• Tidak ada hasil yang ditemukan

SURAT PENCATATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "SURAT PENCATATAN"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

Sinergitas Pelaku Pentahelix dalam Pengembangan Agrowisata Kampoeng Kopi Rigis Jaya adalah keselarasan sistem dan hubungan antar pelaku Pentahelix untuk mencapai situasi yang kondusif bagi pengembangan menyeluruh di Agrowisata Kampoeng Kopi Rigis Jaya. Buku ini mencoba mencari titik kompromi antara pemerintah sebagai pengambil kebijakan. , akademisi sebagai transfer ilmu pengetahuan dan penelitian terkait, masyarakat atau komunitas sebagai kekuatan sosial, wirausaha sebagai kekuatan dalam mekanisme pasar dan media sebagai alat promosi objek wisata Kampoeng Kopi. Sinergi Pengembangan Pariwisata Kampoeng Kopi bab keempat yaitu Sinergi Pelaku Pentahelix dalam Pengembangan Agrowisata Kampoeng Kopi merupakan keselarasan sistem dan hubungan antar pelaku Pentahelix untuk mencapai situasi yang kondusif bagi pengembangan menyeluruh di Agrowisata Kampoeng Kopi Rigis Jaya. Kehadiran buku ini diharapkan dapat menjadi pintu masuk akan pentingnya membangun sinergi antar aktor yang terlibat dalam pengembangan pariwisata Kampoeng Kopi.

PENDAHULUAN

Konsep Kebijakan Pembangunan Kepariwisataan

Ketika berbicara mengenai permasalahan kebijakan pembangunan pariwisata, penting untuk terlebih dahulu membahas mengenai pengertian istilah “kebijakan”. dan pengembangan". Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online, istilah “politik” mempunyai arti :. Sedangkan dalam kamus Merriam-Webster, istilah “politik” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “kebijakan” diartikan sebagai suatu aturan atau gagasan yang secara resmi diakui sebagai pedoman untuk menentukan pelaksanaannya. Kedua definisi di atas memberikan gambaran bahwa kebijakan pariwisata atau yang penulis terjemahkan sebagai “kebijakan di bidang pariwisata” adalah berbagai aturan, strategi dan tujuan pengembangan atau promosi pariwisata, yang menjadi pedoman pengambilan keputusan dalam jangka pendek dan jangka panjang. ketentuan.

Tourism Law and Hospitality Law

Para birokrat pengelolaan pariwisata perlu memahami bahwa kebijakan pariwisata yang baik menyangkut kepentingan publik yang jauh lebih luas, yaitu pelayanan kepada seluruh anggota masyarakat, bukan hanya dunia usaha, sehingga penilaian komprehensif terhadap dampaknya terhadap kehidupan masyarakat lokal juga menjadi isu yang sangat penting. . Hal yang menarik untuk dipahami adalah kebijakan dan perencanaan pariwisata yang baik hanya dapat dicapai melalui kegiatan penelitian yang solid. Riset pariwisata dapat menjadi media diskusi tentang pendekatan yang lengkap, inovatif dan kreatif yang berbeda. Oleh karena itu, birokrasi badan lingkungan hidup yang mengelola sumber daya tersebut akan memperhatikan kepentingan kedua pihak yang terlibat.Kebijakan terpadu ini menjadi faktor penentu pariwisata berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan.

Konsep Sinergitas

Moekijat i Rahmawati dkk menyatakan terdapat 9 (sembilan) syarat utama untuk mewujudkan koordinasi yang efektif yaitu 1 Hubungan langsung yang akan memudahkan pencapaian melalui. 7 Rumusan wewenang dan tanggung jawab yang jelas, yang akan mengurangi konflik antar karyawan yang berbeda dan membantu bekerja dengan tujuan yang seragam. 9 Manajemen pengawasan yang efektif, yang harus menjamin koordinasi kegiatan baik pada tingkat perencanaan maupun pada tingkat evaluasi.

Konsep Model Pentahelix

Konsep sinergi merupakan upaya yang harus dilakukan dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan dan non-pemerintah baik di pusat maupun daerah. Model pentahelix pertama kali diumumkan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Arief Yahya yang kemudian dituangkan dalam Peraturan Menteri Pariwisata Republik Indonesia No. 14 Tahun 2016 tentang Pedoman Tujuan Wisata Berkelanjutan Yang Harus Diciptakan, Untuk menjamin mutu kegiatan, fasilitas, pelayanan serta menciptakan pengalaman dan nilai manfaat wisata, guna menjamin keuntungan dan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan hidup, perlu dilakukan memajukan sistem pariwisata dengan mengoptimalkan peran pengusaha, pemerintah, masyarakat/masyarakat, akademisi dan media. Dalam hal ini model pentahelix menitikberatkan pada 5 unsur pendukung pelaksanaan pembangunan pariwisata, antara lain pemerintah sebagai pengambil kebijakan, akademisi sebagai transfer ilmu pengetahuan dan penelitian terkait, masyarakat atau komunitas sebagai kekuatan sosial, wirausaha sebagai kekuatan dalam mekanisme pasar, dan media sebagai sarana promosi daya tarik wisata.

Peran Aktor Pentahelix

Kotler dkk dalam Saputri (2020:24) menyatakan bahwa destinasi pariwisata akan memperoleh keunggulan kompetitif jika masing-masing organisasi yang terlibat dapat berbagi pengetahuan, keterampilan, keahlian dan sumber daya lainnya yang dapat mendukung proses pengembangan pariwisata. Pemerintah juga berperan langsung dalam pengembangan regulasi di bidang pariwisata, mengawasi proses pengembangan pariwisata, dan berperan langsung dalam penguatan kelembagaan dalam upaya peningkatan kapasitas dan kapasitas dalam perumusan kebijakan atau regulasi. Hasil kajian ilmiah dan karya bermanfaat sosial yang dilakukan oleh para akademisi dapat dimanfaatkan untuk menunjang keberhasilan sektor pariwisata dengan melakukan kerjasama dan komunikasi dengan akademisi dalam proses pengembangan agrowisata.

Dalam proses pengembangan pariwisata, dunia usaha atau swasta mempunyai peranan penting dalam menyelenggarakan urusan di bidang pariwisata, dimana etika bisnis, profesionalisme, tanggung jawab dan keberlanjutan adalah yang terpenting. Dunia usaha mempunyai peran yang berorientasi pada keuntungan yang akan bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan, hal ini sangat penting dalam industri pariwisata. Komunitas dalam proses pengembangan pariwisata terdiri dari masyarakat dan LSM atau LSM yang berperan mendukung Sapta Pesona melalui penyediaan jasa pariwisata atau ekonomi kreatif.

Pariwisata Kampoeng Kopi Sebagai Obyek Studi, Sistem dan Sosial

Wisatawan dan Pariwisata

Pariwisata telah ada sejak awal peradaban manusia, ditandai dengan pergerakan orang yang melakukan ziarah, keagamaan, dan perjalanan lainnya. Saat ini pariwisata telah menjadi salah satu pilar industri penghasil devisa negara di berbagai negara. Setiap orang yang mengunjungi suatu negara di mana ia tidak tinggal, untuk berbagai tujuan, tetapi bukan untuk mencari pekerjaan atau penghidupan dari negara yang dikunjunginya.”

The study of man outside his usual habitat, of the industry that responds to his needs, and of the impact that both he and industry have on the socio-cultural, economic and physical environment of the host.” Tourism is the set of phenomena and relationships that arise from the interaction between tourists, business suppliers, host governments, host communities, governments of origin, universities community colleges, non-governmental organizations, in the process of attracting, transporting, receiving and managing these tourists and other visitors”. Tourism is defined as the interconnected system that includes tourists and the associated services offered and used (facilities, attractions, transportation and accommodation) to help them get around.

Begitu luasnya sehingga ada yang mengatakan bahwa segala sesuatu adalah pariwisata, pariwisata adalah segalanya dan segala sesuatu adalah pariwisata (Ian Munt. Pariwisata menjadi segala sesuatu yang berhubungan dengan tindakan wisatawan, atau dalam bentuk tautologis yang benar: 'pariwisata adalah pariwisata' atau 'pariwisata adalah apa yang dilakukan wisatawan': Orang yang melakukan perjalanan kurang dari dua belas bulan ke daerah di mana mereka tidak tinggal, dan tujuan perjalanannya bukan untuk melakukan aktivitas untuk mencari penghidupan, pendapatan, atau penghidupan di tempat tujuan.

Tujuan utama pergerakan manusia bukan untuk mencari kehidupan/pekerjaan di suatu tempat tujuan.

Gambaran Umum Isi Buku

Salah satu sektor wisata unggulan di wilayah Lampung Barat adalah Wisata Kampoeng Kopi Farm, yaitu sebuah tempat wisata yang sekaligus menjadi sarana edukasi kepada masyarakat tentang pengelolaan kopi mulai dari proses penanaman hingga proses persiapan untuk dikonsumsi. Dalam hal ini pemangku kepentingan menjadi kunci utama keberhasilan pengembangan pariwisata di Pekon Rigis Jaya dengan menggunakan konsep pembangunan inklusif pada Agrowisata Kampoeng Kopi di Rigis Jaya. Sinergitas Pelaku Pentahelix dalam Pengembangan Wisata Pertanian Kampoeng Kopi adalah keselarasan sistem dan hubungan antar pelaku Pentahelix untuk mencapai posisi yang mengarah pada pembangunan inklusif di Pariwisata Pertanian Kampoeng Kopi Rigis Jaya.

Dalam pengembangan wisata berbasis agrowisata Kampoeng Kopi, peran pemangku kepentingan dalam proses pengembangan tentunya tidak dapat dipisahkan. Aktor-aktor yang terlibat dalam pengembangan agrowisata Kampoeng Kopi antara lain 1) Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata, 2) Badan Penelitian dan Pengembangan, 3) Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, 4) Dinas Perkebunan dan Peternakan, 5) Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, 6) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 7) Dinas Koperasi dan Perdagangan, 8) Bank Lampung, 9) PLN, 10) Universitas Lampung, 11) Akademi Pariwisata, dan 12) Institut Teknologi Sumatera. Pelaksanaan program pengembangan agrowisata dan pengembangan ekonomi lokal kategori desa tertinggal akan fokus pada pembangunan infrastruktur dan peningkatan produktivitas kopi di kawasan Agrowisata Kampoeng Kopi. Dalam pengembangan inklusif di agrowisata Kampoeng Kopi, keterlibatan aktor pentahelix sangat berperan dalam keberhasilan pembangunan inklusif di sektor pariwisata.

Sinergi antar pelaku Pentahelix dalam pengembangan Agrowisata Kampoeng Kopi sangat diperlukan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan ikut serta dalam pengelolaan agrowisata ini. Dalam pengembangan agrowisata Kampoeng Kopi, kerjasama antar pelaku pentahelix akan saling terhubung. Pelaku Pentahelix mempunyai peranan yang sangat krusial dalam pengembangan agrowisata Kampoeng Kopi Rigis Jaya untuk mengembangkan sumber daya manusia yang kompeten guna meningkatkan kemampuan masyarakat lokal dalam bekerjasama dalam proses pengembangan agrowisata.

Jika seluruh pelaku Pentahelix dapat bekerja sama dengan baik dalam pengembangan agrowisata, diharapkan kualitas agrowisata Kampoeng Kopi akan meningkat yang ditandai dengan semakin banyaknya.

Gambar 1. Data Kunjungan Wisatawan ke Kabupaten Lampung Barat  2013 -2020.
Gambar 1. Data Kunjungan Wisatawan ke Kabupaten Lampung Barat 2013 -2020.

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Gambaran Umum Pekon Rigis Jaya

  • Profil Desa Rigis Jaya Kecamatan Air Hitam Kabupaten
  • Sejarah Pekon Rigis Jaya
  • Visi dan Misi Pekon Rigis Jaya

Dalam pengembangan agrowisata di Kampoeng Kopi, pihak swasta telah melakukan komunikasi yang baik antar pelaku Pentahelix yang berkontribusi terhadap pengembangan agrowisata di Kampoeng Kopi. Dalam pengembangan agrowisata di Kampoeng Kopi, media telah memastikan adanya komunikasi yang baik antar pelaku pentahelix yang berkontribusi terhadap pengembangan agrowisata di Kampoeng Kopi yang bercirikan. Dalam pengembangan agrowisata di Kampoeng Kopi, masyarakat telah memastikan koordinasi yang optimal antar pelaku pentahelix.

Indikator tersebut telah tercapai dengan baik yang dibuktikan dengan keterlibatan masyarakat dalam proses pengembangan agrowisata di Kampoeng Kopi. Dalam hal ini pemerintah menggunakan konsep pembangunan inklusif dalam pengembangan agrowisata di Kampoeng Kopi yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Pekon Rigis Jaya. Indikator ini berjalan sesuai dengan yang diharapkan, ditandai dengan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat dalam pengembangan agrowisata di Kampoeng Kopi.

Implementasi pendidikan inklusif telah berjalan dengan baik, terbukti dengan keterlibatan seluruh masyarakat dalam pengembangan agrowisata di Kampoeng Kopi. Pengembangan agrowisata di Kampoeng Kopi dengan menerapkan konsep pembangunan inklusif telah mengubah pola pikir masyarakat Pekon Rigis Jaya. Pengembangan agrowisata di Kampoeng Kopi dengan konsep pembangunan inklusif telah berkontribusi dalam mengurangi kemiskinan di kawasan Rigis Jaya.

Berkembangnya agrowisata Kampoeng Kopi juga menambah lapangan kerja bagi seluruh masyarakat, khususnya masyarakat di kawasan Rigis Jaya. Indikator tersebut berjalan dengan baik, terbukti dengan perekonomian masyarakat yang perlahan membaik sejak adanya agrowisata Kampoeng Kopi. Dunia usaha/swasta juga berkontribusi terhadap pengembangan agrowisata Kampoeng Kopi dengan menerapkan indikator ekonomi inklusif dengan baik.

Gambar 3. Struktur LHP (Laporan Hasil Pemeriksaan) Pekon Rigis  Jaya.
Gambar 3. Struktur LHP (Laporan Hasil Pemeriksaan) Pekon Rigis Jaya.

Referensi

Dokumen terkait