• Tidak ada hasil yang ditemukan

Geografi Bencana dan Mitigasi: Studi Kasus Bencana Hidrometeorologi

Fira Aryani

Academic year: 2024

Membagikan "Geografi Bencana dan Mitigasi: Studi Kasus Bencana Hidrometeorologi"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

GEOGRAFI BENCANA DAN MITIGASI (Studi Kasus Bencana Hidrometeorologi)

Oleh : Nama : Fira Aryani

NIM : 20136043

Dosen Pengampu : Prof. Dr. Dedi Hermon, M.P

PROGRAM STUDI S1 GEOGRAFI DEPARTEMEN GEOGRAFI

FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2023

(2)

STUDI KASUS BENCANA HIDROMETEOROLOGI

Studi Kasus: Banjir Jakarta 2020 1. Latar Belakang :

Pada Januari dan Februari 2020, Jakarta dan sekitarnya mengalami banjir parah yang disebabkan oleh curah hujan ekstrem dan kondisi drainase yang buruk. Curah hujan yang tinggi dan terus menerus menyebabkan sungai-sungai meluap, dan sistem drainase yang tidak memadai tidak mampu menampung volume air yang besar.

2. Penyebab :

• Curah Hujan Tinggi: Musim hujan yang ekstrem menyebabkan curah hujan yang tinggi, melebihi kapasitas drainase kota.

• Pembangunan Tidak Teratur: Pembangunan yang tidak teratur, pembukaan lahan, dan perubahan tata guna lahan menyebabkan hilangnya area resapan air dan pengurangan luas lahan basah.

• Drainase Tidak Efektif: Infrastruktur drainase yang tidak memadai dan tidak terawat dengan baik.

• Pasang Surut Laut: Banjir juga dipengaruhi oleh tingginya pasang surut laut, terutama di daerah pesisir Jakarta.

3. Dampak :

• Kerusakan Properti: Ratusan ribu rumah terendam air, menyebabkan kerugian materiil yang signifikan.

• Kerusakan Infrastruktur: Jalan raya, jembatan, dan fasilitas umum mengalami kerusakan.

• Korban Jiwa: Beberapa orang tewas dan ribuan lainnya mengungsi.

4. Mitigasi :

• Perluasan Infrastruktur Drainase: Diperlukan perluasan dan perbaikan sistem drainase di Jakarta dan sekitarnya.

• Pengelolaan Tata Ruang yang Lebih Baik: Penyelenggaraan tata ruang yang lebih baik untuk mengendalikan pembangunan dan memastikan keberlanjutan lingkungan.

• Sistem Peringatan Dini yang Efektif: Pengembangan dan peningkatan sistem peringatan dini untuk memberi tahu masyarakat tentang risiko banjir.

(3)

Studi Kasus: Banjir Houston, Texas, AS (Agustus 2017)

1. Latar Belakang :

Pada Agustus 2017, Houston dan sekitarnya di Texas mengalami banjir parah akibat dari Badai Harvey. Badai ini menyebabkan curah hujan ekstrem dan memicu banjir yang mengakibatkan dampak luar biasa di kota ini.

2. Penyebab :

• Curah Hujan Ekstrem: Harvey menyebabkan hujan deras yang tidak biasa,mencapai jumlah yang belum oernah tercapai sebelumnya

• Sungai Meluap: Sungai-sungai dan sistem drainase tidak mampu menampung volume air yang sangat besar.

• Pembangunan di Daerah Berisiko: Pembangunan di daerah rawan banjir dan kurangnya infrastruktur yang memadai untuk menangani situasi darurat.

3. Dampak :

• Evakuasi Besar-besaran: Ribuan warga dievakuasi dari rumah mereka.

• Kerusakan Luas: Banyak rumah dan bisnis terendam air, mengakibatkan kerusakan properti yang signifikan.

• Gangguan Infrastruktur: Jalan raya terputus, bandara ditutup, dan layanan publik terganggu.

4. Respon/ Mitigasi :

• Peringatan Dini yang Lebih Efektif: Peningkatan sistem peringatan dini untuk mempersiapkan masyarakat lebih awal.

• Mitigasi Risiko: Pemahaman dan tindakan untuk mengurangi risiko banjir, termasuk evaluasi kembali peraturan pembangunan.

(4)

Studi Kasus: Longsor Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia (Januari 2019)

1. Latar Belakang:

Pada Januari 2019, Kabupaten Sukabumi di Jawa Barat mengalami bencana longsor yang disebabkan oleh hujan deras yang terus-menerus. Faktor topografi dan tanah yang tidak stabil di daerah tersebut membuatnya rentan terhadap longsor.

2. Penyebab:

• Curah Hujan Tinggi: Hujan deras yang berkepanjangan menyebabkan tanah jenuh air, meningkatkan risiko longsor.

• Topografi yang Rentan: Daerah dengan lereng curam dan tanah yang tidak stabil memiliki risiko tinggi untuk longsor.

3. Dampak:

• Korban Jiwa dan Hilangnya Nyawa: Bencana ini menyebabkan korban jiwa dan beberapa orang hilang.

• Rusaknya Infrastruktur: Rumah-rumah, jalan raya, dan fasilitas umum rusak parah.

Pengungsi: Banyak warga mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman.

4. Respon/ Mitigasi

• Penilaian Risiko yang Lebih Baik: Diperlukan peningkatan dalam penilaian risiko longsor, terutama di daerah dengan karakteristik geologis tertentu.

• Peningkatan Infrastruktur Mitigasi: Pembangunan infrastruktur mitigasi seperti dinding penahan, saluran air, dan sistem peringatan dini.

• Pendidikan Masyarakat: Pendidikan masyarakat tentang ancaman longsor dan tindakan yang dapat diambil untuk mengurangi risiko.

(5)

Studi Kasus: Longsor Sierra Leone (Agustus 2017)

1. Latar Belakang :

Pada bulan Agustus 2017, daerah pegunungan di Freetown, ibu kota Sierra Leone, mengalami bencana longsor yang parah. Curah hujan yang tinggi dan tanah yang sudah jenuh air memicu longsor di beberapa wilayah di sekitar kota.

2. Penyebab :

• Curah Hujan Tinggi: Hujan deras yang terus-menerus meningkatkan risiko longsor.

• Pembangunan Tidak Teratur: Pembangunan tanpa perencanaan yang memadai di daerah pegunungan.

3. Dampak :

• Korban Jiwa dan Hilangnya Rumah: Bencana ini menyebabkan ratusan orang tewas dan ribuan kehilangan rumah mereka.

• Kerusakan Infrastruktur: Jalan-jalan, jembatan, dan fasilitas umum lainnya rusak parah.

• Kondisi Kesehatan Buruk: Risiko penyakit meningkat karena kerusakan sanitasi.

4. Respon/ Mitigasi :

• Penataan Ruang yang Lebih Baik: Perluasan perencanaan kota dan tata guna lahan yang lebih baik untuk mengurangi risiko longsor.

• Peringatan Dini dan Sistem Pengawasan: Peningkatan dalam sistem peringatan dini dan pemantauan cuaca untuk memberi tahu masyarakat tentang potensi bencana.

• Pendidikan Masyarakat: Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang risiko dan tindakan pencegahan longsor

(6)

Studi Kasus: Kekeringan di Pulau Jawa, Indonesia (2019)

1. Latar Belakang :

Pada tahun 2019, Pulau Jawa, yang merupakan pulau paling padat penduduk di Indonesia, mengalami periode kekeringan yang parah. Curah hujan yang rendah selama musim hujan menyebabkan krisis air di beberapa daerah.

2. Penyebab :

• Curah Hujan Rendah: Musim hujan yang lemah menyebabkan penurunan air tanah dan sungai.

• Defisit Air Tanah: Penurunan air tanah yang signifikan mempengaruhi pasokan air untuk pertanian dan konsumsi masyarakat.

• Pertanian dan Pembangunan yang Tidak Berkelanjutan: Pemanfaatan air yang tidak berkelanjutan di sektor pertanian dan pembangunan yang tidak terkendali.

3. Dampak :

• Krisis Air Bersih: Masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

• Kerusakan Tanaman dan Pertanian: Tanaman mengalami kekeringan, menyebabkan gagal panen dan kerugian ekonomi.

• Krisis Pangan: Kekeringan berdampak negatif pada produksi pangan dan kesejahteraan masyarakat.

4. Respon/ Mitigasi :

• Pengelolaan Sumber Daya Air yang Lebih Baik: Perlunya upaya lebih lanjut dalam pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan dan efisien

• Diversifikasi Sumber Air: Mendorong diversifikasi sumber air untuk mengurangi kerentanan terhadap perubahan cuaca.

• Kesiapsiagaan Terhadap Kekeringan: Pengembangan sistem peringatan dini dan rencana kesiapsiagaan untuk menghadapi kekeringan.

(7)

Studi Kasus: Kekeringan di Cape Town, Afrika Selatan (2017-2018)

1. Latar Belakang :

Pada tahun 2017-2018, Cape Town menghadapi krisis air yang parah karena musim kering yang berkepanjangan dan pengelolaan sumber daya air yang tidak berkelanjutan.

Kota ini menghadapi ancaman "Day Zero," yaitu hari ketika pasokan air di kota ini benar- benar habis.

2. Penyebab:

• Curah Hujan Rendah: Musim hujan yang rendah selama beberapa tahun menyebabkan defisit air yang signifikan.

• Pemanfaatan Air yang Berlebihan: Penggunaan air yang tinggi oleh penduduk dan sektor industri tanpa tindakan konservasi yang memadai.

• Kurangnya Pengelolaan Sumber Daya Air: Kebijakan pengelolaan air yang tidak efektif dan kurangnya investasi dalam infrastruktur air.

3. Dampak:

• Ancaman Day Zero: Pemerintah setempat mengumumkan tanggal "Day Zero"

yang merupakan hari ketika pasokan air kota benar-benar habis.

• Pembatasan Air: Penduduk diwajibkan mengurangi penggunaan air secara drastis dan menghadapi pembatasan air ketat.

• Dampak pada Ekonomi: Sektor pariwisata dan bisnis mengalami dampak ekonomi negatif.

4. Respon/Mitigasi

• Ketahanan Terhadap Perubahan Iklim: Pentingnya membangun ketahanan terhadap perubahan iklim dan mengadaptasi praktik-praktik yang berkelanjutan.

• Partisipasi Masyarakat: Perlu mendukung partisipasi aktif masyarakat dalam upaya konservasi air.

• Pengelolaan Sumber Daya Air yang Efektif: Diperlukan kebijakan dan tindakan nyata untuk pengelolaan sumber daya air yang efektif.

Referensi

Dokumen terkait

Ngrombo Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo. Proses mitigasi non-struktural bencana Banjir di daerah penelitian tersebut. Kesiapan Organisasi Masyarakat tentang mitigasi bencana

Hasil hubungan pembelajaran geografi dengan tingkat kesiapsiagaan bencana banjir dari analisis data diatas memaparkan hubungan hasil pembelajaran geografi dengan

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya tulis ilmiah yang berjudul “ Bantuan JICA Melalui Proyek Pengelolaan Mitigasi Bencana Terpadu Di Indonesia (Studi Kasus

Tempat evakusi sementara untuk menghindari bencana banjir Desa Cikeruh akibat luapan air Sungai Cikeruh sebagai penanggulangan berbasis mitigasi bencana, terdiri dari 5

ANALISIS TINGKAT KERAWANAN DAN ARAHAN MITIGASI BENCANA BANJIR DI KECAMATAN SIDOHARJO KABUPATEN SRAGEN TAHUN 2014 (Sebagai Suplemen Materi Pembelajaran Geografi Pada

Tujuan penilitian ini adalah mengkaji dan mendiskripsikan 1) Bentuk – bentuk mitigasi struktural bencana banjir di Desa Ngrombo, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo.

Studi yang dilakukan adalah mengkaji bentuk mitigasi kebakaran di permukiman padat berdasarkan faktor-faktor bencana kebakaran yang terdapat di RW 9, RW 16 dan RW 20 Kelurahan

Dokumen ini membahas studi kasus tentang dampak bencana banjir bandang terhadap kesehatan fisik dan psikologis seorang pria bernama Bapak