Pitutur Samin atau ajaran yang dianut masyarakat Samin saat ini tentunya tidak lepas dari tokoh karismatik yang memulainya yaitu Samin Surosentiko atau lebih dikenal dengan Mbah Suro. Ajaran Samin yang dianut oleh bangsa Samin tentunya tidak lepas dari tokoh yang menggagasnya yaitu Samin Surosentiko atau Yang. Ketiga, pentingnya mentransformasikan ajaran Samin kepada generasi penerus untuk melestarikan nilai-nilai luhur melalui proses pendidikan yang sistematis dan terpadu.
Memang benar, pendidikan merupakan saluran yang paling strategis dalam upaya transformasi dan internalisasi nilai-nilai, termasuk nilai-nilai ajaran Samin. Proses transformasi ajaran Samin melalui pendidikan formal di sekolah atau madrasah dapat dikemas dalam suatu desain kurikulum pembelajaran yang sistematis dan terencana. Namun peran keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan nonformal dalam transformasi ajaran Samin tidak bisa ditinggalkan.
Kerangka penggabungan ajaran Samin ke dalam mata pelajaran PAI dan PPKn di Lingkungan Masyarakat Samin Bojonegoro memerlukan beberapa tahapan yang dilakukan secara bersamaan. Setiap tahapan mencakup peran kepala satuan pembelajaran dan guru dalam proses evaluasi dan tindakan. Pencantuman Nilai-Nilai Samin ke dalam Peta Kompetensi Proses pencantuman nilai-nilai Samin dilakukan dengan mengkaji kesesuaian rumusan kompetensi inti/kompetensi dasar dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 37. Tahun 2018 pada mata pelajaran PAI dan PPKn dibandingkan dengan lima nilai ajaran Samin Bojonegoro. Bahan ajar tersebut tidak hanya menjadi pedoman bagi guru, tetapi juga membantu siswa memperoleh bahan bacaan yang akan membantu mereka lebih memahami nilai ajaran Samin.
Tahapan penanaman ajaran Samin melalui mata pelajaran PAI dan PPKn dari tingkat dasar hingga menengah harus dilakukan secara terus menerus dan terpadu dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
لا اَهُّي َ آٰي
للّٰا ى َّ
لا ى َ
Menurut etimologi, sabar adalah sikap mampu bertahan menghadapi cobaan, bersikap tenang dan tidak gegabah. Sabar juga berarti sikap dan tindakan menahan diri untuk tidak melakukan hal yang ingin dilakukan, menahan diri dari emosi, waspada dan tidak putus asa atau mengeluh ketika menghadapi segala cobaan hidup. Padahal, kualitas dan karakter seseorang akan dibentuk oleh seberapa kuat dan sabarnya ia dalam menghadapi segala kesulitan dan permasalahan hidup.
Dalam Islam, kesabaran mempunyai arti yang luas, tidak hanya berpantang dari hal-hal yang dilarang agama (haram), namun juga menahan diri.
ه للّٰا او ُ
لا اَهُّي َ آٰي
Ibarat jujur dan sabar, berusaha keras merupakan sikap yang tak kalah penting dalam hidup. Usaha adalah usaha manusia dengan penuh keikhlasan untuk memenuhi dan mencapai segala tujuan. Terkait ikhtiar dan usaha yang sungguh-sungguh tersebut, Imam Nawawi menegaskan melalui kemampuan dan bakat yang dimilikinya, masyarakat dapat bekerja keras untuk berbuat kebaikan bagi dirinya.
Berbuat baik untuk diri sendiri mempunyai skop yang lebih luas di sini, termasuk berusaha secara aktif untuk memenuhi semua keinginan dan cinta. Al-Qur'an telah menceritakan tentang usaha bersungguh-sungguh ini dalam Surah Al-Ankabut, ayat 6:.
للّٰا َّ
نْي ِ دلا ُه َ
Dalam terminologi bahasa, iri hati diartikan sebagai perasaan marah – benci, dendam – akibat rasa iri yang berlebihan terhadap nasib baik orang lain. Dengan demikian, rasa iri hati atau yang sering disebut hasad dalam terminologi agama merupakan penyakit spiritual (psikologis). Tanda-tanda seseorang sedang iri, merasa tidak puas dengan kesuksesan, keberuntungan, atau nasib baik orang lain.
Kecemburuan terhadap kesuksesan, rezeki atau rezeki orang lain seringkali menimbulkan fitnah, pertengkaran dan permusuhan.
للّٰا ى َّ
لالاق ْوََ
ك ِتاَن َسَح ْ
لا
Secara khusus, Islam bahkan melarang tindakan ini, kerana mengkritik akan menyakiti hati orang lain. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memperolok-olokkan kaum yang lain (kerana) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) itu lebih baik daripada mereka (yang memperolok-olokkan) dan janganlah wanita (mengolok-olok) perempuan lain. kerana) boleh jadi perempuan (yang mengejek) lebih baik daripada perempuan (yang mengejek). Tidak hanya di dalam al-Quran, larangan mencela orang lain juga terdapat dalam banyak hadis, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Dawud:
ل َع ُللّٰا ى َّ
Ajaran pentingnya persaudaraan yang juga ditanamkan Samin Surosentiko kepada para pengikutnya adalah tidak membeda-bedakan orang lain (Ojo mbedo mbedakne sepodo padaning urip). Diskriminasi adalah suatu tindakan, praktik dan kebijakan yang secara tidak adil memperlakukan seseorang secara berbeda dari orang lain. Dalam sosiologi, diskriminasi diartikan sebagai sikap sengaja membeda-bedakan kelompok berdasarkan kepentingan tertentu.
Karena sikap diskriminatif ini seringkali merusak persatuan dan persaudaraan, maka Islam secara khusus melarang sikap diskriminatif tersebut. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Selain melarang sikap diskriminatif, Samin Surosentiko juga mengajarkan pentingnya persaudaraan (kabeh iku sudare dewe).
Terlihat dari ajarannya Samin Surosentiko sadar betul bahwa manusia pada dasarnya adalah bersaudara. Karena begitu pentingnya persaudaraan ini, hendaknya umat manusia menyadari bahwa mereka saling mengenal, saling memahami, saling membantu dan saling membantu. Adapun mengenai persaudaraan ini bahkan Islam telah mengaturnya dengan apa yang disebut dengan ukhuwah yang artinya persaudaraan.
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka rujuklah kedua saudaramu (yang sedang berperang) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu diberi keberkahan.” (Qs. Al-Hujurat, 49:10). Hal ini sering terjadi dalam situasi sosial karena perkataan yang tidak pantas dapat melukai perasaan orang lain, membuat mereka merasa tidak aman dan tidak nyaman, bahkan dapat menimbulkan pertengkaran.
Baginda bersabda: 'Umat Islam ialah mereka yang dapat menjaga lidah dan tangannya daripada menyakiti orang Islam yang lain. Sedangkan orang yang beriman ialah orang yang memberikan rasa aman kepada darah dan harta manusia”. (Sahih Ibn Hibban, 180).
ناسللا ظفح يف ناسنإلا ةمالس
Berbincang yang bermanfaat, atau lebih tepatnya sekedar membicarakan sesuatu yang bermanfaat, sangatlah penting, apalagi di zaman sekarang ini, ketika media sosial sudah menjadi sesuatu yang mewabah dan menjadi tempat kebanyakan orang bergosip, bergosip, berkelahi. dan saling memfitnah. .