STUDENT TODAY,LEADERS TOMORROW
Identitas mahasiswa sebagai agent of change masih kental terasa. Dengan peran mahasiswa sebagai penerus, pembangun, dan calon pemimpin masa depan yang akan menjadi ujung tombak mengelola bangsa ini. Artinya, mahasiswa sebagai agen dari suatu perubahan merupakan bagian dari perubahan segi akademis dan juga pembangun bangsa untuk lebih maju kedepannya.Saat ini karakter mahasiswa yang dibutuhkan adalah bukan sekedar mahasiswa yang pintar dalam akademisnya saja, tetapi juga yang pandai berbicara, profesional dalam kehidupan, kemudian senantiasa kontrbutif terhadap lingkungan sekitarnya. Untuk menggapai karakter yang di atas tidaklah mudah. Mahasiswa memerlukan konsep dan tindakan nyata untuk membangun sikap demi mencapai itu semua. Beberapa diantaranya yaitu (1) membangun jiwa kepemimpinan; (2) menjadi orang yang berintegritas; dan (3) membangun integritas kepemimpinan. Dengan menggunakan ketiga konsep tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menjalankan perannya sebagai penerus, pembangun, dan calon pemimpin masa depan yang baik.
Sosok pemimpin masa depan itu seperti kepemimpin Generasi Muda, generasi muda kini dan masa yang akan datang memiliki jiwa Pemimpin yang positif, partisipatif dan berorientasi pada konsiderasi, serta tidak selamanya merupakan pemimpin yang terbaik. Ditengah – tengah dinamika organisasi (yang antara lain diindikasikan oleh adanya perilaku staf / individu yang berbeda-beda), maka untuk mencapai efektivitas organisasi, Andaikan Indonesia memiliki pemimpin kini dan Masa datang yang sangat tangguh tentu akan menjadi luar biasa. Karena jatuh bangun kita tergantung pada pemimpin. Pemimpin memimpin, pengikut mengikuti. Jika Seorang pemimpin sudah tidak bisa memimpin dengan baik, cirinya adalah pengikut tidak mau lagi mengikuti. Oleh sebab itu kualitas kita tergantung kualitas pemimpin kita. Makin kuat yang memimpin maka makin kuat pula yang dipimpin. Rahasia utama dari kepemimpinan yaitu memiliki kekuatan terbesar dari seorang pemimpin bukan dari kekuasaanya, bukan kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya. Jika ingin menjadi pemimpin yang baik jangan pikirkan orang lain, pikirkanlah diri sendiri dulu. Tidak akan bisa mengubah orang lain dengan efektif sebelum merubah diri sendiri. Bangunan akan bagus, kokoh, megah, karena ada pondasinya. Memikirkan dalam membangun umat, membangun masyarakat, merubah dunia akan menjadi omong kosong jika tidak diawali dengan diri sendiri. Merubah orang lain tanpa merubah
diri sendiri adalah mimpi mengendalikan orang lain tanpa mengendalikan diri. Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal.
Indonesia hari ini, tentu berbeda dengan kemarin, atau esok hari. Tentu kita semua berharap agar esok hari dapat melihat Indonesia yang aman, damai, tentram dan sejahtera, dan hal tersebut akan terwujud apabila kita telah menemukan seorang pemimpin yang tepat yang bisa membimbing bangsa yang besar, bangsa kita bangsa Indonesia. Pemimpin untuk Indonesia di masa depan ada ditangan Para generasi muda yang saatnya untuk berkarya.
Kepemimpinan Generasi muda untuk di Indonesia hari ini, tentu berbeda dengan kemarin, atau esok hari. Tentu kita semua berharap agar esok hari dapat melihat Indonesia yang aman, damai, tentram dan sejahtera, dan hal tersebut akan terwujud apabila kita telah menemukan seorang pemimpin yang tepat yang bisa membimbing bangsa yang besar, bangsa kita bangsa Indonesia.
Generasi Muda yang akan menjawab semua tantangan masa depan Indonesia ini. Menyedihkan ketika kita melihat para pemimpin kita masih tidak dapat di harapkan, karena bahkan moral pemimpin kita pun masih harus di pertanyakan, masih harus di benahi, lantas bagaimana dengan yang dipimpin? Akankah lebih parah? Ataukah dapat memperbaikinya? Rahasia utama dari kepemimpinan yaitu memiliki kekuatan terbesar dari seorang pemimpin bukan dari kekuasaanya, bukan kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya. Jika ingin menjadi pemimpin yang baik jangan pikirkan orang lain, pikirkanlah diri sendiri dulu. Tidak akan bisa mengubah orang lain dengan efektif sebelum merubah diri sendiri. Bangunan akan bagus, kokoh, megah, karena ada pondasinya. Memikirkan dalam membangun umat, membangun masyarakat, merubah dunia akan menjadi omong kosong jika tidak diawali dengan diri sendiri. Merubah orang lain tanpa merubah diri sendiri adalah mimpi mengendalikan orang lain tanpa mengendalikan diri. Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal.
1. Membangun Jiwa Kepemimpinan
Didefinisikan oleh Stoner, Freeman dan Gilbert (1995), Kepemimpinan adalah proses dalam mengarahkan dan memengaruhi para anggota dalam hal berbagai aktivitas yang harus
dilakukan. Pemimpin dapat didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan untuk memengarui perilaku orang lain tanpa menggunakan kekuatan, sehingga orang-orang yang dipimpinnya menerima dirinya sebagai sosok yang layak memimpin mereka.
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan dan melatih jiwa kepemimpinan kita. Misalnya, mengikuti organisasi kampus atau UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Dengan mengikuti organisasi, kita bisa mengasah kemampuan berkomunikasi, berdiskusi, dan berinteraksi. Selain itu kita juga dapat membentuk pola pikir yang lebih baik. Padahal jika rasakan, organisasi banyak memberikan nilai-nilai yang positif dibandingkan negatifnya.
Contohnya, berorganisasi sangat 2. Menjadi Orang yang Berintegritas
Salah satu kualitas dan karakteristik yang diperlukan dalam kepemimpinan adalah Integritas. Intergritas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diartikan sebagai mutu, sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan potensi yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan. Mahasiswa yang berintegritas berarti berkarakter, berprinsip serta konsisten di dalam menjalankan kehidupan. Menurut Dwight Eisenhower : “Untuk menjadi pemimpin, seseorang harus memiliki pengikut. Dan untuk memiliki pengikut, seseorang harus memiliki rasa percaya. Tetapi syarat terutama bagi seorang pemimpin adalah integritas”.
Peran mahasiswa tidak bisa lepas dari pembangunan dan peranannya yang penting.
Dalam peranannya untuk pembangunan masa depan atau penentu masa depan bangsa, diharapkan mahasiswa mampu dan sanggung untuk memberikan perubahan dan pembangunan bangsa.Untuk itu, kita sebagai generasi muda, hendaknya menjadi orang-orang yang jujur, berkararter, dan menjunjung tinggi konsistensi. Agar nantinya kita dapat menjadi pemimpin yang amanah dan berintegritas tinggi untuk bangsa
”Kata pepatah, Student Today, Leader Tomorrow, yang kira-kira artinya sekarang kalian pelajar atau belajar dan nantinya kalian yang akan menjadi pemimpin. Jadi pada 30 tahun mendatang kalian akan menjadi generasi emas penerus bangsa yang akan memimpin bangsa ini . Melalui kegiatan Kawah Kepemimpinan Pelajar ini akan kalian panen di masa mendatang," kata Mendikbud Muhadjir Effendy saat sambutan pembekalan peserta KKP di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Rabu (2/5).
Jadi belajarlah dan gali pengalaman sebanyak banyaknya dengan berbagai kegiatan di sekolah dan organisasi OSIS serta kegiatan ekstra kurikuler lainnya, Pramuka, kegiatan sanggar seni, olahraga, dan lain-lain. Karena itu kita harus lebih bekerja keras dan cerdas untuk penggemblengan diri agar menjadi orang yang memiliki karkater kuat, terlatih dan tangkas.
Mempersiapkan generasi unggul yang memiliki karakter hebat, literasi hebat, kompetensi hebat dengan harapan mereka menjadi anak-anak yang tangguh, sehingga nantinya akan menjadi para pemimpin bangsa Indonesia yang berkarakter.
Mahasiswa lah yang menjadi bibit-bibit pejuang selanjutnya yang menjadi Agent of Change di segala bidang dan menjadi Social Control yang akan terus menjunjung tinggi keterbukaan dan transparansi dalam melaksanakan pemerintahan agar lebih mensejahterakan rakyatnya dan meminimalisir tingkat penyelewengan di tingkat aparatur negara.Mahasiswa, sebuah gelar baru yang hingga kini “dibanggakan”oleh sebagian besar masyarakat. Mahasiswa konon adalah para generasi harapan yang kelak mampu membawa perubahan bagi negara Indonesia untuk bisa bersaing dengan negara-negara di dunia. Sebutan itu hendaknya bisa menjadi cambuk bagi mahasiswa itu sendiri yang dipandang sebagai Agent of Change (agen perubahan).
Mahasiswa dituntut mampu untuk mengontrol keadaan negara; bukan untuk sekedar mengkritik, tetapi juga memberikan kontribusi yang riil untuk perubahan yang lebih baik (agent of social control). Sebagai kaum intelektual mahasiswa harus bersikap berani dan kritis, berani untuk mendobrak zaman ke arah kemajuan dan kritis terhadap kebijakan para pemegang roda pemerintahan.
Mahasiswa berperan sebagai transportasi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi mereka. Beban dan tanggung jawab menjadi mahasiswa sangatlah besar.Mahasiswa harus berani menyampaikan kebenaran tanpa menutupi kebohongan, selalu meneriakkan keadilan, sehingga semua harapan rakyat dan juga janji manis para politisi yang selalu berkoar dengan dalih demi kesejahteraan atas nama rakyat bisa terealisasikan, bukan hanya sekedar omong kosong belaka.Namun, itu semua hanya akan menjadi label yang hampa tanpa makna jika mahasiswa tidak mampu memberikan perubahan yang signifikan bagi masyarakat dan negara.
Mahasiswa bangga akan gelarnya namun lupa akan tanggung jawabnya, ketika mahasiswa diming-iming beasiswa yang memang menggiurkan, dengan antusias para hamba ilmu yang numpang belajar di perguruan tinggi itu akan hanya melaksanakan tanggung jawab akademis saja sekedar untuk mendapatkan IP yang tinggi.Pulang-pergi kampus, menyelami seluruh isi perpustakaan dan mengisi penuh otak mahasiswa dengan berbagai macam teori, baik dari ceramah dosen di kelas maupun dari bertumpuk-tumpuk buku dan lembaran makalah yang menemaninya setiap waktu. Tapi mahasiswa lupa bahwa tanggung jawab sebagai mahasiswa tidak hanya tanggung jawab akademis saja.
Mahasiswa mengacuhkan realita yang ada di tempatnya mencari ilmu. Pada dasarnya sah-sah saja dan bahkan akan menjadi suatu nilai plus jika para kaum terpelajar yang bernama mahasiswa dan dipandang berkedudukan tinggi tersebut mampu menunjukkan bahwa ranah kognitif mahasiswa yakni dari segi akademisijuga tinggi dan pantas untuk dibanggakan (agent of intellectual).
Tetapi itu semua tidak berarti apa-apa, jika untuk kedepan, implementasinya untuk lingkungan sekitar adalah kosong alias “nol besar”. Akan jauh lebih baik jika mahasiswa itu belajar untuk aktif, kritis dan tanggap sejak dini, yakni dimulai dari lingkungan kampus mahasiswa sendiri. Kampus adalah miniatur negara dan warga kampus yang terdiri dari mahasiswa, dosen dan karyawan adalah masyarakat negara tersebut, mahasiswa hendaknya tidak lupa akan perannya sebagai generasi harapan.
Ketika mahasiswa berikrar dalam sumpah mahasiswa “bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan”, maka kewajiban untuk membela dan memperjuangkan bangsa yang selalu gandrung akan keadilan ini adalah hukum wajib. Sejak pelajar tercatat sebagai mahasiswa, mahasiswa harus belajar peduli dengan kampusnya sendiri dan itu semua tidak cukup hanya dengan kata-kata di lisan saja tetapi perlu implementasi atau tindakan riil. menilik akan definisi mahasiswa adalah sebagai kaum intelektual yang akan membawa perubahanke arah progresif, seharusnya mahasiswa mampu memberi solusi bagi negara untuk mengurangi angka pengangguran yang kian tahun kian bertambah besar. Namun harapan hanyalah tinggal harapan belaka jika keadaan mahasiswa sekarang hanya mengandalkan gelar belaka tanpa ada skill yang mumpuni.
Mahasiswa seharusnya bisa mengimplementasikan kemampuannya di kampus dan juga lingkungan tempat tinggalnya sehingga keberadaannyasebagai mahasiswa akan sangat berpengaruh positif. Mahasiswa bisa menggunakan kampus yang merupakan miniatur negara sebagai tempat belajar sekaligus praktek berbirokrasi yang positif melalui organisasi-organisasi yang ada sehingga mahasiswa tidak menjadi mahasiswa yang vakum dan pasif.Kampus, ketika kaum elit intelektual yang tidak lain adalah mahasiswa memasuki dunia ini sebenarnya banyak sekali sarana dan fasilitas yang bisa mahasiswa fungsikan untuk belajar menjadi manusia sejati, mahasiswa dengan peran dan tanggung jawabnya, asal mahasiswa tidak buta dan tuli dengan berbagai realita sekitarnya.
Di kelas mahasiswa dengan mudah bisa mengusung berbagai macam ilmu dan teori yang akan menambah jiwa keintelektualannya, sedangkan di luar kelas terdapat kegiatan ekstra maupun intra kampus UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa)dan HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) yang dinaungi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Mahasiswa bisa berbaur dalam berbagai bentuk organisasi yang akan menambah intelektual skill mahasiswa serta meltih jiwa kepemimpinanya. Jika para mahasiswa itu mampu memprogandakan antara prestasi akademik dan skill niscaya mahasiswa akan menjadi mahasiswa yang sesungguhnya, memiliki jiwa aktifis yang tidak anarkis. Menjadi mahasiswa sesungguhnya yang kelak bisa memimpin perubahan bagi dirinya, masyarakat dan negaranya
Penulisan ini dimaksudkan untuk memberikan sedikit kontribusi terhadap upaya untuk merevitalisasi peran mahasiswa sebagai Agent of Change dan Pemimpin Masa depan.
Revitalisasi di sini maksudnya adalah proses dan bagaimana cara kita mengoptimalkan kembali peran mahasiswa tersebut, di mana kita ketahui bahwa peran tersebut sedikit demi sedikit mengalami degradasi jika dibandingkan dengan mahasiswa pada zaman sebelum dan awal kemerdekaan
Di awal kemerdekaan mahasiswa menjadi penggerak perubahan yang semula Indonesia menjadi negara jajahan banyak negara hingga menjadi negara merdeka hingga saat ini, dan pada masa awal kemerdekaan dan orde baru menjadi Social Control bagi pemerintah yang tidak transparansi dan tidak adil dalam memegang amanah rakyat.
Mahasiswa dengan rasa kebersyukuran pastinya di masa depan akan melahirkan para pemimpin bangsa yang bertanggung jawab dan tidak akan mudah menerima dan mengambil sesuatu yang tidak harus dimilikinya.Mahasiswa yang sejak dini di tanamkan rasa kebersyukuran dan kelak akan menjadi pemimpin bangsa akan terus berusaha melakukan sesuatu dengan maksimal dan akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk rakyatnya. Rasa kebersyukuran seperti pelengkap terhadap tingginya intelektualitas mahasiswa.
Dengan adanya rasa kebersyukuran diharapkan mahasiswa bisa menjalankan perannya dengan baik dan optimal yaitu sebagai agen perubahan dan kontrol sosial dimasa sekarang maupun yang akan datang. Karena mahasiswa adalah warisan dan aset besar negara di masa depan.Peran mahasiswa sebagai Agent of Change dan Social Control adalah perubahan menuju ke arah yang lebih baik dan akan memberikan manfaat serta menjadi pengontrol untuk dirinya sendiri, orang tua, teman-teman, orang-orang di sekitarnya dan untuk negara. Untuk diri sendiri manfaat sebagai Agent of Change adalah menjadikan kualitas diri semakin baik yaitu dengan rasa kebersyukuran, baik kualitas keimanan maupun hubungan sosial.
Jadi, mahasiswa itu sebagai agen perubahan untuk dirinya terlebih dahulu baru terhadap yang hal lain, karena suatu perubahan itu tidak akan muncul sebelum kita sendir yang melakukannya. Karena dasar dari semua yang ada di dunia ini adalah manusia itu sendiri misalnya kecanggihan teknologi, itu semua dihasilkan dari potensi dasar yang telah diberikan oleh sang pencipta yaitu berupa akal dan otak yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Rasa kebersyukuran adalah satu cara meningktkan kualitas diri seseorang.
Dan tentunya hal tersebut tidak bisa kita pisahkan dari rasa kebersyukuran. Mengapa?
Karena rasa kebersyukuran akan menghindari kita dari konflik sosial ataupun kecemburuan sosial yang akan merusak hubungan antar sesama seperti dan pastinya jika tidak ada hubungan baik maka tidak akan ada saling memberikan manfaat.
Sebagai Calon pemimpin di dalam keluarga atau orang-orang sekitar kita juga tetap harus tetap mengamati perubahan sosial yang terjadi di masyarakat dan sebaiknya memberikan penyelesaian dan solusi yang baik jika ada suatu masalah.
Dan yang paling penting adalah peran mahasiswa sebagai Agent of Change untuk negara kita tercinta yaitu Indonesia. Peran mahasiswa sebagai pemimpin masa depan sangat luas kajiannya, yaitu bisa agen perubahan dalam pendidikan, pembangunan ekonomi, pemberdayaan sosial, pengabdian masyarakat, dan masih banyak lagi.
Jika dilihat lagi mahasiswa pada zaman sebelum dan sesudah kemerdekaan sangat jauh perbedaannya, selain sudah berbeda situasinya yang dahulunya melawan bangsa orang lain sedangkan sekarang melawan bangsa sendiri. Jadi peran mahasiswa disini adalah menanamkan dasar atau pondasi sebelum menjadi Agent of Change yaitu dengan integritas kepemimpinannya.
Untuk negara mahasiswa sebagai Social Control harus mampu bersikap kritis terhadap apa yang terjadi di pemerintahan, kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh aparat negara yang semula ingin mensejahterakan rakyat malah semakin menyengsarakan rakyat.
Untuk itu rasa kebersyukuran disi sangatlah penting untuk menghindari hal-hal tersebut. Mahasiswa dengan rasa kebersyukuran akan selalu memikirkan apa yang telah ia dapatkan dan tidak sempat melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.Jadi, marilah kita sebagai penerus dan harapan bangsa di masa depan dapat menjadikan rasa kebersyukuran ini sebagai dasar dan pondasi dalam pengoptimalan peran mahasiswa sebagai Agent of Change dan Social Control yang baik dan berkualitas.Bayangkan apa yang terjadi jika semua pemerintah dan petinggi negara memiliki dasar yang baik dalam membangun bangsa? Tidak akan ada lagi masyarakat yang hidup dengan kemiskinan, memakan nasi basi yang dikeringkan dan banyak lagi hal-hal miris yang diakibatkan oleh para pemimpin negara yang tega mengambil hak yang bukan miliknya.
Kecenderungan yang ada sekarang ini mengarah kepada masa depan yang jelas, oleh karena itu seorang pemimpin harus lebih baik, lebih siap dan mampu menyesuaikan dengan
kondisi masa depan. Akan tetapi, sebaliknya dari apa yang telah dikatakan, bahwa hari dari pemimpin yang bertanggung jawab tidak habis. Para pemimpin tidak akan mengalihkan ke praktik pemimpin yang laissez-faire, di mana anggota organisasi akan menyusun seluruh keputusan sementara para pemimpin akan melakukan tugas dan memonitor hasilnya. Pengarahan diri sendiri secara total tidak lagi menjadi esensial untuk menghadapi tantangan masa depan.
Pendekatan yang disebut baru dalam pengarahan diri sendiri tidak membatalkan tanggung jawab seorang pemimpin. Dalam kenyataannya, tidak ada pemimpin yang dapat mendelegasikan tanggung jawab; seorang pemimpin hanya dapat mendelegasikan kewenangannya. Pemimpin adalah, dan akan selalu, bertanggung jawab terhadap segala sesuatu dari organisasinya dan anggotanya untuk melaksanakan .atau gagal melaksanakannya. Hal ini adalah benar bahkan ketika kewenangan untuk melakukan sesuatu didelegasikan. Bawahan mungkin bertanggung kepada Anda, akan tetapi Anda, adalah bertanggung jawab kepada apa yang dilakukan atau gagal dilakukan oleh individu.
Globalisasi membuat permintaan yang besar terhadap para pemimpin hari ini, dan globalisasi yang meningkat diisi oleh politik dan teknologi yang maju membuat permintaan lebih menantang di masa yang akan datang. Kehidupan akan menjadi lebih sederhana apabila globalisasi hanya merupakan tantangan bagi para pemimpin di masa depan, atau globalisasi akan membeku pada waktunya dan tidak akan berkembang lagi. Seorang pemimpin dapat memberikan perintah dan perintah itu ditaati. Inilah yang disebut pendekatan wortel dan tongkat (carrot – and-stick approach). Pendekatan “wortel dan tongkat” berasal dari masa kuno, di mana Xenophon menulis bahwa Cyrus telah berdiskusi dengan bapaknya tentang pendekatan wortel dan tongkat. Bapaknya setuju bahwa suatu proses bekerja untuk memperoleh kepatuhan melalui suatu kekuatan. Akan tetapi dia kemudian mengatakan bahwa ada cara yang lebih baik dalam memimpin, melalui orang lain yang akan patuh padanya dengan kesenangan dan tanpa harus memiliki tongkat. Cyrus harus memberikan perhatian yang lebih bagaimana dia memimpin dan memberikan lebih perhatian kepada pengikutnya daripada ke dirinya sendiri.
Pada saat sekarang ini, banyak waktu yang tidak memungkinkan, dan akan sering menjadi kasus di masa depan. Hal ini bukan karena tidak kompetensi atau kemalasan pemimpin, akan tetapi karena banyak pekerjaan yang membutuhkan pendidikan dan pelatihan khusus.
Tugas-tugas sekarang dilaksanakan lebih efisien dan efektif melalui penggunaan teknologi. Hal ini juga akan meminta suatu perubahan dalam cara bagaimana para pemimpin berinteraksi
dengan mereka yang dipimpin. Peranan pemimpin yang penting masih akan membutuhkan keberadaan tanggung jawab mereka dan memimpin organisasi mereka meskipun kompleksitas meningkat karena kecenderungan globalisasi yang saling berhubungan dan bergantung satu sama lain, inovasi teknologi, perubahan sosiologikal, demografi dan lainnya. Pemimpin masa depan akan masih menjadi pemimpin sesuai dengan kenyataan. Pemimpin masih akan bertanggung jawab. Bagaimana pemimpin sebaiknya mempersiapkan hari ini untuk peranan baru dan lebih menantang esok hari?
Setiap orang ingin merasa penting, dan itu merupakan hal yang krusial bagi pemimpin masa depan untuk memahami ini. Mengherankan, banyak pemimpin, secara sengaja atau tidak, melakukan sesuatu yang bertentangan dengan para pengikutnya. Kebanyakan pemimpin yang berhasil adalah yang memelihara perasaan dari para bawahan mereka. Pemimpin yang baik tidak akan pernah menunjukan superioritasnya kepada para bawahan atau pengikutnya.Pemimpin masa depan akan menemukan cara yang benar untuk mempengaruhi mereka akan memiliki dampak yang lebih besar dibanding hari ini. Akibatnya, pemimpin masa depan harus membangun aturan taktik yang mempengaruhi di mana mereka memimpin dalam suatu lingkungan yang lebih kompleks, dengan banyak tantangan baru.
Diharapkan kepemimpin Indonesia kini dan masa yang akan datang memiliki jiwa Pemimpin yang positif, partisipatif dan berorientasi pada konsiderasi, serta tidak selamanya merupakan pemimpin yang terbaik. Menjadi pemimpin adalah soal pengakuan dari yang dipimpin, sebuah rumusan sederhana yang sering terlupakan. Orang-orang mulai melupakan rasa moralitas, juga idealisme dalam bermasyarakat ketika menyangkut hal yang berbau materi, masyarakat kita, tidak terkecuali para pemimpin yang sedang berkuasa saat ini, cenderung lebih memikirkan keuntungan pribadi dibandingkan dengan kepentingan umum, yang mereka lakukan dengan cara yang kejam seperti menipu, mencuri, merampok, membunuh, korupsi. Semua ini adalah sebuah Tulisan dari Generasi Muda Indonesia yang Menjawab Tantangan Masa Depan untuk indonesia.Pemimpin adalah titik awal suatu peradaban baru dimulai, darinya tercipta sebuah pembaharuan, dirinya adalah tolak ukur output yang akan dicapai, dan lingkungan yang ia pimpin adalah indikator keberhasilan dirinya sebagai pemimpin. Menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah. Mengapa? Karna pemimpin bukanlah bos yang mengandalkan anak buah, tetapi pemimpin akan maju bersama pasukannya untuk mencapai finish.
Kriteria menjadi seorang pemimpin tidak memandang usia. Jika pemimpin identik dengan kaum yang lebih senior, itu salah. Bahkan pemuda memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin asalkan memenuhi kriteria. Mengapa harus pemuda? Karena pada hakikatnya pemuda adalah indeks yang dapat menentukan kemajuan dan eksistensi sebuah bangsa.“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.” Begitulah sepenggal kalimat yang dilontarkan Bung Karno dalam salah satu pidatonya. Bukan tanpa alasan kata-kata penuh makna tersebut disampaikan, namun dengan tujuan pengharapan kepada pemuda. Bayangkan, Bung Karno menggunakan rasio 10 banding 1000 untuk pemuda dan orang tua. Betapa sungguh pemuda itu dieluh-eluhkan perannya di setiap lapisan kehidupan. Oleh karenanya, pemuda harus menjalankan perannya secara maksimal. Dimulai dari peran kecil seperti memimpin diri sendiri untuk terus memanen padi kebaikan, hingga peran besar seperti bagaimana menjadi manfaat untuk diri sendiri, lingkungan sekitar, agama, bangsa, dan negara.
Sebagai calon pemimpin masa depan dan generasi penerus, masa depan bangsa ada dalam genggaman tangan pemuda. Amanah sebagai agen perubahan pun telah jatuh di pundak para pemuda. Jika saat ini bangsa belum baik, maka pemuda adalah pemegang kunci gerbang kemerdekaan bangsa, pemuda adalah dongkrak perubahan serta pembaharuan peradaban, dan pemuda adalah kader serta pemimpin bangsa pada masa yang akan datang. “Pemuda hari ini, pemimpin hari esok” bukanlah sekedar hipotesis, imajinasi, prediksi, atau bahkan hanya estimasi. Atas nama seluruh pemuda, mimpi ini akan terealisasi pasti sebagai hadiah perjuangan untuk para pemimpin terdahulu.