• Tidak ada hasil yang ditemukan

Syamil

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Syamil"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Keterampilan Dasar Mengajar Mahasiswa Program Studi PGMI

Syamil

, Volume 6 (2), 2018 233

Syamil

pISSN: 2339-1332, eISSN: 2477-0027 2018, Vol.6 No. 2

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR MAHASISWA PROGRAM STUDI PGMI IAIN SAMARINDA: STUDI PADA MAHASISWA YANG MENGAJAR DI SEKOLAH DASAR DAN MADRASAH IBTIDAIYAH SAMARINDA

Marniati Kadir, IAIN Samarinda, Indonesia

Email: [email protected] Ity Rukiyah,

IAIN Samarinda, Indonesia Email: [email protected] Abstract

The research is about basic skills of teaching of Islamic Elementary School Teacher Education (PGMI) Department of Samarinda. The research objective is to describe the ability of basic skills of teaching of PGMI students who have taught at elementary school and Islamic Elementary School of Samarinda in academic year 2017-2018.

The skills include the skill of opening and closing the lesson, explaining, giving affirmation, having variation, asking and organizing the class. The research method is a descriptive method. The data collection technique is using the methods of observation, interview, and documentation. Then, the data is analyzed descriptively through percentage and the ideal average of each component of the basic skills of teaching. Based on the research result, it can be concluded that the ability of basic skills of teaching are on a good criteria, they are: the skill of opening and closing the lesson (the average score is 26,25 or 72,91%), affirmation skill (the average score is 19,52 or 69,91%), asking skill (the average score is 17,75 or 73,95%), and the skill of organizing the class (the average score is 26,50 or 73,61%), and there are two skills in the category of enough, they are explaining skill (the average score is 17,37 or 62,03%) and having variation skill (the average score is 17,00 or 60,70%). Next is needed a more comprehensive study related to the students’ skill at the department of PGMI, so that the information and the findings will be a consideration in the efforts of increasing the students competency of PGMI department of IAIN Samarinda.

Keywords: Basic skills of teaching, students of PGMI department.

(2)

Keterampilan Dasar Mengajar Mahasiswa Program Studi PGMI

Syamil

, Volume 6 (2), 2018 234 Abstrak

Penelitian ini tentang keterampilan dasar mengajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru dan Madrasah Ibtidaiyah Samarinda. Bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan keterampilan dasar mengajar mahasiswa Prodi PGMI yang telah mengajar di sekolah dasar dan di Madrasah Ibtidaiyah Samarinda tahun akademik 2017-2018. Yang meliputi keterampilan membuka dan menutup pelajaran, menjelaskan, memberi penguatan, mengadakan variasi, bertanya dan pengeloalaan kelas. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Data kemampuan keterampilan dasar mengajara guru dikumpulkan dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Selanjutnya, data dianalisis secara deskriptif melalui persentase dan rata-rata ideal setiap komponen keterampilan dasar mengajar.

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan keterampilan dasar mengajar kategori baik yaitu keterampilan membuka dan menutup pelajaran kategori (skor rata-rata 26,25 atau 72,91 persen), keterampilan penguatan kategori (skor 19,52 atau 69,91 persen), keterampilan bertanya (skor rata-rata 17,75 atau 73,95 persen) dan keterampilan mengelola kelas (skor rata-rata 26,50 atau 73,61 persen) ),dan dua keterampilan yang masih kategori cukup yaitu keterampilan menjelaskan (skor rata-rata 17,37 atau 62,03 persen) dan keterampilan mengadakan variasi (skor rata-rata 17,00 atau 60,70 persen). Ke depan, diperlukan kajian yang lebih komprehensif berkaitan dengan kemampuan mahasiswa pada prodi PGMI, sehingga informasi dan temuan-temuan tersebut pada akhirnya akan menjadi pertimbangan dalam upaya-upaya peningkatan kompetensi mahasiswa prodi PGMI IAIN Samarinda

Kata kunci: Keterampilan dasar mengajar, Mahasiswa Prodi PGMI, Guru

(3)

Keterampilan Dasar Mengajar Mahasiswa Program Studi PGMI

Syamil

, Volume 6 (2), 2018 235 A. Pendahuluan

Perkembangan terhadap system belajar mengajar membawa konsekuensi bagi guru agar meningkatkan peranan dan kompetensinya karena proses pembelajaran dan hasil belajar siswa ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelas sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal, sebagaimana yang dikemukakan Adam & Decey (basic principleof student teaching) dalam Uzer usman peran dan kompetensi guru antara lain guru sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partisipan, ekspeditor, perencana, supervisor, motivator dan konselor1. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan atau kompetensi profesional dari seorang guru sangat menentukan mutu pendidikan, sehingga guru sebagai main person harus meningkatkan kompetensinya.

Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Oleh karena itu, untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif diperlukan berbagai keterampilan yaitu keterampilan dasar mengajar dalam hal ini membelajarkan. Keterampilan mengajar atau membelajarkan merupakan kompetensi pedagogik yang cukup kompleks karena merupakan integrasi dari berbagai kompetensi guru secara utuh dan menyeluruh.

Keterampilan dasar mengajar merupakan aspek penting yang harus dimiliki oleh guru agar dapat melaksanakan perannya dalam pengelolaan proses pembelajaran. Sesempurna apapun atau seideal apapun kurikulum, tanpa diimbangi dengan kemampuan guru untuk mengimplementasikannya, maka kurikulum tersebut belum dikatakan maksimal. Justru keterampilan dasar menjadi penting. Menurut Zainal Asril Guru tidak dilahirkan tetapi dibentuk terlebih dahulu artinya dalam pembentukan performance guru yang baik diperlukan keterampilan dasar2 yang harus dimiliki semua individu yang berprofesi sebagai guru. Dengan demikian, seorang guru bukan hanya mempunyai wawasan keilmuwan yang luas tetapi harus dapat melaksanakan proses belajar-mengajar dengan baik dengan tidak meninggalkan aspek keterampilan dasar mengajar. Dalam Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen disebutkan bahwa tugas utama seorang guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Seorang guru harus mampu membangkitkan partisipasi peserta didik dalam belajar, sehingga proses kegiatan pembelajaran dapat berlangsung secara optimal

1M. Uzer Usman, Menjadi Guru Professional, (Bandung: PT Remaja Rosda karya, 2017), h. 9.

2Zainal Asril, Micro Teaching disertai dengan Pedoman Pengalaman Lapangan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016), h. 67.

(4)

Keterampilan Dasar Mengajar Mahasiswa Program Studi PGMI

Syamil

, Volume 6 (2), 2018 236 Hasil penelitian Maryance menemukan bahwa pelaksanaan keterampilan dasar mengajar guru dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP N 17 Palembang belum optimal, sehingga pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dirasakan oleh siswa hanya sebatas pengetahuan belum sampai pada pemahaman tentang nilai-nilai yang terdapat pada pelajaran Pendidikan Agama Islam itu sendiri sehingga pembentukkan kepribadian yang agamis pada diri siswa masih sangat kurang3. Denngan demikian guru harus memiliki pengetahuan yang memadai dan menguasai tentang keterampilan dasar mengajar secara baik agar ia mampu menciptakan suasana pembelajaran yang efektif dan efisien atau dapat mencapai hasil yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Pembelajaran merupakan suatu proses yang melibatkan berbagai komponen yang saling berkaitan, salah satu komponen yang berperan penting dalam keberhasilan sebuah pembelajaran adalah tenaga pendidik/guru. Pendidikan yang berkualitas sangat dipengaruhi oleh proses pembelajaran yang berkualitas, agar dapat menciptakan pembelajaran yang berkualitas seorang guru harus menguasai berbagai keterampilan mengajar.

Menurut Mulyasa keterampilan mengajar merupakan kompetensi profesional yang cukup kompleks, sebagai integrasi dari berbagai kompetensi guru secara utuh dan menyeluruh.4 Keterampilan dasar mengajar tersebut dilaksanakan dalam suasana yang menyenangkan dan bergairah. Hal ini penting agar penerapan jenis keterampilan dasar mengajar dapat mencapai sasaran.

Dalam proses pembelajaran guru dituntut untuk menguasai keterampilan dasar mengajar. Adapun keterampilan dasar mengajar yang dikemukakan oleh Uzer usman yaitu keterampilan bertanya, keterampilan memberi penguatan, keterampilan mengadakan variasi, keterampilan menjelaskan, keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, keterampilan mengajar perorangan dan keterampilan mengelola kelas5. Dari beberapa aspek keterampilan mengajar tersebut penulis hanya membatasi fokus penelitian ini pada Enam aspek oleh karena disamping keterbatasan waktu juga peneliti menganggap bahwa keenam asfek tersebut sudah bisa mewakili beberapa aspek keterampilan mengajar yang ada. Keenam aspek tersebut adalah keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan bertanya, keterampilan mengadakan variasi, keterampilan menjelaskan, keterampilan memberi penguatan dan keterampilan mengelola kelas. Dengan menguasai keterampilan dasar mengajar diharapkan guru dapat melaaksanaakan tugasnya sebagai guru yang

3Maryance, Pelaksanaan keterampilan Dasar mengajar Guru dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 17 Palembang, (Realita: Jurnal Bimbingan dan Konseling, Vol. 2 Nomor 2 Tahun 2017), h. 385.

4E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), h 57.

5M. Uzer Usman, Menjadi Guru…, h. 32.

(5)

Keterampilan Dasar Mengajar Mahasiswa Program Studi PGMI

Syamil

, Volume 6 (2), 2018 237 profesional dalam mengembangkan potensi pesertaa didik agar tercapai tujuan pendidikan.

Penelitian yang dilakukan Gandhi Ermasaari dkk menunjukkan bahwa kemampuan bertanya guru belum optimal. Hal ini ditunjukkan dari jenis pertanyaan guru yang didominasi pertanyaan kognitif tingkat rendah dan teknik bertanya guru yang belum efektif.6 Dalam penelitian ini fokus penelitian pada salah satu jenis keterampilan dasar mengajar guru yaitu keterampilan bertanya. Sedangkan penelitiaan yang akan peneliti fokus pada enam jenis keterampilan yang dapat diterapkan oleh mahasiswa prodi PGMI yang mengaajar di Sekolah Dasar dan madrasah Ibtidaiyah samarinda

Seiring dengan tuntutan mutu pendidikan, maka pemerintah membuat peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi guru. Selain itu, juga diharapkan mendorong terwujudnya guru yang cerdas, berbudaya, bermartabat, sejahtera, canggih, elok, unggul, dan profesional. Guru masa depan diharapkan semakin konsisten dalam mengedepankan nilai-nilai budaya mutu, keterbukaan, demokratis, dan menjunjung akuntabilitas dalam melaksanakan tugas dan fungsi seharihari7. Berdasarkan persoalan-persoalan tersebut, maka muncul permasalahan yang berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kompetensi profesional guru.

Ketidaklayakan guru dalam mengajar bukan tanpa sebab, banyak faktor yang mempengaruhi, misalnya ketidaksesuaian latar belakang pendidikan (nonpendidikan atau latar belakang pendidikan tidak sesuai dengan mata pelajaran yang diampu), jumlah mata pelajaran yang diampu, kesibukan, tidak mampu merancang dan melaksanakan serta mengevaluasi pembelajaran, dan sebagainya.8

Kualifikasi akademik guru pada satuan pendidikan jalur formal mencakup kualifikasi akademik guru pendidikan Anak Usia Dini/Taman Kanak-kanak/Raudatul Atfal (PAUD/TK/RA), guru sekolah dasar /madrasah ibtidaiyah (SD/MI), guru sekolah menengah pertama/madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), guru sekolah menengah atas/ madrasah aliyah (SMA/MA), guru sekolah dasar luar biasa/sekolah menengah luar biasa/sekolah menengah atas luar biasa (SDLB/SMPLB/SMALB), dan guru sekolah menengah kejuruan/madrasah aliyah kejuruan (SMK/MAK).

Ketidaklayakan guru dalam mengajar bukan tanpa sebab, banyak faktor yang mempengaruhi, misalnya ketidaksesuaian latar belakang pendidikan

6Gandhi Ermasaari, I Wayan Subagia dan Ida Bagus Nyoman S., Kemampuan Bertanya Guru IPA dalam Pengelolaan Pembelajaran, (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia, Vol. 4, Nomor 1 Tahun 2014), h. 4.

7Kunandar, Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), h. 64.

8Yaya Jakaria, Analisis Kelayakan dan Kesesuaian antar Latar Belakang Pendidikan Guru Sekolah Dasar dengan Mata Pelajaran yang Diampu, (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 20, Nomor 4, Tahun 2014), h. 503.

(6)

Keterampilan Dasar Mengajar Mahasiswa Program Studi PGMI

Syamil

, Volume 6 (2), 2018 238 (nonpendidikan atau latar belakang pendidikan tidak sesuai dengan mata pelajaran yang diampu), jumlah mata pelajaran yang diampu, kesibukan, tidak mampu merancang dan melaksanakan serta mengevaluasi pembelajaran, dan sebagainya

Program Studi PGMI merupakan salah satu program studi pada fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda yang akan mencetak calon pendidik. Kehadiran Prodi PGMI merupakan salah satu solusi yang dijadikan acuan pemerintah dalam hal Kementrian agama dalam rangkah memberdayakan madrasah, terutama terkait dengan pemenuhan kebutuhan guru madrasah Ibtidaiyah (MI) yang kompeten, profesional dan memiliki kualifikasi minimal S1, Salah satu program pemerintah dalam hal ini adanya program kualifikasi bagi guru- guru Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah yang belum sarjana menempuh program S1 di Fakultas tarbiyah dan Ilmu keguruan.Tterkait dengan hal tersebut konsekuensi minimum yang harus ditunjukkan lulusan PGMI mampu menjawab persoalan-persoalan keilmuan mendasar yang ada di MI.

Oleh karena itu istilah yang digunakan dalam Permendiknas No 16 tahun 2007 tentang standard kualifikasi dan dan kompetensi guru, dengan menyebut lulusan S1 PGMI/PGSD adalah Guru Kelas.

Program Studi PGMI merupaakan salah satu program studi pada fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda yang akan mencetak calon pendidik. Kehadiran Prodi PGMI merupakan salah satu solusi yang dijadikan acuan pemerintah dalam hal Kementrian agama dalam rangkah memberdayakan madrasah, terutama terkait dengan pemenuhan kebutuhan guru madrasah Ibtidaiyah (MI) yang kompeten, professional dan memiliki kualifikasi minimal S1, Salah satu program pemerintah dalam hal ini adanya program kualifikasi bagi guru- guru Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah yang belum sarjana menempuh program S1 di Fakultas tarbiyah dan Ilmu keguruan. Terkait dengan hal tersebut konsekuensi minimum yang harus ditunjukkan lulusan PGMI mampu menjawab persoalan-persoalan keilmuan mendasar yang ada di MI.

Oleh karena itu istilah yang digunakan dalam Permendiknas No 16 tahun 2007 tentang standard kualifikasi dan dan kompetensi guru, dengan menyebut lulusan S1 PGMI/PGSD adalah Guru Kelas.

Berdasarkan pada aturan, diharapkan lulusan PGMI dapat menunjukkan keampuan minimal dalam empat kompetensi utama, yaitu Paedagogik, Profesional, kepribadian, dan sosial. Untuk itu dalam penyiapkan tenaga pendidik yang profesional seorang calon pendidik diharuskan menempuh berbagai macam mata kuliah seperti, Perencanaan Pengajaran, Strategi Belajar Mengajar, Evaluasi Pengajaran, Micro Teaching serta yang paling penting adalah Praktik Kerja Lapangan (PKL). PKL yaitu semua kegiatan kurikuler yang harus dilakukan siswa praktikan sebagai pelatihan untuk menerapkan teori yang diperoleh selama perkuliahan sesuai dengaan

(7)

Keterampilan Dasar Mengajar Mahasiswa Program Studi PGMI

Syamil

, Volume 6 (2), 2018 239 persyaratan yang telah ditetapkan agar mereka memperoleh pengalaman dan keterampilan lapangan. Namun hasil wawancara dengan pengelola Prodi PGMI bahwa mahasiswa program kualifikasi yang sudah mengajar baik di Sekolah Dasar maupun di Madasah Ibtidaiyah baik PNS maupun yang masih Guru tidak Tetap (GTT) tidak mengikuti mata kuliah Praktek kerja lapangan (PPL) dengan pertimbangan bahwa mahasiswa tersebut sudah melakukan proses pembelajaran. Sedangkan berdasarkan wawancara dengan beberapa mahasiswa yang mengikuti progam kualifikasi tersebut sebagian besar lulusan Sekolah Menengah Atas. Berdasarkan dengan permasalahan tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Keterampilan dasar Mengajar Mahasiswa Prodi PGMI IAIN Samarinda (Studi pada Mahasiswa yang mengajar pada SD dan MI di samarinda)”.

B. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskiptif kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripdsikan keerampilan dasar mengajar mahasiswa Prodi PGMI IAIN Samarinda yang mengajar di sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di samarinda. Subyek penelitian sebanyak delapan orang mahasiswa yang dipilih secara purposive. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan metode observasi, metode wawancra dan dokumentasi. Data keterampilan dasar mengajar mahasiswa diperoleh saat mahasiswa melaksanakan proses pembelajaran secara langsung di kelas.

Instrumen lembar observasi digunakan bentuk rating scale (skala 1-4).

Keterampilan dasar mengajar yang diamati dalam proses pembelajaran meliputi: 1) Membuka dan menutup pelajaran; 2) menjelaskan; 3) Bertanya; 4) Penguatan; 5) mengadakan Variasi; dan 6) mengelola Kelas. Penilaian setiap komponen keterampilan yang diperoleh secara kuantitatif kemudian diubah menjadi data kualitatif dengan kriteria penilaian ideal dengan ketentuan sebagai berikut:

Persentase Tertinggi : Jumlah indikator yang akan diamanati X skor tertinggi

Persentase Terendah : Jumlah indikator yang diamati X skor terendah Interval : Persentase tertinggi – persentase

terendah/banyaknya kategori

Sedangkan data hasil wawancara langsung dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatif

C. Temuan dan Pembahasan

Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Maret 2018 sampai bulan Mei 2018 Peneliti mengumpulkan data tentang keterampilan dasar mengajar mahasiswa Prodi PGMI IAIN Samarinda yang mengajar di sekolah dasar dan Madrasah ibtidaiyah samarinda. Penelitian ini menggunakan metode

(8)

Keterampilan Dasar Mengajar Mahasiswa Program Studi PGMI

Syamil

, Volume 6 (2), 2018 240 deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik observasi terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Untuk teknik observasi terstruktur di sini peneliti menggunakan pedoman observasi yang berupa lembar observasi. Teknik wawancara tidak terstruktur, peneliti menggunakan kisi-kisi wawancara yang sudah peneliti siapkan.

Setiap keterampilan yang terdapat dalam enam keterampilan dasar mengajar dianalisis untuk mengetahui keterampilan mana yang termasuk kategori sangat baik, baik, cukup baik, dan kurang. Hasil analisis kedelapan kompetensi dalam kesiapan mengajar dapat dirangkum dalam tabel I.

TABEL I

REKAPITULASI HASIL OBSERVASI KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR MAHASISWA PRODI PGMI IAIN SAMARINDA YANG MENGAJAR DI SEKOLAH DASAR DAN MADRASAH

IBTIDAIYAH SAMARINDA

No Aspek Keterampilan Total

Rata-Rata Persentase

(%) Kategori

1 Membuka dan menutup

pelajaran 210 26.25 72.91 Baik

2 Menjelaskan 139 17,37 62.03 cukup

3 Melakukan variasi 136 17.00 60.70 cukup

4 Penguatan 156 19.52 69.71 Baik

5 Bertanya 142 17.75 73.95 Baik

6 Pengelolaan kelas 213 26.50 73.61 Baik

Berdasarkan Tabel 1 tampak bahwa keterampilan dasar mengajar yang dikuasai oleh mahasiswa dengan baik adalah keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan bertanya, keterampilan mengelola kelas, dan keterampilan penguatan.

1. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran

Berdasarkan hasil observasi secara kelompok sebanyak tiga kali diperoleh rata-rata nilai keterampilan membuka dan menutup pelajaran sebesar 26,29 dengan presentase 72,91 persen dikategorikan mahasiswa dalam menerapkan keterampilan membuka dan menutup pelajaran adalah baik, artinya bahwa sebagian besar guru sudah menerapkan aspek-aspek membuka dan menutup pelajaran namun ada guru yang masih kurang dalam menerapkan keterampilan membuka dan menutup pelajaran.

Menurut Barnawi Membuka Pelajaran Merupakan usaha untuk menciptakan prakondisi agar mental maupun perhatian siswa terpusat pada apa yang akan dipelajarinya.9 Aspek-aspek yang diamati dalam guru membuka pelajaran adalah: menarik perhatian siswa, menumbuhkan

9 Barnawi dan M. Arifin, Micro Teaching: Teori dan Praktek Pengajaran yang Efektif, (Yogyakarta: Ar- ruzz Media, 2015), h. 128.

(9)

Keterampilan Dasar Mengajar Mahasiswa Program Studi PGMI

Syamil

, Volume 6 (2), 2018 241 motivasi, memberikan acuan dan membuat kaitan. Yaitu Setelah melakukan tugas rutin seperti menenangkan kelas, mengisi daftar hadir, menyuruh siswa menyiapkan alat-alat pelajaran guru langsung saja masuk pada kegiatan inti pelajaran tanpa melakukan apersepsi dan motivasi.

Sedangkan menurut suwarna tujuan keterampilan membuka pelajaran adalah untuk membantu siswa mengetahui hubungan antara pengalaman- pengalamn yang telah diketahui dan hal-hal yang baru akan dipelajarinya.10 Motivasi dan minat siswa muncul apabila guru dapat menunjukkan sesuatu yang baru atau bahkan mengemukakan konsep yang bertentangan dengan siswa. Lunenburg dan Irby dalam Uluul Khakiim menyatakan bahwa pada dasarnya jika terdapat kaitan antara pengetahuan siswa yang telah dimiliki dengan pembelajaran yang akan diikuti maka dapat memengaruhi hasil pembelajaran siswa selanjutnya menjadi lebih baik.11

Keterampilan menutup pelajaran menurut Buchari alma adalah kegiatan guru mengakhiri kegiatan inti pelajaran dengan maksud memberi penegasan, rangkuman dan pemberian balikan atas respon siswa,12 Sejalan dengan pendapat tersebut, Darmadi juga mengatakan keterampilan menutup kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan dan pernyataan guru untuk menyimpulkan atau mengakhiri kegiatan inti.13 Menutup pelajaran harus memberikan gambaran yang menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari. Aspek-aspek yang diamati selama kegiatan menutup pelajaran adalah menyimpulkan kegiatan belajar mengajar dengaan tepat, menggunakan kata-kata yang membesarkan hati siswa, melakukan evaluasi lisan atau tulisan, memberi tugas yang sifatnya pengayaan atau remedial.

Pelaksanaan observasi selama tiga kali menunjukkan bahwa sebagian besar guru sudah terampil dalam menutup pelajaran, namun masih ada yang guru yang kurang terampil antara lain guru pada kegiatan inti materi pelajaran terus diterangkan sampai selesai tanpa ada usaha untuk merangkum. Menurut Hasibuan dan Moedjiono “komponen menutup pelajaran berupa membuat ringkasan materi pembelajaran, menyebutkan pointer materi pembelajaran, memberikan pesan dan arahan untuk

10 Suwarna dkk., Pengajaran Mikro: Pendekatan Praktis dalam Menyiapkan Pendidik Profesional, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), h. 68.

11 Uluul Khakiim, I Nyoman Sudana Degeng dan Utami Widiati, Pelaksanaan Membuka dan Menutup Pelajaran oleh Guru Kelas 1 Sekolah Dasar, (Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian dan Pengembangan, Vol. 1, Nomor 9, Tahun 2016), h. 1730-1734.

12 Buchari Alma, Guru Profesional Menguasai Metode dan Terampil Mengajar, (Bandung: Alfabeta, 2014), h 20.

13 Darmadi Hamid, Kemampuan Dasar Mengajar: Landasan, Konsep dan Implementasi, (Bandung:

Alfabeta, 2012), h. 61.

(10)

Keterampilan Dasar Mengajar Mahasiswa Program Studi PGMI

Syamil

, Volume 6 (2), 2018 242 pertemuan berikutnya.14 Kegiatan ini penting dilakukan untuk mengetahui gambaran tentang kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru yang menjadi subyek penelitian diperoleh bahwa mereka masih kurang terampil dalam membuka dan menutup pelajaran karena lupa dan kehabisan waktu dan memang belum mempunyai keterampilan untuk melaksanakannya.

2. Keterampilan Menjelaskan

Berdasarkan hasil observasi sebanyak tiga kali diperoleh rata rata nilai keterampilan menjelaskan sebesar 17,37 dengan persentase 62,03 persen dikategorikan mahasiswa dalam menerapkan menjelaskan pelajaran adalah cukup baik, artinya bahwa guru dalam menerapkan aspek-aspek menjelaskan pelajaran belum maksimal dan sebagian kecil guru ada yang sudah terampil dalam menerapkan menjelaskan.

Keterampilan menjelaskan sangat penting bagi guru karena dapat memungkinkan guru dapat meningkatkan efektivitas penggunaan waktu dan penyajian penjelasan, mengestimasi tingkat pemahaman siswa serta mengatasi kelangkaan buku sebagai sarana dan sumber belajar.15 Selanjutnaya menurut Barnawi dan M.Arifin bahwa penjelasan yang baik adalah penjelasan yang bermakna dan berkesan16 penjelasan harus bermakna dan disesuaikan dengan latar belakang, karakteristik dan kemampuan siswa.

Aspek-aspek yang diobservasi dalam keterampilan menjelaskan selama proses pembelajaran adalah Orientasi atau pengarahan pada pokok bahasan, kesederhanaan bahasa yang memperjelas, penggunaan contoh, penggunaan illustrasi, penekanan pada hal-hal pokok, menggunakan struktur sajian dan pemberian umpan balik dari siswa. Dan hasil observasi selama tiga kali pertemuan menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil guru yang terampil dalam menerapkan keterampilan menjelaskan. Guru hanya menggunakan metode ceramah dan kadang kadang menulis istilah-istilah penting tanpa penjelasan lebih dalam, kemudian contoh-contoh yang diberikan guru saat menjelaskan hanya berpusat pada informasi yang di dapat dari buku dan kurang memberikan contoh yang lebih relevan. Dan selama pembelajaran tidak ada kegiatan umpan balik.pemanfaatan media masih kurang yng sesuai dengan kompetensi. Menurut Sadiman Dengan

14 Hasibuan dan Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2012), h. 84.

15 Darmadi Hamid, Kemampuan Dasar…, h. 4.

16 Barnawi dan M. Arifin, Micro Teaching…, h. 125.

(11)

Keterampilan Dasar Mengajar Mahasiswa Program Studi PGMI

Syamil

, Volume 6 (2), 2018 243 mengikut sertakan media dalam proses belajar mengajar, maka pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan dapat lebih efektif dan efisien.17

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru yang kurang menguasai keterampilan menjelaskan menyatakan bahwa dalam menerapkan keterampilan menjelaskan mengalami kesulitan yaitu kurangnya sumber dan materi kurikulum. Kebanyakan guru menyatakan bahwa mereka sulit menemukan buku guru, sehingga selama ini mereka hanya mengajar berdasarkan bahan-bahan yang terdapat pada buku siswa dan LKS.

Dengan kondisi tersebut, ketika mereka mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep yang ada dalam buku tersebut.

3. Keterampilan Mengadakan Variasi

Keterampilan mengadakan variasi mahasiswa Prodi PGMI IAIN Samarinda berada dalam kategori cukup baik, dengan persentase penilaian 60,70%. Variasi stimulus adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi pembelajaran yang ditujukan untuk mengatasi kejenuhan siswa, sehingga dalam situasi belajar mengajar, siswa menunjukkan ketekunan, antusiasme serta penuh partisipasi. Keterampilan mengadakan variasi sangat berguna pada proses pembelajaran, karena kegiatan mengadakan variasi di kelas dapat memicu dan dan mengikat perhatian peserta didik, serta mengarungi kejenuhan dan kebosanan.18

Keterampilan mengadakan yang sudah diterapkan penggunaan variasi gaya mengajar. Keterampilan mengadakan variasi dalam pembelajaran mahasiswa masih kurang dikarenakan mahasiswa masih mengalami kesulitan memilih metode dan strategi yang sesuai relevan dengan kompetensi dasar. Metode dan strategi pembelajaran yang dipilih pada umumnya bersifat ceramah aktif, dominansi guru menonjol, sedikit sekali kegiatan yang mengajak siswa merumuskan guru tidak sepenuhnya menerapkan keterampilan mengajar khususnya keterampilan mengadakan variasi bahan ajar dan variasi pola interaksi, hal ini dapat dilihat dari kebiasaan guru yang melaksanakan pembelajaran tanpa menggunakan media apalagi media yang bervariasi. Pada saat menyampaikan materi pelajaran, guru hanya menjelaskan satu kali saja dengan memberikan satu buah contoh, kemudian guru langsung menyuruh anak untuk mengerjakan soal yang ada pada buku paket. Siswa tampak bingung dalam mengerjakan soal sehingga jam pelajaran selesai siswa tidak selesai dalam mengerjakan soal. akibatnya pembelajaran membuat siswa bosan dan kurang bersemangat, akibatnya berdampak pada hasil belajar yang akan dicapainya.

17 Sadiman, Media pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), h. 48.

18 Darmadi Hamid, Kemampuan Dasar…, h. 4.

(12)

Keterampilan Dasar Mengajar Mahasiswa Program Studi PGMI

Syamil

, Volume 6 (2), 2018 244 4. Keterampilan memberi penguatan

Berdasarkan hasil observasi sebanyak tiga kali diperoleh rata rata nilai keterampilan menjelaskan sebesar 19,52 dengan presentase 69,71 persen dikategorikan adalah baik, artinya bahwa sebagian besar mahasiswa sudah terampil dalam menerapkan keterampilan menjelaskan pelajaran masih ada mahasiswa yang masih kurang menguasai keterampilan memberi penguatan, aspek penguatan Verbal yang diamati adalah Mengucapkan kata-kata positif (bagus, benar, atau tepat), Mengucapkan kalimat yang membesarkan hati atau dorongan, Penguatan Non verbal berupa senyuman, anggukan kepala, pandangan yang ramah, atau gerakan badan, Penguatan dengan mendekati, Penguatan dengan sentuhan, Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan, Penguatan dengan meberikan hadiah yang relevan atau rasional.

Hasil Observasi selama tiga kali pertemuan sebagian besar guru sudah terampil menerapkan keterampilan penguatan namun belum optimal. Guru menerapkan penguatan gerak/isyarat untuk menegur dan menasihati anak dengan cara memberikan anggukan kepala, gelengan kepala, dan memberikan acungan jempol, tepuk tangan senyuman dan anggukan kepala. Keterampilan non verbal yang jarang dilakukan adalah dengan menepuk bahu dan mendatangi anak yang memberi jawaban yang benar, Hal ini akan membuat anak merasa tidak dihargai dan tidak mmendapatkan kehangatan dan perhatian

5. Keterampilan Bertanya

Berdasarkan hasil observasi sebanyak tiga kali diperoleh rata-rata nilai keterampilan menjelaskan sebesar 17,75 dengan persentase 73,95 persen dikategorikan mahasiswa dalam menerapkan menerapan keterampilan bertanya adalah baik, artinya bahwa sebagian besar guru sudah menerapkan aspek aspek keterampilan bertanya namun ada guru yang masih kurang dalam menerapkan keterampilan bertanya dalam proses pembelajaran pelajaran.

Berdasarkan hasil dari observasi diperoleh bahwa cara guru mengajukan pertanyaan yaitu disampaikan dengan kata-kata yang sesuai dengan perkembangan siswa. Selain itu cara menyampaikannya dengan jelas dan singkat sehingga siswa dapat langsung menjawab pertanyaan tanpa menanyakan ulang maksud dari pertanyaan. Hal tersebut berarti bahwa pertanyaan yang disampaikan dengan jelas dan singkat. Dalam memberikan acuan, guru memberikan informasi dengan pertanyaan yang tidak bertele-tele, dengan bahasa yang mudah dipahami dan informasi yang diberikan pun konkrit, sehingga siswa menjawab sesuai dengan pertanyaan. Guru memusatkan perhatian siswa terhadap pertanyaan yang diajukan serta memberikan penekanan terhadap hal-hal yang harus dipahami. Aspek keterampilan yang masih kurang yaitu Pemberian pertanyaan diajukan secara serempak. Penyebaran penrtanyaan tertuju

(13)

Keterampilan Dasar Mengajar Mahasiswa Program Studi PGMI

Syamil

, Volume 6 (2), 2018 245 kepada keseluruhan, sesekali mengajukan pertanyaan kepada siswa tertentu untuk menilai pemahaman siswa. Jeda waktu yang diberikan guru cukup digunakan untuk siswa berpikir. Dalam proses pembelajaran guru tidak memberi tuntunan kepada siswa dengan cara memberikan pertanyaan lain yang lebih sederhana dan jika siswa masih tidak mengerti maka guru akan tidak mengulangi kembali dengan lebih sederhana. Tetapi malah mejawab sendiri pertanyaan.

6. Keterampilan Mengelola Kelas

Berdasarkan hasil observasi selama tiga kali pertemuan diperoleh rata-rata 26.50 dengan persentase 73,61 dengan kategori baik. Adapun komponen yang dibahas meliputi keterampilan guru dalam bersikap tanggap, membagi perhatian, memusatkan perhatian kelompok, memberi petunjuk yang jelas, memberi teguran, memberi penguatan, memodifikasi tingkah laku, pendekatan pemecahan masalah kelompok, menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah. Dalam keterampilan ini, pada umumnya guru sudah melakukan dengan baik .namun dari delapan guru tersebut masih ada yang kurang dalam hal menanggapi siswa yang mengajukan pertanyaan dan perhatiannya hanya tertuju pada siswa tertentu saja. Guru yang tanggap terhadap aktivitas siswa akan menimbulkan kesan bahwa guru hadir bersamanya sebagai pembimbing.19 Penelitian yang sama dilakukan oleh ervina puspitaningrum dengan komponen keterampilan yang diamati adalah prinsip hangat dan antusias, pemberian tantangan, bervariasi, keluwesan, penekanan pada hal-hal positif, dan penanaman disiplin dengan cara yang berbeda-beda.20

D. Penutup

Mahasiswa Prodi PGMI IAIN Samarinda baik yang mengajar di Sekolah Dasar maupun di Madrasah Ibtidaiyah Samarinda dalam kemampuan keterampilan dasar mengajar kategori baik yaitu keterampilan membuka dan menutup pelajaran kategori (skor rata-rata 26,25 atau 72,91%), keterampilan penguatan kategori (skor 19,52 atau 69,91%), keterampilan bertanya (skor rata-rata 17,75 atau 73,95%) dan keterampilan mengelola kelas (skor rata-rata 26,50 atau 73,61%), dan dua keterampilan yang masih kategori cukup yaitu keterampilan menjelaskan (skor rata-rata 17,37 atau 62,03%) dan keterampilan mengadakan variasi (skor rata-rata 17,00 atau 60,70%).

19 Barnawi dan M. Arifin, Micro Teaching…, h. 112.

20 Ervina Puspitaningrum, Kemampuan Guru dalam Pengelolaan Kelas di SD Negeri Minomartani 2, (Yogyakarta: Universitas Yogyakarta, Skripsi-PGSD, 2016), h. 67.

(14)

Keterampilan Dasar Mengajar Mahasiswa Program Studi PGMI

Syamil

, Volume 6 (2), 2018 246 DAFTAR PUSTAKA

Alma, Buchari, Guru Profesional Menguasai Metode dan Terampil Mengajar, (Bandung:

Alfabeta, 2014.

Asril, Zainal, Micro Teaching disertai dengan Pedoman Pengalaman Lapangan, Jakarta:

PT. Raja Grafindo Persada, 2016.

Barnawi dan M. Arifin, Micro Teaching: Teori dan Praktek Pengajaran yang Efektif, Yogyakarta: Ar-ruzz Media, 2015.

Ermasari, Gandhi, I Wayan Subagia dan Ida Bagus Nyoman S., Kemampuan Bertanya Guru IPA dalam Pengelolaan Pembelajaran, Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia, Vol. 4, Nomor 1 Tahun 2014.

Hamid, Darmadi, Kemampuan Dasar Mengajar: Landasan, Konsep dan Implementasi, Bandung: Alfabeta, 2012.

Hasibuan dan Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2012.

Jakaria, Yaya, Analisis Kelayakan dan Kesesuaian antar Latar Belakang Pendidikan Guru Sekolah Dasar dengan Mata Pelajaran yang Diampu, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 20, Nomor 4, Tahun 2014.

Khakiim, Uluul, I Nyoman Sudana Degeng dan Utami Widiati, Pelaksanaan Membuka dan Menutup Pelajaran oleh Guru Kelas 1 Sekolah Dasar, Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian dan Pengembangan, Vol. 1, Nomor 9, Tahun 2016.

Kunandar, Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007.

Maryance, Pelaksanaan keterampilan Dasar mengajar Guru dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 17 Palembang, Realita: Jurnal Bimbingan dan Konseling, Vol. 2 Nomor 2 Tahun 2017.

Mulyasa, E., Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007.

Puspitaningrum, Ervina, Kemampuan Guru dalam Pengelolaan Kelas di SD Negeri Minomartani 2, Yogyakarta: Universitas Yogyakarta, Skripsi-PGSD, 2016.

Sadiman, Media pembelajaran, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012.

Suwarna dkk., Pengajaran Mikro: Pendekatan Praktis dalam Menyiapkan Pendidik Profesional, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.

Usman, M. Uzer, Menjadi Guru Professional, Bandung: PT Remaja Rosda karya, 2017.

Referensi

Dokumen terkait