1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Industri perbankan merupakan salah satu lembaga keuangan yang berperan penting dalam perekonomian sebuah negara. Bank adalah lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan kemudian menyalurkan kembali kepada masyarakat serta memberikan jasa-jasa lainnya (Kasmir 2009). Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi menyebabkan persaingan bisnispun semakin ketat, salah satunya di bidang perbankan. Perekonomian global serta masih terus berlanjutnya pembangunan infrastruktur di Sumatera Selatan khususnya Palembang. Potensi tersebut membuat bank umum tertarik untuk menawarkan produk-produk yang menarik dan lebih bervariasi, ditambah masuknya bank asing dengan keunggulan modal, Sumber Daya Manusia (SDM) dan infrastruktur layanan yang lebih baik juga ikut berpartisipasi dalam peta persaingan (Bonin et al. 2005).
Bank Pembangunan Daerah (BPD) di Indonesia tahun 2016 berjumlah 27 bank yang terdapat di hampir setiap provinsi bersaing dengan bank umum konvensional lainnya. BPD Sumatera Selatan dan Bangka Belitung yang sering disebut dengan Bank Sumsel Babel (BSB) merupakan bank daerah yang memiliki wilayah operasional di dua provinsi yaitu provinsi Sumatera Selatan dan Kepulauan Bangka Belitung. Tabel 1 menunjukan peningkatan jumlah bank yang menyebabkan persaingan dalam dunia perbankan semakin ketat sehingga diperlukan strategi guna meningkatkan kinerja agar dapat bertahan dan menjadi leader di daerahnya. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Widyastuti et al. (2013).
Tabel 1 Perkembangan jumlah bank dan kantor bank konvensional di Indonesia tahun 2011-2016
Kelompok Bank
Tahun
2011 2012 2013 2014 2015 2016
Bank Persero Jumlah Bank Jumlah Kantor
4 14 145
4 15 632
4 16 637
4 17 430
4 17 809
4 18 051 BUSN Devisa
Jumlah Bank Jumlah Kantor
36 6 980
36 8 942
36 9 230
38 9 154
39 8 825
42 9 609 BUSN Non-Devisa
Jumlah Bank Jumlah Kantor
30 1 654
30 2 066
30 2 221
29 2 234
27 2 087
23 633 BPD
Jumlah Bank Jumlah Kantor
26 2 478
26 2 802
26 3 254
26 3 524
26 3 781
27 4 036 Bank Campuran
Jumlah Bank Jumlah Kantor
14 273
14 384
14 390
12 285
12 359
12 356 Bank Asing
Jumlah Bank Jumlah Kantor
10 116
10 119
10 115
10 112
10 102
10 92 Jumlah Bank
Jumlah Kantor
120 25 646
120 29 945
120 31 847
119 32 739
118 32 963
118 32 777 Sumber: Data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) (2016).
2
Tabel 1 menunjukkan jumlah bank umum konvensional pada tahun 2016 tidak mengalami banyak perubahan dibandingkan dengan periode tahun 2011.
Namun, jumlah kantor bank persero maupun BPD di tahun 2016 bertambah dengan persentase kenaikan jumlah bank sebesar 27.6% dan jumlah kantor bank sebesar 62.9% yang menyebabkan daya saing dalam dunia perbankan ke depan akan semakin ketat sehingga diperlukan peningkatan kinerja agar bank tersebut dapat bertahan.
BPD dibentuk bertujuan membantu melaksanakan pembangunan yang merata ke seluruh daerah di Indonesia. Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi setiap daerah telah memiliki BPD, BSB adalah bank yang sebagian atau seluruh sahamnya dimiliki oleh Pemda Provinsi yang didirikan berdasarkan UU Nomor 13 Tahun 1962. BSB sebagai salah satu BPD yang sistem perbankan nasional memiliki fungsi dan peran signifikan dalam konteks pembangunan ekonomi regional karena BPD mampu membuka jaringan pelayanan di daerah-daerah di mana secara ekonomis tidak mungkin dilakukan oleh bank swasta (Bank Indonesia 2016).
Keistimewaan lain yang dimiliki oleh BSB sebagai BPD adalah pengelolaan dana Pemda maupun gaji PNS sebesar 7 025 orang PNS dari seluruh daerah di Sumatera Selatan (Sumsel) dan 3 385 PNS di seluruh daerah Kepulauan Bangka Belitung (Babel) berdasarkan data Badan Kepegawaian Daerah (BKD) tahun 2016, hal tersebut seharusnya menjadi sebuah kekuatan untuk BSB agar bersaing dalam dunia perbankan di daerahnya. Kinerja BSB secara umum belum maksimal meskipun terdapat peningkatan dari tahun sebelumnya. Kinerja sebuah perusahaan khususnya bank juga dipengaruhi oleh aset yang dimiliki (Syofyan 2003).
Perkembangan aset bank umum selama periode 2011-2016 dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Perkembangan aset bank umum di Indonesia tahun 2011-2016 (Miliar Rupiah)
Bank Tahun
2011 2012 2013 2014 2015 2016
Bank Umum 3 652 832 4 262 587 4 954 467 5 615 150 6 132 583 6 729 799 Bank Persero 1 328 168 1 535 343 1 758 873 2 076 605 2 313 316 2 666 516 BPD se-
Indonesia 304 003 366 685 389 964 440 691 475 696 529 746 BJB 54 449 70 841 70 958 75 861 88 697 97 013 BSB 13 193 15 741 14 220 16 061 16 515 19 003 Sumber: Data SPI. Data diolah.
Tabel 2 menunjukkan jumlah aset Bank Umum, Bank Persero, BPD se- Indonesia dan aset Bank Jabar Banten (BJB) dibandingkan dengan aset BSB pada periode 2011-2016. Berdasarkan tabel tersebut, persentase pertumbuhan aset dari tahun 2011 sampai dengan 2016 Bank Umum mengalami kenaikan sebesar 84.23%, Bank Persero sebesar 101%, BPD se-Indonesia sebesar 74.26% dan aset BJB sebesar 78.17%. Namun, aset BSB dari tahun 2011 sampai dengan 2016 hanya meningkat sebesar 44.04%. Hal tersebut menjelaskan bahwa, perkembangan aset yang dimiliki oleh BSB selama lima tahun terakhir cenderung lambat dibandingkan bank lainnya.
Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) 2016 pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) di Provinsi Sumsel dan Babel dibandingkan dengan
DPK BSB menunjukkan bahwa, perhimpunan DPK selama lima tahun terakhir BSB hanya naik sebesar 9.57% sedangkan DPK Bank Umum peningkatannya sebesar 20.35%. Perumusan peningkatan kinerja yang lebih komprehensif dapat dijadikan sebagai pedoman untuk menetapkan strategi bisnis dalam jangka panjang yang efektif untuk meningkatkan persaingan perusahaan yang selanjutnya dapat memperbaiki kinerja sebuah bank.
Keunggulan kinerja suatu perusahaan dapat diketahui dengan cara membandingkan rasio yang sama antara satu perusahaan dengan perusahaan lain yang sejenis atau industri dalam satu periode yang sama. Kinerja bank dapat diketahui melalui rasio keuangannya, ukuran profitabilitas yang dapat digunakan adalah Return on Aset (ROA) pada industri perbankan (Clorida 2013). ROA bank umum selama periode tahun 2011-2016 cukup fluktuatif dan cenderung menurun (Gambar 1).
Sumber: Data SPI (2016).
Gambar 1 ROA bank umum di Indonesia tahun 2011-2016
Gambar 1 menunjukan ROA BSB masih di bawah rata-rata dari bank umum lainnya. Tahun 2011 ROA BSB berada di posisi 2.56% namun, menurun di tahun 2012 menembus angka 1.90% di mana ROA bank umum lainnya masih berada di atas 2.5% dan hingga tahun 2016 persentase ROA BSB masih lebih rendah dibandingkan ROA bank umum. Pencapaian ROA BSB dari tahun 2011-2016 menurun sebesar -0.14%. Hal ini harus menjadi perhatian khusus BSB jika ingin menjadi Bank Regional Champion (BRC) di daerahnya karena harus memenuhi beberapa persyaratan dari Bank Indonesia, salah satunya adalah memiliki ROA minimal 2.5%.
Rendahnya kinerja tersebut mengharuskan BSB memiliki strategi bersaing yang tepat untuk menghadapi perkembangan bisnis terkait semakin banyaknya bank-bank yang bermunculan. BSB harus memiliki kemampuan strategis dalam menganalisis banyak faktor baik dari internal maupun eksternal guna mendapatkan strategi bersaing yang terbaik (Gul et al. 2011). Sesuai dengan pernyataan Hubeis dan Najib (2008) yang menyebutkan bahwa, kemampuan strategi dalam mengidentifikasi lingkungan internal maupun eksternal sangat diperlukan dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat akibat
4
perkembangan pesat di bidang teknologi serta adanya pergeseran demografi dan kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Perumusan Masalah
Ketidakstabilan kinerja BSB memerlukan solusi strategik agar mampu bersaing, meningkatkan kinerja serta berkontribusi lebih baik pada perekonomian daerah. BSB dituntut menjadi BRC di daerahnya, merupakan sebuah visi untuk mentransformasikan BPD di seluruh Indonesia menjadi sebuah bank terkemuka di daerah yang dikelola secara profesional dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi regional. Namun, kondisi market share yang dimiliki oleh BSB di Provinsi Sumsel dan Babel selama lima tahun ini berfluktuatif dan tahun 2016 penghimpunan DPK BSB hanya berhasil meraih 17.99% sedangkan, sisanya 82.01% dimiliki bank umum lainnya. Posisi pinjaman rupiah atau kredit pada tahun 2016 BSB hanya berhasil meraih market share sebesar 15.53%. Perumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
1. Menganalisis kinerja apa saja yang dicapai oleh BSB (Fact Finding)?
2. Faktor internal dan eksternal apa saja yang mempengaruhi kinerja BSB?
3. Bagaimana alternatif strategi yang dilakukan dalam meningkatkan kinerja BSB?
4. Bagaimana rancangan arsitektur strategik dalam meningkatkan kinerja BSB?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini, antara lain:
1. Mengidentifikasi kinerja yang dicapai oleh BSB (Fact Finding).
2. Menganalisis faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja BSB.
3. Merumuskan strategi yang dilakukan BSB untuk meningkatkan kinerja.
4. Merumuskan arsitektur strategik BSB untuk meningkatkan kinerja.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Sebagai bahan masukan kepada manajerial BSB dalam melaksanakan dan merencanakan strategi peningkatan kinerja.
2. Meningkatkan pemahaman penulis mengenai BPD lebih detail dan lebih memahami pengetahuan manajemen strategi dan aplikasinya.
3. Memberikan kontribusi untuk pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang ilmu manajemen strategi dalam hubungannya dengan strategi pengembangan bisnis.
4. Memberikan tambahan informasi bagi peneliti lain dan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai database (benchmarking) bagi penelitian selanjutnya.
Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian mencakup kinerja pada BSB saat ini, faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi BSB, serta merumuskan strategi yang dipilih oleh BSB. Strategi yang dihasilkan dalam kajian penelitian ini dibatasi