Summary
Krisis pasar kredit pada 2008, banyak pihak yang menyalahkan aturan akuntansi “mark to market”, yang mengharuskan bank-bank untuk mencatat aset2 bermasalah mereka sesuai dengan harga yang akan mereka dapatkan jika dijual di pasar terbuka. Pencatatn aset2 dibawah nilai “sebenarnya”, mendorong lembaga2 keuangan bangkrut.
Nilai wajar= nilai pasar saat ini
Historical cost = menggunakan harga ketika terjadinya suatu kegiatan transaksi
• Bagi pembaca yang tidak memiliki latar belakang pendidikan keuangan, mark to market adalah praktik penilaian kembali suatu aset secara kuartalan sesuai dengan harga yang akan diperolehnya jika dijual di pasar terbuka, tanpa memperhatikan berapa harga yang dibayarkan untuk aset tersebut. Karena praktik in tidak mengizinkan penilaian yang ketinggalan zaman atau angan-angan, maka praktik ini merupakan komponen kunci dari apa yang dikenal sebagai akuntansi nilai wajar.
• Mitos 1: Akuntansi Biaya Historis Tidak Memiliki Hubungan dengan Nilai Pasar Saat Ini Berdasarkan aturan akuntansi biaya historis, sebagian besar aset dicatat sebesar harga beli atau nilai aslinya, dengan sedikit penyesuaian untuk penyusutan selama masa pakainya (seperti pada kasus bangunan) atau untuk apresiasi hingga jatuh tempo (seperti pada kasus obligasi yang dibeli dengan harga diskon). Oleh karena itu, bangunan yang dimiliki perusahaan selama beberapa dekade kemungkinan besar akan muncul di pembukuan dengan nilai yang jauh lebih rendah daripada nilai sebenarnya di pasar saat ini.
Namun, bahkan dalam akuntansi historis, nilai pasar saat ini diperhitungkan dalam laporan keuangan. Regulator AS mewajibkan semua perusahaan publik untuk memeriksa aset mereka dengan cermat setiap kuartal dan memastikan apakah aset tersebut telah mengalami penurunan nilai secara permanen-yaitu, apakah nilai pasarnya kemungkinan besar akan tetap berada di bawah nilai historisnya dalam jangka waktu yang lama. Jika penurunan nilai tidak hanya bersifat sementara, perusahaan harus menurunkan nilai aset ke nilai pasar saat ini di neraca - dan mencatat kerugian yang dihasilkan pada laporan laba rugi. Penurusan nilai aset secara permanen sering terjadi di bawah akuntansi biaya historis.
Intinya adalah bahwa, bahkan di bawah akuntansi biaya historis, lembaga keuangan pada akhirnya dipaksa untuk melaporkan penurunan permanen dalam nilai pasar of their loans and securities (pinjaman dan sekuritas) mereka, meskipun lebih lambat dan dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan dengan akuntansi nilai wajar. Sebagian besar eksekutif bank menolak penurunan nilai tersebut, dengan alasan bahwa penurunan nilai pinjaman tau obligasi yang didukung hipotek hanya bersifat sementara. Namun, seiring dengan berlarut-larutnya krisis keuangan dan tingkat-kredit macet hipotek yang terus meningkat, para bankir akan menghadapi tekanan yang semakin besar dari para auditor eksternal
mereka untuk mengakui kerugian atas aset-aset keuangan sebagai sesuatu yang permanen.
• Mitos 2: Sebagian Besar Aset Lembaga Keuangan Ditandai ke Pasar “Marked to market”
pada akhir tahun 2008, hanya 31% dari aset bank yang diperlakukan dengan cara ini, dan sisanya dicatat pada biaya historis.
Mengapa? Dalam akuntansi nilai wajar, manajemen harus membagi semua kredit dan surat berharga ke dalam maksimum tiga kategori aset: yang dimiliki, yang diperdagangkan, dan yang tersedia untuk dijual. Jika manajemen memiliki maksud dan kemampuan untuk memegang pinjaman atau surat berharga sampai jatuh tempo, maka aset tersebut dictat dalam pembukuan pada biaya historis. Sebagian besar kredit yang diberikan dan banyak obligasi yang dimiliki hingga jatuh tempo, akan dihapusbukukan hanya jika mengalami penurunan nilai secara permanen.
Sebaliknya, semua aset yang diperdagangkan dinilai berdasarkan nilai pasar setiap kuartal.
Setiap penurunan nilai pasar wajar dari aset yang diperdagangkan ole bank akan mengurangi ekuitas di neraca dan mengalir melalui laporan laba rugi sebagai kerugian.
SEC menemukan dalam studinya bahwa hampir sepertiga dari 31% aset bank yang ditandai ke pasar adalah surat hutang yang tersedia untuk dijual. Oleh karena itu, persentase aset yang mana mark to market mempengaruhi modal atau pendapatan bank yang diatur ole regulator hanya 22% pada tahun 2008 - jauh dari mayoritas
• Mitos 3: Aset Harus Dinilai dengan Harga Pasar Saat Ini Meskipun Pasarnya Tidak Likuid Level 1: sangat likuid dan mudah dinilai pada harga pasar langsung
Aset harus dinilai berdasarkan metode level 1= harga pasar yang dapat diobservasi. Tapi harga pasar tidak selalu tersedia, dalam hal ini diizinkan untuk menilai aset menggunakan input pasar yaitu dalam metode level 2. Input ini, misalnya harga perdagangan dan diskon untuk sekuritas yang serupa. Jika input tidak tersedua, maka harus menggunakan level 3.
Dinilai dengan “menandai ke model” dan bukan menandai ke pasar. Dalam menandai ke model, dapat menggunakan asumsi sendiri yang masuk akal untuk mengestimasi nilai pasar yang wajar. Contohnya dengan: discounted cash flow, discounted earning menggunakan tingkat diskonto (cost of capital, dll)
Ketika pasar utang membeku, FASB mengeluarkan makalah staf mengenai penerapan akuntansi nilai wjaar pada pasar yang tidak likuid. = dapat mengklasifikasi kembali aset perdagangan dari level 2 ke level 3 ketika pasar tidak likuidd. FASB juga nenekankan bahwa perusahaan tidak harus menggunakan harga ari penjualan yang dipaksakan tau penjualan yang tertekan intuk menilai aset yang tidak likuid.
Pada April 2009, FASB mengusulkan dan mengadopsi aturan baru yang merinci kriteria untuk menentukan kapan sebuah pasar cukup tidak likuid untuk memenuhi syarat penilaian mark to model. Aturan ini dirancang untuk memungkinkan lebih banyak sekuritas dinilai berdasarkan model bank dibandingkan dengan indicator pasar.
• Tiga rekomendari untuk pelaporan yang realistis
Timbul keraguan investor mengenai keakuratan penilaian bank yang disebabkan oleh adanya 2 pernyataan FASB mengenai aset level 3.
o Meningkatkan kredibilitas penandaan pada model
Bank harus mengungkapkan supplemental schedule listing level 3 assets (dokumen tambahan yang mencatumkan aset level 3) dan ringkasan karakteristik utama mereka. Bank harus mengungkapkan cukup detail tentang asumsi-asumsi yang mendasari model-modelnya, agar investor dapat menelusuri bagaimana bank mencapai valuasi.
o Lepaskan hubungan akuntansi dan persyaratan modal
bank diwajibkan untuk mengungkapkan secara penuh hasil dari akuntansi nilai wajar namun tidak mengurangi modal sesuai peraturan sebesar jumlah yang diungkapkan secara penuh.
aset harus di mark-to market setiap triwulan, namun keuntungan/kerugian yang belum direalisasikan dari aset tsb tidak mempengaruhi modal bank
o Hitung laba per saham dengan dua cara
Bank menerbitkan dua versi laba per saham (EPS) setiap kuartal. Satu dihitung denga akuntansi nilai wajar dan yang lainnya tanpa akuntansi nilai wajar. Contoh:
melaporkan EPS sebesar 54 sen yg terdiri dari pendapatan bersih 62 sen per saham dan kerugian 8 sen per saham dri kerugian yang belum direalisasi SERTA menerbitkan EPS kedua sebesar 62 sen per saham dengan penjelasan bahwa EPS ini tidak termasuk kerugian yang belum direalisasi.
Akuntansi nilai wajar tidak menyebabkan krisis keuangan saat ini, tetapi krisis tersebut mungkin diperburuk oleh kesalahan persepsi umum tentang standar akuntansi. Beberapa investor salah mengasumsikan bahwa sebagian besar aset bank akan dinilai berdasarkan harga pasar, karena harga obligasi sedang turun drastis. Investor lain gagal menyadari bahwa penurunan tajam harga obligasi yang tersedia untuk dijual tidak akan membuat bank melanggar persyaratan modal yang ditetapkan oleh regulator. Jika kita dapat membuat kompleksitas akuntansi ini menjadi lebih jelas dengan mengadopsi pendekatan multidimensi terhadap pelaporan keuangan, baik perusahaan maupun investor akan lebih siap untuk merespons dengan cerdas ketika pasar keuangan mengalami gejolak.