• Tidak ada hasil yang ditemukan

studi fatwah (majelis ulama indonesia) dan fatwa ulama

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "studi fatwah (majelis ulama indonesia) dan fatwa ulama"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Di satu sisi, program bayi tabung sebenarnya cukup bermanfaat bagi pasangan suami istri (pasutri) yang sedang mengalami gangguan kesuburan dan ingin memiliki keturunan. Jadi bayi tabung dianggap sebagai bagian dari upaya yang dilakukan sepasang suami istri untuk memiliki keturunan.

Rumusan Masalah

Dengan jumlah embrio yang ditanam kembali lebih sedikit dibandingkan dengan yang dibuahi, timbullah permasalahan yaitu apa yang terjadi pada sisa embrio yang tidak ditanam kembali di dalam rahim?

Tujuan Penelitian

Kegunaan Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Penelitian Terdahulu

Namun yang membedakan skripsi ini dengan penelitian penulis adalah metode kajian yang digunakan dalam skripsi ini berdasarkan hukum Islam kontemporer mengenai hukum mengandung bayi tabung. Namun perbedaan mendasar antara skripsi ini dengan penelitian penulis adalah metode kajian yang digunakan dalam skripsi ini berdasarkan pada putusan Mahkamah Konstitusi No. 46/PUU-VIII/2010 dengan pendekatan metode Qiyas tentang kelahiran anak yang berasal dari sperma jenazah laki-laki. Hasil penelitian adalah dengan menggunakan penafsiran analog maka kedudukan hukum anak bayi tabung adalah sebagai anak sah karena anak bayi tabung adalah anak dari seorang laki-laki dan perempuan yang mempunyai ikatan perkawinan yang sah menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. tentang Perkawinan, yang dikandung oleh perempuan sah yang melakukan implantasi sel telur untuk anak bayi tabung.

Selain itu, teknologi bayi tabung hanya bersifat membantu kehamilan dalam proses pembuahan, yakni di luar cara alami yang menggunakan in vitro. Hak waris bayi tabung dalam hukum waris menurut kitab hukum perdata adalah sebagai ahli waris hak penanaman modal kelas satu karena kedudukan bayi tabung sebagai anak sah14. 14 Tiar Nurul Chasanah, “Peninjauan Kembali Bayi Tabung Dalam Hukum Waris Berdasarkan KUHPerdata”, (Skripsi; Universitas Sebelas Maret Surakarta: Fakultas Hukum, 2012).

Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu yang diperoleh dari beberapa literatur yang berkaitan dengan penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan oleh beberapa penelitian terdahulu menjelaskan tentang hukum bayi tabung atau status garis keturunan, serta hukum pewarisan bayi tabung. . Namun belum ada satupun penelitian yang secara spesifik membahas permasalahan perspektif hukum Islam terhadap embrio bayi tabung yang dikaitkan dengan analisis hukum Islam, sehingga membuka kemungkinan untuk dilakukannya penelitian ini yang mengungkap makna perspektif hukum Islam terhadap embrio bayi tabung.

Tinjauan Teoritis

Mashlahah dan Maqasid al-Shari'ah adalah dua perkara penting dalam pembinaan dan pembangunan syariat Islam, menurut al-Sayatibi. Maslahah mursalah memberi hak kepada sesuatu sebab atas dasar kemaslahatan yang tidak disebutkan secara khusus dalam nas, manakala jika dilakukan jelas akan mendatangkan kemaslahatan yang bersifat umum dan jika ditiadakan jelas mengakibatkan kemudaratan umum. Imam Malik menafsirkan penggunaan kaedah maslahah mursalah yang betul dan bukannya penyalahgunaannya, dan secara teologi menetapkan tiga syarat.

Menurut Abdul Wahab Khallaf, maslaha mursalah ialah maslahah di mana syariat tidak menetapkan hukum bagi penciptaan maslahah, dan tidak ada dalil yang membuktikan pengesahan atau pemansuhannya.23 Manakala menurut Muhammad Abu Zahra, Pengertian maslaha mursalah ialah segala kemaslahatan, yang sesuai dengan maslahah mursalah sebagai kaedah hukum yang memperhitungkan adanya kemaslahatan yang mempunyai akses umum dan kepentingan yang tidak terbatas, tidak terikat. Dengan kata lain, maslahah mursalah ialah kepentingan yang diputuskan secara bebas tetapi tetap terikat dengan konsep asas Syariah.

Bagi menjaga kemurnian kaedah maslahah mursalah sebagai asas syariat Islam, ia perlu mempunyai dua dimensi penting iaitu sisi pertama harus tunduk dan harus sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam nas (al Qur'an). dan al-Hadith) tekstual atau kontekstual. Maka dalam hal ini perlu adanya syarat dan standar yang tepat dalam penggunaan maslahah mursalah, baik secara metodologi maupun dalam penerapannya.

Tinjauan Konseptual

Kiai Anwar mengatakan, yang berhak mengeluarkan fatwa adalah ulama tertentu yang memiliki beberapa syarat. “Selain menguasai bahasa Arab dan memahami dasar-dasar hukum Islam seperti Al-Qur’an, Hadits dan ijma’ulama, seseorang yang berhak mengeluarkan fatwa juga harus menguasai cara menafsirkan hukum-hukum dari Al-Qur’an dan mengambil Hadits, kata Kiai Anwar. . Sebab, kata dia, ada masyarakat yang sebenarnya belum mengetahui seluk beluk yurisprudensi, namun berani mengeluarkan fatwa.

Ketua MUI KH Ma'ruf Amin mengatakan yang berhak mengeluarkan fatwa di Indonesia adalah majelis ulama yang dihadiri panitia fatwa, ulama pesantren, ulama berbagai organisasi masyarakat (ormas) dan perguruan tinggi. . Ketika ada dua ormas Islam yang mengeluarkan fatwa berbeda, maka masyarakat diajak untuk memilih fatwa yang diyakininya. MUI atau Majelis Ulama Indonesia adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang menampung para ulama, zu'ama dan cendekiawan Islam di Indonesia untuk membimbing, mengembangkan dan melindungi umat Islam di seluruh Indonesia.

Majelis Ulama Indonesia didirikan pada tanggal 7 Rajab 1395 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 26 Juli 1975 di Jakarta, Indonesia. Meningkatkan hubungan dan kerjasama antar organisasi, lembaga Islam dan cendekiawan Islam dalam memberikan bimbingan dan bimbingan kepada masyarakat khususnya umat Islam melalui saling konsultasi dan informasi.

Bagan kerangka Pikir

METODE PENELITIAN

  • Jenis Penelitian
  • Sumber Data
  • Metode Pengumpulan Data
  • Metode Analisis Data

Penggunaan sperma dan sel telur bayi tabung dari pasangan suami istri yang sah adalah sah (boleh) karena hak tersebut merupakan ikhtiar berdasarkan kaidah agama. Perbandingan antara fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan fatwa Arabi terlihat jelas berdasarkan keterangan di atas bahwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) membolehkan proses bayi tabung jika sperma dan ovum yang ada di dalam rahim ibu kandung disuntik. dari sperma laki-laki dan sel telur perempuan sah karena bukan merupakan perbuatan zina, hanya saja MUI (Majelis Ulama Indonesia) melarang segala bentuk upaya bayi tabung. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan teknik bayi tabung yang menggunakan sperma dan sel telur dari pasangan pria dan wanita, kemudian embrionya ditransplantasikan ke dalam rahim wanita tersebut.

Dua pandangan di atas dengan jelas dan kuat menunjukkan kedudukan anak yang dilahirkan melalui proses IVF menggunakan sperma dan telur lelaki dan wanita, kemudian embrio dipindahkan ke dalam rahim wanita sebagai anak yang sah dan memilikinya. Status anak dari IVF PLTSI-RRI (sperma dan telur dari suami isteri yang sah, pengambilan telur dari wanita itu sendiri) adalah anak sah suami isteri yang berkaitan. Bolehkah bayi yang dilahirkan melalui proses bayi tiub menggunakan pengganti layak sebagai bayi susu ibu atau tidak?

Dalam keputusan tersebut disebutkan bahawa: Inseminasi buatan/IVF dengan sperma dan telur diambil secara terhormat oleh suami isteri untuk wanita lain adalah haram/tidak dibenarkan dalam Islam. Kedua-dua keputusan ijtihad tersebut melarang penggunaan teknik IVF yang menggunakan sperma dan telur pasangan suami isteri dan kemudian embrio dipindahkan ke dalam rahim wanita lain (isteri kedua, ketiga atau keempat).

HASIL PENELITIAN

Proses Embrio Bayi Tabung

Teknik ini disebut dengan IVF sejati karena pembuahan terjadi di luar tubuh. Anak tabung dari pasangan suami istri yang dititipkan kandungan istri lain (misalnya dari istri kedua yang dititipkan kepada istri pertama) hukumnya haram menurut aturan Sadd az-zari'ah, karena akan menimbulkan permasalahan yang kompleks mengenai masalah pewarisan (terutama antara anak yang lahir dari ibu yang mempunyai sel telur dan ibu yang kemudian melahirkan seorang wanita hamil, dan sebaliknya). Sementara itu, sebuah fatwa Arab secara khusus melarang prosedur bayi tabung, padahal sperma dan sel telur yang disuntikkan ke dalam rahim ibu berasal dari sperma suami sah dan sel telur istri sah.

Hasan Basri menyatakan bahwa: “Proses kelahiran melalui teknik bayi tabung menurut Islam diperbolehkan dan sah selama sperma dan sel telurnya berasal dari suami istri. Hal ini disebabkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan yang menyebabkan hasil tes positif. bayi tabung yang patut disyukuri.Keputusan Majelis Ulama Indonesia Nomor: Kep-952/MUI/XI/1990 tentang Inseminasi Buatan/IVF, tanggal 26 November 1990, menyatakan bahwa: inseminasi buatan/IVF dengan sperma dan sel telur yang diambil dari orang yang sudah menikah pasangan, muhtaram yang sah, dibenarkan oleh Islam selama mereka dalam perkawinan yang sah.

MUI No. 952/MUI/IX/1990 tentang inseminasi buatan/bayi tabung : 1-2) Dari beberapa pendapat dan pandangan di atas dapat dikatakan bahwa penggunaan teknologi bayi tabung tidak menimbulkan masalah, selama bayi tabung yang berlangsung menggunakan sperma dan sel telur dari pasangan yang menikah, si wanita, kemudian embrionya ditransplantasikan ke dalam rahim wanita tersebut. Ketiga anak yang dilahirkan melalui proses bayi tabung dengan menggunakan sperma dan/atau sel telur donor tidak secara tegas ditemukan dalam Al-Qur'an, apalagi mengenai kedudukan anak yang lahir melalui proses bayi tabung yang menggunakan donor sperma dan sel telur berasal dari pihak perempuan, maka embrio ditransplantasikan ke dalam rahim wanita. Beliau mengatakan bahwa: “Anak yang diproses melalui bayi tabung dengan menggunakan sperma donor bukanlah “anak hasil zina”, karena tidak memenuhi unsur pokoknya yaitu “pertemuan dua jenis organ vital”.

Akibatnya mereka mempunyai hubungan keturunan dan hubungan perdata lainnya.34 Anak dilahirkan melalui proses fertilisasi in vitro dengan donor sperma atas izin suami, atas persetujuan 52.

PENUTUP

Kesimpulan

Alasannya karena proses bayi tabung memberikan kesempatan bagi bagian pribadi perempuan yang menjalani proses bayi tabung untuk diperiksa oleh dokter laki-laki yang bukan makhramnya. Status hukum bayi tabung berdasarkan Surat Keputusan Majelis Ulama Indonesia Nomor: Kep-952/MUI/XI/1990 tentang Inseminasi Buatan/IVF, tanggal 26 November 1990. Dan anak yang dilahirkan oleh perempuan tersebut adalah bayi tabung. anak sah dan ia dapat disamakan dengan anak kandung (anak kandung) serta mempunyai hak dan kewajiban yang sama.

Saran

Amir Syarifuddin, Hukum Pernikahan Islam di Indonesia Antara Fiqh Munakahat dan Hukum Pernikahan (Cet. II; Jakarta: Kencana, 2007), hal. Alfiersta Rachman, Tesis, Implikasi Perubahan Sosial Terhadap Perkawinan Campuran di Paiton Kabupaten Probolinggo, Anton-nb, Sejarah dan Pengertian Bayi Tabung (In Vitro Fertilization),. 35 Hamka Haq, Al-Syathibi: Aspek Teologis Konsep Mashlahah dalam Kitab al-Muwafaqat (Cet.I: Jakarta; Erlangga, 2007), hal.

Hizkin Rendy Sondakh, Aspek Hukum Bayi Tabung di Indonesia (Lex Administratum, Vol. III/No.1/Jan-Mar/2015), hal. Libertus Jehani, Tanya Jawab Hukum Perkawinan, Pedoman (Calon) Suami Istri (Cet.I; Jakarta: Rana Pustaka, 2012), hal.1. Nurjannah, “Hukum Islam dan Bayi Tabung (Analisis Hukum Islam Kontemporer)”, . Tesis sarjana; UIN Alauddin Malassar: Fakultas Syariah dan Hukum, 2017).

Tiar Nurul Chasanah, “Judicial Review Bayi Tabung dalam Hukum Waris Berdasarkan KUH Perdata”, (Skripsi; Calandre Kei Ashana, Yang Dimaksud dengan Bayi Tabung (In Vitro Fertilization) Wiryawan Permadi dkk, Baru 7 Hari Pemahaman Fertilisasi In Vitro (Bandung: Refika Aditama, 2008), hal.

Referensi

Dokumen terkait