• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIGITAL SKILL DALAM PENYUSUNAN KEBIJAKAN

N/A
N/A
Taufiq Akbar

Academic year: 2023

Membagikan "DIGITAL SKILL DALAM PENYUSUNAN KEBIJAKAN"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

Instansi pemerintah seperti lembaga pengembangan pelatihan perlu melakukan berbagai penyesuaian sesuai dengan tuntutan zaman. Akhir kata, atas nama Lembaga Manajemen Negara, kami mengucapkan terima kasih kepada tim penulis atas waktu dan masukannya sehingga bahan ajar ini dapat hadir di kalangan peserta pelatihan. Namun kami menyadari bahwa bahan ajar ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu kami terbuka terhadap masukan dan saran untuk perbaikan isi bahan ajar ini.

DAFTAR TABEL

Membaca dengan cermat seluruh materi yang ada dan memahami tujuan pembelajaran yang tertera pada awal setiap bab. Jika ada hal yang kurang jelas, dapat melakukan tanya jawab dengan fasilitator dalam kegiatan pembelajaran di kelas; Cobalah untuk melakukan latihan dan evaluasi pada akhir setiap bab modul ini; Untuk memperluas wawasan, disarankan untuk mempelajari bahan-bahan dari sumber lain sebagaimana tercantum dalam daftar pustaka di akhir modul ini;

Latar Belakang

Agar tidak ketinggalan dalam pembuatan program dan anggaran, maka pengelola harus sadar secara digital, artinya teknologi digital merupakan sesuatu yang harus dipahami dan digunakan dalam proses kerja organisasi di semua tingkatan. Seorang pemimpin digital juga harus mampu melakukan inovasi proses kerja, baik secara teknologi maupun manajerial. Dalam berkomunikasi dengan seluruh lini organisasi maupun pelanggan eksternal, manajer digital harus mampu menyesuaikan keterampilannya dengan perkembangan teknologi digital (mesin) baik secara lisan maupun menggunakan perangkat komunikasi digital (perangkat pintar: telepon genggam, internet, laptop ). ) dan media sosial lainnya (WhatsApp, Facebook, Instagram dan Youtube.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan dan mengadaptasi kemampuan kepemimpinan, seorang pemimpin digital harus mampu menguasai teknologi digital yang mendukung pelaksanaan komunikasi kerjanya. Inisiatif merupakan pemikiran dan gagasan yang dikemukakan dan diprakarsai oleh seorang pemimpin untuk menjadi landasan dalam melaksanakan pekerjaan organisasi. Merujuk pada pendapat dan pemikiran bapak pendidikan nasional Indonesia Ki Hajar Dewantoro, prinsip kepemimpinan yang disampaikan bersumber dari sosok pemimpin yang dikatakan sebagai seorang pendidik.

Seorang pemimpin harus bisa berada diantara para pegawainya agar dapat berdiskusi secara menyeluruh dan mendalam untuk menghasilkan gagasan dan gagasan/inisiatif yang dapat dilaksanakan oleh para pegawainya. Dalam konteks ini, seorang pemimpin harus dapat memfasilitasi para pegawainya dalam melaksanakan gagasan atau gagasan yang muncul dari seorang pemimpin, sehingga dalam proses kerja keterampilan para pegawai dapat leluasa dikembangkan sesuai dengan gagasan yang telah muncul. . Maksud dari kalimat tersebut adalah seorang pemimpin harus mampu memberikan dukungan kepada bawahannya sebagai bentuk dukungan dan bimbingan.

Selain pembelajaran, seorang pemimpin juga harus mempunyai pengalaman yang cukup, baik maupun buruk, sebagai sumber pembelajaran dalam proses kerjanya. Transformasi digital disebut dengan strategi, sehingga seorang pemimpin harus mampu melibatkan budaya perusahaan (organisasi) sebagai bagian dari transformasi digital (digital culture). Di era digital saat ini, selain mampu ‘beroperasi’, seorang pemimpin juga harus memiliki kompetensi yang memadai.

Selain itu, sangat penting agar orang lain mau bekerja sesuai rencana dan program kerja organisasi, yang ditetapkan sesuai waktu dan tujuan, diperlukan kepemimpinan yang harus dimiliki seorang pemimpin. Maka untuk mendapatkan pemimpin dengan kepemimpinan yang baik memerlukan suatu proses, artinya kepemimpinan yang baik harus dibentuk melalui proses pembinaan karakter yang berkesinambungan dalam organisasi yang bersangkutan.

Deskripsi Singkat

Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pembelajaran, peserta mampu: .. a) memahami kompetensi literasi digital sebagai dasar untuk menguasai media digital; dan.. b) memahami keterampilan digital untuk perumusan kebijakan.

Materi Pokok dan Sub Materi Pokok

Setelah mengikuti proses pembelajaran ini, peserta akan memiliki keterampilan teknologi digital untuk mendukung proses pengambilan keputusan atau membuat kebijakan.

  • Ruang Lingkup Kepemimpinan Digital
  • Fungsi-Fungsi Kepemimpinan Digital
  • Prinsip Dasar Kepemimpinan Digital
  • Unsur-Unsur Kepemimpinan Digital
  • Kompetensi Kepemimpinan Digital
  • Ragam Tipe Kepemimpinan Digital

Bahwa pemimpin digital adalah pemimpin yang harus mempunyai dan dapat berkolaborasi dalam pelaksanaan tugasnya dengan seluruh mitra kerja yang berkaitan dengan tugas organisasi, baik internal maupun eksternal organisasi, baik secara horizontal maupun vertikal. Seorang pemimpin digital harus kaya akan inisiatif dan inisiasi dalam menjalankan tugas kepemimpinannya, terutama yang berkaitan erat dengan tindakan dan proses bisnis digital yang mempertimbangkan sumber daya digital, antara lain: sumber daya manusia, infrastruktur jaringan, rekayasa proses bisnis (BPE) dan perangkat digital. .. Seorang pemimpin mempunyai tanggung jawab dalam pekerjaannya untuk memberikan semangat kepada pegawainya agar dapat mencapai tujuan dalam jangka waktu yang telah ditentukan secara berkelanjutan. Prinsip kepemimpinan yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara merupakan kepemimpinan “Indonesia” karena bersumber dari nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia khususnya budaya. Jawa.

Untuk dapat memberikan jawaban dan tindak lanjut oleh seorang pemimpin tentunya diperlukan dukungan manajemen yang optimal dari aspek Teknologi Informasi-. Teknologi perkantoran berbasis IT: internet, email, media sosial (WA, Facebook, IG, Telegram dan seperti ), email. Banyak keuntungan jika seorang pemimpin digital menguasai penggunaan alat digital dalam hal pengendalian organisasi dan transparansi proses kerja secara keseluruhan, dimana pengendalian organisasi dapat dilakukan secara online. Sebutan keluwesan seorang pemimpin di era industri 4.0 saat ini dikenal dengan sebutan Gesit yang secara umum berarti gesit atau cerdas atau gesit atau gesit atau gesit atau gesit (https://lektur.id dengan soek/soek untuk judul artikel 6 Makna dari Kata Tangkas dalam Kamus Bahasa Terjemahan Bahasa Inggris).

Hal yang utama dalam kepemimpinan adalah kemampuan pemimpin dalam membangun hubungan kemanusiaan antara dirinya dengan karyawannya dan pemangku kepentingan. Hubungan kemanusiaan yang dimiliki pemimpin akan memungkinkan terjadinya pemahaman akan rasa keterhubungan, saling menghargai, saling mendukung, saling menghormati, saling menguatkan dan saling mempercepat dalam proses kerja mencapai tujuan bersama dalam organisasi. benar bahwa mencapai tujuan organisasi pada dasarnya akan melestarikan kehidupan. Jika kita berbicara tentang kepemimpinan, tentunya kita juga akan berbicara tentang model kepemimpinan, dimana dengan model kepemimpinan tersebut kita akan melihat gaya pemimpin dalam menjalankan seni kepemimpinannya.

Dari berbagai penelitian, kepemimpinan situasional berupaya mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama keberhasilan seorang pemimpin dalam menjalankan tugas organisasi dengan baik, efektif, dan efisien. Kepemimpinan harus efektif, artinya segala strategi dan metode atau gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh seorang pemimpin harus ditujukan untuk memaksimalkan pelayanan dan produk bagi organisasi dan anggotanya, serta bagi pemangku kepentingan. Merupakan model kepemimpinan dimana seorang pemimpin lebih cenderung memberikan arahan kepada bawahannya dan memberikan insentif dan hukuman atas kinerjanya, serta menekankan perilaku untuk membimbing pengikut/bawahannya.

  • Kepemimpinan Sektor Publik
  • Kepemimpinan e-Government
  • Kepemimpinan Elektronik
  • Kepemimpinan Entrepreneur

Apalagi ketika era tersebut juga ditandai dengan meluasnya penggunaan teknologi informasi di lingkungan pemerintahan atau sering dikenal dengan e-Government (Kraemer dan King, 2006). Meskipun era ini masih diwarnai perdebatan apakah e-Government relevan dan dapat digunakan sebagai alat reformasi administrasi publik oleh para pemimpin organisasi publik (Helbig et. al., 2009). Namun pada saat seperti ini, biasanya dapat dipastikan bahwa kepemimpinan, apapun bentuknya, selalu “tertekan”, apalagi ketika media massa membesar-besarkan berbagai persoalan yang memerlukan solusi segera dari pemimpinnya (Boin, dkk., 2005).

Sebenarnya e-Government sendiri dimulai ketika pemanfaatan teknologi informasi mencapai kesuksesan dalam bidang bisnis atau dikenal dengan e-Commercial (e-Com). Meskipun permasalahan keamanan dalam e-Government banyak dipertanyakan, namun penelitian Lai menunjukkan bahwa berdasarkan sistem ArcIMS, permasalahan keamanan dapat diselesaikan dengan baik (Lai et. al., 2006). Stojanovic dkk. al., 2006), akan sulit menerapkan e-Government di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dan terdapat kebutuhan nyata akan kepemimpinan kewirausahaan yang kuat (Andersen, 2006).

Bahkan, dalam beberapa kasus, desentralisasi yang dilakukan pemerintah seringkali menimbulkan konflik berkepanjangan antara pemimpin lokal dan nasional dalam perebutan barang daerah (Palmer, 2007; White et. al., 2005). Bagi pemerintah pusat (departemen dan nondepartemen) dan daerah yang telah memiliki infrastruktur teknologi informasi yang memadai, hal ini tidak menjadi masalah. Sebagian besar wilayah tersebut menghadapi permasalahan kesenjangan digital akibat terbatasnya infrastruktur pendukung dan terbatasnya kapasitas sumber daya manusia dalam mengakses teknologi informasi.

Sedangkan syarat mendasar penerapan model kepemimpinan di era e-Government, beberapa di antaranya adalah: (1) ketersediaan sumber daya teknologi informasi seperti bandwidth, jalur jaringan, server dan komputer pribadi, serta aplikasi perangkat lunak terkait. ; (2) ketersediaan berbagai karyawan, seperti webmaster, ahli jaringan, administrator server, teknisi dan pemrogram; (3) adanya pakar manajemen informasi dan kebijakan sebagai ahli yang mampu menerjemahkan kekuasaan dan wewenang organisasi publik ke dalam aplikasi teknis di website (Moon et. al., 2005). Perkembangan e-Government melibatkan tiga domain besar yang perlu diperhatikan, yaitu institusi (sistem administrasi pemerintahan), organisasi (lembaga pemerintah dan pemangku kepentingan) dan teknologi informasi. Dan yang terakhir, namun sebagai awal baru untuk perbaikan lebih lanjut, melakukan evaluasi terhadap kinerja administrasi publik pasca penerapan teknologi informasi dan komunikasi (e-Government).

  • Tantangan Kompleksitas dan Disrupsi Teknologi Digital
  • Pengambilan Keputusan yang Gesit dan Inovatif
  • Metode dan Prinsip Pengambilan Keputusan yang Gesit dan Inovatif
  • Instrumen Mewujudkan Pengambilan Keputusan yang Gesit dan Inovatif

Birokrasi publik menghadapi kompleksitas kesenjangan antar generasi dalam aspek cara kerja dan harapan yang berbeda (Kornelsen, 2019). Informasi yang tidak lengkap ini berdampak pada ketidakpastian atau ambiguitas birokrasi publik dalam mengambil keputusan yang tepat, yang pada akhirnya merugikan kepentingan banyak pihak (Abidi & Joshi, 2018). Birokrasi publik ini merupakan birokrasi yang memiliki kualifikasi dan kapasitas baru, mampu menciptakan model perumusan kebijakan, kapasitas perumusan kebijakan, bahkan model pelatihan baru yang mampu menciptakan aktor kebijakan yang agile.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita dapat menciptakan birokrasi publik yang tangkas dan inovatif di era VUCA ini. Jika diterapkan, metode agile ini akan mengubah pola pikir pengambilan keputusan birokrasi publik sekaligus mengikis mentalitas silo yang menjadi bagian dari cara kerja birokrasi. Ketika birokrasi publik memutuskan untuk mengadopsi paradigma agile, maka akan terjadi perubahan mendasar pada budaya kerja birokrasi menjadi lebih kolaboratif dan responsif.

Oleh karena itu, birokrasi publik harus mampu melepaskan diri dari hukum pertama gravitasi organisasi. Birokrasi publik juga harus fleksibel untuk beradaptasi dengan tuntutan pelanggan yang berbeda dan perubahan zaman. Untuk itu, birokrasi publik yang agile harus berinvestasi pada sumber daya manusia yang memiliki keterampilan digital, seperti kecerdasan buatan, pembelajaran mesin, atau algoritma prediktif.

Oleh karena itu, sumber daya yang adaptif dan mampu mengintegrasikan semua itu dalam pengambilan keputusan birokrasi tidak dapat dihindari dalam pengelolaan kerja birokrasi publik yang agile dan inovatif.

Evaluasi Kegiatan Belajar

Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Referensi

Dokumen terkait

Algoritma hanya akan berjalan dengan baik jika hanya terdapat satu data measure, sedangkan ruang lingkup permasalahan yang akan ditemui dan ditanyakan akan lebih kompleks