• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI IN SILICO DNA BARCODING PADA ALGA COKELAT Sargassum sp

N/A
N/A
Zalfa Nabilla

Academic year: 2024

Membagikan "STUDI IN SILICO DNA BARCODING PADA ALGA COKELAT Sargassum sp "

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI IN SILICO DNA BARCODING PADA ALGA COKELAT Sargassum sp

Zalfa Adinia Nabilla1, Miftahul Jannah1

1 Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam As-Syafiíyah, Jl. Raya Jatiwaringin No 12 Pondok Gede 17411

email: [email protected]

Abstrak

Sargassum merupakan salah satu genus alga dalam kelas Phaeophyceae yang dapat ditemukan di perairan tropis dan subtropis. Berbagai studi kandungan senyawa bioaktif yang terdapat dalam Sargassum sp. menunjukkan manfaat yang beragam terhadap kesehatan.

Sargassum memiliki sifat polimorfisme dan keragaman fenotip yang tinggi dalam satu spesies sehingga satu spesies Sargassum bisa memiliki berbagai fenotip yang berbeda. Teknik DNA barcoding diperlukan untuk proses identifikasi spesies Sargassum secara cepat dan konsisten.

Metode yang dilakukan dalam DNA barcoding Sargassum adalah dengan studi in silico menggunakan Genbank (NCBI). Sekuen DNA dikoleksi dari database pada NCBI dengan cara menulis nama spesies dan gen (rbcL). Selanjutnya data dianalisis melalui penjajaran sekuen menggunakan CLUSTALW dalam software MEGA XI. Rekonstruksi pohon filogenetik sekuen berdasarkan character based yaitu Maximum Likelihood tree, model evolusi Hasegawa-Kishino-Yano (HKY), dan bootstrap method 1000. Hasil analisis in silico menunjukkan bahwa pohon filogenetik terbagi menjadi 2 kelompok. Klad 1 terdiri dari tujuh spesies yang terbagi menjadi beberapa subklad, sedangkan clade kedua terdiri dari S.

muticum dan S. horneri. Kekerabatan terdekat dimiliki oleh S. obtusifolium, S. polyceratium dan S. stenophyllum dengan nilai jarak genetik sebesar 0,000 (0%). Sedangkan jarak genetik terjauh pada spesies S. horneri dengan S. polycystum yang memiliki nilai jarak genetik sebesar 0,076 (0,76 %).

Kata kunci: Sargassum sp, DNA barcoding, sekuen

Abstract

Sargassum is a genus of algae in the Phaeophyceae class which can be found in tropical and subtropical waters. Various studies of the content of bioactive compounds contained in Sargassum sp. shows various health benefits. Sargassum has polymorphism and high phenotypic diversity within one species so that one Sargassum species can have various different phenotypes. DNA barcoding techniques are needed for the process of identifying Sargassum species quickly and consistently. The method used for Sargassum DNA barcoding is an in silico study using Genbank (NCBI). DNA sequences were collected from the NCBI database by writing the species and gene names (rbcL). The data was analyzed through sequence alignment using CLUSTALW in MEGA XI software. Reconstruction of sequence phylogenetic trees based on character based, namely Maximum Likelihood tree, Hasegawa- Kishino-Yano (HKY) evolutionary model, and bootstrap method 1000. The results of in silico analysis show that the phylogenetic tree is divided into 2 groups. Clade 1 consists of seven species which are divided into several subclades, while the second clade consists of two species, namely S. muticum and S. horneri. The closest relatives are S. obtusifolium, S.

polyceratium and S. stenophyllum with a genetic distance value of 0.000 (0%). Meanwhile, the furthest genetic distance is between the species S. horneri and S. polycystum which has a genetic distance value of 0.076 (0.76%).

(2)

Keywords: Sargassum sp, DNA barcoding, sequence PENDAHULUAN

Sargassum merupakan salah satu genus alga dalam kelas Phaeophyceae yang dapat ditemukan di perairan tropis dan subtropis. Berdasarkan database www.algaebase.org ada 941 spesies Sargassum yang terdaftar dengan 353 di antaranya merupakan spesies yang valid (Susila et al., 2017). Spesies-spesies Sargassum sp. yang dikenal di Indonesia ada sekitar 12 spesies, yaitu: S. duplicatum, S. hystrix, S. echinocarpum, S. gracilimum, S. obtusifolium, S.

binderi, S. polycystum, S. crassifolium, S. microphylum, S. aquifolium, S. vulgare, dan S.

polyceratium (Pakidi & Suwoyo, 2016). Rumput laut coklat jenis Sargassum adalah rumput laut yang mempunyai cabang seperti jari, berwarna coklat, berukuran relatif besar, tumbuh dan berkembang pada substrat dasar yang kuat (Tantalu et al., 2017).

Berbagai studi kandungan senyawa bioaktif yang terdapat dalam Sargassum sp.

menunjukkan manfaat yang beragam terhadap kesehatan. Fukoidan yang terdapat Sargassum sp. telah dikenal sebagai antioksidan, antiinflamasi, antitumor, antiobesitas, antiviral, antihepatopati, antiuropati, dan antirenalpati (Aryatikta et al., 2022). Hasil penelitian Rahman, 2012 menunjukkan bahwa produk alginat spesies-spesies Sargassum dengan kandungan berkisar 32,09-60,1% memenuhi persyaratan bagi kebutuhan farmasi dan industri makanan. Selain itu, ekstrak metanol Sargassum sp dapat menurunkan kolesterol, trigliserida, HDL dan LDL serta kandungan Lp (a) dalam darah pada tikus diabetes (Firdaus, 2017).

Sargassum memiliki sifat polimorfisme dan keragaman fenotip yang tinggi dalam satu spesies. Kedua sifat tersebut dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti temperatur, salinitas, tingkat pencahayaan, intensitas gelombang, serta interaksi dengan organisme bentik di habitatnya, sehingga satu spesies Sargassum bisa memiliki berbagai fenotip yang berbeda (Noormohammadi et al., 2011). Pengelompokan berdasarkan morfologi pada tumbuhan masih memiliki banyak keterbatasan karena sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Oleh karena itu biologi molekuler berperan dalam identifikasi dan pengelompokan kekerabatan Sargassum melalui teknik DNA barcoding (Suparman, 2012). Identifikasi spesies berbasis sekuen DNA pendek (barcode) merupakan metode yang dianggap cepat, dapat dipertanggungjawabkan, dan konsisten. DNA barcoding diperlukan untuk memecahkan keterbatasan dari proses identifikasi spesies menggunakan karakterisasi morfologi (Martiansyah, 2021).

Penelitian analisis molekuler DNA telah dilakukan oleh Annisaqois et al., 2018 pada alga merah (Rhodophyta) Kappaphycus sp menggunakan metode CTAB dan gen rcbL sebagai gen target identifikasi spesies. Analisis morfologi dan filogenetik molekuler juga dilakukan oleh Purbani et al., 2021 pada alga hijau coccoid dengan sekuens gen 18S rDNA. Penelitian yang dilakukan oleh Tampanguma et al., 2020 mengenai isolasi DNA pada Sargassum sp berhasil diamplifikasi dengan gen rbcL ditandai munculnya pita DNA. Sedangkan identifikasi alga coklat yang dilakukan oleh Tuiyo, 2013 dan Rahman, 2012 masih dilakukan secara konvensional dengan mengamati karakter morfologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan filogenetik spesies alga cokelat beberapa anggota genus Sargassum menggunakan sekuen rbcL.

(3)

METODE PENELITIAN

Penelitian dilakukan dengan metode in silico, yaitu dengan memanfaatkan data sekuen gen rbcL sekitar 500 −¿ 600 bp dari beberapa spesies Sargassum yang terdapat di website GeneBank NCBI (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/) dengan cara menulis nama spesies disertai gen yang ditargetkan. Data-data meliputi nomor aksesi, panjang nukleotida, dan asal negara sampel Sargassum disimpan di Ms. Word. Sedangkan susunan nukleotida disimpan dalam format FASTA. Selanjutnya data tersebut digunakan untuk analisis bioinformatika yang meliputi pensejajaran sekuen (Sequence Alignment) menggunakan CLUSTALW dalam software MEGA XI. Rekonstruksi pohon filogenetik sekuen berdasarkan character based yaitu Maximum Likelihood tree, model evolusi Hasegawa-Kishino-Yano (HKY), dan bootstrap method 1000. Tahapan terakhir yaitu melihat jarak genetik untuk mendukung analisis rekonstruksi pohon filogenetik, seberapa dekat hubungan kekerabatan spesies (Rahayu &

Jannah, 2019).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian dilakukan dengan metode in silico, yaitu dengan memanfaatkan data sekuen gen ribolusa-1,5-bifosfat carboxylase (rbcL) dari spesies Sargassum sp. yang terdapat di laman geneBank NCBI. Berdasarkan hasil penelusuran, ditemukan sembilan spesies Sargassum yang memiliki panjang sekuen gen rbcL berkisar antara 590 −¿ 599 bp (Tabel 1). Sebanyak lima spesies Sargassum memiliki dua sampel sekuen gen dengan nomor aksesi berbeda sehingga terdapat 14 sekuen Sargassum yang diunduh dalam format FASTA. Spesies Sargassum yang akan dianalisis berasal dari beberapa negara di seluruh benua, (kecuali benua Antartika) terdiri dari dua negara benua Asia (Malaysia dan Jepang), dua negara benua Amerika (Chile dan Colombia), dua negara benua Eropa (Prancis dan Belanda), serta dua negara benua Afrika (South Africa dan Tanzania). Spesies out group yang dipilih adalah alga hijau spesies Ulva lactuca dan alga merah spesies Gracilaria salicornia.

Tabel 1. Panjang dan Nomor Aksesi DNA Barcode rbcL

No. Species Length (bp) Accession No. Asal

1. S. obtusifolium 596 bp HQ416025 Chile

2. S. obtusifolium 599 bp HQ416027 Chile

3. S. binderi 599 bp KF437916 Malaysia

4. S. binderi 599 bp KF437917 Malaysia

5. S. polycystum 594 bp KP720557 South Africa

(4)

6. S. aquifolium 599 bp HQ416018 Prancis

7. S. polyceratium 599 bp KF437959 Colombia

8. S muticum 597 bp KF281781 Prancis

9. S muticum 597 bp KF281780 Belanda

10. S ilicifolium 594 bp KP720545 South Africa

11. S ilicifolium 592 bp HQ416021 Tanzania

12. S stenophyllum 599 bp KF437958 Colombia

13. S horneri 597 bp KF281783 Jepang

14. S horneri 590 bp KF281799 Jepang

15. Ulva lactuca 594 bp MN509803 India

16. Gracilaria salicornia 595 bp MW275902 Taiwan

Sequence alignment bertujuan untuk mensejajarkan sekuen sampel yang memiliki panjang berbeda sesuai dengan posisi homolognya sehingga diketahui tingkat homologi antar sekuen spesies Sargassum. Analisis kekerabatan dapat dilakukan apabila sekuens gen rbcL Sargassum sudah dipreparasi. Dilakukan pensejajaran dari 14 sekuens gen rbcL Sargassum dan dua spesies outgroup tersebut dengan aplikasi MEGA-XI untuk medapatkan panjang sekuen gen yang sama. Hasil preparasi didapatkan panjang sekuen gen rbcL yang sama yaitu 626 bp.

Berdasarkan hasil analisis penjajaran sekuen gen rbcL dari 14 sekuen gen Sargassum, dijumpai perbedaan urutan basa nukleotida (Gambar 1). Perbedaan tersebut terjadi karena adanya mutasi.

Gambar 1. Hasil alignment menggunakan metode Clustal W pada piranti lunak MEGA X dengan sekuen gen rbcL. Tanda (*) menunjukkan tingkat homologi, tanda (-) gap menunjukkan insersi dan delesi.

(5)

Gambar 2. Hasil alignment yang sudah disimpan dalam format mega (.meg)

Hasil alignment 14 sekuens gen rbcL dari Sargassum menunjukkan 68 subtitusi basa nukleotida yang terdiri atas 48 transisi, 20 transversi, dan ditemukan adanya insersi dan delesi. Salah satu contoh basa nukleotida yang menunjukkan transisi adalah basa nomer 105, dimana S. obtusifolium memiliki basa A (Adenin) yang dimiliki juga oleh S. polyceratium, S.

stenophyllum, S. polycystum, S. ilicifolium, S. aquifolium, S. binderi, dan S. horneri, sedangkan S. muticum menunjukkan basa nukleotida G (Guanin). Contoh basa nukleotida yang mengalami transversi adalah basa nukleotida nomer 336, dimana S. obtusifolium menunjukkan basa T (Timin), sedangkan S. muticum menunjukkan basa nukleotida A (Adenin). Spesies yang mengalami delesi pada nukleotida ke-1 dan 2 adalah S. obtusifolium voucher MER1, S. muticum KF281780, S. muticum KF281781, S. ilicifolium voucher IRD TZ0686, S. horneri voucher IRD5219, dan S. horneri voucher GENT-HV2037. Pada mutasi transisi terjadi pergantian suatu pasangan basa yang mengakibatkan perubahan kode genetik, akan tetapi tidak merubah asam amino sehingga tidak mengakibatkan perubahan fungsi protein. Terjadinya mutasi transversi dapat mengakibatkan adanya perubahan asam amino yang terbentuk, sehingga mempengaruhi ekspresi gen (Masruroh et al., 2018).

Terdapat tiga spesies (S. obtusifolium, S. polyceratium, dan S. stenophyllum) yang memiliki kesamaan basa nitrogen pada urutan nukleotida tertentu, akan tetapi basa nitrogen pada urutan tersebut berbeda dengan enam spesies yang lainnya. Tiga spesies terebut mengalami perbedaan dengan enam spesies yang lain pada nukleotida ke 385, 516, dan 536.

Contoh pada tiga spesies tersebut mengalami mutasi transversi, dimana nukleotida ke-385 tiga spesies tersebut berbasa A tetapi pada lima spesies yang lain adalah T dan satu spesies berbasa C. Pada nukleotida ke-536 dari tiga spesies tersebut terjadi mutasi transisi, dimana basa T berubah menjadi C.

Tabel 2. Subtitusi basa nukleotida sekuen gen rbcL dari Sargassum

Spesies Variasi basa nukleotida (Basa ke-)

105 336 385 516 536

S. obtusifolium A T A T C

S. obtusifolium

S. binderi T A T

S. binderi T A T

S. polycystum T A T

S. aquifolium T A T

(6)

S. polyceratium

S. muticum G A T A T

S. muticum G A T A T

S. ilicifolium T A T

S. ilicifolium T A T

S. stenophyllum

S. horneri C A T

S. horneri C A T

Pohon filogenetik merupakan grafik yang digunakan untuk menggambarkan hubungan kekerabatan antar taksa yang terdiri atas sejumlah nodus (simpul) dan cabang dengan hanya satu cabang yang menghubungkan dua nodus paling berdekatan. Setiap nodus mewakili unit- unit taksonomi dan setiap cabang mewakili hubungan antar unit yang menggambarkan hubungan keturunan dengan leluhur. Pola percabangan yang terbentuk dari suatu pohon filogenetik disebut topologi (Effendi, 2020).

Topologi pohon filogenetik yang dihasilkan menunjukkan terbentuk dua clade besar Clade pertama terdiri dari S. obtusifolium berasal dari Chile, S. polyceratium dari Colombia, S. stenophyllum dari Colombia, S. polycystum dari South Africa, dan S. ilicifolium dari South Africa dan Tanzania, S. aquifolium berasal dari Prancis dan S. binderi dari Malaysia, sedangkan clade kedua terdiri dari S. muticum dari Prancis dan Belanda dan S. horneri dari Jepang. Pada clade pertama spesies Sargassum yang berasal dari benua Eropa memiliki kekerabatan yang dekat (S. obtusifolium, S. polyceratium dan S. stenophyllum), spesies Sargassum dari benua Afrika yaitu S. polycystum berkerabat dekat dengan S. ilicifolium, sedangkan S. aquifolium berkerabat dekat dengan S. binderi walaupun kedua spesies Sargassum tersebut diteliti dari asal benua yang berbeda. Pada clade kedua, sampel S.

muticum KF281781 dari Prancis dan S. muticum KF281780 dari Belanda memiliki nilai bootstrap yang tinggi, hal ini dikarenakan negara Prancis dan Belanda masih dalam benua yang sama yaitu benua Eropa. S. muticum berkerabat dekat dengan S. horneri berasal dari Jepang dengan nilai bootstrap 53. Nilai bootstrap yang rendah disebabkan adanya mutasi dan perbedaan basa nukleotida antara kedua spesies tersebut. Konstruksi topologi pohon filogenetik dibuat berdasarkan metode Maximum Likelihood dengan model perhitungan Hasegawa-Kishino-Yano (HKY). Model perhitungan Hasegawa-Kishino-Yano (HKY) digunakan karena efektif untuk analisis DNA Barcoding (mempertimbangkan adanya perbedaan laju transisi dan transversi serta laju substitusinya).

(7)

Gambar 3. Rekonstruksi pohon filogenetik Sargassum berdasarkan algoritme Maximum Likelihood, model evolusi Hasegawa-Kishino-Yano (HKY) dengan bootstrap sebanyak 1000 yang menunjukkan hubungan kekerabatan Sargassum berdasarkan sekuen gen ribolusa-1,5-bifosfat carboxylase (rbcL)

Penanda molekuler DNA yang paling banyak digunakan pada kloroplas ialah gen rbcL. Gen rbcL merupakan gen pengkode salah satu enzim fotosintesis yang berperan pada tahap awal siklus calvin (Naser et al., 2023). Ukuran panjang gen rbcL sekitar 1400 bp sehingga menyediakan banyak karakter untuk kajian filogenetik. Tingkat keberhasilan amplifikasi gen rbcL yang tinggi dengan satu atau dua macam primer universal (CBOL, 2009).

Pembuatan pohon filogenetik melalui pengukuran jarak genetik yang didasarkan pada pendekatan genetik molekuler merupakan salah satu cara terbaik dalam usaha pelaksanaan konservasi. Pengukuran jarak genetik yang didasarkan pada frekuensi alel dari lokus marker DNA tertentu untuk mengidentifikasi berbagai populasi yang sangat jauh berbeda akan menghasilkan suatu informasi yang berguna bagi usaha konservasi. Pada metode distance matrix, jarak genetik diolah untuk semua pasangan dari spesies, dan pohon filogenetik disusun dengan memahami hubungan di antara nilai-nilai jarak tersebut (Susilawati, 2017).

Jarak genetik digunakan untuk menunjukkan kekerabatan antara sampel. Semakin kecil jarak genetik antar sampel, maka kesamaan basa nukleotida DNA semakin besar (Brahmantiyo et al., 2016). Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kekerabatan antar sampel semakin dekat.

Nilai jarak genetik antar sampel Sargassum dapat dilihat pada Gambar 4.

(8)

Gambar 4. Nilai Jarak Genetik (Genetic Distance) antar Sargassum

Jarak genetik antara sampel Sargassum dihitung menggunakan metode Hasegawa- Kishino-Yano (HKY) pada MEGA-XI. Jarak genetik individu dari daerah yang sama memiliki nilai yang lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai jarak genetik antar individu dari daerah yang berbeda (Hermawan, 2023). Jarak genetik Sargassum sampel berkisar antara 0,000-0,076 (Gambar 4). Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kekerabatan antar individu dari satu daerah lebih dekat jika dibandingkan dengan individu dari daerah lain. Contoh itu dapat diamati pada nilai jarak genetik seperti pada S. obtusifolium, S. polyceratium dan S. stenophyllum yang memiliki nilai jarak genetik sebesar 0,000. Nilai jarak genetik akan lebih besar ketika dibandingkan dengan individu dari daerah lain, seperti pada S. horneri dari Jepang dengan S.

polycystum dari Afrika yang memiliki nilai jarak genetik sebesar 0,076 (Gambar 4). Namun berbeda dengan S. aquifolium berasal dari Prancis lebih berkerabat dekat dengan S. binderi dari Malaysia yang memiliki nilai jarak genetik sebesar 0,002 −¿ 0,005 dibandingkan S.

muticum KF281781 dari Prancis. S. aquifolium dan S. binderi berkerabat dekat meskipun secara geografi terletak sangat jauh. Hal ini kemungkinan disebabkan Sargassum sp mempunyai penyebaran sangat luas dan ditemukan hampir di seluruh belahan dunia (Kasim, 2016).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, gen rbcL dapat digunakan untuk mengungkap kekerabatan Sargassum serta membuktikan bahwa kajian evolusi dapat dilakukan dengan pendekatan molekuler. Hasil analisis in silico menunjukkan bahwa pohon filogenetik terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok in group terbagi dalam dua klad besar yaitu klad 1 dan klad 2. Klad 1 terdiri dari tujuh spesies yang terbagi menjadi beberapa subklad, sedangkan clade kedua terdiri dari dua spesies yaitu S. muticum dan S.

horneri. Kekerabatan terdekat dimiliki oleh S. obtusifolium, S. polyceratium dan S.

stenophyllum dengan nilai jarak genetik sebesar 0,000 (0%). Sedangkan jarak genetik terjauh yaitu pada spesies S. horneri dengan S. polycystum yang memiliki nilai jarak genetik sebesar 0,076 (0,76 %). Spesies Sargassum yang berasal dari negara yang sama belum tentu memiliki kekerabatan yang dekat. Hal tersebut terjadi karena Sargassum sp mempunyai penyebaran sangat luas sehingga adanya variasi genetik atau perbedaan pada urutan nukleotida pada sekuens gen rbcL.

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Annisaqois, M., Gerung, G., Wullur, S., Sumilat, D., Wagey, B., & Mandagi, S. (2018).

Analisis molekuler DNA alga merah (Rhodophyta) Kappaphycus sp. Jurnal Pesisir Dan Laut Tropis, 6(1), 107. https://doi.org/10.35800/jplt.6.1.2018.20589

Aryatikta, R., Sri Winarni, & Susatyo Nugroho Widyo Pramono. (2022). Kajian Pustaka Potensi Sargassum Sp. Sebagai Nutrasetikal. Food Scientia : Journal of Food Science and Technology, 2(2), 139–159. https://doi.org/10.33830/fsj.v2i2.3083.2022

Brahmantiyo, B., Priyono, P., & Rosartio, R. (2016). Pendugaan Jarak Genetik Kelinci (Hyla, Hycole, Hycolex NZW, Rex, dan Satin) Melalui Analisis Morfometrik. Jurnal Veteriner, 17(2), 226–234. https://doi.org/10.19087/jveteriner.2016.17.2.226

CBOL, C. B. of L. (2009). A DNA barcode for land plants. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America, 106(31), 12794–12797.

https://doi.org/10.1073/pnas.0905845106

Effendi, I. (2020). Identifikasi Bakteri: Metode Identifikasi dan Klasifikasi Bakteri. Oceanum.

https://books.google.co.id/books?id=B4X-DwAAQBAJ

Firdaus, M. (2017). Diabetes dan Rumput Laut Cokelat. Universitas Brawijaya Press.

https://books.google.co.id/books?id=u0xODwAAQBAJ

Hermawan, C. (2023). Analisis Kekerabatan Kura-Kura Batok (Cuora amboinensis) Wilayah Indonesia Timur (Ambon, Luwu , dan Gorontalo) Berbasis Sekuen Gen Cytochrome B.

JURNAL BIOSENSE, 06(1), 42.

Kasim, M. (2016). Makro Alga. Penebar Swadaya Grup. https://books.google.co.id/books?

id=MyMnDwAAQBAJ

Martiansyah, I. (2021). Mini Review: Pendekatan Molekuler DNA Barcoding: Studi Kasus Identifikasi dan Analisis Filogenetik Syzygium (Myrtaceae). Achieving the Sustainable Development Goals with Biodiversity in Confronting Climate Change, November, 188.

http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/psb

Masruroh, I. H., Triesita, N. I. P., Sulistiono, & Santoso, A. M. (2018). Hubungan kekerabatan bambu berdasarkan gen rbcl berbasis analisis in silico sebagai bukti adanya evolusi. Prosiding Seminar Nasional VI Hayati, 1(September), 165–178.

Naser, I., Ibrahim, G. A., Ruray, S. B., Sirfefa, M. I., Abdullah, A., Lily Ishak, S., Tonirio, M., Oesman, H., Ahmad, A. C., Saleh, M. A., & Bujang, A. S. (2023). Mozaik Rempah:

Masa Lalu di Masa Kini. PT Kanisius. https://books.google.co.id/books?

id=S0ziEAAAQBAJ

Noormohammadi, Z., Baraki, S. G., & Sheidai, M. (2011). Preliminarily report on molecular diversity of Sargassum species in Oman Sea by using ISSR and RAPD markers. Acta Biologica Szegediensis, 55(1), 19–26.

Pakidi, C. S., & Suwoyo, H. S. (2016). Potensi dan Pemanfaatan Bahan Aktif Alga Coklat.

Octopus, 5(2), 488–498.

Purbani, D. C., Noerdjito, D. R., Purnaningsih, I., Yuliani, Y., & Prabowo, D. A. (2021).

Analisis Morfologi dan Filogenetik Molekuler Alga Hijau Coccoid yang Diisolasi dari

Pulau Enggano. Berita Biologi, 20(1), 1–12.

https://doi.org/10.14203/beritabiologi.v20i1.3991

(10)

Rahayu, D. A., & Jannah, M. (2019). Dna Barcode Hewan Dan Tumbuhan Indonesia.

Rahman, A. (2012). Keanekaragaman Morfologi Rumput Laut Sargassum dari Pantai Permisan Cilacap dan Potensi Sumberdaya Alginatnya untuk Industri. Pengembangan Sumber Daya Pedesaan Dan Kearifan Lokal Berkelanjutan II, 978, 27–32.

Suparman. (2012). Markah Molekuler Dalam Identifikasi Dan Analisis Kekerabatan Tumbuhan Serta Implikasinya Bagi Mata Kuliah Genetika. Bioedukasi, 1(September), 59–68. https://www.researchgate.net/

Susila, W. A., Putra, M. A. H. R., Ulfah, M., & Triyanto. (2017). Sargassum: Karakteristik Biogeografi dan Potensi. Gadjah Mada University Press.

https://books.google.co.id/books?id=jSSjDwAAQBAJ

Susilawati, T. (2017). Sapi Lokal Indonesia: Jawa Timur dan Bali. UB Press.

https://books.google.co.id/books?id=ZIJVDwAAQBAJ

Tampanguma, B., Gerung, G. S., Warouw, V., Sumilat, D. A., & Onibala, H. (2020). Isolasi DNA dan Amplifikasi Gen rbcL (ribulose-1,5-bisphosphate carboxylase/oxygenase large subunit ) Makroalga Caulerpa sp., Gracilaria sp., dan Sargassum sp. (. Jurnal Ilmiah Platax, 8(2), 214–220.

Tantalu, L., Rahmawati, A., Setiyawan, A. I., Sasongko, P., Ahmadi, K., Mushollaeni, W., Santoso, B., & Wirawan. (2017). Rekayasa Pengolahan Produk Agroindustri. Media Nusa Creative (MNC Publishing). https://books.google.co.id/books?

id=N4ZOEAAAQBAJ

Tuiyo, R. (2013). Identifikasi Alga Coklat Sargassum sp di Provinsi Gorontalo (p. 193).

Referensi

Dokumen terkait