Nama : MUHAMAD NAJRI ADLANI
NIM : 211035
Kelas : A/1
Mata Kuliah : ANTROPOLOGI HUKUM
Dosen Pengampu : AHMAD M. RIDWAN SI, S.H, M.H
TANGGAPAN SINGKAT BUKU SAPIENS KARYA YUVAL NOAH HARAR
Ringkas kalimat, seluruh uraian Harari ini tampak hendak menegaskan tesis bahwa agama, dan dengan demikian juga konsep tentang Tuhan, hanyalah mitos yang diciptakan manusia, terlepas dari ragam bentuk atau sistem kepercayaan yang mendasarinya. Setiap mitos memiliki fungsi yang sama, yaitu untuk memobilisasi Sapiens dalam membentuk, melestarikan, atau melawan tatanan sosial tertentu. Basis mitos dalam agama ini, sebagaimana ditegaskan Harari, “dikenal di kalangan akademisi sebagai fiksi, konstruksi sosial, atau realitas yang dibayangkan”. Intinya, Harari hendak mengatakan bahwa agama hanya persoalan bahasa, yang objek materialnya tidak benar- benar ada. Kerangka pikir evolusionis dan fungsionalis Harari ini, seperti saya sebut di awal, memang mengabaikan pengalaman religius orang-orang beriman sendiri.
Narasi yang dibangun Harari itu pun bukan hal baru. Ia memiliki kemiripan dengan narasi para antropolog klasik ketika mendeskripsikan kepercayaan ‘para penyembah patung’, atau para orientalis ketika menggambarkan kepercayaan ‘Timur’, yang terpengaruhi paradigma subjek-objek (Cartesian) dalam produksi pengetahuan ala modernisme. Kerangka pikir semacam ini sudah sering mendapat kritik dalam tren Studi Agama mutakhir.
Narasi Harari mengenai animisme, misalnya, mirip dengan narasi ‘bapak antropologi’ Edward Tylor, juga penerusnya seperti James Frazer, yang menggunakan mitos sebagai basis penjelasan universal atas fenomena keagamaan, yang embrionya berasal dari kepercayaan akan adanya arwah.
Para akademisi Studi Agama lain yang menggunakan pendekatan fenomenologis dalam mengkaji agama tentu akan punya pandangan berbeda dari Harari. Mereka akan menyebut pengalaman keagamaan sebagai pengalaman riil dari perjumpaan dengan
‘Yang Sakral’, ‘Yang Transenden’, yang ‘Wujud Mutlak’, yang ‘diketahui’ oleh orang-orang beriman melalui peng-alam-an langsung, bukan nalar kognitif.
Selain evolusionis dan fungsionalis, definisi Harari mengenai mitos tampak mengindikasikan cara pandangnya yang materialis, dalam pengertian bahwa objek material saja yang sebenarnya riil. Ketika ia bicara mitos, misalnya, sebenarnya bukan hanya agama yang jadi bahasannya. Bagi Harari, mitos terbesar sepanjang sejarah Sapiens adalah uang, disusul imperium, kemudian agama. Objek material uang, bagi Harari, hanyalah kertas saja; nilainya ada dalam abstraksi atau pengandaian di dalam pikiran manusia. Negara juga eksis hanya dalam konsep atau konstruksi manusia melalui bahasa belaka (ingat konsep mengenai ‘komunitas terbayang’), sementara objek materialnya adalah tanah, gedung-gedung pemerintahan, dan manusia-manusia yang menghuni tanah dan gedung-gedung itu, yang tidak identik dengan bahasa atau konsep- konsep yang dipakai untuk mendeskripsikan hal-hal itu.
Jadi, kalau mau dikerucutkan, penggambaran Harari tentang agama sebagai mitos berlandaskan pada distingsi antara bahasa di satu sisi dan realitas di sisi lain. Namun, saya berpandangan bahwa, justru dengan cara pandang inilah kita bisa balik bertanya ke Harari sendiri ihwal gambarannya mengenai agama.
Sebutlah fenomena keagamaan adalah suatu realitas di ‘sana’, lalu Harari membahasakan fenomena keagamaan itu sebagai mitos, sementara sarjana fenomenolog dalam Studi Agama menyebutnya sebagai pengalaman riil akan Yang Transenden. Keduanya adalah, ya, sama-sama bahasa untuk menggambarkan apa yang banyak orang sebut sebagai fenomena keagamaan.
Pertanyaannya kemudian: apa yang membuat ‘bahasa’ Harari lebih valid, atau lebih benar secara korespondensial, dibanding ‘bahasa’ para fenomenolog? Dengan cara pandang Harari sendiri akan bahasa dalam hubungannnya dengan objek material, apa yang membuat ‘bahasa’ Harari bukan merupakan misrepresentasi? Di sinilah, filsafat pengetahuan atau epistemologi tentang bagaimana kita mengetahui dan merepresentasikan sesuautu memegang peran kunci.
Sayang kita belum menemukan jawaban dari pertanyaan itu secara sistematis dalam tulisan-tulisan Harari. Ini satu hal yang boleh saja dimaklumi, karena bukunya memang ditujukan untuk konsumsi populer dan ringkas. Kendati demikian, hal itu tidak serta merta membolehkan kita untuk menelan gagasan Harari mentah-mentah, bukan?