• Tidak ada hasil yang ditemukan

7 TAHAP PERKEMBANGAN JIWA AGAMA MENURUT JAMES W FOWLER

N/A
N/A
DINDA SAFITRI

Academic year: 2023

Membagikan "7 TAHAP PERKEMBANGAN JIWA AGAMA MENURUT JAMES W FOWLER"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

7 TAHAP PERKEMBANGAN JIWA AGAMA MENURUT JAMES W FOWLER

NAMA : DINDA SAFITRI NIM: 200901102

Tahap I : Kepercayaan Awal Dan Elementer ( primal Faith ) ( 0 sampai 2 tahun )

Tahap ini timbul sebagai tahap atau pratahap (pre stage), yaitu bayi 0 sampai 2 tahun.

Dalam Cremers (1995) tahap ini ditandai oleh cita rasa yang bersifat praverbal terhadap kondisi-kondisi eksistensi, yaitu rasa percaya dan setia yang elementer kepada semua orang dan lingkungan yang mengasuh sang bayi serta pada gambaran tentang kekuasaan akhir yang dapat dipercaya, untuk mengatasi rasa takut yang timbul dalam diri anak kecil, sebagai akibat dari ancaman peniadaan hidup dan pemisahan dirinya dari para pengasuhnya.

Awalnya Fowler menamakan tahap ini sebagai kepercayaan yang belum dapat dibedakan baru kemudian sebagai primal faith, hal ini disebabkan oleh masih bersatunya rasa kepercayaan, keberanian, harapan, dan kasih sayang.

Tahap II : Kepercayaaan Intuitif-Proyektif (2 sampai 6 tahun )

Setelah bayi belajar mempercayai pengasuhnya, mereka menemukan gambaran intuitifnya sendiri mengenai apa yang baik dan apa yang jahat. Ketika anak-anak mulai memasuki tahap praoperasional menurut Piaget, dunia kognitif mereka mulai terbuka terhadap berbagai kemungkinan baru. Benar dan salah dilihat menurut konsekuensi bagi dirinya. Anak-anak mulai percaya akan adanya malaikat dan hal-hal gaib.

Tahap ini dimulai pada usia 2 sampai dengan usia 6 tahun. Dunia pengalaman anak disusun berdasarkan daya imajinasi atau fantasi emosional yang kuat. Biasanya ‘iman’ anak banyak diperoleh dari apa yang diceritakan orang dewasa. Dan pada tahap ini mereka mengetahui gambaran tuhan yang perkasa, surga yang imajinatif, dan neraka yang mengerikan. Gambaran ini umumnya bersifat rasional.

Tahap III : Kepercayaan Mistis- Harafiah ( 6 sampai 12 tahun )

Dimulai pada usia 6 sampai dengan usia 12 tahun. Berbagai pola baru ditemukan pada pola pengertian kepercayaan mistis-harafiah. Anak mulai berpikir secara “logis” dan mengatur pandangan dunia mereka dengan kategori-kategori baru, seperti sebab-akibat, ruang, dan waktu. Ia akan berusaha untuk menyelidiki segala hal dan seluruh kenyataan. Hal mistis meliputi seluruh dimensi naratif (termasuk cerita, simbol, dan mitos). Tahap ini diberi ciri harafiah alasannya adalah pada tahap ini anak sebagian besar mengunakan simbol dan konsep secara konkret dan menurut arti harafiahnya. Seperti sebutan “mata ganti mata” akan diartikan secara harafiah karena menggunakan logika konkret yang terkadang juga muncul pada pemikiran orang dewasa.

(2)

Disini anak sudah lebih logis dan mulai mengembangkan pandangan akan alam semesta yang lebih tertata. Mereka cenderung mempercayai cerita dan simbol religius secara literal.

Mereka percaya bahwa tuhan itu adil dalam memberi ganjaran yang sepantasnya bagi manusia.

Tahap IV : Kepercayaan Sinteris- Konvesional

Tahap ini terjadi pada usia 12 tahun sampai memasuki masa dewasa. Muncul berbagai macam kemampuan kognitif yang mendorong anak untuk kembali meninjau pandangannya.

Pubertas membawa perubahan yang cepat dalam ranah fisik dan kehidupan emosional. Gaya kognitif memungkinkan terjadinya suatu cara interaksi baru. Akibatnya, ego harus berhadapan dengan aneka ragam bayangan diri yang kadang-kadang sangat bertentangan satu sama lain. Hal ini yang membingungkan remaja dan menimbulkan pertanyaan dalam hati individu tentang siapakah dirinya.

Setelah mampu berpikir abstrak, remaja mulai membentuk ideologi ( sistem kepercayaan ) dan komitmen terhadap ideal-ideal tertentu. Di masa ini mereka mulai memcari identitas diri dan menjalin hubungan pribadi dengan tuhan . Namun identitas mereka belum benar benar terbentuk, sehingga mereka juga masih melihat orang lain ( biasanya teman sebaya ) untuk panduan moral

Tahap V : Individuative-reflective faith ( awal hingga pertengan umur duapuluhan )

Mereka yang bisa mencapai tahap ini mulai memeriksa iman mereka dengan kritis dan memikirkan ulang kepercayaan mereka, terlepas dari otoritas eksternal dan norma kelompok.

Masa ini terjadi pada masa transisi antara remaja dan masa dewasa awal. Menurut Fowler, individu mampu mengambil dan melakukan tanggung jawab secara penuh terhadap yang diyakininya. Tahap ini biasanya tidak dimulai sebelum usia tujuh belas atau delapan belas tahun. Bagi sejumlah orang, tahap ini muncul hanya pada usia 35 sampai 40 tahun, dan banyak orang dewasa tidak pernah mencapai tahap ini. Sering kali konsekuensi yang paling buruk akibat dari keyakinanya tersebut harus ditanggungnya.

Tahap VI : Kepercayaan Eksistensial- Konjungtif ((usia paruh baya)

Seorang individu paling cepat berada dalam tahap ini pada usia minimal 35-40 tahun.

Fowler menggunakan istilah kepercayaan konjungtif yang berarti menghubungkan, mengikat satu dengan yang lain. Istilah konjungtif mengarah pada segala hal yang bersifat pertentangan yang pada tahap sebelumnya dirasakan terpisah satu sama lain dan tidak mungkin diperdamaikan, kini dipersatukan dalam satu kesatuan utuh yang lebih tinggi, bersifat dinamis, dan terus terbuka.

Pada usia paruh baya, orang jadi semakin menyadari batas-batas akalnya. Mereka memahami adanya paradoks dan kontradiksi dalam hidup. Ketika mulai mengantisipasi kematian, mereka dapat mencapai pemahaman dan penerimaan lebih dalam.

(3)

Tahap VII : Kepercayaan yang mengacu pada Universalitas (lanjut usia)

Kepercayaan ini sebenarnya jarang terjadi, dan jika terjadi umumnya terjadi sesudah usia 30 tahun. Tahap ini biasanya muncul pada tokoh-tokoh besar di sejarah agama seperti Mother Teressa, Mahatma Gandhi dan lain sebagainya.

Pada tahap terakhir yang jarang dapat dicapai ini, terdapat para pemimpin moral dan spiritual, seperti Mahatma Gandhi, Martin Luther King, dan Bunda Teresa, yang visi dan komitmennya terhadap kemanusiaan menyentuh begitu banyak orang. Mereka digerakkan oleh keinginan untuk “berpartisipasi dalam sebuah kekuatan yang menyatukan dan mengubah dunia”, namun tetap rendah hati, sederhana, dan manusiawi.

Referensi

Dokumen terkait