SYSTEM PLANNING JARINGAN IRIGASI RAWA
DIKLAT PERENCANAAN TEKNIS RAWA
TAHUN 2016
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya validasi dan penyempurnaan Modul System Planning Jaringan Irigasi Rawa Lebak sebagai Materi Substansi dalam Diklat Perencanaan Teknis Rawa Lebak. Modul ini disusun untuk memenuhi kebutuhan kompetensi dasar Aparatur Sipil Negara (ASN) di bidang Sumber Daya Air (SDA).
Modul System Planning Jaringan Irigasi Rawa Lebak dalam 5 (lima) bab yang terbagi atas Pendahuluan, Materi Pokok, dan Penutup. Penyusunan modul yang sistematis diharapkan mampu mempermudah peserta pelatihan dalam memahami System Planning Jaringan Irigasi Rawa Lebak. Penekanan orientasi pembelajaran pada modul ini lebih menonjolkan partisipasi aktif dari para peserta.
Akhirnya, ucapan terima kasih dan penghargaan kami sampaikan kepada Tim Penyusun dan Narasumber Validasi, sehingga modul ini dapat diselesaikan dengan baik. Penyempurnaan maupun perubahan modul di masa mendatang senantiasa terbuka dan dimungkinkan mengingat akan perkembangan situasi, kebijakan dan peraturan yang terus menerus terjadi. Semoga Modul ini dapat memberikan manfaat bagi peningkatan kompetensi ASN di bidang SDA.
Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi
Dr.Ir. Suprapto, M.Eng
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL ... viii BAB I PENDAHULUAN ... I-1 1.1 Latar Belakang ... I-1 1.2 Deskripsi Singkat ... I-2 1.3 Tujuan Pembelajaran ... I-2 1.3.1 Kompetensi Dasar ... I-2 1.3.2 Indikator Keberhasilan ... I-2 1.4 Materi Pokok dan Sub Materi Pokok ... I-2 1.5 Estimasi Waktu ... I-3 BAB II PERENCANAAN SISTEM TATA LETAK JARINGAN IRIGASI RAWA ... II-1 2.1. Jaringan Irigasi Rawa ... II-1 2.1.1.Konservasi rawa ... II-1 2.1.2.Pendayagunaan rawa ... II-1 2.1.3.Pengendalian daya rusak... II-2 2.2. Perencanaan Awal Tata Letak Sistem Saluran ... II-3 2.2.1.Tata Letak Saluran Primer ... II-4 2.2.2.Tata Letak Saluran Sekunder ... II-4 2.2.3.Tata Letak Saluran Tersier. ... II-5 2.3. Rencana untuk Tataguna Lahan ... II-6 2.3.1.Tataguna Lahan yang Direncanakan ... II-6 2.3.2.Lokasi, Ukuran dan Tata Letak Pemukiman ... II-8 2.3.3.Tata Letak Lahan Untuk Areal Jalur Hijau ... II-14 2.4. Penetuan Unit Kesesuaian lahan ... II-14 2.5. Fungsi Prasarana Hidrolik ... II-14 2.5.1.Drainase Air yang Berlebihan ... II-14 2.5.2.Retensi Air ... II-15 2.5.3.Pencucian Tanah dan Aliran Air Tanah ... II-16 2.5.4.Irigasi Pompa ... II-17 2.5.5.Suplai Air untuk Keperluan Rumah Tangga ... II-18
2.6. Tata Letak dan Jenis Bangunan Pengendali Air Pada Saluran ... II-18 2.6.1.Fungsi Bangunan ... II-19 2.6.2.Lokasi Bangunan ... II-20 2.6.3.Jenis Pintu Bangunan ... II-21 2.6.4.Disain Bangunan ... II-23 2.6.5.Tata Letak Jalan dan Jembatan ... II-26 2.6.6.Tata Letak Bangunan Pelengkap ... II-26 2.7. Pengamanan Banjir ... II-26 2.7.1.Banjir dari Permukaan Sungai Tinggi ... II-27 2.7.2.Banjir yang Disebabkan Limpasan Air dari areal-Areal Sekitarnya .... II-27 2.8. Latihan ... II-29 2.9. Rangkuman... II-29 BAB III KRITERIA PERENCANAAN JARINGAN IRIGASI RAWA ... III-1 3.1 Drainase Maksimum ... III-1 3.2 Persyaratan Drainase ... III-2 3.3 Kemampuan Drainase ... III-2 3.4 Dimensi Saluran ... III-7 3.5 Lebar Berm ... III-7 3.6 Tinggi Bebas ... III-8 3.7 Kemiringan Sisi Saluran dan Tanggul ... III-9 3.8 Koefisien Kekasaran ... III-9 3.9 Kecepatan Maksimum Aliran Air ... III-9 3.10 Penyusunan Tanah ... III-9 3.11 Pembilasan Saluran ... III-9 3.12 Penurunan Tanah Galian ... III-10 3.13 Pengisian Kembali Air Tanah ... III-10 3.14 Lebar Tanggul ... III-10 3.15 Latihan ... III-11 3.16 Rangkuman... III-11 BAB IV IRIGASI RAWA LEBAK ... IV-1 4.1. Rawa Lebak ... IV-1 4.2. Hidrotopografi Pada Wilayah Rawa Lebak ... IV-2 4.3. Keanekaragaman tumbuhan ... IV-4 4.4. Tanah ... IV-4 4.5. Hidrologi sungai ... IV-6
4.6. Jaringan irigasi rawa lebak ... IV-6 4.6.1.Tipe jaringan irigasi rawa lebak berdasarkan tata pengaturan air dan konstruksi bangunannya. ... IV-7 4.6.2.Jenis pintu air ... IV-7 4.6.3.Pengaturan air jaringan irigasi rawa lebak ... IV-8 4.6.4.Sistem tata air ... IV-10 4.7. Latihan ... IV-20 4.8. Rangkuman... IV-20 BAB V PENUTUP ... V-1 5.1. Kesimpulan ... V-1 5.2. Tindak Lanjut ... V-1 DAFTAR PUSTAKA ... ix GLOSARIUM ... x
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 - Tipikal Aspek Untuk Disain Dan Konstruksi di Lahan Rawa ... II-3 Tabel 2. 2 - Keuntungan dan Kerugian Berbagai Pintu ... II-21 Tabel 2. 3 - Keuntungan dan Kerugian Bahan Bangunan Untuk Bangunan
Pengendali Air ... II-23 Tabel 3. 1 - Modul drainase dan Kriteria tinggi muka air ... III-2 Tabel 4. 1 - Keanekaragaman tumbuhan sesuai daerah hidrotopografi ... III-4 Tabel 4. 2 - Klasifikasi sistem tata air daerah rawa lebak ... III-19
DAFTAR GAMBAR
Gambar II. 1 - Contoh Tipikal Tata Guna Lahan dan Tata Letak Pemukiman .... II-11 Gambar II. 2 - Contoh - contoh Tipikal Tata Letak Pemukiman (Lanjutan) ... II-13 Gambar III. 1 - Modul Drainase untuk padi sawah dan jalur hijau ... III-4 Gambar III. 2 - Modul drainase untuk palawija dan lahan pekarangan ... III-5 Gambar III. 3 - Modul Drainase untuk tanaman keras ... III-6 Gambar III. 4 - Tipikal Potongan Melintang Saluran ... III-8 Gambar IV. 1 - Hidrotopografi rawa lebak. ... IV-3 Gambar IV. 2 - Klasifikasi hidrotopografi rawa lebak berdasarkan waktu genangan dalam 1 tahun ... IV-3 Gambar IV. 3 - Pintu sorong ... IV-8 Gambar IV. 4 - Pintu sorong ... IV-8 Gambar IV. 5 - Skema jaringan irigasi rawa lebak dengan sistem tata air tadah hujan ... ...IV-12 Gambar IV. 6 - Sistem tata air jaringan irigasi rawa lebak dengan tadah hujan.IV-12 Gambar IV. 7 - Skema jaringan irigasi rawa lebak dengan sistem tata air suplesi air sungai ... IV-13 Gambar IV. 8 - Sistem tata air jaringan irigasi rawa lebak dengan suplesi air
sungai. ... IV-14 Gambar IV. 9 - Sistem tata air jaringan irigasi rawa lebak dengan suplesi air
sungai ditambah bendung ... IV-14 Gambar IV. 10 - Skema jaringan irigasi rawa lebak dengan sistem tata air suplesi air sungai dan pompa ... IV-15 Gambar IV. 11 - Sistem tata air jaringan irigasi rawa lebak dengan suplesi air sungai dan pompa... IV-16 Gambar IV. 12 - Skema jaringan irigasi rawa lebak dengan sistem tata air long storage (tampungan air) dan pompa ... IV-17 Gambar IV. 13 - Sistem tata air jaringan irigasi rawa lebak dengan long storage (tampungan air) dan pompa ... IV-17 Gambar IV. 14 - Skema jaringan irigasi rawa lebak dengan sistem tata air polderIV-18 Gambar IV. 15 - Sistem tata air jaringan irigasi rawa lebak dengan polder ... IV-19
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
Deskripsi
Modul System Planning Jaringan Irigasi Rawa Lebak ini terdiri dari tiga kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar membahas Tata letak Rawa Lebak, Kriteria Perencanaan Irigasi Rawa dan Perencanaan Irigasi.
Peserta diklat mempelajari keseluruhan modul ini dengan cara yang berurutan. Di akhir pembelajaran dapat dilengkapi dengan latihan soal yang menjadi alat ukur tingkat penguasaan peserta diklat setelah mempelajari seluruh materi Diklat ini.
Persyaratan
Dalam mempelajari modul pembelajaran dasar ini peserta diklat diharapkan dapat menyimak dengan seksama penjelasan dari pengajar, sehingga dapat memahami dengan baik materi yang merupakan dasar dari System Planning Jaringan Irigasi Rawa Lebak.
Metode
Dalam pelaksanaan pembelajaran ini, metode yang dipergunakan adalah dengan kegiatan pemaparan yang dilakukan oleh Widyaiswara/Fasilitator, adanya kesempatan tanya jawab, curah pendapat, bahkan diskusi
Alat Bantu/Media
Untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran ini, diperlukan Alat Bantu/Media pembelajaran tertentu, yaitu: LCD/projector, Laptop, white board dengan spidol dan penghapusnya, bahan tayang, serta modul dan/atau bahan ajar.
Kompetensi Dasar
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat peserta diklat diharapkan mampu memahami garis besar Sistem Planning, Peta Petak/ Layout Jaringan Irigasi Rawa Lebak yang disajikan dengan cara ceramah dan tanya jawab.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dari hasil pengolahan data survey, investigasi dan ketentuan dalam kriteria perencanaan serta aspek kebijakan dan aspek lainnya, akan dipergunakan sebagai dasar pertimbangan dalam melaksanakan penyusunan sistem planning / perencanaan secara makro. Sistem planning merupakan salah satu rangkaian kegiatan S.I.D “Proses Perencanaan Teknis” dan merupakan proses awal perencanaan pemanfaatan rawa. Sistem planning merupakan bagian utama dari proses pengembangan jaringan irigasi rawa yang mengaplikasikan data survey investigasi dan faktor lain yang diperlukan, kemudian disusun dalam suatu perencanaan secara makro sesuai dengan kebutuhan pengguna, beserta seluruh prasarana tata air, jaringan transportasi dan pengamanan banjir.
Sasaran Tahapan Perencanaan Sistem Planning :
a) Untuk menetapkan kriteria perencanaan yang sesuai dengan kondisi lapangan yang ada di lokasi kajian dalam rangka menunjang konsep perencanaan teknis.
b) Untuk mendapatkan berbagai alternatif perencanaan sistem tata air dengan dasar kriteria perencanaan teknis pengembangan rawa.
Dalam melaksanakan penyusunan sistem planning harus memperhatikan faktor-faktor antara lain :
a) Kesesuaian lahan
b) Kebijakan nasional, regional dan kabupaten
c) Keinginan petani tentang pola tanam saat ini dan mendatang d) Water management zone / zone pengelolaan air
Disamping beberapa factor tersebut diatas, sistem planning harus mencakup semua aspek perencanan yang berskala makro / menyeluruh yaitu :
a) Perencanaan tata letak saluran b) Perencanaan penggunaan lahan
c) Perencanaan tata letak bangunan pintu d) Perencanaan tata letak jalan dan jembatan e) Perencanaan pengamanan banjir.
1.2 Deskripsi Singkat
Modul System Planning Jaringan Irigasi Rawa Lebak ini terdiri dari tiga kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar membahas Tata letak Rawa Lebak, Kriteria Perencanaan Irigasi Rawa dan Perencanaan Irigasi.
Peserta diklat mempelajari keseluruhan modul ini dengan cara yang berurutan. Di akhir pembelajaran dapat dilengkapi dengan latihan soal yang menjadi alat ukur tingkat penguasaan peserta diklat setelah mempelajari seluruh materi Diklat ini.
1.3 Tujuan Pembelajaran 1.3.1 Kompetensi Dasar
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta mampu memahami mekanisme perencanaan sistem planning perencanaan irigasi rawa lebak yang meliputi tata letak saluran, penggunaan lahan, tata letak bangunan air dan bangunan pelengkap serta pengamanan banjir.
1.3.2 Indikator Keberhasilan
Setelah mengikuti pembelajaran modul ini, peserta diharapkan dapat menjelaskan :
1) Perencanaan sistem Tata Letak Jaringan Irigasi Rawa 2) Kriteria Perencanaan Jaringan Irigasi Rawa
3) Irigasi Rawa Lebak 1.4 Materi Pokok
Materi pokok yang akan dibahas dalam modul ini adalah:
1) Perencanaan Sistem Tata Letak Rawa Lebak 2) Kriteria Perencanaan Jaringan Irigasi Rawa 3) Irigasi Rawa
1.5 Estimasi Waktu
Alokasi waktu yang diberikan untuk pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk mata diklat “System Planning Jaringan Irigasi Rawa Lebak” ini adalah 10 (sepuluh) jam pelajaran (JP) atau sekitar 450 menit.
BAB II
PERENCANAAN SISTEM TATA LETAK JARINGAN IRIGASI RAWA
Setelah mengikuti Pembelajaran ini, peserta diklat diharapkan dapat menjelaskan perencanaan system tata letak jaringan irigasi rawa
2.1. Jaringan Irigasi Rawa
Setelah data hasil survei investigasi selesai dianalisa, hasilnya digunakan untuk perencanaan sistem jaringan irigasi rawa. Perencanaan sistem tata letak jaringan irigasi rawa merupakan proses perencanaan tata guna lahan dan kebutuhan infrastrukturnya dalam perencanaan pengembangan rawa, yang didalamnya menjelaskan tentang hasil analisis hidrotopografi, analisis hidrologi, analisis tanah pertanian, analisis agronomi, yang kemudian dirangkum dalam suatu rencana pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan petani, beserta segenap sarana tata air, jaringan transportasi berikut tata cara pengelolaanya.
Secara prinsip ada 3 pilar pengelolaan air yang harus tercakup dalam pengembangan Jaringan Irigasi rawa , yaitu:
4) Konservasi rawa, 5) Pendayagunaan rawa 6) Pengendalian daya rusak.
Pada prakteknya kegiatan penyusunan Zoning pengelolaan air ini dilakukan bersamaam dengan penyusunan layout.
2.1.1. Konservasi rawa
Konservasi rawa di lokasi jaringan Irigasi rawa ditujukan untuk menjaga fungsi dan keberlanjutan rawa, menempati areal dengan elevasi yang rendah.
2.1.2. Pendayagunaan rawa
Kebutuhan pendayagunaan rawa dalam konteks pengembangan Jaringan irigasi Rawa adalah memanfaatan lahan rawa yang ada saat ini, untuk menjadi kemanfaatan lain yang lebih produktif yaitu menjadikannya menjadi
lahan pertanian. Hal itu dilakukan dengan memperhatikan Satuan Lahannya, serta Zona Pengelolaan Airnya.
Lahan yang didayagunakan adalah lahan dengan drainabilitas yang baik, Areal untuk pendayagunaan juga mencakup untuk kebutuhan prasarana permukiman, jalan, saluran dsb.
2.1.3. Pengendalian daya rusak
Pengendalian daya rusak di pengembangan Jaringan Irigasi Rawa diterjemahkan dalam bentuk kemungkinannya untuk dibangun tangul.pintu- pintu pengendali dan normalisasi sungai/saluranyang sudah ada.
Untuk pengembangan jaringan irigasi Rawa dimulai dari saluran primer, saluran sekunder dan akhirnya saluran tersier dan kuarter.Jaringan mula- mula dibangun tanpa bangunan air / dengan bangunan air terbatas, dan secara bertahap bangunan pengatur air ditambahkan.
Karena areal-areal rawa kelihatan seluruhnya datar, sangat dianjurkan agar mengikuti pola-pola drainase alam, areal rendah, dll.Menempatkan saluran- saluran drainase melalui areal-areal yang paling rendah membantu mencegah kondisi tersumbat pada areal-areal rendah ini dan akumulasi air drainase yang berkualitas buruk di areal-areal yang lebih tinggi.Setelah tahap pengembangan awal dimana jaringan salurannya masih berupa sistem terbuka untuk memfasilitasi terjadinya pematangan tanah dan membuang pembuangan air yang berlebihan keluar dari lahan, maka selanjutnya pada tahap pengembangan berikutnya adalah meningkatkan sistem pengelolaan air dengan melengkapi bangunan pengatur air pada jaringan saluran yang ada.
Perencanaan sistem jaringan irigasi rawa untuk jaringan baru maupun untuk peningkatan jaringan yang sudah ada meliputi :
1) Perencanaan Awal Tata letak sistem saluran 2) Perencanaan Untuk Tataguna lahan
3) Perencanaan Hidrotopografi Rawa Lebak 4) Fungsi Prasarana Hidrolik
5) Tata Letak dan Jenis Bangunan Pengendali Air Pada Saluran 6) Pengamanan Banjir
Tabel 2.1 : Menyajikan ringkasan mengenai aspek-aspek disain dan konstruksi dilahan rawa.
Tabel 2. 1 - Tipikal Aspek Untuk Disain Dan Konstruksi di Lahan Rawa Kondisi Fisik Pengaruh Terhadap Disain Elevasi lahan dekat muka air tinggi Kemampuan Drainase
Suplesi Air
Pengamanan Banjir
AirAsam Disain Saluran, Bangunan
Diperlukan semen khusus
Diperlukan pengaman untuk beton dan besi
Tanah Bagian bawah sangat lembut sampai lembut
Fondasi jalan dan bangunan Stabilitas talud saluran dan tanggul Penyusutan :
Tanah organik : 10 sampai 20 cm/tahun
Tanah mineral : 2 sampai 4 cm/tahun
Stabilitas Bangunan Kemampuan Drainase Disain Saluran Tanggul Kenaikan muka banjir dimasa mendatang
akibat
Tanggul (Penampungan Menurun)
Pengembangan dalam daerah tangkapan
Kemampuan Drainase Tinggi banjir maksimum
Disain saluran, tanggul dan bangunan
Tanah Organik belum matang Kualitas buruk untuk konstruksi Tanah Galian Sangat menurun Pemadatan tanah yang buruk
Tidak ada pasir, koral dalam areal Pengangkutan pasir, koral dari tempat lain meningkatkan biaya konstruksi 2.2. Perencanaan Awal Tata Letak Sistem Saluran
Untuk lahan rawa yang penting dalam setiap disain haruslah memanfaatkan fluktuasi muka air secara maksimum guna menghindari terjadinya kondisi air yang tergenang, dan membiasakan unsur-unsur asam dan racun keluar dari saluran bilamana memungkinkan melalui jaringan saluran. Dengan demikian jaringan saluran menduduki fungsi sentral dalam pengembangan daerah rawa dan pengaturan tata letak pada dasarnya mengikuti tata letak saluran. Tata letak rencana pemukiman pada dasarnya mengikuti tata letak
dari jaringan saluran. Tata letak sistem saluran, yang pada gilirannya sangat ditentukan oleh sifat-sifat fisik lahan, kondisi perbatasan hidrologi, dan jenis tataguna lahan yang diperkirakan.
Secara umum pengembangan jaringan saluran pada daerah rawa dimaksudkan untuk :
1) Tercapainya keseimbangan air antara evapotranspirasi, air hujan, suplesi air yang menggenangi lahan;
2) Tresedianya pasokan air yang mencukupi pada waktu musim kemarau;
3) Mengencerkan / menggelontorkan air bermutu jelek (air sulfat masam beracun) leaching.
4) Jika kondisi hidrotopografi lahan memungkinkan direncanakan saluran supply.
2.2.1. Tata Letak Saluran Primer
Saluran primer merupakan saluran yang berfungsi membawa air dari sumbernya dan menampung /membagikannya dari/ke saluran sekunder.
Saluran ini mengumpulkan beban drainase dari sejumlah saluran sekunder.
Dalam jaringan Rawa dengan sitem sisir terdapat lebih dari satu saluran primer yang masing-masing mengalirkan air buangan langsung kesungai.
Jika terdapat sungai utama yang cukup berdekatan, sistem jaringan primer sistem sisr dapat dibuat sedemikian sehingga terdapat pemisahan antara jaringan saluran supply dan drain, sehingga aliran bersifat 1 arah. Dalam jaringan Rawa dengan system garpu terdapat tiga saluran primer yang ketiganya kemudian mengalirkan air ke saluran primer pengumpul terhubung langsung kesungai. Jika kondisi topografi memungkinkan, bentuk petak primer sehaiknya segi empat untuk mempermudah pengaturan tata letak dan memungkinkan drainase dan supply air secara efisien.
2.2.2. Tata Letak Saluran Sekunder
Saluran drainase sekunder adalah saluran yang membawa air yang berasal dari saluran tersier. Saluran ini mengumpulkan beban drainase dari sejumlah saluran tersier. Biasanya saluran sekunder mengalirkan ke
bangunan pengatur air sekunder yang terletak dekat pertemuan dengan saluran primer. Jika kondisi topografi memungkinkan, bentuk petak sekunder sehaiknya bujur sangkar atau segi empat untuk mempermudah pengaturan tata letak dan memungkinkan drainase dan supply air secara efisien. Panjang saluran sekunder sebaiknya kurang dari 2000 m; tetapi pada saluran sekunder yang terbuka dikedua ujungnya kadang-kadang panjang saluran ini mencapai 3000 m s/d 4000 m
Luas petak sekunder sangat bergantung pada jenis tanaman yang akan ditanam dan jumlah petani dalam satu petak sekunder. Untuk Daerah rawa yang ditanami padi, luas petak yang ideal antara 100-200 ha, sedang untuk kelapa sawit, luas petak yang ideal antara 20-20 ha, kadang-kadang sampai 30 ha. Petak yang kelewat besar akan mengakibatkan pembuangan air yang tidak efisien.
2.2.3. Tata Letak Saluran Tersier.
Saluran Tersier merupakan kelompok saluran yang berfungsi sebagai prasarana pelayanan penampungan air dari petak tersier. Saluran ini mengumpulkan beban drainase dari lahan pertanian. Jika kondisi topografi memungkinkan, bentuk petak tersier sehaiknya bujur sangkar atau segi empat untuk mempermudah pengaturan tata letak dan memungkinkan drainase dan supply air secara efisien. Panjang saluran Tersier Iebih baik di bawah 500 m, tetapi prakteknya kadang-kadang sampai 800 m
Luas petak tersier sangat bergantung pada jenis tanama yang akan ditanam dan jumlah petani dalam satu petak tersier. Untuk Daerah rawa yang ditanami padi, luas petak yang ideal antara 10-20 ha, sedang untuk kelapa sawit, luas petak yang ideal antara 20-20 ha, kadang-kadang sampai 30 ha. Petak yang kelewat besar akan mengakibatkan pembuangan air yang tidak efisien. Di petak tersier pengaturan air, eksploitasi dan pemeliharaan menjadi tanggung jawab para petani (P3A/GP3A) yang bersangkutan, di bawah bimbingan pemerintah
2.3. Rencana untuk Tataguna Lahan
Mengikuti persetujuan mengenai hasil analisa kesesuaian lahan rawa, langkah selanjutnya adalah menyusun rancangan rencana untuk tataguna lahan mendatang dan garis besar mengenai prasarana yang diperlukan rencana tersebut harus berdasarkan pada Kesesuaian Lahan, Kebijaksanaan nasional dan regional tentang pengembangan pertanian, Pola tanam yang sekarang dan kecenderungan mendatang yang diharapkan dapat pada jaringan-jaringan yang sudah ada, Keinginan Petani dan Prasarana yang sudah ada
Perencanaan sistem tata letak untuk jaringan irigasi rawa meliputi : a) Tataguna lahan yang direncanakan
b) Lokasi, ukuran dan tata letak pemukiman c) Pembukaan lahan dan penyediaan jalur hijau 2.3.1. Tataguna Lahan yang Direncanakan
Sebelum pekerjaan disain dimulai, harus sudah ada keputusan tentang mengenai tataguna lahan yang direncanakan sesuai dengan jenis model lahan pertanian yang harus dipenuhi, khususnya dikaitkan dengan berbagai persyaratan drainase untuk tanaman padi, palawija dan tanaman keras.Keputusan seperti itu harus didasari kesesuaian lahan, khususnya aspek-aspek pengelolaan air, pertimbangan kebijaksanaan, aspirasi petani dan pengembangan yang diperkirakan dimasa mendatang. Secara umum, diharapkan agar palawija, juga pada waktu musim hujan akan memperoleh kepentingan dan disain tersebut harus mengantisipasi perkembangan tersebut.
Kesepakatan yang luas mengenai tataguna lahan yang direncanakan adalah penting untuk disain prasarana serta untuk merencanakan program perluasan, fasilitas pendukung dll.Namun demikian, mengingat sulitnya meramalkan kecenderungan mendatang dalam produksi pertanian, maka sangat dianjurkan agar menjaga prasarana fisik tetap sehingga perubahan- perubahan mendatang terhadap tataguna lahan dapat disesuaikan dengan mudah.
1) Pada Areal-Areal Baru
Pada Areal-Areal Baru, langkah pertama dalam perencanaan sistem tata letak jaringan irigasi rawa adalah menetapkan model pertanian yang sesuai untuk areal baru tersebut dan dikaitkan dengan pengelolaan sistem. Secara hukum, pemilik lahan menurut program transmigrasi memperoleh lahan seluas 2,25 ha, yang biasanya terbagi sebagai berikut :
a) Lahan rumah seluas 0,25 ha
b) Lahan usaha pertama seluas 1,0 ha untuk tanaman sawah (padi atau palawija)
c) Lahan usaha kedua seluas 1,0 ha untuk tanaman sawah atau tanaman keras, yang akan dikembangkan pada tahap berikutnya.
Lahan usaha pertama dan kedua harus dekat dengan lahan rumah dan harus memiliki akses langsung kesaluran tersier. Lahan usaha tersebut dapat berdampingan atau tidak berdampingan satu sama lainnya.
Model pertanian alternatif lain yang dapat dipertimbangkan adalah pengembangan untuk usaha perkebunan atau tambak.
2) Pada Areal-Areal Yang Sudah Ada
Perencanaan sistem tata letak untuk peningkatan jaringan-jaringan yang sudah ada biasanya melibatkan perencanaan tataguna lahan, perbaikan pengaman banjir, penyempurnaan pengendalian air dengan cara menambah saluran-saluran dan/atau bangunan-bangunan pengendali air, dan memperbaiki kemudahan jalan masuk internal dan eksternal (jalan, jembatan, dermaga).
Peningkatan biasanya tidak mencakup perubahan-perubahan terhadap tata letak lahan pertanian dan rencana pemukiman. Terkecuali lahan- lahan usaha yang nampaknya diletakan pada lahan yang tidak sesuai (misalnya, tanah gambut dalam), harus ditemukan lahan baru yang sesuai di areal sekitarnya, atau seluruh lahan pertanian termasuk lahan rumah mungkin harus dipindahkan kelokasi lain.
2.3.2. Lokasi, Ukuran dan Tata Letak Pemukiman
Permukiman di lahan rawa harus ditata sedemikian rupa sehingga terbentuk permukiman yang aman, nyaman, lahan kering dan mempunyai akses ke pusat pelayanan umum dan ke luar wilayah ke pusat pengembangan wilayah dengan mudah. Perencanaan tataletak permukiman, yang menunjukan perencanaan tata ruang lahan rumah, lahan pertanian, pusat desa, areal-areal yang ditetapkan untuk kepentingan umum, dan jaringan saluran serta jalan.
Tata letak petak lahan untuk areal permukiman di lahan rawa mempunyai persyaratan sebagai berikut:
1) Mudah dicapai : pada banyak jaringan, jalan masuk menuju jaringan adalah melalui air. Pusat-pusat Permukiman penduduk di lahan rawa berada di pinggir saluran primer atau sungai alam. Angkutan internal biasanya melalui darat dan oleh karena itu lahan rumah harus terletak dekat dengan seluruh jalan yang menghubungkan lahan rumah dengan pusat desa. Jalan-jalan kecil akan menyediakan akses kelahan usaha pertanian. Pemukiman di daerah rawa konvensional (dibuka penduduk) selalu terletak di pinggir sungai dan pada tempat yang lebih tinggi. Pemukiman di daerah rawa yang dibuka oleh pemerintah harus dekat dengan sarana transportasi air dan jalan darat, selalu menghadap saluran primer atau saluran navigasi atau sungai alami, tersedia sarana transportasi yang menuju fasilitas umum.
2) Fasilitas Umum : Lahan fasilitas umum berada dalam satu hamparan yang terdiri dari perkantoran pemerintahan daerah paling tidak kelurahan, fasilitas olah raga minimal sebesar lapangan sepak bola, fasilitas pasar dan daerah pertokoan, penjernihan air minum, fasilitas peribadatan, penggilingan padi, fasilitas terminal kendaraan darat, fasilitas jaringan listrik dan kantor PLN, fasilitas perbankkan, fasilitas keamanan, jembatan penyebrangan saluran/ sungai, penyediaan BBM. Jarak jangkau dari fasilitas umum ke lahan pekarangan penduduk tidak boleh terlalu jauh supaya memudahkan pelayanan
dari pemerintahan daerah dan penggunaan fasilitas pengadaan saprodi dan pemasaran hasil pertanian.
3) Jarak Perjalanan : lahan usaha pertanian harus berada dalam jarak perjalanan yang mudah dijangkau dari lahan rumah. Lahan rumah juga harus berada pada jarak perjalanan yang dekat dari pusat desa.
Jarak dari fasilitas umum ke perumahan penduduk < 5 km. Jarak tempuh dari pemukiman ke lahan usaha budidaya tidak terlalu lama, atau sekitar 1.5 – 2 km
4) Drainase : lahan rumah dan lahan usaha semuanya harus memiliki akses yang mudah dicapai oleh jaringan drainase. Pemukiman memerlukan lahan kering, drainase harus mampu menurunkan air tanah minimal sedalam 50 cm dari permukaan lahan. Ini biasanya memerlukan saluran-saluran tersier yang memotong areal-areal lahan usaha sehingga masing-masing atau paling tidak setiap lahan usaha lainnya berbatasan dengan saluran. Jarak saluran tersier selanjutnya menjadi dua kali atau empat kali lebar lahan usaha. Biasanya, diterapkan jarak antara 200 m dan 400 m untuk saluran-saluran tersier tersebut. Tata letak harus dibuat sedemikian rupa sehingga jalan aliran air menjadi sedekat mungkin.
5) Garis Sempadan saluran dan jalan : harus cukup lebar untuk memungkinkan perubahan-perubahan dimasa mendatang. Pada Awalnya, seringkali hanya dipasang jaringan drainase minimum, yang dikemudian hari harus ditingkatkan dengan pembuatan saluran- saluran tambahan. Sama halnya di kebanyakan areal, jalan masuk mungkin akan bermanfaat dalam jangka panjang. Alinemen saluran dan jalan untuk waktu mendatang harus sudah dimasukan dalam disain awal guna menghindari masalah-masalah yang menyangkut kepemilikan lahan dikemudian hari.
6) Perbedaan tataguna lahan : Biasanya, lahan usaha pertama digunakan untuk pengusahaan tanaman padi sedangkan lahan usaha kedua diharapkan untuk tanaman lahan kering atau tanaman keras.
Persyaratan pengelolaan air yang berbeda menghendaki agar lahan
usaha yang memiliki tataguna yang sama sedapat mungkin dikelompokan menjadi satu. Lahan padi dapat mengaliri areal-areal tanaman keras, namun areal-areal tanaman keras tidak dapat mengaliri lahan padi.
7) Batas Pembukaan Lahan : Biasanya lahan rumah dan lahan usaha pertama dibuka oleh pemerintah dan selanjutnya membentuk blok- blok yang berdampingan.
8) Suplai air untuk keperluan rumah tangga : untuk suplai air keperluan rumah tangga, lokasi lahan rumah yang dekat dengan saluran-saluran (primer atau sekunder) sering lebih disukai.
9) Keluesan pengalokasian lahan : mengingat adanya perbedaan sifat- sifat lahan setempat yang penting yang tidak dapat direncanakan, maka tata letak harus memungkinkan bagi perubahan-perubahan mendatang dan relokasi lahan pertanian jika relokasi ini akan ditempatkan pada lahan yang kurang sesuai.
Pertimbangan-pertimbangan diatas biasanya ditujukan pada lokasi pemukiman yang membentang disepanjang saluran-saluran, dengan lahan usaha terletak disepanjang saluran tersier tegak lurus terhadap saluran primer/sekunder. Contoh tipikal tatal letak pemukiman yang diterapkan selama ini diperlihatkan pada Gambar II.1 dan II.2.
.
Gambar II. 1 - Contoh Tipikal Tata Guna Lahan dan Tata Letak Pemukiman
ke sungai
pekarangan LU I
( masing – masing 1 ha )
LU II ( masing – masing 1 ha )
2000 m
400 m Saluran tersier
primer
Pintu stoplog untuk menahan air
Pintu ayun untuk aliran satu arah atau
ke sungai
Alokasi Lahan
Sumatera, Kalimantan
- saluran utama untuk semua keperluan - saluran sekunder/tersier setiap 400 m - pekarangan sepanjang saluran utama Saluran utama, panjang 4 – 15 km Pekarangan
lahan
4000 m 4000 m
ke sungai ke sungai ke sungai
ke sungai ke sungai ke sungai
Pekarangan Pekarangan
2000 m 2000 m
Tanaman Tahunan
Tanaman Tahunan Padi
Tanaman Tahunan Pekarangan
Padi
Tanaman Tahunan Pekarangan Padi
2000 m 2000 m
Saluran Primer yang sudah ada
Saluran Primer baru
Saluran Primer yang sudah ada
Bentuk Pengembangan Blok yang Lebih Besar
1200 m
Gambar II. 2 - Contoh - contoh Tipikal Tata Letak Pemukiman (Lanjutan)
2.3.3. Tata Letak Lahan Untuk Areal Jalur Hijau
Zona penyangga atau jalur hijau masing-masing lebar 100 m, 200 m dan 300 m harus dipertahankan sepanjang sungai, sungai alam dan laut. Jalur hijau ini berguna untuk mempertahankan keseimbangan lingkungan, untuk perkembangan biota darat, menahan angin sehingga kelembaban bisa dipertahankan evapotranspirasi akan rendah.
2.4. Penetuan Unit Kesesuaian lahan
Kesesuaian lahan merupakan keadaan tingkat kecocokan lahan untuk penggunaan tertentu. Kelas kesesuaian suatu lahan dapat berbeda-beda tergantung pada tipe penggunaan yang diterapkan dan karakteristik lahan yang dapat menjadi hambatan/kendala bagi penggunaan tersebut. Evaluasi kesesuaian lahan ditujukan untuk memperoleh deskripsi kesesuaian lahan untuk berbagai penggunaan tertentu di lokasi survey.
2.5. Fungsi Prasarana Hidrolik
Tata letak sistem saluran sebagian mengikuti rencana pemukiman, dan sebagian lagi mengikuti fungsi sistem yang pada gilirannya sangat ditentukan oleh sifat-sifat fisik lahan, kondisi perbatasan hidrologi, dan jenis tata guna lahan yang diperkirakan. Fungsi prasarana hidraulik tersebut meliputi:
a) Drainase air yang berlebihan b) Retensi air
c) Pengembangan tanah : pencucian unsur asam dan racun d) Pengeluaran unsur racun melalui pembilasan saluran e) Banjir Sungai
f) Mencegah drainase yang berlebihan, mengisi air tanah g) Irigasi pompa
h) Suplai air untuk keperluan rumah tangga 2.5.1. Drainase Air yang Berlebihan
Kapasitas seluruh saluran-saluran harus memenuhi persyaratan drainase (luas drainase dikalikan dengan modul drainase rencana). Untuk areal-areal padi, dengan persyaratan drainase yang relatif rendah dan air mudah
mengalir melalui lahan ke saluran, jarak antara saluran boleh agak lebar namun tidak boleh melebihi 100 m. Namun demikian, untuk menghemat biaya konstruksi, biasanya diperkirakan bahwa petani akan menggali saluran-saluran kuarter diantara saluran-saluran tersier, dan jarak saluran- saluran kuarter ini ditetapkan sebesar 200 sampai 400 m.
Untuk tanaman palawija dan tanaman keras diperlukan jarak yang lebih rapat, yang tergantung atas jenis tanah dan hidro-topografinya.
Dikarenakan adanya perubahan-perubahan besar dalam upaya tembus tanah dan elevasi lahan pada jarak yang pendek, maka rumus matematika untuk memperhitungkan jarak saluran tidak begitu membantu. Pengalaman membuktikan bahwa tipikal jarak saluran yang diperlukan adalah 25 m sampai 50 m.
Karena pengembangan pekerjaan lahan usaha tani adalah tanggung jawab para petani, maka biasanya dipakai jarak saluran tersier yang sama sebagaimana untuk areal padi, dengan asumsi bahwa petani sendiri akan mengintensifkan jaringan drainase. Sudah pasti bahwa semakin dekat jarak saluran, maka kesempatan petani untuk memasang sistem kuarter yang efektif menjadi semakin baik.
Panjang saluran optimal tergantung atas luas drainase, penampang melintang saluran dan apakah saluran tersebut ujungnya terbuka atau tertutup. Saluran-saluran tersier kecil yang lebar dasarnya kurang dari 1,00 m dan kedalaman 0,70 sampai 1,00 m harus tidak boleh lebih panjang 800 sampai 1000 m. Saluran-saluran sekunder yang ujungnya tertutup sebaiknya tidak lebih panjang dari 1 (satu) sampai 2 (dua) km. Saluran- saluran yang ujungnya terbuka (yang kedua ujungnya dihubungkan pada saluran yang lebih besar) pada umumnya harus dua kali panjang saluran yang ujungnya tertutup.
2.5.2. Retensi Air
Padi tumbuh sangat baik dengan lapisan air mantap pada lahan. Tingginya daya tembus tanah bagian atas namun demikian, menjadikan sulit untuk mempertahankan lapisan air tersebut. Selain tindakan-tindakan yang
dilakukan petani sendiri, seperti penggalangan lahan, dan pelumpuran tanah pada tempat yang memungkinkan, mempertahankan tinggi muka air tinggi pada saluran tersier merupakan cara lain untuk memperkecil kerugian perkulasi dari lahan-lahan tersebut. Tindakan ini memerlukan bangunan- bangunan pengendali air, yang sebaiknya pada saluran-saluran tersier.
Pada tempat dimana retensi air adalah penting, saluran tersier dan saluran sekunder yang dalam harus dihindari. Retensi air dengan mudah dapat mengakibatkan kondisi air tergenang dan kualitas air yang merugikan, khususnya pada areal-areal yang memiliki tanah pirit atau tanah organik.
Mempertahankan tinggi muka air pada kedalaman tertentu di bawah permukaan (drainase terkendali) dalam keadaan ini mungkin lebih baik dari pada retensi air maksimum.
2.5.3. Pencucian Tanah dan Aliran Air Tanah
Pada kebanyakan tanah pada lahan rawa pasang surut, oksidasi pirit dan bahan organik membebaskan unsur asam dan unsur-unsur lain yang berbahaya bagi pertumbuhan tanaman. Unsur-unsur ini harus, sebanyak mungkin, dibuang dari tanah. Jika tidak tersedia air suplesi yang memungkinkan, pencucian tersebut dapat dilakukan dengan air hujan yang mengalir menuju saluran-saluran melalui tanah. Hal ini menghendaki tinggi muka air yang terkendali pada saluran-saluran tersebut (cukup dalam untuk memungkinkan terjadinya aliran air tanah, namun tidak terlalu dalam untuk menghindari terbukanya pirit) yang membutuhkan bangunan-bangunan pengendali air dan jaringan saluran dangkal yang rapat. Pencucian zona akar melalui drainase terkendali dapat berhasil mencegah kondisi racun untuk tanaman padi.
Aliran air tanah menyamping yang dipergunakan untuk mencuci tanah secara teori dapat ditingkatkan dengan cara menciptakan beda tinggi hidraulik antara suplai terpisah dan saluran drainase. Namun demikian secara praktek, mungkin sulit untuk mempertahankan beda tinggi yang besar antara parit-parit yang berdekatan untuk periode yang panjang.
Selama periode terjadi curah hujan yang berlebihan, tinggi muka air tanah yang terdapat diantara saluran-saluran dapat melampaui tinggi muka air
pada kedua saluran, dan oleh sebab itu mencegah infiltrasi. Masalah lainnya adalah bahwa lahan-lahan yang terdapat disepanjang parit suplai dapat menderita kekurangan drainase, sedangkan kualitas air yang tergenang dalam parit tersebut berkemungkinan akan menjadi buruk. Oleh karena itu, desainer harus sangat berhati-hati apabila mendesain saluran suplai dan saluran drainase yang terpisah untuk kepentingan pencucian tanah.
Pada tempat dimana pembilasan saluran dan pencegahan kondisi air tergenang penting dilakukan (ini terjadi hampir disetiap tempat), desain harus menghindari pembuatan saluran yang tertutup. Pembilasan dapat berlangsung sangat baik pada saluran-saluran yang mudah dimasuki air pasang. Itu berarti bahwa tinggi dasar saluran harus berada antara tinggi muka air pasang surut rendah pada bagian luar dan tinggi muka air rata- rata. Dengan tinggi dasar saluran yang lebih rendah, maka drainase seluruh bagian saluran mungkin sulit dilakukan.
2.5.4. Irigasi Pompa
Irigasi dengan menggunakan pompa biasanya terbatas untuk tanaman palawija dan tanaman sayur-sayuran pada waktu musim kemarau. Areal- areal yang diirigasi biasanya kecil dan walaupun areal-areal tersebut dapat bertambah luas pada tahun-tahun mendatang, areal-areal yang luas tidak mungkin mendapatkan suplai air melalui irigasi pompa.
Oleh karena itu, untuk menentukan ukuran saluran, tidak perlu mempertimbangkan persyaratan irigasi. Suatu pengecualian yang perlu diperhatikan adalah tinggi dasar saluran. Jika irigasi pompa akan diterapkan, dasar saluran pada lokasi pompa harus berada dibawah tinggi muka air pasang surut rata-rata pada saluran yang bersangkutan di musim kemarau untuk memungkinkan pemompaan selama siang hari penuh.
Sebagai alternatif, dianjurkan agar memasang bangunan-bangunan. retensi air untuk memasukan air pada waktu pasang tinggi dan mencegah air keluar saat surut.
Untuk kegiatan irigasi pompa, unit-unit pompa jinjing yang kecil, yang dapat memompa air dari saluran tersier langsung ke sawah, sering merupakan pilihan yang terbaik. Dengan cara ini, diperoleh keluesan maksimum, karena tidak dibutuhkan parit-parit irigasi yang panjang (di atas ketinggian sawah) yang memerlukan pemeliharaan intensif, mudah bocor, dan dapat menyulitkan drainase dan angkutan. Selain itu, jika ditinjau dari segi organisasi, pompa yang dimiliki dan dioperasikan sendiri oleh masing- masing petani lebih disukai dari pada unit-unit pompa yang lebih besar.
2.5.5. Suplai Air untuk Keperluan Rumah Tangga
Walaupun semua saluran yang mengalir di sepanjang areal-areal pemukiman adalah penting untuk suplai air untuk keperluan rumah tangga (mandi dan cuci), hal ini biasanya tidak berdampak terhadap desain saluran. Namun demikian, dapat mempengaruhi kegiatan operasi bangunan pada saluran tersebut.
2.6. Tata Letak dan Jenis Bangunan Pengendali Air Pada Saluran
Dalam konsep pengembangan jaringan irigasi rawa secara bertahap, pada mulanya sering direncanakan sistem saluran terbuka, tanpa mempergunakan bangunan pengendali air. Bangunan-bangunan pengendali air dan pengelolaan air yang telah disempurnakan diperkenalkan pada tahap berikutnya. Kebutuhan akan bangunan dapat dipertimbangkan apabila telah tersedia pengetahuan yang lebih tepat mengenai kondisi perbatasan hidrolik, dan apabila ketinggian lahan, sebagai akibat penyusutan, dan kondisi tanah telah menjadi lebih stabil dari pada tahap awal.
Bangunan-bangunan pengatur muka air berfungsi mengatur muka air di jaringan irigasi rawa sampai batas-batas yang diperlukan untuk dapat memberikan muka air tanah dilahan yang konstan. Bangunan pengatur mempunyai potongan pengontrol aliran yang dapat disetel atau tetap. Untuk bangunan-bangunan pengatur yang dapat disetel dianjurkan untuk menggunakan pintu sorong, bangunan tabat atau lainnya. Kebutuhan akan bangunan pengendali air terutama tergantung dengan fungsi sistem saluran Irigasi Rawa. Kebutuhan akan bangunan harus mempertimbangkan
kembali secara hati-hati disetiap kesempatan. Disamping aspek-aspek pengelolaan air, pertimbangan khusus harus diberikan pada persyaratan operasi bangunan dikaitkan dengan tenaga kerja yang tersedia, dan pada biaya konstruksi dan Operasi dan Pemeliharaan.
2.6.1. Fungsi Bangunan
Bangunan pengendali air dilengkapi dengan daun pintu yang dipergunakan untuk memblok aliran air sebagian atau seluruhnya. Fungsi bangunan erat kaitannya dengan fungsi saluran dan mencakup :
1) Pencegahan banjir
Untuk mencegah banjir, saluran harus ditutup dengan mempergunakan daun pintu bangunan atau tanggul saluran yang ditinggikan. Semakin tinggi permukaan tanah yang terdapat disekitar saluran, maka semakin sedikit bangunan (walaupun lebih besar) yang dibutuhkan dan semakin pendek tanggul yang diperlukan.
2) Drainase terkendali
Mempertahankan tinggi muka air saluran beberapa dm dibawah permukaan tanah dengan cara menutup sebagian pintu bangunan (pintu sekat) dapat meningkatkan pencucian tanah.
3) Pembilasan saluran
Dengan cara mengatur keluar masuknya aliran air, air yang terkena polusi dapat berhasil dikosongkan dari saluran.
4) Retensi air
Menjaga agar pintu tetap tertutup selama periode curah hujan rendah dapat membantu mempertahankan tinggi muka air tinggi pada saluran dan sawah-sawah.Bangunan untuk tujuan ini sangat baik ditempatkan ditingkat tersier untuk menyesuaikan tinggi muka air tersebut dengan perbedaan topografi.
5) Suplai air
Dengan cara membuka pintu hanya pada waktu tinggi muka air pada bagian luar lebih tinggi daripada tinggi muka air pada bagian dalam, suplai air netto kesaluran dapat dicapai.
6) Pengendalian kecepatan aliran air
Pada waktu transisi saluran dengan tinggi dasar yang berbeda, diperkirakan terjadi kecepatan aliran air yang tinggi yang dapat mengancam stabilitas dasar dan lereng sisi saluran. Bangunan yang dilengkapi dengan bangunan terjun yang dibangun ditempat itu dan bagian-bagian pelindung masuk dan keluarnya air dapat mencegah kerusakan semacam itu.
2.6.2. Lokasi Bangunan
Lokasi yang terbaik dari bangunan-bangunan pengendali air tergantung dengan fungsi bangunan tersebut. Bangunan yang dipergunakan untuk mencegah agar banjir atau air asin tidak memasuki areal pada prinsipnya sangat baik ditempatkan pada tingkat primer yang paling tinggi yang menghendaki hanya sedikit bangunan (walaupun besar) dan tanggul pengaman banjir hanya disepanjang sungai.
Bangunan-bangunan untuk pengendalian air internal (drainase, retensi air, suplai) pada prinsipnya sangat baik ditempatkan pada tingkat tersier yang terendah atau bahkan pada tingkat kuarter. Kendatipun hal ini menghendaki sejumlah besar bangunan, pengelolaan air dapat disesuaikan dengan cara yang lebih baik dengan kondisi-kondisi khusus di areal yang bersangkutan.
Jika bangunan diperlukan baik untuk pengendalian air internal maupun untuk pengaman banjir dan salinitas, bangunan tersebut pada umumnya dapat dikombinasikan kedalam satu bangunan, yang ditempatkan pada tingkat tersier (diperlukan banyak bangunan kecil dilengkapi dengan tanggul banjir disepanjang seluruh saluran primer dan sekunder) atau pada tingkat yang lebih tinggi (diperlukan sedikit bangunan dan tanggul, namun pengendalian internal menjadi kurang efektip.
Sebagai alternatip, disarankan agar membangun bangunan-bangunan di kedua tingkat pada sistem saluran, yaitu pada tingkat tersier untuk pengendalian air internal dan di tingkat yang lebih tinggi untuk mencegah agar banjir air asin tidak masuk. Bangunan-bangunan yang terdapat pada saluran primer atau sekunder juga akan memungkinkan pengendalian air
yang lebih baik pada saluran primer / saluran sekunder tersebut, yang pada gilirannya dapat meningkatkan daya guna bangunan pengendali air tersier.
Pertimbangan penting lainnya yang perlu diingat adalah jalan masuk menuju bangunan tersebut. Pada areal-areal yang berada diluar pemukiman, pemeriksaan harian semacam itu tidak mungkin dilakukan, dan dalam keadaan demikian, bangunan harus dipindahkan ke tempat lain atau tidak dibangun sama sekali. Sebaliknya, jika akan ditugaskan seorang penjaga pintu yang permanen, rumah penjaga pintu bangunan tersebut harus dibangun dekat bangunan.
2.6.3. Jenis Pintu Bangunan
Pintu bangunan yang dianggap paling sesuai untuk bangunan pengendali air di jaringan-jaringan irigasi rawa lebak adalah pintu sekat, pintu ulir / pintu sarong. Keuntungan dan kerugian dari berbagai jenis pintu bangunan tersebut diuraikan dibawah ini dan disimpulkan dalam Tabel 2.2.
Tabel 2. 2 - Keuntungan dan Kerugian Berbagai Pintu
Pintu Fungsi Keuntungan Kerugian
Sekat - Drainase Terkendali - Retensi Air
- Konstruksi Sederhana - Pemeliharaan
Mudah
- Pintu Sekat Mudah Hilang - Bocor Antara Pintu - Operasi Semakin Sulit
Pada Saluran-Saluran Yang Lebih Besar Ulir - Retensi Air
- Mencegah Masuknya Air Banjir, Air
Berkualitas Buruk
- Operasi Mudah
- Relatip Mahal - Operasi Disesuaikan
Dengan Pasang - Perlu Diperikasa Setiap
Hari
a) Pintu Sekat
Pintu Sekat adalah balok kayu yang dapat dipasang pada alur pintu/sponing bangunan. Pintu ini berfungsi untuk mengatur muka air saluran pada ketinggian tertentu. Bila muka air lebih tinggi dari pintu sekat balok, akan terjadi aliran diatas pintu sekat balok tersebut.
Pintu sekat juga bisa disebut bangunan yang paling murah dan mudah dibuat. Pintu tersebut mudah dipelihara dan khususnya berguna untuk menahan tinggi muka air minimum pada saluran (drainase terkendali).
Pengoperasian bangunan pintu sekat pada saluran-saluran tersier kecil relatif mudah, dan menjadi sulit pada saluran-saluran yang lebih besar : memasang dan membuka balok sekat mengharuskan seseorang harus turun kedalam saluran, dan mungkin memerlukan lebih dari satu orang.
Kerugian lainnya adalah balok sekat tersebut cenderung hilang, dan sering tidak terpasang rapat sehingga mengakibatkan kebocoran.
Kebocoran tersebut dapat diatasi dengan cara menambahkan kepingan karet pada balok sekat. Yang pasti, pintu sekat merupakan pilihan yang baik untuk saluran-saluran tersier kecil, namun untuk saluran-saluran tersier yang lebih besar dan saluran-saluran sekunder pintu sekat menjadi terlalu sulit untuk dioperasikan.
b) Pintu Ulir/Pintu Sorong
Fungsi Pintu Sorong adalah untuk mengatur aliran air yang melalui bangunan sesuai dengan kebutuhan seperti : menghindari banjir dan menahan air di saluran pada saat musim kemarau.
Pintu ulir mudah dioperasikan (jika dibangun sebagaimana mestinya) dan disamping itu pelumasan alat angkatnya memerlukan sedikit pemeliharaan. Karena pintu ulir biasanya merupakan pintu untuk aliran air bagian bawah, pintu ulir sangat baik dioperasikan dengan cara terbuka penuh atau tertutup penuh, dan oleh karena itu merupakan pilihan terbaik untuk operasi darurat, misalnya pada tempat-tempat dimana saluran kadang-kadang harus ditutup untuk menahan air banjir.
Mempertahankan tinggi air minum sulit dilakukan dan hanya pengalaman yang dapat membantu untuk memutuskan pintu yang mana yang harus dibuka agar dapat mempertahankan tinggi muka air tertentu pada saluran sebelah hulu. Sebagai alternatif, dapat dipertimbangkan pintu ulir yang dilengkapi dengan pintu aliran atas sebagai ganti pintu aliran bawah, namun konstruksi dan pemeliharaannya lebih rumit dan pintu lebih mudah rusak.
2.6.4. Disain Bangunan
Setelah fungsi, jenis dan lokasi bangunan ditetapkan, disain bangunan tersebut dapat dimulai. Aspek-aspek lain yang perlu dipertimbangkan dalam disain bangunan pengendali air adalah :
a) Kondisi tanah lokal untuk fondasi b) Ukuran bangunan
c) Harga bahan relatif
d) Kemampuan tenaga kerja yang tersedia e) Beban yang diperkirakan
Keputusan penting yang selanjutnya harus diambil adalah mengenai pemilihan bahan bangunan, metoda fondasi.
a) Bahan bangunan
Keputusan penting yang harus diambil adalah mengenai pemilihan bahan bangunan : kayu, beton atau ferrosemen. Beberapa keuntungan dan kerugian mengenai bahan-bahan bangunan ini diuraikan dalam tabel 2.3.
Tabel 2. 3 - Keuntungan dan Kerugian Bahan Bangunan Untuk Bangunan Pengendali Air
Bahan Keuntungan Kerugian
Kayu - Bobotnya ringan
- Tersedia ditempat
- Masa pakai singkat - Diperlukan perawatan di
pabrik
- Mutu kayu gesekan sering tidak baik (balok menjadi melengkung)
- Kayu yang bermutu baik menjadi semakin jarang ditemukan
Beton - Bahan kuat
- Konstruksinya mudah
- Agregat tidak tersedia ditempat
- Pengendalian mutu sulit dilakukan
Ferrosemen - Bobotnya ringan
- Pengendalian mutu unsur pracetak baik
- Pemasangan unsur cepat
- Mahal
- Pemasangan rumit jika dikombinasikan dengan beton
- Mudah rusak pada waktu
diangkut Fiberglass - Murah
- Bobot Ringan - Pemasangan cepat.
- Pengendalian mutu eaktu pra cetak
- Anti Karat.
- Mudah Pecah.
- Pemasangan rumit bisa dikombinasikan dengan beton.
- Mudah terbakar.
Perhatian khusus harus diberikan pada daya tahan bahan bangunan bila dipergunakan dalam lingkungan agresip (asam,asin). Kayu, beton dan unsur baja memerlukan tindakan pengamanan khusus. Pada prinsipnya, bangunan juga dapat dibuat dari baja atau alumunium, namun ketersediaan bahan tersebut merupakan masalah dan sampai sekarang ini belum ada pengalaman yang menyangkut penggunaan bahan tersebut pada jaringan-jaringan irigasi rawa.
b) Metode Fondasi
Rembesan air merupakan suatu ancaman yang permanen terhadap stabilitas bangunan, dan oleh karena itu memerlukan penggunaan tiang pancang vertikal. Tiang-tiang pancang vertikal ini juga berfungsi sebagai fondasi. Metode fondasi lainnya adalah dengan mempergunakan rakit atau lampatan yang diletakan langsung diatas tanah, dengan syarat bahan tanah organik atau tanah liat sangat lembut dibuang atau diganti dengan tanah yang lebih baik. Karena tiang pancang sering dibutuhkan, maka hubungan antara rakit dan tiang pancang perlu diperhatikan secara khusus guna mencegah agar tiang pancang tersebut tidak mengambil alih fungsi rakit. Tanah lapisan bahwa yang lembut sampai sangat lembut yang terdapat pada lahan rawa perlu diperhatikan secara khusus bila akan dipergunakan untuk fondasi bangunan. Fondasi tiang sering diperlukan, dengan tiang yang dirancang atas gesekan, tiang gelam dapat dipergunakan jika tiang- tiang tersebut terendam secara permanen. Untuk mengatasi terbatasnya panjang tiang gelam yang tersedia, maka dipergunakan sejumlah tiang dengan jarak yang rapat.
c) Bangunan pengendali air dikombinasikan dengan penyeberangan jalan
Mengkombinasikan bangunan pengendali air dengan penyeberangan jalan kedalam satu bangunan lebih murah daripada membangun dua bangunan yang terpisah. Namun demikian, pada prakteknya, dua bangunan kadang-kadang lebih disukai, karena lokasi yang diperlukan tidak betul-betul sesuai (penyebrangan jalan harus mengikuti alinemen jalan yang sering dekat dengan saluran utama, sementara bangunan pengendali air pada saluran yang sering dekat dengan saluran utama, sementara bangunan pengendali air pada saluran yang bercabang kadang-kadang lebih disukai berada pada jarak tertentu dari saluran utama) , atau karena dua bangunan tersebut dimiliki oleh instansi yang berbeda, dll
d) Papan Duga
Bangunan pengendali air pada saluran primer dan sekunder harus dilengkapi dengan dua buah papan duga, yaitu satu papan duga pada bagian hulu dan satu buah lagi pada bagian hilir pintu bangunan, yang dipergunakan untuk memeriksa tinggi muka air dan memudahkan operasi pintu. Papan duga tersebut harus memiliki elevasi nol yang sama. Pada bangunan tersier, satu buah papan duga mungkin sudah cukup, yang diletakan pada sisi hulu (sisi dimana tinggi muka air dikendalikan oleh pintu bangunan). Elevasi nol dari semua papan duga harus dinyatakan dalam Ketinggian Referensi Proyek (PRL) sehingga tinggi muka air tersebut dapat dibandingkan satu sama lain dan dengan elevasi lahn pada areal yang dikendalikan oleh saluran. Untuk memudahkan pasangan kembali papan duga tersebut setelah diganggu, titik tetap pada beton setiap bangunan harus ditandai sebagai bench mark. dengan elevasi dalam PRL yang dicat berdampingan dengan elevasi tersebut.
2.6.5. Tata Letak Jalan dan Jembatan
Jalan utama yang ditempatkan sepanjang saluran primer, selain berfungsi sebagai jalan inspeksi juga sebagai pengubung berbagai lokasi permukiman. Dengan semakin berkembangnya daerah rawa, transportasi darat akhirnya akan lebih utama dibanding transportasi air. Jalan jalan inspeksi sekunder diperlukan untuk inspeksi, eksploitasi dan pemeliharaan jaringan sekunder.
Masyarakat boleh menggunakan jalan-jalan inspeksi ini untuk keperluan- keperluan tertentu saja. Apabila saluran dibangun sejajar dengan jalan umum di dekatnya, maka tidak diperlukan jalan inspeksi di sepanjang ruas saluran tersebut. Biasanya jalan inspeksi terletak di sepanjang sisi saluran irigasi rawa pasang surut. Jembatan dibangun untuk saling menghubungkan jalan-jalan inspeksi di seberang saluran irigasi rawa atau untuk menghubungkan jalan inspeksi dengan jalan umum.
2.6.6. Tata Letak Bangunan Pelengkap
Bangunan-bangunan pelengkap yang dibuat di dan sepanjang saluran meliputi :
a) Pagar, rel pengaman dan sebagainya, guna memberikan pengamanan sewaktu terjadi keadaan-keadaan gawat;
b) Tempat-tempat cuci, tempat mandi ternak dan sebagainya, untuk memberikan sarana untuk mencapai air di saluran tanpa merusak lereng.
2.7. Pengamanan Banjir
Pengaman banjir diperlukan untuk melindungi daerah irigasi rawa terhadap banjir yang berasal dari sungai atau saluran pembuang yang besar.Tanggul-tanggul diperlukan untuk melindungi daerah irigasi rawa terhadap banjir yang berasal dari sungai atau saluran pembuang yang besar.Pada umumnya tanggul diperlukan di sepanjang sungai di sebelah hulu pintu sekunder atau di sepanjang saluran primer.Fasilitas-fasilitas eksploitasi diperlukan untuk eksploitasi jaringan rawa secara efektif dan aman.fasilitas-fasilitas tersebut meliputi antara lain : kantor-kantor di lapangan, bengkel, perumahan untuk staf rawa , jaringan kamunikasi, patok
hektometer, papan eksploitasi, papan duga, dan sebagainya. Pengaman banjir yang diperlukan untuk lahan rawa tergantung dengan jenis banjir.
2.7.1. Banjir dari Permukaan Sungai Tinggi
Dibagian hulu zona pasang surut, terjadi banjir yang berlangsung lama di musim hujan. Tanggul yang diperlukan untuk areal-areal pertanian biasanya berdasarkan atas kriteria 1 kali banjir dalam waktu 20 tahun yang harus ditetapkan berdasarkan hasil studi hidrologi sungai, dengan mempertimbangkan perkiraan pengembangan mendatang pada areal tangkapan serta pengaruh dari tanggul itu sendiri.
2.7.2. Banjir yang Disebabkan Limpasan Air dari areal-Areal Sekitarnya
Banjir ini menyangkut limpasan permukaan dari areal gambut dan mengalir melalui tempat-tempat yang dangkal atau sungai alam. Dikarenakan topografi yang datar dan tidak tersedianya data topografi dari areal-areal yang terdapat di luar jaringan, maka areal-areal tangkapan dan aliran puncak yang diharapkan hanya dapat diperkirakan. Pengukuran- pengukuran yang dilaksanakan pada sungai alam atau sungai-sungai kecil selama survei hidrologi, namun demikian, dapat memberikan indikasi tentang susunan besaran aliran. Areal-areal hutan bergambut jarang menimbulkan banjir mendadak yang berarti karena tanah gambut berfungsi sebagai bunga karang yang sangat besar yang menyerap dan secara berangsur-angsur melenyapkan curah hujan yang berlebihan.
Proteksi dapat disediakan dengan mempergunakan saluran penampung disepanjang perbatasan jaringan, dengan tanggul pada bagian hilir saluran yang dibangun dari tanah galian (atau jika perlu dari tanah yang didatangkan daerah luar daerah). Saluran penampung tersebut akan mengalirkan limpasan air ke sungai yang terdekat atau kesalah satu saluran utama yang ada pada jaringan. Pilihan yang terakhir ini menghendaki saluran tersebut diperluas, dan tanggul saluran tersebut mungkin harus ditinggalkan. Penutupan dan pengelakan sungai alam sering terbukti sulit untuk dilakukan. Sungai-sungai alam adalah jalan drainase yang terbentuk secara alami yang melintasi areal-areal rendah baik yang
berada di luar maupun di dalam jaringan. Walaupun sungai alam tersebut berhasil ditutup, namun areal-areal tersebut cenderung tetap berawa-rawa.
Oleh karena itu, sungai alam ini lebih baik dibiarkan dalam keadaan semula, paling tidak selama tahun-tahun pertama penempatan dimana kondisi tanah/ air belum stabil dan sifat sungai alam tersebut belum diketahui (luas dan kedalaman banjir di musim hujan). Jika saluran harus memotong sungai alam, mungkin diperlukan pintu inlet pada tanggul guna memproteksi tanggul saluran tersebut. Dalam segala hal, desain harus mempertimbangkan penyusutan lahan dan penurunan tanah galian yang mungkin terjadi dikemudian hari yang menghendaki agar tanggul diberikan kelebihan tinggi yang cukup..
Untuk menjaga agar panjang tanggul yang diperlukan tetap pendek, maka tanggul pengaman banjir sangat baik diletakkan disepanjang batas jaringan bagian luar. Pada tempat dimana saluran-saluran primer harus melintasi tanggul, diperlukan bangunan-bangunan pintu, atau jika hal ini tidak memungkinkan, misalnya dikarenakan fungsi navigasi saluran tersebut, maka tanggul banjir tersebut harus diperluas disepanjang saluran-saluran primer, dan disepanjang saluran-saluran lainnya yang berhubungan terbuka dengan sungai.
Lokasi yang terbaik untuk tanggul pengaman banjir dan bangunan harus dipertimbangkan secara hati-hati pada setiap situasi. Disamping biaya yang meningkat, kerugian-kerugian lain akibat memperluas tanggul pengaman banjir disepanjang saluran sekunder dan tersier adalah Hilangnya lahan pertanian dan Perusakan aliran drainase dari lahan rumah dan lahan usaha (mungkin perlu dipasang gorong-gorong kecil berpintu).
2.8. Latihan
1. Apa saja yang termasuk dalam Jaringan Reklamasi Rawa itu, jelaskan.
2. Jelaskan 3 pilar untuk pengelolaan air pada Jaringan irigasi rawa?.
3. Jelaskan mengenai keuntungan dan kerugian pintu sekat dan ulir ? 4. Jelaskan jua mengenai keuntungan dn kerugian dari bahan yang
digunakan pada bangunan pengendali air ?
5. Apa fungsi dari saluran : Primer,Drainase Sekunder dan tersier itu ? 2.9. Rangkuman
Jaringan Reklamasi Rawa
Secara prinsip ada 3 pilar pengelolaan air yang harus tercakup dalam pengembangan Jaringan Irigasi rawa , yaitu:
1) Konservasi rawa, 2) Pendayagunaan rawa 3) Pengendalian daya rusak.
Perencanaan sistem jaringan irigasi rawa untuk jaringan baru maupun untuk peningkatan jaringan yang sudah ada meliputi :
1) Perencanaan Awal Tata letak sistem saluran 2) Perencanaan Untuk Tataguna lahan
3) Perencanaan Hidrotopografi Rawa Lebak 4) Fungsi Prasarana Hidrolik
5) Tata Letak dan Jenis Bangunan Pengendali Air Pada Saluran 6) Pengamanan Banjir
Tata letak petak lahan untuk areal permukiman di lahan rawa mempunyai persyaratan sebagai berikut:
a) Drainase :.
b) Fasilitas Umum c) Mudah dicapai : d) Jarak Perjalanan :
e) Garis Sempadan saluran dan jalan :
f) Perbedaan tataguna lahan g) Batas Pembukaan Lahan
h) Suplai air untuk keperluan rumah tangga : i) Keluesan pengalokasian lahan
Fungsi prasarana hidraulik tersebut meliputi:
a) Drainase air yang berlebihan b) Retensi air
c) Pengembangan tanah : pencucian unsur asam dan racun d) Pengeluaran unsur racun melalui pembilasan salura e) Banjir Sungai
f) Mencegah drainase yang berlebihan, mengisi air tanah g) Irigasi pompa
h) Suplai air untuk keperluan rumah tangga
Bangunan pengendali air dilengkapi dengan daun pintu yang dipergunakan untuk memblok aliran air sebagian atau seluruhnya.
Fungsi bangunan erat kaitannya dengan fungsi saluran dan mencakup : a) Pencegahan banjir
b) Drainase terkendali c) Pembilasan saluran d) Retensi air
e) Supai air
f) Pengendalian kecepatan aliran air
Aspek-aspek lain yang perlu dipertimbangkan dalam disain bangunan pengendali air adalah :
a) Kondisi tanah lokal untuk fondasi b) Ukuran bangunan
c) Harga bahan relatif
d) Kemampuan tenaga kerja yang tersedia e) Beban yang diperkirakan
BAB III
KRITERIA PERENCANAAN JARINGAN IRIGASI RAWA
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat diharapkan dapat menjelaskan kriteria perencanaan jaringan irigasi rawa
3.1 Drainase Maksimum
Selama terjadi hujan lebat, suatu hal yang tidak dapat dihindari adalah bahwa tinggi muka air (tanah) untuk sementara waktu naik keatas tinggi muka air yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Namun demikian, tinngi muka air ini akan kembali normal dalam periode waktu tertentu.
Tergantung atas jenis tanaman, kriteria ini ditetapkan untuk tanaman sebagai berikut :
a) Tanaman Padi : Curah hujan selama 3 hari maksimum 1 kali dalam 5 tahun, dikurangi dengan kenaikan penampungan lahan sebesar 50 mm, harus dikosongkan dalam waktu 3 hari
b) Tanaman Palawija : Curah hujan selama 4 hari maksimum 1 kali dalam 5 tahun harus dikosongkan dalam waktu 4 hari. Selama dua hari pertama pada umumnya terjadi limpasan permukaan, dan selama dua hari berikutnya pada umumnya terjadi limpasan air tanah.
c) Tanaman Keras : Curah hujan selama 6 hari maksimum 1 kali dalam 5 tahun harus dikosongkan dalam waktu 6 hari. Selama tiga hari pertama pada umumnya terjadi limpasan permukaan, dan selama tiga hari berikutnya terjadi limpasan air tanah.
Persyaratan untuk areal-areal rumah dan areal-areal komunal adalah sama seperti persyaratan untuk tanaman keras. Kriteria ini merupakan dasar bagi perhitungan modul drainase (persyaratan drainase dinyatakan dalam I/detik/ha), sebagaimana diperhatikan dalam contoh pada Gambar III.1 sampai Gambar III.3 yang mempergunakan data curah hujan untuk wilayah Sumatera Selatan.
Drainase harus dilakukan pada waktu tinggi muka air saluran tersier berada 10 cm dibawah tinggi muka air ( tanah ) yang diinginkan pada lahan tersebut. Tabel 3.1 memperlihatkan modul drainase dan persyaratan tinggi muka air yang ditetapkan untuk Proyek Telang-saleh di Sumatera Selatan.
Dalam hal ini, kriteria disain yang menolak adalah bahwa pengeluaran air tanah untuk tanaman palawija dengan tinggi muka air rencana disaluran tersier berada 0,60 m dibawah permukaan tanah, atau 0,10 m lebih rendah daripada tinggi muka air tanah rencana, yaitu 0,50 m dibawah permukaan tanah.
Tabel 3. 1 - Modul drainase dan Kriteria tinggi muka air
Jenis
Penggunaan Lahan
Limpasan Permukaan Limpasan Permukaan Bawah
Pengeluaran lt/detik/ha
Muka air saluran tersier m dari NGL
Pengeluaran lt/detik/ha
Muka air saluran tesier m dari NGL
Padi Sawah 4.9 - 0 .10 - -
Tanaman Pangan lahan kering
6.3 - 0.10 4.9 - 0.60
Tanaman Keras 4.9 - 0.10 4.5 - 0.60
Lahan Pekarangan
6.3 - 0.10 4.9 - 0.60
Areal Ekonomi 15.0 - 0.10 - -
Areal Umum 6.3 - 0.10 4.9 - 0.60
Jalur Hijau 3.0 - 0.10 - -
3.2 Persyaratan Drainase
Persyaratan drainase diperhitungkan dengan cara mengalikan modul drainase dengan luas areal kotor. Faktor penurunan areal sebesar 0,9 dapat diterapkan untuk areal-areal yang luasnya melebihi 1.000 ha
3.3 Kemampuan Drainase
Pada waktu terjadi curah hujan normal, sistem drainase harus mampu mempertahankan kedalaman air tanah ( lihat Bagian 2.9 ) sebagai berikut :
a) Tanaman Padi 30 cm
b) Tanaman Lahan Kering ( Palawija ) 30 – 60 cm
c) Areal Rumah dan Desa 30 – 50 cm
d) Tanaman Keras 60 cm
Curah hujan normal yang dimaksudkan disini adalah curah hujan bulanan yang tertinggi yang terjadi satu kali dalam 5 tahun yang terbagi rata sepanjang bulan yang bersangkutan. Aliran air yang diinginkan selalu lebih kecil daripada waktu drainase badai, namun mempengaruhi disain drainase untuk areal-areal rendah.