STRATEGI STIMULUS KOGNITIF BERDASARKAN DISCOVERY LEARNING
A. PENGERTIAN
Discovery Learning adalah metode yang mendominankan kepada anak agar anak berperan aktif dalam pembelajaran, mampu menemukan, menyelidik, dan memecahkan sendiri masalah yang telah disuguhkan. Discovery Learning memberikan kesempatan kepada anak untuk berpikir kritis serta mampu mengekspresikan idenya melalui kegiatan dengan stimulus oleh pendidik sehingga ilmu yang dihasilkan akan bertahan lebih lama.
Discovery Learning merupakan model pendekatan pembelajaran yang menunjukkan peserta didik untuk mendapatkan suatu penemuan konsep maupun strategi pembelajaran melewati berbagai informasi-informasi maupun data yang dapat dihasilkan melalui pengamatan ataupun percobaan. Pembelajaran model Discovery Learning menekankan peserta didik untuk mengikutsertakan dirinya ke dalam suatu pembelajaran secara langsung yang bertujuan untuk dapat memecahkan masalah Bersama-sama dengan peserta didik lainnya. Model Discovery Learning merupakan model pembelajaran yang bisa membuat siswanya untuk lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran dikelas,
memberikan kesempatan untuk mencari Solusi dengan caranya sendiri, memberikan rasa tangung jawab, dapat memahami konsepnya sendiri, serta dapat menyampaikan
informasi.
Jerome Burner memaparkan yakni “Discovery Learning adalah sebuah proses pembelajaran yang bisa memberikan motivasi untuk siswa disini untuk mendapatkan sebuah data dan informasi, permasalahan serta jawaban ketika sedang berlangsungnya pembelajaran di dalam kelas. Sehingga para siswa disini dapat menyimpulkan serta mempragakan langsung secara spontan. Adapun contohnya yakni dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa”. Begitupun Bruner mengatakan: Guru disini seharusnya bisa dapat memberikan giliran kepada muridnya untuk dijadikannya seorang problem solver (menyelesaikan masalah) seorang scientist, historian, serta ahli
matematika. Kemudian siswa diberikan arahan untuk melakukan penyelidikan yang akan digunakan sebagai menarik kesimpulan. Hal ini memungkinkan siswa membangunkan pengetahuan baru mereka sendiri, dan kegiatan ini juga akan dapat meningkatkan
keterampilan berfikir siswa. Dari pemahaman yang telah dipaparkan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran membagikan banyak giliran untuk peserta didik guna menghasilkan sebuah penemuan yang baru maupun kesimpulan sendiri. Demikian, siswa bisa mengikuti langsung dalam proses pembelajaran. Siswa akan mendapatkan pengalaman serta motivasi baru dalam hal pembelajaran. Dengan cara ini siswa akan selalu mengingat proses pembelajaran, sehingga siswa tidak mudah melupakan hasilnya.
B. PRINSIP PRINSIP DISCOVERY LEARNING
Untuk memfasilitasi pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan harus berdasarkan pada manipulasi bahan-bahan pelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Beberapa prinsip dalam menerapkan strategi pembelajaran discovery learning antara lain:
1. Berorientasi pada pengembangan intelektual Tujuan utama strategi ini adalah pengembangan kemampuan berfikir. Selain berorientasi pada hasil belajar, juga berorientasi pada proses belajar anak.
2. Prinsip interaksi Pembelajaran sebagai proses interaksi bukan menempatkan guru sebagai sumber belajar, melainkan sebagai pengatur lingkungan belajar.
3. Prinsip bertanya Dalam menerapkan strategi ini, guru berperan sebagai penanya karena kemampuan anak menjawab pada dasarnya merupakan bagian dari proses berfikir.
4. Prinsip untuk berfikir Belajar merupakan proses berfikir (learning to think) yakni proses pengembangan potensi seluruh otak.
5. Prinsip keterbukaan Guru berperan dalam menciptakan lingkungan belajar yang memberikan kesempatan kepada anak mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan. Pembelajaran yang bermakna adalah Pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya.
C. IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING Proses penerapan model pembelajaran discovery learning dapat dilakukan dalam pendidikan anak usia dini ketika menggunakan pembelajaran berbasis lingkungan, percobaan, dan pemecahan masalah. Pembelajaran yang menggunakan lingkungan akan sangat berkaitan dengan Pendidikan berwawasan lingkungan. Pendidikan ini bertujuan membentuk perilaku, nilai, dan kebiasaan untuk menghargai lingkungan.
Pembelajarannya akan cenderung outdoor (di luar ruangan). Anak diajak untuk merasakan langsung bahwa ia adalah bagian dari lingkungan. Di lingkungannya, anak dapat diarahkan untuk mengamati kemudian membedakan benda hidup dan benda mati. Pembelajaran dengan lingkungan sebagai sumber belajar merupakan bentuk tantangan terhadap pola pembelajaran yang selama ini hanya didalam kelas (indoor).
Di lingkungannya, anak dapat lebih bebas bersosialisasi dengan anak sebaya, orang dewasa, pun juga dengan binatang, tumbuhan, atau dengan makhluk hidup lainnya.
(Sulaswari & Wasino, 2022). dengan pembelajaran discovery learning anak dapat menemukan perbedaan antara dia dengan anak-anak lainnya, begitu juga dengan dunia sekitarnya. Dengan rasa ingin tahunya yang luar biasa, anak dapat diajak berpetualang untuk mendapatkan segala sesuatu yang baru. Anak sangat senang mencoba baik dengan cara memegang, memakan atau melempar benda-benda dan minat yang kuat untuk mengamati lingkungan. Lingkungan sendiri sebagai sumber belajar dapat diartikan sebagai kesatuan ruang dengan semua benda dan keadaan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya serta makhluk hidup lainnya, sehingga memungkinkan anak usia dini untuk belajar tentang informasi, orang, bahan, dan alat. Lingkungan itu terdiri dari unsur-unsur makhluk hidup,
benda mati, dan budaya manusia (Andrianto, 2011:7-8). Selain dari pembelajaran berbasis lingkungan menyampaikan bahwa pembelajaran dengan percobaan atau eksperimen juga dilakukan sebagai implementasi dari model pembelajaran discovery.
Pembelajaran eksperimen yang dimaksud adalah eksperimen sederhana seperti mencampur warna dan sebagainya. Penting untuk diingat bahwa anak-anak usia dini memiliki tingkat perhatian yang terbatas, sehingga pembelajaran eksperimen harus dirancang dengan singkat, menarik, dan sederhana. Tujuan utamanya adalah
mengembangkan rasa ingin tahu mereka, membangun pemahaman konsep dasar, dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis melalui pengalaman nyata yang
menyenangkan. Melalui eksperimen anak akan terlatih mengembangkan kreativitas, kemampuan berfikir logis, senang mengamati, meningkatkan rasa ingin tahu dan kekaguman pada alam, ilmu pengetahuan, dan Tuhan. Melalui eksperimen sederhana anak akan menemukan hal ajaib dan menakjubkan. Hal ini penting, karena dengan rasa takjub dan kekaguman akan rahasia-rahasia alam inilah anak akan tetap menyenangi aktivitas belajar sampai tua. Melalui eksperimen pula anak dapat menemukan ide baru ataupun karya baru yang belum pernah mereka temui
sebelumnya. Kegiatan pembelajaran eksperimen tidak hanya mampu mengembangkan kognitif dan kreativitas anak, melainkan dengan melibatkan kebersamaan maka akan terbangun kebersamaan, kepekaan sosial dan solidaritas bersama. Kegiatan
eksperimen dilakukan hanya sebagai pemicu munculnya kreativitas anak. Untuk tahap awal perkembangan kreativitas, anak membutuhkan iklim pembelajaran yang kondusif dan merangsang rasa ingin tahu anak. setelah tahapan ini sudah terbentuk, pada tahap berikutnya anak tersebut dapat mengembangkan aktivitasnya dan menemukan gagasan baru yang kreatif. Melalui eksperimen, anak-anak dapat mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep-konsep tertentu.
Anak-anak diajarkan untuk merenungkan, mengamati, dan mengidentifikasi pola atau hubungan dalam informasi yang mereka temui. Ini membangun kemampuan
penalaran mereka. Model pembelajaran discoverylearning sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini yang cenderung ingin menjelajahi dunia sekitar mereka dengan aktivitas belajar sambil bermain.
D. STRATEGI DISCOVERY LEARNING
Strategi Discovery Learning digagas oleh Seymour Jerome Bruner. Menurutnya penemuan adalah belajar untuk pengembangan kognitif anak, dan memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan bahasa anak. Bahasa adalah alat untuk membuka cakrawala dunia.
Berangkat dari asumsi bahwa sejak manusia lahir ke dunia, manusia memiliki rasa ingin tahu terhadap alam di lingkungan sekitarnyaa, memiliki rasa ingin mengenal melalui indera pengecap, penglihatan, pendengaran dan penciuman sejak kecil. Hingga dewasa
keingintahuan berkembang dengan menggunakan otak dan fikirannya. Strategi discovery learning atau penemuan dikembangkan berdasarkan pandangan konstruktivisme, yaitu proses membangun pengetahuan baru berdasarkan struktur kognitif pengalaman. Ide utama teori ini menyebutkan proses belajar merupakan proses pengkonstruksian pengetahuan. Dalam teori
ini, mengutamakan pembelajaran yang bersifat konkrit, mengutamakan proses, menanamkan pembelajaran dalam konteks pengalaman sosial dan pembelajaran dilakukan dalam upaya membangun pengetahuan. Peran guru dalam pembelajaran strategi discovery learning antara lain: Membantu anak memahami tujuan dan prosedur kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan, memeriksa bahwa anak telah memahami tujuan dan prosedur kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan, menjelaskan kepada anak tentang prosedur kegiatan pembelajaran, mengamati anak selama mereka melakukan kegiatan, memberikan waktu yang cukup kepada anak untuk merapikan alat dan bahan yang telah digunakan, berdiskusi
membuat kesimpulan untuk setiap jenis kegiatan bersama anak. Dalam penerapan strategi discovery learning, guru mempersiapkan penyajian masalah, pertanyaan maupun peralatan yang diperlukan anak. Masalah yang direkayasa guru hendaknya menantang sehingga membuat anak tertarik untuk melakukan pemecahan masalah (problem solver). Penerapan strategi discovery learning secara berulang-ulang mampu meningkatkan kemampuan melakukan penemuan pada anak. Tujuan Penerapan Strategi Discovery Learning Untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan harus didukung oleh sistem yang utuh. Akhir dari pembelajaran adalah untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirancang. Penerapan strategi discovery learning bertujuan untuk memberi kesempatan kepada anak untuk terlibat aktif dalam pembelajaran, melatih anak aktif melakukan tanya jawab untuk memperoleh informasi tambahan, melalui pembelajaran discovery learning, anak belajar menemukan pola dalam situasi konkret maupun abstrak. Anak usia dini berada pada tahapan berfikir konkret, sehingga anak akan lebih mudah memahami materi jika anak sendiri aktif melakukan penemuan, melatih anak untuk bersosialisasi, bekerja secara kooperatif dan saling berbagai informasi, melalui penemuan, anak akan memperoleh pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Belajar akan menjadi bermakna, jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya melalui pengaktifan seluruh panca indera dari pada mendengarkan materi yang bersifat verbal semata.