Winda dwika Putri Hasibuan 2211010075
Sumayyah: Bunga Kecil dari Padang Pasir
Di masa lampau, jauh sebelum dunia mengenal listrik dan pesawat terbang, di tanah tandus Mekah yang dikelilingi bebukitan batu, hiduplah seorang perempuan bernama Sumayyah binti Khayyat. Ia bukan bangsawan, bukan pula saudagar kaya. Sumayyah hanyalah seorang budak tua—kulitnya legam terbakar mentari, bertubuh ringkih karena kerja keras, dan bertangan kasar oleh waktu.
Namun di balik tubuh rapuh itu, tersembunyi sesuatu yang lebih kuat dari baja : iman yang tak tergoyahkan.
Sumayyah tinggal bersama suaminya, Yasir, dan anak lelaki mereka, Ammar. Mereka hidup dalam kesederhanaan, namun rumah kecil mereka hangat oleh cinta. Setiap pagi, sebelum fajar menyingsing, Sumayyah sudah terjaga. Ia menyiapkan air wudu untuk suaminya, menyisir rambut Ammar dengan penuh kasih, dan memanggang roti dengan tangan yang dibasahi doa.
“Meski kita miskin,” katanya suatu hari sambil menatap wajah anaknya, “kita masih punya cinta... dan kehormatan.”
Suatu sore, Ammar pulang dengan mata berbinar. Ia berkata, “Ibu, Ayah... aku mendengar seorang lelaki mulia berbicara di Ka'bah. Namanya Muhammad bin Abdullah. Ia membawa ajaran baru – mengajak kita menyembah satu Tuhan—Allah.”
Sumayyah terdiam. “Satu Tuhan?” bisiknya, nyaris tidak terdengar. “Tanpa berhala?”
Ammar mengangguk penuh semangat. “Ia berkata bahwa semua manusia setara. Tidak ada budak, tidak ada bangsawan. Semua sama di hadapan Allah.”
Malam itu, Sumayyah menatap langit Mekah. Di antara ribuan bintang, ada satu cahaya yang terasa berbeda. Dan dalam hening malam itu, ia tahu: hidupnya kini punya arah. Bersama Yasir dan Ammar, ia memeluk Islam. Mereka menjadi tiga dari kaum tertindas pertama yang menyambut kebenaran.
Namun, kebenaran seringkali dating dengan harga yang mahal.
Kabar keIslaman mereka menyebar cepat. Kaum Quraisy marah, terutama Abu Jahal—pemuka Quraisy yang angkuh. Ia murka karena budak-budak berani menentang ajaran nenek moyangnya.
Sumayyah diseret ke tengah padang pasir. Tangannya diikat, tubuhnya dijemur di bawah terik matahari yang membakar. Kulitnya melepuh, tapi lisannya tak henti berseru, “Allahu Ahad…
Allahu Ahad… (Allah itu Satu… Allah itu Satu…)”
Hari demi hari, siksaan dating silih berganti. Namun Sumayyah tak pernah goyah. Bahkan saat cambuk menyayat punggungnya, ia tetap tersenyum menatap langit. Senyum seorang perempuan yang telah memilih jalan ke surga, meski jalan itu dipenuhi luka.
Suatu hari, Abu Jahal mendatanginya. Ia berdiri di hadapan Sumayyah yang lemah namun tegak.
“Wahai Sumayyah,” katanya dengan sinis, “kau hanyalah perempuan. Tak bersenjata. Tak punya pelindung. Tidakkah kau takut padaku?”
Dengan nafas tersengal, Sumayyah mengangkat wajahnya. Dan dengan suara lirih tapi mantap, ia menjawab, “Aku punya Allah. Kaulah yang seharusnya takut… karena aku berdiri di jalan yang benar.”
Kemarahan Abu Jahal pun memuncak. Ia mengangkat tombak, dan dengan kejam menikam perut Sumayyah. Darahnya mengalir membasahi pasir, dan tubuhnya terkulai lemah. Namun saat ia menutup mata untuk terakhir kalinya, senyum itu masih ada di wajahnya. Senyum seorang syahidah yang telah menukar dunia dengan surga.
Ketika Rasulullah ﷺ mendengar kabar kematiannya, beliau bersabda, “Ṣabran āla Yasir, fa inna mawʿidakumu al-jannah.” ("Bersabarlah, wahai keluarga Yasir. Surga adalah janji untuk kalian.")
Sumayyah. Ia bukan ratu. Ia tak pernah duduk di singgasana. Tapi sejarah menulis namanya dengan tinta emas.
Anak-anak di masa depan mengenang kisahnya. Para wanita menjadikannya panutan. Para lelaki menunduk hormat pada keberaniannya.
Karena Sumayyah telah mengajarkan pada dunia, bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tubuh... melainkan pada keyakinan yang tak pernah menyerah.
Dan di tengah padang pasir yang panas dan tandusitu, bunga kecil bernama Sumayyah… telah tumbuh, mekar, dan abadi dalam sejarah umat manusia.