Dasar-Dasar Pemasaran
Program Keahlian Pemasaran Volume 2
MEDIA MENGAJAR
Untuk SMK/MAK Kelas X
Sumber: shutterstock.com
KESEHATAN, KESELAMATAN, DAN KEAMANAN DALAM BEKERJA
BAB 1
A. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Sumber: Pixabay.com
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Keselamatan, dan Kesehatan Kerja (K3) adalah segala kegiatan untuk
menjamin serta melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan
kerja dan penyakit akibat kerja.
Keselamatan (Safety)
Keselamatan kerja adalah upaya-upaya yang ditujukan untuk melindungi pekerja;
menjaga keselamatan orang lain; melindungi peralatan, tempat kerja, dan bahan produksi; menjaga kelestarian lingkungan hidup; serta memperlancar proses produksi.
Kesehatan (Healthy)
Kesehatan kerja diartikan sebagai upaya-upaya yang ditujukan untuk memperoleh kesehatan yang setinggi-tingginya dengan cara mencegah dan memberantas
penyakit yang diidap oleh pekerja, mencegah kelelahan kerja, dan menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
Definisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja
B. Kecelakaan Akibat Kerja
Sumber: Pixabay.com
Berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 609 Tahun 2012
tentang Pedoman Penyelesaian Kasus Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja,
kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi berkaitan dengan hubungan kerja,
termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja.
Tiga jenis kecelakaan kerja
Begitu juga kecelakaan kerja yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui.
Begitu juga kecelakaan kerja yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui.
Kecelakaan pada saat melakukan pekerjaan
Kecelakaan sebagai akibat langsung dari pekerjaan
Kecelakaan di perjalanan (saat pergi ke tempat kerja dan saat pulang ke rumah)
1
2
3
Sumber: shutterstock.com
1. Klasifikasi Kecelakaan Kerja
Otot tegang merupakan salah satu cedera atau sakit akibat kecelakaan kerja.
Penting bagi perusahaan untuk mengetahui
klasifikasi kecelakaan kerja yang berpotensi terjadi. Tujuannya memudahkan
perusahaan dalam
mengidentifikasi proses alami suatu kejadian kecelakaan kerja.
Bagian-Bagian Tubuh yang Terkena Cedera dan Sakit Kepala:
mata Leher Batang tubuh:
bahu, dan punggung
Alat gerak atas:
lengan tangan, pergelangan tangan, tangan
selain jari, dan jari tangan.
Alat gerak bawah: lutut,
pergelangan kaki, kaki selain jari kaki,
dan jari kaki.
Sistem
tubuh Banyak bagian
a. Cedera akibat kecelakaan kerja
Cedera adalah kondisi patah, retak, tercabik, dan sebagainya yang diakibatkan oleh kecelakaan.
b. Klasifikasi cedera akibat kecelakaan kerja
Kecelakaan kerja yang mengakibatkan seseroang meninggal dunia.
Cedera fatal
Kecelakaan kerja yang mengakibatkan cacat permanen atau kehilangan hari kerja selama satu hari atau lebih.
Cedera yang menyebabkan hilangnya waktu kerja
Kecelakaan kerja yang mengakibatkan karyawan tidak bisa masuk kerja.
Cedera yang menyebabkan hilangnya hari kerja
Kecelakaan kerja yang mengakibatkan karyawan mengalami perubahan bagian, jadwal, atau pola kerja.
Tidak mampu bekerja atau bekerja dengan terbatas
Kecelakaan kerja yang mengakibatkan seseorang harus dirawat inap di rumah sakit atau rawat jalan dengan pengawasan dokter.
Cedera dirawat di rumah sakit
Cedera ringan akibat kecelakaan kerja yang ditangani menggunakan alat pertolongan pertama pada kecelakaan setempat.
Cedera ringan
Sumber: canva.com
2. Faktor-Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja
Seperti yang telah disebutkan
sebelumnya, 80- 85% kecelakaan kerja disebabkan oleh faktor
manusia.
Faktor-faktor penyebab kecelakaan kerja, yaitu:
• faktor manusia,
• faktor alat, dan
• faktor lingkungan kerja.
a. Faktor manusia
Beberapa kategori kecelakaan kerja yang disebabkan oleh faktor manusia, yaitu:
• pendidikan,
• kondisi psikologis,
• pengalaman kerja, dan
• kondisi fisik.
Perbaikan dan pemeliharaan peralatan kerja secara rutin akan meminimalisasi risiko
kecelakaan kerja dari faktor alat.
Sumber: shutterstock.com
b. Faktor alat
Kondisi mesin dan peralatan kerja dapat menjadi sumber terjadinya kecelakaan kerja.
Peralatan-peralatan tua yang fungsinya sudah tidak
optimal lagi tentu dapat mengakibatkan kecelakaan kerja.
c. Faktor lingkungan kerja
Kondisi lingkungan kerja setiap instansi atau
perusahaan tentu saja tidak sama. Lingkungan kerja yang tidak aman dapat menjadi penyebab kecelakaan kerja.
Jenis lantai terlalu licin
Kurangnya pencahayaan
Suhu udara yang tidak dikondisikan pengaturannya Ventilasi udara yang kurang memadai
Tata letak tempat kerja dan penyimpanan barang-barang Kotoran dan limbah dibuang tidak pada tempatnya
Adanya peralatan rusak yang cenderung diabaikan
Contoh lingkungan kerja yang dapat memicu kecelakaan kerja.
Sumber: canva.com
3. Kerugian Akibat Kecelakaan Kerja Kecelakaan kerja dapat menyebabkan berbagai macam kerugian, baik dari
segi fisik maupun materi.
Berikut adalah jenis-jenis kerugian fisik yang disebabkan kecelakaan kerja, yaitu:
• kerusakan,
• kekacauan organisasi,
• keluhan dan kesedihan,
• kelainan dan cacat fisik, dan
• kematian.
Sementara itu, kerugian materi berkaitan dengan biaya-biaya yang harus ditanggung perusahaan akibat kecelakaan kerja.
Biaya kerugian langsung
Berkaitan dengan biaya-biaya yang harus dibayar langsung saat terjadi kecelakaan kerja.
Biaya perawatan pekerja, pembelian obat-obatan, perawatan rumah sakit,
penggunaan angkutan, serta kompensasi cacat (asuransi).
Biaya kerugian tidak langsung
Berkaitan dengan biaya yang harus ditanggung akibat
terhambat atau terlambatnya penyelesaian pekerjaan akibat kecelakaan.
Biaya perbaikan gedung, peralatan, dan mesin.
4. Upaya Perlindungan terhadap Kecelakaan Kerja a. Preventif atau pencegahan
Preventif atau pencegahan adalah tindakan
mengendalikan/menghambat sumber-sumber bahaya yang ada di tempat kerja sehingga dapat meminimalisasi potensi kecelakaan kerja.
Penggunaan alat pelindung diri merupakan salah satu tindakan pencegahan kecelakaan kerja.
Sumber: shutterstock.com
b. Kuratif atau pengobatan/penyembuhan
Kuratif atau pengobatan adalah tindakan pengobatan atau penyembuhan ketika terjadi kecelakaan kerja.
Langkah-Langkah Pengobatan atau Penyembuhan
Merespons kecelakaan kerja dengan tanggap
Melakukan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan
(P3K)
Merujuk korban ke rumah sakit
Melakukan pengobatan dan perawatan sesuai ketentuan
dokter
c. Rehabilitasi atau pemulihan
Tindakan rehabilitasi atau pemulihan bertujuan mengembalikan bekas penderita ke dalam masyarakat sehingga dapat berfungsi lagi sebagai anggota masyarakat yang berguna untuk dirinya sendiri sesuai dengan kemampuannya.
Tindakan Rehabilitasi Akibat Kecelakaan
Kerja
Fisioterapi
Konsultasi psikologis atau rehabilitasi mental
Rehabilitasi kerja
C. Penyakit Akibat Kerja
Sumber: canva.com
Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan,
proses, dan lingkungan kerja. Penyakit tersebut dapat mengganggu kesehatan jasmani dan rohani. Penyakit akibat kerja merupakan penyakit artifisial atau penyakit
yang disebabkan oleh perbuatan manusia.
1. Faktor Penyebab Penyakit Akibat Kerja a. Golongan fisik
Penyakit Akibat Kerja termasuk Golongan Fisik
Suara yang bisa
menyebabkan pekak atau tuli
Radiasi Suhu yang terlalu tinggi/terlalu
rendah
Tekanan yang
tinggi Pencahayaan lampu yang
kurang terang/terlalu
silau
b. Golongan kimiawi
Penyebab penyakit akibat kerja yang termasuk golongan kimiawi adalah sebagai berikut.
Debu yang dapat menyebabkan penyakit pneumokoniosis Debu yang dapat menyebabkan penyakit pneumokoniosis
Uap yang dapat menyebabkan keracunan gas Uap yang dapat menyebabkan keracunan gas
Larutan yang dapat menyebabkan penyakit kulit dermatitis Larutan yang dapat menyebabkan penyakit kulit dermatitis
Awan atau kabut Awan atau kabut
c. Golongan biologis
Penyebab penyakit akibat kerja yang termasuk golongan
biologis adalah bakteri, virus (menyebabkan rabies dan hepatitis), parasit
(menyebabkan infeksi cacing tambang/cacing parasit), dan jamur (menyebabkan tetanus).
Penggunaan disinfektan dengan benar dapat mencegah penyebab penyakit akibat kerja dari
golongan biologis.
Sumber: shutterstock.com
d. Golongan fisiologis atau ergonomis
Sumber: canva.com
Penyebab penyakit akibat kerja yang termasuk golongan fisiologis adalah kesalahan-kesalahan
konstruksi mesin, desain tempat kerja, beban kerja, cara kerja, sikap badan, serta aktivitas lain yang dapat menimbulkan kelelahan fisik,
bahkan perubahan fisik tubuh pekerja.
e. Golongan psikologis
Beban kerja yang berlebihan dapat menyebabkan stres pada pekerja.
Sumber: shutterstock.com
Penyebab penyakit akibat kerja yang termasuk golongan psikologis adalah stres psikologis dan depresi.
2. Macam-Macam Penyakit Akibat Kerja
Disebabkan oleh pencemaran debu silika bebas yang terhirup masuk ke paru-paru dan kemudian mengendap.
a. Penyakit silikosis
Disebabkan oleh debu atau serat asbes yang mencemari udara.
b. Penyakit asbestosis
Disebabkan oleh pencemaran debu kapas atau serat kapas di udara yang kemudian terisap ke dalam paru-paru.
c. Penyakit bisinosis
Penyakit antrakosis adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh debu batu bara.
d. Penyakit antrakosis
Penyakit beriliosis adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh debu logam berilium, baik yang berupa logam murni, oksida, sulfat, maupun dalam bentuk halogenida.
e. Penyakit beriliosis
Contoh penyakit kulit akibat kerja yang berpotensi timbul adalah dermatitis kontak. Sebanyak 90% kasus dermatitis kontak berhubungan dengan
pekerjaan.
f. Penyakit kulit
Banyak kasus gangguan pendengaran disebabkan oleh pajanan kebisingan yang lama saat bekerja. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk memperhatikan kesehatan dan keselamatan pekerjanya agar tidak terjadi kasus gangguan, bahkan kehilangan pendengaran.
g. Penyakit pendengaran
D. Mengidentifikasi Bahaya di Lingkungan Kerja
Sumber: canva.com
Setiap pekerjaan atau karyawan harus dapat beradaptasi dengan lingkungan tempat kerja.
Mereka juga harus mengetahui dan memahami betul risiko dan bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh pekerjaan mereka.
Dengan demikian, karyawan dapat
melaksanakan tugas dalam memenuhi syarat dan tanpa mengalami ketegangan-ketegangan.
1. Bahaya Potensial
Bahaya potensial adalah hal-hal potensial yang dapat mengakibatkan cedera, penyakit, kerusakan, dan kerugian pada tenaga kerja atau perusahaan.
Bahaya fisik adalah segala hal yang secara langsung membuat cedera. Hal-hal yang menyebabkan bahaya fisik antara lain sebagai berikut.
• Gerakan bagian peralatan.
• Bising, getaran, pencahayaan, debu, dan tekanan udara.
• Penanganan manual dan pengangkatan.
a. Bahaya fisik
Berbagai bahan kimia yang digunakan memiliki sifat berbahaya karena sifat reaktivitas kimia, mudah terbakar, toksisitas, dan sebagainya.
b. Bahaya bahan kimia
Bahaya ergonomik terjadi apabila desain peralatan buruk atau tata letak peralatan tidak tepat sehingga dapat menyebabkan cedera.
c. Bahaya ergonomik
Beban psikis dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan stres. Bahaya ini terjadi apabila para pekerja merasa tertekan (stres).
d. Bahaya psikologis
Bahaya radiasi dapat ditimbulkan oleh berbagai peralatan, di antaranya:
• radiasi microwave,
• sinar gama dari zat radioaktif,
• cahaya laser berdaya tinggi,
• pemanas inframerah berdaya tinggi, dan
• radiasi ultraviolet dari matahari.
e. Bahaya radiasi
Bahaya radiasi dapat menyebabkan sakit akibat penularan infeksi dari kuman.
Contohnya:
• debu beracun karena limbah industri yang menyebar di udara,
• kondisi ruangan yang sempit dan tertutup yang sangat potensial memicu penyakit influenza, dan
• kontaminasi virus atau kuman.
f. Bahaya biologis
2. Bahaya Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) adalah limbah yang sifat dan konsentrasinya mengandung zat beracun dan berbahaya. Limbah B3 dapat merusak lingkungan, mengganggu kesehatan, serta mengancam kelagsungan hidup manusia dan organisme lain, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Sumber: Pixabay.com
Sumber: Pixabay.com
Suatu limbah digolongkan sebagai bahan berbahaya dan beracun jika memiliki sifat-sifat tertentu, seperti mudah meledak atau eksplosif, mudah teroksidasi, mudah menyala, beracun, berbahaya, dapat merusak benda lain (korosif), dan berisifat iritasi.
E. Menerapkan Prosedur K3 dalam Bekerja
Sumber: canva.com
Lingkungan kerja yang sehat, selamat, dan aman dapat diwujudkan dengan cara menghindari faktor-faktor bahaya penyebab kecelakaan kerja dan melaksanakan pekerjaan
sesuai dengan prosedur operasional standar yang telah ditetapkan.
1. Rambu-Rambu Keselamatan Kerja
Sumber: canva.com
Rambu-rambu keselamatan kerja adalah peralatan yang bermanfaat untuk membantu melindungi kesehatan serta keselamatan karyawan dan pengunjung
yang sedang berada di tempat kerja.
Warna Rambu
Keselamatan Warna Kontras
(Simbol dan Tulisan) Makna
MERAH PUTIH Larangan
Pemadam api
KUNING HITAM Perhatian/waspada
Potensi berisiko bahaya
HIJAU PUTIH Zona aman
Pertolongan pertama
BIRU PUTIH Wajib ditaati
PUTIH HITAM Informasi umum
Pedoman warna rambu keselamatan dan maknanya
Pedoman bentuk geometri rambu keselamatan dan makananya Bentuk Geometri
Rambu Keselamatan Maksud
(Kelompok Rambu) Makna
1. Tanda perintah Sebuah lingkaran yang
mengindikasikan perintah yang harus ditaati.
2. Tanda waspada Sebuah segitiga yang
megindikasikan perhatian atau bahaya.
3. Tanda informasi Sebuah bujur sangkar yang
menyampaikan sebuah informasi.
2. Alat Pelindung Diri (APD)
Alat pelindung diri dibagi menjadi dua kelompok, yaitu alat pelindung keselamatan industri dan alat pelindung kesehatan industri.
Sumber: pixabay.com
Alat Pelindung Diri (APD) adalah kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan risiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja dan orang di
sekitarnya.
Jenis-Jenis Perlengkapan APD Alat
pelindung kepala
Pelindung mata
Pelindung
pendengaran Pelindung pernapasan
(respirator)
Pelindung tangan
atau sarung tangan
Pelindung kaki
F. Pertolongan Pertama pada Kecelakaan
Sumber: canva.com
Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) adalah upaya pemberian pertolongan serta
perawatan sementara kepada korban kecelakaan sebelum mendapat penanganan
lebih lanjut oleh dokter atau paramedis.
Pertolongan pertama dilakukan untuk mencegah keadaan bertambah buruk sebelum korban mendapatkan perawatan dari tenaga medis.
Menyelamatkan nyawa korban
Meringankan penderitaan korban
Mencegah cedera atau penyakit menjadi lebih parah
Mempertahankan daya tahan korban Tujuan
tindakan pertolongan pertama
1. Pingsan
Sumber: dokumen penerbit
Pingsan adalah hilangnya kesadaran sementara karena berkurangnya aliran darah ke otak. Pada kasus kecelakaan kerja, pingsan merupakan reaksi terhadap rasa nyeri atau sakit yang
berlebihan, kelelahan, atau tekanan emosional.
Ilustrasi pertolongan pada pasien pingsan dengan membuat posisi kaki menjadi lebih tinggi.
2. Syok
Sumber: canva.com
Setelah mengalami kecelakaan, sering kali korban mengalami syok. Syok adalah kondisi
tekanan darah turun secara drastis sehingga terjadi gangguan aliran darah dalam tubuh.
Syok dapat memburuk dengan cepat sehingga harus segera dilakukan penanganan.
3. Pendarahan
Sumber: dokumen penerbut
Pendarahan adalah kondisi ketika seseorang
kehilangan darah. Pendarahan dapat disebabkan oleh banyak hal, mulai dari luka tersayat pisau hingga robek karena kecelakaan.
Pada luka pendarahan, langkah awal yang harus dilakukan adalah menutup luka dengan kain kasa kompres yang steril, lalu tekan kuat-kuat sampai pendarahan berhenti.
4. Patah tulang
Sumber: canva.com
Patah tulang atau fraktur adalah kondisi
ketika tulang patah yang menyebabkan posisi atau bentuknya berubah. Pada kasus
kecelakaan kerja, patah tulang umumnya disebabkan oleh benturan yang kuat, jatuh, atau tertimpa benda keras.
5. Luka bakar
Sumber: shutterstock.com
Luka bakar stadium IV Luka bakar adalah kerusakan lapisan
kulit yang disebabkan oleh panas api, air panas, minyak panas, atau uap panas. Penyebab luka bakar pada kecelakaan kerja biasanya berupa paparan cairan panas, terbakar api, dan paparan zat atau cairan kimia yang yang mudah terbakar.
6. Tersengat arus listrik
Sumber: canva.com
Tersengat arus listrik atau tersetrum adalah salah satu jenis kecelakaan berbahaya yang membutuhkan pertolongan darurat. Tubuh manusia adalah penghantar listrik (konduktor) yang baik. Saat manusia tersetrum, arus listrik bisa mengalir ke seluruh tubuh.
7. Kebakaran
Sumber: shutterstock.com
Kebakaran yang terjadi di sebuah gudang pakaian.
Kebakaran yang terjadi di tempat kerja atau perusahaan merupakan risiko yang harus diminimalisasi
karena dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi perusahaan.
Untuk mencegahnya, perusahaan perlu menerapkan manajemen keselamatan kebakaran yang tepat.
G. Standar Penampilan Pribadi
Penampilan diri (grooming) merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap orang tentu saja ingin selalu tampil serasi dan menarik agar disukai oleh orang lain. Hal ini disebabkan penampilan diri yang menarik akan memberikan kesan yang positif bagi orang lain.
Sumber: Pixabay.com
1. Memelihara Personal Hygiene
Sumber: Pixabay.com
Kebersihan diri (personal hygiene) adalah suatu aktivitas untuk menjaga serta merawat tubuh agar tubuh selalu sehat dan bersih serta mampu
meningkatkan derajat kesehatan pada tubuh sehingga masalah kesehatan serta dampak negatif dari fisik
maupun sosial dapat teratasi dengan baik.
Faktor yang Memengaruhi Personal Hygiene
• Faktor predisposisi
• Faktor pendukung
• Faktor pendorong atau penguat
Jenis-Jenis Personal Hygiene
• Kebersihan kuku, kaki, dan tangan
• Kebersihan rambut
• Kebersihan gigi dan mulut
• Kebersihan mata
• Kebersihan telinga
• Kebersihan hidung
• Kebersihan kulit atau perawatan kulit wajah
2. Memelihara Presentasi atau Penampilan Pribadi
Sumber: canva.com
Untuk bisa mencapai penampilan diri
(grooming) yang menarik, seseorang harus mampu mengenali dirinya sendiri sehingga pakaian yang digunakan adalah pakaian yang membuat seseorang nyaman dan percaya diri.
H. Prosedur Tanggap Darurat di Lingkungan Kerja
Sumber: canva.com
Keadaan darurat adalah kejadian atau insiden tidak terduga yang memerlukan penangangan segera agar tidak membahayakan manusia, mengganggu kelancaran operasi, dan
mengakibatkan kerusakan fisik atau lingkungan.
Sumber: canva.com
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana, tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan
penyelamatan serta evakuasi korban dan harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar,
perlindungan, pengurusan pengungsi,
penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.
1. Perlengkapan Tanggap Darurat
Untuk mendukung tindakan tanggap darurat, ada beberapa peralatan yang harus diperhatikan perusahaan, yaitu sebagai berikut.
Alat pemadam api ringan (APAR) dan alarm kebakaran
Jalur evakuasi dan titik kumpul
Kotak Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K)
2. Prosedur Keadaan Darurat
Sumber: canva.com
Prosedur keadaan darurat adalah tata cara dalam mengantisipasi keadaan darurat. Salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam prosedur keadaan darurat adalah sistem
peringatan dini (early warning system). Sistem peringatan dini di perusahaan dapat berupa sirene atau alat pengeras suara yang akan berbunyi ketika mendeteksi tanda bahaya.