PENGARUH UPAH, OMZET PENJUALAN, LAMA USAHA DAN PENDIDIKAN TERHADAP PENYERAPAN
TENAGA KERJA
(Studi Kasus pada Sentra Industri Keripik Tempe Sanan Kota Malang)
JURNAL ILMIAH DIMAS RIZKI FAJAR
125020107111053
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Meraih Derajat Sarjana Ekonomi
JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2017
LEMBAR PENGESAHAN PENULISAN ARTIKEL JURNAL
Artikel Jurnal dengan judul :
PENGARUH UPAH, OMZET PENJUALAN, LAMA USAHA DAN PENDIDIKAN TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA (Studi Kasus Pada Sentra Industri Keripik Tempe Sanan Kota Malang)
Yang disusun oleh :
Nama : Dimas Rizki Fajar
NIM : 125020107111053
Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Jurusan : S1 Ilmu Ekonomi
Bahwa artikel Jurnal tersebut dibuat sebagai persyaratan ujian skripsi yang dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 16 Februari 2017
Malang, 8 Maret 2017 Dosen Pembimbing,
Prof. Dr. M. Pudjiharjo, SE., MS.
NIP. 19520415 197412 1 001
PENGARUH UPAH, OMZET PENJUALAN, LAMA USAHA, DAN PENDIDIKAN TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA
(STUDI KASUS PADA SENTRA INDUSTRI KERIPIK TEMPE SANAN KOTA MALANG)
Dimas Rizki Fajar
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univеrsitas Brawijaya Еmail: [email protected]
ABSTRACT
Indonesia is a country with a high population growth, where it will produce a large labor force and also requiring a large employment. One of the solutions for employment is the food processing industry, because the small industry requires more labor than capital and small food processing industry has good growth annually. Employment in small industry has factors that influence it. Therefore this paper discusses the influence of wages, turnover, Business Duration and Education on Employment Rate which will be conducted on Sentra Industri Keripik Tempe Sanan Kota Malang. The approach used is a quantitative approach. The data used is the cross section by distributing questionnaires to sample. The analysis tool used is multiple linear regression. The results obtained are the Turnover, Business Duration and Education have positive and significant impact on Employment Rate, while Wages have a negative and significant relationship on Employment Rate.
Keywords: Employment Rate, Wage, Turnover, Business Duration, Education
ABSTRAK
Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi, dimana hal tersebut akan menghasilkan tenaga kerja yang besar serta membutuhkan penyerapan tenaga kerja yang besar juga.
Salah satu solusi penyerapan tenaga kerja adalah industri kecil pengolahan makanan karena industri kecil lebih membutuhkan tenaga kerja dari pada modal dan industri kecil pengolahan makanan memiliki pertumbuhan yang bagus setiap tahunnya. Penyerapan tenaga kerja pada industri kecil memiliki faktor faktor yang mempengaruhinya. Maka dari itu jurnal ini membahas tentang pengaruh Upah, Omzet Penjualan, Lama Usaha dan Pendidikan terhadap penyerapan tenaga kerja yang akan dilakukan pada Sentra Industri Keripik Tempe Sanan Kota Malang. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif. Data yang digunakan adalah cross section dengan membagikan kuisioner kepada sampel penelitian.alat analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil pada penelitian ini adalah Omzet Penjualan, Lama Usaha dan Pendidikan memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja, sedangkan Upah memiliki hubungan negatif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja.
Kata kunci: Penyerapan Tenaga Kerja, Upah, Omzet Penjualan, Lama Usaha, Pendidikan
A. PENDAHULUAN
Masalah ketenagakerjaan bukan hanya sekedar keterbatasan lapangan atau peluang kerja serta rendahnya produktivitas namun jauh lebih serius adalah pada kegagalan penciptaan lapangan kerja yang baru pada tingkat yang sebanding dengan laju pertumbuhan output industri (Todaro, 2000). Dengan tingginya jumlah penduduk yang ada di Indonesia tentu angkatan kerja yang tersedia di Indonesia juga besar sehingga penawaran akan tenaga kerja juga besar. Hal tersebut harus ditanggapi oleh pemerintah Indonesia dengan menciptakan lapangan kerja yang tersedia untuk menyerap tenaga kerja yang ada.
Menurut Kuncoro (2007) Pengembangan industri kecil adalah cara yang dinilai besar peranannya dalam pengembangan industri manufaktur. Pengembangan industri kecil akan membantu mengatasi masalah pengangguran mengingat teknologi yang digunakan adalah teknologi padat karya sehingga bisa memperbesar lapangan kerja dan kesempatan usaha, yang pada gilirannya mendorong pembangunan daerah dan kawasan pedesaan.
Dengan didorongnya sektor industri maka akan menciptakan lapangan kerja yang besar. Dalam beberapa tahun terakir ini industri mengalami pertumbuhan yang cukup baik sehingga sangat berpotensi menciptakan lapangan kerja yang ada di Indonesia karena industri ini merupakan sektor yang padat karya sehingga kebanyakan faktor produksinya menggunakan tenaga kerja.
Malang merupakan salah satu kota di indonesia yang memiliki sentra insdustri yang beragam.
Berdasarkan PDB Kota Malang sendiri sektor industri setiap tahunya meningkat dan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 1 : Proporsi Sektor Industri Terhadap PDB Kota Malang
Sumber : BPS Kota Malang, 2014
Sanan merupakan sentra industri keripik di Kota Malang, Namun dalam perkembanganya sentra keripik Sanan bukan tanpa hambatan dan permasalahan. Keripik tempe merupakan olahan pangan yang menjadi andalan di Kota Malang dan merupakan olahan pangan yang harganya terjangkau. Keripik tempe berbahan baku tempe ini menggunakan kedelai sebagai bahan pokok produksinya, namun dapat diketahui bahwa produksi kedelai di Indonesia belum mampu menutupi konsumsi kedelai ini sendiri sehingga kebanyakan kedelai yang ada merupakan komoditas impor. Untuk usaha yang bergantung kepada komoditas impor merupakan permasalahan tersendiri bagi para produsen dimana harga dari barang impor sangat bergantung pada nilai tukar rupiah terhadap mata uang Negara pengekspor.Untuk kasus ini impor kedelai kebanyakan didatangkan dari Amerika Serikat dengan mata uang Dollar. Dengan kuatnya mata uang Dollar Amerika tentu sangat merugikan bagi produsen karena apabila Rupiah semakin melemah maka harga dari kedelai impor akan naik dan akan meningkatkan biaya produksi dari produsen tersebut. Dengan meningkatnya biaya produksi tentu akan mempengaruhi penyerapan tenaga kerja pada usaha ini.
Dalam penyerapan tenaga kerja pada sektor industri kecil tentunya dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penyerapan tenaga kerja yang ada di sektor industri adalah tingkat upah, nilai produksi, lama usaha, dan pendidikan. Tingkat upah akan sangat berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja dimana tingkat upah merupakan faktor produksi sehingga mempengaruhi harga dari barang tersebut. Dengan meningkatnya tingkat upah tentu akan meningkatkan biaya produksi dan harga barang tersebut. Apabila biaya tenaga kerja meningkat perusahaan akan mengurangi jumlah tenaga kerja, jika biaya tenaga kerja menurun maka perusahaan akan meningkatkan jumlah tenaga kerja. Jadi, jumlah tenaga kerja yang diminta oleh perusahaan berhubungan terbalik dengan tingkat upah (Bellante dan Jackson 1990).
Sedangkan omzet penjualan atau pendapatan tentu juga berpengaruh dengan penyerapan tenaga kerja, dimana dengan meningkatnya pendapatan maka akan semakin banyak barang yang akan diproduksi dan dengan begitu dibutuhkan lagi tenaga kerja untuk mengerjakanya. Sehingga pendapatan memiliki hubungan yang positif. Lama usaha merupakan faktor lain yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja. Dengan semakin lamanya usaha yang diciptakan maka akan mempengaruhi pemilik usaha
Tahun Jumlah
(Juta Rupiah) Presentase (%)
2010 9.053.871,63 28,85
2011 10.030.589,25 28,69
2012 11.098.530,68 28,64
2013 12.092.555,46 28,24
karena dengan pengalaman yang banyak maka akan mempengaruhi keputusan keputusan didalam menjalankan usahanya termasuk dalam menentukan jumlah tenaga kerja.
Dikatakan Sunaryanto (2005), bahwa lamanya seseorang pedagang menekuni usahanya maka akan meningkat pula penegetahuannya dan akan berpengaruh pada tingkat pendapatannya. Dengan kata lain, semakin lama seorang pelaku bisnis menekuni bidang usaha perdagangan maka akan semakin meningkat pula pengetahuan mengenai perilaku konsumen dan perilaku pasar. Keterampilan berdagang semakin bertambah maka semakin banyak pula relasi bisnis maupun pelanggan yang berhasil dijaring.
Lama usaha berhubungan pula dengan tingkat pendapatan sehingga memiliki dampak pula terhadap penyerapan tenaga kerja.
Sedangkan pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan dari pemilik usaha yang secara tidak langsung juga memiliki pengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja. Orang dengan pendidikan yang lebih tinggi akan semakin terasah potensi yang ada didalam dirinya sehingga diharapkan lebih cermat dan kreatif dalam menjalankan usahanya. Dengan adanya hal itu maka diharapkan usaha dari seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan lebih maju dan besar yang akan membuat penjualan serta produksinya semakin besar dimana hal tersebut akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
Berdasarkan penjelasan yang ada diatas maka dari itu penulis tertarik untuk mengetahui komponen yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja pada industri kecil dan melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Tingkat Upah, Omzet Penjualan, Lama Usaha dan Pendidikan Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Industri Kecil” yang dilakukan pada sentra Industri keripik tempe Sanan Kota Malang.
B. TINJAUAN PUSTAKA Tenaga kerja
Menurut Simanjuntak (1985) Pertambahan permintaan pengusaha terhadap tenaga kerja tergantung dari pertambahan permintaan masyarakat terhadap barang yang diproduksinya. Permintaan tenaga kerja yang seperti itu disebut dengan derived demand. Sehingga dapat dikatakan bahwa semakin meningkatnya penjualan akan barang yang dijualnya maka akan semakin banyak tenaga kerja yang akan diminta oleh pengusaha tersebut dan juga sebaliknya apabila penjualan akan produknya rendah maka penggunaan tenaga kerja yang pengusaha tersebut gunakan akan semakin sedikit.
Untuk menambah tenaga kerja maka pengusaha akan melihat berapa output tambahan yang akan dihasilkan oleh seorang tenaga kerja, atau sering disebut marginal physical product biasa disingkat MPPL. Lalu pengusaha akan menghitung jumlah uang yang akan diperoleh pengusaha dengan tambahan hasil marginal tersebut, jumlah uang tersebut disebut marginal revenue, yaitu MPPL tadi. Jadi MR sama dengan MPPL dikalikan dengan harga per unit (P) atau dapat dituliskan sebagai berikut:
MR = VMPPL = MPPL x P
MR = Marginal Revenue
VMPPL = Value Marginal Physical Product MPPL = Marginal Physical Product
P = Harga
Menurut Sumarsono (2003) Faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja adalah tingkat upah, nilai produksi, dan investasi. Perubahan dari faktor-faktor tersebut akan mempengaruhi jumlah tenaga kerjayang diserap suatu lapangan usaha.
Perbedaan kemampuan dalam menyerap tenaga kerja tersebut disebutkan oleh pertumbuhan yang dialami pada masing masing sektor. Perbedaan laju pertumbuhan tersebut mengakibatkan dua hal, yaitu (Simanjuntak, 1998):
1. Terdapat perbedaan laju peningkatan produktivitas kerja masing masing sekto
2. Secara berangsur angsur terjadi perubahan sektoral, baik dalam penyerapan tenaga kerja maupun dalam kontribusinya terhadap pendapatan nasional.
Produksi
Fungsi produksi adalah hubungan matematik antara input dengan output (Nicholson, 2002).
Menurut Nicholson (1987) terdapat satu fumgsi produksi yang telah digunakan secara luas untuk
meneliti masalah hasil atas skala. Fungsi itu mengasumsikan bahwa hubungan antar input (modal dan tenaga kerja) dengan output ditentukan oleh : Q = f (K,L) = A 𝐾𝑎𝐿𝑏
Dimana Q = Output K = Kapital
L = Labour A,a,b = Konstanta
Menurut Case dan Fair (2007) fungsi produksi adalah pernyataan angka atau matematis tentang hubungan antara input dan output. Fungsi ini memperlihatkan unit produk total sebagai fungsi unit unit input. Menurut Sukirno (2006), Fungsi produksi menjelaskan untuk mencipatakan output baik barang maupun jasa, diperlukan kombinasi dari berbagai faktor produksi yang dinyatakan dalam fungsi produksi sebagai berikut: 𝑸 = 𝑭(𝑲, 𝑳, 𝑹, 𝑻).
Keterangan: Q = jumlah produksi R = kekayaan alam
K = modal T = teknologi
L = tenaga kerja Upah
Sukirno (2005) menjelaskan bahwa upah merupakan balas jasa yang dibayarkan oleh perusahaan kepada tenaga kerja atas jasa fisik maupun mental yang telah mereka sediakan, sebelum dikurangi pajak baik dalam bentuk uang maupun barang. Sadono Sukirno (2005), membuat perbedaan diantara dua pengertian upah :
1. Upah Nominal (upah uang) adalah jumlah uang yang diterima para pekerja dari para pengusaha sebagai pembayaran atas tenaga mental dan fisik para pekerja yang digunakan dalam proses produksi.
2. Upah Riil adalah tingkat upah pekerja yang diukur dari sudut kemampuan upah tersebut membeli barang-barang dan jasa-jasa yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan para pekerja.
Pengaruh Upah Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja
Upah merupakan imbalan atas jasa yang diberikan oleh tenaga kerja kepada pengusaha, dimana upah diterima atas kerja yang dilakukan tenaga kerja dalam bentuk uang. Tingkat upah akan sangat berpengaruh terhadap biaya yang akan dikeluarkan oleh perusahaan untuk menghasilkan suatu barang atau komoditas sehingga semakin tingginya tingkat upah akan menambah biaya yang akan dikeluarkan oleh perusahaan tersebut.
Nicholson (2002) menyatakan, dimana penurunan upah akan mengurangi biaya marjinal perusahaan, yang memungkinkannya untuk meningkatkan output dan menaikan penggunaan seluruh input terhadap tenaga kerja. Apabila biaya tenaga kerja meningkat perusahaan akan mengurangi jumlah tenaga kerja, jika biaya tenaga kerja menurun maka perusahaan akan meningkatkan jumlah tenaga kerja.
Jadi terdapat hubungan negatif antara tingkat upah dengan permintaan tenaga kerja (Bellante dan Jackson 2000).
Pengaruh Omzet Penjualan Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja
Case dan Fair (2007) mengatakan bahwa kuantitas output yang diproduksi oleh perusahaan bergantung pada nilai yang dikenakan pasar pada produk perusahaan. Ini berarti bahwa permintaan input bergantung pada permintaan output. Dengan kata lain permintaan input diturunkan dari permintaan output yang biasa disebut derived demand. Derived demand adalah permintaan sumber daya (input) yang tergantung pada permintaan output yang memakai sumber daya tersebut untuk produksinya. Apabila permintaan hasil produksi perusahaan meningkat, maka produsen cenderung untuk menambah kapasitas produksinya. Untuk maksud tersebut, produsen akan menambah penggunaan tenaga kerjanya (Sumarsono, 2003).
Pengaruh Lama Usaha Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja
Lama usaha akan memiliki pengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja, dimana dengan semakin lamanya sebuah perusahaan berdiri maka perusahaan tersebut memiliki pengalaman dan relasi sehingga pengusaha lebih mengetahui selera konsumen yang menyebabkan konsumen akan lebih menyukai produknya. Semakin lama menekuni bidang usaha perdagangan akan semakin meningkat pengetahuan tentang selera ataupun perilakun konsumen. Keterampilan berdagang semakin bertambah dan semakin banyak pula relasi bisnis maupun pelanggan yang berhasil dijaring (Asmie, 2008). Dengan
ketrampilan tersebut maka akan semakin tinggi penjualan dari produknya. Semakin tingginya penjualan maka akan membuat perusahaan tersebut meningkatkan produksinnya.
Dengan meningkatnnya produksi maka akan ada permintaan tenaga kerja tambahan karena tenaga kerja merupakan faktor produksi yang pasti terdapat disetiap perusahaan. Sehingga dengan kata lain semakin lamanya usia usaha tersebut maka semakin besar penyerapan tenaga kerjanya pula. Maka dari itu lama usaha akan berhubungan secara positif dengan penyerapan tenaga kerja.
Pengaruh Pendidikan Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja
Pendidikan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pendidikan formal yang telah ditempuh oleh pemilik usaha. UU No 20 tahun 2003 Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Jadi semakin tinggi atau lama pendidikan pemilik usaha diharapkan pemilik tersebut lebih sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri sehingga dapat membuat usahanya semakin berkembang dan maju. Dengan semakin berkembangnya usaha yang dimiliki maka akan meningkatkan penjualan dan produksi dari barang yang dijualnya, sehingga secara tidak langsung akan menyerap lebih banyak tenaga kerja.
Sehingga ada hubungan yang positif antara pendidikan pemilik dengan penyerapan tenaga kerja walaupun tidak secara langsung.Hal ini sesuai dengan penelitian dari Pratama dan Johanna (2012) yang mengatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan pengusaha maka kemampuan seorang pengusaha untuk mengelola usahanya semakin baik sehingga dapat menyerap banyak tenaga tenaga ker
Kerangka Pemikiran dan Hipotеsis
Kerangka Pemikiran
Sumber: Ilustrasi Penulis, 2016 HIpotesis:
a. Variabel upah, Omzet penjualan, lama usaha, dan pendidikan pemilik mempunyai pengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja pada industri kecil sentra keripik tempe Sanan Kota Malang.
b. Variabel Omzet Penjualan berpengaruh dominan terhadap penyerapan tenaga kerja pada industri kecil sentra keripik tempe Sanan Kota Malang.
C. MЕTODE PЕNЕLITIAN
Pеnеlitian ini mеrupakan pеnеlitian pеnjеlasan. Pеnеlitian ini dilakukan di sentra industri keripik tempe sanan yang ada di daerah Sanan Kecamatan Blimbing Kota Malang. Pеnеlitian ditujukan
Upah
Omzet
Lama Usaha
Pendidikan
Penyerapan Tenaga Kerja
kepada pengarajin keripik tempek di sentra industry Sanan, Malang. Dari total populasi 153 pengrajin keripik tempe ditarik sampel sebanyak 65 orang rеspondеn. dari 186 populasi dеngan pеngumpulan data mеnggunakan Kuesioner yang dianalisis mеnggunakan analisis regresi linier berganda dimana bentuk dari hubungan fungsional yang digunakan sebagai berikut:
Y = α + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 +β4 X4+ e Keterangan :
Y = Penyerapan tenaga kerja
α = Konstanta
β1, β2, β3, β4 = Masing-masing koefisien regresi dari X1, X2, X3, dan X4
X1 = Upah
X2 = Omzet Penjualan
X3 = Lama Usaha
X4 = Pendidikan
e = eror
D. HASIL DAN PЕMBAHASAN Tabеl 2. Hasil Uji T
Variabel bebas
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std.
Error Beta
(Constant) 4.601 3.226 1.426 0.159
X1 -0.487 0.204 -0.269 -2.389 0.020
X2 0.205 0.075 0.272 2.721 0.009
X3 0.302 0.139 0.239 2.174 0.034
X4 0.029 0.011 0.273 2.683 0.010
Sumber: Data primer diolah 2016
Hasil Uji T
Berdasarkan tabel 2 nilai Sig.F < α yaitu 0,000 < 0,05 maka model analisis regresi adalah signifikan. Hal ini berarti H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan Upah (X1), Omzet (X2), Lama Usaha (X3), Pendidikan Pemilik (X4) secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap Penyerapan Tenaga Kerja.
Tabel 3. Hasil Uji F
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
Regression 3.013 4 0.753 18.378 0.000
Residual 2.254 55 0.041
Total 5.267 59
Sumber: Data primer diolah 2016
Berdasarkan Tabel 3. nilai F hitung sebesar 18,378. Sedangkan F tabel (α = 0.05 ; db regresi = 4 : db residual = 55) adalah sebesar 2,540. Karena F hitung > F tabel yaitu 18,378>2,540 atau nilai Sig.
F (0,000) <α = 0.05maka model analisis regresi adalah signifikan. Hal ini berarti H0 ditolak dan H1
diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel terikat (Penyerapan Tenaga Kerja) dapat
dipengaruhi secara signifikan oleh variabel bebas (Upah(X1), Omzet (X2), Lama Usaha (X3), dan Pendidikan Pemilik (X4)).
Implikasi Penelitian
Pengaruh Upah Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja
Pada data yang ada berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan terhadap 60 responden rata rata upah yang dibayarkan adalah Rp 1.338.333.tingkat upah terendah yang dibayarkan setiap bulannya adalah Rp 900.000 sedangkan tingkat upah tertinggi yang dibayarkan adalah Rp 1.500.000 setiap bulannya. Jika para pengusaha meningkatkan tingkat upah maka akan meningkatkan biaya produksi dari usahanya. Hasil uji penelitian yang ada sesuai dengan beberapa teori yang ada dimana menurut Miller (2000), fungsi produksi adalah hubungan antara output fisik dengan input-input. Dalam pengertiannya yang paling umum, fungsi produksi bisa ditunjukkan dengan rumus sebagai berikut :Q=F(K,L). Hal tersebut manyatakan bahwa tenaga kerja merupakan input dalam suatu produksi. Biaya yang digunakan untuk tenaga kerja adalah upah, sehingga dengan meningkatnya upah maka perusahaan menanggung biaya produksi yang semakin besar dan akan memperkecil profit yang didapat.
Apabila perusahaan ingin tetap menjaga tingkat profit maka perusahaan harus mengurangi biaya produksinya sehingga harus menurunkan upah dari tenaga kerjanya. Jika tingkat upah tidak bisa diturunkan maka cara lain adalah dengan mengurangi jumlah tenaga kerja yang digunakan. Menurut Nicholson (2002) dimana penurunan upah akan mengurangi biaya marjinal perusahaan, yang memugkinkanya untuk meningkatkan output dan menaikan penggunaan seluruh input terhadap tenaga kerja. Apabila biaya tenaga kerja meningkat perusahaan akan mengurangi jumlah tenaga kerja, jika biaya tenaga kerja menurun maka perusahaan akan meningkatkan jumlah tenaga kerja. Jadi terdapat hubungan negatif antara tingkat upah dengan permintaan tenaga kerja (Bellante dan Jackson 2000).
Pengaruh Omzet Penjualan Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja
Omzet penjualan merupakan variabel yang dapat mempengaruhi penyerapan tenaga kerja dimana semakin besar omzet maka perusahaan akan semakin meningkatkan usahanya dimana hal tersebut membutuhkan tambahan input untuk memproduksi barang tersebut. Tenaga kerja merupakan input dalam sebuah produksi seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya sehingga untuk meningkatkan produksi maka pengusaha membutuhkan tambahan tenaga kerja. Berdasarkan data yang ada berdasarkan 60 responen rata rata omzet yang diterima perbulan adalah Rp 36.048.666 sedangkan omzet terendah yang diterima adalah Rp 12.800.000 dan yang tertinggi adalah Rp 147.000.000.
Menurut hasil dari pengolahan data yang ada menunjukan kesesuaian dengan teori yang ada.Penyerapan tenaga kerja di dalam industri dipengaruhi oleh naik turunnya permintaan pasar akan hasil produksi. Semakin tinggi permintaan akan barang produksi, industri akan menambah jumlah barang produksi dan diikuti dengan penambahan jumlah tenaga kerja untuk menghasilkan barang tersebut (Sumarsono, 2003). Sedangkan menurut Case dan Fair (2007) mengatakan bahwa kuantitas output yang diproduksi oleh perusahaan bergantung pada nilai yang dikenakan pasar pada produk perusahaan. Ini berarti bahwa permintaan input bergantung pada permintaan output. Dengan kata lain permintaan input diturunkan dari permintaan output yang biasa disebut derived demand. Derived demand adalah permintaan sumber daya (input) yang tergantung pada permintaan output yang memakai sumber daya tersebut untuk produksinya. Apabila permintaan hasil produksi perusahaan meningkat, maka produsen cenderung untuk menambah kapasitas produksinya. Untuk maksud tersebut, produsen akan menambah penggunaan tenaga kerjanya (Sumarsono, 2003).
Pengaruh Lama Usaha Terhadap Penyerpan Tenaga Kerja
Untuk rata rata lama usaha keripik tempe adalah 12,8 tahun, sedangkan dari keseluruhan 60 responden usaha paling baru adalah 9 tahun dan lama usaha terlama adalah 21 tahun. Lama usaha membuat pemilik usaha semakin tahu bagaimana kondisi pasar dan bagaimana keinginan konsumen akan suatu pasar atau selera dari konsumen terhadap suatu barang. Sehinggga produsen akan semakin
dapat menciptakan sebuah produk yang diinginkan konsumen. Dengan semakin lamanya sebuah usaha diharapkan pengusaha mendapatkan semakin banyak pengalaman dan semakin inovatif dalam mengembangkan usahanya.
Berdasarkan data yang sudah diolah menunjukan bahwa adanya kesamaan dengan penilitian terdahulu yang ada yaitu semakin lama menekuni bidang usaha perdagangan akan semakin meningkat pengetahuan tentang selera ataupun perilaku konsumen. Keterampilan berdagang semakin bertambah dan semakin banyak pula relasi bisnis maupun pelanggan yang berhasil dijaring (Asmie, 2008). Dengan ketrampilan tersebut maka akan semakin tinggi penjualan dari produknya. Semakin tingginya penjualan maka akan membuat perusahaan tersebut meningkatkan produksinya.
Dengan meningkatnya produksi maka akan ada permintaan tenaga kerja tambahan karena tenaga kerja merupakan faktor produksi yang pasti terdapat disetiap perusahaan. Sehingga dengan kata lain semakin lamanya usia usaha tersebut maka semakin besar penyerapan tenaga kerjanya pula. Maka dari itu lama usaha akan berhubungan secara positif dengan penyerapan tenaga kerja.
Pengaruh Pendidikan Pemilik Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja
Untuk tingkat pendidikan pemilik rata rata tingkat pendidikan formal yang ditempuh dari 60 responden adalah 7,3 tahun dimana tingkat pendidikan terendah adalah 3 SD dan tingkat pendidikan tertinggi adalah 3 SMA. Dengan semakin tingginya pemilik usaha menempuh pendidikan maka pemilik usaha akan mampu memiliki kemampuan dan ilmu yang semakin banyak sehingga dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan usahanya, dengan berkembangnya usaha yang dimiliki maka akan membutuhkan semakin banyak tenaga kerja yang terserap. Hal ini sesuai dengan penilitian terdahulu dari Pratama dan Johanna (2012) yang mengatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan pengusaha maka kemampuan seorang pengusaha untuk mengelola usahanya semakin baik sehingga dapat menyerap banyak tenaga tenagakerja
E. KЕSIMPULAN DAN SARAN Kеsimpulan
1. Variabel Upah, Omzet Penjualan, Lama Usaha, dan Pendidikan secara keseluruhan memiliki pengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja pada industri kecil keripik tempe Sanan Kota Malang. Masing masing variabel mempunyai pengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja pada industri keripik tempe Sanan Kota Malang. Rincian pengaruh masing masing variabel akan dijelaskan sebagai berikut.
a) Upah memiliki hubungan yang berbanding terbalik dengan penyerapan tenaga kerja.
Ketika upah naik maka penyerapan tenaga kerja pada industri keripik tempe akan turun dan juga sebaliknya. Upah sendiri merupakan faktor yang berpengaruh terkuat setelah Omzet Penjualn dan Pendidikan Pemilik.
b) Omzet Penjualan memiliki hubungan yang positif dimana ketika omzet penjualan naik maka penyerapan tenaga kerja pada industri keripik tempe Sanan Kota Malang akan naik juga. Omzet penjualan merupakan faktor terkuat dalam mengubah penyerapan tenaga kerja karena semakin besar penjualan maka perusahaan akan meningkatkan produksi dan semakin menyerap tenaga kerja.
c) Lama Usaha memiliki hubungan yang positif dengan penyerapan tenaga kerja, dimana ketika semakin lama suatu usaha maka penyerapan tenaga kerjanya akan semakin besar juga. Namun lama usaha mempunyai pengaruh yang paling kecil karena kebanyakan usaha yang ada pada sentra industri keripik tempe Sanan Kota Malang didirikan tidak saling terpaut lama.
d) Pendidikan yang ada pada penelitian ini adalah pendidikan pemilik dan memiliki hubungan yang berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja pada sentra industri keripik tempe Sanan Kota Malang. Ketika semakin tinggi pendidikan pemilik usaha maka tenaga kerja yang terserap juga semakin besar. Pendidikan memiliki pengaruh terkuat setelah omzet penjualan, hal ini menggambarkan bahwa semakin tinggi pendidikan yang
ditempuh pemilik maka semakin baik pemilik tersebut mengembangkan usahanya dan akan menyerap tenaga kerja semakin banyak.
2. Faktor yang paling besar dalam mempengaruhi penyerapan tenaga kerja pada sentra industri keripik tempe Sanan Kota Malang adalah faktor Omzet Penjualan. Setelah Omzet Penjualan faktor terkuat adalah Pendidikan lalu faktor Upah dan yang paling lemah adalah faktor Lama Usaha.
Saran
1. Diharapkan pihak perusahaan dapat mempertahankan serta meningkatkan pelayanan terhadap konsumen, karena variabel Omzet mempunyai pengaruh yang dominan dalam mempengaruhi Penyerapan Tenaga Kerja, diantaranya dengan memperluas jaringan penjualan yang ada sehingga Penyerapan Tenaga Kerja akan meningkat.
2. Untuk upah diharapkan pemilik usaha dapat menjaga tingkat upah yang menguntungkan bagi kedua pihak, baik pengusaha maupun tenaga kerjanya, karena apabila hanya memihak pada satu pihak akan merugikan bagi jalanya usaha tersebut.
3. Pengusaha juga diharapkan mampu menjaga stabilitas usahanya karena semakin stabil dan sehat suatu usaha maka usaha tersebut akan berjalan dengan lancar dan usia usaha pun akan semakin lama. Pengusaha juga diharapkan mampu mempelajari setiap permasalahan dan kondisi yang dihadapi sebagai gambaran dan pelajaran dalam menjalankan serta mengembangkan usahanya.
Pengusaha juga diharapkan mampu mebaca dan mempelajari kondisi pasar dan konsumen untuk meningkatkan barang produksinya untuk semakin baik sehingga konsumen semakin puas.
4. Pemilik usaha juga diharapkan meningkatkan pendidikan yang ada baik formal maupun non formal untuk meningkatkan pendidikan dan kemampuan berwirausaha. Serta diharapkan pemerintah memberikan pendidikan non formal berupa pelatihan kepada pemilik usaha seperti dengan memberikan pelatihan keuangan, pemasaran, teknik produksi serta pendidikan kreativitas design dan pembungkusan.
5. Dengan penelitian yang telah dilakukan, diharapkan pemerintah memperhatikan tenaga kerja pada industri kecil terutama pada industri keripik tempe melalui peraturan atau kebijakan seperti pembuatan Undang-undang yang membahas atau mengatur segala hal yang berhubungan tenaga kerja pada industri kecil. Upah, Omzet, Lama Usaha, dan Pendidikan Pemilik hendaknya perlu diperhatikan sebagai indikator utama dalam hal penyerapan tenaga kerja, sehingga dapat menguntungkan bagi tenaga kerja yang ada pada industri kecil Keripik Tempe Sanan Kota Malang.
Karena dengan mengembangkan industri industri kecil yang ada akan memperbanyak lapangan kerja yang tersedia dan meningkatkan kesempatan kerja di Kota Malang. Dengan meningkatnya kesempatan kerja akan mengurangi permasalahan pengangguran yang ada di Indonesia terutama di Kota Malang.
6. Mengingat variabel bebas dalam penelitian ini merupakan hal yang sangat penting dalam mempengaruhi Penyerapan Tenaga Kerja diharapkan hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan bagi peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitian ini dengan mempertimbangkan variabel-variabel lain yang merupakan variabel lain diluar variabel yang sudah masuk dalam penelitian ini
DAFTAR PUSTAKA
Asmie Poniwati. 2008. Analisis Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pendapatan Pedagang Pasar Tradisional Di Kota Yogyakarta.Jurnal Neo-Bis.2, (2).
Badan Pusat Statistik (BPS), diakses dari http://www.bps.go.id/, diakses pada tanggal 4 September 2016 jam 22.30
Bellante, D. dan M. Jackson. 1990. Ekonomi Ketenagakerjaan. Terjemahan.Jakarta: Lembaga Penerbit Universitas Indonesia.
Bellante, Don, Mark Jackson. 2000. Ekonomi Ketenagakerjaan. Edisi Terjemahan. Jakarta: FE UI.
Bellante Don. Mark Jackson. 2006. Ekonomi Ketenagakerjaan. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Indonesia
Case, Karl E. dan Ray.C Fair. 2007. Prinsip-Prinsip Ekonomi, Edisi Kedelapan. Jilid 1. Jakarta:
Erlangga.
Kuncoro, M. 1997. Ekonomi Pembangunan, teori, masalah dan kebijakan. Yogyakarta: UPP AMD YKPN
Kuncoro, M. 2007. Industri Kecil dan UMKM. Jakarta: FE UI.
Nicholson, Walter., 2002. Mikroekonomi Intermediate dan Aplikasinya. Edisi Kedelapan. Alih Bahasa oleh IGN Bayu Mahendra dan Abdul Aziz.Yogyakarta: Erlangga.
Republik Indonesia. 1984. Undang Undang No. 5 Tahun 1984 Tentang Perindustrian.Jakarta:
Sekretariat Negara.
Republik Indonesia. 1995. Undang Undang No. 9 Tahun 1995 Tentang : Usaha Kecil. Jakarta:
Sekretariat Negara.
Republik Indonesia. 2003. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Jakarta:
Sekretariat Negara.
Simanjuntak, P. J. 1996. Pengantar Ekonomi Sumberdaya Manusia. Jakarta: FE UI.
Simanjuntak, P. 1998. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Simanjuntak, P.2001. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia Edisi 2001. Jakarta: FEUI
Payaman J. Simanjuntak . 1985. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sumarsono, Sonny. 2003. Ekonomi Manajemen SDM, Keternagakerjaan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sukirno, Sadono, 2005. Mikro Ekonomi Teori Pengantar, Edisi Ketiga, Jakarta:
Todaro.M.P., 2000.Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga (H.Munandar, Trans. Edisi Ketujuh).
Jakarta: Erlangga.
Todaro M.P. 2006.Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Jakarta. Erlangga.