• Tidak ada hasil yang ditemukan

studi deskriptif tentang pengembangan kemandirian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "studi deskriptif tentang pengembangan kemandirian"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsinya yang berjudul “Studi Deskriptif Perkembangan Kemandirian Anak Gangguan Jiwa Di Panti Sosial Binanetra Amal Mulia”. Bengkulu". Rini Fitria, S.Ag, M.Si, selaku kepala Departemen Dakwah IAIN Bengkulu yang membuat proses studi penulis berjalan lancar. Amal Mulia Panti Sosial Bina Netra Kota Bengkulu yang memberikan ijin dan fasilitas penelitian sehingga penelitian dapat berjalan dengan baik.

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang
  • Rumusan Masalah
  • Batasan Masalah
  • Tujuan Penelitian
  • Kegunaan Penelitian
    • Kegunaan Teoritis
    • Kegunaan praktis
  • Penelitian Terdahulu
  • Sistematika Penulisan

Apa saja faktor penghambat dan pendukung berkembangnya kemandirian anak tunagrahita di Panti Sosial Binanetra Amal Mulia Kota Bengkulu. Untuk mengetahui faktor penghambat dan pendukung perkembangan kemandirian anak tunagrahita di Panti Sosial Binanetra Amal Mulia Kota Bengkulu. Penelitian ini diharapkan dapat menambah jumlah teori yang berkaitan dengan teori perkembangan kemandirian anak tunagrahita di panti asuhan.

Metode Penelitian, yang terdiri dari pendekatan dan jenis penelitian, tempat dan waktu peneliian, teknik penentuan penelitian, tempat dan waktu peneliian, teknik penentuan

Persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu dengan yang saya lakukan, persamaannya adalah sama-sama membahas tentang perkembangan kemandirian anak tunagrahita, sedangkan perbedaannya terletak pada strategi pembelajaran menjahit.

Hasil dan Pembahasan, yang terdiri dari deskripsi temuan dan pembahasan, terdiri dari temuan penelitian, pembahasan

Penutup, Pada bab ini berisi tentang kesimpulan hasil penelitian dan saran. penelitian dan saran

Pengertian Tunagrahita

Keterbelakangan mental adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata, istilah lain dari keterbelakangan mental adalah sebutan untuk anak yang memiliki kemampuan rendah atau berkurangnya kemampuan dalam hal kekuatan, nilai, kualitas dan kuantitas. Ia hanya mampu melakukan pekerjaan yang dapat dilakukan oleh anak-anak yang lebih muda darinya. 9Novita Yosiani, “Hubungan Karakteristik Anak Tunagrahita dengan Pembelajaran Pola Tata Ruang di Sekolah Luar Biasa”, E-Journal Pascasarjana Unpar, Vol.1, No.

Karakteristik Tunagrahita

Ciri-ciri kemampuan dalam bidang akademik, penyandang disabilitas intelektual mengalami kesulitan dalam mencapai bidang akademik yaitu kemampuan membaca dan berhitung yang bermasalah. Ciri-ciri kemampuan dalam kemampuan berorganisasi disebutkan terkait dengan kepribadian penyandang disabilitas mental umumnya tidak memiliki rasa percaya diri, tidak mampu mengendalikan dan mengarahkan diri sehingga lebih bergantung pada orang lain. Sehingga kemampuan penyandang tunagrahita dalam mengatur keadaannya kurang baik, terutama pada penderita tunagrahita berat.

Faktor Penyebab Penyandang Tunagrahita

Terjadinya trauma, terutama pada otak saat bayi dilahirkan atau terkena radiasi radioaktif saat hamil, dapat memicu terjadinya keterbelakangan mental. Trauma yang terjadi saat melahirkan biasanya disebabkan oleh sulitnya melahirkan sehingga membutuhkan pertolongan. Masalah yang terjadi pada saat lahir, misalnya kelahiran yang berhubungan dengan hipoksia yang menyebabkan bayi mengalami kerusakan otak, kejang, dan sesak napas.

Klasifikasi Anak Tunagrahita a. Tunagrahita Ringan

Bahwa berbagai pengalaman negatif atau kegagalan interaksi yang terjadi pada masa perkembangan menjadi salah satu penyebab terjadinya retardasi mental. Disabilitas intelektual berat (berat) mempunyai IQ antara 32-20 menurut skala Binet dan antara 39-25 menurut skala Weschler (WISC). Disabilitas intelektual sangat berat (berat) mempunyai IQ dibawah 19 menurut skala Binet dan IQ dibawah 24 menurut skala Weschler (WISC).

Karakteristik Anak Tunagrahita ringan Berikut ini karakteristik anak tunagrahita yaitu

Dengan lebih mudahnya berbicara anak tunagrahita menunjukkan kefasihan hanya pada kata-kata yang terbatas, anak tunagrahita juga mengalami kesulitan dalam menarik kesimpulan tentang isi pembicaraan. Penderita keterbelakangan mental ringan dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya terampil untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu yang dapat dijadikan bekal hidupnya. Penderita retardasi mental ringan ketika dewasa menunjukkan produktivitas yang tinggi akibat pekerjaan yang berulang-ulang.

Pentingnya Minat Anak

Mereka yang lambat matang, seperti yang telah disebutkan, menghadapi masalah sosial kerana minatnya adalah kanak-kanak dan minat rakan sebaya adalah remaja. Sebagai contoh, mereka tidak boleh mempunyai minat sebenar untuk bermain bola sehingga mereka mempunyai kekuatan dan koordinasi otot yang diperlukan untuk bermain permainan. Seorang kanak-kanak yang cacat fizikal, sebagai contoh, tidak mungkin mempunyai minat yang sama dalam sukan seperti rakan-rakannya yang perkembangan fizikalnya normal.

Kemandirian

  • Pengertian Kemandirian
  • Kemandirian Bagi Anak Tunagrahita (ATG)
  • Faktor Kemandirian
  • Ciri-ciri Kemandirian
  • Membedakan Kemandirian
  • Ukuran Kemandirian
  • Membangun Karakteristik Anak Melalui Kemandirian

Sedangkan faktor eksternal meliputi: (1) Faktor sekolah terdiri atas: alat pembelajaran dan waktu pembelajaran; (2) Faktor masyarakat antara lain: teman sebaya atau teman bermain dan media massa (khususnya acara televisi). 17. 16 Sari, Santy “Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kemandirian Personal Hygiene Pada Anak Tunagrahita”, Jurnal Ilmiah Kesehatan, Vol.10 No. 17 Septiyana Hastuti Dwi, “Strategi Pembelajaran Pelatihan Menjahit Sebagai Upaya Meningkatkan Kemandirian Anak Tunagrahita”, Jurnal Pendidikan Nonformal, JNE hal.

Selain itu, rendahnya kemandirian anak tunagrahita juga dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang melatar belakangi. 18 Indah Fajortuz Zahro, “Pengaruh Pengembangan Diri Terhadap Peningkatan Kemandirian Anak Tunagrahita SDLBN Sumbang III Bojonegoro”, Jurnal Kajian Keislaman dan Pendidikan. Faktor kemandirian anak tunagrahita yang dapat dilakukan salah satunya adalah dengan menjaga kebersihan badan, mencuci tangan, mencuci muka, mencuci kaki, menggosok gigi dan buang air kecil, makan dan minum mandiri, berpakaian dan berinteraksi sosial.

Kemandirian pada anak tunagrahita diharapkan anak dapat menjaga dirinya sendiri dan lebih bertanggung jawab dalam upaya mencapai ciri-ciri kemandirian sesuai dengan potensi yang dimiliki anak tunagrahita, antara lain peningkatan rasa percaya diri, tumbuhnya rasa percaya diri. tanggung jawab, tumbuhnya kemampuan untuk menentukan pilihan dan mengambil keputusan sendiri, tumbuhnya kemampuan mengendalikan emosi. Hubungan Karakteristik Anak, Dukungan Keluarga dan Kemandirian Personal Hygiene Anak Tunagrahita.” Carolus Journal of Nursing, Vol. Perkembangan kemandirian anak merupakan suatu proses dimana anak akan mampu melakukan segala sesuatunya sendiri, seiring berjalannya waktu.

Untuk mengetahui faktor penghambat dan pendukung berkembangnya kemandirian anak usia dini melalui pola asuh yang diterapkan.

Pandangan Islam Terhadap ABK

Hak dan Kewajiban Penyandang Disabilitas dalam Islam Islam memandang manusia adalah sama tanpa memandang latar belakang sosial, pendidikan atau fisik seseorang, yang membedakan hanyalah tingkat ketakwaan dan keimanannya. Tak terkecuali penyandang disabilitas, mereka berhak mendapatkan perlakuan yang manusiawi dan fasilitas pelayanan yang layak, terutama pada fasilitas ibadah, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. [Abdullah bin Muhammad Al Karmani] memberi tahu kami [Jairir] tentang otoritas [Al A'masy] tentang otoritas [Abu Ash Shalih] tentang otoritas [Abu Hurairah] katanya; Nabi s.a.v.s. bersabda: “(Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman); Barangsiapa buta kedua matanya lalu bersabar dan mengharap pahala, maka Aku tidak akan ridha padanya kecuali dia menerima pahala masuk surga.” (HR. Darim nomor 267) Melalui hadits ini, hakikatnya setelah adanya keterbatasan fisik (cacat), ada derajat keluhuran dari Allah jika seseorang mau bersabar dalam menjalani kehidupan yang telah Allah tetapkan.

Hal ini menjadi bukti bahwa Islam sangat mementingkan keberlangsungan hidup penyandang disabilitas, baik di dunia maupun di akhirat. Saat ini penyandang disabilitas masih sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat luas, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, beberapa di antaranya disebabkan oleh keterbatasan mereka dalam melakukan suatu aktivitas dan keterbatasan kemampuan fisik mereka. 25 Mohammad Yazid Mubarok, “Hak dan Kewajiban Penyandang Disabilitas Sebelum dan Sesudah Islam Datang”, Jurnal Pendidikan & Islam.

Pendekatan dan Jenis Penelitian

Subjek Informan Penelitian

Sampel ini digunakan apabila jumlah populasi relatif kecil yaitu tidak lebih dari 30 orang, sampel total disebut juga sensus, dimana seluruh anggota populasi dijadikan sampel26. Maka dari uraian di atas maka teknik sampling yang digunakan sebagai penelitian adalah 10 orang yang terdiri dari 7 orang anak tunagrahita, 2 orang guru pembimbing anak tunagrahita dan 1 orang kepala Panti Sosial Binanetra Amal Mulia Kota Bengkulu.

Waktu dan Lokasi Penelitian

Sumber Data

Teknik Pengumpulan Data

Sumber data penelitian ini berasal dari jurnal dan buku yang berkaitan dengan judul peneliti. Dalam wawancara pada penelitian ini pertanyaan diajukan kepada anak tunagrahita, kepala panti sosial Binanetra Amal Mulia kota Bengkulu, dan pendamping anak tunagrahita. Pertanyaan yang telah disusun adalah tentang proses aspek kemandirian belajar anak tunagrahita, aspek aktivitas sehari-hari anak tunagrahita, aspek sosial anak tunagrahita, faktor pendukung kemandirian anak tunagrahita dan faktor penghambatnya. kemandirian anak tunagrahita. kemandirian anak tunagrahita.

Catatan yang tersedia sebagian besar berbentuk surat, catatan harian, memoar, laporan dan lain sebagainya. Sifat primer data ini tidak terbatas pada ruang dan waktu, sehingga memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melihat hal-hal yang terjadi pada masa lalu. Kumpulan data yang berbentuk tulisan ini disebut dokumen dalam arti luas berupa monumen, foto, data, dan lain-lain.

Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data langsung dari lokasi penelitian, antara lain buku-buku yang relevan, laporan kegiatan yang berkaitan dengan informan penelitian berupa foto, data atau 30 Burhan Bungin, “Metode Penelitian Kuantitatif Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya”, (Jakarta: Kencana, 2005), hal.

Teknik Keabsahan Data

Triangulasi sumber data, yaitu dilakukan dengan mencari data dari banyak sumber informan, yaitu orang-orang yang berhubungan langsung dengan objek penelitian. Metode triangulasi, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data yang berbeda-beda (observasi, wawancara dan dokumentasi). Triangulasi teori dilakukan dengan cara mengkaji berbagai teori yang relevan, sehingga dalam hal ini tidak digunakan satu teori saja melainkan beberapa teori.

Teknik Analisis Data

Setelah data terkumpul dilakukan survei kemudian dilakukan pengelompokan, untuk mempertajam analisis dilakukan dengan menggunakan teknik analisis deskriptif. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memusatkan perhatian pada hal-hal yang penting, mencari tema dan pola serta membuang hal-hal yang tidak diperlukan. Verifikasi penulis dilakukan setelah penyajian data selesai, dan ditarik kesimpulan berdasarkan hasil penulisan lapangan yang dianalisis secara teori.

Deskripsi Wilayah Panti Sosial Binanetra Amal Mulia Kota Bengkulu 1. Sejarah Panti Sosial Binanetra Amal Mulia Kota Bengkulu

  • Visi, Misi dan Tujuan Panti Sosial Binanetra Amal Mulia Kota Bengkulu

Mewujudkan kesejahteraan penyandang disabilitas, anak terlantar, anak yatim/piatu, fakir miskin, pemuda putus sekolah, dan lanjut usia melalui pendidikan formal dan nonformal serta memberikan kesejahteraan kepada lanjut usia terlantar. Penyelenggaraan rumah singgah bagi anak cacat, yatim piatu, fakir miskin, generasi muda putus sekolah, sehingga mampu menjalankan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat. Mewujudkan kesejahteraan lanjut usia yang dipenuhi rasa tenang, damai, dan bahagia dengan cara mendidik, membimbing dalam memenuhi kebutuhan sosial, psikologis, dan spiritual 34 d.

Tabel Informan Penelitian
Tabel Informan Penelitian

Profil Informan

  • Identitas Subjek Penelitian 1
  • Identitas Subjek Penelitian 2
  • Identitas Subjek Penelitian 3
  • Identitas Subjek Penelitian 4
  • Identitas Subjek Penelitian 5
  • Identitas Subjek Penalitian 6
  • Identitas Subjek Penelitian 7
  • Identitas Subjek Penelitian 8
  • Identitas Subjek Penelitian 9
  • Identitas Subjek Penelitian 10
  • Faktor Penghambat dan Pendukung Pengembangan Kemandirian Anak Tunagrahita di Panti Sosial Binanetra Amal Mulia Kota
  • Pengembangan Kemandirian Anak Tunagrahita di Panti Sosial Binanetra Amal Mulia Kota Bengkulu
  • Faktor Pendukung dan Penghambat Pengembangan Kemandirian Anak Tunagrahita

PENUTUP

Faktor pendukung dan penghambat pengembangan kemandirian anak tunagrahita yaitu faktor pendukungnya berupa support orangtua, fasilitas-

Saran

Burhan Bungin, 2005, “Metode penelitian kuantitatif bidang komunikasi, ekonomi dan kebijakan publik serta ilmu-ilmu sosial lainnya”, Jakarta. Hastuti Dwi Septiyana, Ilyas, 2017, “Strategi Pembelajaran Pelatihan Menjahit Sebagai Upaya Meningkatkan Kemandirian Anak Tunagrahita”, Jurnal Pendidikan Nonformal, JNE 3 (1). Melda neli, dkk, 2020, Penguatan pendidikan karakter mandiri pada anak berkebutuhan khusus disabilitas mental di Panti Sosial Bina Grahita.

Novita Yosiani, 2014 “Hubungan Karakteristik Anak Tunagrahita dengan Pembelajaran Pola Spasial di SLB”, E-Journal Pascasarjana Unpar, Vol.1 No. Rafael Lisinus, Pastiria Sembiring, 2020, “Udvikling af børn med særlige behov ( et vejlednings- dan rådgivningsperspektiv)", Kami Menulis. Raudah Muksin, dkk, 2017 “Pengaruh Orientasi Kewirausahaan Terhadap Kelangsungan Hidup Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Kelompok Pengolahan Perikanan di Kota Makassar,” Jurnal Analisis.

Sari, Santy, 2017, “Hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kemandirian personal hygine pada anak tunagrahita”, Jurnal Ilmiah Kesehatan, Vol.10 No. Septiyana dwi hastuti, 2017 “Strategi pembelajaran pelatihan menjahit sebagai upaya peningkatan kemandirian anak tunagrahita”, Semarang, Jurnal pendidikan nonformal, Vol 3 No 1. Yuliani Pratiwi, 2020, skripsi “Bimbingan Karir Anak Tunagrahita Belajar di SMALB Kota Bengkulu, Bengkulu, IAIN.

Gambar

Tabel Informan Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

It would depend on other factors that influenced students in learning process Conclusion According to the research findings that mentioned on the previous, the researcher conclude