• Tidak ada hasil yang ditemukan

STAKE-OUT TITIK -TITIK RENCANA LENGKUNGAN LINGKARAN DARI TITIK TC/CT

N/A
N/A
Arhess

Academic year: 2023

Membagikan "STAKE-OUT TITIK -TITIK RENCANA LENGKUNGAN LINGKARAN DARI TITIK TC/CT"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

Diketahui kurva suatu lingkaran berjari-jari 1000 m dengan garis singgung I = 45º dan garis singgung II = 90º dan kurva tersebut dari barat daya ke timur. Diketahui kurva suatu lingkaran berjari-jari 1000 m dengan garis singgung I = 45º dan garis singgung II = 90º dan kurva tersebut dari barat daya ke timur. Dari titik absis X1,

Harus dilakukan dari dua arah yaitu titik TC dan CT, sehingga; titik-titik tersebut saling berdekatan sehingga terbentuk busur lingkaran. Metode busur sama panjang dilakukan dengan membagi panjang busur dengan panjang yang sama, sehingga titik bidang tersebut nantinya membentuk busur dan berakhir di titik TC atau CT. Pada saat membuat plot diperoleh busur dengan orientasi yang salah, sehingga titik-titik plot yang koordinatnya diperoleh harus ditransformasikan/dicerminkan.

Dengan plot tersebut diketahui bahwa titik TC dan CT berada tepat di awal dan akhir garis karena perhitungan ΔX yang diperoleh kurang dari 10m. Selain itu, titik akhir ditemukan tidak tepat karena terdapat akumulasi kesalahan yang merupakan kelemahan metode ini.

STAKE-OUT TITIK -TITIK RENCANA LENGKUNGAN LINGKARAN DARI TITIK TC/CT

- RENCANA BUSUR LINGKARAN DARI TITIK TC/CT. membuat pekerjaan menjadi lebih lengkap dan akurat. Jika hanya tersedia satu titik jangkar, ukur utara menggunakan pengukuran azimuth matahari atau menggunakan kompas. Pastikan jarak yang diukur adalah jarak horizontal (gunakan nivo box tool dan pastikan gelembung nivo berada di tengah).

Penggunaan metode poligon untuk menggambar kurva lingkaran dapat dilakukan dengan membagi sudut ∆𝑐 dengan n yang besarnya sama. Karena pada setiap titik dilakukan pengukuran di lapangan dengan data jarak dan sudut kanan/kiri. Bentuklah sudut sebesar 1,2𝜑 dari garis TC-PI searah jarum jam dengan jarak b. Pasang prisma di dekat titik 1. Arahkan ke orang yang memegang prisma di dekat titik 1 hingga tepat di titik 1, pin.

Sudutnya 180+𝜑 searah jarum jam dan jaraknya b. Arahkan orang yang memegang prisma ke dekat titik 2 hingga tepat di titik 2, yaitu baji. Dalam metode ini, tali busur yang menghubungkan titik TC dan CT dibagi menjadi n segmen yang sama panjang. Kemudian tiap ruas diukur jaraknya 𝑦𝑖 sehingga rangkaian titik tersebut membentuk busur lingkaran.

Jika hanya satu titik yang tersedia. ikat, ukur utara menggunakan pengukuran azimuth matahari atau menggunakan kompas.

Gambar 1. Desain lengkung lingkarang dengan metode perpanjangan tali busur
Gambar 1. Desain lengkung lingkarang dengan metode perpanjangan tali busur

GD4106-Survei Konstruksi

Disusun oleh

PROGRAM STUDI TEKNIK GEODESI DAN GEOMATIKA

FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

Soal

Jawaban

Hitung data perbandingan atau staking-out seluruh titik lengkung spiral-loop-spiral jika diketahui titik yang ada di lapangan adalah titik ST. Kemudian digunakan metode busur sama panjang, sehingga diperoleh data titik-titik penarikan sebagai berikut. Kemudian, letakkan titik-titik tersebut pada lingkaran (misalnya menggunakan metode busur yang panjangnya sama).

Menghitung benchmarking atau menyematkan data untuk semua titik kelengkungan spiral-lingkaran-spiral jika titik yang diketahui ada di lapangan adalah titik ST. Tentukan ketinggian stasiun PVI, PTV, ketinggian titik-titik pada busur setiap 10 m dan gambar busur sesuai skala. Pada metode ini dibuat sistem koordinat bantu yang menjadikan TC sebagai titik awal yang diperoleh dari perpotongan ekstensi TC-PI sebagai sumbu X (arah menuju PI sebagai arah X positif) dengan ekstensi TC-O sebagai sumbu X. Sumbu Y (arah menuju O sebagai arah positif Y) .

Cara primitif ini hanya dapat dilakukan dengan alat pengukur jarak (misalnya pita pengukur) dan alat untuk membuat sudut siku-siku (misalnya prisma sudut siku-siku). Kemudian regangkan terlebih dahulu pita pengukur dari TC ke PI dan tandai setiap titik pada permukaan sesuai dengan sumbu absis denah. Kedua, buatlah sudut siku-siku pada setiap absis yang diberi tanda tegak lurus terhadap ruas garis TC-PI, regangkan pita pengukur ke arah tersebut, dan tandai setiap ordinat yang sesuai.

Cara ini mendasarkan perhitungannya pada penarikan tali busur yang diperpanjang sebagai acuan arah utara penarikan tali busur berikutnya. Dalam perhitungan sebelum terjun ke lapangan dikatakan cara ini sangat mudah karena koordinat X dan Y ke titik 1 homogen, hanya saja hasilnya setiap titik mempunyai titik koordinat asal masing-masing, dengan kata lain akan banyak koordinat menjadi sistem yang berarti diperlukan banyak pergerakan alat. . Ciri lain dari metode ini adalah pembagian panjang tali busur menjadi segmen-segmen yang sama panjangnya (b).

Kemudian pertama-tama panjangkan pita pengukur dari TC ke PI dan tandai titik pada permukaan yang sesuai dengan absis titik 1. Kedua, buatlah sudut siku-siku pada absis yang ditandai (1') tegak lurus dengan ruas garis TC-PI. rentangkan pita pengukur ke arah tersebut dan letakkan pada jarak ordinat titik 1. Metode ini mendasarkan perhitungan pada pendekatan berbentuk busur dengan segmen tali busur yang panjangnya sama mengacu pada sistem poligon.

Dalam perhitungan sebelum terjun ke lapangan, cara ini dinilai sangat mudah karena seluruh jarak dan hampir semua sudut defleksi sama, namun konsekuensinya memerlukan banyak pergerakan alat. Sebenarnya cara ini dapat dilakukan dengan pendekatan sudut siku-siku atau sudut kiri, yang akan dijelaskan adalah pendekatan sudut terhadap O (bukan PI), sehingga arah TC ke O menjadi acuan utama yang pertama. Metode primitif ini hanya dapat dilakukan dengan menggunakan alat pengukur jarak (misalnya pita pengukur) dan alat pengukur sudut (misalnya teodolit).

Pada metode ini dibuat sistem koordinat bantu yang menjadikan TC sebagai titik asal yang dihasilkan dari perpotongan garis perpanjangan TC-CT sebagai sumbu X (arah ke CT sebagai arah X positif) dengan garis tegak lurus sebagai sumbu Y (arah ke O sebagai arah Y positif).

Tabel 1. Data Lengkungan Data Lengkungan
Tabel 1. Data Lengkungan Data Lengkungan

Gambar

Gambar 1. Desain lengkung lingkarang dengan metode perpanjangan tali busur
Gambar 2 Desain lengkung lingkarang dengan metode poligon
Gambar 3. Desain lengkung lingkaran metode offset tali busur
Tabel 2. Tinggi Titik-Titik di Lengkungan dengan Interval 10 meter
+7

Referensi

Dokumen terkait