• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tatalaksana Peningkatan Tekanan Intrakranial (TIK)

N/A
N/A
Adecya Amaryllis

Academic year: 2025

Membagikan "Tatalaksana Peningkatan Tekanan Intrakranial (TIK)"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

TATALAKSANA PENINGKATAN TEKANAN INTRAKRANIAL (TIK)

Adecya Amaryllis Risa Putri

Pendahuluan

Peningkatan tekanan intrakranial (TIK) adalah kondisi gawat darurat neurologis yang memerlukan penanganan cepat dan tepat. Tujuan utama tatalaksana adalah menurunkan TIK, mempertahankan perfusi serebral, dan mencegah herniasi otak.

Epidemiologi

Peningkatan TIK bukanlah suatu diagnosis primer, tetapi manifestasi sekunder dari berbagai kondisi neurologis. Adanya peningkatan TIK ini bergantung pada etiologinya. Sekitar 50-70% pasien dengan cedera otak traumatik berat mengalami peningkatan TIK. Selain itu adanya stroke, tumor otak, infeksi (seperti meningitis atau ensefalitis) juga memberikan kontribusi terbanyak dalam peningkatan TIK.

Etiologi

Etiologi peningkatan ICP berupa:

1. Peningkatan Volume Otak

Edema serebral difus (trauma, cidera hipoksik-iskemi, hiperammonemia, uremic encephalophaty, dan hiponatremia)

2. Peningkatan Volume CSF

- Peningkatan produksi CSF (tumor pleksus koroid)

- Penurunan reabsorbsi CSF (hidrocefalus obstruktif, inflamasi meningeal)

3. Peningkatan Volume Darah

- Peningkaran cerebral blood flow saat hiperkarbia, hiperpireksia - Aneurisma

- Venous stasis

- Venous Sinus Thrombosis

- Peningkatan central venous pressure

- Hipertensi 4. Efek massa

- Hematoma - Tumor - Absess - Blood Clots 5. Penyebab lainnya

- Hipertensi intrakranial idiopatik atau jinak

- Deformitas tulang kranial seperti craniosynostosis

- Hipervitaminosis A - Obstruksi jalur nafas - Kejang

Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis peningkatan TIK bergantung pada derajat keparahan serta kecepatan peningkatannya. Gambaran klasik peningkatan TIK terdiri dari 3 gejala nyeri kepala, muntah dan papil edema.

(2)

Selain itu gejala lainnya adalah pandangan kabur, diplopia, dan perubahan status mental (somnolen hingga koma) juga dapat

Nyeri Kepala

Nyeri kepala yang berasal dari peningkatan TIK berhubungan dengan pergeseran otak atau pergeseran pembuluh darah dan sinus venosus menyebabkan sakit kepala yang terlokalisir.

Nyeri kepala sering dirasakan semakin memberat saat pagi hari, batuk dan bersin.

Papil Edema

Papil edema adalah edema diskus optikus yang umumnya terjadi beberapa jam atau hari setelah peningkatan TIK terjadi sehingga terkadang tidak terlihat pada fase awal. Selain gambaran tersebut diatas kadang-kadang dapat didapatkan gejala serangan pandangan kabur atau gangguan persepsi warna yang berubah, hal ini mungkin disebabkan karena gangguan suplai darah pada papil edema yang hebat.

Gejala Lainnya

Gejala lainnya dari peningkatan TIK adalah bradikardi dan tekanan arteri sistemik yang meninggi. Bradicardi dan hipertensi disebabkan karena penekanan pada batang otak atau ischemi, ini tidak berhubungan dengan tingginya TIK.

Adanya gejala- gejala tersebut merupakan merupakan gejala-gejala yang sudah

terlambat dan berbahaya dan biasanya oleh adanya masa yang sudah besar atau yang menekan langsung batang otak.

Penurunan CBF akibat peningkatan TIK akan membangkitkan respon fisiologis sitem saraf yaitu aktivasi simpatis untuk meningkatkan MAP. MAP harus melebihi TIK agar perfusi dapat terjadi di otak.

Aktivasi ini akan menghasilkan Cushing triad yaitu pelebaran pulse pressure (peningkatan sistolik, penurunan diastolik), bradikardi, dan respirasi irregular.

Takikardi akan mendahului dan bradikardi terjadi pada tahapan selanjutnya.

Walaupun merupakan respon homeostasis, cushing triad merupakan late sign dari TIK dan mengindikasikan herniasi serebral yang segera.

Gejala lain yang sering tampak pada pasien dengan peningkatan TIK adalah dilatasi pupil, ptosis bilateral, gangguan melihat keatas, ekstensi estrimitas pada rangsang sakit, pernafasan yang irreguler.

Tatalaksana

TIK adalah kondisi gawat darurat neurologis yang memerlukan penanganan cepat dan tepat. Tujuan utama tatalaksana adalah menurunkan TIK, mempertahankan perfusi serebral, dan mencegah herniasi otak.

1. Tatalaksana Umum

• Posisi kepala: Elevasi 30° untuk meningkatkan aliran balik vena serebral.

(3)

• Jaga jalan napas dan oksigenasi:

Intubasi jika GCS ≤8.

• Ventilasi: Target PaCO₂ 35–40 mmHg (hiperventilasi sementara hanya jika ada herniasi).

• Kontrol suhu: Hindari hipertermia.

• Kontrol glukosa dan elektrolit.

2. Tatalaksana Medis

• Osmoterapi:

− Manitol: 0,25–1 g/kg bolus.

− Hipertonik salin: 3% NaCl, pilihan jika hipotensi atau gagal ginjal.

• Sedasi dan analgesia: Propofol, midazolam, fentanyl.

• Antikonvulsan: Jika kejang.

• Steroid: Hanya pada edema vasogenik (tumor otak), tidak dianjurkan pada cedera otak traumatik.

3. Tatalaksana Bedah

Evakuasi hematoma atau dekompresi kraniektomi jika ada indikasi (hematoma besar, herniasi, atau gagal tatalaksana medis).

4. Tatalaksana Lanjutan

• Monitoring lanjutan klinis dan radiologis.

• Rehabilitasi dan

penatalaksanaan penyebab utama.

Prognosis

Prognosis akan bergantung pada keadaan patologis yang mendasari dan tingkat keparahannya). TIK dapat tertangani penuh dengan pengenalan gejala dan terapi dini yang cepat dan tepat. TIK yang sudah berproses menjadi herniasi memiliki prognosis kesembuhan yang lebih buruk

Referensi

1. Kaloostian PE, et al. Current perspectives on managing elevated intracranial pressure. Int J Surg. 2013;11(5): 444–447.

2. WHO Neurological Disorders Report (2006).

Neurological Disorders: Public Health Challenges. World Health Organization.

3. Munakomi S, M Das J. Brain Herniation.

[Updated 2021 May 8]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan-. Available from:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK54 2246/

Referensi

Dokumen terkait