• Tidak ada hasil yang ditemukan

STANDARISASI HADIS SAHIH MENURUT IBNAl-QAYYIMAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "STANDARISASI HADIS SAHIH MENURUT IBNAl-QAYYIMAL"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

STANDARISASI HADIS SAHIH

MENURUT IBNAl-QAYYIMAL- JAUZIYYAH

SKRIPSI

DiajukankepadaFakultasUshuluddinInstitutIlmu Al-Qur’an (Jakarta)UntukMemenuhiSebagianDariSyarat- syaratGunaMemperolehGelarSarjana Strata Satu(S.Ag)

Khodzikotul Fitriyah 10210398

JURUSAN TAFSIR HADIS FAKULTAS USHULUDDIN

INSTITUT ILMU AL-QUR’AN (JAKARTA) 2016

(2)

STANDARISASI HADIS SAHIH

MENURUT IBN AlQAYYIM AL- JAUZIYYAH

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur’an (Jakarta) Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat-syarat Guna

MemperolehGelar Sarjana Strata Satu (S.Ag)

Khodzikotul Fitriyah 10210398 Pembimbing

Dr.H. Ahmad Fudhaili, M.Ag.

JURUSAN TAFSIR HADIS FAKULTAS USHULUDDIN

INSTITUT ILMU AL-QUR’AN (JAKARTA) 2016

(3)

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi dengan judul “STANDARISASI HADIS SAHIH MENURUT IBN AL-QAYYIM AL-JAUZIYYAH” yang disusun oleh Khodziqotul Fitriyah Nomor Induk Mahasiswa: 10210398 telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan ke sidang munaqasyah.

Jakarta,4 September 2016 Pembimbing,

Dr. H. Ahmad Fudhaili, M. Ag.

(4)

ii

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi dengan judul “Standarisasi Hadis SahihMenurut Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyyah” oleh Khodziqotul Fitriyah dengan NIM 10210398 telah diujikan pada sidang Munaqasyah Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta pada tanggal 1 Agusutus 2016. Skripsi telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ushuluddin (S.Ag).

Jakarta, 1 Agustus2016 Dekan Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta

Dra. Hj. Maria Ulfa, M. A.

Sidang Munaqasyah

Ketua Sidang, Sekretaris Sidang

Dra. Hj. Maria Ulfa, M. A. Dra. Rukoyah Tamami

Penguji I, Penguji II,

Dr. M. Ulinnuha, Lc. M. A. Ali Mursyid, M. Ag.

Pembimbing,

Dr. H. Ahmad Fudhaili, M. Ag.

(5)

PERNYATAAN PENULIS

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Khodziqotul Fitriyah

NIM. : 10210398

Tempat/ Tgl Lahir : Pemalang, 12 februari, 1989

Menyatakan bahwa skripsidengan judul “Standarisasi Hadis Sahih Menurut Ibn al-Qayyim al- Jauziyyah” adalah benar- benar asli karya saya kecuali kutipan-kutipan yang sudah disebutkan. Kesalahan dan kekurangan di dalam karya ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.

Jakarta, 4 September 2016 Penulis,

Khodziqotul Fitriyah

(6)

iv MOTTO

BELAJARLAH KARENA TIDAK ADA SEORANG PUN YANG DILAHIRKAN DALAM KEADAAN BERILMU, DAN TIDAKLAH ORANG BERILMU TIDAKLAH SEPERTI ORANG YANG BODOH.

SESUNGGUHNYA SUATU KAUM YANG BESAR TETAPI TIDAK MEMILI ILMU, MAKA SEBENARNYA KAUM ITU ADALAH KECIL APABILA TERLUPUT DARINYA KEAGUNGAN

ILMU. DAN SESUNGGUHNYA KAUM YANG BESAR APABILA PERKUMPULAN MEREKA

SELALU DENGAN ILMU.

(7)

KATA PENGANTAR

Segala puja dan puji hanya milik-Mu. Dzat yang telah memberikan nikmat, terutama nikmat iman dan Islam.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada nabi pamungkas manusia sempurna sepanjang masa, Nabi Muhammad saw, dan keluarganya. Para sahabat, para tabiin, tabi’ tabiin, dan para ulama yang telah menjadi bagian jejaring pengetahuan kepada umat manusia hingga kini.

Alẖamdulillâh, berkat rahmat dan ‘inayah Allah swt.

penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penyelesaian skripsi ini tidak akan terwujudtanpa adanya keterlibatan berbagai pihak. Kepada beliau-beliau penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya sembari menengadahkan doa; semoga menjadi amal ibadah beliau semua dan dibalas oleh Allah swt.

Melalui upaya dan usaha yang melelahkan, akhirnya dengan limpahan karunia-Nya lah, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-baiknya. Berbagai kesulitan, cobaan dan hambatan yang penulis rasakan dalam penyusunan skripsi ini, alẖamdulillâh dapat teratasi berkat tuntunan serta bimbingan-Nya dan bantuan dari berbagai pihak.

Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ungkapan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:

(8)

vi

1. Ibu Prof. Dr. Hj. Huzaemah T. Yanggo, MA selaku Rektor Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jakarta.

2. Bapak Dra. Hj. Maria Ulfah, MA., selaku Dekan Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jakarta, beserta para pembantu Dekan.

3. Dr.H.Ahmad fudhaili, MAg., selaku pembimbing yang selalu meluangkan waktunya untuk penulis melalui mengaji dan diskusi. Rumahnya yang selalu terbuka bagi penulis untuk dijadikan tempat konsultasi dan bimbingannya selama penulis menjadi mahasiswa sampai proses penulisan skripsi ini selesai. Juga melalui beliau, tumbuh ide-ide baru, pemikiran baru, sehingga penulis ada gairah semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Seluruh dosen Fakultas Ushuluddin yang telah memberikan dedikasinya dalam mendidik penulis, memberikan ilmu, pengalaman, serta pengarahan kepada penulis selama masa perkuliahan.

5. Terunruntuk staf fakultas ibu kokoy dan ibu suci yang selalu memberi semangat untuk menyelesaikan skripsi, trimakasih banyak atas apa yang ibu berikan semoga Allah membalas dengan pahala yang banyak untuk ibu.

6. Kepada kedua orang tua penulis “H.M.Aali mas’ud dan ibu Hj. Nur hasanah” yang selalu meberikan semangat dan

(9)

do.a serta materi untuk penulis bisa menyelesaikan perkualiahan, semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan keberkahan untuk beliau.

7. Kepada suami tercinta, “Abdur Rauf Jundullah dan putri kami Miska Nuri Fathimah Jundullah” yang selalu memberikan kasih sayang dan dukungan serta do’a untuk penulis semoga ia akan selalu sabar dan semoga apa yang ia cita2 kan akan segera tercapai

8. Teruntuk keluargaku kakak-kakakku, dan kakak ipar, Mas H.Alwi, Mbak Hj.Zakiyatul Fakhiroh, Mas Ahmad Wildan, Mbak Qona’ah, Mas AbdullahHadzik, Mbak Fitrotunnisa, Mas Ahmad Bandan, Mbak Miftahul Jannahterima kasih atas semua dukunganya, semoga selalu sehat dan diberkahi oleh Allah SWT.

9. Spesial teruntuk adik tersayang “Nurul Badriyah” semoga Allah melancarkan segala tugas yang di terima oleh adik tersayang dan selalu sehat serta semangat dalam segala hal.

10. Teruntuk bapak mertua dan ibu mertua Bapak Maksum S.

Pd.I dan Ibu Sururiyati dan adik-adik ipar ku Adibah Ulumuha Nafi’ah, Ahmad Khoriul Huda, dan Abidah Qory Uyunana, semoga senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan.

(10)

viii

11. Teruntuk sahabat-sahabat ku Cing Ebi, Atikah, Mba Lilik, Mba Reny, Khoeriyah (Oenk),dan masih banyak lagi semoga kalian sukses dan berkah serta berguna bagi masyarakat,dan negara.

12. Teruntuk Almamater ku “INSTITUT ILMU Al-QUR’AN JAKARTA” terimakasih telah menjadikan ku seseorang yang berilmu semoga ilmu yang ku bawa bermanfaat bagi masyarakat luas.

13. Teruntuk teman-teman angkatan 2010 terimakasih telah berbagi ilmy,pengalaman dan canda tawa suka duka yang tidak akan bisa ku lupakan begitu saja.

Terakhir, penulis berharap semoga skripsi ini sedikit banyak dapat bermanfaat bagi pembaca dan menjadi awal untuk memotivasi penulis untuk terus berkarya. Dan semoga Allah swt. selalu member limpahan berkah dan membalas semua kebaikan pihak-pihak yang turut serta membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini.

Âmîn yâ Rabb al-Âlamîn.

Jakarta , 4 September 2016

(11)

DAFTAR ISI

PERSETUJUAN PEMBIMBING ...

PENGESAHAN ...

PERNYATAAN PENULIS ...

MOTTO ...

KATA PENGANTAR ...

PEDOMAN TRANSLITERASI...

DAFTAR ISI...

ABSTRAK ...

BAB I

PENDAHULUAN ...

A. Latar Belakang Masalah ...

B. Identifikasi Masalah ………..

C. Pembatasan Masalah………..

D. Perumusan Masalah ...

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...

F. Kajian Pustaka ...

G. Metodologi Penelitian ...

H. Sistematika Pembahasan ...

i ii iii iv v ix xii xv

1 1 7 8 8 8 9 10 13

(12)

xiii BAB II

TEORI STANDARISASI HADIS SAHIH ...

A. Definisi Hadis Sahih ...

B. Kriteria Hadis Sahih...

C. Macam-Macam Hadis Sahih ...

D. Kehujjahan Hadis Sahih...

BAB III

MENGENAL IBNU AL-QAYYIM AL-

JAUZIYYAH………..

A. Biografi Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah ...

B. Riwayat pendidikan Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah…

C. Kondisi Politik Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah...

D. Kondisi Keilmuan Masyarakat...

E. Konsep Pemikiran, Metode penulisan, Murid, dan Karya Tulis Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah...

BAB IV

ANALISIS STANDARISASI HADIS SHAHIH MENURUT IBNU AL-QAYYIM AL-JAUZIYYAH . A. Hadis Shahih Menurut Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah B. Standari Hadis Sahih Perspektif Ibnu al-Qayyim al-

Jauziyyah………

17 17 19 42 43

45 45 47 55 58 61

75 75 80

(13)

C. Metode Pemahaman Ibn Qayyim Al-Jauziyyah dalamMenyelesai-kan Hadis (Ketentuan Kesahihan Hadis Prespektif Ibn Qayyim Al-Jauziyyah)

………

BAB V

PENUTUP ...

A. Kesimpulan ...

B. Saran ...

DAFTAR PUSTAKA ...

92

135 135 136 139

(14)

ix

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN

Transliterasi arab-Latin yang digunakan dalam skripsi ini berpedoman kepada buku “Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi” yang diterbitkan oleh Institut Ilmu Al-Qir`an (IIQ) Jakarta (Edisi Revisi), Cetakan Kedua, Mei Tahun 2011.

1. Konsonan

أ : a ط : th

ب : b ظ : zh

ت : t ع : ‘

ث : ts غ : gh

ج : j ف : f

ح : h ق : q

خ : kh ك : k

د : d ل : l

ذ : dz م : m

ر : r ن : n

ز : z و : w

س : s ه : h

ش : sy ء : `

(15)

ص : sh ي : y

ض : dh

2. Vokal

Vokal tunggal vokal panjang vokal rangkap

Fathah : a أ : â ْي... : ai

Kasrah : i ي : î ْو... : au

Dhammah : u و : û

3. Kata Sandang

a. Kata sandang yang diikuti alif lam (لا) qamariyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya. Contoh:

ةﺮﻘﺒﻟا : Al-Baqarah ﺔﻨﯾﺪﻤﻟا : Al-Madinah

b. Kata sandang yang diikuti oleh alif lam (لا) syamsiyah ditransliterasikan sesuai dengan aturan yang digariskan di depan dan sesuai dengan bunyinya. Contoh:

ﻞﺟّﺮﻟا : Ar-Rajulu

(16)

xi ةﺪّﯿّﺴﻟا : As-Sayyidah ﺲﻤّﺸﻟا : Asy-Syamsu c. Syaddah (Tasydid)

Syaddah (tasydid) dalam sistem aksara Arab digunakan lambang ( ّ◌), sedangkan untuk alih aksara ini dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan cara menggandakan huruf yang bertanda tasydid. Aturan ini berlaku secara umum, baik tasydidyang berada di tengah kata, di akhir kata ataupun yang terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyah. Contoh:

ِّ ﺎِﺑ ﺎﱠﻨَﻣَا : Âmanna billâhi ءﺎَﮭَﻔﱡﺴﻟا َﻦَﻣآ: Âman as-Suhafâ`u َﻦْﯾِﺬّﻟا ﱠنإ : Inna al-Ladzîna

(17)

ABSTRAK

Khodzikotul Fitriyah, “Standarisasi Hadis Sahih Menurut Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyyah”

Dasar penelitian ini yang menjadi pusat perhatian bagi penulis yakni masalah yang timbul dari tolak ukur penelitian matan (ma’ayir naqd al-matn) yang telah dikemukakan oleh ulama tidak seragam. Semisal, Muhammad al-Ghazali menyebutkan bahwa kritik matan hadis dalam pengertian operasional dalil adalah wilayah kajian ahli fiqh. Ia seolah ingin menegaskan bahwa para ahli hadis cukup bekerja dalam kajian seputar sanad hadis. Hadis bisa saja sahih secara sanad, akan tetapi setelah matan hadisnya diteliti secara mendalam oleh para fuqaha’ bisa saja berubah menjadi dhaif. Penjelasan lain, al-Khathib al-Baghdadi menjelaskan bahwa matan hadis yang maqbul (diterima sebagai hujjah) haruslah: tidak bertentangan dengan akal yang sehat; dengan hukum al-Qur’an yang telah muhkam; dengan hadis mutawatir; dengan amalan yang telah menjadi kesepakatan ulamasalaf; dengan dalil yang sudah pasti; dan dengan hadisahad yang kualitas kesahihannya lebih kuat. Berbeda dari pendapat Shalahuddin al-Adlabi, ia mengemukakan bahwa pokok-pokok tolok ukur penelitian kesahihan matan ada empat macam, yakni: tidak bertentangan dengan petunjuk al-Qur’an; dengan hadis yang kualitasnya lebih kuat; dengan akal yang sehat, indera, dan sejarah; dan susunan pernyataannya menunjukkan ciri-ciri sabda kenabian.

Tolok ukur tersebut masih bersifat global dan masih dimungkinkan untuk dikembangkan. Berdasarkan keterangan tersebut, penulis meneliti standarisasi hadis shahih menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah.

Adapun mengenai perumusan masalah yang akan penulis ajukan mengenai pembahasan tersebut yakni; pertama, Bagaimana standarisasi hadis sahih menurut Ibn Qayyim al- Jauziyyah? Kedua, Bagaimana metode memahami yang

(18)

xvi

dipakai dalam penyelesaian hadis?. Untuk menjawab dari pertanyaan tersebut penulis menggunakan pendekatan historik- biografik. Sedangkan metode yang penulis gunakan yakni dengan mengunakan metodedeskriptif-analisis.

Hasil temuan dari penelitian ini adalah, pertama, kriteria hadis shahih menurut ulama-ulama hadis aimmah sittah lebih mendahulukan kesahihan sanadnya terlebih dahulu dari pada matanya. sedangkan standarisasi hadis sahih menurut ibn Al- Qayyim Al-Jauziyyah masih di bawah standarisasi kesahihan hadis menurut ulam-ulama hadis. kedua, pemahaman Ibn Qayyim dalam hadis ta’aruḏ, ia menyelesaikannya dengan menggunakan dua metode yakni dengan menggunakan metode Nash-Mansukh dan dengan menggunakan metodeTarjih, tanpa menggunakan metode al-Jam’u karena Ibnu Qayyim memandang bahwa setiap hadis sahih pasti mempunyai beberapa kondisi tertentu yang menyebabkan hadis itu muncul, oleh karena itu menggabungkan dua hadis tidaklah dirasa menyelesaikan permasalahan.

(19)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pengembangan studi terhadaphadis Nabi jauh lebih komplek dan berat daripada studi al-Qur’an. Studi atas al- Qur’an dapat begitu terbuka luas tanpa harus ada kekhawatiran dari pihak penafsir akan berkurangnya otoritas al-Qur’an sebagai pedoman hidup di manapun dan sampai kapanpun.

Lain halnya dengan hadis, para ulama ahli hadis lebih cenderung mengendalikan diri dan mengutamakan sikap reverse (segan) dalam melakukan kajian ulang dan pengembangan pemahaman atau pemikiran terhadap hadis, karena hadis adalah segala ucapan, perbuatan, persetujuan (taqriri) atau apapun yang disandarkan kepada Nabi.1 Jadi ada semacam pengkultusan Nabi, karena itulah sikap ketidakkritisan ulama kepada hadis bisa jadi bukan karena sisi ilmiah, namun karena sosok Nabi sebagai pemimpin agama, sebagai utusan Tuhan yang memiliki sifat ma’shum, maka pengkultusan ini tidak terlekkan dan ini adalah bagian dari kondisi psikologis belaka, bukan pada sisi ilmiahnya. Di lain

1Nuruddin ‘Itr, Manhajun Naqd fi ‘Ulum al-Hadits(Beirut: Dar al-

(20)

2

pihak, dinamika masyarakat dewasa ini begitu cepat menghendaki adanya pengkajian ulang terhadap hadis.

Sumber hukum Islam kedua setelah al-Qur’an adalah hadis. hadis merupakan segala perkataan dan perilaku yng dilakukan oleh nabi Muhammad SAW. Hendaklah umatnya meniru atau melaksanakan sunnah nabi tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Berbicara mengenai hadis, hadis juga memiliki beberapa tingkatan-tingkatan, seperti : hadis sahih, hadis hasan, hadis dho’if, hadis maudhu’.Masing-masing ulama hadis mempunyai kriteria dalam menentukan kesahihan hadis seperti al-bukhari dan muslim:

1. Kesahihan hadis menurut al-Bukhari beliau lebih menekankan kedhabitan dan tsiqatnya seorang perawi hadis atau dengan kata lain lebih menekankan pada kritik para perawi.

2. Kesahihan hadis menurut Muslim beliau juga lebih menekankan kedhabitan para perawi, menyaring hadis- hadis yang diriwayatkan, membandingkan periwayat itu satu sama lain.

Dalam kajian hadis pun terdapat problematika dan perdebatan, khususnya perdebatan seputar kajian kritik hadis hingga sekarang masih memunculkan polemik di berbagai

(21)

3 kalangan. Kritik hadis bukan hanya menjadi “concern”

kalangan ahli hadis, atau bahkan kalangan sarjana Muslim saja.

Sejumlah sarjana Barat pun memiliki perhatian cukup besar dalam studi ini.2

Secara umum, kritik hadis terbagi menjadi dua macam;

sanad dan matan. Kajian tentang kritik sanad berkisar pada transmisi periwayatan yang bertumpu pada kredibilitas para informan hadis (periwayat). Sementara dalam kajian matan dititikberatkan pada aspek kandungan hadis (isi/matan).

Keduanya memiliki urgensitas yang tinggi dan berkelindan satu dengan lainnya. Secara umum, kritik matan dilakukan setelah sebuah hadis telah dianggap shahih secara sanad, karena jika sudah dianggap tidak sahih secara sanad, sebuah hadis tidak akan bernilai dan tidak bermanfaat untuk diteliti

2 Sejumlah sarjana Barat atau yang biasa disebut orientalis telah banyak melakukan studi mendalam terhadap kajian hadis. Sebut saja orientalis masa silam garda terdepan seperti Ignaz Goldziher, Joseph Schacht, atau yang kontemporer seperti Gautier Juynboll, Harald Motzki, dan lain-lain. Secara umum, para orientalis mengkritik kajian kritik matan hadis yang diabaikan oleh para muhaddis. Bagi orientalis, sarjana muslim yang concern di bidang kritik hadis hanya berkutat pada wilayah kajian sanad. Kritik orientalis ini bagi Al-Daminȋ didasarkan pada sebuah fakta atas kelangkaan kitab khusus yang secara komprehensif membahas tentang kritik matan. Lihat dalam Musfir ‘Azmullâh al-Daminȋ, Maqâyȋs Naqd

(22)

4

kandungan matannya.3 Sejumlah pakar menyebutkan bahwa karya pertama yang membahas secara menyeluruh tentang teori kajian kritik matan hadis adalahal-Manâr al-Munif fi al-Sahih wa al-da’if, buah karya dari Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah (W.751 H).4

Terdapat tiga problem mendasar dalam kajian hadis, yaitu; otentisitas, pemaknaan, dan aplikasi. Ketiga problem tersebut pada titik tertentu menjadi tugas sarjana-sarjana Islam dari berbagai disiplin ilmu. Pertama, otentisitas, adalah tugas para ahli hadis untuk menyaring hadis-hadis sahih dari hadis-

3 Kritik sanad adalah sebuah pengantar atau media untuk menuju kritik matan. Lihat dalam ‘Abd Raẖman Khalâf,Naqd Matn Baina Sina’âh al-Muẖaddithȋn wa al-Mustashriqȋn. (Riyâḏ: Maktabah Ibn Rûsyd, 1989) h.

19. Sebuah kaidah masyhur di kalangan muẖaddȋthȋn adalah; tidak semua hadis yang sanadnyaṣaẖȋẖ matannyasaẖȋẖ. Sejumlah muhaddis seperti Ibn Salaẖ beberapa kali mengomentari hadis yang secara sanad saẖȋẖ namun matannya tidak. Lihat dalam Ibn Ṣalâẖ, Muqaddimah. h. 113.

4 Masrukhin Muhsin beranggapan bahwa kritik matan hadis sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri dan menjadi bagian dari salah satu cabang ilmu hadis telah muncul pada abad kedua hijriyah. Ia juga menjadikan al- Shâfi’ȋ sebagai tokoh pertama yang membukukan kajian kritik matan dalam kitabnya al-Umm, al-Risâlah, dan Ikhtilâf al-Hâdȋth. Lihat dalam Masrukhin Muhsin, Kritik Matan Hadis; Studi Perbandingan antara Manhaj Muẖadditsȋn Mutaqaddimȋn dan Muta’akhkhirȋn (Magelang:

PKBM Ngudi Ilmu, 2013) h. 5-6. Hemat penulis kitab-kitab tersebut belum dapat menjadi bukti akan keberadaan kajian kritik matan sebagai disiplin ilmu. Dan bagi penulis Ibn Qayyim al-Jawziyyah lah tokoh yang pertama kali menulis secara khomprehensif tentang kritik matan sebagai sebuah disiplin ilmu dengan karyanya berjudul al-Manâr al-Munȋf fi al-Saẖiẖ wa al-Ḏa’ȋf. Bandingkan dengan Najm ‘Abd Raẖmân Khalâf, Naqd Matn Baina Sina’âh al-Muẖaddithȋn wa al-Mustashriqȋn (Riyâḏ: Maktabah Ibn Rûsyd, 1989), h. 16.

(23)

5 hadis dhaif, agar dapat diketahui tolok ukur standarisasi hadis sahih. Kerja utama mereka adalah melakukan kritik hadis baik dari sisi sanad maupun matan hadis.Kedua, pemaknaan, adalah tugas usûliyyin, karena mereka adalah para pakar yang memiliki konsentrasi dalam hal melakukanistinbath al-ahkâm.

Ketiga, aplikasi yang merupakan lahan garapan para fuqaha untuk membumikan hadis dengan mengaplikasikannya ke dalam realitas.

Melihat langkah awal para ulama dalam menetapkan ke- shahih-an dan kelemahan suatu hadis, adalah menentukan prinsip-prinsip dasar suatu hadis sebagai cara untuk melakukan elaborasi terhadap keberadaan hadis. Langkah ini memungkinkan terjadinya perbedaan nuansa antara ulama yang satu dengan ulama yang lain. Dalam beberapa hal, nuansa perbedaan tersebut juga terimbas dalam menetapkan status hadis. Dari kalangan ahli hadis, ahli fiqh, failasuf, sufi dan sejarawan, memiliki pandangan tersendiri tentang shahih atau tidaknya suatu hadis.5 Dari ketiga problem mendasar di atas yang menjadi pusat perhatian bagi penulis yakni standarisasi tolok ukur sebuah hadis.

5 M. Abdurrahman, Pergeseran Pemikiran Hadis: Ijtihad al-Hakim

(24)

6

Penjelasan lain, al-Khathib al-Baghdadi menjelaskan bahwa matan hadis yang maqbul (diterima sebagai hujjah) haruslah: 1) tidak bertentangan dengan akal yang sehat; 2) tidak bertentangan dengan hukum al-Qur’an yang telah muhkam; 3) tidak bertentangan dengan hadis mutawatir; 4) tidak bertentangan dengan amalan yang telah menjadi kesepakatan ulama masa lalu (ulama salaf); 5) tidak bertentangan dengan dalil yang sudah pasti; dan 6) tidak bertentangan dengan hadis ahad yang kualitas kesahihannya lebih kuat.6Berbeda dari pendapat Shalahuddin al-Adlabi, ia mengemukakan bahwa pokok-pokok tolok ukur penelitian kesahihan matan ada empat macam, yakni: 1) tidak bertentangan dengan petunjuk al-Qur’an; 2) tidak bertentangan dengan hadis yang kualitasnya lebih kuat; 3) tidak bertentangan dengan akal yang sehat, indera, dan sejarah; dan 4) susunan pernyataannya menunjukkan ciri-ciri sabda kenabian.7 Tolok ukur tersebut masih bersifat global dan masih dimungkinkan untuk dikembangkan.

Bermula dari perdebatan sejumlah pakar dalam memahami hadis Nabi di atas, penulis hendak melakukan

6 Al-Khathib al-Baghdadi, al-Kifayah fi ‘Ilm al-Riwayah (Mesir:

Mathba’ah al-Sa’adah, 1972), h. 206-207.

7 Shalahuddin bin Ahmad al-Adlabi, Manhaj Naqd al-Matn (Beirut:

Dar al-Afaq al-Jadidah, 1983), cet. 1, h. 238.

(25)

7 sebuah penelitian mengenai standarisasi hadis shahih menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah. Ibn Qayyim al-Jauziyah adalah pengikut dan tokoh mazhab Hanbali sebagaimana gurunya Ibn Taimiyah. Sejatinya aliran Hanabilah masuk dalam kategori mutakallimin yang dalam menyikapi hadis lebih memberatkan pada kritik matan hadis secara formal, namun Ibn Qayyim menyimpang dalam hal ini dengan lebih memberatkan pada subtansi, bukan formal. Maka ia bisa dimasukkan dalam kalangan fuqaha, yang memahami hadis dengan pendekatan fiqh. Dalam mencari pemahaman hadis dalam masalah teologis, ia cenderung memaknai secara tekstual. Bagi masalah lain, ada penggunaan pendapat salaf al-shalih dan analisa zhahir hadis, yaitu yang berkenaan dengan sanad dan matan hadis.8

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah penulis paparkan diatas, maka penulis dapat mengidentifikasi beberapa poin masalah sebagai pembahasan, diantaranya:

1. Siapa Ibn Qayyim al-Jauziyyah itu ?

2. Bagaimana pemikiran Ibn Qayyim al-Jauziyyah ?

8 Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, Naqd al-Manqul wa al-Muhakkil Mumayyiz Bain al-Mardud wa al-Maqbul (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi,

(26)

8

3. Bagaimana metodologi IbnQayyim al-Jauziyyah untuk mengetahui hadis sahih ?

4. Bagaimana tolok ukur kesahihan hadis menurut IbnQayyim al-Jauziyyah?

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas maka penelitian ini dibatasi dengan beberapa poin sebagai berikut:

1. Bagaimana cara Ibn Qayyim al-Jauziyyah menyelesaikan hadits a’arud?

D. Perumusan Masalah

1. Bagaimana standarisasi hadis sahih menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah?

2. Bagaimana metode memahami yang dipakai dalam penyelesaian hadis?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Mengetahui standarisasi hadis sahih menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah.

2. Dapat mengetahui beberapa pandangan Ibn Qayyim al- Jauziyyah dalam kajian hadis

Adanya penelitian penulis dalam meneliti tentang pandangan Ibn Qayyim al-Jauziyah diharapkan dapat

(27)

9 memberikan sumbangsih dalam memperkaya pengembangan kajian hadis dan juga dapat menjadikan pengetahuan bagi para pembaca dari penelitian ini. Secara khusus dapat memberikan gambaran terhadap standarisasi yang digunakan oleh Ibn Qayyim al-Jauziyah dalam menilai matan hadis dan juga memberi pemahaman tentang pandangan Ibn Qayyim al- Jauziyah.

F. Kajian Pustaka

Dari penelusuran yang penulis lakukan, terdapat beberapa karya-karya terdahulu yang relevan dengan penelitian ini. Di antara karya tersebut adalah: pertama, skripisiAmir Marzuki,

“Penafsiran Qalb Menurut Ibn Qasyyim” yang mana tulisan ini meneliti tentang pemikiran, penafsiran Ibn Qayyim tentang qalb dalam tafsir al-Qayyim dan juga kontribusi Ibn Qayyim tentang ayat-ayat qalb pada era modern.9Kedua, skripsi Muhammad Taqiyuddin, “Qasm dalam al-Qur’an: Studi Komparasi Pemikiran Ibn Qayyim dan Aisyah Bintu Syati’

terhadap Ayat-ayat Sumpah”,pada tulisan ini peneliti membahas tentang pemikiran Ibn Qayyim tentangQasm dalam al-Qur’an10 dan juga titik tekan perbedaan penafsiran

9 Ibn Qayyim al-Jauziyah, at-Tafsir al-Qayyim,h.378

(28)

10

IbnQayyim dan Bint Syati’ dalam ayat-ayat Qasm dan skripsi abdul aziz” Studi Kritik Matan Perspektif IbnQayyim Al- Jauziyah dalam Kitab Al-Manar Al-Munif fi Al-Sahih wa Al- Daif”.11

Berdasarkan hal tersebut yang perlu penulis tekankan bahwa tulisan yang membahas mengenai pemikiran Ibn Qayyim masih berada pada kawasan tafsir, akan tetapi skripsi Abdul aziz lebih kepada penelitian kritik matan pada kitab Al- Manar Al-Munif Fi Al-Sahih wa Al-Daif12 jadi yang penulis lakukan sama dalam bidang hadis akan tetapi penelitian yang dilakukan penulis adalah untuk mengetahui pemikiran Ibn Qayyim yang berada dikawasan hadis hususnya membahas standarisasi hadist sahih menurut ibn qayyim Al-jauziyyah.

G. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian yang penulis lakukan dikatagorikan sebagai penelitian pustaka (library research),13 karena yang menjadi pijakan utama dalam penelitian ini adalah data- data pustaka yang berupa kitab, yakni yang membahas

11 Issa J.Boullata.”Tafsir al-Qur’an Modern”,h.11

12Ibn Qayyim al-jauziyyah Al-Manar Al-Munif Fi Al-sahih wa Al- daif,h.

13 Winarno Surakhmad, PengantarPenelitian Ilmiah(Bandung:

Tarsito,1989), h. 251.

(29)

11 mengenai kajian hadis dan beberapa literatur yang berkaitan dengan studi kritik hadis.

2. Sumber Data

Berkaitan dengan penelitian yang dibicarakan oleh penulis mengenai penelitian yang telah dilakukan, maka penelitian ini dikatagorikan sebagai penelitian pustaka, sebuah penelitian yang menggunakan cara pengumpulan data dan informasi mengenai tema pembahasan dan beberapa literatur yang masih terkait dengannya, baik itu berupa buku, jurnal, dokumen- dokumen, dan lain-lain sebagai sumber data selain itu juga penlis menggunakan buku pedoman penulisan skripsi,tesis, dan disertasi institute ilmu Alqur’an jakarta dalam mengumpulkan data penulis menggunakan berbagai sumber yang terbagi menjadi dua bagian:

a. Sumber data primer, yaitu data yang disusun oleh Ibn Qayyim yang membahas mengenai kajian hadis diantaranya:al-Manâr al-Munîf fî Sahîh wa Daif, Şurutul Aimmah Al-Sittah, Tahzib Sunan Ibn Dawûd, Idahul Ilal wa Musykilatuhu, Zâd al-Ma’âd fî Hâdi Khair al-Ibâd.

(30)

12

b. Sumber data sekunder, yaitu data pada reverensi- reverensi lain yang berkaitan dengan tema pokok pembahasan yang dimaksud. Seperti kitab Manhaj Naqdul Matan karya Salâẖ al-Dîn al-Idlibî, dan lain sebagainya.

3. Teknik Pengumpulan Data

Langkah pertama yang dilakukan dalam pengumpulan data pada penelitian ini, adalah mengumpulkan berbagai sumber data, baik itu yang menyangkut sumber data primer atau sekunder, langkah selanjutnya setelah data tersebut terkumpul, data difilter yang sesuai dengan point-point atau sub-sub pembahasan.

4. Analisis Data

Setelah data terkumpul, maka penelitian menggunakan dua metode, yakni, deskriptif-analisis.Metode deskriptif adalah metode penelitian yang digunakan untuk menemukan pengetahuan yang seluas-luasnya terhadap objek penelitian pada suatu masa tertentu14 dalam penelitian ini digunakan untuk menggambarkan, menuliskan obyek kajian.Dalam hal ini adalah latar belakang kehidupan, kesejarahan pemikiran IbnQayyim

14 Hidayat syah.2010.Pengantar Umum Metodologi Penelitian Pendidikan Pendekatan Verivikatif.Pekanbaru : Suska Pres

(31)

13 al-Jauziyah. Sedangkan metode analisis, berupaya untuk menganalisa, mengkritisi data yang ada, sehingga yang pada ahirnya mendapatkan hasil yang dicari.

5. Pendekatan

Adapun mengenai pendekatan yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara pendekatan Historik-Biografik, yakni pendekatan yang berusaha memberikan pengertian atau informasi tentang subyek dan berusaha menetapkan dan menjelaskan dengan teliti mengenai subyek yang diteliti, 15 dan dalam hal ini yang dikaji adalah pemikiran Ibn Qayyim al-Jauziyah, tidak kalah pentingnya pendekatan tersebut digunakan untuk mengetahui pendekatan yang digunakan untuk meneliti latar belakang pengarang dari segi setting sosial budaya yang melingkupi Ibn Qayyim al-Jauziyah dimana hal ini menurut peneliti mempengaruhi dalam mengetahui standarisai hadis sahih tersebut.

H. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan merupakan rangkaian pembahasan yang terdapat dalam skripsi yang akan disusun penulis, dimana antara satu bab dengan bab lainnya saling

15 Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung:

(32)

14

berkaitan sebagai satu kesatuan yang utuh. Sistematika ini merupakan deskripsi sepintas yang mencerminkan urutan bahasan dari setiap bab. Agar penulisan ini dapat dilakukan secara runtut dan terarah, maka penulisan karya ini dibagi menjadi lima bab yang disusun berdasarkan sistematika berikut ini:

Bab I berisi pendahuluan yang meliputi latarbelakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tinjauan dan manfaat, kajian pustaka, metodelogi penelitian dan sistematika pembasan.

Bab II berisi tentang standari hadis sahih, yang meliputi:

definisi hadis sahih, sejarah awal kemunculan kritik hadis, sebab-sebab munculnya kritik matan hadis, kriteria hadis sahih, dan macam-macam hadis sahih dan kehujjahan haddis sahih.

Bab III pada bab ini terbagi menjadi dua sub bab, yang pertama, membahas tentang Riwayat hidup Ibn Qayim al- Jauziyyah yang meliputi biografi Ibn Qayyim al-Jauziyah, riwayat pendidikan Ibn Qayyim al-Jauziyah, kondisi politik, serta kondisi keilmuan masyarakat, dan Konsep Pemikiran, Metode Penulisan, Murid dan Karya Tulis Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah.

Bab IV membahas tentang anasisis terhadap standarisasi hadis sahih menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah yang terdiri dari

(33)

15 tiga sub bab, pertama hadisShahihmenurut Ibn Qayyim al- Jauziyyah. KeduastandarisasikesahihanhadisperspektifIbn al- Qayyim al-Jauziyyah. Ketiga Metode Pemahaman Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam Menyelesaikan Hadis (Ketentuan Kesahihan Hadis sahih Prespektif Ibn Qayyim al-Jauziyyah).

Bab V merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan penelitian dan saran.

(34)

135 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan dari perumusan masalah dan tujuan penelitian, penulis dapat menyimpulkan beberapa keterangan pembahasan pada bab-bab yang penulis teliti, diantaranya:

1. kriteria hadis sahih menurut ulama-ulama hadis aimmah sittahlebih mendahulukan kesahihan sanadnya terlebih dahulu dari pada matanya. sedangkan standarisasi hadis sahih menurut ibn Al-Qayyim Al- Jauziyyah masih di bawah standarisasi kesahihan hadis menurut ulam-ulama hadis

2. Pemahaman Ibnu Qayyim dalam hadis ta’aruḏ,ia menyelesaikannya dengan menggunakan dua metode yakni dengan menggunakan metode Nash-Mansukh dan dengan menggunakan metode Tarjih, tanpa menggunakan metode al-Jam’u karena Ibnu Qayyim memandang bahwa setiap hadis sahih pasti mempunyai beberapa kondisi tertentu yang menyebabkan hadis itu muncul, oleh karena itu menggabungkan dua hadis tidaklah dirasa menyelesaikan permasalahan.

(35)

136

B. Saran

Perlu kita ketahui Al-Qur’an dan Hadis merupakan kedua komponen dasar syari’at hukum Islam, dimana keduanya telah menjelaskan berbagai macam pengetahuan agar supaya manusia berfikir dan menjalankan berbagai macam pengetahuan yang ada didalam keduanya.

Diharapkan bagai kaum cendikiawan Muslim turut menyumbangkan berbagai macam inovasi pada kedua kajian tersebut, sehingga al-Qur’an dan Hadis masih tetap eksis dalam setiap waktu dan zaman, khususnya bagi kaum cendikiawan muslim yang bergerak dalam bidang hadis, setidaknya mereka mulai memikirkan akan keberlangsungan pemikiran ataupun membuat inovasi baru untuk pemahaman terhadapnya, khususya dalam pemahaman matan hadis karena bisa dikatakan pembelajaran akan matan hadis masih sedikit dibandingkan pembelajaran sanad hadis.

Untuk terahir kalinya dalam rangka menyusun tulisan ini penulis sangat menyadari bahwa terdapat kekurangan didalamnya, oleh karena itu kata-kata terahir yang ingin penulis katakan ditulisan ini yakni meminta maaf atas segalanya dan inilah yang penulis dapat persembahkan untuk pembaca dan mudah-nudahan dengan tenaga dan

(36)

137 fikiran yang tercurahkan dari penulis dapat memberikan sumbangsih terhadap kajian hadis di zaman ini.

(37)

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Hasyim.Kritik Matan Hadis: Versi Muhaddisin dan Fuqaha‘, Yogyakarta: Teras, 2004.

Abd Raẖman Khalâf, Naqd Matn Baina Sina’âh al- Muẖaddithȋn wa al-Mustashriqȋn. (Riyâḏ: Maktabah Ibn Rûsyd, 1989)

Abu ‘ Abd Allah Muhammad bin ‘Abd Allah al-Hakim al- Naysaburi, Kitab Ma’rifah, hlm. 119 dan Abu ‘Amr

‘Utsman ibn ‘Abd al-Rahman ibn al- Shalah,‘Ulum, Abu ‘Amr ‘Utsmanibn ‘Abd al-RahmanIbn al-Shalah, ‘Ulum

al-Hadis, al-Madinah al-Munawwarah: al-Maktabah al- Islamiyah, 1972.

Abu Muhammad ‘Ali ibn Sa’id ibn hamz, al-Ikhkam Fi Ushul al-Ahkam, juz 1 Kairo: al-‘Ashimah,tth.

Abu Zakariya Yahya ibn syaraf al-Nawawi,al- Taqrib, juz 1 Ahamd ibn ‘Ali ibn Hajar al-‘Asqalani, Nuzhah al-Nazhar

syarh Nukhbah al-Fikar, (Semarang: Maktabah al- Munawwar, tth

Al-A’zâmȋ, Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muẖadditsȋn (Jeddah:

Maktabah al-Kauthâr, 1990)

Al-A’zamî, Musthafa.Manhaj al-Naqd 'Inda al-Muẖadditsîn Nasyatuhu wa Târikhuhu, Jeddah: Maktabah al-Kautsar, 1990.

Al-Asqalânî,Ibnu Hajar. Fatẖ al-Bârî, bâb al-Hijâmah wa al- Qai’ wa al-Sâim, Hadis no.1082. Juz.6.

(38)

140

Al-Baghdâdî, Khatib.Târîkh al-Bahgdâdî, juz7, t.p.: t.p, t.t.th.

Al-Hafidh Abi Bakr Muhammad bin Musa al-Hazi,Thuruq al- Aimmah al-Sittah, (Beirut, Lebanon: Dar al-Kutb al-

‘Ilmiyah

Al-Hakim al-Naysaburi, Ma’rifah ‘Ulum al-Hadis,Kairo:

Maktabah al-Mutanabbih, tth.

Ali, K. Sejarah Islam Tarikh Pramodern, terj. A. Mas’adi, Jakarta: Raja Drafindo, 2003.

Al-Idlibî, Salâẖ al-Dîn.Manhaj Naqd al-Matn ‘Inda ‘Ulama al- Hâdîts al-Nabawî, Beirut; Dâr Afaq al-Jadidah, 198 Al-Jauziyah, Ibn Qayyim, Naqdul Manqul wa al-Muhakkil

Mumayyiz

_____________________. al-Manâr al-Munîf fî Saẖîẖ wa Ḏaif, Jeddah: Dâr Alim al-Fawaid.

_____________________. al-Manâr al-Munîf, Jeddah: Dâr Alim al-Fawaid, t.th.

_____________________.al-Rûẖ,Beirut: Dâr al-Fikr, 2003.

_____________________. al-Tîb al-Nabawî, Beirut: Dâr al- Fikr, t.th.

_____________________. At-Tafsir Al-Qayyim, Bairut: Dar al-kutub al-Ilmiyah 2005.

_____________________. At-Tibyan fi Aqsam al-qur’an, lebanon: Dar al-fikr.

(39)

141 _____________________.Rauḏat al-Muẖibbîn,Beirut: Dâr al-

Fikr, t.th.

_____________________. Tahdzîb Sunan Ibnu Dawûd, t.t.p :t.p,t.th.

_____________________.Zâd al-Ma’âd, Beirut: Muasasah al- Risalah, 1994.

Al-Jawâbî, Muẖammad Ṯahir.Juhud al-Muẖaditssîn Fî Naqd Matan al-Hâdîts al-Nabawî al-Syârif, Tunis: Muasasah Abdul Karim, t.th.

Al-Khathib al-Baghdadi.al-Kifayah fi ‘Ilm al-Riwayah (Mesir:

Mathba’ah al-Sa’adah, 1972)

____________________. ‘Ajaj. Ushul al-Hadis, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998.

Al-Majid, ‘Abd al-Majid Maẖmûd ‘Abd. al-Ittijahat al- Fiqhiyyah ‘Inda Asẖâb al-Hâdîts fî Qarn al-Tsâlits al- Hijrî, Kairo: Maktabah al-Khanji, 1989

Al-Mishrî, Ibn al-Manẕûr al-Ifriqî.Lisân al-‘Arâb, bab ‘Adala, Beirut: Dâr Sadir, tt.

Al-Nasâ’i, Imâm.Sunan Kubra li al-Nasâ’i.

Al-Salafî, Muẖammad Luqmân.Ihtimam al-Muẖadditsîn bi Naqd al-Hâdîts Sanad wa Matn wa Dahdz Maza’im al- Mustasyriqîn wa Atbaihim, Riyâdh: Dâr al-Da’i, 2000.

Al-Suyûṯî, Imâm. Târîkh Khulafâ’, terj. Samson Rahman, Jakarta: Pustaka Kautsar, 2005.

(40)

142

Al-Tirmidzî, Muẖammad bin ‘Îsâ. Sunan al-Tirmidzîjuz 5, hadis No. 1436, h. 483. CD Maktabah al-Syamilah versi II atau Isdar Tsânî.

Al-Umrî, Muẖammad Qâsim.Dirâsah fî al-Manhâj al-Naqd

‘Inda al-Muẖadditsîn, Jordan: Dâr al-Nafâis, tt.

Baṯâl, Ibn.Syarah Ibnu Baṯâl, juz 7,t.p.: t.p, t.t.th.

Boullata, Issa J, “Tafsir al-Qur’an Modern.

Studiatasmetodebint-syati”

Dawûd, Abû. Sunan Abî Dawûd juz 8,t.p.: t.p, t.t.th.

Ismail, Syuhdi. Metodologi Penelitian Hadis Nabi, Jakarta:

Bulan Bintang, 1992.

Khalâf, Najm ‘Abd Raẖmân. Naqd al-Matn Bayn Shina’ah al- Muẖadditsîn wa Mata’in al-Mustasyriqîn, Riyâdh;

Maktabah Rûsyd, tt.

M. Abdurrahman, Pergeseran Pemikiran Hadis: Ijtihad al- Hakim dalam Menentukan Status Hadis (Jakarta:

Paramadina, 2000)

M.syuhudi Ismail, KaidahKesahihanSanadHadis, jakarta:

BulanBintang, 1995.

Masrukhin Muhsin, Kritik Matan Hadis; Studi Perbandingan antara Manhaj Muhaddithin Mutaqaddimin dan Mutaakhirin, Magelang; Ngudi Ilmu, 2013.

Muhammad Abu Zahra,Ushul al-Fiqh, Beirut: Dar al-Fikr, tth.

Muhammad Ajjaj al-khathib,Ushul al-Hadis

(41)

143 Muẖammad al-Ghazâlȋ , al-Sunnah al-Nabawiyyah bayna ahl

al-Hadȋts wa ahl al-Fiqh, (Kairo: Dâr al-Shurûq, tt) Muhammad al-Shabbagh, al-Hadis al-Nabaw,http.: al-Maktab

al-Islami, 1972.

Muhammad al-Thahhan,Taysir, h. 100-101.

Muẖammad bin Ismâ’îl bin Mughirah al-Bukhârî, Saẖîẖ al- Bukhârî,bâb Bad’i al-Wahyu.

Muhammad ibnMukarramIbnManzur, Lisan al-Arab, juz XIII mesir : Dar al-Misriyyah, tth.

Muhammad Jamal al-Din al-Qasimi, Qawa’id al-Tahdst min FununMusthalah al-Hadis, (Beirut: Dar al-Kutub al-

‘Ilmiyah, 1979 M

Muẖammad Ṭahir al-Jawabȋ, Juhûd al-Muẖaddithȋn fi Naqd Mutûn al-Hâdȋts (Tunisia: Muassasah ‘Abd al-Karȋm, tt) Musfir ‘Azmullâh al-Daminȋ, Maqâyȋs Naqd Mutûn al-Sunnah

(Riyâḏ: al-Su‛ûdiyyah, 1984)

Nuruddin ‘Itr,Manhajun Naqd fi ‘Ulum al-Hadits (Beirut: Dar al-Fikr, 1989).

Pedoman penulisan skripsi, tesis, dan d disertasi institut ilmu al-qur’an (IIQ) Jakarta, tahun 2011.cet.II

Ridho, Muhammad.IslamTafsir dan Dinamika Sosial,Yogyakarta: Teras, 2010.

Shubhi al-Shalih, ‘Ulum al-HadiswaMushalahuh, Beirut: Dar al-‘Ilmi li al-Malayin,1988.

(42)

144

Surakhmad, Winarno. PengantarPenelitian Ilmiah, Bandung:

Tarsito, 1989.

Suryadi, Metode Kontemporer Memahami Hadis Nabi, Yogyakarta: Teras, 2008.

Syamsuddin,Sahiron.‘Hermeneutika al-Qur’an dan Hadis, Umar, Nasaruddin.Argumen Kesetaraan Jender Prespektif al-

Qur’an, Jakarta: Paramadina, 1999.

Zeid B. Smeer, UlumuHadispengantarstudiHadisPraktis, Malang:Uin Malang Pers.

Referensi

Dokumen terkait