• Tidak ada hasil yang ditemukan

Istilah pastoral berasal dari kata pastor dalam bahasa Latin atau dalam bahasa

N/A
N/A
Michelle Wijaya

Academic year: 2023

Membagikan "Istilah pastoral berasal dari kata pastor dalam bahasa Latin atau dalam bahasa"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

Pastoral

Istilah pastoral berasal dari kata pastor dalam bahasa Latin atau dalam bahasa Yunani disebut poimen yang artinya gembala. Secara tradisional dalam kehidupan gerejawi hal ini merupakan tugas Pendeta yang harus menjadi gembala bagi jemaat atau dombanya. Pengistilahan ini dihubungkan dengan diri Yesus Kristus dan karyaNya sebagai “Pastor Sejati atau Gembala Yang Baik”. Istilah pastor dalam konotasi praktisnya berarti merawat atau memelihara.1Seorang yang bersifat pastoral adalah seseorang yang bersifat seperti gembala, yang bersedia merawat, memelihara, melindungi, dan menolong orang lain.2Bahkan seorang yang bersifat pastoral merasa bahwa karya semacam itu adalah “yang seharusnya” di lakukannya katakanlah bahwa itu adalah “tanggung jawab dan kewajiban” baginya3

Sejak zaman Reformasi istilah pastoral telah dipakai dalam dua pengertian yakni:4 (1) “Pastoral” dipakai sebagai kata sifat dari kata benda “pastor”. Istilah

“pastoral” merujuk pada tindakan penggembalaan. Dalam hal ini penggembalaan dilihat sebagai apa pun yang dilakukan oleh pastor (gembala). Seorang pastor hendaknya memiliki motivasi, watak dan kerelaan yang kuat sehingga seluruh tindakan yang diperbuatnya tidak terlepas dari sikap penuh perhatian dan kasih sayang kepada seseorang atau sekelompok orang yang dihadapinya. Sikap pastoral

1 Aart Van Beek, Pendampingan Pastoral (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), hal. 9-10

2M.Bons Storm, Apakah Penggembalaan itu, (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2005), hal. 9

3 Van, Beek Aart, Konseling Pastoral Sebuah Buku Pegangan Bagi Para Penolong Di Indonesia, (Satya Wacana: Semarang, 1987), hal. 6

4 Tjard G. Hommes dan E. Gerrit Singgih (editor), Teologi dan Praksis Pastoral (Yogyakarta: Kanisius, 1994), hal. 72-79

(2)

berarti suatu kesediaan dan kesegeraan tampil kalau dibutuhkan. (2) Dalam pengertian kedua istilah “pastoral” merujuk pada studi tentang penggembalaan (poimenics).

Pengertian ini muncul bersamaan dengan sederet fungsi-fungsi penting lain dari pendeta dan gereja, seperti: kateketik, homiletik, pengajaran agama dan lain- lain. Fungsi-fungsi ini bersifat struktural/kategorial. Dari dua pengertian tersebut, penggembalaan/ pastoral memiliki tempat yang unik dalam kekristenan. Dalam pengertian bahwa hubungan kita dengan Tuhan (vertikal) dan hubungan kita dengan sesama manusia (horizontal) dianggap tidak terpisahkan. Adapun pastoral dilihat dalam dua pendekatan, yaitu:

1. Pendampingan pastoral

Dalam buku “Pastoral Care in Historical Perspective” dikatakan bahwa pelayanan Kristen yang berupa pemeliharaan jiwa (Cure of Soul) disebut juga pendampingan pastoral. Pendampingan pastoral telah banyak dilakukan terhadap situasi kehidupan manusia, yang bertujuan untuk meringankan atau menolong kebingungan yang melanda manusia. Pendampingan pastoral atau pemeliharaan jiwa, terdiri dari tindakan-tindakan pertolongan yang dilakukan atas nama gereja, dan yang menjurus kepada penyembuhan, pendampingan, bimbingan dan perdamaian orang-orang yang bermasalah, khususnya berhubungan dengan masalah-masalah yang paling pokok dan mendasar dalam kehidupan manusia.5 Pendampingan pastoral merupakan cabang dari pastoral yang dikhususkan pada pemeliharaan jiwa-jiwa. Kegiatan pemeliharaan jiwa-jiwa, menurut F. Haarsma

5William A. Clebsch and Charles R. Jaekle, Pastoral Care in Historical Perspective, (Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, 1964), hal. 1-10

(3)

berpusat pada orang perorangan dan atau kelompok kecil. Inilah pendampingan pastoral dalam arti luas. Dalam bahasa Latin disebut “cura animarum” yang berarti pemeliharaan rohani, atau pemeliharaan jiwa-jiwa. Dalam artinya yang sempit, pendampingan pastoral berarti pemeliharaan rohani dari golongan-golongan yang memerlukan perhatian khusus, misalnya, pendampingan pastoral untuk orang sakit.6 Di rumah sakit, mereka sudah menerima perawatan secara jasmani. Tetapi di samping itu, mereka juga membutuhkan perawatan secara rohani. Inilah arti khusus, atau arti sempit dari pendampingan pastoral yang dipakai oleh banyak rumah sakit, khususnya rumah sakit kristiani. Di rumah sakit seperti itu, disediakan kamar khusus untuk bagian pendampingan pastoral, juga ada tenaga khusus untuk pendampingan pastoral. Tenaga yang biasanya mendukung, antara lain: suster atau tenaga awam lainnya, yang dilatih untuk perawatan rohani. Mesach Krisetya berpendapat bahwa dalam berbagai kemungkinan, suka maupun duka, layanan pastoral itu dibutuhkan. Menurutnya, seluruh pendampingan bersifat pastoral ketika tindakan menolong orang lain tersebut dilandasi oleh keyakinan agamanya.7Hal ini berarti bahwa pendampingan yang bersifat pastoral merupakan hal yang luas yang dapat dilakukan oleh siapa saja (tidak hanya orang yang beragama Kristen) yang ingin melayani sesama secara lebih manusiawi.

Menurut J. D. Engel, jika pendampingan dihubungkan dengan pastoral maka pendampingan tidak hanya sekedar meringankan beban penderitaan tetapi menempatkan orang dalam relasi dengan Allah (yang transenden) dan sesama,

6F. Haarsma, Pastoral Dalam Dunia, (Yogyakarta: Puspas 1991), hal. 10.

7Mesach Krisetya dalam Seri Pastoral dan Konseling: Teologi Pastoral, (Salatiga: UKSW, 2008), hal. 1

(4)

dalam pengertian menumbuhkan dan mengutuhkan orang dalam kehidupan spiritualnya untuk membangun dan membina hubungan dengan sesamanya, mengalami penyembuhan dan pertumbuhan serta memulihkan orang dalam hubungan dengan Allah (yang transenden).8

2. Konseling Pastoral

Pastoral konseling adalah hubungan timbal balik (interpersonal relationship) antara hamba Tuhan (Pendeta, Penginjil, dsb) sebagai konselor dengan konselinya, dalam mana konselor mencoba membimbing konselinya ke dalam suatu suasana percakapan konseling yang ideal (conducive atmosphere) yang memungkinkan konseli itu betul-betul dapat mengenal dan mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri, persoalannya, kondisi hidupnya, dimana ia berada, dsb; sehingga ia mampu melihat tujuan hidupnya dalam relasi dan tanggung jawabnya pada Tuhan dan mencoba mencapai tujuan itu dengan takaran, kekuatan dan kemampuan seperti yang sudah diberikan Tuhan kepadanya.

Selain pengertian di atas, terdapat beberapa definisi konseling pastoral.

Menurut Clinebell, konseling pastoral adalah ungkapan pendampingan yang bersifat memperbaiki (reparatif), yang berusaha membawa kesembuhan bagi orang lain (baik anggota dari suatu gereja maupun anggota dari persekutuan pendampingan lain) yang sedang menderita gangguan fungsi pribadi karena krisis.9 Dalam hal ini konseling pastoral dipahami sebagai wujud dari penyembuhan dalam pendampingan pastoral yang mana tidak terbatas pada anggota gereja tetapi bagi

8J. D. Engel, Konseling Suatu Fungsi Pastoral (Salatiga: Tisara Grafika), 4.

9Howard Clinebell, Tipe-tipe Dasar Pendampingan dan Konseling Pastoral (Yogyakarta:

Practical Theology Translation Project Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana), 17-18.

(5)

persekutuan lainnya. Hampir sama dengan Clinebell, namun di sini Leory Aden mengusulkan pandangannya mengenai konseling pastoral yang lebih luas dan mendalam lagi yakni sebagai suatu perspektif Kristen yang mencari upaya untuk menolong atau menyembuhkan dengan cara ‘menghadiri’ situasi kehidupan seseorang yang mengalami kesulitan. Konseling pastoral ini tidak terbatas hanya melayani mereka yang berada dalam lingkungan iman Kristen saja, tetapi masih dimungkinkan untuk diberikan kepada mereka yang berasal dari luar persekutuan Kristen.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa konseling pastoral tidak hanya sebatas hubungan pertolongan antara dua orang, akan tetapi lebih dari itu. konseling pastoral merupakan hubungan segitiga yang melibatkan Allah, konselor dan pribadi yang sedang mengalami masalah.

Fungsi konseling pastoral

William A. Clebsch dan Charles R. Jaekle dalam bukunya yang berjudul Pastoral Care in Historical Perspektif menyatakan bahwa secara tradisional ada empat fungsi pastoral, yaitu:10

1) Fungsi menyembuhkan.

Bagi mereka yang mengalami dukacita dan luka batin akibat kehilangan atau terbuang, biasanya berakibat pada penyakit psikosomatis, suatu penyakit yang secara langsung atau tidak langsung disebabkan oleh tekanan mental yang berat.

Emosi/perasaan yang tertekan dan tidak terungkapkan melalui kata-kata atau

10William A. Clebsch dan Charles R. Jaekle, Pastoral Care in Historical Perspective, hal.

33-36

(6)

ungkapan perasaan, misalnya menangis, kemungkinan akan disalurkan melalui disfungsi tubuh, misalnya rasa mual, pusing, dada sesak, sakit perut, dan sebagainya. Tindakan pertolongan yang perlu dilakukan oleh pendamping adalah mengajak penderita untuk mengungkapkan perasaan batinnya yang tertekan.

Fungsi ini dipakai oleh pendamping ketika melihat keadaan yang perlu dikembalikan ke keadaan semula atau mendekati keadaan semula, sehingga orang yang didampingi dapat menciptakan kembali keseimbangan yang baru, fungsional, dan dinamis.

2) Fungsi membimbing

Membimbing berarti memberikan pandu kepada orang yang didampingi untuk menemukan jalan yang benar. Pendamping menolong orang yang didampingi untuk memilih/ mengambil keputusan secara mandiri tentang apa yang akan ditempuh atau apa yang menjadi masa depannya. Salah satu caranya adalah dengan mengajukan alternatif. Pendamping juga dapat menolong orang yang didampingi untuk melihat: kekuatan dan kelemahan (internal) serta kesempatan dan tantangan (eksternal). Pemberian nasihat juga dapat dimasukkan dalam fungsi membimbing.

3) Fungsi menopang/menyokong.

Fungsi ini dilakukan bila orang yang didampingi tidak mungkin kembali ke keadaan semula, misalnya kematian orang yang dikasihi. Fungsi menopang dipakai untuk membantu orang yang didampingi menerima keadaan sekarang sebagaimana adanya, kematian adalah tetap kematian, untuk dapat bertumbuh secara penuh dan utuh. Kehadiran pendamping dalam dukacita adalah topangan kepada mereka untuk

(7)

dapat bertahan dalam situasi krisis yang bagaimanapun beratnya. Sokongan ini akan membantu mengurangi penderitaan mereka.

4) Fungsi mendamaikan/memperbaiki hubungan.

Apabila hubungan sosial dengan orang lain terganggu, maka terjadilah penderitaan yang berpengaruh pada masalah emosional. Konflik sosial yang berkepanjangan akan berpengaruh terhadap fisik. Pendampingan berfungsi sebagai perantara untuk memperbaiki hubungan yang rusak dan terganggu. Konselor menjadi mediator/ penengah yang netral dan bijaksana.

Howard Clinebell menambahkan fungsi kelima dari pastoral, yaitu memelihara atau mengasuh (nurturing).11Konselor menolong konseli untuk berkembang sesuai dengan potensi dan kekuatan yang dimilikinya. Menolong di sini bermakna mengasuh mereka ke arah pertumbuhan emosional, cara berfikir, motivasi, kelakuan, tingkah laku, interaksi, kehidupan rohani, dan sebagainya. Melengkapi kelima fungsi di atas, van Beek menambahkan fungsi keenam yaitu fungsi mengutuhkan. Fungsi mengutuhkan adalah fungsi pusat karena sekaligus merupakan tujuan utama dari konseling pastoral, yaitu pengutuhan kehidupan manusia dalam segala aspek kehidupannya, yakni fisik, sosial, mental dan spiritual.

Apabila mengalami penderitaan, keempat aspek ini tercabik sehingga perlu tindakan pertolongan untuk mengutuhkan kembali. Terkecuali penderitaan dipandang sebagai faktor yang diperlukan dalam proses pertumbuhan manusia.

Menurut Carl G. Jung, keutuhan psikis self/ diri hanya dimungkinkan sejauh individu tersebut dapat menerima keadaan hidup yang paradoksal dan ambigu,

11Howard Clinebell, Tipe-tipe Dasar Pendampingan dan Konseling Pastoral (Yogyakarta:

Practical Theology Translation Project Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana), 54.

(8)

penuh dengan pertentangan batin yang harus ditahan di dalam pribadi seseorang.

Dengan demikian individu dapat menciptakan harmonisasi kehidupan tanpa menghilangkan salah satu unsur. Keutuhan individu diukur jika ia berhasil dalam pergumulan dengan pertentangan-pertentangan psikologis sampai kemudian ia berhasil memadukan dan menyeimbangkan pertentangan-pertentangan itu. Jadi tujuan proses individuasi, proses menjadi diri sendiri, bukanlah kesempurnaan moral dan religius melainkan keutuhan psikis yang terintegrasi.

a. Pendekatan integratif dalam konseling pastoral

Van Beek dalam bukunya ‘Konseling Pastoral’,menguraikan secara jelas mengenai pelayanan konseling pastoral secara holistik. Dalam penjelasannya, ia menggunakan istilah perspektif menyeluruh. Adapun uraian berangkat dari titik pandangnya terhadap kehidupan manusia yang sangat kompleks. Perspektif menyeluruh ialah suatu pandangan terhadap situasi dan masalah-masalah konseli yang dapat menghasilkan informasi mengenai semua aspek dalam kehidupannya.12 Dengan kata lain konselor harus mempertimbangkan persoalan-persoalan konseli dalam segala kompleksitasnya. Semua aspek dari kehidupan konseli perlu diperhatikan sedikit banyak untuk menjamin pemahaman yang cukup lengkap mengenai kesulitan yang mengganggu dia. Untuk menyederhanakan kompleksitas hidup manusia itu kita dapat membagi hidup manusia menjadi empat aspek, yaitu:13 1) Aspek fisik

12Aart van Beek, Konseling Pastoral, (Semarang: Satya Wacana, 1987), hal. 24-29

13J. D. Engel, Konseling Suatu Fungsi Pastoral (Salatiga: Tisara Grafika), 25.

(9)

Aspek ini berkaitan erat dengan bagian yang tampak dari hidup kita. Aspek ini terutama mengacu pada hubungan manusia dengan bagian luar dirinya. Dengan aspek fisik ini manusia dapat dilihat, diraba, disentuh, dan diukur.

2) Aspek mental

Aspek ini berkaitan dengan pikiran, emosi, dan kepribadian manusia. Aspek ini juga berkaitan dengan cipta, rasa, karsa, motivasi, dan integrasi diri manusia.

Selanjutnya, aspek mental mengacu pada hubungan seseorang dengan bagian dalam dirinya (batin, jiwa). Sesungguhnya aspek ini tidak tampak, sehingga tidak dapat diraba, disentuh dan diukur. Aspek mental memampukan manusia berhubungan dengan dirinya sendiri dan lingkungannya secara utuh, memberadakan, membuat jarak (distansi), membedakan diri, dan bahkan dengan diri sendiri.

3) Aspek spitual

Aspek ini berhubungan dengan jati diri manusia. Manusia secara khusus dapat berhubungan dengan sang pencipta sejati. Aspek ini mengacu pada hubungan manusia dengan sesuatu yang berada jauh di luar jangkauannya. Inilah aspek vertikal dari kehidupan manusia. Dalam hal ini manusia bergaul dengan sesuatu yang agung, yang berada di luar dirinya dan mengatasi kehidupannya. Aspek ini memungkinkan manusia berhubungan dengan dunia lain, misalnya dunia gaib.

4) Aspek sosial

Aspek ini berkaitan dengan keberadaan manusia yang tidak mungkin berdiri sendiri. Manusia harus dilihat dalam hubungan dengan pihak luar secara horizontal, yakni dunia sekelilingnya. Manusia selalu hidup dalam sebuah interelasi dan interaksi yang berkesinambungan. Manusia tidak dapat tumbuh tanpa relasi dan

(10)

interaksi. Aspek ini memampukan manusia tidak hanya berelasi dan berinteraksi dengan sesama manusia, melainkan juga dengan mahluk ciptaan lain: udara, air, tanah, tumbuhan, binatang, dan sebagainya.

Seluruh aspek hidup manusia saling berkaitan dan mempengaruhi secara sistematik dan sinergik membentuk eksistensi manusia sebagai keutuhan yang bertumbuh mencapai kepenuhannya. Kita dapat membedakan satu aspek dari aspek yang lain, namun pada dasarnya kita tidak dapat memisahkannya, karena keempat aspek tersebut saling berkaitan dan mempengaruhi. Hal tersebut menunjukkan bahwa sesuangguhnya manusia selalu berelasi dengan dirinya sendiri (internal) dan dengan sesuatu yang berada di luar dirinya (eksternal), baik secara fisik, mental, sosial dan spiritual. sesungguhnya manusia bertumbuh dalam suatu proses menjumpai dan dijumpai.

Jennifer Crocker and Amy Canevello dari University of Michigan menulis dalam jurnalnya, bahwa manusia adalah makhluk sosial, mereka membutuhkan hubungan yang mendukung dengan orang lain baik itu fisik maupun psikologis.

Baumeister dan Leary menyatakan bahwa manusia memiliki kebutuhan mendasar yaitu perasaan memiliki dan dimiliki dan mereka membuktikan bahwa orang-orang yang membentuk ikatan sosial akan menciptakan emosi yang positif, dan sebaliknya orang yang tidak ada ikatan sosial akan cenderung memiliki emosi yang negatif, orang yang berpikiran positif ini akan memiliki hubungan yang baik.

Apabila orang itu kurang rasa memiliki dan dimiliki cenderung akan mengalami

(11)

masalah kesehatan baik fisik maupun mental.14 Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada manusia yang dapat bertahan hidup seorang diri saja karena sesungguhnya kodrat manusia itu adalah makhluk sosial. Setiap interaksi yang terjadi pasti akan selalu bersinggungan dengan lingkungan sesamanya dan sesamanya ini akan saling mengisi dalam kehidupannya. Kehadiran sesamanya akan memiliki nilai penuh serta kontribusi yang sangat besar dalam kehidupan seseorang dan pasti akan mengalami kehampaan dalam setiap langkah hidupnya jika tanpa orang lain. Sangat mustahil manusia dapat hidup seorang diri, harus ada teman untuk saling menopang. Ruang kosongnya pasti hanya akan dapat diisi oleh sesamanya.

Berdasarkan penjelasan di atas disimpulkan bahwa konseling pastoral dalam pendekatan integratif dapat dipahami sebagai proses pertolongan kepada sesama manusia secara utuh mencakup aspek fisik, mental, spiritual dan sosial yang bersifat pastoral yaitu menyembuhkan, menopang, membimbing, mendamaikan dan memberdayakan. Hal ini menunjukan sebuah kenyataan bahwa sesungguhnya manusia adalah mahluk yang holistik, artinya dalam kaitan dengan konseling pastoral kita harus melihat orang yang didampingi sebagai mahluk holistik yang sedang mengalami krisis. Ini berarti bahwa orang yang didampingi pertama-tama harus dilihat dalam perspektif kesatuan dan keseluruhan sebelum melihat aspek- aspeknya yang lebih rinci. Secara konkret, ketika menghadapi orang yang sedang mengalami krisis, kita harus melihatnya secara lengkap, utuh dalam keseluruhan sebagai manusia, dan bukan sebagai kasus penyakit atau masalah tertentu.

14Jennifer Crocker and Amy Canevello, Creating and Undermining Social Support in Communal Relationships: The Role of Compassionate and Self-Image Goals (Journal of Personality and Social Psychology, 2008, Vol. 95, No. 3), 555–575.

(12)

Orang dapat disebut sehat bukan hanya karena “tidak adanya penyakit tertentu”, melainkan mampu hidup sehat secara utuh: fisik, mental, spiritual, dan sosial. Seseorang dikatakan sehat bila dia dapat hidup dan bertumbuh secara penuh, sempurna dalam seluruh aspek kehidupannya. Dalam perspektif integratif, manusia tidak bisa direduksi menjadi kasus atau penyakit tertentu. Manusia juga tidak dapat dipersempit hanya ke dalam aspek tertentu secara parsialistik, misalnya hanya melihat aspek fisik tanpa memperhatikan aspek kehidupan yang lain juga seperti mental, spiritual, dan sosial.

b. Bentuk Konseling Pastoral

Untuk menunjang pelaksanaan konseling pastoral maka perlu dipahami beberapa bentuk konseling pastoral, yaitu:15

1) Konseling pastoral jangka pendek secara formal dan informal. Hal ini perlu disesuaikan dengan keadaan konseli. Fungsi konselor ialah menggerakkan inner resources atau tenaga batiniah atau sumber-sumber penaggulangan masalah atau potensial yang terdapat dalam diri konseli agar dia lebih cepat dimampukan mengatasi kesusahan hati yang tidak normal yang menimpa diri konseli atau juga mengatasi gangguan jiwa yang tidak menentu (tidak normal) yang tidak tahu penyebabnya. Konseling pastoral dalam hal ini adalah memberikan bantuan kepada konseli agar dia secara lebih konstruktif menguji realitas yang dihadapinya.

2) Konseling pastoral jangka panjang. Konseling jangka panjang adalah formal, dibutuhkan oleh orang yang mengalami gangguan jiwa yang tidak mmenentu (tidak

15Howard Clinebell, Tipe-tipe Dasar Pendampingan dan Konseling Pastoral, Yogyakarta:

Practical Theology Translation Project Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana, hal. 34.

(13)

normal) yang tidak diketahui penyebabnya. Konseli dalam hal ini mengalami kesusahan dan luka perasaan yang sangat berat dan mungkin berulang-ilang atau beruntun sehingga dia tidak mampu lagi menggerakkan inner resourcer atau tenaga batiniah atau sumber-sumber penanggulangan masalah atau potensial yang ada pada dirinya tanpa bantuan penyembuhan yang membutuhkan psikoterapi yang bersifat membangun kembali dari ahli psikoterapi pastoral atau konseling pastoral maupun dengan psikoterapi sekuler.16

Menyadari akan kebutuhan setiap orang yang berbeda, termasuk juga persoalan yang dialami, dan latar belakan kehidupan seperti budaya, status ekonomi, tingkat pendidikan, dan lain sebagainya, maka seorang konselor harus mampu melakukan pelayanan konseling pastoral secara unik untuk masing-masing orang yang didampingi. Dengan kata lain, tidak ada satu bentuk model tetap atau khusu yang cocok untuk dapat diterapkan pada semua orang dan persoalannya.

Collins menuliskan bahwa para ahli konseling menyimpulkan, ada beberapa macam bentuk dari konseling pastoral. Terhadap setiap konseli, kita dapat menggunakan satu atau lebih dari bentuk konseling di bawah ini:17

Supportive-Counseling. Bimbingan konselor diberikan pada saat konseli mulai terbuka menghadapi persoalan hidup secara efektif. Untuk mencapai hal tersebut, konseli didorong untuk mengutarakan secara terbuka perasaan dan frustasinya.

Konselor yang supportive sebaiknya memberikan perhatian, dorongan, mencoba dengan lemah lembut menyadarkan konseli terhadap tantangan realita kehidupan

16 Tjaard dan Anne Hommes, Konseling Krisis, (Yogyakarta: Pusat Pastoral, 200), hal. 6

17 Garry R. Collins, Pengantar Pelayanan Konseling Kristen, hal. 53-63

(14)

dan membimbing konseli pada pertumbuhan iman dan kematangan emosi sehingga permasalahan dapat diatasi.

Confrontational-Counseling. Konselor tidak seharusnya menghakimi orang lain dengan maksud untuk mengkritik. Dalam kelemahlembuutan dan kasih, konselor terpanggil untuk menolong konseli menghadapi kegagalan, dosa, kekeliruan dan kebodohannya.

Educative-Counseling. Konseling harus meliputi pengajaran dimana tingkah laku yang tidak efektif dapat diperbaiki dan konseli ditolong untuk belajar tingkah laku yang lebih baik. Dalam hal ini konselor bertindak sebagai seorang pengajar.

Spitual-Counseling. Konseling menekankan hal-hal rohani dan menolong konseli supaya dapat memahami arti dan tujuan hidupnya. Konselor harus selalu sadar bahwa setiap persoalan manusia selalu menyangkut hubungan dengan yang Transenden dan sesama.

Group-Counseling. Dalam pertemuan dengan beberapa konseli, seorang konselor dapat menyediakan tempat untuk membagikan perasaan konseli secara jujur, saling belajar dari pengalan orang lain, saling mendukung, menasihati, dan menolong satu terhadap yang lain.

Informal-Counseling. Konseling tidak harus dilakukan di kantor, tapi bisa juga dilakukan secara informal, seperti rumah, rumah sakit, atau bahkan di jalan. Apabila konseli melihat konselor yang serius dan penuh perhatian serta mau mendengar, biasanya mereka akan mengeluarkan isi hati mereka dengan baik. Beberapa saran yang dapat dilakukan dalam konseling informal, yaitu: mendengar dengan penuh perhatian; menggunakan pertanyaan-pertanyaan tambahan untuk memerjelas fokus

(15)

persoalannya; mendorong konseli untuk menyimpulkan persoalan; memberikan informasi yang dapat membantu; menolong konseli mengambil keputusan tentang apa yang akan ia lakukan; memberikan konseli dorongan dan harapan, membantu konseli dalam doa, dan benar-benar jangan lupa mendoakannya. Bila memang diperlukan, mengusulkan pertemuan selanjutnya untuk diskusi yang lebih formal.

Preventif_Counseling. Konseling tidak di buat untuk menghibur yang susah, menolong yang tertindas ataupun menolong konseli dari kesulitan hidup saja.

Alasan yang terkuat adalah untuk mmembebaskan konseli dari permasalah hidup yang dialami.

Konseling Pastoral berbasis budaya

1. Makna Budaya dalam Konteks Konseling Berbasis Budaya.

Pembahasan tentang persoalan konseling pastoral berbasis budaya tidak dapat dilepaskan dari pembahasan tentang budaya dalam konteks psikologi, karena dasar pijakan keilmuan konseling berakar dari psikologi. Terdapat beberapa ciri khas budaya dalam konteks Psikologi yaitu; (1) Budaya sebagai sebuah konsep abstrak; aspek budaya yang dapat diamati sesungguhnya bukanlah budaya itu sendiri melainkan perbedaan perilaku manusia dalam aktivitas dan tindakan, pemikiran, ritual, tradisi, maupun material sebagai produk dari kelakuan manusia, (2) Budaya sebagai konseptual kelompok; budaya ada ketika terjadi pertemuan antar manusia, yang di dalamnya akan membuahkan pola-pola adaptasi dalam perilaku, norma, keyakinan, maupun pemikiran dan atau ide, dan (3) Budaya diinternalisasikan oleh anggota kelompok; budaya adalah produk yang dipedomani oleh individu yang disatukan dalam sebuah kelompok, maka budaya adalah alat

(16)

pengikat dari individu-individu yang memberi ciri khas keanggotaan suatu kelompok yang berbeda dengan individu-individu dari kelompok budaya lain.

Budaya diinternalisasikan oleh seluruh individu anggota kelompok sebagai tanda keanggotaan kelompok, baik secara sadar maupun naluriah tidak disadari.18

Berdasarkan pada tiga ciri khas budaya di atas, budaya dapat didefinisikan sebagai seperangkat sikap, nilai, keyakinan dan perilaku, pemikiran dan atau ide yang dimiliki oleh sekelompok orang yang akan mengalami perubahan secara kontinyu melalui proses komunikasi.19 Matsumoto mendefinisikan budaya adalah gagasan, baik yang muncul sebagai perilaku maupun ide seperti nilai dan keyakinan, sekaligus sebagai material, budaya sebagai produk maupun sesuatu yang hidup dan menjadi panduan bagi individu sebagai anggota kelompok. Dapat dikatakan bahwa budaya adalah suatu konstruk sosial sekaligus konstruk individu.20

Budaya sebagai konstruk individual dan sosial memuat sistem nilai budaya (cultural value system) dan dalam konteks psikologi berpespektif budaya sistem nilai budaya merupakan hal yang mendasari sikap dan perilaku. Menurut Koentjaraningrat sistem nilai budaya merupakan tingkat paling tinggi dan paling abstrak dari adat istiadat. Nilai-nilai budaya merupakan konsep-konsep mengenai sesuatu yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga suatu masyarakat.

Nilai budaya merupakan hal-hal yang mereka anggap sebagai hal yang bernilai,

18Matsumoto, D, Culture and psychology, (New York, 1996) hal. 20

19Berger P.L. & Thomas Luckmann, L.. The social construction of reality: a treatise in the sociology of knowledge (USA: The Penguin Press,1966), 66.

20Matsumoto, D.,...hal. 20.

(17)

berharga, dan penting bagi kehidupan. Sistem nilai budaya berfungsi sebagai pedoman yang dapat memberi arah dan orientasi bagi kehidupan masyarakat.21

Dalam perspektif psikologi konseling, tingkah laku manusia sebagai anggota masyarakat akan terikat oleh kebudayaan yang terlihat wujudnya dalam berbagai pranata, yang berfungsi sebagai mekanisme kontrol bagi tingkah laku manusia.22 Kebudayaan adalah segala sesuatu yang dipelajari dan diambil bersama secara sosial, oleh para anggota suatu masyarakat, sehingga suatu kebudayaan bukanlah hanya akumulasi dari kebiasaan (folkways) dan tata kelakuan (mores) tetapi merupakan suatu sistem perilaku yang terorganisasi. Nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan menjadi acuan sikap dan perilaku manusia sebagai makhluk individual yang tidak terlepas dari kaitannya pada kehidupan masyarakat dengan orientasi kebudayaannya yang khas.23

Pendekatan yang digunakan dalam konteks konseling berbasis budaya adalah pendekatan kontekstual atau pendekatan emik24 yang menolak terhadap keuniversalitasan teori-teori psikologi. Pendekatan emik menyatakan bahwa aspek kehidupan yang muncul dan benar hanya pada satu budaya tertentu, dan setiap budaya memiliki konsep yang unik.25 Pendekatan emik memandang bahwa budaya dipahami dalam kerangka referensinya, yaitu dalam kerangka/ konteks ekologi,

21Koentjaraningrat, Masalah Kesukubangsaan dan Integrasi Nasional (Jakarta : UIP, 1993), 3.

22Greetz, C., Abangan, Santri dan Priyayi dalam Masyarakat Jawa (Jakarta : Pustaka Jaya, 1981). Lihat juga Greetz, Keluarga Jawa, (Jakarta : Grafiti Press). 34.

23Berger, P.I., & Luckmann...hal. 66.

24Berry, J.W., Poortinga, YH., Segall, M.H, & Dasen, P.R, Cross Cultural Psychology : Research andApplications (Cambridge :Cambridge University Press. 1992), 277; Shweder, R.A., Cultural Psychology of Literacy (Cambridge, MA : Harvard University Press, 1990).

25Greenfield, P.M., Three Approaches to the Psychology of Culture : Where do they Come from ? Where can they go ? (Asian Journal of Social Psychology, 2000, 3 ), 223-240.

(18)

sejarah, falsafah dan keagamaan yang dimiliki. Pendekatan emik memandang bahwa konseling yang berbasis budaya meyakini tentang teori psikologi bersifat subjektif, tidak bebas nilai dan tidak universal, dan menolak teori psikologi yang lekat dengan nilai Amerika yang lebih mengedepankan rasionalitas, liberalitas dan individualitas.26

Penjelasan ini dapat dijadikan dasar pijakan bahwa, untuk membangun konseling berbasis budaya, maka usaha yang selayaknya dilakukan adalah penggalian pengetahuan konselor klien berbasis pada apa yang dimiliki oleh dirinya bukan dari penjelasan orang lain. Pengetahuan konselor maupun klien akan lekat dengan tradisi budaya yang menjadi pengalaman hidupnya, (2) Pelaksanaan konseling bukanlah menggali tingkah laku klien yang bersifat artifisial atau pelaksanaan yang bersifat eksperimental, melainkan menggali data pribadi klien yang berupa tingkah laku keseharian yang dialami, (3) tingkah laku klien dipahami dan diinterpretasi tidak dalam kerangka teori yang diimpor, melainkan dalam kerangka pemahaman budaya asal klien, dan (4) Psikologi konseling didesain dengan memperhatikan realitas sosial masyarakat Indonesia dimana bertempat.

Aplikasi konseling yang berbasis budaya

Dalam bidang konseling dan psikologi, pendekatan konseling budaya khususnya konseling berbasis budaya dipandang sebagai kekuatan keempat setelah

26Enrique, V.G., Developing a Filipino Psychology in Kim U. & Berry, J.W., (Eds.) Indigenous Psychologies, research and experience in cultural context. (New Delhi : Sage Publications, 1993), 152-169; Kim U., Conceptual and Empirical Analysis of Amae : Explanation into Japanese Psycho-Social Space. Proceeding of the Japanes Group Dynamics Conference (Tokyo :Japanese Group Dynamics Association, 1995).

(19)

pendekatan psikodinamik, behavioral dan humanistic.27 Pembahasan tentang konseling berwawasan budaya sering dilihat dari populasi minoritas dengan berlandaskan pada pengetahuan Eurosentrik.28 Pada abad 21 ini sudah selayaknya mempertimbangkan pembahasan dengan pendekatan yang integral dengan mengedepankan nilai totalitas pada kekhasan budaya individu. Suatu masalah yang berkaitan dengan persoalan budaya adalah bahwa orang mengartikannya secara berlain-lainan atau berbeda. Keberbedaan pemaknaan ini menyebabkan kesulitan dalam mengkonstruk makna perspektif budaya dalam konseling secara pasti atau benar. Secara riil, konseling berbasis budaya dapat diartikan secara beragam dan berbeda-beda; sebagaimana keragaman dan perbedaan budaya yang memberi artinya. Sebagai contoh pendefinisian tentang lintas budaya yang cenderung untuk menekankan pada ras, etnisitas, dan sebagainya; sedangkan para teoretisi mutakhir cenderung untuk mendefinisikan lintas budaya terbatas pada variabel- variabelnya.29 Namun, argumen-argumen yang lain menyatakan, bahwa lintas budaya harus melingkupi pada seluruh bidang dari kelompok-kelompok yang tertindas, bukan hanya orang kulit berwarna, dikarenakan yang tertindas itu dapat berupa gender, kelas, agama, keterbelakangan, bahasa, orientasi seksual, dan usia.30

27Pedersen, Introduction to the Special Issu on Multiculturalism as Fourth a Force in Counseling (Journal of Counseling and Development, Vol. 70, No. 1), 4.

28Pembahasan konseling berwawasan budaya sebelumnya melingkupi landasan pengetahuan pluralistik; akhirnya ditandai oleh pendekatan holistik untuk membantu dan penyembuhan, terfokuskan pada kelompok dan keluarga alih-alih pada individu, dan menggunakan sudut pandang yang integral alih-alih yang linear.

29Ponterotto J. G, Charting a Course For Research Multiculture Counseling Training (The Counseling Psychologist, Vol. 26 No 1), 43.

30Arredondo P et .al, Multicultural Counseling Competencies as Tools to Address Oppression and Racism (Journal of Counseling & Development, Vol. 77. No. 1), 103.

(20)

Para ahli dan praktisi lintas budaya pun berbeda paham dalam menggunakan pendekatan universal atau etik, yang menekankan inklusivitas, komonalitas atau keuniversalan kelompok-kelompok; atau pendekatan emik (kekhususan-budaya) yang menyoroti karakteristik-karakteristik khas dari populasi-populasi spesifik dan kebutuhan-kebutuhan konseling khusus mereka. Pandangan universal pun menegaskan, bahwa pendekatan inklusif disebut pula konseling “transcultural

yang menggunakan pendekatan emik; dikarenakan secara filosofis menjelaskan karakteristik-karakteristik, nilai-nilai, dan teknik-teknik untuk bekerja dengan populasi spesifik yang memiliki perbedaan budaya dominan.31 Perpaduan kedua pendekatan dapat dijelaskan bahwa konseling lintas budaya adalah pelbagai hubungan konseling yang melibatkan para peserta yang berbeda etnik atau kelompok-kelompok minoritas; atau hubungan konseling yang melibatkan konselor dan klien yang secara rasial dan etnik sama, tetapi memiliki perbedaan budaya yang dikarenakan variabel-variabel lain seperti seks, orientasi seksual, faktor sosio- ekonomik, dan usia.32

Pelaksanaan konseling dalam konseling lintas budaya akan melibatkan konselor dan klien yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, dan karena itu proses konseling sangat rawan oleh terjadinya bias-bias budaya pada pihak konselor yang mengakibatkan konseling tidak berjalan efektif. Efektifitas pelaksanaan konseling, bagi konselor dituntut untuk memiliki kepekaan budaya dan melepaskan diri dari bias-bias budaya, mengerti dan dapat mengapresiasi diversitas

31Fukuyama, The Great Disruption : Human Nature and The Reconstitution of Social Order (London: Profile Books, 2001), 56.

32Sue, S., Multicultural Counseling Competencies and Standards : A Call to The Pression (Journal of Counseling and Development, Vol. 70, No. 1), 477.

(21)

budaya, dan memiliki keterampilanketerampilan yang responsif secara kultural.33 Dengan demikian, maka konseling dipandang sebagai “perjumpaan budaya”

(cultural encounter) antara konselor dan klien.

Melalui penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa budaya dalam konteks konseling merupakan seperangkat sikap, nilai, keyakinan dan perilaku, pemikiran dan atau ide yang mendasari perilaku konselor dan klien. Pemahaman budaya dalam konteks konseling demikian juga menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan konseling pastoral.

Konseling Masyarakat

1. Definisi Konseling Masyarakat

Asumsi dasar yang mendasari masyarakat memimpin konseling bertolak pada berbagai bentuk pertolongan. Konseling masyarakat adalah bentuk pertolongan secara komprehensif, yang didasarkan pada kompetensi multikultural dan berorientasi keadilan sosial masyarakat. Karena perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan, maka konselor masyarakat menggunakan strategi yang memfasilitasi perkembangan yang sehat dari klien dan masyarakat.

Kata masyarakat dipahami secara berbeda tergantung cara pandang orang memahaminya. Masyarakat didefinisikan sebagai berikut: 1) orang-orang yang tinggal di daerah geografis tertentu (misalnya, orang-orang pedesaan versus perkotaan); 2) sekelompok orang yang berhubungan dengan perbedaan latar belakang budaya, etnis, atau ras; 3) orang-orang yang saling ketergantungan dan

33Dedi Supriyadi, Bimbingan dan Konseling (Fak. Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta), 6.

(22)

masing-masing memiliki kesamaan satu dengan yang lain sebagai anggota dari komunitas yang lebih luas yang disebut komunitas global; 4) definisi yang dipakai dalam pembahasan ini merujuk pada kelompok atau kumpulan orang yang berbagi dan saling peduli untuk kepentingan dan kebutuhan umum.34

Definisi di atas merujuk pada masyarakat sebagai sistem yang memiliki kesatuan, kontinuitas, dan prediktabilitas. Individu, kelompok, dan organisasi merupakan link bagi masyarakat. Masyarakat juga link individu untuk masyarakat lainnya, termasuk masyarakat yang lebih besar. Dengan demikian, masyarakat berfungsi sebagai media di mana individu dapat bertindak dan mentransformasikan norma. Dengan demikian, seorang individu menjadi milik lebih dari satu komunitas pada suatu waktu. Keluarga, sekolah, kampus menjadi komunitas untuk masyarakat yang lebih besar, seperti gay, lesbian, biseksual, dan transgender juga sistem sosial politik yang jauh lebih besar dan lebih kompleks. Dengan itu, individu sebagai anggota masyarakat saling mempengaruhi secara langsung dan tidak langsung secara positif maupun negatif. Asumsi berpikir seperti ini menjadi alasan mengapa pendampingan dan konseling masyarakat diperlukan.

King menegaskan bahwa pengembangan yang sehat dan rasa hormat yang saling ketergantungan sebagai komunitas nasional dan dunia adalah tantangan yang paling penting pada masanya. King menekankan peran konselor mencari cara baru untuk mengatasi kebutuhan kesehatan mental abad ke-21. Konselor masyarakat diharapkan menemukan model konseling komunitas untuk membina kesehatan

34Paisley, P. O, Creating community: Group work and the arts ( Presentation made at the anual meeting of the Association for Specialist in Group Work, Athens ,GA, Januari, 1996)

(23)

mental klien serta mempromosikan masyarakat lebih toleran, responsif, dan penuh perhatian. Untuk melakukannya, konselor masyarakat harus memiliki kompetensi multikultural untuk bekerja secara efektif, etis, dengan orang-orang yang berasal dari kelompok yang beragam kompetensi dan latar belakang budaya.35

Konselor yang melaksanakan harus memahami bahwa konseling masyarakat berorientasi pada keadilan sosial didasarkan asumsi, konselor masyarakat menggunakan sudut pandang yang luas untuk melihat klien dalam konteks lingkungan yang sehat, adil dan merata masyarakatnya. Keadilan sosial melibatkan akses dan partisipasi masyarakat, atas dasar ras/ etnis, jenis kelamin, usia, cacat fisik atau mental, pendidikan, orientasi seksual, sosial ekonomi status sosial, atau karakteristik lain dari latar belakang atau kelompok anggota masyarakat. Keadilan sosial didasarkan pada keyakinan bahwa semua orang memiliki hak untuk diperlakukan setara, dukungan untuk hak asasi manusia dan sumber daya masyarakat.36 Konselor masyarakat menjadi sadar ketika klien mereka ditolak hak-haknya, maka konselor melakukan intervensi lingkungan dalam bentuk advokasi keadilan sosial. Kompetensi advokasi diatur dalam tiga tingkat intervensi:

1) di setiap tingkat intervensi, kompetensi untuk membawa perubahan; 2) pada tingkat klien individu, kompetensi dikategorikan sebagai pemberdayaan dan advokasi klien; 3) pada tingkat masyarakat, kompetensi berfokus pada kolaborasi dan sistem komunikasi. Akhirnya, di arena publik yang lebih luas, konselor melaksanakan program-program publik-informasi dan sosial/advokasi politik.

35 King, M. L., I have a dream, 28 August 1963, diakses tanggal 15 September 2016 dari http://www.mecca.org/~crights/dream.html

36Courtland C. Lee, Multicultural Issues In Counseling: New Approaches to Diversity (United State : American Counseling Association, 2007), 1

(24)

2. Konseling Masyarakat Abad 21

Konseling masyarakat mempromosikan perubahan dan pertumbuhan, memberikan pedoman yang efektif untuk merencanakan dan melaksanakan program konseling masyarakat yang produktif. Dengan itu, asumsi yang mendasari konseling masyarakat abad ke-21 sebagai berikut:371) pembangunan manusia (individu) dan perilaku berlangsung dalam lingkungan masyarakat yang berpotensi memelihara, membatasi atau menghancurkan; 2) pembangunan individu bersifat multikultural sebagai pusat konseling masyarakat; 3) pengembangan individu dan masyarakat berhubungan erat.

Conyne & Cook melihat fokus masalah konseling masyarakat berorientasi pada masa lalu pribadi setiap individu masyarakat sebagai klien. Tujuan konseling masyarakat adalah merubah perilaku klien yang dipengaruhi pikiran dan perasaan masa lampau menjadi perilaku adaptif.38 Perilaku yang adaptif menjadikan klien sebagai pribadi yang sehat karena dapat menjaga keharmonisan dirinya sendiri dengan alamnya. Artinya, fungsi-fungsi pribadinya adaftif dan secara penuh dapat melakukan aturan-aturan sosial dalam komunitasnya. Sebab jika individu belum dapat melakukan aturan aturan sosial dalam komunitasnya, maka ia masih berada dalam keadaan sakit. individu yang berada dalam keadaan sakit dapat melakukan penyimpangan norma-norma budaya, Melanggar batas-batas keyakinan agama dan berdosa, melakukan pelanggaran hukum dan mengalami masalah

37Lewis, J. A., Ratts, M. J., Paladino, D. A., & Toperek, R. (2011). Social justice counseling and advocacy: Developing new leadership roles and competencies. Journal for Social Action in Counseling and Psychology, hal 4

38Conyne, R. K., & Cook, E. P., Ecological counseling: An innovative approach to conceptualizing person-environment interaction (Alexandria, VA: American Counseling Association, 2004), 3-4.

(25)

interpersonal. Konselor memiliki keahlian dan keterampilan untuk membantu klien mengidentifikasi dan menemukan faktor penyebab masalah serta mengembangkan alternatif penyelesaian yang lebih memuaskan.39 Jordan menekankan bahwa dalam rangka meningkatkan hubungan dan memperbaiki perilaku klien yang bermasalah dalam masyarakat diperlukan konseling budaya. Tujuannya menumbuhkan kekuatan, memulihkan dan menyehatkan, serta membebaskan dan memberdayakan klien yang bermasalah .40 Teori-teori konseling budaya lebih menekankan hubungan antara manusia dan lingkungan, telah menjadi prinsip utama konseling abad ke-21. Hal ini disebabkan kekuatan lingkungan telah menjadi sumber belajar dan dukungan, untuk memenuhi kebutuhan terutama interaksi dengan orang lain.

Di sisi lain, lingkungan juga dapat mempengaruhi dan mengerdilkan pertumbuhan dan membatasi perkembangan manusia.

Konseling masyarakat menjelaskan praktek konseling dengan membahas isu-isu kontemporer dan mendeskripsikan peran konselor masyarakat sebagai agen perubahan. Konselor masyarakat memainkan peran penting membantu klien untuk menjembatani kesenjangan antara kehidupan klien dengan perkembangan masyarakat. Kesenjangan tersebut merupakan hasil interaksi klien dengan lingkungan dan bahwa interaksi ini mempengaruhi perkembangan mereka secara negatif. Konselor berusaha menanggapi kebutuhan klien yang rentan dengan masalah-masalah masyarakat. Tugas konselor melakukan negosiasi perubahan lingkungan terhadap korban kemiskinan, rasisme, seksisme, dan stigmatisasi

39Conyne, R. K., & Cook, E. P., Ecological...hal. 5

40Jordan, J. V. (2010), Relational-Cultural Therapy ( W a s h i n g t o n , D C : American Psychological Association). 99

(26)

politik, ekonomi, dan sosial sistem yang menyebabkan masyarakat tidak berdaya.

Dalam menghadapi kenyataan ini, konselor tidak punya pilihan selain mempromosikan perubahan positif dalam sistem masyarakat yang mempengaruhi kesejahteraan klien.41 Peran konselor sebagai agen perubahan sosial mencerminkan hubungan antara individu dengan pengembangan masyarakat. Dengan itu, konselor bekerja untuk memfasilitasi pembangunan manusia dengan pengembangan masyarakat yang sehat.

3. Strategi Konseling Masyarakat

Strategi konseling masyarakat berdasarkan asumsi bahwa perkembangan individu dan masyarakat terkait erat. Konselor masyarakat menyadari bahwa tanggung jawab profesional mereka termasuk melayani klien untuk membangun lingkungan masyarakat yang sehat dan kondusif. Peran konselor, mendesain strategi yang memfasilitasi pengembangan klien dan strategi konseling yang memfasilitasi pengembangan masyarakat. Dari kedua pengembangan tersebut, konselor menggunakan strategi terfokus dan strategi berbasis luas yang memenuhi kebutuhan individu dan kelompok untuk mempengaruhi masyarakat umum.

Adapun model konseling masyarakat dapat dilihat melalui tabel berikut ini:42

41 Lewis, J. A., Ratts, M. J., Paladino, D. A., & Toperek, R. (2011). Social justice counseling and advocacy: Developing new leadership roles and competencies. Journal for Social Action in Counseling and Psychology, hal. 9

42Lewis, J. A., Ratts, M. J., Paladino, D. A., & Toperek, R., Social justice......hal.15-18

(27)

STRATEGI MEMFASILITASI

PENGEMBANGAN MANUSIA (INDIVIDU)

MEMFASILITASI PENGEMBANGAN

MASYARAKAT Strategi

Terfokus

Konseling dalam konteks outreach (penjangkauan lapangan/lingkungan untuk klien yang depresi/distres dan teralenasi/ marjinalisasi.

Treatment klien untuk kolaborasi masyarakat:

studi melalui partisipasi untuk membangun kemitraan/ participation research.

Strategi Berbasis Luas

Perkembangan / pencegahan melalui intervensi yaitu membuat program pendampingan maupun

konseling outreach

(penjangkauan) individu dalam masyarakat.

Treatment sosial/politik untuk perubahan tingkat makro: peranan political- skill education untuk tujuan pendidikan dan perubahan.

Tabel 1.1. Model Konseling Masyarakat

Sifat dari model konseling masyarakat secara komprehensif, mempengaruhi baik program yang dirancang dan peran konselor individual untuk membantu klien mereka. Program konseling masyarakat mempergunakan intervensi atau treatment (perlakuan) yang ditawarkan di setiap aspek model. Peran konselor masyarakat, menunjukkan karakteristik optimisme, aktivisme, dan visi yang memberdayakan klien dalam model konseling masyarakat. Model konseling masyarakat mengacu pada table 1.1., dideskripsikan sebagai berikut

a. Memfasilitasi Pengembangan Manusia: Strategi Terokus

Fakta bahwa konselor abad ke-21 mempedulikan lingkungan masyarakat, tidak berarti mengabaikan kemampuan dan peran setiap individu dalam memberikan bantu kepada mereka. Hal tersebut didasari kesadaran konselor dalam konteks lingkungan. Keterkaitan konseling dengan jangkauan lingkungan

(28)

melibatkan partisipasi mitra kerja (observer dan interviewer) dalam menginterpretasi fenomena psikis klien dan fenomena sosial masyarakat melalui observasi dan interview. Konselor menemukan keterkaitan teori-teori konseling dengan berbagai fenomena masalah klien dalam masyarakat.43 Strategi terfokus, memfasilitasi pengembangan manusia tidak hanya mencakup konseling konvensional tetapi juga hasil penjangkauan lingkungan yang kontekstual dan berbasis masyarakat.

Konselor masyarakat mengetahui bahwa klien mereka menghadapi depresi/distres dan teralenasi/ marjinalisasi. Sumber permasalahan mereka berasal dalam situasi krisis yang sedang berlangsung dan pengalaman penindasan atau marjinalisasi. Dalam kedua kasus tersebut, konselor masyarakat mempergunakan metode penjangkauan lapangan/lingkungan untuk memastikan bahwa individu dan kelompok dalam permasalahannya memiliki akses bantuan untuk mendukung dan memberdayakan mereka. Secara ideal metode penjangkauan lapangan/lingkungan merupakan upaya pendidikan bagi individu dan masyarakat. Tujuannya, individu dan masyarakat memahami tantangan baru mereka dan belajar meningkatkan keterampilan dan kemampuan untuk menangani depresi dan marjinalisasi.

b. Memfasilitasi Pengembangan Manusia: Strategi Berbasis Luas

Pengembangan / intervensi pencegahan memungkinkan konselor masyarakat untuk mendidik atau melatih anggota masyarakat pada umumnya.

Anggota masyarakat dilatih mekanisme koping spesifik (mengatasi masalah) dan

43Lewis, J. A., Toporek, R. L., & Ratts, M. J. Advocacy and social justice: Entering the mainstream of the counseling profession (Alexandria, VA: American Counseling Association, 2010), 241.

(29)

bagaimana memenuhi kebutuhan, ketika diperhadapkan dengan masalah masyarakat secara mendadak. Intervensi pencegahan sebagai suatu proses pendidikan pengembangan mental anggota masyarakat, dalam rangka pencegahan dini masalah-masalah masyarakat. Tujuan dari strategi berbasis luas: 1) membantu anggota masyarakat mendapatkan pengetahuan baru, melalui penyuluhan yang berguna dalam menangani masalah yang belum diketahui; 2) meningkatkan kesadaran anggota masyarakat tentang tantangan hidup potensial dan mengembangkan keterampilan yang dapat membantu mereka mengatasi tantangan dini; 3) melaksanakan program-program seminar tentang kesehatan mental masyarakat dan pelatihan relaksasi untuk kegiatan lintas budaya.

Kemungkinan tak terbatas, konselor dapat mengembangkan teknik, konsep, dan program pendidikan pencegahan. Tujuannya, membantu anggota masyarakat memiliki kompetensi dan keterampilan hidup yang efektif, untuk mencegah berbagai masalah. Penekanan pada pencegahan, membuat konseling masyarakat efektif dan peranan konselor masyarakat menjadi praktisi, penyuluh, pelatih yang produktif dan sangat aktif. Sebagai praktisi, penyuluh, dan pelatih, konselor tidak harus menunggu secara pasif untuk tugas berikutnya, masalah berikutnya, atau krisis muncul. Sebaliknya, konselor masyarakat terus mencari situasi agar mereka dapat membantu perencanaan dan memulai program baru untuk memenuhi kebutuhan klien dan masyarakat. Penekanan pada pencegahan, dapat membuat kerangka model konseling masyarakat yang lebih layak dan relevan untuk orang- orang yang merasa tidak nyaman.

c. Memfasilitasi Pengembangan Masyarakat: Strategi Fokus

(30)

Dalam banyak situasi, pendekatan pemberdayaan yang berfokus konselor adalah semua yang dibutuhkan untuk mempersiapkan klien untuk menjadi pendukung bagi diri sendiri. Treatment/perlakuan merupakan bagian integral dari proses konseling, ketika konselor menyadari faktor eksternal sebagai hambatan untuk pengembangan individu. Peran mitra kerja sangat signifikan ketika individu atau kelompok rentan dan kekurangan akses ke layanan konseling.44 Kompleksitas masalah masyarakat, mengakses layanan tambahan. Keluarga membutuhkan layanan sosial, ekonomi, karir, pendidikan, dan krisis jasa layanan yang melampaui kapasitas normal.

Peran konselor, mengidentifikasi sumber daya yang dibutuhkan untuk jasa layanan, dan faktor-faktor hambatan yang dipengaruhi sejumlah individu dan keluarga. Konselor mengidentifikasi faktor sistemik sebagai penghalang untuk pengembangan masyarakat, dan berharap bisa mengubah lingkungan dan mencegah beberapa masalah yang mereka hadapi. Konselor sebagai agen perubahan memahami prinsip-prinsip perubahan sistemik dapat membuat keinginan mereka menjadi suatu kenyataan. Dalam peran memfasilitasi pengembangan masyarakat, konselor mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh negatif terhadap perkembangan klien mereka dan mengambil partisipasi mitra kerja dalam pengertian bekerja sama dengan orang lain untuk membawa perubahan yang diperlukan.

d. Memfasilitasi Pengembangan Masyarakat: Strategi Berbasis Luas

44 Lewis, J. A., Arnold, M. S., House, R., & Toporek, R.L. (2002). ACA Advocacy Competencies. Advocacy Task Force, American Counseling Association, dari http://www.counseling.org/resources/html, diakses tanggal 23 Juni 2016.

(31)

Pengalaman konselor masyarakat dalam treatment/perlakuan mempengaruhi kliennya pada setiap langkah perlakuan yang diperlukan pada tingkat yang lebih luas. Konselor sebagai agen perubahan dalam sistem yang mempengaruhi klien dan orang lain dalam jumlah lebih besar. Ketika hal tersebut terjadi, konselor menggunakan keahliannya untuk melakukan perlakuan sosial/politik. Kompetensi konselor terfokus pada kemampuannya membedakan masalah-masalah yang dapat diselesaikan melalui aksi sosial/politik dan mengidentifikasi mekanisme yang tepat untuk mengatasi masalah.45

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat dilaksanakan pendekatan terpadu melalui program dan implikasi professional untuk praktek konseling yang kompeten. Dalam hal program, model menunjukkan bahwa layanan konseling harus ditawarkan pada empat komponen yang disajikan dalam konseling masyarakat. Dalam istilah profesional, model menunjukkan bahwa konselor komunitas harus siap untuk melihat perannya secara luas dan beragam. Dengan menggabungkan empat komponen, maka model konseling masyarakat dapat menjadi pendekatan terpadu.

Asumsi dasar yang mendasari praktek konseling masyarakat abad ke-21 meliputi: (1) pengembangan dan perilaku manusia berlangsung dalam konteks lingkungan yang memiliki potensi untuk memelihara atau membatasi; (2) dalam menghadapi stres yang menghancurkan, kolaboratif diperlukan sebagai layanan tambahan; (3) memperhatikan sifat multikultural pengembangan manusia

45 Lewis, J. A., Arnold, M. S., House, R., & Toporek, R.L. (2002). ACA Advocacy Competencies. Advocacy Task Force, American Counseling Association, dari http://www.counseling.org/resources/html, diakses tanggal 23 Juni 2016.

(32)

merupakan komponen utama dari konseling masyarakat; dan (4) pengembangan individu dan masyarakat terkait erat; (5) konseling masyarakat didasarkan pada kompetensi multikultural dan berorientasi pada keadilan sosial.

Karena perilaku manusia kuat dipengaruhi oleh konteks, diperlukan program konseling berbasis masyarakat baik memfasilitasi pengembangan manusia (memberikan intervensi langsung dengan klien dan anggota masyarakat) dan memfasilitasi pengembangan masyarakat (menggunakan advokasi intervensi untuk membangun lingkungan yang positif dan mendobrak hambatan eksternal klien).

Model konseling masyarakat tidak hanya implikasi program tetapi juga implikasi profesional untuk praktek konseling yang kompeten. Kompetensi yang dibutuhkan untuk konseling masyarakat yang efektif yaitu keterampilan dan kolaboratif.

Gambar

Tabel 1.1. Model Konseling Masyarakat

Referensi

Dokumen terkait

Media adalah segala se- suatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian

Cara bekerja yang efisien dapat diterapkan oleh sekretaris untuk semua pekerjaan kantor termasuk organisasi pada Fakultas Ekonomi USU, sehingga dapat membantu

6 Mereka merupakan konsumen televisi yang populasinya besar, untuk memperbolehkan program acara yang bisa ditonton untuk anak-anak sebaiknya harus diperhatikan manfaat dari

Nursalam (2011) menjelaskan manfaat penilaian kinerja perawat adalah meningkatkan prestasi kerja staf secara individu atau kelompok dengan memberikan kesempatan

Sama halnya dengan yang dikemukakan oleh Haber dan Runyon (1984, dalam Suryani, 2007) bahwa jika seseorang mengalami perasaan gelisah, gugup, atau tegang dalam menghadapi

Baik : Apabila sanksi diberikan kepada pegawai yang melanggar peraturan, sanksi yang diberikan bersifat mendidik pegawai kearah yang lebih baik, perlakuan adil terhadap

Dengan terbuka, tidak dimaksud bahwa segala pertanyaan orang lain harus kita jawab dengan selengkapnya, atau bahwa orang lain berhak untuk mengetahui segala perasaan dan pikiran

Menurut Ursula (2004) fungsi membantu meringankan tugas-tugas pimpinan berarti sebisa mungkin sekretaris mampu mengambil alih tugas-tugas yang bersifat detail dari