TANTANGAN DAN PROSPEK PARTISIPASI GEN Z PADA PEMILU 2024
[email protected] Abstrak
Partisipasi politik Generasi Z telah menjadi perhatian utama dalam konteks pemilihan umum (Pemilu) 2024. Dalam esai ini, kami mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi politik Generasi Z, dengan fokus pada peran mereka dalam proses pemilihan dan dampaknya terhadap masa depan politik negara. Kami menyimpulkan bahwa meskipun Generasi Z menunjukkan minat yang signifikan dalam proses politik, mereka masih menghadapi tantangan berupa ketidakpercayaan terhadap hasil pemilu, kurangnya literasi politik, serta penyebaran informasi palsu (hoax). Namun demikian, prospek partisipasi politik Generasi Z tetap cerah, terutama jika mereka diberi pendidikan politik yang sesuai dan memiliki akses terhadap informasi yang kredibel. Dengan demikian, pemahaman yang lebih baik tentang peran dan motivasi Generasi Z dalam partisipasi politik dapat membantu membentuk masa depan politik yang lebih inklusif dan dinamis di Indonesia.
Pembahasan
Aristoteles telah mengemukakan bahwa manusia merupakan makhluk politik, yang secara inheren berinteraksi dan berhubungan dengan sesama. Dalam interaksi sosial, unsur politik selalu hadir karena adanya kesamaan dalam tujuan dan kepentingan yang ingin dicapai. Kehidupan berbangsa dan bernegara pun tumbuh dari landasan ini, yang menuntut pemahaman dan partisipasi aktif dari seluruh masyarakat, khususnya mahasiswa, sebagai generasi muda yang memiliki peran kunci dalam kemajuan politik suatu negara.
Kesadaran untuk memilih dipengaruhi oleh lingkungan sosial sekitarnya, menurut konsep Alfred Schutz tentang kesadaran sosial. Salah satu faktor yang menghambat partisipasi politik mahasiswa adalah pandangan bahwa tidak ada
manfaat langsung bagi mereka dalam pemilihan presiden. Namun, pada Pemilu 2024, Generasi Z memiliki peran penting dengan mayoritas usia mereka yang memenuhi syarat sebagai pemilih utama, dan memiliki potensi. Generasi Z dikenal aktif dan sensitif terhadap isu-isu sosial dan politik. Mereka juga tahu cara menggunakan media sosial. Oleh karena itu, Generasi Z berpotensi menjadi influencer yang mempengaruhi opini publik dalam pemilu.
Namun, tidak semua Generasi Z aktif dalam partisipasi politik. Bagi sebagian dari mereka, memikirkan kepentingan politik negara merupakan beban tambahan, terutama jika tidak yakin suara mereka akan didengar dalam upaya membela kebenaran atau keadilan. Meskipun demikian, data menunjukkan bahwa mayoritas Generasi Z menganggap Pemilu 2024 penting, meskipun ada juga yang merasa netral atau tidak penting. Alasan golput bisa saja berkaitan dengan ketidakpercayaan terhadap hasil pemilu atau pandangan bahwa siapapun yang terpilih akan sama saja.
Penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z sebenarnya tertarik pada politik, namun mereka merasa kurang informasi dan membutuhkan pendidikan politik yang lebih baik. Pola pencarian informasi politik Generasi Z dimulai dari media sosial, namun mereka juga cenderung mengonfirmasi kebenaran informasi tersebut melalui sumber lain. Hal ini menunjukkan bahwa literasi politik dan kemampuan membedakan informasi yang valid dari hoax sangat mempengaruhi partisipasi politik mereka.
Dalam konteks ini, peran pendidikan politik dan media informasi yang kredibel sangatlah penting. Generasi Z perlu diberi pendidikan politik yang sesuai dengan gaya komunikasi mereka, dan konten politik yang menarik dapat menjadi pintu masuk bagi mereka untuk lebih teredukasi. Demikian pula, upaya untuk mengurangi penyebaran hoax dan meningkatkan literasi politik di kalangan mereka akan membantu meningkatkan partisipasi politik yang berkualitas.
Kesadaran akan peran warga negara dalam menunaikan hak dan kewajibannya tidak cukup hanya sebatas taraf kognisi saja namun juga harus lanjut
ke taraf keyakinan akan pengaruhnya terhadap proses politik negaranya, yaitu political efficacy (efikasi politik). Tanpa adanya efikasi politik, dapat memunculkan apatis terhadap proses politik. Namun, kompleksitas sistem pelaksanaan pemilu, terutama di negara seperti Indonesia, dapat membingungkan warga pemilih dan mengurangi pengaruh nilai personal dalam memilih calon politik.
Dalam pandangan ini, partisipasi politik Generasi Z dalam Pemilu 2024 merupakan cerminan dari kesadaran mereka akan peran dan tanggung jawab sebagai warga negara, serta dari efikasi politik mereka yang memotivasi mereka untuk terlibat dalam proses politik demi masa depan bangsa yang lebih baik.
Tingginya kadar efikasi warga pemilih biasanya dipandang sebagai sesuatu yang diinginkan untuk stabilitas demokrasi, karena dalam masyarakat demokratis modern, warga harus merasa bahwa mereka memiliki kekuatan untuk mempengaruhi tindakan pemerintah mereka (Wright, 1981).
Sullivan dan Riedel menentukan efikasi politik internal individu sebagai keyakinan tentang dampak yang dapat terjadi pada proses politik sebagai akibat dari dirinya, keterampilan dan kepercayaan dirinya. Sedangkan efikasi eksternal adalah keyakinan bahwa lembaga-lembaga politik akan responsif terhadap tindakan warga negara dalam proses politik, atau keyakinan bahwa seseorang efektif ketika berpartisipasi dalam kehidupan politik (Riedel dan Sullivan, dalam Sharoni, 2012).
Berbagai studi juga menunjukkan bahwa efikasi internal berhubungan positif dengan pendidikan, motivasi dan partisipasi politik, tapi tidak dengan kepercayaan terhadap institusi politik (Morrell, 2005).
Verba dkk. (1995) meng-identifikasi tiga faktor berikut sebagai prediktor partisipasi politik: (i) Referensi yang memungkinkan individu untuk berpartisipasi (waktu, pengetahuan), (ii) keterlibatan psikologis (minat, efikasi) dan (iii) "jaringan rekrutmen" yang membantu untuk membawa individu ke dalam politik (seperti gerakan sosial, kelompok keagamaan, organisasi massa ataupun partai).
Literasi politik dan informasi hoax memiliki pengaruh terhadap partisipasi politik mahasiswa. Pengaruh tersebut didasarkan pada kesadaran dan kepercayaan
mahasiswa yang didapatkan dari informasi yang mereka terima sehingga diolah menjadi suatu informasi baru atau pengetahuan.
Tingginya penerimaan hoax tersebut menurut Febriansyah & Muksin, (2020:198) memiliki dua alasan: Pertama, apabila sikap serta opini seseorang sama dengan informasi yang ada maka segala bentuk informasi yang masih memiliki keterkaitan dengan sikapnya dapat diterima tanpa melakukan konfirmasi apakah informasi itu benar atau tidak. Kedua, adanya keterbatasan pengetahuan seseorang tentang informasi yang diperoleh serta ketidakmauan untuk melakukan konfirmasi terhadap informasi yang diterima.
Dari sudut pandang ini, dapat disimpulkan bahwa partisipasi politik Generasi Z dalam Pemilu 2024 tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal, seperti efikasi politik, tetapi juga oleh faktor eksternal, seperti literasi politik dan informasi hoax. Untuk meningkatkan partisipasi politik mereka, pendekatan yang holistik perlu diterapkan, yang mencakup pendidikan politik, peningkatan kesadaran akan pentingnya proses politik, dan penanggulangan penyebaran informasi palsu.
DAFTAR PUSTAKA
Wiratno, T. (2017). Strategi Penerapan Pendidikan Politik Sebagai Upaya Peningkatan Partisipasi Politik Di Kalangan Mahasiswa (Kajian Fenomenologi Mahasiswa Fkip Uns Tahun 2016/2017). SOSIALITAS; Jurnal Ilmiah Pend. Sos Ant, 5(2).
Simamora, I. Y., Nasution, A. A. M., Novita, D. D., Syahira, Z., Nazwa, W. S., &
Siregar, R. A. (2024). Peran Generasi Z dalam Pemilu 2024 di Indonesia. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(1), 5918-5922.
EvitaN. (2023). GENERASI Z DALAM PEMILU: POLA BERMEDIA GENERASI Z DALAM PENCARIAN INFORMASI POLITIK. Electoral Governance Jurnal Tata Kelola Pemilu Indonesia, 5(1), 47-66.
https://doi.org/10.46874/tkp.v5i1.1051
Pratama, A. F., Juwandi, R., & Bahrudin, F. A. (2022). Pengaruh Literasi Politik dan Informasi Hoax terhadap Partisipasi Politik Mahasiswa. Journal of Civic Education, 5(1), 11-24.
Fitriah, E. A. (2014). Personal Values Dan Internal Political Efficacy Terhadap Partisipasi Politik Mahasiswa Pemilih Pemula (Studi Pada Fakultas Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Fakultas Adab Dan Humaniora, Serta Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Uin Sgd Bandung). Psympathic: Jurnal Ilmiah Psikologi, 1(2), 244-254.