• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terbaru Headline Rubrik Event Shop Masuk Bahasa Melayu Akar dari

N/A
N/A
alexnguyen

Academic year: 2023

Membagikan "Terbaru Headline Rubrik Event Shop Masuk Bahasa Melayu Akar dari "

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Terbaru Headline Rubrik Event Shop Masuk Bahasa Melayu Akar dari Bahasa Indonesia 31 Oktober 2012 13:52:09 Diperbarui: 24 Juni 2015 22:09:41 Dibaca : 6,163 Komentar : 0 Nilai : 0 Bahasa Melayu Akar dari Bahasa Indonesia (Sumber : www.seruu.com) Saat ini bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional dan bahasa Negara di Indonesia. Di samping bahasa Indonesia, di Indonesia juga terdapat banyak bahsa, baik bahsa daerah maupun bahasa asing, yang digunakan sebagai alat komunikasi . Salah satu diantara bahasa daerah yang tidak dapat dari sejatah bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu. Sebenarnya bahasa Melayu mempunyai penutur yang relatif sedikit dibandingkan dengan jumlah penutur bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Walaupun demikian, ternyata bahasa Melayu terpilih sebagai dasar bahasa Indonesia. Hal itu berarti bahwa bahasa Indonesia yang dikenal saat ini sebenarnya berasal dari bahasa Melayu. Terpilihnya bahasa Melayu sebagai dasar bahasa Indonesia mungkin menimbulkan pertanyaan, misalnya kok bahasa melayu yang disepakati sebagai dasar bahasa Indonesia? Padahal disamping bahasa Melayu juga terdapat bahasa daerah yang lain seperti bahasa Jawa yang jumlah penuturnya jauh lebih banyak. Akan tetapi, bukan bahasa Jawa yang disepakati sebagai dasar bahasa Indonesia, melainkan bahasa Melayu Penentapan bahasa Melayu sebagai dasar bahasa Indonesia memang tidak semata-mata berdasarkan jumlah penutur. Namun, ada faktor lain yang mendasarinya. Salah satu faktor yang menyebabkan bahasa Melayu terpilih menjadi dasar bahasa Indonesia adalah faktor intralinguistik. Faktor intralinguistik adalah faktor yang ada di dalam bahasa itu sendiri, dalam hal ini bahasa Melayu. Kelebihan bahasa Melayu dibandingkan dengan bahasa daerah lain, misalnya bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Madura, dan bahasa Bali ditinjau dari faktor intralinguistik tampak dalam hal tingakatn bahasa. Bahkan dapat dikatakan bahasa melayu tanpa tingkatan bahasa. Kelebihan bahasa Melayu, yaitu sedikit atau tanpa tingkatan bahasa tentu akan mempermudah penutur menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu terjadi karena dengan penguasaan kosa kata yang terbatas dimungkinkan terjadi

komunikasi antara berbagai lapisan. Sebaliknya di dalam bahasa daerah yang lain, seperti bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Bali pemilihan kosakata dalam komunikasi cenderung dipengaruhi oleh tuntutan tingkatan bahasa yang dimiliki. Jadi, dapat dipahami bahwa penggunaan bahasa Melayu ternyata tidak serumit bahasa daerah lain yang memiliki tingkatan bahasa. Faktor lain yang menyebabkan terpilihnya bahasa Melayu sebagai dasar bahasa Indonesia adalah faktor ekstralinguistik, yaitu faktor yang berada di luar bahasa Melayu. Faktor diluar bahasa Melayu ini meliputi latar belakang sosial budaya. Kelebihan bahasa Melayu dibandingkan dengan bahasa daerah lain dilihat dari faktor ekstralinguistik tampak dalam dua hal. Pertama, bahasa Melayu telah tersebar luas di wilayah Nusantara. Hal itu disebabkan oleh penuturnya yang cenderung berwatak perantau. Penutur bahasa Melayu merantau karena kebanyakan diantara mereka berprofesi sebagai pedagang. Kedua, pada zaman kerajaan Srwijaya bahasa Melayu telah diangkat sebagai bahasa kebudayaan dan bahasa ilmu pengetahuan, terutama pada sekolah tinggi pusat agama Budha. Disampin itu, bahasa Melayu juga telah menjadi lingua franca (bahasa perhubungan). Nah,menarik bukan jika kita mengetahui bagaimana bahasa Melayu menjadi dasar Bahasa Indonesia. Herdian Armandhani /armandhani TERVERIFIKASI (HIJAU) Kalau Tidak Mampu untuk Menjadi Pohon Beringin yang Kuat untuk Berteduh, Jadilah Saja Semak Belukar yang Sisinya Terdapat Jalan Setapak Menuju Telaga Air Selengkapnya... IKUTI Share 20 0 0

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS. LABEL bahasadaerah melayu bahasa sosialbudaya humaniora TANGGAPI DENGAN ARTIKEL RESPONS : 0 NILAI : 0 Beri Nilai Headline 1 Menanti Jokowi di El Tari (#KunkerPresiden 3) ISJET @iskandarjet 27 Desember 2015 2 Inilah 5 Keistimewaan Naik BRT di Kota Makassar Anis Kurniawan 28 Desember 2015 3 Rumput Laut Sebagai Sumber Pendapatan Alternatif (Potret dari 4 Daerah di Sulsel) Anis Kurniawan 27 Desember 2015 4 Mengikuti Kunjungan Kerja Presiden Jokowi

(2)

ke Kupang #1 Gapey Sandy 27 Desember 2015 5 Kantor Kelurahan Sari Bungamas Sederhana, tapi Bikin Sejuk Edi Susanto 27 Desember 2015 Nilai Tertinggi Jenis Pekerja Seks Komersial Herry FK 28 Desember Syahwat Berkuasa PAN nan kebablasan Axtea 99 28 Desember Kenapa mundur Pak Djoko? Jangan-jangan.. Ryo Kusumo 28 Desember Dongeng untuk Jokowi #3: Ini Bukan Hanya Tentang Papua, Pak Ahmad Maulana S 28 Desember ''Desol'' KANG NASIR 28 Desember Terpopuler Syahwat Berkuasa PAN nan kebablasan Axtea 99 28 Desember Jokowi Dipaksa Bermatematika, Kue Kekuasaan Timpang, Politik Terus Gaduh Franko Sitanggang 27 Desember Kenapa mundur Pak Djoko? Jangan-jangan..

Ryo Kusumo 28 Desember Menanti Jokowi di El Tari (#KunkerPresiden 3) ISJET

@iskandarjet 27 Desember [Mike Reyssent] Salah Kaprah Pimpinan KPK Baru Adalah Kado Natal Dari DPR RI Said Didu 27 Desember Tren di Google Tidak Ada Awan dari Bengkulu, Dunia Kiamat Penjelajah Alam 27 Desember 2015 RJ Lino Tersangka, Permainan Sofyan Djalil dan Kalla Terkuak, Rizal Ramli Bersorak Asaaro Lahagu 26 Desember 2015 Makanan Orang Miskin di Indonesia? Coba Tengok Harganya di Australia TJIPTADINATA EFFENDI 27 Desember 2015 Ajaran Kasih Yesus Ada pada Jokowi Daniel H.T. 26 Desember 2015 ISIS Marah Besar, Koalisi AS- Rusia- Arab Saudi Terdiam, dan PBB yang Tak Berkutik Ricky Vinando 27 Desember 2015 Gres Awal Perjuangan Guus Hiddink gadang_irsyandi 27 Desember Ledakan Penduduk dan Kualitas SDM (Refleksi Akhir Tahun 2015) Tita Almira Desiana 27 Desember Tertibkan Para Calo Tiket Bus/Penumpang di Terminal Bus Ubung Denpasar Jems Mil 27 Desember Komika Ramaikan Ranah Perfilman Tanah Air Rizqiani Aulia 27 Desember Pasar Hewan Jatinegara, Legalkah? Annisa Nur Hasanah 27 Desember Tentang Kompasiana Syarat & Ketentuan

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/armandhani/bahasa-melayu-akar-dari-bahasa- indonesia_5518f21f81331193729de0be

(3)

Jurnalistik

Senin, 02 Juni 2014

Akar Bahasa Indonesia

Akar Bahasa Indonesia

Monumen Bahasa Pulau Penyengat

Pembangunan Tugu Bahasa

Bahasa melayu yang dulunya hanya digunakan oleh suku melayu dan sebagian bangsa penjajah di Kepulauan Riau kini mulai berkembang menjadi bahasa yang digunakan oleh seluruh Indonesia yang kini disebut dengan bahasa Indonesia.

Bahasa melayu yang awalnya berkembang di Kepulauan Riau ternyata kini memberikan sumbangan yang besar bukan hanya untuk bangsa Indonesia tetapi juga untuk Negara-negara tetangga.

“Bahasa melayu yang berkembang di Riau ini ternyata sangat berperan penting dan memberikan kontribusi bagi tiga Negara seperti Malaysia, Singapura, dan Indonesia tentunya” ujar Alida Bahtiar Jihan seorang peneliti bahasa melayu dari Universitas Indonesia (UI) sekaligus merangkap sebagai staf di museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah.

“seharusnya Malaysia dan Singapura berterimakasih kepada kita karena bahasa melayu yang mereka gunakan merupakan pemberian kita sebagai bangsa melayu” ujarnya lagi.

(4)

Bahasa melayu yang merupakan cikal bakal bahasa Indonesia yang sangat berperan penting, kini untuk memperkenalkan akan sejarah bahasa itu sendiri dibangunlah Monumen Sejarah Bahasa Melayu sebagai Bunda Bahasa Indonesia. Monument bahasa tersebut dibangun di pulau Penyengat. Dipilih pulau penyengat sebagai lokasi pendirian monument tersebut dikarenakan Pulau penyengat merupakan daerah lahirnya bahasa melayu yang terbukti dengan naskah-naskah peninggalan tentang bahasa itu sendiri.

Monumen Bahasa dibangun dengan tiga tahap, yakni Tahap I sudah dilaksanakan pada tahun 2013 lalu. Pada tahap pertama ini direncanakan akan dimulai dengan pemotongan lahan, struktur baseman lantai 1-2-3.

Tahap 2 akan dilanjutkan dengan pembangunan lantai 4, 8, 9, 10, pemasangan bata, pemasangan atap spektrum dan ornamen Alif. Tahap 2 akan dilanjutkan tahun 2014 dengan anggaran sekitar Rp8 miliar. Sedangkan tahap 3 dilanjutkan di tahun 2015 yang akan datang dengan anggaran sekitar Rp4 miliar. Pembangunan yang akan dilakukan meliputi pemasangan instalasi mekanikal, elektrikal, sanitasi, lanscape, jalan lingkungan dan pencahayaan. Sedangkan biaya dari pembangunan monument bahasa ini berasal dari pajak yang dbayarkan oleh seluruh masyarakat.

“Menara ini akan dibangun setinggi 62 meter dan lebar 40 meter, bermotifkan Alif dan huruf ya dan Ini satu-satunya monumen Bahasa Melayu Di Indonesia”. Ujarnya lagi.

Huruf Alif di ambil sebagai motif bangunan karena huruf Alif merupakan huruf pertama dalam aksara arab yang mencerminkan di tempat tersebut adalah tempat pertama bahasa Indonesia itu berasal.

Dijelaskannya, pembangunan monumen ini dilakukan merupakan tindak lanjut Mufakat 12 antara Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau dengan LAM Kepri dalam sebuah pertemuan serta seminar nasional Bahasa Indonesia di Pekanbaru tanggal 21-22 Desember 2010 lalu.

Pada pasal 7 Mufakat 12 disebutkan, untuk mengekalkan ingatan dan menanamkan nilai-nilai kesadaran sejarah pada generasi kini dan masa yang akan datang tentang arti Bahasa Melayu itu sendiri dibangunlah sebuah monument Bahasa melayu.

Berdirinya monument bahasa melayu di Kepulauan Riau meberikan arti penting bagi generasi yang akan datang kelak dikemudian hari. Hal ini dikarenakan dari sinilah bahasa Indonesia yang kita gunakan dan kita kenal sekarang ini berasal. Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa melayu ini awalnya merupakan bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi antara para pedagang dan semakin berkembang hingga sekarang. Pada zaman penjajahan di Riau bahasa melayu dianggap sebagai bahasa yang berperan penting karena bahasanya sangat sederhana sehingga mudah untuk digunakan. Maka bahasa melayu digunakanlah sebagai

(5)

bahasa pengantar dikalangan masyarakat. bahasa melayu yang digunakan masyarakat semakin berkembang sampai saat ini. Pada hari ini kita mengenal bahasa Indonesia tetapi tidak banayak mengetahui dari mana asal bahasa Indonesia itu berasal dan dari bahasa apa bahasa Indonesia terbentuk.

Generasi muda baik yang sekarang, maupun yang akan datang sekurang-kurangnya mengetahui asal bahasa yang ia gunakan terutama bahasa Indonesia. Generasi muda Kepulauan Riau khususnya harus bangga karena tnggal didaerah dimana bahasa Indonesia yakni bahasa yang digunakan oleh seluruh masyarakat Indonesia sebagai bahasa persatuan itu berasal dari bahasa melayu dan bahasa melayu tersebut berasal dari Kepulauan Riau.

Pembangunan Monument Bahasa Melayu di Pulau Penyengat yang direncanakan selesai dalam 3 tahapan dan akan selesai pada akhir tahun 2015 mendatang kemungkinan tidak bisa terlaksana. Dan jika dilihat dari kondisi pembangunannya saat ini waktu penyelesaian proyek ini akan memakan waktu lebih lama dari waktu yang sudah ditentukan (27/05).

“tak terdengar lagi rencana kelanjutan pembangunannya, hampir satu tahun pembangunannya tapi yang baru dapat dilihat hanya pondasinya saja”. Jelas Windri salah seorang warga Pulau Penyengat.

Bangunan monument Bahasa Melayu yang di bangun di Bukit Kursi diperkirakan memakan waktu yang lebih lama dalam penyelesaiannya. Pembangunannya diperkirakan akan meleset dari waktu yang sudah ditetapkan. Untuk tahap pertama yang berakhir 2013 lalu saja belum memperlihatkan hasil yang memuaskan. Untuk menyelesaikan pembangunan tahap pertama ini membutuhkan waktu tambahan yang cukup lama. Waktu tambahan yang digunakan untuk pembangunan tahap pertama seharusnya digunakan untuk pembangunan tahap kedua yakni tahun 2014 ini. Akan tetapi hingga kini pembangunan pada tahap pertamapun belum terrealisasikan.

Pemenang lelang Proyek yaitu PT. Tiga Naga Emas sudah memulai pembangunan monument Bahasa Melayu ini sebelum bulan Agustus 2013 lalu. Tapi sampai saat ini yang dapat dilihat hanya beberapa persen saja dari pengerjaan tahap pertama yang berakhir tahun 2013. Tahap pertama ini saja menghabiskan anggaran sekitar Rp3,2 Miliar. Pada tahap pertama ini akan dimulai dengan pemotongan lahan, struktur baseman lantai 1, 2, dan 3.

“kalau dilihat ini saja yang baru dibangun, hanya pondasi yang belum siap serta besi-besi yang sudah mulai karatan” jelas windri lagi saat ditemui dilokasi Pembangunan monument Bahasa Melayu.

Di lokasi pembangunan hanya terlihat besi-besi yang sudah mulai karatan beserta pondasi yang belum selesai. terlihat genangan air yang mengisi bagian galian pondasi yang tidak

(6)

selesai tersebut. Sedangkan plang pembangunannya pun sudah dicabut dan dibiarkan tergeletak begitu saja. Dibagian lain lokasi terlihat juga gundukan batuu garanit sebagai sisa dari pembangunan monument tersebut. Selain itu lahan pembangunannyapun sudah terlihat tidak terawat. Terlihat dari berseraknya sisa-sisa tripek, kayu-kayu, dan besi bangunan.

Seharusnya pada tahap pertama yang menghabiskan dana hampir 3,2 Miliar ini sudah bisa dilihat bagian baseman lantai 1, 2, dan 3. Terlihat dana yang cukup besar yang sudah dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang ada. Sudah satu tahun berlalu proyek pembangunan tugu bahasa untuk tahap pertama ini saja tidak kunjung usai.

Peralihan bahasa Melayu Kebahasa Indonesia

Sebagai masyarakat yang tumbuh dalam kecangghan teknologi yang semakin berkembang, kita dengan mudah bisa mengakses informasi yang kita butuhkan. Seperti lewat google yang sudah terkenal saat ini. Di sinilah kita bisa menambah ilmu serta pengetahuan yang bermanfaat. Lewat penelusuran google juga dapat dilihat perkembangannya bahasa melayu menjadi bahasa Indonesia. sejarahnya haruslah dimengerti oleh generasi muda sekarang.

Bahasa-bahasa yang tersebar di dunia ini tidak hanya tumbuh dalam seting historis tertentu, tetapi juga berkembang berdasarkan interaksi dengan lingkungan sosial tertentu yang bersinggungan antar ruang dan waktu. Ini yang menyebabkan terjadinya saling mempengaruhi dalam penggunaan bahasa. Perkembangan historis itu dapat dilihat dari asal usul bahasa yang merupakan alat komunikasi antar orang yang berkembang dari bahasa isyarat ke kata-kata yang semakin komunikatif.

Perkembangan itu juga berlangsung dalam satu ruang sosial. Perubahan-perubahan ruang yang terjadi telah menyebabkan satu bahasa bertemu dengan bahasa lain. Daerah perbatasan, misalnya mempertemukan suatu tempat dengan tempat lain, saling pengaruh antar bahasa terjadi dengan intensitas yang melebihi daerah-daerah lain. Pertemuan itu menyebabkan saling pengaruh dan memperkaya khasanah bahasa masing-masing, sehingga itudapat memperkaya perbendaharaan kata baru.

Perkembangan bahasa dalam konteks tersebut di atas memiliki tiga bentuk: pertama perkembangan bahasa yang dipengaruhi oleh interaksi antar daerah; kedua perkembangan yang bahasa disebabkan oleh interaksi antara satu bahasa daerah dengan bahasa daerah yang lain; dan yang terakhir, perkembangan bahasa yang diakibatkan oleh pertemuan bahasa ini dalam konteks yang lebih luas (Irwan Abdullah, 2007).

Menurut ahli etnologi dan filologi, bahasa Melayu termasuk bahasa Austronesia (Bahasa Melayu Lama) , berasal dari Kepulauan Riau (Sumatera) telah mengalami proses

(7)

perkembangan seperti itu. Mula-mula bahasa ini hanya dipercakapkan terbatas oleh penuturnya di Riau dan sekitarnya. Secara kebetulan, karena kepulauan ini terletak di jalur perdagangan yang sangat ramai di selat Malaka; dan penduduknya sebagian besar bermatapencaharian sebagai nelayan atau pedagang antar pelabuhan; serta bahasanya mudah dipahami atau komunikatif; maka penutur bahasa Melayu sering berinteraksi dengan penutur bahasa yang lain (seperti bahasa Hindi, Malagasi, Tagalok, Jawa, dan lain-lainnya) sehingga menjadi dikenal dan berkembang di Malaka dan daerah-daerah sekitarnya (Vlekke, 2008:

11). Akhirnya bahasa ini tidak hanya digunakan oleh para pedagang di sekitar perairan Malaka, tetapi juga di seluruh Nusantara. Pada Zaman Kerajaan majaphit, atau diperkirakan sebelum abad XV, bahasa Melayu itu telah menjadi lingua franca – bahasa dagang - bagi para saudagar di pelabuhan-pelabuhan di Asia, Asia Tenggara, dan Asia Timur (Ricklefs, 1991:

77; Linschoten, 1910: Bab IV)

Pada bulan Agustus 2002, bahasa Melayu – dianggap banyak penuturnya di dunia - pernah ditulis di dalam salah satu surat khabar di Malaysia bahwa bahasa Melayu menduduki posisi keempat dalam urutan bahasa utama dunia, setelah Bahasa Tionghoa, Inggris, dan Spanyol.

Menurut James T. Collins, hal itu tidak betul. Ia mengatakan bahwa jumlah penutur bahasa Melayu di seluruh dunia hanya 250 juta orang, sedang penutur bahasa Hindi – yang menjadi bahasa ibu maupun bahas kedua (ketiga) di India dan di negara lain seperti di Mauritius, Afika selatan, Yaman, dan lain-lain pada thun 1988 – berjumlah 300-435 juta orang (J.C.

Collins, 2009, hal. 14-21).

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa melayu mempunyai peranan yang sangat penting di berbagai bidang atau kegiatan di Indonesia pada masa lalu. Ini tidak hanya sekedar sebagai alat komunikasi di bidang ekonomi (perdagangan), tetapi juga di bidang sosial (alat komunikasi massa), politik (perjanjian antar kerajaan), dan sastra-budaya (penyebaran agama Islam dan Kristen) (Suryomihardjo, 1979, hal. 63). Di Indonesia banyak karya sastra berbahasa Melayu, di antaranya seperti Hikayat Raja Pasai,Sejarah Melayu, Hikayat Hasanudin, dan lin-lain.

Sejak itu penguasaan dan pemakaian bahasa Melayu menyebar ke seluruh pelosok kepuluan Indonesia (tidak hanya di daerah pantai atau pelabuhan tetapi juga di pedalaman) dan memberikan wilayah yang heterogen itu suatu kesan kebersatuan kepada pihak luar. Tetapi ada juga kesatuan yang lebih mendalam yang mengikat bersama sebagian besar suku bangsa dan orang Indonesia. Keastuan ini muncul dari unsur-unsur dasar yang umum dari peradaban mereka.

(8)

Kemudian muncullah sebuah pertanyaan, bagaimana bahasa Melayu tersebut dapat diadopsi menjadi bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia, di negara RI? Perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa nasional di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak lama telah menjadi pembicaraan luas. Seperti telah diceriterakan di atas bahwa bahasa Melayu yang aslinya merupakan salah satu bahasa daerah dari kurang lebih 512 bahasa daerah di wilayah Indonesia (Irwan Abdullah, 2008), telah lama memiliki peranan penting di bidang ekonomi, sosial, politik, dan sastra-budaya.

Selanjutnya, pada awal abad XX di Indonesia berkembang suatu situasi yang mendorong munculnya suatu pemikiran akan perbaikan nasib terhadap rakyat pribumi dari pemerintaah kolonial Belanda melalui kebijakan Politik Etis (Kahin, 1952)., yang meliputi: program edukasi, transmigrasi, dan irigasi. Melalui program edukasi itulah, sekolah-sekolah bumi putra bermunculan dengan pengantar bahasa daerah, di mana sekolahan itu berada. Pada perkembangan berikutnya, pemerintah menuntut agar setiap sekolah menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantarnya.Tetapi sejak awal abad xx kepentingan daerah jajahan memerlukan tenaga-tenaga rendahan yang mengerti bahasa Belanda, kemudian muncul sekolah-sekolah dengan pengantar bahasa Belanda. Di kota-kota, sekolah lebih banyak mengajarkan bahasa Belanda.

Dengan sistem pendidikan itu, kemudian munculah kelompok elit baru yang amat peka terhadap perubahan jaman (Pringgodigdo, 1970; Savitri, 1985). Tanda-tanda kepekaan terhadap perubahan itu dapat dilihat dengan lahirnya organisasi yang bercorak polityik yang mencita-citakan kemajuan dan kemerdekaan bangsa, seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij. Sangat menarik untuk dicatat ialah mengenai bahasa yang dipakai di dalam konggres-konggres oleh orgranisasi pergerakan Indonesia pada waktu itu adalah kebanyakan bahasa Melayu, Jawa, dan Belanda. Salah seorang pelajar yang tergabung dalam Indonesische Verbond van studeerenden di Wageningen, Belanda, pada tahun 1918 telah mengusulkan agar bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah di Indonesia (A. Suryomihardjo, 1979).

Di Indonesia sendiri perkembangan pers berbahasa Melayu dinilai sangat penting peranannya, karena pers itu dapat langsung mencapai penduduk bumi putera. Pada mulanya pers Melayu adalah milik orang Belanda maupun Cina, tetapi tidak jarang dewan redaksinya campuran. Umumnya guru bahasa Melayu yang duduk di dalam dewan redaksi. Kemudian bermunculan mingguan dan surat khabar berbahasa Melayu, Jawa, dan Belanda, seperti Medan Priyai (1907-1912), Sarotama (1914), Indonesia Merdeka (1923), Bataviaasch Genootschap, dan lain-lain (A. Surjamihardjo, 1979).

(9)

Dengan munculnya majalah dan surat khabar-surat khabar berbahasa daerah itu, pemerintah kolonial Belanda merasa kawatir. Banyak kasus persdelict di Indonesia pada waktu itu, yaitu larangan terbit bagi brosur dan pers yang berbahasa daerah. Suatu contoh terbitnya artikel yang berjudul Als ik eens Nederlander was, dan dalam bahasa Melayu, Jikalau saya sorang Belanda, pada tahun1913 dilarang untuk diterbitkan. Artikel ini menceriterakan pengecaman terhadap perayaan seratus tahun kemerdekaan Belanda yang akan di selenggarakan di Indonesia.

Melalui perkembangan pendidikan dan pengajaran yang semakin maju di Indonesia, bahasa Melayu menjadi semakin populer dan bersifat egaliter, sehingga sidang-sidang atau kongres- kongres dari organisasi pergerakan nasional Indonesia menggunakan Bahasa Melayu. Ini ternyata menjadikan bekal untuk mempersatukan seluruh bangsa Indonesia dalam berjuang melawan pemerintah Kolonial Belanda.

Oleh karena itu, para pemuda Indonesia dalam konggresnya yang ke 2 bersatu pada tanggal 28 Oktober 1928 bertekat bulat untuk menggalang persatuan dan kesatuan dengan Sumpah Pemuda Indonesia Raya. Konggres itu menghasilkan keputusan: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Sejak itulah bahasa Melayu disepakati untuk diangkat sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional yaitu Bahasa Indonesia (Pringgodigdo, 1970)

Alasan mengapa bahasa melayu diangkat menjadi bahasa melayu dikarenakan berdasarkan dari waktu penggunaannya.

Ragam bahasa Indonesia lama dipakai sejak zaman Kerajaan Sriwijaya sampai dengan saat dicetuskannya Sumpah Pemuda.

Ciri ragam bahasa Indonesia lama masih dipengaruhi oleh bahasa Melayu . Bahasa Melayu inilah yang akhirnya menjadi bahasa Indonesia.

Alasan Bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia : 1) Bahasa Melayu berfungsi sebagai lingua franca,

2) Bahasa Melayu sederhana karena tidak mengenal tingkatan bahasa, 3) Keikhlasan suku daerah lain ,dan

4) Bahasa Melayu berfungsi sebagai kebudayaan.

5) Bahasa melayu tidak mempunyai tingkatan-tingkatan bahasa seperti yang dimiliki oleh bahasa lain.

Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional merupakan usulan dari Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah. Dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan bahwa : “Jika mengacu pada masa

(10)

depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan.

Kedudukan bahasa indonesia bersumber pada akrar ke tiga dalam sumoah penuda tahun 1928 tanggal 28 yang berbunyi :

Pertama Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia

Kedua Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia Ketiga Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia Tampak pada teks di atas bahwa ikrar pertama dan kedua berbeda dengan ikrar yang ketiga.

Ikrar pertama dan kedua berupa pernyataan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu dan bangsa yang satu; sedangkan ikrar yang ketiga tidak berupa pengakuan, tetapi berupa kebulatan tekad untuk menjunjung bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan. Ikrar ketiga Sumpah Pemuda tidak berbunyi:

Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbahasa yang satu, bahasa Indonesia.

Setelah lahirnya bahasa Indonesia yang telah terikrar dari sumpah pemuda tdak lantas kita melupakan bahasa awal yang merupakan bahasa bunda yakni Bahasa melayu. Untuk membuktikan bahasa melayu merupakan awal dari bahasa Indonesia terdapat bukti-bukti yang mendasar. Bukti tersebut dapat kita jumpai dalam naskah-naskah karya sastrawan melayu yang berkembang di Tanjungpinang, Kepulauan Riau yakni Raja Ali Haji.

Bukti Otentik Asal Mula Bahasa Indonesia

Dalam sejarah kelahiran bahasa Indonesia embrionya adalah bahasa Melayu Riau. Artinya pada awal permulaan abad ke-20 bahasa Indonesia belum dikenal. Para sejarawan menyebutkan nama Indonesi baru muncul sesudah tahun 1919 dan dikukuhkan saat terjadinya sumpah pemuda pada tahun 1928. Pada saat itu muncul penyebutan berbahasa satu bahasa Indonesia.

Dalam persebaran dan perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia terdapat bukti-bukti yang kukuh. Seperti dijelaskan oleh Prof. Dr. Achadiati dalam buku yang berjudul Filosofi Dunia Melayu menyebutkan “Naskah-naskah menjadi Saksi persebaran Bahasa”. Berbagai naskah dan prasasti menjadi bukti perkembangn bahasa melayu itu sendiri. Seperti prasasti telaga batu, naskah Kasida Burda karangan Al-Busiri, sampai

(11)

kesurat-surat yang isi serta susunan bahasanya sudah mencerminkan pola bahasa Indonesia yang sekarang. Tidak terkecuali di daerah asal mula bahasa melayu yakni Riau. Seperti yang ditulis oleh sastrawan ternama Melayu yaitu Raja Ali Haji.

Raja Ali Haji menulis dua buah buku mengenai bahasa yakni kitab pengetahuan bahasa dan bustanul katiban. Kitab pengetahuan bahasa dibawah judul utama diberi keterangan yatu

“kamus lughat melayu johor, Pahang, riau-lingga”. Raja Ali Haji tidak sempat menyelesaikan karya tersebut secara keseluruhan, hanya sampai huruf “Ca” saja. Kitab Pengetahuan Bahasa oleh Raja Ali Haji pertama kali oleh Mathba’ah l-Ahmadiah, 82 Jalan Sultan Singapura, tahun 1345 H/1927 M atas salah seorang cucu Raja Ali Haji bernama Raja Haji Umar bin Raja Hasan yang kemudian disetujui oleh Raja Haji Ali bin Raja Muhammad/Tengku Nong, ketua Syarkah Al-Ahmadiah.

Raja ali haji memulai kandungan kitab ini dengan pengenalan tata-bahasa melayu yang mirip dengan ilmu nahu(tatabahasa) Arab. Untuk tata bahasa ditempatkan pada halaman 2 sampai halaman 32. Kosa kata dimulai dengan huruf “alif” dan berakhir dengan huruf “ca”.

Jasa raja ali haji bagi perkembangan bahasa Indonesia diakui hingga kini. Dalam bidang kesastraan raja ali haji menyumbangkan karya besar gurindam duabelas yang memperkokoh da menjadi seorang pujangga besar. Raja ali haji dilahirkan pada tahun 1808 dipusat kerajaan riau yang saat itu bertempat di pulau penyengat, tempat dimana akhirnya beliau dimakamkan.

Sampai sekarang di pulau penyengat masih meninggalkan banyak catatan, kitab-kitab, dan naskah-naskah sebagai tempat rujukan bahasa melayu.

Karya pujangga besar raja ali haji terus dipahami dan menjadi sumber inspirasi para penyair terkini . Agus R. Sarjono dan Taufiq Ismail hanya sekedar contoh penyair yang mendapat semangat dalam berkarya dan kebetulan menuliskan persepsinya terhadap raja ali haji secara langsung dalam sajaknya. (Jup,Rini,Eka)

Diposkan oleh Jupri Laduny di 16.43

Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Bagikan ke Pinterest

(12)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar Posting Lama Beranda

Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Mengenai Saya

Jupri Laduny

Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

 ▼ 2014 (15) o ▼ Juni (1)

 Akar Bahasa Indonesia o ► Mei (13)

o ► April (1)

Template Picture Window. Diberdayakan oleh Blogger.

Referensi

Dokumen terkait