1
STRATEGI PENGEMBANGAN PARIWISATA BERBASIS BUDAYA DI DESA SELUMBUNG, KARANGASEM-BALI
M.A. Sutiarso, K.T.P. Arcana, N.P.E. Juliantari, I.M.B. Gunantara Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional, Denpasar
Abstract
Selumbung Village is one of the villages that is directed to be developed as a tourist village in Karangasem regency. Culture-based tourism development in this village is expected to provide benefits to the community if properly managed and planned. This study aims to get a recommendation for the strategic plan of cultural-based tourism development in the village of Selumbung. The analytical method used in this study includes descriptive analysis which is assisted by the SWOT analysis method to determine the development strategy plan. The results showed that the priority of the culture-based tourism development strategy plan in the village of Selumbung was to develop tourism products, improve management and marketing.
Keywords: cultural tourism, village tourism, strategic plan.
Abstrak
Desa Selumbung merupakan salah satu desa yang diarahkan untuk dikembangkan sebagai desa wisata di kabupaten Karangasem. Pengembangan pariwisata berbasis budaya di desa ini diharapkan akan memberikan manfaat kepada masyarakat jika dikelola dengan baik dan terencana. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan rekomendasi rencana strategis pengembangan pariwisata berbasis budaya di desa Selumbung. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis deskriptif yang dibantu dengan metode analisis SWOT untuk menentukan rencana strategi pengembangannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prioritas rencana strategi pengembangan pariwisata berbasis budaya di desa Selumbung adalah mengembangkan produk wisata, meningkatkan pengelolaan dan pemasaran.
Kata kunci: pariwisata budaya, desa wisata, rencana strategis
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Bali, tiap-tiap wilayah di Bali memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Salah satu wilayah yang berpotensi untuk mengembangkan desa wisata di Bali adalah Kabupaten Karangasem. Visi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karangasem tahun 2017 yaitu, terwujudnya Karangasem sebagai daerah tujuan wisata budaya dengan melaksanakan pembinaan dan pengembangan pariwisata budaya secara terarah, terencana dan terpadu. Maka desa wisata di Kabupaten Karangasem cenderung berkembang ke arah pengembangan pariwisata berbasis budaya, misalnya Desa
2 Tenganan, Desa Jasri, Desa Dukuh, dan Desa Bungaya. Dalam perkembangannya saat ini, kepariwisataan Kabupaten Karangasem telah memberikan kontribusi pendapatan bagi daerah yang bersumber dari pajak hotel dan restoran, serta retribusi sektor pariwisata (destinasi). Dari sisi perolehan pendapatan daerah, sektor pariwisata di Kabupaten Karangasem menjadi salah satu unggulan, dengan menempati posisi kedua setelah pertambangan mineral bukan logam dan batuan (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karangasem, 2016).
Salah satu desa wisata yang sedang dikembangkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karangasem sejak tahun 2014 adalah Desa Selumbung (SK Bupati Nomor 658/HK/2014). Potensi Desa Selumbung untuk dikelola sebagai produk wisata terdiri dari potensi wisata alam, seperti air terjun, persawahan, dan sungai. Potensi wisata budaya seperti upacara ngusaba puseh, kesenian daratan, dan wayang wong. Serta potensi wisata ekonomi kreatif seperti peternakan lebah madu dan produksi Virgin Coconut Oil (VCO).
Meskipun memiliki potensi wisata yang beragam, nyatanya dukungan akses dan fasilitas kepariwisataan desa masih belum maksimal.
Selain dari sisi pengembangan akses dan fasilitas wisata, kurangnya kepekaan terhadap potensi wisata budaya yang dimiliki juga mengakibatkan pariwisata budaya di Desa Selumbung tidak dapat berkembang. Sesuai dengan SK Bupati Karangasem Nomor 658/HK/2014, penetapan Desa Selumbung sebagai desa wisata tidak hanya membuka peluang untuk dikembangkannya potensi wisata alam, tetapi juga keunikan budaya dan ciri khas yang dimiliki.
Melihat fenomena tersebut, maka diketahui bahwa pariwisata berbasis budaya di Desa Selumbung memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan. Namun teridentifikasi adanya masalah kepariwisataan yang dihadapi oleh Desa Selumbung, beberapa diantaranya adalah masyarakat yang belum memahami potensi desa yang dapat dikembangkan sebagai produk wisata berbasis budaya dan sistem pengelolaan kepariwisataan yang belum sinergis antar elemen pemangku kepentingan yang terkait. Untuk itu, peneliti melakukan penelitian di Desa Selumbung sehingga dapat diketahui produk wisata berbasis budaya yang dapat dikembangkan oleh desa, faktor-faktor (internal dan eksternal) yang mempengaruhi pengembangan kepariwistaan desa, dan merumuskan strategi pengelolaan yang perlu dilakukan.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan maka dapat dirumuskan masalah seperti berikut:
1. Bagaimanakah bentuk produk wisata berbasis budaya di Desa Selumbung, Kabupaten Karangasem?
2. Bagaimanakah analisis faktor internal dan eksternal dari pariwisata di Desa Selumbung, Kabupaten Karangasem?
3. Bagaimanakah strategi pengembangan produk wisata berbasis budaya di Desa Selumbung, Kabupaten Karangasem?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan, maka tujuan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi bentuk produk wisata berbasis budaya di Desa Selumbung, Kabupaten Karangasem.
2. Mendeskripsikan analisis faktor internal dan eksternal dari pariwisata di Desa Selumbung, Kabupaten Karangasem.
3. Merumuskan strategi pengembangan produk wisata berbasis budaya di Desa Selumbung, Kabupaten Karangasem.
3 II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Strategi Pengembangan
Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan, dan merupakan respon secara terus menerus maupun adaptif terhadap peluang dan ancaman eksternal serta kekuatan dan kelemahan internal yang dapat mempengaruhi organisasi (Rangkuti, 2017:3).
Dalam rangka mengembangkan sebuah destinasi pariwisata, seorang perencana (tourism planner) paling tidak harus memperhatikan dua lingkup pengembangan yang saling melengkapi, yaitu lingkup pengembangan spasial dan tingkatan pengembangan dari destinasi tersebut. Lingkup pengembangan spasial adalah keharusan untuk memahami dan memperhatikan latar belakang kontekstual atau lingkungan makro dari destinasi yang akan dikembangkan. Sedangkan tingkatan pengembangan destinasi yang dimaksud adalah cara pandang atau perspective perencanaan pengembangan destinasi yang harus berpandangan secara holistic dan menyeluruh (Sunaryo, 2013).
Dalam penelitian ini kata strategi pengembangan yang dimaksud adalah program atau cara yang digunakan untuk menyusun rencana dan keputusan yang tepat bagi pengembangan pariwisata di Desa Selumbung. Pengembangan pariwisata tersebut dikelompokkan menjadi pengembangan produk, pengelolaan, dan pemasaran, disesuaikan dengan fenomena serta masalah yang sedang dihadapi oleh Desa Selumbung.
2.2. Produk Wisata
Sebagai upaya memahami pengembangan destinasi wisata secara umum, maka penelitian ini juga mengadaptasi kerangka atribut destinasi 6A dari Buhalis (2000:98) yaitu yang terdiri dari: (a) attractions (natural, man-made, artificial, purpose built, heritage, special event); (b) accessbility (entire transportation, system comprising of routes, terminal and vehicles); (c) amenites (accommodation and catering facilities, reatailing, other tourist services; (d) available packages (pre-arranged by intermediaries and principals); (e) activities (all activities available at the destination and what consumers will do during their visit); (f) ancillarry services (services use by tourists suced as bank, telecommunication, post, news agent, hospital, etc).
Dalam pembangunan destinasi pariwisata, ke-enam atribut destinasi memberikan pengertian yang baik serta merupakan komponen kesatuan untuk membuat suatu destinasi untuk lebih menarik dan meningkatkan citra destinasi serta persepsi dari atribut itu sendiri dan ini saling berkesinambungan karena dapat memberikan pengalaman kepada wisatawan.
Konsep produk wisata dalam penelitian ini bermanfaat ketika akan mengidentifikasi produk wisata yang telah dipasarkan ataupun yang sedang direncanakan oleh masyarakat di Desa Selumbung untuk dikembangkan. Produk wisata tersebut merupakan aktivitas yang dapat dilakukan oleh wisatawan selama berkunjung di Desa Selumbung atau jenis pelayanan yang diberikan oleh masyarakat ketika melayani wisatawan yang datang.
2.3. Desa Wisata Berbasis Budaya
Desa wisata dilihat sebagai bentuk industri pariwisata yang berupa kegiatan mengaktualisasikan perjalanan wisata identik meliputi sejumlah kegiatan yang bersifat menghimbau, merayu, mendorong wisatawan sebagai konsumen agar menggunakan produk dari desa wisata tersebut atau mengadakan perjalanan wisata ke desa wisata tersebut atau disebut pemasaran desa wisata (Soekadijo, 2000). Terdapat tiga konsep yang utama dalam komponen desa wisata, menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karangasem (2016), yaitu akomodasi, atraksi, dan organisasi. Akomodasi, yaitu sebagian dari tempat tinggal para penduduk setempat dan atau unit-unit yang berkembang atas konsep tempat tinggal penduduk. Atraksi, yaitu seluruh kehidupan keseharian penduduk setempat beserta pengaturan
4 fisik lokasi desa yang memungkinkan berintegrasinya wisatawan sebagai partisipasi aktif seperti kursus tari, bahasa dan lain-lain yang spesifik. Organisasi, yaitu adanya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang berperan aktif dalam mengelola produk wisata desa dan memberdayakan masyarakat, sehingga mereka dapat merasakan manfaat dari pengembangan pariwisata.
Menurut Prasiasa (2011) komponen desa wisata terdiri dari partisipasi masyarakat lokal, sistem norma setempat, sistem adat setempat, dan budaya setempat.
Sedangkan pariwisata budaya menurut Muljadi (2009) adalah kegiatan perjalanan untuk mengunjungi tempat tertentu dengan tujuan rekreasi, pengembangan diri, atau mempelajari daya tarik budaya dari tempat tersebut. Contoh pawisata budaya antara lain wisata religi, wisata edukasi, wisata sejarah, wisata, kota, dan sebagainya. Sementara, wisata berbasis budaya adalah salah satu jenis kegiatan pariwisata yang menggunakan kebudayaan sebagai objek utamanya. Pariwisata jenis ini dibedakan dari wisata minat khusus yang lain. Ada 12 unsur kebudayaan yang dapat menarik kedatangan wisatawan, yaitu: bahasa (language), masyarakat (traditions), kerajinan tangan (handicraft), makanan dan kebiasaan makan (foods and eating habits), musik dan kesenian (art and music), sejarah suatu tempat (history of the region), cara kerja dan teknolgi (work and technology), agama (religion) yang dinyatakan dalam cerita atau sesuatu yang dapat disaksikan, bentuk dan karakteristik arsitektur di masing- masing daerah tujuan wisata (architectural characteristic in the area), tata cara berpakaian penduduk setempat (dress and clothes), sistem pendidikan (educational system), dan aktivitas pada waktu senggang (leisure activities).
Desa wisata berbasis budaya yang dimaksud dalam penelitian ini adalah memanfaatkan potensi wisata budaya (kearifan lokal) yang dimiliki oleh Desa Selumbung sebagai produk wisata utama selain potensi wisata alam.
III. METODE PENELITIAN 3.1.Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini berlokasi di Desa Selumbung, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Desa Selumbung memiliki letak geografis yang strategis karena mudah diakses dari kota Denpasar, dengan jarak 50 km ke arah Timur melewati Jalan By Pass Ida Bagus Mantra dan ditempuh selama satu setengah jam dengan menggunakan mobil.
Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan terhitung dari bulan September sampai dengan November 2017.
3.2. Teknik Pengumpulan Data
Dalam melakukan pengumpulan data terkait dengan rumusan masalah yang dihadapi, peneliti menggunakan lima teknik yaitu teknik observasi, kuesioner, wawancara, diskusi kelompok terarah, dan studi dokumen.
3.3. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif kualitatif (Sugiyono, 2003), dan analisis SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, and Threat). Teknik SWOT digunakan untuk menganalisis dan mengklasifikasikan secara kuantitatif faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi bisnis suatu organisasi, menganalisis faktor pendorong, memetakannya, dan mendefinisikan strategi berdasarkan pemetaan tersebut, melihat berbagai alternatif kebijakan yang mungkin dilakukan, dan penentuan kuadran hasil pengolahan dengan menghitung jumlah setiap faktor yang telah dikalikan tingkat urgensinya melalui kuesioner (Rangkuti, 2017).
5 Sebagai sebuah konsep dalam manajemen strategik, teknik ini menekankan mengenai perlunya penilaian lingkungan eksternal dan internal, serta kecenderungan perkembangan/perubahan di masa depan sebelum menetapkan sebuah strategi. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats). Dalam penelitian ini, teknik SWOT digunakan untuk merumuskan strategi pengelolaan produk di Desa Selumbung, Kabupaten Karangasem.
IV. HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Desa Selumbung
Desa Selumbung merupakan salah satu dari 12 desa yang ada di wilayah Kecamatan Manggis, yang terletak pada ketinggian 500 meter dari permukaan laut dengan luas wilayah keseluruhan 665,225 hektar atau 6,65 km2, yang terbagi menjadi enam wilayah banjar dinas yaitu Banjar Dinas Bukitcatu, Banjar Dinas Kaleran, Banjar Dinas Kelodan, Banjar Dinas Tengah, Banjar Dinas Kanginan dan Banjar Dinas Anyar. Berpenduduk 3.475 jiwa yang terdiri dari 1.749 penduduk laki-laki dan 1.726 penduduk perempuan, dengan 872 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di masing-masing banjar. Mata pencaharian masyarakat sebagian besar adalah petani (Desa Selumbung, 2017).
Sarana perekonomian di Desa Selumbung cukup memadai, dengan adanya Lembaga Perkreditan Desa (LPD) sebagai sarana warga untuk aktifitas simpan pinjam, yang juga bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di Desa Selumbung terdapat 35 buah toko/warung sebagai sarana warga membeli kebutuhan sehari-hari.
Sarana dan prasarana pendidikan di Desa Selumbung cukup memadai. Dengan adanya lembaga pendidikan seperti play group (Pendidikan Anak Usia Dini), Taman Kanak-Kanak yang dikelola oleh yayasan, dan tiga buah Sekolah Dasar Negeri. Sedangkan sekolah lanjutan seperti Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Kejuruan, atau sederajat, masyarakat desa harus melanjutkan pendidikan ke desa terdekat, misalnya Desa Manggis.
Sarana kesehatan yang tersedia di Desa Selumbung adalah sebuah Puskesmas Pembantu, satu tempat praktek bidan dan enam Posyandu, dengan satu orang paramedis, satu orang bidan desa, dan kunjungan dokter dari Puskesmas Manggis II setiap hari Rabu.
Sementara, jika ada warga yang membutuhkan sarana kesehatan yang lebih lengkap (gawat darurat) harus pergi ke desa lain, atau ke ibu kota kecamatan, atau bahkan ke ibu kota kabupaten.
Sarana perhubungan/angkutan, komunikasi dan informasi di Desa Selumbung cukup memadai. Dengan tersedianya jalan yang diaspal dengan konsisi baik, jalan desa sebagian sudah dikeraskan, sisanya masih jalan tanah tetapi cukup membantu dalam kelancaran arus lalu lintas dan transaksi ekonomi masyarakat. Didukung pula dengan masuknya jaringan komunikasi, telepon seluler, warung internet, dan angkutan umum.
4.2. Identifikasi Produk Wisata Berbasis Budaya di Desa Selumbung 1) Aspek Atraksi Alam
Desa Selumbung memiliki beberapa atraksi wisata alam seperti persawahan, perkebunan, hutan, sungai, dan air terjun. Persawahan di Desa Selumbung terdapat di wilayah Banjar Dinas Bukit Catu dan Banjar Dinas Kelodan.
6
Gambar 4.1
Sawah Terasering dan Air Terjun di Desa Selumbung
Sementara untuk air terjun, Desa Selumbung memiliki sebuah air terjun yang menjadi ikon desa, yaitu Air Terjun Yeh Labuh. Air terjun ini merupakan air terjun bertingkat, tempat pertama (paling bawah) adalah Air Terjun Tibu Kresek dan ditingkat selanjutnya disebut sebagai Air Terjun Tibu Tengah. Kedua air terjun inilah yang dinamakan Air Terjun Yeh Labuh. Air Terjun Tibu Tengah memiliki ketinggian sekitar 35 meter, sedikit lebih tinggi dari air terjun dibawahnya yang hanya 20 meter. Selain sebagai daya tarik wisata, air terjun ini juga digunakan sebagai sumber air oleh masyarakat sekitar. Air tersebut diditribusikan melalui pipa- pipa yang terhubung ke tiap-tiap pemandian umum dan beberapa rumah warga.
2) Aspek Atraksi Budaya
Desa Selumbung memiliki beberapa atraksi budaya yang masih memiliki keterkaitan dengan kehidupan religi masyarakat, diantaranya adalah Upacara Ngusaba Puseh yang merupakan rangkaian kegiatan keagamaan yang diadakan di Pura Puseh dan Upacara Mesegeh.
Upacara Ngusaba Puseh ini menjadi unik karena adanya kesenian daratan, yaitu ketika perwakilan masyarakat mengalami kerasukan dan menari dengan keris selama berjam-jam.
Sementara letak keunikan Upacara Mesegeh adalah pada sarana yang digunakan, yaitu anak sapi (godel) yang diikuti dengan ritual gocek taluh (adu telur) pada sore harinya.
Gambar 4.2
Kesenian daratan pada saat upacara Ngusaba Puseh
7 Selain itu, Desa Selumbung juga memiliki seni pertunjukan yang khas yaitu Wayang Wong dan Gambuh. Wayang Wong pada dasarnya adalah seni pertunjukkan topeng dan perwayangan dengan pelaku-pelaku manusia atau orang (wong). Dalam membawakan tokoh- tokoh yang dimainkan, semua penari berdialog, semua tokoh utama memakai bahasa Kawi sedangkan para punakawan memakai bahasa Bali. Pada beberapa bagian pertunjukan, para penari juga menyanyi dengan menampilkan bait-bait penting dari Kakawin.
Sedangkan kesenian Gambuh berbentuk teater total, karena di dalamnya terdapat jalinan unsur seni suara, seni drama dan tari, seni rupa, seni sastra, dan lainnya. Gambuh dipentaskan dalam upacara-upacara Dewa Yadnya (piodalan) dan upacara Manusa Yadnya seperti perkawinan keluarga bangsawan atau upacara Pitra Yadnya (ngaben). Dengan diiringi gamelan peng Gambuhan yang berlaras pelog saih pitu, tokoh-tokoh yang biasa ditampilkan dalam Gambuh adalah Condong, Kakan-Kakan, Putri, Arya/Kadean-kadean, Panji (Patih Manis), Prabangsa (Patih Keras), Demang, Temenggung, Turas, Panasar, dan Prabu. Dalam memainkan tokoh-tokoh tersebut pada umumnya para penari berdialog menggunakan bahasa Kawi, khusus untuk tokoh Turas, Panasar, dan Condong menggunakan bahasa Bali, baik bahasa alus, madya, maupun bahasa Bali sehari-hari.
Menurut Bapak I Wayan Lastria selaku Kelian Pura, kesenian Tari Gambuh ini berawal dari kerajaan Daha dan Kahuripan yang terdapat di Jawa dalam rangka penyebaran ajaran agama Hindu di Bali. Tari Gambuh yang terdapat di Desa Selumbung pertama kali di prakarsai oleh Raja Karangsem pada abad ke-15. Biasanya Tari Gambuh ini dipentaskan setiap hari raya Kuningan.
Selain dua kesenian tersebut, Desa Selumbung juga memiliki beberapa tarian sakral lainnya seperti Tari Rejang yang dipertunjukkan oleh remaja putri yang belum menikah yang biasa dipentaskan saat Umanis Kuningan dan Tari Keraman. Tari Keraman ini merupakan tari yang dipentaskan khusus oleh laki-laki.
Gambar 4.3
Tari Rejang (kiri) dan Tari Keraman (kanan)
Salah satu kegiatan yang sudah jarang ditekuni masyarakat adalah menganyam ate. Ate ini merupakan tanaman seperti rotan, namun dalam ukuran yang lebih kecil dan lebih fleksibel.
Ate saat ini jarang ditemui karena belum ada upaya pembudidayaan tanaman ini. Di Desa Selumbung, biasanya tanaman ini tumbuh secara alami di hutan desa. Sebelum dimanfaatkan, batang tanaman ate akan terlebih dahulu dikeringkan sampai berubah warna menjadi kecoklatan. Biasanya masyarakat setempat mengolah ate menjadi kerajinan tangan berupa kotak tisu, alas gelas (coaster), dan bokor (tempat menaruh banten/sesajen bagi umat Hindu) dan mendistribusikannya ke toko souvenir di Candidasa.
8
Gambar 4.4
Kerajinan Ate (kiri) dan Anyaman Bambu (kanan)
Desa Selumbung memiliki makanan tradisional yang khas karena dibuat secara turun temurun yaitu pepes yang terbuat dari pisang batu. Pepes ini menggunakan bahan dasar daging (daging ayam/babi) yang dimasak dengan rempah-rempah atau bumbu lokal khas Bali dan dicampurkan dengan pisang batu. Pepes ini menjadi khas karena di Desa Selumbung banyak terdapat perkebunan pisang yang didominasi oleh pisang batu, sehingga masyarakat memanfaatkan pisang ini untuk diolah menjadi makanan sehari-hari.
3) Aktifitas Wisata (Activities) a) Trekking
Wisata trekking di Desa Selumbung melalui jalur perkebunan yang dimiliki masyarakat setempat dengan melewati jalan setapak. Selain melalui perkebunan jalur lain yang dilewati adalah persawahan, dan titik utama mengarah ke Air Terjun Yeh Labuh. Untuk menciptakan kesan berbudaya pada aktifitas ini, maka diperlukan pemandu wisata yang memahami tentang aktifitas trekking tersebut (misalnya wisatawan mendapatkan penjelasan tentang subak ketika melewati sawah).
Gambar 4.5
Jalur Trekking Menuju Air Terjun Yeh Labuh b) Menenun
Kegiatan menenun masih dilakukan oleh masyarakat di Desa Selumbung. Untuk tetap melestarikan tenun khas Karangasem ini, aktifitas menenun dapat dibudidayakan melalui pembentukan kelompok tenun yang terorganisir, misalnya oleh anggota Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
9
Gambar 4.6
Kain Tenun Khas Karangasem c) Memanen Madu
Beberapa rumah di Desa Selumbung memiliki peternakan lebah madu yang dikelola secara tradisional. Budidaya lebah madu ini sudah mereka tekuni secara turun temurun. Madu yang dijual di desa Selumbung ini hanya dipasarkan lewat mulut ke mulut, konsumen biasanya datang langsung ke tempat budidaya madu untuk memesan dan mengambil madu.
Gambar 4.7
Budidaya Madu (kiri) dan Aktivitas Memanen Tuak (kanan) d) Memanen Tuak
Kegiatan memanen air nira aren/kelapa (tuak) merupakan tradisi turun menurun di Desa Selumbung. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh seorang laki-laki dewasa pada pagi dan sore hari. Air nira yang baru dipanen dari pohonnya akan terasa manis dan beraroma seperti tape, tetapi akan berubah menjadi asam dalam dua hari. Salah seorang masyarakat di Desa Selumbung yaitu Bapak Wayan Sukerti, biasa menjual tuak dirumahnya, namun beberapa warga lainnya ada pula yang menitipkan hasil tuak mereka ke warung-warung di Desa Selumbung dan sekitarnya.
e) Aktifitas Mematung dan Menari
Kegiatan seni lain yang ditekuni oleh masyarakat di Desa Selumbung adalah mematung dan menari. Patung yang dihasilkan berasal dari bahan tanah liat ini bergaya klasik dan kontemporer.
10
Gambar 4.8
Patung tanah liat (kiri) dan Aktivitas menari (kanan)
Disisi lain, anak-anak dan remaja di Desa Selumbung memiliki kesempatan untuk mengikuti kegiatan latihan menari di rumah salah seorang warga. Namun, materi tarian yang diajarkan lebih kepada tari-tarian umum, bukan mempelajari tarian/kesenian khas Desa Selumbung, misalnya Gambuh.
f) Cooking Class
Saat ini kegiatan memasak di Desa Selumbung dapat dilakukan di homestay “Koboe Doloe”. Makanan yang dimasak di homestay ini dapat disesuaikan dengan permintaan wisatawan, biasanya adalah makanan tradisional berupa lawar. Selain itu, perusahaan swasta (Alila Hotel) juga memanfaatkan landscape sawah terasering di Desa Selumbung sebagai lokasi cooking class.
Gambar 4.9
Kelas Memasak Makanan Tradisional
4.3. Analisis Faktor Internal dan Eksternal
Analisis faktor internal dari pariwisata di Desa Selumbung dapat diidentifikasi berdasarkan analisis visi, misi Desa Selumbung dan analisis existing management. Sementara analisis faktor eksternal dari pariwisata di Desa Selumbung dapat diidentifikasi berdasarkan analisis politik, ekonomi, sosial, dan teknologi.
1) Visi dan Misi Desa Selumbung
Visi dari Desa Selumbung adalah “Kebersamaan Dalam Membangun Demi Desa Selumbung yang Lebih Maju Sejahtera dan Mandiri”. Sedangkan misi dari desa ini adalah, 1) Bersama masyarakat memperkuat kelembagaan desa yang ada sehingga dapat melayani
11 masyarakat secara optimal; 2) Bersama masyarakat dan kelembagaan desa menyelenggarakan pemerintahan dan melaksanakan pembangunan yang partisipatif; 3) Bersama masyarakat dan kelembagaan desa dalam mewujudkan Desa Selumbung yang aman, tentram, dan damai; 4) Bersama masyarakat dan kelembagaan desa memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan visi dan misi tersebut, diketahui bahwa Pemerintahan Desa Selumbung mengutamakan keterlibatan masyarakat untuk pengembangan dan pembangunan desa, termasuk di dalamnya adalah pariwisata. Melalui kegiatan pariwisata pemerintah desa memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mengembangkan sumber daya yang dimiliki untuk kegiatan pariwisata.
2) Kondisi Pengelolaan Saat Ini
Kondisi pengelolaan kepariwisataan desa saat ini (existing management) telah diidentifikasi berdasarkan empat kategori yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengawasan (controlling).
a. Planning
Desa Selumbung memiliki Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa meliputi visi dan misi, arah kebijakan pembangunan desa, kebijakan pembangunan desa, potensi dan masalah, arah kebijakan keuangan desa, dan strategi pencapaian desa. Namun pariwisata secara spesifik belum masuk ke dalam arah kebijakan pembangunan maupun keuangan desa (Desa Selumbung, 2017). Hal ini menyebabkan pembangunan dan pengembangan pariwisata di Desa Selumbung masih terhambat. Belum adanya rencana kepariwisataan desa secara tertulis juga menyebabkan kurangnya sinkronisasi program dengan Pemerintah Kabupaten Karangasem.
b. Organizing
Dalam sistem organisasi, Desa Selumbung dipimpin oleh seorang perbekel (kepala desa), satu orang sekretaris desa, 11 orang perangkat desa (termasuk di dalamnya kepala dusun/banjar dinas), dan Sembilan orang anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Untuk mengelola sumber daya pariwisata di Desa Selumbung, saat ini memiliki Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang beranggotakan 30 orang. Pokdarwis ini bernama Wana Giri dan dipimpin oleh Bapak I Wayan Gedek Tegteg. Saat ini Pokdarwis Wana Giri belum memiliki rencana tertulis terkait pengembangan pariwisata yang akan dilakukan. Setiap aktifitas yang dilakukan, seperti pembentukan kelompok tani, pembangunan jalur trekking, penghijauan, dan kegiatan gotong royong di jalur wisata merupakan inisiatif dari anggota (spontanitas). Hal tersebut membuat aktifitas pengembangan yang dilakukan tidak tercatat secara sistematis, sehingga mempersulit proses pertanggungjawaban dan konsistensi komitmen dari setiap anggota. Selain itu, kurangnya koordinasi dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Karangasem, membuat keberadaan Pokdarwis Wana Giri ini belum tercatat sebagai kelompok yang resmi.
Untuk itu, maka diperlukan tindaklanjut oleh semua pemangku kepentingan sehingga kelompok ini dapat berperan dengan baik.
c. Actuating
Dalam pelaksanaan program-program pengembangan pariwisata di Desa Selumbung, pemerintah desa menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya pada Pokdarwis. Pokdarwis diharapkan mampu mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pengembangan pariwisata di desa. Sejauh ini program yang telah dilaksanakan oleh pokdarwis adalah perbaikan fasilitas dan akses menuju objek wisata Air Terjun Yeh Labuh. Perbaikan yang dilakukan adalah dengan membangun jembatan baru yang lebih kokoh menuju air terjun, penghijauan, dan pembentukan jalur trekking. Program-program yang dilakukan seringkali
12 mengalami hambatan dalam hal pengadaan dana, karena dari desa belum memberikan anggaran khusus untuk pengembangan pariwisata.
Masyarakat Desa Selumbung pun kesulitan untuk ikut terlibat dalam pengembangan pariwisata, khususnya pariwisata berbasis budaya karena keterbatasan dalam pemahaman budaya setempat ataupun keahlian berbahasa asing. Pemahaman terkait budaya lokal hanya diketaui oleh para pemangku adat (kelian) dan seringkali tidak dapat disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat karena anggapan bahwa pengetahuan tersebut bersifat sakral atau tabu.
d. Controlling
Pengembangan pariwisata berbasis budaya di Desa Selumbung saat ini masih belum konsisten karena fungsi pengawasan yang seharusnya dilakukan oleh para pemangku kepentingan tidak dijalankan dengan baik. Tidak ada pelaporan kegiatan kepada desa maupun pemerintah kabupaten, mengakibatkan terjadinya pencapaian yang telah didapat tidak tercatat dengan baik. Jumlah wisatawan yang berkunjung dan alur retribusi juga belum dicatat dengan baik sehingga sering menimbulkan konflik kepentingan.
3) Analisis Politik, Ekonomi, Sosial, dan Teknologi
Diidentifikasi berdasarkan kondisi politik saat ini, diketahui masyarakat Desa Selumbung tergabung ke beberapa partai politik seperti Golkar, PDIP, dan Demokrat.
Meskipun demikian, kehidupan bermasyarakat di Desa Selumbung tidak dipengaruhi oleh stabilitas dari partai politik tersebut. Masyarakat desa masih menggunakan aturan adat (awig- awig) sebagai hukum tertinggi dan memegang teguh sistem kegotong-royongan.
Kondisi sosial masyarakat di Desa Selumbung saat ini sangat kondusif. Berdasarkan keterangan dari Kepala Bintara Pembina Desa dan Perlindungan Masyarakat Desa Selumbung diketahui bahwa tindak kriminalitas di desa ini sangat rendah. Selain itu, masyarakat Desa Selumbung sangat ramah terhadap pendatang dan saling menghargai satu sama lain. Namun, masyarakat seringkali mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, terutama bila menghadapi wisatawan mancanegara. Sementara secara teknologi, masyarakat desa sudah sangat terbuka dengan adanya globalisasi.
4.4. Identifikasi Faktor Internal dan Eksternal
Berdasarkan analisis visi, misi, kondisi existing management, dan kondisi politik, ekonomi, sosial, serta teknologi terkait pengembangan daya tarik wisata di Desa Selumbung, Kabupaten Karangasem, telah diidentifikasi faktor internal (Kekuatan dan Kelemahan) dan eksternal (Peluang dan Ancaman) pengembangan wisata desa sebagai berikut:
a) Kekuatan (S), Desa Selumbung memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk wisata berbasis budaya, Desa Selumbung ditetapkan sebagai Desa Wisata sejak tahun 2014, melalui SK Bupati Karangasem, Desa Selumbung mendapat anugerah Desa Wisata Award 2017 dari Pemprov Bali, Desa Selumbung memiliki Kelompok Sadar Wisata, masyarakat setempat sangat terbuka terhadap adanya pengembangan pariwisata, Desa Selumbung memiliki fasilitas wisata yang memadai, seperti homestay dan lahan parkir yang luas, Desa Selumbung merupakan desa dengan tingkat keamanan yang baik, Desa Selumbung memiliki awig-awig (aturan adat) yang mendukung pengembangan desa wisata, dan tersedia penunjuk arah ke lokasi daya tarik wisata.
b) Kelemahan (W), Belum memiliki sumber daya manusia yang kompeten dan professional di bidang pariwisata, tidak semua aktifitas budaya dapat dikomersialisasikan/dijual untuk kebutuhan pariwisata, keterbatasan dana untuk pengembangan fasilitas wisata dan pelatihan sumber daya manusia, Pokdarwis belum memiliki sistem pengelolaan pariwisata yang terencana dan sistematis, belum memiliki regulasi resmi yang mengatur
13 kepariwisataan desa, belum memiliki sistem pengelolaan sampah plastik, belum memiliki standar higienis untuk layanan makan dan minum, jaringan komunikasi (internet) masih terbatas untuk beberapa provider, belum tersedia media yang dapat mendukung interpretasi wisatawan terhadap daya tarik wisata di Desa Selumbung (brosur, information center, guide), jumlah kunjungan wisatawan masih sedikit, dan belum ada paket wisata dari biro perjalanan/travel agent yang menawarkan aktifitas di Desa Selumbung.
c) Peluang (O), visi dan misi Disbudpar Kabupaten Karangasem, mendukung perkembangan produk wisata berbasis budaya, peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Karangasem periode Januari-Desember 2016, pelestarian lingkungan fisik dan budaya sebagai dampak positif pengembangan pariwisata, peningkatan jumlah pendapatan dan ketersediaan lapangan pekerjaan, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.
d) Ancaman (T), perubahan lingkungan fisik (pencemaran, limbah, sampah, dan polusi), bencana alam (gempa bumi, gunung meletus, banjir, tanah longsor), muncul destinasi (desa wisata) lain yang menawarkan produk serupa, terjadinya eksploitasi budaya secara berlebihan, sehingga tidak ada batasan antara aktifitas sakral dan seni pertunjukan, dan masyarakat dapat dengan mudah terpengaruh oleh budaya asing yang tidak sesuai dengan norma/adat setempat.
4.5. Analisis SWOT
Dari identifikasi faktor internal dan eksternal tersebut, maka dapat disusun strategi yang disajikan dalam matriks yang menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategi yaitu sebagai berikut:
1) Strategi S-O, yaitu mendukung strategi agresif. Strategi yang diterapkan adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif (growth oriented strategy) dengan cara:
a) Memanfatkan Desa Selumbung yang telah ditetapkan sebagai desa wisata melalui SK Bupati Karangasem Tahun 2015 untuk dapat meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan yang tertarik terhadap produk wisata berbasis budaya melalui manajemen pemasaran yang konsisten.
b) Memanfaatkan penghargaan (Desa Wisata Award Kategori Silver) yang telah didapat untuk meningkatkan brand image Desa Selumbung di mata wisatawan dan memotivasi masyarakat setempat untuk mengelola sumber daya pariwisata yang dimiliki, melalui pelatihan (bahasa asing, keahlian pariwisata, pengetahuan tentang budaya) maupun pembinaan oleh Dinas Pariwisata, kalangan akademisi, dan swasta.
c) Memanfaatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk merencanakan, mengatur, dan mengawasi pengelolaan sumber daya pariwisata desa melalui penetapan peraturan pembangunan usaha wisata, pengembangan aktifitas, dan alur pendistribusian retribusi serta pembagiannya.
d) Memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mendukung layanan kepariwisataan desa (dalam bentuk brosur, website khusus produk wisata, calendar of events, dan buku panduan wisata) sehingga dapat mendukung interpretasi wisatawan terhadap produk wisata berbasis budaya yang dimiliki oleh Desa Selumbung.
2) Strategi S-T, yaitu mendukung strategi diversifikasi. Strategi yang diterapkan adalah menggunakan kekuatan yang dimiliki atraksi dan daya tarik wisata untuk memanfaatkan peluang jangka panjang (produk/pasar) dengan cara:
14 a) Memanfaatkan potensi wisata di Desa Selumbung untuk dapat dikembangkan sebagai produk wisata berbasis budaya, dengan mengembangkan aktifitas wisata berbasis budaya yang nantinya wisatawan akan didampingi untuk mengelilingi desa, sehingga dapat mendukung interpretasi wisatawan tersebut dalam menikmati aktifitas keseharian masyarakat seperti menenun, menganyam, mengukir, bertani, berternak, aktifitas keagamaan, seni tari, dan tabuh.
b) Memanfaatkan produk wisata budaya yang dimiliki oleh Desa Selumbung untuk dijadikan daya tarik bagi wisatawan dengan membuat imitasi/duplikat dari kegiatan budaya setempat, hasil dari imitasi budaya tersebut dapat dirancang ke dalam time schedule yang bisa dipilih oleh wisatawan ataupun travel agent atau dapat juga melalui pemesanan (taylor made tour).
c) Memanfaatkan kearifan lokal masyarakat yang tertuang dalam awig-awig (aturan adat setempat) untuk meminimalisasi terjadinya eksploitasi sumber daya alam maupun budaya yang berlebihan akibat dari pariwisata, serta mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan mengurangi pencemaran akibat dari sampah plastik mulai dari rumah tangga di masing-masing banjar.
d) Memanfaatkan tokoh-tokoh masyarakat adat untuk dapat berperan aktif dalam pengembangan produk wisata berbasis budaya di Desa Selumbung melalui awig- awig atau perarem sehingga imitasi budaya tidak akan mengganggu tatanan budaya asli setempat (komersialisasi dan komodifikasi budaya dalam konteks pariwisata).
e) Memanfaatkan pecalang (polisi adat) untuk menjaga keamanan dan ketertiban di setiap daya tarik wisata yang terdapat di Desa Selumbung.
f) Memanfaatkan pihak dari luar desa untuk membantu pengembangan sumber daya pariwisata yang dimiliki, baik dari pemerintah kabupaten, pihak swasta seperti biro perjalanan wisata, praktisi ataupun akademisi.
3) Strategi W-O, yaitu mendukung strategi turn-around. Strategi yang digunakan adalah meminimalkan masalah-masalah internal perusahaan sehingga dapat merebut peluang pasar yang lebih baik, dengan cara:
a) Meningkatkan pengetahuan dan kompetensi masyarakat dalam bidang pariwisata, khususnya pelatihan/pembinaan kepada Pokdarwis tentang budaya pasar, karakteristik wisatawan, pemahaman terhadap budaya lokal, dan bahasa, dengan cara berkerja sama dengan pihak pemerintah kabupaten, pihak swasta, praktisi ataupun akademisi.
b) Meningkatkan kerjasama dengan pihak-pihak swasta khususnya dalam hal pengelolaan sampah, pembentukan standarisasi pembangunan dan pelayanan, serta perbaikan jaringan komunikasi.
c) Melakukan pemasaran yang konsisten dan bertanggung jawab dengan melibatkan semua pemangku kepentingan (pemerintah, swasta dan masyarakat lokal). Untuk menjaga konsistensi dan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pengembangan/pemasaran yang dilakukan, maka dapat dibentuk kelompok/organisasi pengawas kegiatan wisata desa.
4) Strategi W-T, yaitu mendukung strategi defensif. Strategi yang digunakan adalah berusaha untuk meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman, dengan cara:
a) Meningkatkan sistem pengelolaan pariwisata desa melalui pembentukan regulasi (desa adat dan dinas) yang jelas, sehingga eksploitasi budaya (komersialisasi/komodifikasi budaya dalam konteks pariwisata) yang berlebihan dapat dihindari.
15 b) Pemerintah, pihak swasta, praktisi ataupun akademisi secara berkelanjutan memberikan pelatihan dan pembinaan kepada Pokdarwis dan masyarakat setempat untuk dapat meningkatkan kompetensi keahlian masyarakat dalam mengelola sumber daya pariwisata yang dimiliki.
c) Menghidupkan kembali kelompok-kelompok seni yang dimiliki oleh Desa Selumbung guna mendukung pengembangan produk wisata desa yang berbasis budaya, dengan pembentukan aturan adat yang membuat para remaja di Desa Selumbung dapat termotivasi untuk melesatrikan budaya yang dimiliki (aturan tersebut dapat berupa jadwal kegiatan latihan tari dan tabuh yang wajib diikuti, menambahkan tari dan tabuh ke dalam kurikulum sekolah sebagai muatan lokal, membangun sanggar seni, dan mengadakan lomba-lomba antar desa).
d) Membentuk dan membina organisasi/kelompok pengawas kegiatan wisata yang berada di bawah Pokdarwis untuk menangani koherensi program kegiatan, agenda, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban kegiatan wisata (atau dapat ditambahkan ke dalam struktur organisasi Pokdarwis).
Berdasarkan hasil skoring yang dilakukan terhadap faktor-faktor Internal dan Eksternal, maka diperoleh hasil seperti tertuang dalam Gambar berikut.
Gambar 4.10 Kuadran analisis SWOT
Berdasarkan diagram bobot dan rating, Desa Selumbung saat ini berada pada kuadran II, yaitu mendukung strategi diversifikasi. Strategi diversifikasi yang diterapkan adalah menggunakan kekuatan yang dimiliki Desa Selumbung saat ini untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dalam mengembangkan produk wisata berbasis budaya. Strategi pengembangan yang dilakukan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu strategi pengembangan produk, pengelolaan, dan pemasaran.
Peluang
Kelemahan Kekuatan
Ancaman 1,68
2,19 1,89
1,95 Kuadran III
Kuadran II Kuadran IV
Kuadran I
(0,3 ; – 0,27)
16 1) Pengembangan Produk
Dalam usaha mengembangkan Desa Selumbung sebagai desa wisata berbasis budaya dapat diwujudkan dengan cara mengembangkan produk wisata yang telah ada dan mengembangkan produk baru yang masih memiliki keterkaitan dengan produk sebelumnya.
Produk yang sudah ada dapat dikemas ke dalam paket-paket wisata yang lebih menarik, disusun ke dalam daftar event budaya (calendar of event), pembuatan paket wisata trekking dan cycling, serta perancangan aktifitas bersama masyarakat (living with local community).
Pertama, penyusunan calendar of event dengan memanfaatkan kegiatan ritual keagamaan yang ada di Desa Selumbung, seperti Upacara Ngusaba Puseh yang dilaksanakan setiap sasih Katiga, Kapat, atau Kalima dan Upacara Mesegeh sebagai event budaya tahunan.
Selain itu, kegiatan pementasan Wayang Wong yang dilaksanakan setiap 210 hari sekali yaitu pada Anggarakasih Prangbakat (penanggalan Hindu Bali) juga dapat dijadikan sebagai event budaya yang menarik.
Kedua, yaitu pembuatan paket wisata Trekking dan Cycling dengan memanfaatkan lingkungan Desa Selumbung yang asri sebagai jalur trekking atau cycling.
Jalur trekking dapat ditempuh selama dua sampai tiga jam dan satu jam untuk cycling.
Cycling dapat dilakukan dengan starting point di Candidasa atau Buitan menuju Desa Selumbung. Wisatawan dapat memilih untuk bersepeda mengelilingi desa atau berhenti untuk mengamati aktifitas yang disediakan oleh masyarakat.
Ketiga, yaitu pembuatan paket wisata living with Local Community (cooking class, bertani/kebun/menanam tanaman upakara/obat, membuat banten). Masyarakat dapat memanfaatkan aktifitas keseharian masyarakat dan mengemasnya menjadi aktifitas yang bisa diikuti oleh wisatawan, yaitu memasak, bertani/berkebun, dan membuat banten. Kegiatan memasak dilakukan di rumah warga dengan menu masakan tradisional seperti pepes pisang batu, lawar nyawan, dan jaje taluh penyu. Untuk kegiatan bertani/berkebun, wisatawan dapat diarahkan ke sawah atau perkebunan milik warga.
Untuk dapat melaksanakan aktifitas ini, maka masyarakat Desa Selumbung memerlukan pelatihan ketrampilan memandu (guiding) dan berbahasa Inggris (mengantisipasi datangnya wisatawan mancanegara). Selain itu, pengelola dapat mengembangkan produk wisata di Desa Selumbung dengan menciptakan brand atau merek yang sesuai dengan target pasar yang diinginkan. Misalnya dengan memberikan label pada produk madu, tuak, dan pengembangan motif tenun. Pengelola juga dapat menciptakan pengalaman yang berbeda kepada wisatawan dengan welcome drink yang khas. Misalnya sirup bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis). Kembang sepatu dapat dimanfaatkan sebagai welcome drink, karena banyak tumbuh di Desa Selumbung dan cara pengolahannya sederhana. Bunga kembang sepatu juga memiliki keterkaitan dengan aktifitas keagamaan (Hindu) bagi masyarakat di Karangasem, sehingga sirup bunga kembang sepatu dapat dikategorikan sebagai produk wisata berbasis budaya, sesuai dengan filosofi yang dimiliki.
2) Pengelolaan
Dalam pengelolaan, setiap elemen pemangku kepentingan harus dapat berkoordinasi dengan baik. Masyarakat sebagai tuan rumah (host) harus bisa memberikan pelayanan yang terbaik. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan membentuk sistem pengelolaan aktifitas.
Sistem ini meliputi penyambutan wisatawan yang datang oleh masyarakat, pembayaran tiket masuk, pemilihan paket wisata yang diinginkan, pemanduan wisata, dan peluang untuk memberikan umpan balik (feedback) oleh wisatawan.
Pertama, wisatawan yang datang akan diarahkan untuk menuju Kantor Sekretariat Pokdarwis (pusat informasi wisata). Kantor Pokdarwis dipilih karena lokasinya strategis, terletak di tengah desa dan di seberang lapangan desa yang dapat digunakan sebagai area parkir.
Untuk memudahkan wisatawan, maka perlu dibuatkan petunjuk arah yang jelas, mulai dari
17 jalan utama Denpasar-Karangasem menuju Desa Selumbung dan mengarahkan wisatawan untuk menuju Kantor Pokdarwis.
Pokdarwis sebagai pengelola sumber daya pariwisata desa saat ini perlu membuat aturan mengenai pembangunan fasilitas wisata serta pembagian retribusi yang disesuaikan dengan awig-awig desa setempat. Pokdarwis perlu mendata jumlah homestay dan jenis aktifitas yang dapat diikuti oleh wisatawan, membuat rencana jangka menengah secara tertulis dan diketahui oleh pihak desa adat dan desa dinas, melibatkan perwakilan masyarakat dari masing- masing banjar dalam pengambilan keputusan, serta melakukan rapat terbuka terkait kemajuan ataupun hambatan yang dialami selama proses pengembangan.
Pokdarwis perlu melakukan kerja sama dengan desa dalam mendatangkan praktisi atau akademisi untuk menghidupkan kembali kelompok-kelompok seni yang ada di masyarakat, dengan mewajibkan adanya ekstrakulikuler di setiap sekolah mengenai budaya lokal (tari dan tabuh) untuk meningkatkan pengetahuan dan kecintaan generasi muda terhadap sejarah dan budaya yang berada di Desa Selumbung. Pemerintah kabupaten secara berkelanjutan memberikan pelatihan/pembinaan kepada masyarakat dengan mengajak praktisi ataupun akademisi terkait pengetahuan tentang pariwisata, budaya pasar, pemahaman budaya lokal, dan keahlian berbahasa.
Untuk memudahkan tugas dan tanggung jawab Pokdarwis sebagai pengelola sumber daya pariwisata desa maka pembuatan buku panduan wisatawan (guide book) dan buku panduan pengelola sangat diperlukan.
3) Pemasaran
Sebelum melakukan pemasaran, yang perlu diperhatikan adalah kesiapan produk dan kesiapan sumber daya (manusia dan modal). Di samping itu, juga diperlukan modifikasi produk-produk lama untuk dapat menyesuaikan dengan kebutuhan pasar yang cenderung berubah-berubah. Sehingga perlu dilakukan segmentasi pasar (segmenting), penentuan target pasar (targeting), dan posisi pasar (positioning).
Segmentasi pasar dilakukan melalui identifikasi karakteristik wisatawan berdasarkan demografi, psikografi, dan geografinya. Wisatawan yang memiliki peluang cukup besar untuk berkunjung ke Desa Selumbung adalah kelompok pria ataupun wanita dewasa (usia 18 sampai dengan 45 tahun), yang memiliki daya beli cukup tinggi (karena produk seperti tenun, VCO, dan madu harganya cukup tinggi), dan menyukai karakteristik budaya masyarakat tradisional Bali yang erat kaitannya dengan ritual adat/keagamaan.
Sehingga dapat diidentifikasi bahwa taget pasar yang tepat untuk Desa Selumbung adalah wisatawan asal Eropa (khususnya Perancis, Belanda, Jerman) dan Amerika. Wisatawan asal Eropa dan Amerika dipilih karena karakteristik mereka yang cenderung tertarik pada kebudayaan tradisional, pranata sosial, tarian drama, musik, seni, upacara adat dan keagamaan serta nuansa pedesaan, suka mencoba pengalaman dan aktivitas baru (cenderung berpetualang), suka berbelanja kerajinan tangan dan barang-barang antik. Dengan demikian, untuk menciptakan posisi/citra Desa Selumbung di mata wisatawan perlu dilakukan promosi yang berkelanjutan dengan tidak hanya menonjolkan atraksi alam, tetapi juga atraksi budaya khususnya aktifitas keseharian masyarakat dan barang kerajinan tangan sebagai destination image dari Desa Selumbung.
Untuk meningkatkan promosi pariwisata khususnya produk wisata berbasis budaya di Desa Selumbung, diperlukan koordinasi dengan stakeholder terkait menyusun program- program pemasaran pariwisata secara terpadu, dirancang bersama dengan seluruh elemen pemangku kepentingan serta meningkatkan kerjasama dengan pihak travel agent, lembaga pendidikan, maupun promosi di media sosial seperti instagram, facebook, dan youtube.
Koordinasi tersebut harus dimulai dari Pokdarwis sebagai pengelola, merancang, menyusun,
18 dan mendistribusikan proposal kerjasama kepada pihak-pihak luar seperti pemerintah ataupun perusahaan swasta (misalnya biro perjalanan dan perhotelan).
V. SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat dikemukakan bahwa Desa Selumbung memiliki peluang untuk mengembangkan produk wisata berbasis budaya. Produk wisata tersebut berupa rangkaian aktifitas pariwisata yang dapat dikemas ke dalam paket wisata. Aktifitas wisata berbasis budaya di Desa Selumbung terdiri dari aktifitas trekking, menenun, memanen madu, memanen air nira aren (tuak), menanam pohon, menganyam, mengukir, membuat patung tanah liat, menari, melihat aktifitas keagamaan, cooking class, dan sightseeing.
Strategi diversifikasi merupakan strategi dengan memanfaatkan kekuatan untuk merebut peluang dalam pengembangan produk wisata saat ini, menciptakan produk baru, dan pendistribusian produk (pemasaran). Adapun strategi pengembangan Desa Selumbung sebagai desa wisata berbasis budaya dapat dilakukan dengan memperhatikan tiga aspek, yaitu aspek pengembangan produk, pengelolaan, dan pemasaran. Dari sisi pengembangan dan pengelolaan produk, Pokdarwis harus konsisten dalam mengorganisasikan dan melaksanakan program- program yang telah direncanakan, dengan tetap melibatkan masyarakat desa secara aktif. Untuk menjaga konsistensi program tersebut, Pokdarwis memerlukan adanya pihak yang mengawasi kinerja mereka, yaitu melalui pembentukan kelompok atau organisasi pengawas pengembangan kepariwisataan desa. Dalam hal pemasaran, dengan cara mengoptimalkan pemanfaatan teknologi (media sosial) untuk membentuk destination image Desa Selumbung sebagai desa wisata berbasis budaya dan memperluas kerjasama dengan pihak luar desa (pemerintah dan swasta) untuk mendatangkan wisatawan sesuai target pasar yang diinginkan.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disarankan bahwa dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya di desa Selumbung dibutuhkan koordinasi dan kerjasama seluruh stakeholder pariwisata (pemerintah, swasta, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat) dalam setiap pelaksanaan program pemberdayaannya.
DAFTAR PUSTAKA
Buhalis, D. 2000. Marketing the Competitive Destination of the Future. Tourism Management, 21 (1): 97-116.
Desa Selumbung. 2017. Buku Profil Desa Selumbung 2017. Karangasem.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karangasem. 2016. Buku Kepariwisataan Kabupaten Karangasem Tentang Perolehan Pendapatan Asli Daerah Karangasem.
Amlapura.
Muljadi, A.J. 2009. Kepariwisataan dan Perjalanan. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Prasiasa, Putu Oka. 2011. Destinasi Pariwisata Berbasis Masyarakat. Selemba Empat. Jakarta.
Soekadijo. 2000. Anatomi Pariwisata. Gramedia. Jakarta.
Sugiyono. 2003. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta. Bandung.
Sunaryo. 2013. Kebijakan Pembangunan Destinasi Pariwisata, Konsep dan Aplikasinya. Gava Media. Yogyakarta.
Rangkuti, Freddy. 2017. Analisis SWOT-Teknik Membedah Kasus Bisnis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.