang diambil sebagai objek pengamatan karena dianggap bisa mewakili populasi yang akan diteliti (Arikunto, 2013, h. 56). Pengambilan populasi untuk dijadikan sampel disebut dengan teknik sampling.

(22)

Dalam penelitian ini, teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah Total Sampling. Total sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama dengan populasi(Sugiyono, 2007). Alasan mengambil total sampling karena menurut Sugiyono (2007) jumlah populasi yang kurang dari 100 seluruh populasi dijadikan sampel penelitian semuanya

E. Teknik Pengumpulan Data

Data merupakan segala fakta atau keterangan tentang sesuatu yang dapat dijadikan bahan untuk menyusun suatu informasi. Sehingga perlu dilakukan teknik pengumpulan data. Teknik pengumpulan data adalah cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data (Maman Abdurrahman dan Sambas Ali Muhidin, 2011, h. 85).

F. Instrumen Penelitian

Sugiyono yang dikutip dari (Ismmunarti, zainuri, sugianto &

saputra 2020) mengemukakan instrumen penelitian adalah alat ukur yang digunakan secara sistematis untuk mengumpulkan data penelitian.

Instrumen penelitian didapatkan dari data sekunder. Data sekunder adalah data yang diambil melalui perantara atau pihak yang telah mengumpulkan data tersebut sebelumnya. Dengan kata lain peneliti tidak langsung mengambil data sendiri ke lapangan. Sumber data diambil dari data hasil pertandingan berupa blangko pertandingan.

G. Pengujian Validitas Dan Realibilitas

(23)

1. Vaiditas

Istilah validitas dengan valid adalah berbeda, kata validitas merupakan sebuah kata benda, sedangkan valid merupakan kata sifat. Jadi, kalau seseorang mengatakan bahwa “tes ini sudah validitas” jelas kalimat tersebut tidak tepat. Namun jika kalimat tersebut diganti dengan “Tes ini sudah baik karena sudah valid” atau “tes ini sudah baik karena memiliki validitas yang tinggi”

Sebuah data akan dikatakan vali apabila sesuai dengan keadaan senyatanya. Sebagai contoh, informasi seseorang yang berinisial A menyebutkan si A memiliki badan gemuk karena memiliki berat badan 80 kg dengan tinggi 65 cm. Data yang dimiliki si A ini akan valid bila memang sesuai dengan kenyataanya. Contoh lain, bahwa si C diberikan oleh seseorang sebagai seorang pencuri, informasi yang di dapat diperoleh dari kenyataan bahwa si C telah mengambil sebuah laptop, maka data yang didapat tentang C dinyatakan Valid dan cerita orang tersebut benar adanya.

Jika data yang dihasilkan dari instrument valid. Maka dapat disimpulkan bahwa instrument tersebut dinyatkan valid. Karena dapat menggambarkan data secara benar sesuai dengan kenyataan atau keadaan sesungguhnya.

2. Reliabilitas

Realibilitas diambil dari kata reliability dalam bahasa inggris, berasal dari kata reliable yang artinya dapat dipercaya. Seseorang dapat dipercaya bila orang tersebut selalu berkata ajeg, tidak berubah-ubah

(24)

pembicaraanya dari waktu ke waktu. Demikian dengan sebuah, tes tersebut dapat dikatakan dapat dipercaya jika memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berkali-kali. Sebuah tes dikatakan reliable apabila hasil–hasil tes tersebut menunjukan ketetapan.

Yang berlainan, mama setiap siswa akan tetap berada dalam urutan yang sama dalam kelompoknya, walaupun tampaknya hasil tes pada pengetesan kedua lebih baik, akan tetapi karena kenaikanya dialami oleh semua siswa. Maka tes yang digunakan dapat dikatakan memiliki reliabelitas yang tinggi. Kenaikan hasil tes barangkali disebabkan oleh adanya “pengalaman” yang diperoleh pada saat pengalam tes yang pertama. Jika dihubungkan dengan validitas, validitas adalah ketepatan sedangkan reliabelitas adalah ketetapan.

H. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif yaitu untuk untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.

Data diperoleh melalui data hasil pertandingan untuk mengetahui persentase jurus tangan kosong, golok, toya dan kemantapan/penghayatan/stamina. Data yang didapatkan kemudian dianalisis menggunakan metode statistik deskriptif. Statistik deskriptif

(25)

adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya, tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi (Sugiyono,2017).

1. Menghitung Presentase Jumlah Cedera ringan 2. Menghitung Presenase Jumlah Cedera Berat

3. Menghitung Presentase Jumlah Cedera Upper Body 4. Menghitung Presentase Jumlah Cedera Lower Body 5. Menghitung Presentase Jumlah Cedera Akut

6. Menghitung Presentase Jumlah Cedera Kronis Rumus Menghitung Presentase : p=f/N x 100%

Keterengan:

P: Angka Presentase

F: Jumlah frekuensi dari setiap jawaban yang telah menjadi pilihan responden

N: Jumlah frekuensi atau banyaknya individu Sumber : Sudijono (2008:4)

DAFTAR PUSTAKA

(26)

Alhogbi, B. G. (2017). Bela Diri Pencak Silat. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 21–25. Retrieved from

Amjad dan Silvia. (2016). TEORI DAN PRAKTEK PENCAK SILAT. Malang:

IKIP BUDI UTOMO MALANG

Damar Pamungkas, S. Pd.Or., M.Pd. & Bambang Kusnanto, S. P. (2021a). Buku Siswa

Bahr, R. and I. Holme (2003). "Risk factors for sports injuries—a methodological approach." British journal of sports medicine 37(5): 384

Meeuwisse, W. H. (1994). "Assessing causation in sport injury: a multifactorial model." Clinical Journal of Sport Medicine 4(3): 166.

Parkkari, J., U. M. Kujala, et al. (2001). "Is it Possible to Prevent Sports Injuries?:

Review of Controlled Clinical Trials and Recommendations for Future Work."

Sports Medicine 31(14): 985‐995

Referensi

Dokumen terkait