• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI KRITIK ISU MARRIAGE IS SCARY DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF ISLAM

N/A
N/A
Noer Al fata

Academic year: 2025

Membagikan "STUDI KRITIK ISU MARRIAGE IS SCARY DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF ISLAM"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI KRITIK ISU MARRIAGE IS SCARY DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Fatchiyatus Salma, Fatimah Azzahra, Dinar Aslamiyah, Zakiah Nurul Aida Awaliyah

Cinta Quran Center

ABSTRAK

Penurunan angka pernikahan pada tahun 2024 tercatat hanya sebanyak 1,48 juta secara nasional. Penurunan angka pernikahan secara konsisten ini mencerminkan adanya perubahan cara pandang masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap institusi pernikahan. Fenomena ini diperkuat dengan munculnya istilah “marriage is scary” yang menggambarkan ketakutan, keraguan, dan kekhawatiran yang dialami banyak individu dalam menghadapi komitmen jangka panjang seperti pernikahan. Penelitian ini merupakan penelitian bertopik, “Studi Kritik Isu Marriage Is Scary Di Indonesia Dalam Perspektif Islam.”, yang diteliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research). Penelitian ini, didapati temuan:

Pertama, “marriage is scary” dapat dipahami sebagai bentuk ekspresi ketakutan terhadap pernikahan yang muncul dari pengalaman pribadi, pengaruh lingkungan, dan informasi negatif yang tersebar luas, terutama melalui media sosial. Kedua, banyaknya faktor penyebab dan dampak adanya isu ”marriage is scary”, salah satu faktor utamanya adalah kekerasan dalam rumah tangga yang diakibatkan dari hilangnya sosok pelindung dalam keluarga yakni suami/ayah sebagai qawwam dan problem ekonomi yang tak kunjung usai. Isu ini juga memunculkan dampak serius, khususnya pada penurunan angka pernikahan.

Ketiga, Isu “marriage is scary” adalah tantangan yang nyata, tapi Islam menawarkan solusi menyeluruh, diantaranya: membangun kesiapan pribadi, menciptakan budaya masyarakat yang mendukung, dan menghadirkan kebijakan negara yang pro-keluarga. Dengan demikian, penting bagi umat untuk mengkritisi narasi negatif yang berkembang, serta kembali kepada nilai- nilai pernikahan yang diajarkan oleh syariat.

Keywords: Islam, keluarga, marriage is scary.

(2)

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Perceraian merupakan fenomena sosial yang semakin menjadi perhatian di masyarakat kontemporer. Hal ini tercermin dari peningkatan signifikan jumlah kasus perceraian di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data, pada tahun 2022 terjadi peningkatan kasus perceraian sebesar 15%, yaitu sebanyak 516.334 kasus, dibandingkan dengan 447.743 kasus pada tahun 2021. Penyebab utama dari peningkatan tersebut antara lain perselisihan rumah tangga hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)1. Selanjutnya, pada tahun 2024 hingga saat ini tercatat sebanyak 463.000 kasus perceraian, yang menunjukkan bahwa angka perceraian masih tergolong tinggi.2 Fenomena peningkatan perceraian ini juga diiringi oleh penurunan angka pernikahan di kalangan masyarakat Indonesia, menunjukkan adanya perubahan pola dan dinamika dalam institusi keluarga.3

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, jumlah peristiwa pernikahan di Indonesia menunjukkan tren penurunan yang signifikan dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Data historis mencatat bahwa pada tahun 2013, jumlah pernikahan nasional mencapai angka tertinggi, yakni sebesar 2,21 juta pernikahan. Namun, dalam empat tahun berturut-turut setelahnya, terjadi penurunan progresif hingga mencapai 1,8 juta pernikahan.

Pada tahun 2018, jumlah pernikahan sempat mengalami peningkatan kembali dan mendekati angka 2 juta. Meskipun demikian, tren tersebut tidak berlanjut secara konsisten. Memasuki tahun-tahun berikutnya, angka pernikahan kembali menunjukkan penurunan yang berkelanjutan, dengan catatan sebanyak 1,70 juta pernikahan pada tahun 2022. Kemudian pada tahun 2023, jumlah pernikahan tercatat sebesar 1,58 juta, yang merupakan angka terendah dalam satu dekade terakhir dan menunjukkan penurunan sebesar 7,51 persen dibandingkan tahun sebelumnya.4

Tren penurunan ini berlanjut hingga tahun 2024, dimana jumlah pernikahan tercatat hanya sebanyak 1,48 juta secara nasional. Angka ini tidak hanya menandai penurunan sebesar 6,3 persen dibandingkan tahun 2023, tetapi juga menjadi rekor terendah baru dalam sepuluh tahun terakhir, memperkuat indikasi adanya pola penurunan tingkat pernikahan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.5

1 GoodStats Data, “5 Faktor Tertinggi Penyebab Perceraian di Indonesia,” GoodStats Data, diakses 25 Mei 2025, https://data.goodstats.id/statistic/5-faktor-tertinggi-penyebab- perceraian-di-indonesia-HLBgQ.

2 CNBC Indonesia. (2024, Agustus 20). Retrieved from CNBC Indonesia:

https://bit.ly/4krH5L8

3 Nida Muthi Annisa et.al, Marriage Readiness dan Fear of Commitment pada Dewasa Awal yang Belum Menikah, Jurnal Ilmiah Psikologi (JIPSI), Volume 6 No. 2 Desember 2024, hal.

135, diakses pada tanggal 17 Mei 2025, pada pukul 22.05

4 https://data.goodstats.id/statistic/ . Dilansir pada tanggal 16 Mei 2025 pada pukul 22.10

5 https://goodstats.id/infographic/pernikahan-di-ri-kembali-cetak-rekor-terendah-pada- 2024-ctxYb , dilansir pada hari jumat tanggal 16 Mei 2025 pukul 22.00

(3)

Tren ini menjadi sorotan penting dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Penurunan angka pernikahan secara konsisten ini mencerminkan adanya perubahan cara pandang masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap institusi pernikahan. Fenomena ini diperkuat dengan munculnya istilah “marriage is scary” yang menggambarkan ketakutan, keraguan, dan kekhawatiran yang dialami banyak individu dalam menghadapi komitmen jangka panjang seperti pernikahan.6

Dalam beberapa bulan terakhir, khususnya pada Agustus hingga September 2024, TikTok di Indonesia dipenuhi oleh konten bertema

marriage is scary” yang banyak diunggah oleh para pengguna, terutama perempuan. Video-video ini umumnya memuat narasi negatif tentang pernikahan, dengan menyoroti ketakutan seperti hilangnya kebebasan pribadi, konflik dalam rumah tangga, serta tekanan emosional yang digambarkan sebagai beban berat.7 Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Ghozali Rusyid Affandi, menyatakan bahwa isu ini tak lepas dari ramainya pemberitaan keretakan rumah tangga, seperti perselingkuhan, penelantaran anak, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).8

Inilah yang menjadi latar belakang utama dari jurnal ini, yang berjudul “Solusi Islam Menjawab Isu Marriage is Scary.” Penulis merasa

6 Romadhona S. [online] dinukil dari https://umsida.ac.id/tren-marriage-is-scary-ini-kata- pakar-umsida/ ‘Tren Marriage is Scary, Ini 6 Faktornya Menurut Pakar Psikologi Umsida’, Agustus 2024, diakses pada 18 Mei 2025, pada pukul 20.48 WIB.

7 Indonesia Expat, Marriage is Scary: TikTok Trend and Why You Should Not Trust It, 2025. [online], Dilansir dari: https://indonesiaexpat.id/outreach/observations/marriage-is-scary- tiktok-trend-and-why-you-should-not-trust-it/ Diakses pada 22 Mei 2025, pada pukul 21.55 WIB.

8 Romadhona S. [online] dinukil dari https://umsida.ac.id/tren-marriage-is-scary-ini-kata- pakar-umsida/ ‘Tren Marriage is Scary, Ini 6 Faktornya Menurut Pakar Psikologi Umsida’, Agustus 2024, diakses pada 18 Mei 2025, pada pukul 20.48 WIB.

(4)

perlu untuk mengkaji fenomena ini dari perspektif Islam, menggali nilai- nilai dan solusi yang ditawarkan oleh Islam. Lantas bagaimana pandangan Islam terkait dengan isu “marriage is scary” ini?

B.Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan isu “marriage is scary” dan bagaimana isu ini berkembang di Indonesia?

2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kemunculan isu

“marriage is scary” serta dampaknya terhadap masyarakat, khususnya generasi muda?"

3. Bagaimana pandangan Islam terhadap isu “marriage is scary” dan solusi apa yang ditawarkan Islam untuk mengatasi ketakutan terhadap pernikahan?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pengertian isu “marriage is scary” dan perkembangan isu ini di Indonesia.

2. Untuk mengetahui faktor penyebab dan dampak dari munculnya isu “marriage is scary” di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.

3. Untuk mengetahui pandangan Islam terhadap isu “marriage is scary” serta solusi yang ditawarkan Islam untuk mengatasi ketakutan terhadap pernikahan.

D.Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang menggunakan studi konsep dengan kajian literatur sebagai metode penelitian. Metode kualitatif membantu ketersediaan deskripsi yang kaya atas fenomena.

Kualitatif mendorong pemahaman atas substansi dari suatu peristiwa.

Dengan demikian, penelitian kualitatif tidak hanya untuk memenuhi keinginan peneliti untuk mendapatkan gambaran atau penjelasan, tetapi juga membantu untuk mendapatkan penjelasan yang lebih dalam.

II. PEMBAHASAN

A. Pengertian “Marriage is scary”

Fenomena ketakutan terhadap institusi pernikahan menjadi salah satu isu menarik dalam kajian sosial-budaya kontemporer. Ketakutan ini, yang sering kali muncul akibat pengalaman pribadi maupun pengaruh lingkungan, diartikulasikan dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui frasa populer "marriage is scary". Ungkapan ini tidak hanya menunjukkan sikap emosional, tetapi juga merefleksikan dinamika perubahan nilai dan persepsi masyarakat terhadap pernikahan.

Secara etimologis “marriage is scary” terdiri dari dua macam Yaitu:

1. Marriage; status atau tindakan berumah-tangga; satu ikatan sosial- legal yang permanen, 2. Scary; menimbulkan rasa takut. sehingga

(5)

secara leksikal berarti “pernikahan itu menakutkan”—yakni sebuah pernyataan afektif tentang rasa takut memasuki lembaga pernikahan.9

Istilah “marriage is scary” secara terminologis belum memiliki definisi baku dalam literatur akademik. Namun, sejumlah jurnal dan artikel telah membahas isu ini secara eksplisit dalam konteks sosial, psikologis, dan budaya. Secara umum, “marriage is scary” dapat dipahami sebagai bentuk ekspresi ketakutan terhadap pernikahan yang muncul dari pengalaman pribadi, pengaruh lingkungan, dan informasi negatif yang tersebar luas, terutama melalui media sosial. Isu ini menunjukkan adanya penurunan minat terhadap pernikahan, terutama pada generasi muda, akibat kekhawatiran akan kegagalan, ketidakbahagiaan, atau bahkan kekerasan dalam rumah tangga.10

B.Perkembangan Isu “Marriage is Scary” di Indonesia

Isu “marriage is scary” muncul sebagai respons terhadap berbagai dinamika sosial, budaya, dan psikologis yang mempengaruhi persepsi generasi muda terhadap pernikahan, dengan adanya angka pernikahan yang telah menurun selama beberapa dekade, dan jumlah orang lajang, baik sebelum menikah atau setelah bercerai telah meningkat. Penelitian secara konsisten menunjukkan, setidaknya hingga saat ini, bahwa orang lebih bahagia saat mereka menjalin hubungan romantis yang stabil daripada saat mereka tidak memiliki pasangan. Tentu saja ada sikap sosial yang berlaku bahwa manusia membutuhkan pasangan untuk membuatnya "utuh". Kemudian muncul Generasi Z, yang menentang tradisi dan hidup dengan aturan mereka sendiri. Menurut tim psikolog Jerman yang dipimpin oleh Tita Avilés, Generasi Zoomer, atau orang-orang yang lahir antara tahun 2007 dan 2012, menunggu lebih lama untuk terlibat dalam hubungan asmara. Dan terlebih lagi, mereka cukup senang menjadi lajang.11

Alasan lain mengapa Gen Z lebih memilih hidup melajang adalah pengamatan dari beberapa generasi bahwa orang yang lebih muda melewati tonggak perkembangan utama di usia yang lebih tua.

Meskipun anak-anak mencapai pubertas di usia yang agak lebih awal daripada seabad yang lalu, sebagian besar karena gizi yang lebih baik saat ini, perkembangan sosial dan psikologis mereka cenderung tertunda. Orang muda bersekolah lebih lama, memulai karir mereka di usia yang lebih tua, dan menunggu lebih lama untuk menikah atau

9https://www.etymonline.com/search?type=all&q=marriage%20is%20scary , dilansir pada tanggal 17 Mei 2025 pada pukul 21.31 WIB

10 Karimah, Literasi Pendidikan PraNikah di tengah Kecenderungan Married is Scary:

Kajian Netizen Tik Tok, Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi, Volume 2, No.2, Januari 2025, hal.

97, diakses pada tanggal 18 Mei 2025, pada pukul 21.47 WIB

11 David Ludden Ph.D, [online] dinukil dari

https://www.psychologytoday.com/us/blog/talking-apes/202408/why-gen-zers-are-single-and- happy-about-it ‘Why Gen Zers Are Single and Happy About It’, 21 Oktober 2024, di akses pada 18 Mei 2025, pada pukul 21.45 WIB.

(6)

memulai keluarga, bahkan ketika mereka sudah memiliki pasangan romantis.12

Generasi muda saat ini menempuh pendidikan lebih lama, memasuki dunia kerja di usia yang lebih tua, serta cenderung menunda pernikahan dan pembentukan keluarga. Hal ini membuat banyak individu pada usia dewasa awal (18–29 tahun) belum merasa siap secara mental, emosional, maupun ekonomi untuk menjalani kehidupan rumah tangga.13 menyebut fase ini sebagai emerging adulthood, yaitu masa eksplorasi identitas, nilai-nilai hidup, serta orientasi karir yang belum stabil.

Twenge (2017) menambahkan bahwa Generasi Z, yang disebutnya sebagai iGen, merupakan generasi yang sangat terhubung dengan dunia digital, namun juga cenderung mengalami peningkatan kecemasan dan ketidakpastian terhadap masa depan.14 Hal ini menyebabkan mereka lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan jangka panjang, termasuk pernikahan. Sementara itu, Settersten dan Ray (2010) menjelaskan bahwa banyak dari generasi muda saat ini merasa belum cukup matang secara emosional untuk menghadapi dinamika rumah tangga, sehingga memilih untuk melajang lebih lama sebagai bentuk perlindungan diri.15

Di media sosial, terutama di kalangan generasi milenial dan Gen Z, frasa “marriage is scary” menjadi semacam simbol keresahan kolektif terhadap pernikahan. Sebagian besar konten di TikTok cenderung dibuat sensasional untuk menarik perhatian. Judul dramatis dan narasi yang dilebih-lebihkan sering digunakan untuk menarik lebih banyak penayangan, yang menyebabkan algoritma TikTok semakin memperkuat konten tersebut. Akibatnya, isu seperti “Pernikahan Itu Menakutkan”

dapat tampak jauh lebih signifikan daripada yang sebenarnya.16

Narasi ini tidak hanya muncul karena pengalaman pribadi, tapi juga karena pengaruh visual dan cerita yang tersebar luas di platform seperti TikTok dan Twitter. Sebagian orang mempertanyakan apakah menikah memang menakutkan, atau hanya sebuah ketakutan yang dibentuk oleh ekspektasi dan trauma sosial. Pernyataan-pernyataan ini bahkan sering kali tidak berasal dari pengalaman hidup nyata, melainkan dari rasa takut yang berlebihan akan hilangnya otonomi dalam pernikahan.17

12 Ibid.

13 Jeffrey Jensen Arnett, Emerging Adulthood: The Winding Road from the Late Teens Through the Twenties (New York: Oxford University Press, 2004), hal. 8–14.

14 Jean M. Twenge, iGen: Why Today’s Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy—and Completely Unprepared for Adulthood (New York:

Atria Books, 2017), hal. 102–109.

15 Richard A. Settersten and Barbara E. Ray, Not Quite Adults: Why 20-Somethings Are Choosing a Slower Path to Adulthood—and Why It’s Good for Everyone (New York: Bantam Books, 2010), 27–34.

16 Indonesia Expat, Marriage is Scary: TikTok Trend and Why You Should Not Trust It, 2025. [online], Dilansir dari: https://indonesiaexpat.id/outreach/observations/marriage-is-scary- tiktok-trend-and-why-you-should-not-trust-it/ Diakses pada 22 Mei 2025, pada pukul 22.20 WIB.

17 Ibid.

(7)

Dalam konteks ini, psychology today mencatat bahwa semakin banyak pasangan yang memilih menunda atau menolak menikah karena tekanan sosial, ekonomi, dan ketidakpercayaan terhadap pernikahan itu sendiri.18 Ini menunjukkan bagaimana isu “marriage is scary

berkembang dari sekadar perasaan pribadi menjadi isu budaya yang luas.

Isu “marriage is scary” tentu mempengaruhi pola pikir masyarakat.

Hal itu dikarenakan ketika seseorang di lingkungan yang  setuju tentang isu ini, maka dia akan mendapatkan informasi terkait kecenderungan menghindari atau menunda pernikahan. Dari situ banyak memunculkan pertanyaan nilai-nilai terkait pernikahan itu sendiri. Selain lingkungan, media sosial juga memiliki dampak yang sangat kuat terhadap orang- orang yang memandang pernikahan itu menakutkan. Apalagi di sana terdapat narasi-narasi negatif tentang  pernikahan.19

Ketika seseorang terus menerus terpapar dampak narasi itu, maka akan memperbesar ketakutan generasi muda yang akan menikah dan akhirnya mereka ragu. Belum lagi jika media sosial yang membandingkan kehidupan  satu tokoh dan tokoh lainnya. Isu “marriage is scary” ini juga dapat membuat anak muda lebih memilih untuk menunda pernikahan atau bahkan memilih untuk lajang dan ini berbahaya untuk generasi selanjutnya.20

Pada dasarnya, pernikahan adalah komitmen antara dua individu untuk berbagi suka dan duka hidup bersama. Sayangnya, banyak pengikut isu “marriage is scary” hanya berfokus pada kesulitannya, sehingga menumbuhkan persepsi bahwa pernikahan penuh dengan risiko dan penderitaan. Ketakutan yang disebarkan oleh isu ini sering kali muncul dari pengalaman pribadi atau pengamatan kerabat dekat yang terlibat dalam pernikahan yang gagal atau tidak sehat. Namun, penting untuk menekankan bahwa masalah ini bukan kesalahan pernikahan itu sendiri, melainkan akibat dari kekurangan individu dalam mengelola hubungan mereka.21

Ketakutan yang terus menerus ditanamkan melalui narasi negatif tentang pernikahan, baik dari pengalaman pribadi orang lain, kisah- kisah toksik di media sosial, hingga budaya membandingkan kehidupan rumah tangga selebriti atau influencer, lambat laun membentuk mindset bahwa pernikahan identik dengan penderitaan, beban, dan ketidakbahagiaan. Ketika persepsi ini sudah mengakar, maka pernikahan tidak lagi dipandang sebagai ibadah atau fase penting dalam

18 Psychology Today, Marriage, Divorce, and Social Media: A Recipe for Disaster, November 2021. [online], Dilansir dari: https://www.psychologytoday.com/us/blog/a-better- divorce/202111/marriage-divorce-and-social-media-a-recipe-for-disaster Diakses pada 22 Mei 2025, pada pukul 22.06 WIB.

19 Romadhona S. [online] dinukil dari https://umsida.ac.id/tren-marriage-is-scary-ini-kata- pakar-umsida/ ‘Tren Marriage is Scary, Ini 6 Faktornya Menurut Pakar Psikologi Umsida’, Agustus 2024, diakses pada 17 Mei 2025, pada pukul 20.58 WIB.

20 Ibid.

21 Indonesia Expat, Marriage is Scary: TikTok Trend and Why You Should Not Trust It, 2025. [online], Dilansir dari: https://indonesiaexpat.id/outreach/observations/marriage-is-scary- tiktok-trend-and-why-you-should-not-trust-it/ Diakses pada 22 Mei 2025, pada pukul 21.55 WIB.

(8)

membangun peradaban, melainkan sebagai ancaman terhadap kebebasan dan kebahagiaan pribadi. Jika dibiarkan, tren ini dapat menimbulkan krisis sosial jangka panjang, seperti menurunnya angka pernikahan, meningkatnya individualisme, serta melemahnya struktur keluarga yang merupakan fondasi masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk menyeimbangkan narasi yang ada dengan edukasi yang sehat tentang makna pernikahan, kesiapan emosional, dan peran penting keluarga dalam membentuk generasi yang kuat secara spiritual, mental, dan sosial.

C. Faktor Penyebab dan Dampak dari Munculnya Isu “Married is Scary” di Kalangan Masyarakat Khususnya Generasi Muda

Persepsi negatif terhadap pernikahan begitu mudah berkembang dan mengakar kuat di tengah masyarakat, maka perlu dipahami lebih dalam sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap terbentuknya pola pikir tersebut. Persepsi seseorang terhadap pernikahan tidak terbentuk dalam ruang hampa, melainkan dipengaruhi oleh berbagai aspek yang kompleks, diantaranya sebagai berikut.

1. Faktor penyebab dari munculnya married is scary a. Faktor Emosional

Faktor emosional memainkan peran krusial dalam membentuk persepsi individu terhadap institusi pernikahan.

Ketakutan akan kegagalan, pengalaman traumatis di masa lalu, serta ekspektasi yang tidak realistis dapat mendorong munculnya keraguan hingga fobia terhadap pernikahan.

Akumulasi pengalaman negatif seperti perceraian orang tua, disfungsi keluarga, relasi keluarga yang tidak harmonis, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) turut memperkuat pandangan negatif bahwa pernikahan merupakan sumber penderitaan dan beban psikologis, bukan sebagai institusi yang memberikan rasa aman dan pemenuhan emosional.22

Namun demikian, dalam menelaah faktor emosional yang melatari ketakutan terhadap pernikahan, penting pula untuk mengidentifikasi akar dari meningkatnya konflik yang menyebabkan rapuhnya ketahanan keluarga dalam menghadapi dinamika rumah tangga. Salah satu faktor struktural yang turut mempengaruhi ketahanan keluarga masa kini adalah interseksi antara budaya patriarki yang mengakar dan berkembangnya diskursus feminisme dalam masyarakat modern.23

22 Diki Herdiansyah, Menyelami Persepsi 'Marriage is Scary'dalam Perspektif Religius dan Emosional di Konteks Sosial BudayaKontemporer serta Faktor- faktor yang Mempengaruhi: Sebuah Literatur Review, Januari 2025, Volume.4, No.1, hal 606, diakses pada 20 Mei 2025 pukul 21.46.

23 Melina Lestari dan Shandhian Lasti Aimma, “Bagaimana Fenomena Marriage is Scary dalam Pandangan Perempuan Generasi Z?”, Jurnal Bimbingan Konseling Ar-Rahman, Vol 10, Nomor 2, 2024, hlm. 281.

(9)

Feminisme menciptakan mispersepsi mengenai peran suami- istri dan memposisikan pernikahan sebagai sistem patriarki yang menindas perempuan. Narasi ini mengkonstruksi persepsi bahwa pernikahan lebih menguntungkan pihak laki-laki, sedangkan perempuan hanya dijadikan pelayan dalam ranah domestik. Akibatnya, peran istri dan ibu dipandang tidak bernilai strategis, bahkan diasosiasikan sebagai bentuk perbudakan modern.24

Di sisi lain, konsep kesetaraan gender yang diusung oleh feminisme liberal juga berkontribusi terhadap disharmoni relasi suami-istri. Ketika pernikahan dipahami sebagai ruang negosiasi kekuasaan antara dua gender yang bersaing dalam peran dan fungsi, maka potensi konflik dalam rumah tangga menjadi lebih tinggi. Alih-alih menciptakan sinergi, relasi gender yang tidak proporsional dalam rumah tangga justru mengarah pada fragmentasi dan tarik-menarik peran yang merusak kestabilan keluarga.25

Pandangan tersebut mendorong munculnya ketakutan dan ketidakpercayaan terhadap pernikahan di kalangan perempuan, khususnya generasi muda. Banyak di antara mereka yang memilih menunda pernikahan, atau bahkan menolak menikah.

b. Faktor Ekonomi

Aspek ekonomi memegang peran penting dalam menopang keberlangsungan rumah tangga. Stabilitas finansial bukan hanya berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga berkaitan erat dengan ketenangan psikologis pasangan. Sebaliknya, tekanan ekonomi yang berkepanjangan dapat melemahkan kualitas komunikasi, menimbulkan frustasi, dan menjadi pemicu utama konflik, bahkan perceraian.26

Ketika beban finansial tidak tertangani dengan baik, konflik rumah tangga pun menjadi tidak terhindarkan. Kondisi ini memberikan dampak psikososial yang cukup besar, khususnya terhadap generasi muda yang tengah berada dalam fase perencanaan hidup berkeluarga. Banyak dari mereka merasa belum siap secara ekonomi untuk membentuk rumah tangga, mengingat berbagai tuntutan finansial yang harus dipenuhi, seperti biaya pernikahan, kebutuhan tempat tinggal, pemenuhan kebutuhan harian, serta persiapan masa depan anak-anak.

24 Dr. Nazreeen Nawwaz, Mengkritik Feminisme, Jakarta: IMUNE Press, 2019, Cet.1, hlm.199.

25 Ibid, hlm. 199.

26Ismail Marzuki, “Urgensi Aspek Ekonomi Dalam Perspektif Keluarga Hukum Islam Dan Hukum Poaitif”, Jurnal Prefensi Hukum, Vol 4, Nomor 1, 2022, hlm. 105.

(10)

Disamping itu realitas ekonomi saat ini menunjukkan tantangan yang kompleks: kenaikan biaya hidup, mahalnya pendidikan dan kesehatan, serta sulitnya memperoleh pekerjaan menjadi penghalang bagi generasi muda untuk membentuk rumah tangga. Gaya hidup konsumtif dan tekanan sosial juga memperparah kekhawatiran tersebut, hingga membuat banyak orang menunda atau enggan menikah.

Beban ekonomi juga turut mendorong banyak perempuan untuk masuk dunia kerja, berkaitan dengan isu kesetaraan gender, para perempuan dipaksa untuk mengadopsi peran laki laki sebagai pencari nafkah, sehingga mereka lebih memilih untuk bekerja dibanding menikah.27 Pandangan feminisme liberal ini, yang bersinggungan dengan sistem kapitalisme yang memandang perempuan sebagai alat untuk menghasilkan kekayaan. Seperti narasi yang dikeluarkan oleh organisasi organisasi Barat, bahwa mendorong perempuan ke dunia kerja merupakan cara dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi,mengurangi kemiskinan, menciptakan kemakmuran ekonomi, dan pemberdayaan perempuan.28

Isu "marriage is scary" yang dipengaruhi oleh tekanan ekonomi dan narasi feminisme sekuler perlu ditanggapi secara kritis karena berimplikasi terhadap keputusan masyarakat yang cenderung menghindari pernikahan. Islam menawarkan tatanan rumah tangga yang seimbang dan berbasis pada keadilan peran, bukan kesetaraan absolut, sehingga pernikahan dapat dijalani dengan rasa tenang dan tanggung jawab, bukan ketakutan.

c. Pribadi Individualistik

Dalam tradisi masyarakat, pernikahan diposisikan sebagai institusi yang sakral, bukan hanya sebagai penyatuan dua individu, melainkan juga sebagai bentuk ibadah dan pengabdian spiritual. Namun, makna ini telah mengalami pergeseran signifikan dalam masyarakat modern yang lebih mengedepankan nilai-nilai individualisme dan liberalisme.

Pernikahan kini cenderung dipandang sebagai relasi fungsional yang hanya memenuhi kebutuhan biologis dan seksual, tanpa keterikatan moral atau spiritual yang mendalam.29 Isu ini erat kaitannya dengan penetrasi paham liberalisme, yang menempatkan kebebasan individu sebagai nilai tertinggi, termasuk dalam hal ekspresi seksual antara manusia yang didasarkan pada pemenuhan naluri yang tidak dibatasi tempat dan tata cara pemenuhannya.30 Dalam perspektif ini, kebebasan untuk menentukan apakah hubungan seksual

27Dr. Nazreeen Nawwaz, Mengkritik Feminisme, Jakarta: IMUNE Press, 2019, Cet.1, hlm.124.

28 Ibid, hlm. 200.

29 Dinukil dari website Desakralisasi Perkawinan - Riaumandiri.co 21/5/2025, pada pukul 14:30, judul Desakralisasi Perkawinan.

(11)

dilakukan dalam atau di luar ikatan pernikahan menjadi hal yang sah secara sosial.

Di sisi lain persepsi yang berkembang di masyarakat pernikahan merupakan bentuk ikatan yang membatasi kebebasan pribadi. Bagi sebagian besar generasi muda, komitmen pernikahan dinilai membebani karena menambah peran dan tanggung jawab sosial seperti menjadi pasangan, orang tua, dan pencari nafkah yang dianggap dapat menghambat pencapaian aktualisasi diri baik secara personal maupun profesional.31

Akar dari cara berpikir ini dapat ditelusuri pada ideologi sekularisme, yang memisahkan agama dari kehidupan.32 Ketika nilai-nilai sekuler mendominasi suatu tatanan masyarakat, maka pandangan terhadap institusi pernikahan pun bergeser, tidak lagi sebagai kewajiban moral atau religius, tetapi sebagai pilihan individual semata. Hal ini menciptakan distorsi terhadap makna pernikahan yang pada dasarnya merupakan institusi moral yang mengikat secara spiritual dan sosial.

d. Propaganda Feminisme

Feminisme merupakan sebuah gerakan sosial yang berlandaskan pada perjuangan untuk menuntut kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan.33 Salah satu cabang dari gerakan ini, yaitu feminisme liberal, memiliki pandangan yang cukup kritis terhadap struktur sosial tradisional. Dalam perspektif ini, laki-laki sering diposisikan sebagai pihak dominan yang menindas, sementara institusi keluarga dianggap sebagai salah satu sumber utama ketidakadilan gender yang dialami perempuan. Oleh karena itu, kesetaraan gender dipandang sebagai solusi yang mendasar untuk menghapuskan bentuk-bentuk penindasan tersebut.

Salah satu wujud perjuangan feminisme liberal adalah upaya untuk menghapus kekerasan dan berbagai praktik yang dianggap merugikan perempuan. Dalam konteks ini, gaya hidup melajang atau memilih untuk tetap menjanda sering dipromosikan sebagai bentuk pembebasan dari sistem yang dinilai patriarkis.34

30 Publikasi Hizbut Tahrir, Kritik Terhadap Pemikiran Barat Kapitalis, Jakarta: Pustaka Fikrul Islam, 2022, Cet.1, hlm.158.

31 Riyan Riswandi, “Analisis Perspektif Mahasiswa Muslim Gen-Z terhadap Isu Marriage Is Scary”, Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia, Vol 5, Nomor 1, 2025, hlm.16.

32 Taqiyuddin An-Nabhani,, Peraturan Hidup Dalam Islam , Jakarta: Pustaka Fikrul Islam, 2023, Cet.6, hlm.52.

33  Kbbi.co.id, “Arti Kata "feminisme" Menurut KBBI”, diakses [online] pada 22 Mei 2025 pukul 21.38

34 Rizki Utami Handayani, Penjelasan dalam Mata Kuliah Kemuslimahan dengan judul

Gay Politik Feminis Legal Teory” disampaikan dalam perkuliahan di Cinta Quran Center, pada November 2024.

(12)

Namun demikian, terdapat sejumlah paradigma dalam feminisme yang dinilai problematik. Di antaranya adalah anggapan bahwa cinta heteroseksual bersifat mengekang dan menindas, bahwa hubungan seksual merupakan manifestasi dari inferioritas perempuan, serta bahwa kemiskinan merupakan dampak langsung dari kepadatan populasi.

Paradigma-paradigma tersebut melahirkan konsekuensi sosial yang cukup signifikan, seperti lahirnya konsep sexual consent, pengakuan terhadap marital rape, pilihan hidup childfree, serta dukungan terhadap komunitas LGBT. Isu ini dinilai telah menggeser perhatian masyarakat dari institusi pernikahan sebagai pilar kehidupan sosial.35

Lebih jauh lagi, propaganda LGBT yang memposisikan lesbianisme sebagai solusi atas ledakan populasi, ketidakseimbangan kehidupan, dan dominasi laki-laki, dipandang sebagai upaya yang secara tidak langsung menghambat keinginan masyarakat untuk menikah. Narasi semacam ini dinilai berkontribusi pada meningkatnya ketakutan terhadap pernikahan, yang digambarkan sebagai sumber penindasan, alih-alih sebagai bentuk kerja sama dan harmoni sosial.36

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemahaman yang keliru terhadap konsep feminisme khususnya dalam bentuk liberal yang ekstrim dapat menjadi salah satu faktor penyebab menurunnya minat terhadap pernikahan. Lebih dari itu, solusi yang ditawarkan justru berpotensi menimbulkan permasalahan sosial baru, seperti disorientasi nilai keluarga dan melemahnya institusi sosial dasar.

e. Peran Media Sosial

Media sosial kini menjadi ruang digital utama dalam membentuk opini publik, termasuk persepsi terhadap pernikahan. Selain menyebarkan konten hiburan dan komunikasi, platform ini juga dipenuhi narasi negatif tentang kehidupan rumah tangga, seperti konflik, perselingkuhan, dan KDRT, yang sering kali viral dan membentuk stigma bahwa pernikahan adalah institusi penuh risiko.

Dalam banyak kasus, konten mengenai kegagalan pernikahan tidak hanya menjadi konsumsi pasif. Media sosial juga memfasilitasi lahirnya ruang-ruang diskusi publik yang membahas pengalaman serupa, di mana individu saling berbagi cerita, keluhan, dan ketakutan terkait kehidupan rumah tangga. Diskusi daring tersebut turut memperkuat isu seperti

35 Ibid.

36 Rizki Utami Handayani, Penjelasan dalam Mata Kuliah Kemuslimahan dengan judul

Gay Politik Feminis Legal Teory” disampaikan dalam perkuliahan di Cinta Quran Center, pada November 2024.

(13)

“marriage is scary”, yang menggambarkan pernikahan sebagai sumber tekanan emosional dan kegagalan.37

Lebih jauh, media sosial juga menjadi alat strategis bagi sebagian individu atau kelompok untuk menyisipkan nilai-nilai ideologis, seperti individualisme, feminisme, liberalisme, dan sekularisme, yang membentuk opini publik terhadap pernikahan. Narasi kebebasan individu dan relativisme moral yang dibawa oleh paham-paham tersebut seringkali bertentangan dengan norma sosial dan norma agama tentang keluarga, komitmen, dan tanggung jawab. Akibatnya, muncul disorientasi nilai dan ketakutan terhadap pernikahan di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.

Oleh karena itu, diperlukan literasi digital dan kesadaran kritis agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi dan ideologi yang dapat merusak pandangan terhadap institusi pernikahan.

Berdasarkan sejumlah faktor yang mempengaruhi konstruksi sosial terhadap institusi pernikahan, disimpulkan bahwa Pandangan negatif terhadap pernikahan sebagai sesuatu yang menakutkan dipengaruhi oleh berbagai ideologi modern seperti individualisme, feminisme, liberalisme, dan kapitalisme. Pola pikir ini berakar pada sekularisme, yang memisahkan agama dari kehidupan dan menjadikan nilai-nilai duniawi sebagai dasar utama. Peradaban Barat berperan dalam menyebarkan nilai-nilai ini, termasuk melalui narasi "marriage is scary", yang membentuk persepsi negatif terhadap institusi pernikahan. Dampaknya tidak hanya terbatas pada perubahan cara pandang, tetapi juga menimbulkan konsekuensi nyata dalam kehidupan sosial, khususnya di kalangan generasi muda.

2. Dampak dari Munculnya “Married is Scary”

a. Meningkatnya Pergaulan Bebas

Isu “marriage is scary” yang saat ini ramai diperbincangkan di media sosial tidak hanya mencerminkan keresahan kolektif terhadap institusi pernikahan, tetapi juga secara tidak langsung telah memberikan kontribusi terhadap meningkatnya praktik pergaulan bebas di kalangan remaja. Narasi yang beredar secara masif menggambarkan pernikahan sebagai sesuatu yang menakutkan, menyakitkan, penuh konflik, dan mengekang kebebasan individu. Akibatnya, muncul rasa enggan, bahkan ketakutan, untuk menjalin komitmen jangka panjang dalam bentuk pernikahan. Dalam upaya memenuhi kebutuhan emosional dan biologis, sebagian remaja kemudian mencari alternatif di luar ikatan resmi, dengan menjalin hubungan pacaran yang bebas, tanpa batasan moral maupun hukum agama. Kondisi ini diperparah dengan normalisasi gaya

37Nazla Aulia, “Fenomena Marriage is Scary dalam Konten Tiktok terhadap Persepsi Generasi Z tentang Pernikahan”, Jurnal Ilmu Hukum, Vol 2, Nomor 3, 2025, hlm.126.

(14)

hidup individualistik dan hedonistik yang dibentuk oleh media sosial, sehingga menjadikan hubungan tanpa status pernikahan sebagai sesuatu yang lumrah dan diterima secara sosial.38

Pilihan untuk menjauhi pernikahan namun tetap membangun relasi intim mendorong terbentuknya pola pergaulan bebas yang semakin permisif di kalangan remaja. Ketakutan terhadap komitmen jangka panjang yang dibentuk oleh narasi “marriage is scary” membuat hubungan antar lawan jenis dijalani secara bebas, tanpa melalui akad atau ikatan sah yang diakui secara agama maupun hukum.

Dalam banyak kasus, relasi semacam ini tidak lagi dibatasi oleh nilai moral atau norma sosial, sehingga mendorong remaja untuk mengekspresikan kedekatan emosional dan seksual secara bebas. Akibatnya, fenomena seks pranikah menjadi semakin meluas dan diterima sebagai bagian dari gaya hidup modern, yang pada gilirannya membuka peluang besar terjadinya kehamilan di luar nikah. Kondisi ini tidak hanya merugikan masa depan remaja secara pendidikan dan sosial, tetapi juga memperbesar potensi pernikahan dini yang tidak terencana, serta memperkuat lingkaran permasalahan baru seperti putus sekolah, tekanan ekonomi, dan disfungsi keluarga. Dalam jangka panjang, pola ini melemahkan peran institusi pernikahan sebagai sarana pembinaan moral, kestabilan emosional, dan pendidikan karakter generasi muda.39

b. Menurunnya Angka Pernikahan

Tren pernikahan sudah tidak lagi diminati seiring dengan perkembangan zaman. Pernikahan bukan lagi menjadi hal yang dibutuhkan oleh masyarakat karena dianggap dapat menghambat perkembangan diri, kebebasan diri, dan pekerjaan.40

Di era modern, pernikahan tidak lagi dianggap sebagai kebutuhan utama oleh sebagian masyarakat, khususnya generasi muda. Pandangan bahwa pernikahan menuntut komitmen besar yang dapat membatasi kebebasan dan perkembangan diri membuat banyak orang merasa ragu untuk menikah. Ketakutan akan konflik, perceraian, dan tekanan ekonomi juga memperkuat persepsi negatif terhadap institusi ini. Akibatnya, banyak individu memilih menunda pernikahan, suatu fenomena yang dikenal sebagai waithood.

38 Satria Umami, “Dampak Negatif Pergaulan Bebas terhadap Remaja Menuru Tinjauan Pendidikan Islam”, Jurnal Pendidikan Islam, Vol 6, Nomor 3, 2024, hlm.86.

39 Ibid, hlm.87.

40 Dinukil dari website Angka Pernikahan di Indonesia Menurun: Dampaknya pada Masyarakat Indonesia di Masa Depan , 19/5/2025, pada pukul 14:33, judul Angka Pernikahan di Indonesia Menurun: Dampaknya pada Masyarakat Indonesia di Masa Depan.

(15)

Fenomena waithood atau menunda pernikahan merupakan bentuk respons terhadap narasi “marriage is scary” yang berkembang di kalangan perempuan modern, terutama mereka yang terpengaruh oleh ideologi feminisme liberal dan radikal.

Dalam feminisme liberal, perempuan dipandang sebagai individu mandiri dan rasional yang berhak sepenuhnya menentukan jalan hidupnya, termasuk dalam hal pernikahan.

Menunda menikah dianggap sebagai bentuk aktualisasi diri dan upaya untuk meraih pendidikan tinggi, karir yang mapan, serta kebebasan dalam berekspresi tanpa terikat oleh norma tradisional. Sementara itu, feminisme radikal melihat pernikahan sebagai lembaga patriarki yang menindas perempuan melalui peran domestik dan ketergantungan biologis. Oleh karena itu, waithood dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem sosial yang tidak adil dan pembebasan dari kontrol laki-laki dalam institusi keluarga. 

Selain waithood, isu unmarried dan childfree juga mulai berkembang dan menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam cara perempuan memandang pernikahan dan keluarga.

Hal ini menjadi bukti bahwa feminisme telah memberikan pengaruh besar terhadap pola pikir perempuan modern untuk hidup merdeka, menentukan pilihannya sendiri, dan melepaskan diri dari tekanan sosial yang selama ini membebani mereka sebagai istri atau ibu. waithood telah menjadi tren global yang berkontribusi langsung terhadap penurunan angka pernikahan.41

c. Menurunnya Angka Kelahiran

Dalam dinamika masyarakat kontemporer, institusi perkawinan mengalami pergeseran makna yang signifikan.

Dahulu, perkawinan dipandang sebagai institusi sosial yang sakral dan memiliki dimensi struktural yang kuat dalam membentuk tatanan masyarakat, termasuk sebagai wahana reproduksi dan pelestarian nilai-nilai kultural. Namun, dalam konteks masyarakat modern, khususnya masyarakat urban dan berpendidikan, perkawinan cenderung diposisikan sebagai ranah privat. Individu diberikan kebebasan penuh dalam menentukan apakah akan menikah atau tidak, serta menentukan bentuk dan orientasi dari perkawinan itu sendiri.

Isu ini diperkuat oleh berkembangnya narasi populer seperti

"marriage is scary" yang mencerminkan meningkatnya kecemasan, keraguan, bahkan ketidakpercayaan terhadap institusi perkawinan. Narasi semacam ini tidak hanya berdampak pada menurunnya angka pernikahan, tetapi juga berimplikasi langsung terhadap penurunan angka kelahiran.

41 Wafa Suci Ningrum, “Fenomena Keberhasilan Feminisme, Studi Gender tentang Feminisme Liberal dan Feminisme Radikal”, Jurnal Hukum Keluarga, Vol 5, Nomor 1, 2024, hlm.27.

(16)

Generasi muda mulai memandang bahwa memiliki anak merupakan tambahan beban yang signifikan, baik secara finansial, emosional, maupun eksistensial. Hal ini mendorong sebagian pasangan untuk memilih menjalani kehidupan perkawinan tanpa anak, atau dikenal dengan istilah childfree.42 Pilihan untuk childfree sering kali dikaitkan dengan krisis kepercayaan terhadap institusi keluarga dan kekhawatiran atas kemampuan individu dan pasangan dalam mengemban tanggung jawab sebagai orang tua. Selain itu, keputusan untuk tidak memiliki anak tidak dapat dilepaskan dari transformasi nilai-nilai masyarakat terhadap perkawinan itu sendiri. Jika dahulu perkawinan dipahami sebagai sebuah institusi yang menekankan kesinambungan keturunan, maka kini perkawinan lebih dipahami sebagai proyek personal yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan afektif, kenyamanan emosional, dan aktualisasi diri.43

Paradigma ini menunjukkan bahwa kehadiran anak bukan lagi dianggap sebagai komponen esensial dalam kehidupan berkeluarga. Dalam kerangka pernikahan yang bersifat individualistik, prioritas pasangan lebih tertuju pada kualitas relasi interpersonal dan pengembangan potensi diri masing- masing.

d. Perubahan Struktur Keluarga

Pandangan negatif terhadap pernikahan yang dipengaruhi oleh ketakutan terhadap konflik, beban tanggung jawab, dan terpengaruh oleh propaganda feminisme, mengakibatkan institusi keluarga tradisional mulai dipandang sebagai konstruksi usang yang tidak lagi relevan dengan budaya modern dan mendorong sebagian individu untuk mencari alternatif lain dalam memenuhi kebutuhan biologis dan emosionalnya.  Akibatnya, muncul kecenderungan untuk menggantikan konsep keluarga konvensional dengan bentuk relasi yang tidak didasarkan pada pernikahan, termasuk menjalin hubungan sesama jenis yang dipropagandakan oleh kaum feminis.

Fenomena LGBT yang semakin mengemuka sebagian dipicu oleh narasi bahwa pernikahan heteroseksual bersifat mengekang dan tidak menjamin kebahagiaan. Narasi ini dimanfaatkan oleh kelompok pendukung gerakan LGBT untuk menguatkan legitimasi hubungan non-konvensional sebagai alternatif atas institusi pernikahan yang dianggap menakutkan dan menekan kebebasan individu.44

42 Tan Gusli, “Pelestarian Lembaga Perkawinan: Upaya Mencegah Dampak Ekonomi Krisis Seks dan Depopulasi Akibat Praktek Childfree, Waithood, dan Freesex di Indonesia”, Jurnal Ilmiah Gema Rencana, Vol 3, Nomor 1, 2024, hlm.73.

43 Ibid, hlm.74.

(17)

Selain itu, pengaruh feminisme modern juga ikut membentuk cara pandang baru tentang pernikahan. Dalam pandangan feminis, pernikahan sering dianggap sebagai sistem lama yang membatasi perempuan dan membuat mereka terjebak dalam peran tradisional seperti mengurus rumah dan melayani suami.

Karena alasan itu, sebagian perempuan mulai merasa bahwa menikah justru membuat mereka kehilangan kebebasan dan kesempatan untuk berkembang. Dari sinilah muncul dorongan untuk mencari bentuk hubungan lain yang dianggap lebih setara dan bebas, termasuk hubungan sesama jenis. Bagi sebagian feminis, menjalin relasi tanpa pernikahan bukan dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap aturan-aturan lama yang mengekang. Pandangan ini akhirnya ikut mendorong munculnya pemahaman baru bahwa kebahagiaan dan cinta tidak harus selalu lewat pernikahan, apalagi jika pernikahan itu dianggap membatasi peran dan kebebasan perempuan.45

D.Pandangan Islam terhadap Isu “Marriage is Scary”

Dalam bagian ini, pembahasan dimulai bagaimana pandangan Islam terhadap pernikahan sebagai salah satu syariat yang telah diatur oleh Allah SWT. Kemudian, dibahas pula bagaimana pandangan Islam terhadap isu “marriage is scary” ini. Lebih detail lagi, dibahas persoalan seputar rasa takut tersebut, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan isu ini. Dalam pembahasan ini, Islam menjadi tempat kembali bagi setiap permasalahan, termasuk dalam persoalan isu “marriage is scary”.

Pernikahan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan seorang muslim. Islam menjadikan pernikahan sebagai sarana untuk menjaga kesucian diri dan membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.46 Anjuran untuk menikah tidak hanya bersifat moral, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk syariat yang tegas. Al- Qur’an secara eksplisit memerintahkan kaum muslimin untuk menikah dalam berbagai kondisi kehidupan, sebagaimana tercantum dalam firman Allah Swt:

﴿ مُهِنِغْيُ ءَارَقَفُ اونُوكُيُ نْإِ مُكُئِامَإِوَ مُكُدِابَعِ نْمَ نْيحِلِا!صَّلِاوَ مُكُنِمَ #ىٰمَايُلْأَا اوحِكُنُأَوَ ۚ هلِضْفُ نْمَ ه!لِلِا ﴾

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang

44 Parsaoran Barutu, “Analisis Pengaruh Pendidikan Keluarga dan Lingkungan Sosial Terbantuknya Identitas LGBT, Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, Vol 2, Nomor 2, 2021, hlm.35.

45 Parsaoran Barutu, “Analisis Pengaruh Pendidikan Keluarga dan Lingkungan Sosial Terbantuknya Identitas LGBT, Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, Vol 2, Nomor 2, 2021, hlm.35.

46 Dompet Dhuafa, Trend Marriage is Scary, Apakah Dibenarkan dalam Islam?,

Dompetdhuafa, 2024, dikutip [Online] https://www.dompetdhuafa.org/trend-marriage-is-scarry/, pada 21/05/2025.

(18)

laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya...”

(QS. Al-Nûr [24]: 32)

Syeikh Muhammad Ali Al-Shabuni menerangkan maksud ayat di atas sebagai berikut:

بابَ++شلِا جيُوَزت++ب ىٰلِا++عتوَ كرا++بَت ىٰلِو++ملِا رَمَأ++يُ :يلِا++مجلإا ىٰنِ++عملِا

،لاجرَلِا نْمَ رارَحلْأَا نْيصَّحِتوَ

  :هانِعمَ امَ هرَكُذ ىٰلِاعت لوقَيفُ

  او++جوَز

لهأَ نْمَوَ ،مُكُئِاسنُوَ مُكُلِاجر رارَحأَ نْمَ هلِ جوَز لا نْمَ نْونِمَؤملِا اهِيُأَ

نْيُذ+++لِا ءَلاؤ+++ه نْكُيُ نْإِ ،مُكُيلِاو+++مَوَ مُكُد+++يبَعِ نْمَ ىٰقَتلِاوَ حلا+++صَّلِا لافُ ،هلِ++ضْفُ نْمَ مُهِينِ++غْيُ ىٰلِا++عت هلِلِا نْإفُ ،رَقَفُوَ ةقافُ لهأَ مُهِنُوجوَزت يطعيُ ،مُيُرَكُ دِاوج ،لضْفلِا عساوَ هلِلِافُ .مُهِحاكُنُإِ نْمَ مُهرَقَفُ مُكُعنِميُ

مُهِنُوَؤ++ش نْمَ ة++يفُاخ ه++يلِعِ ىٰفخت لاوَ ،هدِا++بَعِ نْمَ ءَا++شيُ نْمَ قزرَ++لِا .مُهِلِاوحأَوَ

Maknanya secara keseluruhan: Allah SWT memerintahkan untuk menikahkan para pemuda dan menjaga kehormatan orang-orang merdeka dari kalangan laki-laki. Maka Allah berfirman, yang artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman, nikahkanlah orang-orang yang belum menikah di antara laki-laki dan perempuan yang merdeka di antara kalian, serta orang-orang saleh dan bertakwa dari hamba sahaya laki-laki dan perempuan kalian. Jika mereka (yang dinikahkan) itu miskin, maka Allah akan mencukupi mereka dari karunia-Nya. Maka janganlah kemiskinan mereka menjadi penghalang bagi kalian untuk menikahkan mereka. Sungguh, Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Pemurah. Dia memberi rezeki kepada siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan tidak ada sesuatu pun dari urusan dan keadaan mereka yang tersembunyi bagi-Nya."47

Islam juga menegaskan bahwa pernikahan merupakan sunnah para Nabi dan Rasul yang patut untuk diikuti. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT:

﴿ نْأَ Xلوسرَلِ نْاكُ امَوَ Yة!يُZرذوَ اYج#وَزأَ مُهِلِ انِلِعجوَ كَلِبَق نْZمَ Yلاسر انِلِسرأَ دقَلِوَ ۚ نْذإب !لاإِ Xةيُا\+ب ىٰتأيُ

ٱ

]باتكُ Xلجأَ Zلكُلِ ه!لِلِ ۗ ﴾

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan.

Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).” (QS. Al-Ra’du [13]: 38)48

47 Syeikh Muhammad Ali al-Shabuni, Rawâi’ al-Bayân: Tafsîr al-Ahkâm min Al-Qur’ân, cet. I, 2015/1436 H, (Jakarta: Al-Dâr Al-‘Âlamiyyah), hlm. 148

48 Kementerian Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya Edisi Penyempurnaan, Jakarta:

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, 2022.

(19)

Dalam perspektif Islam, hukum menikah dijelaskan secara rinci.

Adakalanya menikah menjadi wajib bagi seseorang yang telah mampu secara finansial dan adanya rasa takut terjerumus dalam perbuatan dosa. Sebaliknya, menikah menjadi sunnah bagi seseorang yang mampu, namun tidak memiliki kekhawatiran tersebut. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

( ^ضُّغَأَ ه!نُإفُ ،ج!وَزتيلِفُ ةَءَابَلِا مُكُنِمَ عَاطتسا نْمَ ،بابَ !شلِا رَشعمَ ايُ

]ءَاجوَ هلِ ه!نُإفُ ،مِو!صَّلِاب هيلِعفُ عطتسيُ مُلِ نْمَوَ ،جرَفلِلِ نْصَّحأَوَ رَصَّبَلِلِ )

Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).”49

Pernikahan juga dapat berstatus mubah jika tidak terdapat dorongan khusus atau larangan tertentu, artinya menikah atau tidak menikah tidak berdampak besar pada dirinya. Di sisi lain, pernikahan juga dapat menjadi makruh jika seseorang khawatir tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai suami atau istri, dan bahkan menjadi haram apabila ia yakin akan menzalimi pasangannya karena ketidakmampuan, misalnya dalam memberi nafkah.50 Sebagaimana isu “marriage is scary”

dengan segala ketakutan untuk menikah dikarenakan banyaknya hal-hal buruk yang merusak hubungan tersebut.51 Hal ini sejalan dengan kaidah ushul fiqih:

]مِارَح وهِفُ مِارَحِلِا ىٰلِإِ Yةلِيسوَ نْاكُ امَ

“Apa yang menjadi sarana kepada yang haram, maka hukumnya haram pula.”52

Istilah “marriage is scary” yang berkembang di media sosial ini tidak lepas dari berbagai faktor, seperti kecemasan emosional, kondisi ekonomi, liberalisasi informasi, serta ketakutan akan hilangnya kebebasan personal. Hal ini sejatinya menunjukkan potret buruk dari sistem kehidupan kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem sekuler telah menyebabkan umat Islam jauh dari pemahaman yang benar terhadap ajaran Islam, khususnya dalam aspek keluarga. Syariat Islam yang seharusnya menjadi pedoman hidup dan solusi atas berbagai persoalan, tidak lagi dijadikan rujukan utama dalam membina rumah tangga. Akibatnya, nilai-nilai fundamental dalam

49 Ibn Hajar al-Atsqolani, Bulughul Marom, Kalibata Timur: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cet.1, 1422 H, hlm. 180.

50Syaikh Hafizh Ali Syuaisyi’, Kado Pernikahan, Pustaka Al-Kautsar:2005, cet. 1, hlm. 14.

51 Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuh, Jilid 7 (Damaskus: Dār al-Fikr, 1984), hlm. 44–47.

52 Wahbah az-Zuhaili, Al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah wa Taṭbīqātuhā fī al-Madhāhib al-Arba‘ah, (Damaskus: Dār al-Fikr, 2006), hlm. 289.

(20)

keluarga muslim seperti tanggung jawab, kepemimpinan, dan keharmonisan rumah tangga, mulai terkikis.53

Untuk itu, isu “marriage is scary” ini perlu dikaji lebih mendalam agar umat Islam tidak larut dalam ketakutan akan pernikahan, dan tidak menjauh dari syariat Islam yang justru memberikan petunjuk dan ketenangan dalam membina kehidupan rumah tangga. Pandangan serta kritik atas isu “marriage is scary” kami tinjau melalui perspektif yang Islami. Secara terperinci, kami sampaikan melalui tiga perspektif berikut, yaitu perspektif Nafsiyyah Islâmiyyah, Nizhâm Al-Ijtimâ’i, serta politik dan ideologi Islam. Secara faktual, tiga perspektif tersebut memiliki interkoneksi yang erat. Karena itu kami menjelaskan sebagai berikut:

1. Perspektif Nafsiyyah Islâmiyyah: Rasa Takut yang Keliru Rasa takut yang dialami pada diri manusia sebenarnya merupakan hal yang alamiah dan pasti ada sifatnya. Bahkan rasa takut ini bisa menjadi salah satu tanda bahwa manusia tersebut masih normal. Konsep ini didasari dari pernyataan Syaikh Muhammad Muhammad Ismail dalam ‘Al-Fikr Al-Islâmi’ sebagai berikut:

يفُ دِوجولِا يمتح وهوَ ، ءَاقَبَلِا ةَزيُرَغَ رَهاظمَ نْمَ رَهِظمَ فوخلِا .هدِوجوَ عمَ ةَرَطفُ هيفُ دجوَوَ ، هنِيُوكُت نْمَ ءَزج هنُلْأَ نْاسنُلإا

“Rasa takut adalah satu bentuk manifestasi naluri mempertahankan diri (gharizatul baqa‘). Rasa takut pasti ada dalam diri manusia karena merupakan bagian dari penciptaannya dan secara fitri ada bersama keberadaan manusia.”54

Namun, dalam pembahasan isu “marriage is scary” ini, rasa takut terhadap pernikahan ini dapat dianggap sebagai hal yang keliru dilihat dari hal-hal yang menjadi dasar dari rasa takut tersebut, yaitu hal-hal yang tidak beralasan menurut Islam atau spekulatif seperti yang telah dijelaskan dalam penelitian di atas.

Oleh karena itu, rasa takut seperti ini termasuk dari rasa takut yang menjadi masalah dalam kehidupan yang telah dijelaskan oleh Syeikh Muhammad Muhammad Ismail dalam ‘Al-Fikr Al-Islâmi’

sebagai berikut:

ا++هِئِارَج نْمَ ينُاعت يتلِا ةَرَطخلِا تلاكُشملِا نْمَ ةلِكُشمَ فوخلِاوَ

. رَخأ++تلِاوَ لذلِا نْمَ ينُاعت امَ ةفيعضْلِا مُمَلْأَاوَ ةطحِنِملِا بوعشلِا لبَنُأَ هدقَفُأَوَ ، شيعلِا ةَذلِ هدقَفُأَ صخش ىٰلِعِ رَطيس اذإِ فوخلِاوَ

53 Dewi Putri Handayani, Married is Scarry, Benarkah?, Dewi Putri Handayani, 2024, dikutip pada [Online] https://www.cemerlangmedia.com/opini/marriage-is-scary-benarkah/ pada 20 Mei 2025.

54 Muhammad Muhammad Ismail, Al-Fikr Al-Islâmi, 1958/1377 H, Beirut: Maktabah Al- Wa’i, hlm. 33

(21)

مُكُحِلِا ىٰلِعِ ةَردقَلِا مِدعِوَ ينِهذلِا كابَترلاا هيُدلِ لعجوَ ، تافصَّلِا .زييمتلِا ةيلِباقوَ ةظفُاحِلِا هدنِعِ لشوَ ، ءَايشلْأَا ىٰلِعِ

“Rasa takut merupakan salah satu problem kehidupan yang berbahaya serta membelenggu bangsa atau umat inferior dan lemah. Rasa takut ini akan menyebabkan kehinaan dan keterbelakangan suatu bangsa. Selain itu, akan menimbulkan kekacauan dalam berfikir, hilangnya kemampuan untuk memutuskan sesuatu, yang ujungnya bisa menghilangkan fokus dan kemampuan untuk mengidentifikasi sesuatu.” 55

Rasa takut terhadap pernikahan pernah terjadi di masa Rasulullah ﷺ. Rasa takut tersebut dilatarbelakangi dengan alasan yang muncul dari ketaqwaan. Bukan dengan alasan yang tidak dibenarkan dalam Islam. Rasa takut terhadap pernikahan tersebut dialami oleh beberapa sahabiyah sebagaimana terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. sebagai berikut:

(

ه++لِلِا ىٰلِ++ص ه++لِلِا لوسر ىٰلِإِ ةَأَرَمَا تءَاج لاق ةَرَيُرَه يبأَ نْعِ

كَتجاح امفُ كَتفُرَعِ دق لاق نْلافُ تنِب ةنُلافُ انُأَ تلِاق مُلِسوَ هيلِعِ

تلِا++ق ه++تفُرَعِ د++ق لا++ق دباعلِا نْلافُ يمعِ نْبا ىٰلِإِ يتجاح تلِاق ائي++ش نْا++كُ نْإ++فُ ة++جوَ!زلِا ىٰلِعِ جوَ!ز++لِا قح امَ ينُرَبَخأفُ ينِبَطخيُ

هت++سحِلِفُ ا++حِيقوَ ا Y++مَدِ لا++س و++لِ نْأَ هقَح نْمَ لاق هتجوَزت هقَيطِأَ

ترَمَلْأَ رَشبَلِ دجسيُ نْأَ رَشبَلِ يغْبَنِيُ نْاكُ ولِ هقَح ت!دِأَ امَ اهِنُاسلِب ا+هِيلِعِ ه+لِلِا هلِ+ضْفُ ا+ملِ ا+هِيلِعِ لخدِ اذإِ اهِجوَزلِ دجست نْأَ ةَأَرَملِا .اينُ^دلِا تيقَب امَ جpوَزتأَ لا Zقحِلِاب كَثعب يذ!لِاوَ تلِاق )

56

Dari Abu Hurairah r.a., seorang wanita datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Aku adalah Fulanah binti Fulan.” Nabi ﷺ bersabda, “Aku mengenalmu. Apa keperluanmu?” Wanita itu berkata, “Keperluanku tentang sepupuku, si Fulan, yang ahli ibadah.” Nabi ﷺ bersabda, “Aku mengenalnya.” Wanita itu berkata,

“Ia melamarku. Maka beritahukan kepadaku, apa hak suami atas istri? Jika aku mampu memenuhinya, aku akan menikah dengannya.” Nabi ﷺ bersabda, “Termasuk hak suami adalah:

seandainya ia mengeluarkan darah dan nanah, lalu istrinya menjilatinya dengan lidahnya, maka itu pun belum memenuhi hak suaminya. Sekiranya boleh bagi manusia untuk sujud kepada manusia lain, niscaya aku akan perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya karena keutamaan yang Allah berikan

kepadanya atas sang istri.”

Maka wanita itu berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan

55Muhammad Muhammad Ismail, Al-Fikr Al-Islâmi, 1958/1377 H, Beirut: Maktabah Al- Wa’i, hlm. 34

56  Syeikh Muhammad Shiddiq Hasan Khan, Husnul Uswah bima Tsabata MinaLlah wa Rasulih Fi al-Niswah, (Beirut: Muassasah ar-Risalah, Cet.ll), 1401 H, hlm. 558.

(22)

kebenaran, aku tidak akan menikah selama aku hidup di dunia.”

(HR. al-Bazzar dan al-Hakim)

Syeikh Yusuf Ahmad Ba’darani dalam ‘Al-‘Âilah Qal’ah Hashshanahâ Allâhu wa Rasûluhu’ berkomentar mengenai pernyataan wanita tersebut dalam hadits di atas, yaitu terkait pernyataan “Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku tidak akan menikah selama aku masih hidup.”.

Beliau berkomentar sebagai berikut:

لافُ جpوَزتت نْأَ تفُاخ اهاوقَت ةَpدش نْمَ نْوكُيُ دق ةَأَرَملِا هذه تمظعتسا اهِpنُأَ وَأَ ،مُpنِهِج اهرَيصَّقَتب لخدتفُ ًلامَاكُ اهِجوَز pقح يpدِؤت تبأفُ لجرَلِا ةيصَّعمَ وهوَ مِارَحِلِا يفُ عَوقولِا تيشخفُ رَمَلْأَا جاوَزلِا.

“Perempuan ini berkata seperti itu bisa jadi karena begitu kuatnya ketakwaan dia. Maka dia takut jadi menikah dan tidak bisa menunaikan hak suaminya secara sempurna kelak akan masuk neraka jahannam karena kelalaiannya itu, atau masalah hak suami itu menjadi terasa begitu besar baginya. Sehingga dia khawatir terjatuh kedalam kelemahan yaitu kemaksiatan kepada suami.

Maka dia pun enggan menikah.” 57

Kemudian, beliau melanjutkan komentarnya:

ءَا+ج امَد+نِعِ يرد+خلِا ديعس يبلْأَ مِلاسلِاوَ ةَلاصَّلِا هيلِعِ لاق اذهِلِوَ

سفنِب هحِ++ضوتست - مُلِ++سوَ ه++يلِعِ ه++لِلِا ىٰلِ++ص - يبَ++نِلِا ىٰلِإِ ه++تنِباب ه++ب تدِر ا++مَ ل++ثمب تدِروَ ثيُدحِلِا اذه هبَشيُ امب اهِباجأَوَ ةلِأسملِا .قباسلِا ثيُدحِلِا يفُ ةَأَرَملِا

“Karena itu Nabi . ketika Abu Sa’id al-Khudri bersama dengan putrinya datang kepada Beliau meminta penjelasan dalam masalah hak suami itu, Beliau menjawab dengan jawaban yang serupa dengan hadits di atas. Putri Abu Sa’id al-Kudri pun menjawab dengan jawaban perempuan yang disebutkan dalam hadits di atas.” 58

Berdasarkan penjelasan di atas, maka rasa takut sebenarnya merupakan fitrah pada diri manusia. Namun, rasa takut yang muncul terhadap pernikahan dalam pembahasan ini dianggap keliru karena didasari pada hal-hal yang tidak dibenarkan oleh Islam, seperti hal-hal yang sifatnya spekulatif. Jika rasa takut tersebut didasarkan pada alasan yang kuat sebagaimana yang dialami oleh shahabiyah dalam hadis di atas, maka rasa takut terhadap pernikahan seperti itu dapat bersifat terpuji dan dapat

57Syeikh Yusuf Ahmad Ba’darani, Tuntunan Kehidupan Suami Istri: Membentengi Keluarga, Melanggengkan Cinta (Terjemah dari ‘Al-‘Âilah Qal’ah Hashshanahâ Allâhu wa Rasûluhu: Al-Zaujah ma’a Zaujihâ’), Bogor, Cet. lll, Jumadil Awwal 1440 H, hlm. 146

58 Ibid.

(23)

mendorong seseorang untuk menyiapkan dirinya menjadi lebih baik lagi dan lebih siap untuk menjalani amanah pernikahan.

2. Perspektif Nizhâm Al-Ijtimâ’i fî: Kekeliruan dalam Memahami Gharizah Nau’ dan Pernikahan

Dalam video yang diunggah oleh kanal YouTube Supremacy, Ustadzah Dedeh Wahidah Achmad, seorang mubalighah dan aktivis dakwah Islam memaparkan hasil pengamatan beliau dan tim bahwa dalam era kapitalisme ini banyak yang berpendapat bahwa untuk menyalurkan naluri seksual atau naluri melestarikan keturunan tidak perlu menikah. Kemudian beliau menjelaskan bahwa sebagian pihak yang berpendapat demikian menganggap bahwa naluri seksual dapat dipenuhi secara bebas, termasuk melalui hubungan diluar ikatan pernikahan. Anggapan tersebut membuat mereka merasa tidak ada masalah jika tidak menikah. 59

Ustadzah Najmah Saiidah, yang juga merupakan seorang mubalighah dan aktivis dakwah menerangkan bahwa Allah Swt.

telah menganugerahkan kepada setiap manusia naluri melestarikan keturunan (gharîzah al-nau’) dan keberadaan naluri dalam diri manusia menumbuhkan ketertarikan kepada lawan jenis. Karenanya Allah pun memberikan aturan-Nya tentang bagaimana pemenuhan terhadap gharîzah al-nau’ ini, yaitu dengan menikah.60

Ustadzah Najmah melanjutkan bahwa esensi pernikahan adalah saling memberikan ketenangan satu sama lain. Inilah anugerah yang Allah berikan kepada sepasang laki-laki dan perempuan yang menikah sehingga menjadi suami istri yang saling memberikan ketentraman, ketenangan, dan kasih sayang.

Sebagaimana firman Allah SWT. berikut ini:

﴿ مُكُنِيب لعجوَ اهِيلِإِ اونِكُستلِ اYجاوَزأَ مُكُسفنُأَ نْمَ مُكُلِ قلِخ نْأَ هتايُآ نْمَوَ

X مِوقَلِ Xتايُلَآ كَلِ#ذ يفُ !نْإِ Yةمحروَ Yةَ!دِومَ ۚ

نْوَرَ!كُفتيُ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Al-Rûm [30]: 21). 61

59 Ustadzah Dedeh Wahidah Achmad, “Family Zone: Bahaya Opini Marriage Is Scary”, diunggah oleh Supremacy, YouTube, 23 September, 2024, https://youtu.be/RkxNEelbjfo?

si=HciYZob8ni8J2HfD.

60 Saiidah, N. (2022, 9 Maret), Pernikahan, Akankah Menjadi Taman Surga atau Kubangan Neraka?, Muslimah News, https://muslimahnews.net/2022/03/09/2277/.

61 Kementerian Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya Edisi Penyempurnaan, Jakarta:

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, 2022.

(24)

Ayat di atas menyebutkan lafal ,اهِيلِإِ اونِكُستلِ, ةَدِومَ dan ةمحر.

Konteks pembicaraan ayat mengacu pada perasaan cinta dan kasih sayang suami terhadap istri atau sebaliknya. Dalam tafsir disebutkan bahwa lafal ةَدِومَ artinya adalah ة+يمح.62 Dalam bahasa Indonesia kata itu bermakna bergelora.63 Di dalam ayat tersebut juga telah disebutkan tujuan dari sebuah pernikahan itu diantaranya adalah:

a. Memberikan ketenangan (sakînah) b. Memberikan rasa cinta (mawaddah)

c. Memberikan rahmat hingga masa tua bersama pasangan (rahmah) 64

Maka, ketika terjadi permasalahan dalam rumah tangga, bukan institusi pernikahannya yang salah, melainkan prosedur dan cara menjalani pernikahan tersebut yang perlu dievaluasi, yang terkadang tidak sesuai dengan perintah dan larangan Allah Swt.65 Kehidupan manusia pada dasarnya akan senantiasa diwarnai dengan ujian, baik ia menikah maupun tidak. Namun, seseorang yang tidak memilih jalan pernikahan tidak akan merasakan kenikmatan dan ketenangan sebagaimana yang dirasakan oleh mereka yang menikah dengan niat dan tata cara yang benar dalam Islam. Seseorang yang belum menikah, maka ia tidak akan merasa tenang dalam menjalani kehidupan ini. Meskipun ia seorang yang rajin beribadah, selalu melakukan ibadah-ibadah sunnah, pasti ia akan tetap merasa ada sesuatu yang tidak lengkap, dan ini akan mengusik ketenangannya. Rasa tidak tenang itu muncul karena syahwat yang sering datang tiba-tiba dan tidak tersalurkan.66

Dalam kehidupan ini, Allah SWT memberikan dua pilihan yang menjadi bagian dari hidup m

Referensi

Dokumen terkait