• Tidak ada hasil yang ditemukan

Struktur Bahasa Aceh

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Struktur Bahasa Aceh"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

TIDAK DIPERDAGANGKAN UNTUK 902

]

Struktur Bahasa Aceh

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

(2)

0050 8638

'

(3)

TIDAK DIPERDAGANGKAN UNTUK UMUM

Struktur Bahasa Aceh

^

(4)
(5)

. < ¥ " - -ri

Struktur Bahasa Aceh

v^ujx ins»,

v' "*>

VOOR u,

Si

Oleh:

M. Adnan Hanafiah Ibrahim Makam

H A D I A H

PUSAT PEMBINAAN OAN PENGEMBANGAN RAHARA j

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta

1984

UI

(6)

Naskah buku ini semula merupakan hasil Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Daerah Istimewa Aceh 1977/1978, disunting dan diterbitkan dengan dana Proyek Penelitian Pusat.

Staf inti Proyek Pusat: Dra. Sri Sukesi Adiwimarta (Pemimpin), Drs. Hasjmi Dini (Bendaharawan), Drs. Lukman Hakim (Sekretaris), Prof. Dr. Haryati Soebadio, Dr. Amran Halim dan Dr. Astrid Susanto (konsultan).

Sebagian atau seluruh isi buku ini dilarang digunakan atau diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit kecuali dalam hal kutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah.

Alamat penerbit: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun

Jakarta Timur.

iv

(7)

Dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (1979/1980-1983/1984) telah digariskan kebijaksanaan pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional dalam berbagai seginya. Dalam kebijaksanaan ini, masalah kebahasa- an dan kesastraan merupakan salah satu masalah kebudayaan nasional yang perlu digarap dengan sungguh-sungguh dan berencana sehingga tujuan akhir pembinaan dan Pengembangan bahasa Indonesia dan bahasa daerah, ter- masuk sastranya, tercapai. Tujuan akhir itu adalah berkembangnya bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi nasional dengan baik di kalangan masyarakat luas.

Untuk mencapai tujuan akhir itu, perlu dilakukan kegiatan kebahasaan dan kesastraan, seperti (1) pembakuan ejaan, tata bahasa, dan peristilahan melalui penelitian bahasa dan sastra Indonesia dan daerah, penyusunan berbagai kamus Indonesia dan kamus daerah, penyusunan berbagai kamus istilah, serta penyusunan buku pedoman ejaan, pedoman tata bahasa, dan pedoman pembentukan istilah, (2) penyuluhan bahasa Indonesia melalui berbagai media massa, (3) penerjemahan karya sastra daerah yang utama, sastra dunia, dan karya kebahasaan yang penting ke dalam bahasa Indonesia, (4) Pengembangan pusat informasi kebahasaan dan kesastraan melalui penelitian, inventarisasi, perekaman, pendokumentasian, dan pembinaan jaringan informasi, dan (5) pengembangan tenaga, bakat, dan prestasi dalam bidang bahasa dan sastra melalui penataran, sayembara mengarang, serta pemberian bea siswa dan hadiah atau tanda penghargaan.

Sebagai salah satu tindak lanjut kebijaksanaan itu, dibentuklah oleh Pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah pada Pusat Pembinaan dan Pengembangan bahasa

v

(8)

Proyek itu bertugas mengadakan penelitian bahasa dan sastra Indonesia dan daerah dalam aspeknya, termasuk peristilahan untuk berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Karena luasnya masalah kebahasaan dan kesastraan yang perlu di- jangkau, sejakbahun 1976 Proyek Penelitian Pusat ditunjang oleh 10 proyek penelitian tingkat daerah yang berkedudukan di 10 propinsi, yaitu:

(1) Daerah Istimewa Aceh, (2) Sumatra Barat, (3) Sumatra Selatan, (4) Jawa Barat, (5) Daerah Istimewa Yogyakarta, (6) Jawa Timur, (7) Kali- mantan Selatan, (8) Sulawesi Selatan, (9) Sulawesi Utara, dan (10) Bali.

Selanjutnya, sejak tahun 1981 telah diadakan pula proyek penelitian bahasa di 5 propinsi lain, yaitu: (1) Sumatra Utara, (2) Kalimantan Barat, (3) Riau, (4) Sulawesi Tengah, dan ,(5) Maluku. Pada tahun 1983 ini telah diadakan pula proyek penelitian bahasa di 5 propinsi lain, yaitu:

,(1) Jawa Tengah, (2) Lampung, (3) Kalimantan Tengah, (4) Irian Jaya, dan (5) Nusa Tenggara Timur. Dengan demikian, pada saat ini terdapat 20 proyek penelitian tingkat daerah di samping Proyek Penelitian Pusat, yang berkedudukan di Jakarta.

Program kegiatan proyek penelitian bahasa di daerah dan proyek Penelitian Pusat sebagian disusun berdasarkan Rencana Induk Pusat Pembina an dan Pengembangan Bahasa dengan memperhatikan isi buku Pelita dan usul-usul yang diajukan oleh daerah yang bersangkutan.

Proyek Penelitian Pusat bertugas, antara lain, sebagai koordinator, pengarah administratif dan teknis proyek penelitian daerah serta menerbitkan hasil penelitian bahasa dan sastra. Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembang- an Bahasa berkedudukan sebagai pembina proyek, baik proyek penelitian tingkat daerah maupun Proyek Penelitian Pusat.

Kegiatan penelitian bahasa dilakukan atas dasar kerja sama dengan perguruan tinggi baik di daerah maupun di Jakarta.

Hingga tahun 1983 ini Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah telah menghasilkan lebih kurang 652 naskah laporan penelitian bahasa dan sastra serta pengajaran bahasa dan sastra, dan 43 naskah kamus dan daftar istilah berbagai bidang ilmu dan teknologi. Atas dasar pertimbangan efisiensi kerja sejak tahun 1980 penelitian dan penyusunan kamus dan daftar istilah serta penyusunan Kamus bahasa Indonesia dan bahasa daerah ditangani oleh Proyek Pengembangan Bahasa dan sastra Indonesia dan Daerah. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

vi

(9)

mahasiswa, dosen, guru, tenaga peneliti, serta masyarakat umum, naskah- naskah laporan hasil penelitian itu diterbitkan setelah dinilai dan disunting.

Buku Struktur Bahasa Aceh ini semula merupakan naskah laporan penelitian yang berjudul "Struktur Bahasa Aceh", yang disusun oleh tim peneliti Fakultas Keguruan Universitas Syah Kuala dalam rangka kerja sama dengan Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah -Daerah Istimewa Aceh tahun 1977/1978. Setelah melalui proses penilaian dan disunting oleh Drs. Farid Hadi dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, naskah ini diterbitkan dengan dana yang disediakan oleh Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta.

Akhirnya, kepada Dra. Sri Sukesi Adiwimarta, Pemimpin Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta (Proyek Penelitian Pusat) beserta staf, tim peneliti, serta semua pihak yang memungkinkan terbitnya buku ini, kami ucapkan terima kasih yang tak terhingga.

Mudah-mudahan buku ini bermanfaat bagi pembinaan dan pengembang- an bahasa dan sastra di Indonesia.

Jakarta, Januari 1984 Amran Halim

Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

vu

(10)
(11)

PRAKATA Halaman DAFTAR ISI 1 Bab I Pendahuluan 1 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Masalah 2 1.3 Tujuan Penelitian 2

1.4 Wilayah dan Jumlah Pemakai 3 1.5 PeTan dan Kedudukan 4 1.5.1 Tempat dan Situasi Pemakai 4

1.5.2 Tradisi Sastra Lisan 5 1.5.3 Tradisi Sastra Tulis 6

1.6 Studi Pustaka 1 1.7 Metoda 7 Bab II Fonologi o 2.1 Fonem . . 9

2.2 Ejaan 35 Bab III Morfologi 39 3.1 Afiksasi 39 3.1.1 Distribusi Imbuhan 39

3.1.2 Proses Morfofonemik 43 3.13 Fungsi dan Arti Tiap Imbuhan 44

3.2 Reduplikasi 54 ix

(12)

3-2-2 Kombinasi Perulangan dengan Afiks 55

3.3 Pemajemukan (Kompositum) 55

Bab IV Sintaksis 57 4.1 Klausa 57 4.1.1 Klausa Verbal 57 4.12 Klausa Verbal Transitif. 57

4.23iKlausa Verbal Intransitif 58

4.1.4 Klausa Transitif 58 4.1.5 Klausa Aktif 58 4.1.6 Klausa Pasif 59 4.1.7 Klausa Nominal 59 4.1.8 Klausa dengan Kata Sifat 59

4.2 Struktur Frase 60 4.2.1 Frase Nominal (Noun Phrase) 60

4.2.2 Frase Verbal 62 4.2.3 Frase Ajektif 63 4.2.4 Frase Numeral 64 4.3 Sistem Bilangan 64 4.4 Pola Kalimat Dasar 65 4.4.1 Kalimat Verbal 67 4.4.2 Kalimat Nominal 68 DAFTAR BACAAN 71

LAMPIRAN 72

1. DAFTAR KOSA KATA DASAR 72

2. REKAMAN CERITA RAKYAT DAN TERJEMAHANNYA . 76

x

(13)

Latar Belakang

Bangsa Indonesia terdiri dari bermacam-macam suku bangsa yang masing-masing memiliki bahasa daerahnya. Bahasa merupakan bagian kebudayaan sehingga bahasa daerah merupakan bagian yang penting dari kebudayaan Indonesia.

Dengan demikian,masalah pembinaan dan pengembangan bahasa di Indonesia, baik bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi negara maupun bahasa-bahasa daerah, sudah merupakan masalah yang memerlukan perencanaan secara nasional.

Pembinaan dan pengembangan bahasa daerah merupakan ke- harusan, di samping pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia.

Keharusan ini tertuang dalam penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 Bab XV, Pasal 36, yang berbunyi sebagai berikut.

"Di daerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri, yang dipelihara, oleh rakyatnya dengan baik-baik, maka bahasa-bahasa itu akan di- hormati dan dipelihara juga oleh Negara."

Sehubungan dengan penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 itu, bahasa Aceh sebagai salah satu bahasa daerah yang masih hidup dan masih dipakai oleh lebih kurang 1.777.701 jiwa masyarakat Aceh perlu dipelihara dan dibina sehingga akan berfungsi sesuai dengan kedudukannya selaku bahasa daerah.

Fungsi umum bahasa Aceh ialah sebagai alat komunikasi dalam keluarga dan masyarakat. Aceh, sebagai .pengungkap pikiran, dan kehendaknya. Selain itu, tentu juga berfungsi sebagai lambang identitas dan kebanggaan daerahnya. Dalam hubungan dengan pembinaan bahasa Indonesia, bahasa Aceh mempunyai peranan juga.

1

(14)

Mengingat pentingnya pembinaan dan pengembangan bahasa Aceh seperti tersebut di atas, penelitian untuk memperoleh data dan deskriptif terhadap bahasa Aceh perlu segera dilakukan.

Masalah

Berdasarkan survei pustaka dan keterangan lain-lain, ternyata penelitian tentang bahasa Aceh, terutama mengenai struktur dan latar belakang sosialnya belum pernah dilakukan. Padahal struktur bahasa merupakan salah satu aspek kebahasaan yang sangat penting untuk pembinaan dan pengembangan bahasa itu, di samping aspek- aspek yang lain.

Dua buah kamus dan sebuah buku tentang bahasa Aceh yang pernah diterbitkan adalah sebagai berikut. ..

1. Atjehsch Handwoordenboek (Atjehsh-Nederland) oleh J.Kraemer, 1931

2. Atjehsch-NederlandschWoordenbook 0leh Dr. A. R. Hosein Djajadiningrat, 1934.

3. Atjehsch Taal oleh K.F.H. Van Langen, 1889.

Buku itu didasarkan pada bahan atau data beberapa tahun yang lalu sehingga uraiannya tidak sesuai menurut sistem bahasa Aceh yang hidup dewasa ini. Dengan demikian, jelaslah bahwa data dan informasi yang lengkap 'mengenai bahasa Aceh belum tersedia sehingga usaha pembinaan dan pengembangannya belum dapat dilaksanakan menurut semestinya.

Oleh sebab itu, masalah-masalah itu merupakan masalah pokok yang perlu segera digarap.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data dan informasi tentang struktur bahasa Aceh dan latar belakang sehingga dapat memberikan bahan yang berguna bagi pembinaan dan pengemb anganny a.

Selain itu, diharapkan juga hasil penelitian ini dapat menjadi sumbangan untuk kelengkapan kepustakaan kebahasaan di Indonesia, terutama kepustakaan bahasa daerah.

(15)

Secara terperinci tujuan penelitian ini ialah memperoleh data dan informasi tentang:

1) latar belakang, yang mencakup lokasi, luas daerah pemakaian, jumlah pemakai, lingkungan pemakai, tradisi sastra lisan dan tulisan,

serta variasi dialektis;

2) struktur bahasa, yang mencakup fonologi, morfologi, dan sitaksis.

Wilayah dan Jumlah Pemakai

Berdasarkan administrasi pemerintah, Daerah Istimewa Aceh terdiri dari 10 buah daerah tingkat II, yaitu Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Pidie, Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Tenggara, Kotamadya Banda Aceh, dan Kotamadya Sabang.

Dari jumlah daerah tingkat II itu, yang termasuk dalam wilayah bahasa Aceh ialah Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Barat, Kotamadya Banda Aceh, Kotamadya Sabang, sebagian besar Aceh Timur, dan sebagian Aceh Selatan, sedangkan Aceh Tengah dan Tenggara, masing-masing termasuk wilayah bahasa Gayo dan bahasa Alas. Sebagian kecil Aceh Timur adalah wilayah bahasa Tamiang dan sebagian Aceh Selatan termasuk wilayah bahasa Jamee, bahasa Singkil, dan bahasa Kluet. 'Demikian juga, Pulau Simeulu yang ter- masuk ke dalam wilayah Aceh Barat adalah wilayah bahasa Simeulu.

Dengan demikian, sebagian besar Daerah Istimewa Aceh adalah daerah/wilayah bahasa Aceh.

Jumlah penduduk Daerah Istimewa Aceh berdasarkan sensus terakhir 2.002.782 jiwa.'Dari jumlah itu yang mempergunakan bahasa Aceh sebagai bahasa pertamanya (bahasa ibu) adalah sebanyak 1.775.701 jiwa. Berdasarkan jumlah itu dapat dikatakan 80% penduduk Daerah

Istimewa Aceh adalah penduduk yang berbahasa ibu bahasa Aceh.

Variasi Dialektis

Hampir setiap bahasa memiliki variasi dialektis, hanya besar atau kecilnya variasi dialektis itu yang berbeda-beda.

Demikian juga dalam bahasa Aceh terdapat juga variasi dialektis, tetapi variasi itu sangat kecil sehingga tidak mengganggu kelancaran dalam berkomunikasi antarpenutur bahasa itu.

(16)

Berdasarkan letak geografis dialek bahasa Aceh terdiri atas:

1) dialek Aceh Besar, 2) dialek Pidie,

3) dialek Peusangan (Aceh Utara), 4) dialek Pasai,

5) dialek Aceh Timur, 6) dialek Aceh Barat, dan 7) dialek Daya.

Dialek Aceh Besar ditandai oleh Pengucapan £" a J7 pada akhir kata V^g diucapkan [t] dalam dialek itu. ltupun terbatas pada beberapa buah kata seperti pada contoh di bawah ini.

saka ßakej 'gula' tika ßikej 'tikar' teuka /teukej 'datang'

Dialek Pidie ditandai dengan pengucapan bunyi /oi/ untuk bunyi /o/, sebagai berikut.

bröh (hroihj 'sampah' cröh [croih] 'menggoreng' tiköh [tikoihj'tikus' Haloh [haloihj 'halus' khoh [khoihj'b annpok' utoh ßitoihj 'tukang'

1.5 Peran dan Kedudukan

1.5.1 Tempat dan Situasi Pemakaian

Dalam penggunaan sehari-hari bahasa Aceh dipakai dalam lingku- ngan keluarga dan masyarakat pada suasana tidak resmi. Dalam percakapan pada pertemuan airsan yang bersifat keluarga, upacara- upacara adat, dan rapat umum pada umumnya dipergunakan bahasa Aceh, kecuali di kota-kota. Di kota-kota dalam situasi itu ke- banyakan mempergunakan bahasa Indonesia. Dalam khotbah-khotbah penggunaan bahasa Aceh sudah mulai terdesak oleh penggunaan bahasa Indonesia, baik di desa-desa maupun di kota-kota. Penggunaan bahasa Aceh yang agak menonjol ialah di pasar-pasar, baik di kota-kota besar maupun di pekan^ekan demikian juga di kantor pemerintah,

(17)

baik pegawai maupun orang-orang yang berurusan ke kantor. Akan tetapi, penggunaan bahasa tergantung kepada lawan berbicara. Se- andainya lawan berbicara adalah orang yang berbahasa Aceh, bahasa pengantar yang dipergunakan adalah bahasa Aceh. Sebaliknya, jika lawan berbicara adalah yang bukan berbahasa ibu bahasa Aceh, baha- sa pengantar yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Pidato peng- arahan dalam pertemuan antara camat dan kepala-kepala kampung atau kepala mukim pada umumnya menggunakan juga bahasa Aceh.

Dalam berkomunikasi dengan orang-orang yang baru dikenal, penggunaan bahasa Aceh tergantung kepada situasi dan lawan ber- bicara. Kalau lawan berbicara memulai dengan bahasa Indonesia walaupun ia sebenarnya orang yang berbahasa ibu bahasa Aceh, bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Indonesia.

Di sekolah-sekolah, kecuali di kota-kota bahasa Aceh, masih dipergunakan sebagai bahasa pengantar di kelas I - III SD walaupun persentasenya sangat kecil, yaitu sekitar 5%, sedangkan bahasa Aceh sebagai alat pembantu terutama untuk pelajaran yang sukar masih juga dipergunakan sampai kelas VI SD yang berada di desa.

Penggunaan bahasa Aceh di luar situasi belajar antara guru dan murid mencapai 50%.

Secara singkat dapat disimpulkan mengenai tempat dan situasi pemakaian bahwa bahasa Aceh dipakai dalam lingkungan keluarga dan lingkungan kekerabatan, baik pada situasi formal dalam lingkungan sosial maupun dalam lingkungan pemerintahan.

1.5.2 Tradisi Sastra Lisan

Bahasa Aceh bukan hanya sebagai bahasa percakapan, tetapi juga memiliki tradisi sastra lisan yang meluas dalam masyarakat Aceh.

Jenis sastra lisan yang dikembangkan melalui media bahasa Aceh antara lain sebagai berikut:

a. Sindiran dan Montera Contoh:

He kilat taloe meureuntang Anak u rang teugila-gila

Maken ku tidak maken that datang Maken kupandang maken that gila

(18)

b. Hadih Maja (Peribahasa Aceh) Contoh:

Meuseuruek bak aleue jai 'Terperosok pada lantai yang rapat'

Lagee laumo rot situek 'Seperti lembu memakan api pinang'

c. Puisi Rakyat Contoh:

Bungong meulu puteh meupoe-proe Bungong teubee meucula-cula Ada jeuet gata bungong mangkat bee Lon Ihat bak ulee beurang ho Ion ba d. Ceritera. Prosa Rakyat

Contoh:

Haba Peulandok cerita pelanduk' Haba Pancuri Tujoh 'ceritera tujuh pencurf Haba Keubeue 'ceritera kerbau'

Haba Nenggroe Jen 'ceritera negeri jin' Haba Teungku Syiah Khudam 'Bayan Budiman' Haba Boh Mancang 'ceritera buah embacang' e. Nyanyian Rakyat

Contoh:

Taek egle 'naik ke gunung

Bungong J'eumpa 'bunga cempaka' 1.5.3 Tradisi Sastra Tulis

Dalam bahasa Aceh terdapat juga tradisi sastra tulis. Tradisi tulis-menulis itu mempergunakan huruf Latin.

Selain huruf Latin, huruf Arab terdapat juga dalam tradisi sastra tulis atau kegiatan tulis-menulis pada umumnya. Orang tua Aceh yang buta huruf Latin selalu menggunakan huruf Arab untuk kegiatan tulis-menulis sehingga tidak ada orang Aceh yang termasuk

(19)

golongan buta huruf Arab. Penggunaan huruf Arab sebagai media sas- tra tulis pada umumnya terdapat pada hasil karya sastra lama, seperti pada Hikayat Putroe Geumbak Meuh, Hikayat Raja-raja Aceh, Hikayat Malem Diwa, dan Hikayat Malen Dagang. Sebaliknya, hasil sastra tulis angkatan baru semua ditulis dalam bahasa Aceh dengan menggunakan huruf Latin.

Contoh:

1) Bungong si Tungkoi oleh Tgk. Nurdin 2} Bungong Mawoe Dey ah Boro oleh Anzieb 3) Bungong Rampoe oleh H.M. Zainuddin 4) Seumangat Aceh oleh Abdullah Arief 5) Seuramoe Mekkah oleh Ismuha 6) Pantoun Aceh oleh Abdullah Arief

Studi Pustaka

Sebagaimana yang telah dikemukakan, bahan kepustakaan me- ngenai bahasa Aceh sangat terbatas sehingga studi pustaka dalam rangka penelitian struktur bahasa Aceh ini terbatas pada bahan bahan sebagai berikut.

1) Atjehsch Taal oleh R.F.H. van Langen

2) Lee Saboh Nang oleh Vriss ngon Haji Abubakar

3) Atjehsch Nederlandsch woordenboek oleh Dr. R.A. Husein Djajadiningrat.

4) Atjehsch Handwoordenboek (Atjehsch Nederlandsch) oleh J. Kraemer

5) Atjehers oleh Snouck Hurgronje

6) Fonologi dan Morfologi Bahasa Aceh oleh Zaini Ali Metoda

Penelitian struktur bahasa Aceh ini dilakukan dengan pendekata deskriptif. Data yang dipergunakan adalah korpus data yang terd ri daii kata dan kalimat yang direkam dari informan, yang berbahas

ibu bahasa Aceh. Selain itu, direkam juga ceritera rakyat.

(20)

Informan terdiri dari, baik laki-laki dan perempuan, baik yang berpendidikan dan yang tidak, dipilih dari umur yang berlainan, baik tua maupun yang muda, dengan memperhatikan faktor ke- lancaran ucapan. Selain rekaman, diadakan juga wawancara dengan orang-orang yang dianggap cakap mengenai materi penelitian.

Wawancara ini dipergunakan juga untuk memperoleh data ten- tang peran dan kedudukan.

Sebelum peneliti terjun ke lapangan, kerangka struktur bahasa Aceh sudah dipersiapkan sebelumnya sehingga teknik pengecekan kembali kepada informan dapat dilakukan. Teknik ini dapat di- lakukan karena tim peneliti adalah penutur bahasa Aceh.

(21)

2.1 Fonem

Fonem-fonem dalam bahasa Aceh dapat dibagi dalam dua ke - lompok besar, yaitu fonem segmental dan fonem suprasegmental.

2.1.2 Fonem Segmental

Fonem segmental terdiri dari dua jenis, yaitu fonem vokal dan fonem konsonan.

a. Fonem Vokal

Dalam bahasa Aceh, di samping vokal, terdapat juga vokal sengau (nasalized vowel). Jumlah fonem vokal dalam bahasa Aceh ada lima belas buah, yaitu sembilan vokal tunggal biasa (nonnasalized vowel) dan enam vokal sengau (nasalized vowel).

Dalam bahasa Aceh terdapat vokal ganda (diphthong), baik yang tidak sengau maupun yang sengau.

1) Transkipsi fonemis dan pasangan minimal vokal Vokal [i] terdapat pada contoh berikut.

ija ßjaj 'kain' gla Qla] licin ' aja

a/a /âja/ ajar' sirong [siiorfl 'miring' gli /glj7 'geli' sarong /saro»)J 'sarung' [e] seperti pada kata pade /pad§7 'padi"

Bukti [e]:

9

(22)

peh /pêhj 'menggiling' pih /pih7 'juga'

tapeh /tapeh7 'sabut kelapa'

tapih /tapih7 'mengelak dengan tangan' / E seperti pada

bek bak hek

/pêkj /aak7 [h e

kata:

jangan 'pohon'

k j lelah hak ek 'ek

/hakj 'l

£ e ' k j

f e'k J

tak' 'naik' 'tahi' / a / Seperti pada kata:

bak [bak J 'pohon' bek £"bêk J 'jangan' bah f ball J "biar'

boh [ bóh J 'buah, kemaluan lelaki' / i I Seperti pada kata:

lop /îopj 'balik' lap /lap/ 'menglap' koh /k5rj7 'potong' kah /kahj Tcau' / o / Seperti pada kata:

ok [o kj 'rambut' ok [kj 'bohong'

boh / boh J. tuang, taruh ke piring' boh £bahj'buah'

pöt £pot.7 'mengipas' pot Z"potJ7 'memetik' / u / Seperti pada kata:

ulèe /TuleaJ'kepala' alee £aled_/'alu' s" [svü 'suara' sa /"saj 'satu' buku fbukuj Tiuku' buka fbukaj 'buka'

(23)

/ q / Seperti pada kata:

eungkót /fankot J 'mengangkut' angkat /ankotj 'mengangkut' teuka /7tuka_7 'datang' tuka £tukaj 'tukar'

/ a / S eperti pada kata:

le I »/ *benyak' le /"lej 'oleh' let [lét] 'kejar' let [€stj 'mencabut'

BAGAN FONEM VOKAL

Depan atas \ n \ Tengah u/ u~7 Belakang atas Depan tengah atas \ e \ / o/ Belakang tengah atas

Depan tengah \ £ \ / / Belakang tengah Depan bawah \à U/ Belakang bawah

2) Trnaskripsi fonemis fonem vokal sengau dan pasangan minimalnya I i / Seperti pada kata:

c' £ G J J 'mendesis' ci l ci I 'coba'

Cr»

/ £ I Seperti pada kata:

syeh CS&lD 'sedikit' syeh Istt)~J 'syen'

bre 0> f^CZl 'bunyi air jatuh' brè ßr>£ 'J 'lamban,malas'

t**

I cl I Seperti pada kata:

sah [sâhj 'bisik' sah /"sahJ 'sah' crahlXta-b&j 'tumis' crah £CruhJ 'retak'

(24)

/ } / Seperti pada kata:

groh [töfi 'melenguh' gorh [ßrSfJ 'muda (untuk buahan)'

<<»

/ U / Seperti pada kata:

u f u J 'menderu' u [u] Tcelapa'

<^>

lUl Seperti pada kata:

seilt £"sutj 'tampi'

seut [sutj 'siram /dengan mencampakkan air/' ue [ u j 'ya'

eu [U] 'lihat'

BAGAN FONEM VOKAL SENGAU Tinggi

Rendah

U

Di samping vokal tunggal dalam bahasa Aceh, terdapat juga vokal ganda (diftong). Jumlah vokal ganda sebanyak lima belas, yaitu sepuluh vokal ganda biasa dan lima 'vokal ganda yang sengau.

3) Vokal / e a / /Cd

I»?

106

I

oy / o v

lue-

/ w lx/ér / a y

ganda biasa (non-nasalized vowel clusters) seperti pada kata mie [ mia J 'kucing' seperti pada kata kayee / f k a y e a j Tcayu' seperti pada kata asai /isay J 'asal' seperti pada kata taloe /talo^ 'tali'

seperti pada kata boinah [ boynah J 'harta pusaka' seperti pada kata beatoi /botoy7 'betul'

seperti pada kata takuc [ takua J 'leher' sepetti pada kata bui C buy J 'b ab i'

seperti pada kata keubeue f kubu 3 J 'kerbau' seperti pada kata hei [ b»y J 'panggil'

(25)

Di sini dapat kita lihat bahwa hanya dua bunyi yang dapat menempati unsur kedua dari vokal ganda itu, yaitu bunyi /i/ dan [h]. Juga jelas terlihat lima vokal ganda mengambil /i/ sebagai unsur kedua dan lima lagi mengambil /a/ sebagai unsur kedua.

4) Fonem vokal ganda sengau (nasalized vowel clusters) I / 3 / seperti pada kata ciep C^tipJ "peot'

l£l' I seperti pada kata / ca - ce £c&-£%J 'laba-laba' / » t / seperti pada kata meuhai / muhai / 'mahal' / ° i / seperti pada kata uet / u d t / 'telan' I 0-9 I seperti pada kata eue / u » / 'merangkak' b. Fonem Konsonan

Jumlah fonem konsonan dalam bahasa Aceh ialah 21 buah, yajtu:

/b/, seperti pada kata bu / b u / ' n a s i '

bak j bak / 'batang X'; pakCp^J 'pukul bawang £bawai7 'bawang X'

pawang /pawaj7 'dukun'

peng [pa.3] 'uang'; bong lbo i J 'warung' poh [ puh J 'pukul' boh [ boh 7 ^uah' dapu C dapu J 'dapur''; gapu /gapu7 'kapur' bada £ b a d a 7 'pisang goreng'\bata /"bataJ

'batu bata'

dang [da$] 'sementara'; pang /pa 3 / 'kepa- la ketua'

toe [ tee J 'dekat'; doe [dm J 'tertimbun' tak Z"tak_7 'bacok'; dak /"dak.7 'dalam ke-

adaan kekurangan'

baro j baro / 'baru'; garo /Tgaro7 'garut' /p/, seperti pada kata

/d/, seperti pada kata

/t/, seperti pada kata

/g/, seperti pada kata

(26)

agam /"agam J 'lelaki'; apa«i£"apamj 'sera- bi'

gula f gula_7 'gula aren'; pula [ pula j 'tana- mi'

A / , seperti pada kata kong / > o j J Tcuat'; dong [dos ] "berdiri' Arewe /HkuaJ 'depan'; dewe /"doa J 'dangkal' /m/, seperti pada kata mat £"mat J 'pegang'

ma/ee £"malgaj 'malu'; èa/ee £ b a l £ 3 7 'jan- da'

Meunan /inuna7 'menang'; seunang £ s u n a ^ 'senang'

/n/, seperti pada kata nek /Tnek J 'nenek'

bunoe £"bunuo 'J 'tadi'; bumoe /bumui7 'bu- mi'

/w /~na J 'ada'; mo/~ma j["'ibu / mamak' / 3 / , seperti pada kata «go« /j$n 7 'kawan'

«£#«£ Z j *J 7 'enggang' ; «a«# ƒ" naj J 'induk' parang / " p a r a n j 'parang';paran /Tparanj/

' desa' ///, seperti pada kata Ion £"lon J 'saya'

/om Z"lum7 'lagi'; &o«? /Icorn7 'tidak mene- tas'

Ion £lon_7 'saya'; mo« £mon.7 'embun' /n/, seperti pada kata nyan £ n a n 7 'itu'; 'nan C nan J 'nama'

«_ye« £ " n e n j 'ketam'; «e« /n e K/ 'pemilih makanan'

/m/, seperti pada kata mhang / m a J Tcampungan'

mhah[mahj'nenek'; mah/mari/ 'ukuran'

/n/, seperti pada kata benda ,/pana7 'sembunyi'; nab [nabj 'ujung perut di atas kemaluan'

/r/, seperti pada kata rab C rab J 'dekat'; urat£ urat J 'urat' ulat l ulat J 'ulat'; rangoe £ ragoaj 'ragi' Mgoe /Tsagua.7 'segi'; meng £rm^ 'pung -

gung'

lueng£\ui^l 'selokan'

(27)

/s/, seperti pada kata seupot /jupotJ7 'sore'

gasa TgasaJ 'kasar'; gata £%aia.J 'anda' soh £sohJ 'tinju'; toh l toh J T>ertelur\

turun hujan ' /h/, seperti pada kata hana {"hanä7 'tidak ada'

hah IhahJ 'buku mulut'; kah £kahj Tcau' sah /"sah 7 'sah'; sak £ sak J 'padatkan' soh l soh J 'tinju' sok£sdk2 'pakai' /J/, seperti pada kata /'i« T j i h J 'dia'

/ofr T jok J 'berikan'; yok£yokJ Tcuk' /aroe £ j a r u a 7 'tangan'; baroe /"barua7 Tte-

maren' /s/, seperti pada kata syiit /"sik J 'besar'

syef l set J 'putus sekali tetak'; cef /"cet 7 'kecil'

J^OÂ: /TsukJ 'waswas'; tempat menumbuk si- rih dari besi; cofc /" cok 7 'ambil'

/c/, seperti pada kata cah IcahJ 'rintis'

coh £cohJ 'patuk'; koh£kohj 'potong' cet C cut J 'jolok'; tet[ tot 7 "bakar' ce« T &h 7 'menetas'; syeh [ sêh 7 'pemim-

pin/ syeh' / j / , seperti pada kata yub /Tjub J 'hembus'

raya /"raja7'besar*; rajiz /"rajaJ 'raja' raya /"raja 7 'besar'; rog<£ raga J keranjang' /w/, seperti pada kata woe /Two» 7 'pulang'; weue [woaj 'kan-

dang'

fteue jCbuaJ 'tembolok'; aweuek /awuah_7 'sendok besar'

abeuek /abuJk 7 'paya-paya'; MO Tw aJ 'pe- luk' oa T ba 7 "bawa'

(28)

BAGAN FONEM KONSONAN

Plosives

Fric tives

Lateral Nasals Ine Nasals Medians Triu

Bilabial b P

n

m

w

Alveolar

s

P n n

r

d t

Alv. Palatal

s

c

n

y

i

Velar g k

3 Glot

h

c. Distribusi Fonem

1 ) Distribusi Vokal Tunggal

Semua vokal tunggal biasa, kecuali /a/ dapat menempati posisi awal.

/i/, seperti pada kata itek /"itekJ7 'itik'; iku £\kuj 'ekor' inong /~inon/ 'perempuan'

/e/, seperti pada kata eh /TehJ 'tidur'; ek [ekj 'naik' cleimiee [ elome'a7 'ilmu'

l£l, seperti pada kata c« [eh] 'es'- ehram /"ehram7 'ihram' ek £ek] 'iah f

/a/seperti pada kata asai /"asai J 'asal'; aduen /Taduanj'abang' apui TapuyJ 'api' ftsca /Tasu a7 'daging' isi'

(29)

lol, seperti pada kata ok f ok J Tjonong' ; ong [o3j 'tumpul' /o/, seperti pada kata ok [okj 'rambut'; on£onJ 'daun' /u/, seperti pada kata uroe /ûrugj 'harf ; uteuen /"utoanj "hutan'

ureueng [uray J 'orang

lU/, seperti pada kata keubeue £kobuaj 'kerbau'; eungkot /u3kot7 'ikan'

Semua vokal tunggal dapat menempati posisi' tengah

/i/, seperti pada kata pike £pike7 'pikir'; ubit £ubit] 'kecil' lipeh /_"lipëh7 'tipis'

/e/, seperti pada kata keudeh /kudèh7 'ke sana'; oi'«re«/Jbintêh7 'dinding' gateh /TgatehJ 'betis'

ƒ£/, seperti pada kata bek £bekj 'jangan'; prehfpréij 'tunggu' keh /fcehj 'korek api'

/a/, seperti pada kata bak £bakj 'batang'; bah CbahJ Tjiar' lampoh / lampoh / Tcebun' ; saboh / c a b o h j

'satu, sebuah'

/o/, seperti pada kata koh /)coh7 'potong'; so/i£sohJ 'kosong' gadoh /"gadohJ Tulang' ; carong [£zarovTJ 'pin -

tar'

/o/, seperti pada kata sok /sok/ 'pakai'; brokj$rokj 'buruk' trok /trok/ 'datang'; Ion /Ion/ 'saya' /u/, seperti pada kata bulee /buleaj Tjulu'; gudaßudäj 'kuda'

pula (pula] ' tanami'; puleh' ßiulehj 'sembuh' /J/, seperti pada kata keunong /kunas[7'kena'; teubiet /Tubiaf/ Tceluar'

reupah /nipah/'rebut'; seupot/Jupqf7 'sore' /cty, seperti pada kata ?re« /Jrarf/ 'turun';/e« /lari/ 'padam'

eer /cat} 'jolok';rer /taf? T>akar' Semua vokal tunggal biasa dapat menempati posisi' akhir I'll, seperti pada kata gaki /gakj7 "kaki'; rïri' £titi7 'jembatan'

meuhilmeuhil 'menyerupai'; turi /turi/ kenal' /pakrj/ 'bagaimana'

(30)

/e/, seperti pada kata ate /âte7 'hati'; /iase/hase7 'hasil' gle [gl$[ *bukit';sare /sare7 'rata'

ade ßidej 'adü'; /e/lej'oleh'

l£j, seperti pada kata keude /Jcude/ 'kedai'; wise /mis J 'kumis' me [mç] bawa'; gade ßadef 'gadai', meminta -

minta'

/a/, seperti pada kata ba /hal Tsawa'; da /da7 'kakak perempuan' sira /sira7 'garam'; rima /Jima7 'timba'

loi seperti pada kata meulho /mulho/ 'berkelahi'; ku fo/jcutaj 'kotor' pho ß o7 'terbang'; gofèoj 'tangkai gagang

atau hulu' *

/ o / , seperti pada kata baro jbaroj 'baru' ; ato [âtoj 'atur' tab /talo7 Tcalah'; thoßho/ 'kering' /w/, seperti pada kata s« /su7 'suara'; />«s« /Çusy7 Tcetapel'

bu /bu7 'nasi'; mu [mu] 'tandan' hu /üu7 'menyala'

/C//, seperti pada kata tabeu /fabu/'tawar'; miseußxüsüj 'misal' keubeufeubtf! 'kerbau'

/£!/, seperti pada kata tahe /tahg7 'tercengang' ; beuhe^ubfj *berani' /d/, seperti pada kata le /TnJ 'banyak'; taheftahöj 'tercengang'

beuhe /buhe/ 'berani' 2) Distribusi Vokal Tunggal Sengau

I'll hanya menempati posisi akhir

/i/ meuti /ïnuüj 'mendesing' ; meuci /mucj7 'suara mendesing' /£/ dapat menempati ketiga posisi

Awal: er /e t J 'pendek' ; ebßb] '(seperti bunyi ayam)' Tengah: kheb [khebj busuk'; cet /cet/ 'kecil

cakrer /Sakref/ 'sebangsa burung yang sering terbang di sawah' Akhir: pe/pg/'perduU'; s.ye/éé?'tindik'

pa-e /pa-|7 'tokek' /a/ dapat menempati ketiga posisi Awal: ab /abj 'suap/makan'

(31)

Tengah: sah /sa*h/ 'bisik'; naphah /nafah7 'nafas' crah jerah] 'tumis'

Akhir: döa /doa/ 'doa'; meucacaßnucacäj 'menyembur (darah, air dan sebagainya)'

meu-a-a /meu a-aj 'bunyi tangis' /O/ dapat menempati ketiga posisi

Awal: oh noe /5hnoä7 'sampai di sini'; ob Job] 'hantu momok' on /on/ 'on (ukuran berat'

Tengah: meuhop fmohopJ 'marah'; khop /khopj 'busuk' syob /sob/ 'tusuk'

Akhir: syo ($$ 'bidung'; meu-o-'o /mo-o-oj 'bunyi' /u/ hanya dapat menempati posisi akhir

ön-ïï [pn-u/ 'daun kelapa'; meii-u-u /mu-u-iy 'mendengung' /u/ hanya dapat menempati posisi awal dan "tengah.

Awal: eu /u/ 'ya'; cun /ûn7 'nafsu'

Tengah: méheut /ïnuhutj 'ingin'; seut /sutj 'menampi'; ceu? /cutj 'ikat/buhul'

3) Distribusi Vokal Ganda Biasa /ia/ dapat menempati ketiga posisi Awal: iet JJjtt} 'sejenis ikan sungai'

k l'vij 'air'

Tengah: teubiet /tabiatj 'keluar; niet /niatj 'niat' Arier /kriatj 'kikir'; trieng [tmnj 'bambu' Akhir: mie /miaj 'kucing'; sie /sia/ 'daging'

leupie /Iupia7 'dingin'; &We /khia7 'tengik' /eD/ hanya dapat menempati posisi akhir

bee [beàj 'bau'; abee /äbea7 'debu' fcayee i£aje;j7 'kayu'; aèjee /5aje$7 'baju' M e e /rakeiaj 'minta'

/ay/hanya dapat menempati posisi akhir

asai Jzs&y] 'asal'; bangai übanay/ 'bodoh' feuftai' ftubayj 'tebal'; langai /Îanay7 'bajak'

(32)

fûil hanya dapat menempati posisi akhir bloe /Bl.i.a7 'beli'; bajoe /baju»J 'pasak' bunoe /bunoa? 'tadi'; taloe /taloa7 'tali' /oy/ hanya dapat menempati posisi tengah

boinah /Boynah/ 'harta pusaka'; lagoina /TagoynaJ 'sangat' /oy/ hanya dapat menempati posisi akhir

beutoi /butoyj 'betul'; leumoi /lumoyj 'nomor'; soi fsoy]

'sisip'; goi /goyj 'perduli' /ua/ dapat menempati ketiga posisi:

Awal: uem ßihm[ 'peluk'; uet /liat/ 'gosok'

ueh /uaK/ 'aus'; uek /uak7 'sebangsa ulat yang terdapat da- lam kayu busuk'

Tengah: bruek /bruakj 'tempurung'; duek fduak7 'duduk' pluek /pluak7 'kupas' plueng /pluaif/ 'lari' Akhir: bue jbuij 'kera'; takue /FakuaJ 'leher'

sue /JuaJ 'ampas'; keunue /konua/ 'tumit' /uy/ dapat menempati hanya posisi awal dan aAA/r Awal: ui [\iy] 'tiri'

hanya dalam ungkapan: ayah ui 'ayah tiri' ma ui 'ibu tiri' tf/jez/fc ui 'anak tiri' Akhir: fc«/ /BuyJ 'babi'; apw/ /apuy/ 'api'

pto/ /phuy7 'ringan'; guifguyj 'menjambak' /ua/ dapat menempati ketiga posisi

Awal: eue ßidj 'langkah', ancang-ancang'

Tengah: beuet /buat7 'belajar/mengaji'; peuet /pu»j7 'empat' kleuet /jduat? 'liar'; kreueh /kruahj 'keras'

pheuet /phuat7 'pahat'

Akhir: keubeue /kubua7 'kerbau'; labeue /tabua/ 'tawar' fceue /kua/ 'depan'; a/eue /ilua7 'lantai'

Wewe /blua/ 'landai'

/ay/ hanya dapat menempati posisi akhir hei /hayj 'panggil'

(33)

4) Distribusi Vokal Rangkap Sengau /ia/ dapat menempati ketiga posisi

Awal: ie /ia/ 'bunyi'; iek /ökj 'kencing' Tengah: ciep /ciapj 'peot'; piep /pia^ 'isap'

priek /prîakj 'mengoyak'; prieh /priabj 'melengus'

Akhir: cie /cia7 'kerdil'; pacie /paciaj 'melempar dengan sepotong kayu'

/ee/ hanya dapat menempati posisi awal dan akhir Awal: ee /êa7 'bunyi' orang bersorak'

Akhir: ca-ee /ca-eaj 'sebangsa laba-laba' /ay/ hanya dapat menempati posisi akhir

meuhai /muhayi 'mahal'

/ Ua/ hanya dapat menempati posisi awal dan akhir Awal: «er [\xît] 'telan/'

Tengah: aiefc [cuahj 'memadamkan dengan air' a/er /cuât7 'ikat/buhul dengan benang'

hueng /huaV '(sebangsa kumbang hitam pemakan kayu)' syueng /suat£7 'bau amis (kencing)'

Akhir: mu-ue /mu-uaj 'membajak' /Ua/ hanya dapat menempati posisi awal

eue /uàj 'merangkak' S) Distribusi Konsonan

Semua fonem konsonan dapat menempati posisi awal dan tengah.

Hanya delapan fonem konsonan yang dapat menempati ketiga posi- si (awal, tengah, dan akhir).

Fonem itu ialah: /b/; /p/; /t/; /k/; /h/; /m/; /n/; dan /r»/.

/b/ awal: fcafc /bakj 'batang'; binteh /bintehj 'dinding' ô/'rte/i /bineh7 'pinggir'; beukah /bukahj 'koyak' tengah: ra£a /saba7 'sabar'; r«ôa /tubaj 'racun'

aftee /abejj? 'debu'; haba /haba/ 'cerita' akhir: raft /rabj 'dekat'; Araft /krabj 'rapat'

seubab /subabj 'sebab'

(34)

/p/ awal: puleh /puleh/ 'sembuh'; pula /pula/ 'tanam' pinah /pinah/ 'pindahkan'; peng /pen/ 'uang' tengah: lipeh /lipeh/ 'tipis'; seupot /supot/ 'sore'

sapai /sapay/ 'lengan'; reupah /nipah/ 'rebut' akhir: asap /asap/ 'asap'; pagap /pagap7 'kejar'

cop /copj 'jahit'; Aap /kap/ 'gigit'

/d/ awal: d<eA /duak/ 'duduk'; dudoe[dud<yÂj 'belakangan' dit /dit/ 'sedikit'; dah /dah/ 'sumbu'

tengah: padum /padurn/ 'berapa'; gacfcm /gadori/ 'hilang' guda /guda/ 'kuda'; bandum /bandurn/ 'semua' /t/ awal: ft//w /jtuha/ 'tua'; tar/ /Juri/ 'kenal'

tameh /tameh/ 'tiang'; tunong /tunoyj 'selatan' tengah: pwto/z /putoh/ 'putus'; putie /putia/ 'putar'

uroft /Jitoh/ 'tukang'; patch /pateh/ 'jatuh' akhir: batat /batat/ 'degil'; paror /patot/ 'patut'

brat /brat/ 'berat'; mar /mal/ 'pegang'

/g/ awal: £a<2o/2 /gadohj 'hilang'; gw&m /gulani/ 'pikul' gule /gula/ 'gulai'; guAee /gukea/ 'kuku'

tengah: peugah /pugah/ 'beri tahukan'; lagot /ïagot/ 'laku' jtTU^oe /pugoo/ 'bangunkan'; swgor /sugofj 'sisir' rewga /tuga/ 'kuat'

/k/ awal: kon /_kon7 'bukan'; Aw e/z /kuah/ 'gali'

kilang /jcilan/ 'mesin jahit'; kalang _/kalao7 'dahi' tengah: ZaAoe /TakoaJ 'suami'; likot /Jikot/ 'belakang'

bokong /Bako_n7 'tembakau'; fi'Aa /tika/ 'tikar' akhir: Z>aA /bak/ 'batang'; tak Jtak] 'bacok'

jak /jakj 'pergi'; buhak /Buhak/ 'boros' c?ueA /duak/ 'duduk'

/m/ a wal: manee /manua/ 'mandi'; mantong /piantunj 'masih' meu/i /muh/ 'emas'; mu /mu/ 'tandan'

m/e /mia/ 'kuncing'

tengah: tima /tima7 'timba'; tamong /tamun/ 'masuk' famefc /tamebj 'tiang'; ramah /ramah/ 'kemas'

(35)

akhir: tem /terri/ 'mau'; gulam /gulam7 'pikul' torn /torn/ 'pernah'; uram /üram/ 'pangkal' reugam 'genggam'; khem /khenj7 'ketawa' /n/ awal: ne/j /heh/ 'memilih'; «// /nit/ 'sedikit'

m'er /niat/ 'niat'; na /naj 'ada' naleueng /haluan/ 'rumput'

tengah: keunong /kunon/ 'kena'; tunong /tunoj/ 'selatan' r««w /tunu/ 'kesal'; dara« /Sarah/ 'nanah' rurta/i /tunah7 'tunas'; uneun /unon/ 'kanan' /n/ awal: «gu/ /juy/ 'pakai'; geut /nuf/ 'bodoh'

«£oft /riobj 'karam'; ngieng /nian/ 'lihat'

tengah: bungong /bupoij/ 'bunga'; bungkoh /butikoh/ 'bungkus' beungeh /buneh/ 'marah'; pingan /pinan/ 'piring' pu«£o /punu/ 'gila'

akhir: tunong /tunuyj 'selatan' ; ateueng /ätuan7 'pematang' pewg /pen/ 'uang'; giart£ /glan/ 'cacing'

/1/ awal: lom /lom/ 'lagi'; /ZAor /jikot/ 'belakang'

leumah /iumahj 'tampak'; lampoh /lampoh/ 'kebun' iaAoe /lakuaj 'suami'

tengah: pa/ee /palea7 'palu'; ftu/ee /BuleJ7 'bulu' sa/op /salop7 'bungkus'; pu/a /pula7 'tanam' pu/e/i /puleh/ 'sembuh'; paleh /palehj 'jaha*' /n/ awal: «yoe /noaj 'ini'; nyan /hari/ 'itu'

«/um /num/ 'rasa'; nyeh [pehj 'ketam' nyap /habj 'alat penangkap ikan dari bambu' tengah: panyot /panufj 'lampu'; panyang /panan/ 'panjang'

minyeuk /minok/ 'minyak'; manyang /manan/ 'tinggi tanyong /tanojt/ 'tanya'; punyueng /punuaji/ 'telinga' /r/ awal: m^oe /rugoaj 'rugi'; rumo« /rumoh/ 'rumah'

rimueng /rimuanj 'harimau'; reubah /rubah/ 'jatuh' rzyo/i /riyoh/ 'ribut'

tengah: ftare« /bareh/ 'baris'; s/ra /sira7 'garam' guree /gureâ/ 'guru'; uram /üram/ 'pangkal' ftaroe /baroa/ 'kemarin'

/s/ awal: sep /sepj 'cukup'; su /su/ 'suara' sue /sua/ 'ampas'; so/i /soh/ 'tinju'

(36)

som /som/ 'sembunyi'; sabe /sabè/ 'selalu, sama sama be- sar'.

sulet /sulefj 'bohong'

tengah: asap /asap7 'asap'; asoe /asus? 'daging, isi' gasien /gasian7 'miskin'; masen /masen/ 'asin' baso /basçj/ 'semban';paseueng /pasuain/ 'pasang' /h/ awal: «afta /Raba/ 'kabar'; «a« /Fiah/ 'buka mulut'

/10 /hq/ 'ke mana'; hue /hua/ 'hela, seret' hek /Hls? 'lelah'; m'em /hiam/ 'teka teki' tengah:meuto'/muhaj/ 'mahal'; peuhahfpuhah"} 'buka'

tulw /fuhaj 'tua'; leuhop/luhop7 'lumpur' ftu/iaA /buhakj 'boros'

akhir: peuhah /puhah/ 'buka'; Aan /kahj 'kau' /dahj'sumbu'; /poh/ 'pukul' /bah/'biar'; /koh/ 'potong' /j/ awal: /aroe /jaroa/ 'tangan'; /'e« /Jeh/ 'itu'

jak /Jak/ 'pergi'; /euer /juat/ 'boleh' /eft /jeb/ 'minum'; jamee /Jamea/ 'tamu'

tengah: u/o«£ /ujon/ 'ujung'; pa/on /fpajoh/ /pajoh/ 'makan' pajan /pajan/ 'kapan'; pijet /pijet/ 'kutu busuk' bajoe /bajo;»7 'pasak'; bajee /bajejj/ 'baju'

/s/ awal: s y ^ /sot/ 'corot'; 'terakhir'; syueng /suan/ 'bau amis' bau kencing.

syen /sen/ 'melompat'; syoA /sok/ 'waswas'

tengah: desya£des£] 'dosa' kasyuk /kasuk/ 'mengacau air de- ngan tangan

/c/ awal: c oj , Jcoh] 'patuk'; com /com/ 'cium' cah fcah/ 'tebas'; c e r /cet/ 'jolok' ceng /cen7 'timbangan'; ^ ^ /cua/ 'curi' caror# /paron/ 'pintar'

tengah: cicak /cicalç/ 'cecak'; pwcoA /pucok/ 'pucuk' Aaca /kaca/ 'botol'; ticem /ticem/ 'burung' meucuca /rhucucaj 'main air'

(37)

/y/ awal: yub /yub/ 'hembus, bawah'; y oh [y oh] 'waktu, 'ke- tika'

yue /yua/ 'suruh'; y eh /yeh/ 'goyah' yuek /yuak/ 'berkurang'; yum /yum/ 'harga' tengah: piyoh /piyohj 'mampir'; payah /payah/ 'sukar'

miyub /miyub/ 'rendah'; bayeuen /bayu^7 'bayar' raya /raya/ 'besar'; tayeuen /tayuarj/ 'tempayan' /w/ awal: wie /wie/ 'kiri'; w/er/wiet/ 'patahkan'

weueA /wuak/ 'bagi'; weu/j /wulj/ 'sedih'

wah /wah/ 'retak, pecah'; wat /wat/ 'daya, tenaga' tengah: aweueh /awuah/ 'ketumbar'; silawet /jilawet/ 'selama'

siluweue /siluwua/ 'celana' awi'n /awih/ 'dukung' /awoA /îawok/ 'aduk, campur'

d. Variasi-variasi

Variasi-variasi yang ada dalam bahasa Aceh adalah sebagai berikut.

1) Variasi Alternatif

Dalam contoh berikut /a/ dan fe] dengan lingkungan fonem-fonem yang sama mempunyai arti berbeda pang /pan/ 'kepala', 'regu'; peng fpeifj 'uang'. Pada contoh lain /a/ dan /e/ dengan lingkungan sama mempunyai arti yang sama pula.

phang /phap/ pheng /pheg/ 'ngangkang' nek /nek/ 'nenek'; nok /hok/ 'balok besar'

get /get/ «^> got /got/ 'bagus' pet [pet] <--? pot /pot/ 'petik' ret /ret/ <^~> rot /rot/ 'jalan' 6a /ba/ 'bawa'; ftue /bua/ 'monyet' Tetapi: gla /gla/so £/ue /gluâ/ 'licin'

Hal ini juga terjadi pada variasi alternasi konsonan duek /duak/ 'duduk' muek /muak/ 'makan gula/tepung tanpa kawannya'

j -nu- ibsi iteduisd Tetapi: d/r /Hit/ mit /mit/ 'sedikit' m ^n i J i 8 B f a ^ ß r n £ j i y o

deungo /duno/; /eun^o /jujo/ 'dengar'

I .:' ;3ff! \x:ixjfj M H O ' )

(-rnu-)

. - : i iUJuq' vrioJuqi s\oUfc\

(38)

2) Variasi Alofonis

Dalam hal ini dua bunyi yang berbeda ucapan dalam lingkungan yang sama tidak membedakan arti, kedua bunyi itu merupakan alofon dari satu fonem. Pada variasi alofonis biasanya bunyi tunggal pada satu dialek diucapkan dengan bunyi ganda pada dialek lain dalam bahasa Aceh.

/<i/ misalnya, mempunyai alofon /oa/ sebab /oa/ tidak pernah, menempati dua posisi awal dan tengah di antara tiga posisi yang dapat ditempati oleh /o/

dengan kata lain /09/ hanya menempati posisi akhir

3) Variasi Alofonis Vokal Variasi öfo c? B _. _

blo £Wo7 c - o bloe /bloa/'beli' tab /talo/ <-^> taloe /taloa/'tali' uro /uro/ *""* ' uroe /ûroa/'hari' rafteu /tabu/ Cy~> tabeue [ tabua/ 'tawar' /aAw /taku/ ^"> fflfcue /"takuaj 'leher' phing /phm/ c - o plueng [ pluajj/ 'lari'

(d) Variasi Alofonis Konsonan

tef /tat/ 0 0 that /thai/'sangat teun /tun/ c_--> tneun /theun/ 'tahan' to« fon/ <--> f A o r t /thon/'tahun/

db/ /dot7 <-^> rfAo, fdhot/ 'bentak' cfeue« /äuan/ «-^-» dheuen f dhuan/ 'dahan' Aem /kern/ c - o AAem /khem/ 'ketawa' Aa« /kan/ < L ^ Aten / /*hap7 separoh

po rpoj 0 0 pno /phQ/ terbang pa M ° " P

t e

/pha/'paha'

* i / « — p t e / * « t m g a n

4) Harmonisasi Vokal

Dalam bahasa Aceh tidak terdapat infiks I -un- I dan I -un- I.

Yang ada ialah infiks (-eun) dan £ u m / . Kedua infiks itu masing-masing berubah jadi -un- f-un-J dan -um- f-umj dalam proses afiksasi bila suku pertama kata dasarnya mengandung bunyi u.

Contoh: pula /pula/ menjadi punula /punula/

(-eum-) menjadi (-um-)

putoh /putofj/ 'putus' menjadi punutoh /punutoli/ 'putusan'

(39)

puwoc /puwua/ 'bawa pulang' menjadi punuwoe /punuwoa/

'bawaan'

( -eum-) menjadi ( -um-)

tuleh /tuleh/ '.tulis' menjadi tumuleh /tumulehj 'menulis' culek /culek/ 'ukir' menjadi cumulek /éumulek7 'mengukir' tumpok /tumpok/ 'tumpuk' menjadi tumumpok /tumumpok/

'menumpuk'

kubang /Jcuban/ 'kubang' menjadi kumubang /ïcumuban/ 'ber- kubang'

(-eul-) menjadi (-ui-)

sumpai /sumpay/ 'menyumbat' menjadi sulumpai /sulumpay/

'sumbat'

luah /IuaK/ 'luas' menjadi puluah /puluah/ 'memperluas' 5) Pola Suku Kata

(a) Susunan vokal dan konsonan yang terdiri dari satu suku kata (1) Terdiri dari vokal (v) tanpa didahului atau diikuti oleh konso-

nan:

a. 'kakak' u. 'kelapa' ie 'air'

eue 'ancang-ancang' Vokal diikuti konsonan (VK):

eh 'tidur' eA 'naik' on 'daun' ueJ 'gosok' Konsonan diikuti vokal (KV):

ka 'sudah'; le 'banyak' me 'bawa'; «a'ada'

(4) Konsonan diikuti vokal tambah konsonan (KVK):

loh 'saya'; par'di mana' jak 'pergi'; poh 'pukul' (2)

(3)

(40)

(5) Konsonan tambah konsonan tambah vokal (KKV):

gla 'licin'; klo 'tuli' gle' 'bukit'; thô 'kering' jra 'jera'

(6) Konsonan tambah konsonan tambah vokal tambah konsonan (KKVK):

kreuch 'keras'; preh 'tunggu' pluek 'kupas'; plah 'belah'

(b) Susunan yang terdiri dari dua suku kata (1) Vokal tambah konsonan tambah vokal (VKV):

ate 'hati'; abee 'debu' adee 'jemur'; ato 'atur' (2) KVV:

su-sue 'soal'; pi-e 'perangai

sew-/ 'tidak enak badan'; mu-we 'membajak' (3) KVV K: „

meu-ah 'maaf; meu-'en 'main' seu-iet 'jinak'

(4) VKKV:

akhe 'akhir'; atra 'milik' unta unta 'unta'

(5) VKVK:

wrort 'tukang'; alat' 'bumbu' irôt 'peot'

(6) KVKV :

haba 'khabar'; sira 'garam' pula 'tanam'

(41)

(7) KVKVK:

piyoh 'mampir'; pijuet 'kurus' gulam 'pikul'; gadoh 'sibuk'

'ikan' (8) VKKVK:

intat 'antara'; angkot 'angkut' eungkót 'ikan'

(9) KVKKV:

bangké 'bangkai'; lungké 'tanduk' (10) KVKKVK:

binteh 'dinding'; bungkóh 'bungkusan' (11) VKKVK:

euntreuk 'nanti' (12) KKVKKV:

glanteo 'pengganti'

13) KVKKKVK: (13) ringkhék 'hampir ambruk'; rungkhom 'terkam'

(c) Susunan yang terdiri dari tiga suku kata (1) VKVKVK:

areuta 'harta'; êleumëe 'ilmu' (2) VKVKVK:

alamat 'pertanda'; e'tikeuet 'itikat' (3) KVKVKV:

keurija 'kerja'; seurapa 'resapah' (4) VKKVKV:

antara 'kayangan'

(42)

(5) VKWK:

ajaeb 'ajaib' (6) VKKVKVK:

akhirat 'akhirat' (7) KVKVKVK:

teurimong 'terima' (8) KVKVKKV:

seulangke 'telangkai'; calitra 'cerita' (9) KVKVKKVK:

seulangkot 'sangkutan' (10) KKVKKVKV:

khanduri 'kenduri' (11) KWKV:

kuala 'muara' (12) KVKKVKV:

bentara 'bintara' (13) KVKVVK:

jeumeu-at 'jum'at' (14) KVKKVKVK:

lambay^ng 'lembayung' 0 5) KVKVKKKV:

si/ahtera 'sejahtera' (16) KKVVKVK:

khianat 'khianat'

(43)

(17) KVKVKKKVK:

geurimpheng lagu yang dimainkan dengan rebana (18) KWKVK:

paidah 'faedah' (19) KKVKVKVK:

khedeumat Tchidmat'

(d) Susunan yang terdiri dari empat suku kata (1) VKVKVKV:

arakata semacam surat atau dokumen (2) VKVKVKV:

ekeutiyeue 'ikhtiar' (3) VKVKVKVK:

ulee balang 'hulubalang' (4) KVKVKVKV:

darohaka 'durhaka' (5) KVKWK:

meutuah 'bertuah' (6) KVKWKV:

meu tiara 'mutiara' (7) KVKVKKVKV:

mirahpati 'merpati' (8) KVKKVKVKV:

sinjakala 'senjakah'

(44)

(9) KVKKKVKVKV:

cintramani '(sebangsa ular)' (10) KVKKVKVKVK:

sutramaneh 'sutra manis' (11) KVKVKVKVK:

meuseulihat 'muslihat' (12) KVKVKKWK:

meunafaat 'bermanfaat'

(e) Susunan yang terdiri dari lima suku kata (1) KVKVKVKVKV:

peureumadani 'permadani' (2) KVKVKKVKKVKV:

meureundamdiwi 'putri kayangan' Kelompok Konsonan

Dalam bahasa Aceh, di samping konsonan tunggal, terdapat konsonan ganda sebanyak 13 buah yaitu:

/bl/, seperti pada kata bloe /bluo/ 'beli' Klaster ini hanya menempati posisi awal

biang /blan/ 'sawah'; blet / b W 'cabut'; bloh /bloh/ 'masuk ke air'; blet /blet/ 'kaleng'; blie /belia/ 'membelalak' /gl/, seperti pada kata gle' /glej 'bukti'

Klaster ini hanya menempati posisi awal geh /glehj 'bersih'; glah /glahj 'gelas', 'kelas';

glang /glarj/ 'cacing'; gleueng /gluan7 'gelang'

$ak /glak7 'muak'; glueng /gluany 'tendang' /kl/, seperti pada kata kiat /kiat/ 'kelat'

Klaster ini menempati posisi awal dan tengah

(45)

awal: kleuet /kluat/ 'liar'; kleueng /kluan/ 'elang' tengah: sukla /sukla/ 'hitam pekat'

siklep /siklfcp/ 'sekejap mata' singklet /sinklat/ 'melilit' /pl/, seperti pada kata plang /plan/ 'belang'

Klaster ini hanya menempati posisi awal plah /plah/ 'belah'; plueng /pluajj/ 'lari' ploh /ploh/ 'lepaskan ikatan'; /ploh/ 'puluhan' /cl/, seperti pada kata clam /clam/ 'bunyi air'

Hanya menempati posisi awal cium /cium/ 'bunyi air' clap /clap/ 'bunyi air' clup /clup/ 'bunyi air'

Klaster dengan r sebagai elemen kedua dan distribusinya.

/br/, seperti pada kata /brat/ 'berat'

Klaster ini menempati posisi awal dan tengah.

awal: bruek /bruak/ 'tempurung'; breueh /bruah7 'beras' bre /jbrej 'tidak sungguh-sungguh'; brbk /brokj 'buruk' bri /Brij 'beri'

tengah: bubrang /bubranj 'sebangsa cerapai pemakan ikan' bubruek /bubruik7 'burung air'; subra ßubraj 'ribut' 'bising'

/dr/, seperti pada kata droe /droa/ 'diri'

Klaster ini menempati posisi awal dan tengah awal: drop /Brop7 'tangkap' dra /çlraj 'siksa'

c/ra/î /drahj 'diskusi'; drö/i [ùxo\ÏJ 'gonggong' tengah: cidra /cidra/ 'cacat'; tadnz ./kadra) 'ikan belanak'

geundrang ^gundrag7 'genderang' /gr/, seperti pada kata grop /gropT. 'melompat'

Klaster ini menempati awal dan tengah

awal: graA: igrak7 'gerak'; g-n'ef /griat/ 'desak' grek igrek7 'kereta sorong'; grah /grarU 'haus' grefc /greh7 'sepotong'

tengah: nanggroe /nangroa7 'negeri' panggrop /pangrop/ 'membal' meugriet /jhugriai7 'terburu-buru'

(46)

/kr/, seperti pada kata kreueh /kruabj 'keras' Klaster ini menempati posisi awal dan tengah awal: kra /kra/ 'gurau'; krueng /kruaj7 'sungai'

kreh /kreh/ 'keris', 'kerok'; krang /kran/ 'gersang' kru /kruj 'ketombe'; krak /krak/ 'kerak'

kr iet /kriatj 'kikir'

tengah: sukrêiïet /sukruat/ 'sakarat'; OMto-z'A: /bukrik) 'kurus, buncit'; cakret /cakret? (sebangsa burung pemakan belalang)

/pr/, seperti pada kata prang /praj/" 'perang' Klaster ini menempati posisi awal dan tengah awal: pre/? /preh7 'tunggu'; pre'/pre7 'libur'

jwa/7 /paraît/ 'peras'; /m//i /pruh/ 'sembur' pro/j /prohj 'belah'; pw/i /prian/ 'kerdil' tengah: caprok /caprok/ 'mangkok dari tanah'; seupreuek

/Jupruak/ 'sebar'; tabur' /tr/, seperti pada kata imc [IxoâJ 'kenyang'

Klaster ini menempati posisi awal dan tengah awal: Iran /tran/ 'tarik': /row /trorn7 'tendang'

/TV>A: /trok/ 'tiba', datang'; tren /tran/ 'turun' fneflg /triany 'bambu': /w/; /tron/ 'simpan' tengah: c/«/ra /eintra) 'sangkar'; a/ra /atra) 'punya'

eunlreuk /untrok/ 'nanti' /jr/, seperti pada kata /ra /jraj 'jera'

Klaster ini menempati posisi awa/ dan tengah

awal: ///»// /Jroli7 'bagus'; /ruck fimakj 'asin. teruk' tengah: keujruen /kujruan) 'mandor irigasi'

/cr/, seperti pada kata rm/i /crohj 'goreng' Klaster ini hanya menempati posisi awal crah /crahj 'tumis'; crah /crah/ 'retak';

crak /crak/ 'bual'; fn7/i# /crotj7 'menimba' rrue-6 /cruab7 'telungkup'

(47)

Kita dapat memperhatikan tidak ada satu pun di antara klaster-klas- ter yang telah dibicarakan di atas dapat menempati posisi akhir . Selain konsonan ganda (konsonan klaster) yang telah dibicarakan di atas, dalam bahasa Aceh terdapat gugus/konsonan yang menempati posisi tengah saja, seperti yang tertera di bawah ini,

/nj/, seperti pada kata sinjakala 'senjakala' /hp/, seperti pada kata mirahpati 'merpati' /ntr/, seperti pada kata cintramani 'sejenis ular' /mph/ seperti pada kata geurimpheng 'lagu rebana' /htr/ seperti pada kata sijahtra 'sejahtera'

/mb/ seperti pada kata lembayong 'lembayung' /nt/ seperti pada kata bentara 'bintara' /nd/ seperti pada kata khanduri 'kenduri' /ngk/ seperti pada kata rungkhom 'terkam' 2.2 Ejaan

Bahasa Aceh tidak memiliki huruf sendiri. Sejak dahulu masyarakat Aceh telah mempergunakan huruf Arab dan Latin untuk pencatatan bahasa Aceh dan untuk kebutuhan itu orang Aceh lebih dahulu mengenal dan mempergunakan huruf Arab daripada aksara Latin. Ini terbukti, misalnya, jika diperhatikan pencatatan-pencatatan pada peninggalan sejarah di Aceh, kita temukan peninggalan itu memakai catatan dalam huruf Arab. Mata uang Kerajaan Aceh semasa Sultan Assama Trani (abad ke-16), misalnya, juga memakai catatan dalam bahasa Arab. Huruf Latin mungkin baru dikenal dan dipergunakan oleh orang Aceh pada abad ke-19.

Ejaan yang dipergunakan di kalangan masyarakat Aceh sampai sekarang masih ada perbedaan di sana sini dari satu penulis ke penulis lain. Perbedaan itu pada hakikatnya terletak pada pemberian tanda simbol untuk bunyi vokal, sedangkan untuk pemberian tanda bunyi konsonan tidak terdapat perbedaan lagi.

Berikut ini adalah contoh pemberian tanda yang berbeda untuk bunyi-bunyi vokal yang sama.

"o — o — o — o seperti dalam kata "on-on-on-on 'daun' thön -thon-thon-thon 'tahun'

ee - ee — ee - ee - seperti pada kata abee - abee - abee - abec 'debu' bee - bee - bee - bee 'bau'

(48)

Dengan menyadari perbedaan-perbedaan yang walaupun kecil, tetapi masih terdapat dalam pemakaian ejaan bahasa Aceh, dalam Seminar Bahasa Aceh yang diadakan oleh IKIP Bandung Cabang Banda Aceh pada tahun 1965, diusulkan agar ada keseragaman dalam pemakaian ejaan.

Ejaan yang kami pergunakan dalam penulisan penelitian ini juga kami dasarkan pada ejaan yang diputuskan dalam seminar bahasa Aceh itu dan sekaligus merupakan ejaan yang kami usulkan di sini dan tentu saja harus disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

sejauh dapat dilaksanakan.

EJAAN BAHASA ACEH Ejaan yang

Fonem Diusulkan Fonemis Ejaan Arti /i/

/e/

/e/

/a/

/u/

/o/

/o/

M/

/u/

Vokal sengau /i/

171 m m i~i

/ia/

®

/ea/

/ai/

/ui/

i

t

e a u

0

5 0 eu

i

£ u a

0

eu ie èe ai ui

/ija/

/pade/

/kude/

/hana/

/umu/

/cjk/

/ok/

/taha/

/ m j h /

/fik/

let

L

/on u/

/sah/

/mohob/

/sut/

/sia/

/abea/

/asai/

/apui/

aja pade keude nana umu cok ok tahe meuh

iek

>

on u sah/

meuhob seul sic abee asai apui

kain padi kedai tidak ada umur ambil rambut tercengang mas

kencing pendek daun ke- lapa kering berbisik marah/ke- sal menampi daging debu asal api

(49)

/oi/

/ua/

/oa/

/ai/

/oa/

Diftong sengau

/S/

/ft/

/2/

/53/

/5»/

/b/

/P/

lal

/t/

/g/

/k/

lil id fil

/m/

/n/

/n/

/3/

/s/

/1/

/r/

/j/

/h/

/w/

oi ue oe ei eue

Cm

ie w 'Si ue eue b P d t g k j

c sy m n sy ng s 1 r j h

w

/botoi/

/takua/

/soa/

/hei/

/puât/

/pîab/

/catà/

/bangai/

/uat/

/fi"»/

/to/

/pade/

/do3/ /tima/

/guda/

/kamoa/

/jok/

/cók/

/syok/

/mia/

/nan/

/noa/

/j>on/

/simak/

/laba/

/rugoa/

/yum/

/haba/

/wia/

beutoi takue soe hei peuet

pîe£

ca*ee bangai

uet

CM

eue ta pade dong tima guda

kamoe jok

cok syok mie nan nyoe ngon simak laba rugoe yum haba wie

betul leher siapa panggil empat

isap lawa-lawa bodoh telan merangkak bawa padi berdiri timba kuda kami berikan ambil duga kucing nama ini kawan perhatikan untung/

laba rugi harga kabar kiri

(50)
(51)

3.1 Afiksasi

Yang dimaksud dengan afiksasi ialah pemberian imbuhan pada suatu bentuk (morf). baik pada bentuk tunggal maupun pada bentuk kompleks dalam rangka pembetukan kata baru.

3.1.1 Distribusi Imbuhan (afiks)

Berdasarkan hasil penelitian maka dalam bahasa Aceh terdapat tiga kelompok imbuhan yaitu 1) awalan (prefiks), ÇL) sisipan (infiks)» dan (3) akhiran (sufiks). Di antara ketiga kelompok imbuhan itu yang ter- banyak ialah awalan dan akhiran, sedangkan sisipan hanya empat buah saja. Secara keseluruhan dalam bahasa Aceh terdapat 33 imbuhan, yaitu 17 awalan, 12 akhiran, dan 4 sisipan. Setiap imbuhan itu akan diuraikan dalam pemakaian kata-kata.

a. Awalan

Awalan dalam bahasa Aceh berjumlah 17 buah; terdiri dari 8 buah awalan biasa dan 9 buah awalan kata ganti orang (personal prefiks).

1) Awalan biasa a) awalan {meu-}

Contoh: meugrak 'bergerak'; meukeue 'berhadapan';

meujampu 'bercampur'; meugaki 'berkaki' b) awalan {peu-}

Contoh: peulikot 'membelakangi'; peukhem 'menertawakan' peunduek 'meletakkan'; peurayak 'membesarkan'

39

(52)

c) awalan {beu-}

Contoh: beuteuhah 'sampai terbuka'; beumiyup 'sampai rendah' beumate 'sampai mati'; beumangat 'sampai enak' d) awalan {keu-}

Contoh: keudua 'kedua'; keusoe 'untuk siapa'

keupadum 'yang keberapa'; keulon 'untuk saya' e) awalan {teu-}

Contoh: teukap 'tergigit'; teuduek 'terduduk' teumat 'terpegang'; teuntok 'terantuk' 0 awalan {si-}

Contoh: siuroe 'sehari'; sikilo 'sekilo'

sigohlom 'sebelum'; sipat 'satu tempat' g) awalan {neu-}

Contoh: neungui 'dandanan'; neulhat 'sangkutan' neurok 'pintu pagar'; neurajah 'mantera' h) awalan {seu-}

Contoh: seulawet 'selama'; seubaro 'membaharui' seumalèe 'memalukan'; seumanoe 'memandikan'

2) Awalan kata ganti orang (personal prefiks)

Awalan kata ganti orang dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

a) Awalan kata ganti orang pertama:

(1) awalan {ku-}

Contoh: kubloe 'kubeli'; kupoh 'kupukul' kukab 'kugigit'; kuplueng 'kulari' (2) awalan {meu-}

Contoh: meuwoe 'kami pulang'; meujak 'kami pergi'

meudeungo 'kami dengar'; meungisa 'kami kembali' meukalon 'kami lihat'

(3) Awalan {ta-}

Contoh: tagrak 'kita angkat'; tame 'kita bawa' tatarak 'kita tarik'; tamat 'kita pegang'

(53)

b) Awalan kata ganti orang kedua:

(1) awalan {ka-}

Contoh: kapoh 'kaupukul'; kacok 'kauambil'

kawoe 'pulanglah kamu'; katiek 'kamu letakkan' (2) awalan {ta-}

Contoh: taduek 'duduklah'; tapiyóh 'singgahlah' taweh 'pergikah'; taintat 'antarlah' (3) awalan { neu-}

Contoh: neuwoe 'pulanglah'; neubloe 'belilah' neupeugah 'katakanlah'

c) Awalan kata ganti orang ketiga:

(1) awalan {ji-}

Contoh: jimeureunoe 'dipelajarinya'; jimeupake 'dia berkelahi' jitarek 'ditarik'; jikheun 'dikatakan'

(2) awalan {geu-}

Contoh: geumeukat 'beliau berjualan'; geubri 'beliau berikan' geupasoe 'beliau isi' ; geusak 'beliau masukkan' (3) awalan {neu-}

Contoh: neuyue 'beliau suruh'; neusipak 'beliau menyepaki' neudhet 'beliau memarahi'; neupiku 'beliau memikiri' b) Akhiran

Akhiran dalam bahasa Aceh berjumlah 12 buah, terdiri dari 5 akhiran biasa dan 7 akhiran kata ganti orang (personal-sufiks).

1) Akhiran biasa:

a) akhiran { <m}

Contoh: tulesan 'tulisan'; bungkosan 'bungkusan' lapesan 'lapisan'; urosan 'urusan' b) akhiran {-l.on}

Contoh: jameunkon 'zaman dahulu'; bunoekon 'sejak tadi' baroekon 'dahulu'

c) akhiran { cit)

Contoh: nacit 'ada juga' meunancit 'demikian juga' adakcit 'sungguhpun'; hancit 'tidak juga'

(54)

d) akhiran {-pih }

Contoh: lonpih 'saya juga'; pengpih 'uangpun' e) akhiran {-keuh}

Contoh: pajankeuh 'kapankah'; jakkeuh 'pergilah' nakeuh 'adalah'; makeuh 'bawalah' 2) Akhiran kata ganti orang (personal sufiks)

a) Akhiran kata ganti orang pertama:

(1 ) akhiran {-kuh}

Contoh: atrakuh 'milikku'; aneukkuh 'anakku' hartakuh 'hartaku'; rumohkuh 'rumahku' (2) akhiran {-meuh}

Contoh: gampongmeuh 'kampung kami'; blangmeuh 'sawah ka- mi'

mutomeuh 'mobil kami'; rumoh sikulameuh 'rumah se- kolah kami'

(3) akhiran {-teuh}

Contoh: nanggroeteuh 'negeri kita'; muriteuh 'murid kita' gureeteuh 'guru kita'; meunasahteuh 'surau kita' b) Akhiran kata ganti orang kedua:

(1) akhiran {-keuh}

Contoh: makeuh 'ibumu'; buetkeuh 'pekerjaanmu' atrakeuh 'hartamu'; aduenkeuh 'abangmu' (2) akhiran {-neuh}

Contoh: rumohneuh 'rumah anda'; pengneuh 'uang anda' aneukneuh 'anak anda'; peurumohneuh 'istri anda' c) Akhiran kata ganti orang ketiga:

(1 ) akhiran {-jih}

Contoh: bajeejih 'bajunya'; umujih 'umurnya' babahjih 'mulutnya'; buleejih 'bulunya' (2) akhiran {.-geuh}

Contoh: hareutgeuh 'hartanya'; tubohgeuh 'badannya'

Referensi

Dokumen terkait

Menurut (Arsyad, 2013), berpendapat bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat baru, motivasi