• Tidak ada hasil yang ditemukan

(2) stress management of student using art therapy in indonesia is very appropriate although not yet implemented in education

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "(2) stress management of student using art therapy in indonesia is very appropriate although not yet implemented in education"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PERSEPSI THERAPIST TENTANG KETEPATAN PENGGUNAAN ART THERAPY UNTUK MENGURANGI STRES PESERTA DIDIK

DALAM PROSES PENDIDIKAN

Chintya Risfiana Guta1, Alfaiz2, Rila Rahma Mulyani2

1 Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling STKIP PGRI Sumatera Barat

2 Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]

ABSTRACT

Background of this research was unpreparedness of less optimal giving guidance and counseling service in solving student problem. The existence of art therapy is expected to help overcome the problem of learners who are under stress. But it hasn’t been extended by the therapist in the world of education. Kinds of this reasearch is a qualitative descriptive. In this research, the researcher used interview and documentation.

The informant of this research were five therapists and two clients. The data of this research tested with used trianggulasi, membercheck, and technique from reduction the data, presenting the data and conclusion. The results of this research showed of therapist’s perception that (1) stress management of student using art therapy in Singapore is very appropriate and has applied in education. (2) stress management of student using art therapy in indonesia is very appropriate although not yet implemented in education. it is expected that therapists in the field of art therapy can socialize art therapy to guidance and counseling teachers in Indonesia.

Keywords: stress, therapist, art therapy

PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sangat cepat dewasa ini telah mengantarkan manusia pada peradaban modern. Idealnya manusia modern adalah manusia yang mampu berpikir rasional dan mampu memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah

dicapai dengan baik untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Seharusnya manusia modern adalah manusia yang mampu untuk memadukan antara perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan dengan selaras dan seimbang, sehingga mereka mampu menjalani kehidupan dengan lebih bijak dan arif.

(2)

Namun fakta mengatakan lain, menurut Amin & Alfandi (2007:39) ternyata sebagian besar manusia modern saat ini justru kualitas kemanusiaannya lebih rendah dibandingkan dengan kemajuan teknologi dan kemampuan berpikir yang telah dicapai. Manusia modern saat ini, adalah manusia yang telah kehilangan makna hidupnya, manusia kosong “The Hollow Man”.

Mumpuni dan Wulandari, (2010:18) yang dimaksud stres adalah gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor luar atau ketegangan. Penanganan masalah tersebut seyogyanya segera dientaskan dan mengembalikan kehidupan efektif peserta didik sesuai dengan kebutuhan yang semestinya dan membutuhkan hubungan dan kerja sama yang baik dari semua elemen, baik itu orang tua, kepala sekolah, wali kelas dan guru BK. Dalam penanganan kasus tersebut, bimbingan dan konseling sangat berperan penting.

Guru BK merupakan orang yang memiliki andil dalam penanganan masalah-masalah yang dialami siswa, oleh karena itu guru BK seharusnya memiliki kemampuan yang baik dalam hal memahami fisik, psikologi dan spiritual peserta didik, agar pemberian bantuan dapat diterima peserta didik

sehingga kembali pada kehidupan efektifnya. Guru profesional adalah guru yang mampu memberikan inspirasi, motivasi dan juga inovatif dalam pendidikan saat sekarang ini. Guru profesional juga diharapkan membawa dunia pendidikan menjadi berkualitas.

Berdasarkan uraian di atas, terlihat peranan guru BK sangat penting di sekolah untuk membantu menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada disekolah dan guru BK harus memiliki cara jitu dalam menyelesaikan permasalahan yang beragam. Salah satu cara jitu dalam menyelesaikan masalah stres pada peserta didik adalah dengan menggunakan art therapy. Menurut Almukhambetov, dkk (2011:1526), art therapy adalah pengobatan menggunakan seni yang merupakan komponen yang terkait seni-pedagogi.

Istilah art therapy merupakan terapi alternatif menggunakan seni melalui pengekspresian psiko emosional seorang individu.

Menurut Dace (2015:1526) tujuan art therapy adalah untuk mengekspresikan, menghidupkan kembali konflik internal, dan akhirnya menyelesaikan konflik untuk membantu proses adaptasi psikis individu di lingkungan sekitar, dan disisi lain untuk

(3)

membantu seorang individu memperluas cakrawala budaya artistik dan visi artistik secara objektif.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa art therapy merupakan terapi seni yang membantu dalam menangani permasalahan individu baik itu masalah dalam dirinya maupun diluar dirinya

Saat sekarang ini sebagai calon guru masa depan sudah seharusnya membuat perubahan dalam metode pendidikan, harus mampu melakukan inovasi dalam pemberian pelayanan pendidikan kepada peserta didik termasuk guru BK dalam pelayanan konseling. Akan tetapi, pertanyaannya adalah apakah tepat dan cocok art therapy dilaksanakan dalam dunia pendidikan seperti sekolah, perguruan tinggi dan bagi pelaku pendidikan sebagai keahlian yang mampu membentuk mental generasi dalam menghadapai Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) merupakan salah satu tantangan yang besar bagikita semua, tingginya tingkat persaingan dalam aspek ekonomi juga menimbulkan efek terhadap aspek lainnya terutama dalam pendidikan.

Pendidikan saat sekarang ini adalah pendidikan yang mempersiapkan

generasi untuk dapat mengahadapi persaingan global, baik itu dalam segi kognitif maupun segi afektif. Masa depan suatu bangsa sangat tergantung pada mutu sumber daya manusianya dan kemampuan peserta didiknya untuk menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Hal tersebut dapat kita wujudkan melalui pendidikan dalam keluarga, pendidikan masyarakat maupun pendidikan sekolah. Salah satu negara yang memiliki sistem pendidikan terbaik adalah Singapore.

Menurut Tan, Koh & Choy (2016:6) kurikulum pendidikan Singapore ternyata tidak berbeda jauh dari kurikulum pendidikan di Indonesia.

Mereka juga menyelenggarakan ujian nasional atau yang sering disebut UN bagi semua peserta didik setiap akan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan selama melaksanakan PLBK Sekolah di SMA N 2 Padang pada bulan Agustus hingga Desember 2016, ada peserta didik yang mengalami stress karena tuntutan dari sekolah seperti: banyaknya tugas yang diberikan oleh guru, mengharuskan siswa untuk les tambahan diluar jam pelajaran, tuntutan yang sangat tinggi dalam bidang

(4)

akademik akan tetapi mengabaikan kebutuhan emosional siswa, pelabelan pada anak yang duduk di kelas unggul, tuntutan pergantian kurikulum dan kejiawan yang terguncang dalam diri individu karena beberapa faktor seperti:

ekonomi, keluarga dan lingkungan sosial. Permasalahan yang muncul tersebut menyebabkan timbulnya stres terhadap peserta didik sehingga kurangnya minat dan motivasi belajar siswa, kesehatan siswa menjadi terganggu, bahkan banyaknya kasus bolos dari sekolah yang dilakukan oleh siswa.

Hal tersebut juga diperkuat dengan hasil wawancara yang dilakukan dengan peserta didik pada tanggal 8 Desember 2016, mereka banyak mengeluh dan menyatakan stres dengan berbagai tuntutan yang dibebankan kepada mereka. Peserta didik membenarkan tindakan yang mereka lakukan ketika stres, seperti: bolos sekolah, motivasi belajar kurang, emosi tidak terkontol dan kurang konsentrasi saat belajar.

Perbedaan dua sistem pendidikan tersebut tentunya memiliki tingkat stres yang berbeda yang dialami peserta didikdalam proses pendidikan. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengangkat judul “Persepsi Therapist

Mengenai Ketepatan Penggunaan Art Therapy untuk Menangani Stres Peserta Didik dalam Proses Pendidikan”.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka fokus penelitian ini adalah persepsi therapist tentang ketepatan penggunaan art therapy untuk mengurangi stres pada peserta didik dilihat darifaktor eksternal dan internal di Singapore dan Indonesia. Adapun rumusan masalah pada penelitian adalah bagaimana pandangan para ahli tentang ketepatan penggunaan art therapy untuk mengurangi stres pada peserta didik dalam pendidikan?

Tujuan penelitian penulis adalah untuk mendeskripsikan persepsi therapist tentang ketepatan penggunaan art therapy untuk mengurangi stres pada peserta didik dilihat dari faktor internal dan eksternal di Singapore dan Indonesia. Manfaat penulisan ini adalah bagi peserta didik agar dapat membantu dalam mengurangi stres dengan pendekatan yang lebih spesifik, guru BK. agar dapat menambah wawasan dan pemahaman konselor dalam membantu mengatasi masalah stres pada peserta didik, pengelola program studi agar mencetak pendidik yang memiliki integritas tinggi dalam meningkatkan pelayanan bimbingan dan konseling di

(5)

sekolah maupun luar sekolah, peneliti untuk melihat sejauh mana ketepatan penggunaan art therapy dalam proses pendidikan serta peneliti selanjutnya sebagai bekal pengetahuan untuk dapat mengetahui ketepatan penggunaan art therapy untuk mengatasi stres dalam dunia pendidikan.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian yang dilakukan termasuk penelitian kualitatif yang menghasilkan data deskriptif. Menurut Moleong (2005:6) penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll. Secara holistik dan dengan cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Mei 2017 di lembaga konseling atau psiko therapy yaitu REDHA Limited (Singapore), Art Therapy Jakarta (Jakarta) dan Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy (Padang). Ketiga tempat tersebut merupakan biro konseling yang sudah menggunakan art therapy.

Informan ditentukan berdasarkan pertimbangan bahwa informan tersebut memiliki pengalaman yang banyak mengenai latar belakang penelitian dan benar-benar terkait dengan permasalahan yang akan diteliti yaitupersepsi therapist mengenai ketepatan penggunaan art therapy untuk menangani stresspeserta didik dalam proses pendidikan.

Informan kunci:

No Nama Jenis Kelamin

Jabatan

1 AAR L Therapist

Singapore

2 MR P Therapist

Indonesia

Informan Tambahan No Nama Jenis

Kelamin

Jabatan

1 TT L Therapist

Singapore

2 MAR P Therapist

Singapore

No Nama Jenis Kelamin

Jabatan

1 CH L Therapist

Indonesia

2 IL P Therapist

Indonesia

3 MRh P Therapist

Indonesia

Agar memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan beberapa alat pengumpulan data berupa wawancara, dan studi dokumentasi. Wawancara

(6)

yang digunakan merupakan jenis wawancara semi terstruktur. Menjamin keabsahan data dan kepercayaan data penelitian yang peneliti peroleh dapat dilakukan dengan cara sebagaimana dikemukakan Sugiyono (2011:302-311), yaitu: kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), dapat dipercaya (depenability). Data yang telah dikumpulkan seterusnya dianalisis, Miles dan Huberman (Sugiyono, 2011:277-283) menjelaskan dalam penelitian kualitatif ada 3 tahapan analisis, yaitu: reduksi data (data reduction), penyajian data (display data) dan penarikan kesimpulan (verifikasi) HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian mengungkapkan pandangan dan pendapat therapist tentang ketepatan penggunaan art therapy dalam mengatasi masalah stres yang dialami oleh peserta didik dan melihat kecocokan penerapan art therapy dalam dunia pendidikan. Dapat dijelaskan bahwa art therapy sangat tepat digunakan dalam membantu individu yang mengalami stres, baik itu secara internal maupun eksternal seorang individu. Hal tersebut menganggu perkembangan individu seperti pola pikir, sikap bahkan moral. Namun karena perbedaan sistem pendidikan

membuat art therapy masih belum diterapkan disekolah. Di negara-negara tetangga, seperti Singapore art therapy telah digunakan dalam dunia pendidikan bahkan setiap konselor sekolah harus mampu melakukan terapi kepada peserta didik. Lain halnya dengan Indonesia, indonesia masih belim menerapkan art therapy dalam dunia pendidikan dikarenakan sistem pendidikan yang belum memberi peluang dan kesadaran dari guru BK yang masih minim dalam mengaplikasin ilmu ilmu baru yang berbau psikoterapi modern.

Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hawari (2006:10-11) bahwa stres dapat terjadi baik itu berasal dari dalam diri (internal) maupun luar diri (eksternal) individu. Sejalan dengan itu Farokhi (2001:2090) mengatakan tujuan art therapy adalah untuk meningkatkan atau mempertahankan kesehatan mental dan kecerdasan emosional.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang persepsi therapist tentang ketepatan penggunaan art therapy untuk menangani stres peserta didik dalam proses pendidikan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikutpersepsi therapist tentang ketepatan penggunaan art therapy untuk menangani stres

(7)

peserta didik dalam proses pendidikan dilihat dari faktor internal dan eksternal di Singapore dan Indonesia adalah art therapy tepat dilaksanakan di sekolah dalam menangani kasus stres peserta didik. Setiap sekolah di Singapore telah ada therapist bahkan konselor sekolah sudah harus mampu melaksanakan terapi di sekolah untuk menangani masalah siswa. Sedangkan di Indonesia art therapy belum ada disekolah hal tersebut dikarenakan sistem pendidikan yang berbeda. Kendala yang di rasakan dalam pelaksanaan art therapy baik itu di Singapore dan Indonesia adalah kesediaan klien dan partisipasi semua pihak seperti orang tua, guru dan teman.

Dalam pengaplikasian art therapy dari setiap penyebab atau faktor stres itu sama.

KEPUSTAKAAN

Almukhambetov, Barikzhan, dkk. 2015.

The Appication Of Figurative Art’s Capabilities In The Art Pedagogical Activity Of A Teacher. Jurnal Procedia Social Behavioral Sciences. No. 197.

Hlm. 1525-1529.

Amin, Samsul Munir & Al-Fandi Haryanto. 2007. Kenapa Harus Stress: Terapi Stress Ala Islam.

Jakarta: AMZAH.

Bungin, Burhan. 2011. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana.

Dace Vinola, dkk. 2015. Effects of Art Therapy on Stress and Anxiety of Employees. Jurnal Proceedings Of The Latvian Academy Of Sciences.

Hlm. 1526.

Farokhi, Masoumeh.2011. Humanistic Psychiatry. Jurnal Procedia Social Behavioral Sciences. No. 33. Hlm.

358-362.

Hawari, Dadang. 2006. Manajemen Stres, Cemas dan Depresi.

Jakarta:FK UI.

Moleong, Lexy J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:

Remaja Rosdakarya.

Mumpuni, Yekti & Wulandari, Ari.

2010. Cara Jitu Mengurangi Stres.

Yogyakarta: Andi.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D.

Bandung: Alfabeta.

Tan, C., Koh, K. & Choy, W. (2016).

The Education System In Singapore. Asian Education Systems (pp. 129-148). Toruñ:

Adam Marszalek Publishing House.

Referensi

Dokumen terkait