• Tidak ada hasil yang ditemukan

TB-03. SOP TATALAKSANA KASUS TUBERKULOSIS

N/A
N/A
Deby Hapsari

Academic year: 2025

Membagikan "TB-03. SOP TATALAKSANA KASUS TUBERKULOSIS"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

TATALAKSANA KASUS TUBERKULOSIS SOP No.Dokumen : SOP/PJR-UKM/P2P/31

No.Revisi : 00

Tanggal Terbit : 1 Agustus 2023 Jumlah Halaman : 8

PUSKESMAS KECAMATAN PENJARINGAN

drg. Lindawati, M. Kes NIP. 196710301992032006

1. Pengertian Tatalaksana kasus tuberkulosis adalah pengobatan pasien yang terdiagnosa tuberkulosis penyakit menular langsung yang disebabkan oleh infeksi kuman TB ( mycobacterium tuberculosis) dan ditularkan oleh penderita TB, minum obat sesuai dengan anjuran yang telah ditetapkan hingga tuntas dan harus ada seseorang yang ikut mengawasi atau memantau penderita TB saat minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT).

2. Tujuan Sebagai acuan langkah-langkah untuk tatalaksana kasus tuberkulosis untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian penyakit Tuberkulosis serta mencegah terjadinya resistensi obat.

3. Kebijakan Surat Keputusan Kepala Puskesmas Nomor 26 tahun 2022 tentang Layanan Tuberkulosis (TB) dan Kusta di Pusat Kesehatan Masyarakat Kecamatan Penjaringan

4. Referensi A. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis, Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2014 B. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2016

tentang Penanggulangan Tuberkulosis 5. Prosedur/

Langkah- langkah

A. Alat dan Bahan:

a. Perangkat komputer, SITB, dan aplikasi ENA b. ATK

c. Timbangan.

d. Alat pengukur tinggi badan.

e. Termometer.

f. Tensi meter.

g. OAT katagori I dan katagori II h. Resep.

i. Form TB 01, Form TB 02, Form TB 03, Form TB 05.

j. Form laboratorium dan form cek HIV k. Form rujukan internal.

B. Petugas yang melaksanakan : a. Petugas TB

(2)

Langkah-langkah : Pasien Baru TBC

a. Petugas TB memberikan salam dan memperkenalkan diri.

b. Petugas TB menerima hasil pemeriksaan dahak / hasil rontgen.

c. Bila hasil dahak positif atau hasil rontgen gambaran TB aktif yang didukung dengan gejala klinis, maka pasien akan diobati. Pasien dewasa rifampisin sensitif diobati dan diberikan OAT Dosis Harian (untuk BB>30kg), sementara rifampisin resisten akan dirujuk Pasien anak dengan BB<30 akan diberikan OAT Kategori Anak.

d. Petugas TB melakukan anamnesa riwayat pasien/keluarga terkait penyakit TBC dan mencatat identitas pasien TBC ke dalam Form TB 01, Form TB 02 serta Form TB 03, termasuk nomor telepon pasien dan PMO guna untuk mengingatkan control dan pemantauan pasien mangkir.

e. Petugas TB melakukan pemeriksaan berat badan, tinggi badan, suhu dan mengukur tensi pasien TBC, kemudian mencatat ke aplikasi ENA.

f. Petugas TB memberikan form laboratorium (gula darah sewaktu) dan form cek HIV untuk pemeriksaan awal pasien baru TBC

g. Petugas TB menerima hasil pemeriksaan laboratorium dan mencatat di ENA (Apabila hasil GDS > 200, petugas merujuk pasien ke RS Rujukan)

(Apabila hasil HIV: Reaktif, petugas melaporkan ke Layanan Jaring Cinta untuk ditangani bersama)

h. Petugas TB memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang penyakit TBC, waktu pengobatan, efek samping pengobatan, hasil laboratorium dan risiko apabila pasien tidak berobat sampai sembuh/teratur.

(Pasien dan keluarga diskusi tentang pengobatan pada Petugas TB)

i. Petugas TB memberikan form Informed Consent, pasien dan keluarga mengisi form tersebut dengan sebenar-benarnya menyetujui untuk pengobatan TBC.

j. Petugas TB memberikan OAT sesuai dosis dan pasien langsung meminum OAT tersebut di depan petugas.

k. Petugas TB mencatat jadwal kontrol pasien pada Form TB 02 dan memberikan OAT sebanyak 7 dosis untuk diminum selama di rumah.

l. Petugas memberikan Form TB 02 dan mempersilahkan pasien untuk pulang dan kembali kontrol sebelum obat habis.

Pasien TBC kontrol

a. Petugas TB memberikan salam dan memperkenalkan diri.

b. Petugas TB menerima hasil pemeriksaan dahak follow up.

c. Petugas TB melakukan anamnesa keluhan pasien TBC.

d. Petugas TB melakukan pemeriksaan berat badan, tinggi badan, suhu dan mengukur tensi pasien TBC, kemudian mencatat ke aplikasi ENA.

(3)

sesuai jumlah/memberikan surat pindah agar pasien dapat melakukan pengobatan di tempat baru)

f. Petugas TB memberikan form laboratorium dan 2 pot sputum untuk follow up pemeriksaan dahak setiap bulan ke 2, 3, 5 dan Akhir Pengobatan. (Bulan ke 3 dilakukan apabila bulan ke 2 tidak konversi negatif)

g. Petugas memberikan Form TB 02 dan mempersilahkan pasien untuk pulang dan kembali kontrol sebelum obat habis.

6. Bagan Alir

Petugas TBC menerima hasil pemeriksaan dahak, Rontgen X-Ray dll

Petugas TBC memberikan form laboratorium dan form cek HIV

Petugas TBC menerima hasil laboratorium dan mencatat di ENA

Petugas TBC melakukan anamnesa dan mencatat identitas pasien TBC

Petugas memberi salam dan perkenalkan diri

Petugas TBC memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang

penyakit TBC

Petugas TBC memberikan form Informed Consent, pasien dan keluarga mengisi form

Petugas TBC memberikan form laboratorium dan 2

pot sputum Petugas TBC mencatat jadwal

kontrol dan memberikan OAT Petugas TBC melakukan

pemeriksaan TTV suhu dan tensi pasien

(4)

7. Hal-hal yang perlu

diperhatikan

TBC pada Dewasa :

a. Keadaan umum pasien

b. Petugas merujuk pasien ke puskesmas kelurahan sesuai dengan domisili pasien bila menemukan pasien yang tidak sesuai dengan domisili pasien tersebut.

c. Pasien baru TBC adalah pasien yang belum pernah mendapatkan pengobatan TBC sebelumnya atau sudah pernah menelan OAT ≤ 1 bulan.

d. Pasien yang pernah diobati TBC adalah pasien yang sebelumnya pernah menelan OAT selama 1 bulan atau lebih (> 28 dosis). Dimana pasien tersebut dapat diklasifikasikan berdasarkan hasil pengobatan TBC terakhir yaitu pasien yang kambuh, pasien yang diobati kembali setelah gagal, pasien yang diobati kembali setelah putus obat. Pasien yang riwayat pengobatan sebelumnya tidak diketahui.

e. Pada penderita apabila fase awal bulan ke 2 hasil BTA masih positif, maka akan dilakukan ulang cek TCM, Jika hasil masih Sensitif Rifampicine, pengobatan dilanjutkan, dan jika hasil Rifampicine Resistance maka pasien diedukasi dan dirujuk ke Fasyankes rujukan wilayah Jakarta Utara yang mengobati kasus TBC RO

f. Tahap awal pengobatan diberikan setiap hari, pengobatan tahap awal pada

Petugas TBC memberikan OAT sesuai dosis dan pasien langsung meminum OAT

(5)

kuman persisten sehingga pasien dapat sembuh & mencegah terjadinya kesembuhan

h. TBC Mangkir adalah penderita yang tidak mengambil obat 2 bulan berturut- turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.

i. Tindak lanjut: lacak penderita tersebut dan berikan penyuluhan pentingnya pengobatan, lanjutkan sisa obatnya.

j. Petugas merujuk pasien sesuai dengan domisili pasien.

k. Pasien dengan mobilitas yang padat (Bekerja,Sekolah) tidak dapat mengambil OAT maka obat diberikan dengan dosis 1 bulan

l. Menginput pada SITB.

8. Unit terkait Poli TB-Kusta 9. Dokumen

terkait

A.Form TB01 B. Form TB 02 C.Form TB 05 10

.

Riwayat perubahan dokumen

(6)

DAFTAR TILIK DOKUMEN

No. Langkah-langkah Ya Tidak Keterangan

1. Dokter/Perawat memberi salam dan memperkenalkan diri

2. Dokter/Perawat menerima hasil pemeriksaan dahak (Tes Cepat Molekular) dengan hasil pemeriksaan positif (TB terkonfirmasi bakteriologis) atau negatif tetapi klinis dan rontgen positif (TB terdiagnosis klinis)

3. Dokter/Perawat memberikan pengantar form pemeriksaan GDS (Gula Darah Sewaktu) dan HIV

4. Dokter/Perawat menerima hasil pemeriksaan HIV dan GDS

5. Dokter/Perawat mengambil form TB 01

6. Dokter/Perawat mengisi form TB 01 dengan menanyakan kepada pasien sesuai isian yang ada pada form TB 01

7. Dokter/Perawat menentukan klasifikasi dan tipe pasien TB

8. Pasien ditimbang berat badannya untuk menentukan dosis obat

9. Dokter/Perawat mengambil paket OAT di ruang obat TB sesuai klasifikasi pasien

10. Dokter/Perawat menulis identitas pasien di atas dan di samping kiri atau kanan kotak paket OAT 11. Dokter/Perawat mengambil OAT untuk diminum

pasien selama 2 minggu

12. Dokter/Perawat kembali ke Poli TB dan memberi tanda rumput pada kolom tanggal yang ada pada form TB 01 sebagai tanda waktu pasien mengambil obat

13. Dokter/Perawat memberikan OAT kepada pasien

14. Dokter/Perawat mengajarkan cara minum obat 15. Dokter/Perawat menjelaskan kepada penderita

TB : lama pengobatan minimal 6 bulan, efek samping minum obat TB, resiko bila

(7)

16. Dokter/Perawat mengambil dan mengisi form TB 02 sesuai isian form TB 02

17. Dokter/Perawat memberikan form TB 02 kepada pasien dengan memberikan pesan untuk kontrol ulang sesuai tanggal yang tertera pada form TB 02

18. Dokter/Perawat mengajarkan kepada keluarga sebagai pengawas menelan obat

19. Dokter/Perawat melakukan evaluasi terhadap pemahaman penderita dan keluarga

20. Dokter/Perawat mempersilakan penderita dan keluarga setelah pasien pulang.

Pasien TB Lama / Kontrol

1. Dokter/Perawat memberi salam dan memperkenalkan diri

2. Dokter/Perawat menerima pasien yang kontrol ulang TB di Poli TB

3. Dokter/Perawat mengambil form TB 01 pasien, meminta form TB 02 pasien, menimbang berat badan pasien dan menanyakan keluhan pasien 4. Dokter/Perawat memberikan OAT yang

diambilkan dari ruang obat TB bila pasien tidak ada keluhan

5. Dokter/Perawat memberi tanda rumput pada kolom tanggal di form TB 01 sesuai dengan tanggal kedatangan pasien, sebagai tanda tanggal pengambilan OAT

6. Dokter/Perawat mencatat pada form TB 02 tanggal pasien harus kembali untuk mengambil OAT

7. Dokter/Perawat memberikan formulir permintaan pemeriksaan dahak (form TB 05) kepada pasien seminggu sebelum :

A. Pengobatan fase awal selesai B. Pengobatan bulan ke-5

C. Akhir pengobatan

8. Dokter/Perawat mencatat semua kegiatan pada form TB 01

9. Dokter/Perawat mempersilakan penderita dan keluarga setelah pasien pulang.

TOTAL

(8)

TINGKAT KEPATUHAN = JUMLAH YA

JUMLAH YA+TIDAK x100 % TINGKAT KEPATUHAN = … … … …..

… … … …..x100 % = ... % Keterangan tingkat kepatuhan:

< 75% = tidak patuh; rekomendasi ...

75 – 100% = patuh

Referensi

Dokumen terkait