Tesis, Program Pengajian Al-Qur`an dan Tafsir, Fakulti Ushuluddin dan Dakwah, Institut Al-Qur`an Jakarta. Yanggo, Ma, selaku Pengetua Institut Pengajian Al-Qur'an (IIQ) Jakarta yang telah memberi peluang kepada saya untuk menimba ilmu dalam pengajian tinggi ini.
للّٱ َۡو
نيِذَّلٱ ۡ
للّٱ
Selain ketiga aspek di atas, tujuan bersedekah adalah untuk mensucikan harta, karena Islam meyakini bahwa setiap harta yang dimiliki seseorang tetap membawa hak orang lain yang membutuhkan, sesuai firman Allah SWT. Bersedekah merupakan amalan yang terpuji karena dapat membantu orang lain keluar dari kesulitan dan mendekatkan tali silaturahmi antara si kaya dan si miskin.
قِفنُيِل
- Identifikasi Masalah
- Tujuan Penelitian
- Manfaat Penelitian
- Tinjauan Pustaka
- Metodelogi Penelitian
- Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Metodologi Analisis Data
- Teknik dan Sistematika Penulisan
- Sedekah
- Pengertian Sedekah
Oleh karena itu, penulis menuliskannya dalam bentuk skripsi yang berjudul “Dimensi Sosial dalam Ayat-Ayat Sedekah” (Kajian Analitik Pemikiran Asy-Sya’rawi dalam Tafsir Al-Sya’rawi. Sumber data primer yang digunakan adalah Al -Qur'an dan Tafsir al-Sya'rawi Asy-Sya'rawi.
Kata Sedekah dan Derivasinya dalam Al-Qur`an
Hukum Sedekah
Namun secara umum sadaqah dibedakan menjadi dua, yaitu sadaqah wajib dan sadaqah sunnah. Sedekah sunnah terbagi menjadi dua, yaitu sedekah yang pahalanya tidak selalu mengalir, dan sedekah yang pahalanya selalu mengalir meski yang memberi sedekah sudah meninggal. Sedekah yang tidak disertai perasaan ikhlas tidak dapat digolongkan sebagai bentuk sedekah, melainkan hanya dipandang sebagai pemberian yang sederhana.
Imam Ja’far As-Sadiq pernah berkata: “Sedekah itu wajib bagi setiap anggota tubuhmu, bagi setiap helai rambutmu, dan bagi setiap momen dalam hidupmu.”
Macam-Macam Sedekah
نَأ ََّللّٱ
Perbedaan Sedekah, Zakat, Infaq, dan Wakaf
Infaq adalah mengeluarkan sebagian pendapatan atau penghasilan untuk tujuan yang diperintahkan oleh iman Islam. Wakaf adalah kepemilikan suatu harta benda yang dapat dipergunakan tanpa dimusnahkan untuk kepentingan kemaslahatan, baik bagi masyarakat pada umumnya maupun bagi penerima wakaf pada khususnya. Infaq dan Wakaf sekilas hampir sama dengan sedekah, bedanya infaq dan wakaf harus dalam bentuk materi, namun sedekah tidak harus dalam bentuk materi.
Etika Bersedekah
Sayyid Qutb dalam kitab tafsirnya yang berjudul fi dzilal Al-Qur'an menyatakan bahwa penyembunyian (concealment) sunnah sedekah lebih utama dan disukai oleh Allah SWT. Sedangkan dalam pemenuhan sesuatu yang bersifat wajib seperti zakat, perwujudannya termasuk dalam makna ketaatan, penyebaran makna tersebut dan perwujudannya sangat baik. Memberi uang bukan untuk menyenangkan penguasa atau untuk menerima penghargaan, melainkan membelanjakan harta hanya untuk mencari keridhaan Allah SWT.
Ia juga termasuk hasil usaha mereka yang halal lagi baik, termasuk apa yang Allah SWT lahirkan.
Manfaat Dan Hikmah Sedekah
Hai orang-orang yang beriman, infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil baik usahamu dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Ini merupakan imbauan umum kepada orang-orang beriman di segala zaman dan generasi meliputi segala harta yang telah sampai kepada mereka. Dapat menenangkan jiwa, yaitu menjauhkan diri dari rasa cemas, gelisah, galau, bimbang terhadap segala urusan dunia.
Bersedekah yaitu menyucikan hati dan sifat filantropi serta mensucikan harta dari merampas hak orang lain. 18.
Sasaran Sedekah
Penerima sedekah yang dianjurkan antara lain: anak dan keluarga, kerabat mahram dan non mahram, tetangga, anak yatim, janda, anak berprestasi yang tidak mempunyai sarana untuk melanjutkan pendidikan, dan bangunan fasilitas yang bermanfaat bagi masyarakat, seperti tempat ibadah, pendidikan, kesehatan dan lain-lain, sepanjang tidak melanggar syariat.21.
Nama dan Nasab al-Sya`râwi
Untuk mewujudkan mimpinya tersebut, beliau selalu membimbing al-Sya`râwî kecil selama ia belajar. 4 Husain Jauhar, Ma`a Dâ`iyah al-Islâm Syekh Muhammad Mutawalli al-Sya`râwi Imâm al-`Asr (selanjutnya ditulis: Imam al-`Asr), (Kairo: Maktabah Nahdah, t. 6 Husainjauhar, Ma` a Dâ'iyah al-Islâm Syekh Muhammad Mutawalli al-Sya'râwi Imâm al-'Asr, hal.
7 سعيد أبو العينين، السياراوي عنى من صلاة أهل البجت، محترق.
Riwayat Pendidikan al-Sya`râwî
13 Sa`id Abu al-`Ainain, al-Sya`râwi Anâ min Sulâlat Ahl al-Bait, sežgan. 15 Sa`id Abu al-`Ainain, al-Sya`râwi Anâ min Sulâlat Ahl al-Bait, sežgan. 16 Sa`id Abu al-`Ainain, al-Sya`râwi Anâ min Sulâlat Ahl al-Bait, sežgan.
18 سعيد ابو العينين، السياراوي عنى من صلات أهل البجت، محترق.
Karya-karya al-Sya`râwî
Al-Sya`râwî berharap dengan permintaan tersebut, ayahnya mengizinkannya kembali ke daerah kelahirannya dan tidak melanjutkan studi di al-Azhar. Setelah memiliki beberapa kitab berharga tersebut, al-Sya`râwî semakin terpacu untuk rajin belajar. Ayat-ayat Al-Qur'an selalu dihubungkan dengan ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan modern.
20 Muhammad Alî Îyazi, al-Mufassirûn Hayâtuhum wa Manhajuhum, (Teheran: . Mu`assasah al-Thabâ`ah wa al-Nasyr, 1372 AH), hal.
Pandangan Ulama Terhadap al-Sya`râwî
Kitab Tafsir al-Sya`râwi
- Sejarah Kitab Tafsir al-Sya`râwi
- Metode Tafsir al-Sya`râwî
- Corak Tafsir al-Sya`râwî
- Karakteristik Tafsir al-Sya`râwî
- Sistematika penafsiran
Nama Tafsir al-Sya`râwî diambil dari nama asli pemiliknya yaitu Muhammad Mutawalli al-Sya`râwî. Jadi isi tafsir yang disampaikan al-Sya`râwî tidak lepas dari mukjizat Al-Qur'an dan ajarannya. Namun yang lebih menonjol pada gaya Tafsir al-Sya`râwî adalah sisi ijtima`i atau sosialnya.
Oleh sebab itu, AlibIyazi mengatakan bahawa corak tafsir al-Sya`râwî ialah tarbawi (Pendidikan) dan islahi (reformasi). 36.
Penafsiran ayat-ayat sedekah menurut Al-Sya`râwi
Ketika Allah berfirman kepada makhluknya: "Ambillah sesuatu dari harta yang telah Aku berikan kepadamu, kerana apa yang telah Aku berikan tidak akan Kuminta kembali." Tepat sekali jika Allah Swt. Harta tidak akan keluar dari pemilikan pemilik melainkan pemiliknya bukan pakar dalam mengeksploitasinya. Allah menurunkan satu hukum: "Sesungguhnya harta orang bodoh yang ada padanya bukanlah hartanya tetapi harta kamu."
ا وُعَف دٱ
Hingga ia pintar mengelola asetnya. orang miskin) yang meminta-minta dan orang yang tidak punya apa-apa (yang enggan meminta).
موُر حَم لٱ
Perintah menerima sedekah itu berada di tangan Rasulullah, kemudian diturunkan kepada orang yang menguruskan urusan umat Islam. Atau anak-anak pengemis mengalami kehinaan sebelum orang yang memberi, sehingga anak-anak pemberi merasa bangga. Oleh sebab itu ada sebilangan orang yang enggan mengeluarkan zakat dari kalangan orang Arab Badwi, menyangka bahawa zakat itu bukan untuk imam, dan sebenarnya hanya untuk Rasulullah.
Mengenai orang-orang yang berhak menerimanya darimu dan orang-orang yang berhak menerimanya, Imam Ahmad berkata bahwa Waki' telah memberitahukan kepada kami, Abul Urnais telah memberitahukan kepada kami, atas wewenang Abu Bakar bin Amr bin Atabah, tentang otoritas Ibnu Hudhayfah, atas otoritas ayahnya, Nabi, saw
نٌِذَّلٱ ۡ
نَم لٱ
يِذَّلٱ َۡك
ساَّنلٱ
هَباَصَأَف
Allah kemudian berfirman, "Kamu telah berdusta, semua yang kamu lakukan hanyalah dikatakan sebagai orang yang dermawan dan kamu telah memperolehnya." Jika seseorang menafkahkan untuk riya, maka apa yang diperolehnya hanyalah kerugian: mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir. Sebagai orang yang membelanjakan hartanya kerana riya' kepada manusia.") Maksudnya janganlah kamu menghapuskan pahala sedekah kamu dengan menyebut pemberian dan menyakiti penerima sedekah, seperti pahala sedekah kerana riya'. kepada orang dipadam di mana diperlihatkan kepada orang - orang bahawa dia bersedekah untuk mencari keredhaan Allah Ta'ala, sedangkan niat sebenarnya adalah untuk mendapat pujian orang lain dan berniat untuk mendapatkan populariti dengan sifat-sifat yang baik, maka dia akan menjadi. mengucapkan terima kasih atau disebut.
Orang-orang yang dermawan” dan hal-hal duniawi lainnya, dengan cara mengalihkan perhatiannya dari mu’amalah dengan Allah dan dari tujuan meraih keridhaan Allah dan memperoleh pahala-Nya yang melimpah.
Di kalangan ulama, ada yang mengatakan bahawa perkataan 'shafwaanun' juga boleh menjadi mufrad (kata tunggal), bermaksud batu yang licin.
هَباَصَأَف ۡۥ
Analisa penulis ayat ini, Syekh Al-Sya`râwi, memaknai jika seseorang berdonasi hanya karena ingin dilihat dan dipuji orang, maka karyanya akan mendapat pahala yang sama. Padahal, kerugian yang akan diterima oleh pendonor hanya berupa hilangnya harta secara sia-sia dan tidak ada sisa kebaikannya.
اوُد بُت
ت ََٰقَدَّصلٱ
ء ا َرَقُف لٱ
Kemampuannya untuk berdonasi berasal dari memiliki lebih dari sekedar kebutuhannya dan kebutuhan orang-orang yang menjadi sandarannya. Oleh karena itu, Allah menghendaki agar kita bekerja sesuai kemampuan kita agar dapat memenuhi kebutuhan diri sendiri dan orang-orang yang berada di bawah asuhan kita. Barangkali akan timbul pertanyaan: “Jika Allah memang ingin memberikan hati orang-orang yang mendonasikan kasih sayang dan kemurahan hati kepada orang-orang lemah, mengapa tidak memberikan kesempatan kepada orang-orang lemah tersebut untuk bekerja?”
Oleh karena itu, keberadaan orang lemah sebenarnya merupakan peringatan bagi manusia bahwa mereka tidak diciptakan dengan sendirinya di alam ini, dan zat yang memberi kekuatan dapat mengambilnya kembali dan memberikannya kepada orang lain.
نوُلِع ََٰف
Oleh itu, tidak hairanlah jika manusia hari ini lemah, mereka akan menjadi mampu dan kuat esok, begitu juga sebaliknya. Orang mukmin dan kafir bertemu dalam satu perkara, iaitu masing-masing bekerja untuk menyara diri dan keluarganya. Bezanya orang-orang kafir berhenti di had ini, sedangkan orang-orang mukmin lebih banyak matlamat dan berharap untuk memperoleh lebih banyak harta untuk dibelanjakan kepada mereka yang tidak dapat bekerja, dengan harapan mendapat keredhaan Allah SWT .36.
Sumber-sumber kekikiran dalam jiwa manusia dijelaskan oleh Allah: “Hal pertama yang membuat orang takut untuk berinfaq adalah anggapan bahwa infaq mengurangi hartanya.”
نكلبق ىاك يه ككلهأ حشلا ىئف حشلا اىقتاو ةهايقلا مىي تاولظ نلظلا ىإ نههراحه اىلحتساو نهءاهد اىكقش ىأ ىلع نهلوح
Relevansi Sedekah Dalam Masa Kini
Namun perbedaan-perbedaan tersebut tidak boleh dipertentangkan, apalagi menimbulkan konflik antar golongan, melainkan didamaikan dan dipertemukan dalam kerangka ta`âwun atau tolong menolong, mendampingi, menyokong dan memenuhi. . Memang benar orang miskin butuh orang kaya, tapi orang kaya juga butuh orang miskin dan orang miskin lainnya.50 Allah Swt.
وُه َويِذَّلٱۡ
باَقِع لٱ
Bantuan dan sinergi antar umat beragama (termasuk si kaya dan si miskin) akan melahirkan kekuatan dan juga akan menarik rahmat dan pertolongan Allah SWT.
رَكنُم لٱ
ة َٰوَلَّصلٱ
ة َٰوَك َّزلٱ
هَلوُس َر َو ۡ
Kesimpulan
Syekh al-Sya`râwi menjelaskan dalam tafsirnya berbeda dengan karya tafsir lainnya karena maksud dan tujuannya adalah mengungkap mukjizat Al-Qur'an dan menyampaikan gagasan keimanan kepada pemirsa, pendengar dan pembaca. Oleh karena itu, buku ini tidak ditulis dengan gaya pidato, dan tidak ditulis dengan gaya ceramah guru di hadapan siswa dan pendengar dari berbagai tingkat pendidikan dan status. Dalam menjelaskan ayat tentang sedekah, Syekh al-Sya`râwi menjelaskan dengan sangat gamblang tentang hukum bersedekah, waktu yang tepat untuk bersedekah atau bersedekah, dan cara yang baik dalam bersedekah atau bersedekah.
Orang yang bersedekah atau menggunakan adalah lebih baik secara rahsia bagi mengelakkan perasaan riya` atau perasaan ingin dipuji oleh orang lain.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Iskandar, Sedekah Membang Pintu Rezeki, (Bandung: Pustaka Islam. 1994) Lihat mukadimah kitab tafsir al-Sya`râwî. Muhammad Sanusi, The Power of Charity, (Yogyakarta: Pustaka Insan Mutawalli al-Sya`rawi, Muhammad, "Tafsir al-Sya`rawi", (Kaherah: Akhbâr. al-Yaum Idârah al-Kutub wa al-Maktabât, 1991) Alhamdulillah, dengan melalui segala pengorbanan dan liku-liku dalam menyiapkan tesis ini, wanita jelita ini dapat menyiapkannya tepat pada masanya dengan tajuk “ Dimensi Sosial dalam Ayat-Ayat Sedekah (Analisis Kajian Pemikiran Asy-Sya’rawi dalam Kitab Khawathir Al-Sya'rawi) ).
Tesis berjudul “Dimensi Sosial dalam Ayat Sedekah (Studi Analisis Pemikiran Asy-Sya’rawi dalam Kitab Tafsir Khawathir Al-Sya’rawi)” yang disusun oleh Nur Indah Yuliani dengan nomor mahasiswa 14210595 telah melalui proses bimbingan dengan baik dan dinilai oleh dosen pembimbing karena telah memenuhi syarat keilmuan untuk diserahkan pada sidang Munaqsyah.