Analisis Model Rasch: Mengukur Sifat Psikometri
Skala Orientasi Karir untuk Siswa Sekolah Menengah Atas
Zakki Nurul Amin, Kusnarto Kurniawan dan Eko Nusantoro Program Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang, Indonesia
[email protected] , [email protected] , [email protected] Juhdi Amin
Institut Agama Islam Negeri Surakarta Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia
[email protected] Abstrak
Menurut teori Super Career Development, siswa SMA sebagai remaja perlu mempunyai pemahaman yang jelas mengenai orientasi karirnya. Orientasi karir diartikan sebagai arah kecenderungan untuk mengambil kesimpulan tentang harapan karir di masa depan. Fenomena tidak mudahnya mengungkap orientasi karir siswa disebabkan oleh keterbatasan alat ukur yang digunakan oleh konselor sekolah. Dengan menggunakan model analisis Rasch, penelitian ini bertujuan untuk mengukur sifat psikometrik 20 item pada Career Orientation Scale (COS), termasuk mengukur validitas dan reliabilitas skala ini yang khusus disiapkan untuk siswa SMA. Penelitian ini melibatkan 65 siswa SMA yang diambil secara random sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa COS mempunyai sifat psikometrik dan konsistensi internal sehingga terbukti sebagai instrumen penelitian yang valid dan reliabel. Penelitian ini mengandung makna bahwa peneliti dapat memanfaatkan COS untuk mengumpulkan data atau informasi terkait orientasi karir siswa SMA.
Kata kunci: karir, skala orientasi, alat ukur Rasch 1. Perkenalan
Menurut teori Super Career Development, siswa SMA pada masa remaja (berusia antara 15-18 tahun) berada pada tahap eksplorasi. Mereka mempunyai minat dan rencana karir masa depan pada tahap ini, memikirkan alternatif pilihan karir, meskipun bukan keputusan yang mengikat (Zunker, 2015). Untuk mendukung perkembangan siswa, Pendidikan di sekolah berfokus pada membantu mencapai tugas dan harapan karir. Justru ekspektasi pengembangan karir bagi siswa SMA dapat menentukan pilihan pendidikan dan pekerjaan di masa depan (Amin, Wibowo, & Nusantoro, 2014; Amin, 2015; Saraswati &
Amin, 2016).
Namun perkembangan karir saat ini penuh dengan dinamika, ketidakpastian, dan perubahan yang cepat (De Vos et al., 2016). Hal ini seringkali menimbulkan masalah yang signifikan bagi seseorang yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan karirnya (Savickas & Porfeli, 2012; Hirschi et al., 2014). Urbanaviciute, Pociute, Kairys, & Liniauskaite (2016) mengemukakan bahwa permasalahan karir yang dialami individu berasal dari sumber internal dan eksternal dan berdampak pada pencapaian tugas pengembangan karir seseorang. Permasalahan eksternal seringkali disebabkan oleh faktor-faktor seperti sistem organisasi kerja dan ketenagakerjaan. Sedangkan faktor internal berhubungan dengan kurangnya hard skill dan soft skill individu, kebingungan orientasi tujuan, dan rendahnya motivasi diri.
Permasalahan karir dapat dihindari dengan memahami orientasi karir. Orientasi karir merupakan dimensi penting dalam pemilihan karir (Djibu & Duludu, 2020). Siswa di setiap jenjang pendidikan hendaknya memiliki orientasi karir yang benar sesuai dengan kisah kesiapan, kebermaknaan, dan tugas perkembangan (Gibson & Mitchell, 2011).
Permasalahan tersebut tidak mudah karena individu harus mengatasi ketidakjelasan mengenai kemampuannya, stabilitas kepentingan, pilihan saat ini dan prospek, aksesibilitas karir, dan identitas yang ingin dikembangkan dalam dirinya (Bandura, 1997).
Super (Sharf, 2006) mengemukakan istilah yang disebut orientasi karir dipahami sebagai kesiapan individu dalam menentukan pilihan karir (Super dalam Sharf, 2009). Super juga menekankan bahwa orientasi karir diartikan sebagai arah kecenderungan seseorang untuk menarik kesimpulan tentang harapan karir yang akan dimilikinya di masa depan. Lebih spesifiknya, orientasi karir adalah sikap individu terhadap pilihan karir, baik itu pilihan melanjutkan studi maupun pilihan pekerjaan yang ditandai dengan adanya pengetahuan diri, pemahaman diri, kemampuan diri, dan perencanaan masa depan (Super, dikutip dalam Sharf, 2009).
Pengumpulan informasi dan penelitian terkait orientasi karir telah ditemukan di berbagai tempat, misalnya di Amerika Serikat (Igbaria & Baroudi, 1993), Jepang (Okura et al., 2013), Singapura (Akmal & Arlinkasari, 2017), dan Hongaria (Gergely, 2016). Sayangnya, tidak ada satupun penelitian yang menyelidiki atau mengungkapkan orientasi karir siswa sekolah menengah. Penelitian terdahulu mengkaji dan mengkaji orientasi karir pekerja sesuai dengan jenis dan jenis pekerjaannya.
Hal ini antara lain juga disebabkan di Indonesia belum tersedia instrumen untuk mengungkapkan data valid mengenai orientasi karir siswa. Meskipun terdapat beberapa instrumen yang sudah mapan dan populer, serta sering digunakan untuk mengukur orientasi karir atau konstruksi serupa, namun secara spesifik belum memfasilitasi analisis orientasi karir pada siswa SMA, seperti Career Orientation Assessment (COA) yang dikembangkan oleh (Derr, 1987) dan Career Anchors Inventory (COI) yang dikembangkan oleh (Schein, 1985). Sedangkan penelitian lain (Suryadi et al., 2018) yang mencoba mengungkap orientasi karir siswa di Indonesia belum menunjukkan analisis validitas instrumen untuk mengungkap konstruk tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat psikometrik COS, termasuk mengukur validitas dan reliabilitas COS yang khusus disiapkan untuk siswa SMA. Proses validasi dilakukan dengan mengevaluasi sifat psikometrik skala orientasi karir yang mencapai standar instrumen penelitian. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis secara mendalam bagaimana posisi responden dalam menanggapi seluruh item skala orientasi karir. Penelitian ini menggunakan Model Rasch atau dikenal juga dengan Rasch Measurement Tool (RMT) untuk mencapai tujuan penelitian. Model Rasch dikenal sebagai salah satu jenis analisis Item Response.
Berbeda dengan Teori Tes Klasik (CTT) yang sangat mengandalkan sampel non-linier dan memiliki keterbatasan dalam rentang skor, model analisis Rasch menawarkan perspektif berbeda. Teori Model Rasch mempunyai ciri-ciri (1) independen terhadap sampel, (2) melengkapi item metrik perbedaan hambatan, (3) menghasilkan skor yang dianalisis berdasarkan pengukuran kesalahan murni, (4) melengkapi data yang hilang, (5) linier , (6 ) dan memberikan secara mandiri (Sumintono & Widhiarso, 2015). Selain itu, RMT juga dapat memberikan informasi diagnostik secara detail untuk dapat ditingkatkan skalanya (Sumintono & Widhiarso, 2014). Fokus kami adalah menjadi hal baru dan bernilai tambah untuk mencapai perkiraan properti psikometrik yang sesuai dengan skala orientasi karier.
2. Tinjauan Pustaka
2.1 Orientasi Karir pada Siswa SMA
Super (dikutip dalam Sharf, 2009) mengemukakan istilah yang disebut Orientasi Karir yang diartikan sebagai suatu pendirian umum mengenai kematangan karir siswa yang berharap dapat memberikan rangkuman atau kumpulan apa yang diharapkan siswa dalam kaitannya dengan orientasi karir. Orientasi karir yang dimaksud adalah kesiapan individu dalam menentukan pilihan (Super dalam Sharf, 2009). Super menambahkan, orientasi karir merupakan arah kecenderungan untuk menyimpulkan harapan karir di masa depan. Secara khusus, orientasi karir terdiri dari dua aspek. Pertama, aspek pengembangan sikap terhadap karir, yang terdiri dari perencanaan karir dan eksplorasi karir. Kedua, aspek pengembangan pengetahuan dan keterampilan karir, yang terdiri atas subaspek pengambilan keputusan karir dan informasi dunia kerja.
Oleh karena itu, menurut Super (1990), orientasi karir diartikan sebagai arah kecenderungan untuk mengambil kesimpulan tentang harapan karir di masa depan, yang mencakup aspek sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. Crites (dalam Sharf, 2006) menjelaskan bahwa orientasi karir adalah sikap terhadap pekerjaan baik yang berorientasi pada kesenangan atau berorientasi pada pekerjaan, yang artinya sikap terhadap pekerjaan ditunjukkan dengan tujuan yang jelas untuk mencapai kepuasan kerja atau sekadar untuk bekerja. Orientasi karir mencerminkan kecenderungan seseorang terhadap hubungan antara peluang, kondisi diri, dan jenis karir. Dengan demikian, orientasi karir diartikan sebagai sikap seseorang terhadap pengambilan keputusan karir yang ditunjukkan dengan menetapkan pusat perhatian dan pemahaman diri serta peluang karir. Dari beberapa konsep,
Orientasi karir merupakan salah satu dimensi penting dalam memilih karir seseorang, sebagaimana disebutkan bahwa dimensi utama dalam pemilihan karir bagi siswa SMA adalah orientasi karir. Siswa di setiap tingkat Pendidikan, termasuk sekolah menengah atas, harus memiliki pengalaman berorientasi karir yang sesuai dengan tingkat kesiapan serta makna dan keandalan mereka (Gibson & Mitchell, 2011; Kanto et al., 2020; Nuraini et al., 2019). Artinya setiap siswa mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi dan mengamati secara terus menerus baik dalam bentuk diskusi, layanan, atau pengajaran dari guru atau konselor. Kegiatan yang akan menjadi arah orientasi karir bagi siswa SMA adalah mengenali kebutuhan sosial suatu pekerjaan, kemudian mengembangkan pemahaman tentang kurikulum sekolah, kerja paruh waktu, dan pendidikan menengah atas baik saat ini maupun di masa depan. Proses orientasi karir dimulai sejak dini dan berakhir hingga pengunduran diri dari dunia kerja, termasuk siswa SMA yang sedang dalam proses pengembangan orientasi karir. Secara psikologis, siswa SMA berada pada masa remaja pertengahan yang berusia 15-18 tahun (Zunker, 2015).Siswa SMA sudah mempunyai minat terhadap pekerjaan yang ditandai dengan mulai memikirkan masa depan secara serius.
Orientasi karir pada siswa SMA dapat lebih tepat menggambarkan keberhasilan suatu pekerjaan di masa depan. Hal ini sejalan dengan pendapat Dillard (dikutip dalam Abdullah, 2018) yang menyatakan bahwa orientasi karir
membantu siswa dalam (1) memahami minat, bakat, keterampilan, dan kelebihannya sendiri, (2) mengembangkan kemampuan yang berguna sebagai keterampilan dasar. dalam pengembangan karir, (3) memperoleh informasi karir terkait dengan pelatihan dan kesempatan kerja, (4) mengenali jenis pekerjaan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam pekerjaan yang diminati, (5) menilai tujuan pribadi dan mengeksplorasi karir, dan (6) mengembangkan karir perencanaan sesuai minat, keterampilan, bakat, dan tujuan. Jadi dapat disimpulkan bahwa orientasi karir pada siswa SMA dalam proses seleksi siswa mengenai pendidikan lanjutan dan pekerjaan didasarkan pada tujuan yang jelas,
2.2 Aspek Orientasi Karir pada Siswa SMA
Aspek orientasi karir terdiri dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Aspek ini sesuai dengan rumusan Career Orientation Total yang dikemukakan oleh Super. Orientasi karir mempunyai dua komponen yaitu Pengembangan Karir, Pengembangan Sikap dan Pengetahuan dan Keterampilan Karir (Sharf, 2006). Sikap Pengembangan Karir merupakan aspek afektif yang berkaitan dengan
kecenderungan respon individu terhadap harapan dan rasa ingin tahu di masa depan, yang terdiri dari sub aspek perencanaan karir dan eksplorasi karir. Perencanaan karir merupakan kegiatan siswa yang berkaitan dengan pemilihan karir dan pengambilan keputusan. Menurut Super (Sharf, 2006)
perencanaan karir ditunjukkan sebagai kegiatan pencarian informasi dan seberapa besar individu terlibat dalam proses pencarian informasi tersebut, kondisi ini didukung oleh pengetahuan berbagai unsur dalam setiap pekerjaan.
Sedangkan eksplorasi karir merupakan serangkaian kegiatan yang terdiri dari analisis perencanaan secara sistematis dan menelusuri apa yang diminati dan sesuai dengan bakat siswa (Gibson & Mitchell, 2011). Sedangkan Super (Sharf, 2006) mengonsep eksplorasi karir sebagai aktivitas individu dalam memanfaatkan sumber informasi karir. Lebih lanjut Super menjelaskan, sumber informasi karir dapat diperoleh dari orang tua, guru, konselor, teman sebaya, buku, dan film yang dapat menambah wawasan karir. Eksplorasi karir ini memiliki makna yang lebih dalam dibandingkan dengan perencanaan karir, perencanaan karir menekankan perhatiannya pada pemikiran dan pemetaan rencana masa depan, sedangkan eksplorasi karir lebih jauh berkaitan dengan penggunaan sumber informasi karir yang dapat membantu proses pengambilan keputusan karir. Namun, Kedua aspek orientasi karir (perencanaan karir dan eksplorasi karir) mempunyai fokus yang sama dalam pengembangan sikap dalam bekerja dan bekerja. Aspek ini berkaitan dengan kapasitas informasi dan dasar pemikiran dalam pengambilan keputusan, yang terdiri dari pengetahuan tentang pekerjaan
secara spesifik, pengambilan keputusan adalah kemampuan menggunakan pengetahuan dan pemikiran untuk membuat perencanaan karir (Sharf, 2006). Pengetahuan yang dapat mendasari pengambilan keputusan karir adalah (1) pengetahuan tentang langkah-langkah pengambilan keputusan karir, (2) kesesuaian karir dengan kemampuan, bakat, dan minat, (3) pengetahuan tentang pentingnya pengambilan keputusan karir yang mandiri. Sedangkan kemampuan menggunakan pikiran merupakan fungsi berpikir dalam mengambil keputusan karier, sedangkan fungsi berpikir meliputi rasionalitas berpikir, daya prediksi, dan daya antisipatif. Oleh karena itu kemampuan menggunakan pemikiran dalam mengambil keputusan karir mengacu pada ketiga aspek tersebut. Pertama, mampu mengambil keputusan karir yang rasional. Kedua, mampu memperkirakan konsekuensi dari keputusan karir yang diambil. Ketiga,
Sub aspek dunia kerja selanjutnya adalah dunia dinamis yang selalu berubah, yang menuntut setiap orang untuk memasuki dunia kerja secara dinamis dan siap beradaptasi serta mampu menempatkan diri dalam setiap perubahan yang terjadi. Super (Sharf, 2006) mengatakan bahwa sangat penting bagi individu untuk memiliki informasi atau pengetahuan tentang dunia kerja sebelum mengambil keputusan karir. Melalui informasi dunia kerja, siswa dikenalkan dengan berbagai jenis pekerjaan sehingga dapat mengeksplorasi mana yang diminati. Siswa diminta untuk menebak apa saja yang harus dilakukan orang dalam suatu pekerjaan tertentu dan keterampilan apa saja yang dibutuhkan sehingga mampu menentukan mana yang paling cocok bagi dirinya untuk memastikan pilihan karier. Menurut (Sharf,
3. Metode
Skala orientasi karir dalam penelitian ini disusun berdasarkan konsep teori Super’s Career Development Theory yang merupakan salah satu bagian dari konsep kematangan karir (Super, 1990). Skala orientasi karir (COS)
mengungkapkan 2 komponen utama orientasi karir: Sikap Pengembangan Karir dan Pengetahuan dan Keterampilan Pengembangan Karir (Sharf, 2006). Secara khusus, COS terdiri dari 20 item kuesioner. Proses validasi dilakukan dalam tiga tahap. Yang pertama adalah mengembangkan cetak biru dari outline dan kajian teoritis. Kedua, expert
judgement juga dilakukan untuk menilai aspek item COS secara kualitatif. Sedangkan tahap ketiga disusun skala orientasi karir yang terdiri dari skala Likert 5 poin yang disusun untuk pengumpulan data dengan metode survei.
Responden dalam penelitian ini terdiri dari 65 siswa SMA (15 sampai 17 tahun). Peserta terdiri dari 19 (29,23%) laki- laki dan 46 (70,77%) perempuan yang berasal dari beberapa siswa di SMA Kota Salatiga. Selain itu, tidak ada paksaan atau kewajiban dari institusinya untuk terlibat dalam penelitian ini. Semua data partisipan dalam penelitian ini adalah kredensial yang murni ditujukan untuk penelitian ini. Analisis Rasch dilakukan pada program komputer WINSTEPS.
4. Hasil dan Pembahasan
4.1. Barang Sesuai
Untuk memulai tahap awal analisis, peneliti melakukan pemeriksaan awal untuk memastikan keakuratan item yang diambil sesuai model pengukuran yang ideal. Analisis pendahuluan ini digunakan untuk melihat kualitas item sesuai model yang disebut item fit. Analisis ini menjelaskan apakah barang sal dapat berfungsi dengan baik untuk melakukan pengukuran atau tidak. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan analisa ini, yang pertama dilihat dari nilai outfit mean square (MNSQ), rentang pengukuran ideal untuk MNSQ OUTFIT adalah 0,5 – 1,5 logit. Kedua, dilihat dari nilai pakaian standar z (ZSTD) dengan skor yang diterima pada
rentang -2.0 hingga +2.0. Nilai korelasi ukuran tiga titik (Pt Measure Corr) dengan rentang skor ideal adalah 0,4 hingga 0,85.
Tabel 1.Barang Ukuran COS
Nomor Barang
Ukuran MNSQ ZTSD PTMEA Kor.
Ringkasan Dirasakan17 1.27 1,00 0,02 0,50
BugarKesulitan
4 1.20 1.46 2.59 0,37
Bugar12 1.18 0,91
- 0,570,42
Bugar18 0,73 1.15 0,95 0,48
Bugar19 0,35 0,59
- 2.740,65
Bugar7 0,22 1.09 0,56 0,52
Bugar13 0,20 0,87
- 0,740,46
Bugar20 0,03 0,78
- 1.290,50
Bugar14
- 0,060,91
- 0,450,48
Bugar10
- 0,090,79
- 1.190,47
Bugar3
- 0,301.11 0,65 0,47
Bugar9
- 0,331.26 1.38 0,45
Bugar11
- 0,360,68
- 1,880,63
Bugar2
- 0,391.15 0,82 0,58
Bugar8
- 0,391.97 4.18 0,35
Ketidakcocokan16
- 0,460,89
- 0,550,46
Bugar5
- 0,540,73
- 1,500,56
Bugar6
- 0,561.30 1.54 0,47
Bugar15
- 0,660,74
- 1,450,37
Bugar1
- 1,040,63
- 2.230,39
Bugar Paling mudahSemua diukur dalam Logits. MNSQ = pakaian berarti kotak. ZTSD = pakaian standar-z. PTMEA Corr.= Korelasi Ukuran Titik.
Jumlahnya 20 butir. tidak = 65
Berdasarkan analisis seluruh item pada COS seperti yang dijelaskan pada tabel 1 menunjukkan nilai rata-rata untuk 20 item adalah 1,00 logit. Artinya semua item dalam kondisi baik untuk pengukuran. Namun jika dilihat dan dianalisis per itemnya, ditemukan item nomor 8 hanya dapat memenuhi satu kriteria yaitu kriteria Pt Measure Corr, sedangkan dua kriteria lainnya pada pakaian MNSQ dan ZTSD tidak memenuhi kriteria tersebut. Sehingga peneliti memutuskan untuk merevisi item nomor 8. Informasi lengkap hasil estimasi item misfit dapat diakses di https://bit.ly/3aiMjHL . Selain itu kami juga menghitung item ukuran COS yang bertujuan untuk menentukan item mana yang memiliki tingkat kesulitan tertinggi dan terendah. Setiap skala disusun dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda, mulai dari yang paling rendah hingga yang paling sulit. Tabel 1 juga menunjukkan urutan tingkat kesulitan 20 soal COS dari yang paling mudah hingga yang paling sulit. Berdasarkan Tabel 1 terlihat bahwa item nomor 17 merupakan item yang paling sulit mendapatkan persetujuan seluruh responden. Sebaliknya, item nomor 1 merupakan item yang paling mudah disetujui oleh seluruh responden.
4.1. Uji Reliabilitas dan Indeks Pemisahan
Evaluasi reliabilitas instrumen COS ditunjukkan pada Tabel 2. Berdasarkan Tabel 2 dapat dianalisis bahwa COS mempunyai reliabilitas yang sangat tinggi. Reliabilitas item COS menunjukkan kualitas item dengan skor (0,93) dan konsistensi jawaban responden atau disebut juga reliabilitas orang (0,82) berada pada kategori kuat. Hal lain yang baik adalah reliabilitas interaksi antara orang dan item ketika diterapkan COS menunjukkan hasil yang baik (α = 0,82). Sedangkan pengelompokan orang dan barang dapat ditentukan berdasarkan nilai indeks pemisahan. Dengan nilai indeks pemisahan soal sebesar 3,35 maka nilai H = 4,8 atau jika dibulatkan menjadi 5 berarti terdapat 5 kelompok tingkat kesukaran yaitu soal sangat sulit, sulit, sedang, mudah, dan sangat mudah. Berdasarkan hasil ini,
Meja 2. Estimasi reliabilitas tes dan indeks pemisahan (N = 65)
Perkiraan Ukuran
Keandalan barang
0,92
Keandalan seseorang
0,79
Cronbach alpha (KR-20) orang skor mentah "tes" reliabilitas
0,82
Indeks pemisahan item
3.35
Indeks pemisahan orang
1.93
4.3. Ambang Batas: Model Kredit Parsial
Hal lain yang kami coba periksa adalah seberapa baik kinerja COS mengukur peringkat analisis ambang batas. COS mempunyai 5 alternatif pilihan jawaban yang bertingkat mulai dariSangat tidak setuju(Sangat tidak setuju), Tidak setuju(Tidak setuju),Tidak setuju atau tidak setuju(Tidak setuju dan tidak setuju), Setuju(Setuju),DanSangat setuju( Sangat setuju). Kelima pilihan jawaban tersebut diberi rentang skor 1 sampai 5.
Tabel 3. Ringkasan Struktur Kategori. Model = "R" (N = 65)
Label Label Kategori Rata-rata yang Diamati MNSQ yang tidak cocok Pakaian MNSQ Andrich Treshold
Sangat tidak setuju
1 0,14 1.77 2.08
Tidak adaTidak setuju
2
- 0,110,90 0,89
- 2.56Setuju
4 1.32 0,92 0,93 0,27
Sangat setuju
5 1.92 1.02 1.01 2.73
Berdasarkan tabel 3 dapat dipahami bahwa alternatif jawaban pada COS belum sepenuhnya tepat atau bisa juga berarti responden kebingungan dalam memilih alternatif jawaban. Artinya juga terdapat alternatif jawaban yang lebih baik di COS. Hal ini dapat dipahami meskipun pergerakan skor Andrich Threshold naik secara monoton, dimulai dari logit terkecil (skor minimum) hingga logit terbesar (skor maksimum), namun pada logit rata-rata yang diamati ada satu nilai negatif, opsi "Tidak setuju(Tidak Setuju). Berdasarkan analisis tersebut memberikan masukan bahwa alternatif jawaban COS lebih tepat jika hanya mempunyai 4 pilihan jawaban seperti yang dijelaskan pada gambar 1 dan gambar 2.
Gambar 1.Skor yang diharapkan ICC (N=65) Gambar 2.ICC yang diharapkan dan empiris (N=65)
4.4. Validitas Estimasi Melalui Analisis Komponen Utama
Salah satu konsep penting pada suatu skala/instrumen adalah tentang unidimesionalitas yang diartikan sebagai suatu ukuran untuk dapat menentukan apakah COS benar-benar dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Dengan menggunakan Model Rasch, validitas ditinjau berdasarkan hubungannya dengan Principal Component Analysis (PCA).
Tabel 4.Varians Residu Terstandar (dalam Satuan Nilai Eigen) (N = 65)
Empiris
DimodelkanVarians mentah total dalam observasi 100,0% 100,0%
Varians mentah dijelaskan dengan ukuran 35,3% 35,3%
Varians mentah dijelaskan oleh orang 11,7% 11,7%
Varians Mentah dijelaskan berdasarkan item 23,6% 23,6%
Varians mentah yang tidak dapat dijelaskan (total) 64,7% 64,7%
Varians yang tidak dapat dijelaskan pada kontras pertama
9,1% 14%
Varians yang tidak dapat dijelaskan pada kontras kedua
7,1%
10,9%Varians yang tidak dapat dijelaskan pada kontras ke-3
6% 9,3%
Varians yang tidak dapat dijelaskan pada kontras ke-4
5,2% 8 %
Varians yang tidak dapat dijelaskan pada kontras ke-5
4,3% 6,6%
Berdasarkan hasil pengukuran variance residual terstandar (dalam satuan eigenvalue) yang ditunjukkan pada Tabel 4, dapat dianalisis bahwa COS cukup unidimensi walaupun masih perlu dikonfirmasi kembali. Hal ini terlihat dari nilai Raw variance pada penelitian ini yang memperoleh skor sebesar 35,3% atau tidak lebih tinggi dari 40% yang berarti COS-nya perlu dikonfirmasi kembali (Chou & Wang, 2010).
4.5. Ukuran Orang
Kelebihan RMT adalah memudahkan peneliti dalam memahami data secara komprehensif, termasuk mengetahui ukuran orang responden yang telah mengisi COS. Karena data yang ditampilkan RMT merupakan data interval yang memiliki linier yang sama. jarak (Boone WJ dkk., 2013). Hal ini dapat memberikan kewenangan untuk menganalisis dan mengidentifikasi seluruh responden yang telah mengisi COS dengan tingkat analisis yang kuat. Informasi lengkap mengenai ukuran orang dalam penelitian ini terdapat pada linkhttps://bit.ly/3b2Sxuv .
Berdasarkan hasil penelitian person size, penelitian ini menganalisis 65 responden yang mengisi COS; responden nomor 44 merupakan orang dengan tingkat persetujuan tertinggi (3 logit) dari Orientasi Karir. Sebaliknya, responden 9 merupakan orang yang tingkat persetujuannya paling rendah (1,23 – logit). Hasilnya menentukan tinggi rendahnya pengukuran yang diperoleh berdasarkan persetujuan respon setiap item dalam COS.
5. Kesimpulan
Skala Orientasi Karir (COS) disusun berdasarkan konsep teori pengembangan karir yang dikembangkan oleh Super; lebih spesifiknya, COS mengambil salah satu komponen kematangan karir individu. Instrumen ini dirancang untuk membantu konselor atau peneliti mengumpulkan data terkait orientasi karir siswa SMA. Berdasarkan data pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa COS memenuhi pengukuran psikometri. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuat skala ini lebih tepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa COS mempunyai sifat psikometrik dan konsistensi internal sehingga terbukti sebagai instrumen penelitian yang valid dan reliabel. Sedangkan pada analisis fit item ditemukan bahwa item nomor 8 masih perlu direvisi untuk penelitian selanjutnya.
Ucapan Terima Kasih
Penelitian ini dilaksanakan atas bantuan dan dukungan dari Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Terima kasih kepada lembaga-lembaga yang telah mendukung dan membantu terlaksananya penelitian ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada SMA 1 Salatiga yang telah menjadi responden dalam penelitian ini.
Referensi
Abdullah, SM (2018). Pengambilan Keputusan Karir pada Mahasiswa.
PANDUAN: Jurnal Ilmu Pendidikan,
Psikologi, Bimbingan Dan Konseling,8(1), 30–39. https://doi.org/10.24127/gdn.v8i1.1192Akmal, SZ, & Arlinkasari, F. (2017). Skala Orientasi Karir: Uji Validitas dan Reliabilitas dengan Konfirmatori Analisis Faktor.Konferensi Internasional tentang Pendidikan dan Ilmu Sosial.
Amin, ZN, Wibowo, M., & Nusantoro, E. (2014). Perbandingan orientasi karir siswa keturunan Jawa dengan siswa keturunan Tionghoa.
Jurnal Bimbingan dan Konseling Indonesia
,3
(3), 8–16.Amin, Zaki Nurul. (2015). Pengaruh Identitas Etnis Terhadap Orientasi Karir Siswa Keturunan Jawa dan Siswa Keturunan Tionghoa.
Seminar Nasional Bimbingan Dan Konseling Universitas Negeri Semarang 2015
. Bandura, A. (1997). Efikasi diri: Latihan pengendalian. Di dalamEfikasi diri: Latihan pengendalian.
WHFreeman/Buku Times/ Henry Holt & Co.
Boone WJ, JR, S., & MS, Y. (2013).
Analisis Rasch dalam ilmu manusia
. Penerbitan Internasional Springer. Chou, YT, & Wang, WC (2010). Memeriksa dimensi dalam model respons item dengan komponen utamaanalisis residu standar.Pengukuran Pendidikan dan Psikologis,70(5), 717–731. https://doi.org/
10.1177/0013164410379322
De Vos, A., Dujardin, JM, Gielens, T., & Meyers, C. (2016). Mengembangkan karir yang berkelanjutan sepanjang masa hidup:
Jaringan dana sosial Eropa tentang karier dan USIA (usia, generasi, pengalaman). Di dalamMengembangkan Karir Berkelanjutan Sepanjang Masa Hidup: Jaringan Dana Sosial Eropa tentang Karier dan USIA (Usia, Generasi, Pengalaman). https://doi.org/10.1007/978-3-319-47741-1
Derr, C. (1987).
Mengelola kariris baru: Beragamnya orientasi kesuksesan karir para pekerja saat ini
. Jossey- Djibu, R., & Duludu, U. (2020).Bas.
Jurnal Dampak Pendidikan Nonformal terhadap Lingkungan Kerja dan PekerjaanMotivasi dalam Mempengaruhi Kinerja Pendidik Non Formal.6(1), 92–100.
Gergely, É. (2016). Meneliti orientasi karir di Universitas Debrecen.Studi Terapan di Agribisnis
dan Perdagangan,10(4–5), 59–67. https://doi.org/10.19041/apstract/2016/4-5/8Gibson, R., & Mitchell, MH (2011).
Bimbingan dan Konseling Edisi Indonesia
(Tujuh). Pustaka Pelajar. Hirschi, A., Freund, PA, & Herrmann, A. (2014). Skala Keterlibatan Karir: Pengembangan dan Validasi aUkuran Perilaku Karir Proaktif.Jurnal Penilaian Karir,22(4), 575–594. https://doi.org/
Igbaria, M., & Baroudi, JJ (1993). Ukuran Orientasi Karir Bentuk Pendek: Evaluasi Psikometri.
Jurnal Sistem Informasi Manajemen,10(2),131–154.
https://doi.org/10.1080/07421222.1993.11518003
Kanto, S., Wisadirana, D., Chawa, AF, & Umanailo, MCB (2020). Perubahan pola kerja masyarakat.
Prosiding Konferensi Internasional Teknik Industri dan Manajemen Operasi, 0(Maret), 2496–2502.
Nuraini, N., Riadi, A., Umanailo, MCB, Rusdi, M., Badu, TK, Suryani, S., … Hentihu, VR (2019). Politik
Kebijakan pengembangan Pendidikan. Jurnal Internasional Penelitian Ilmiah & Teknologi, 8(10). Okura, M., Noro, C., & Arai, H. (2013). Pengembangan skala orientasi karir untuk perawat kesehatan masyarakat.MembukaJurnal Keperawatan,03(01), 16–24. https://doi.org/10.4236/ojn.2013.31003
Saraswati, S., & Amin, ZN (2016). Sikap Perencanaan Karir Pelajar Jawa dan Tionghoa.
Negeri Semarang ke-1
Konferensi Internasional Universitas tentang Konseling dan Psikologi Pendidikan.Savickas, ML, & Porfeli, EJ (2012). Skala Kemampuan Adaptasi Karir: Konstruksi, keandalan, dan pengukuran
kesetaraan di 13 negara.Jurnal Perilaku Kejuruan,80(3), 661–673.
https://doi.org/10.1016/j.jvb.2012.01.011
Schein, EH (1985).Penanda karir: Menemukan nilai-nilai Anda yang sebenarnya. Rekan Universitas.
Sharf, R. . (2006).Menerapkan Teori Pengembangan Karir pada Konseling. Perusahaan Penerbitan Brooks/Cole. Sumintono, B., & Widhiarso, W. (2014).Aplikasi model Rasch untuk penelitian ilmu-ilmu sosial (edisi revisi). Memangkas
Penerbit Komunikata.
Sumintono, B., & Widhiarso, W. (2015).
Aplikasi Pemodelan Rasch pada Penilaian Pendidikan
. Memangkas Komunikata.Super, D. . (1990).Pendekatan seumur hidup: pendekatan seumur hidup. Pilihan dan pengembangan karir(LD Brown & & A.Brooks (ed.); edisi ke-2). Jossey-Bas.
Suryadi, B., Ratna Sawitri, D., Hamidah, & Hanifa, F. (2018). Orientasi karir sekolah menengah atas
siswa.Web Konferensi SHS
,42
, 00005. https://doi.org/10.1051/shsconf/20184200005 Urbanaviciute, I., Pociute, B., Kairys, A., & Liniauskaite, A. (2016). Hambatan karir dan kejuruan yang dirasakanhasil di kalangan mahasiswa: Menjelajahi efek mediasi dan moderasi.Jurnal Perilaku Kejuruan,92, 12–21. https://doi.org/10.1016/j.jvb.2015.11.001
Zunker, VG (2015). Konseling Karir: Pendekatan Holistik. Di dalamBuku Pegangan Studi Karir(edisi ke-9). Brooks Kol. https://doi.org/10.4135/9781412976107.n6
Biografi
Zaki Nurul Aminsaat ini bekerja di Jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Semarang. Beliau meraih gelar Sarjana dan Magister Bimbingan Konseling dari Universitas Negeri Semarang. Zakki melakukan penelitian di bidang psikologi pendidikan, psikologi terapan, dan khusus konseling multikultural. Hasil studinya telah dipublikasikan di jurnal internasional dan nasional serta prosiding konferensi. Ia juga menjadi reviewer jurnal nasional dan internasional.
Juhdi Aminadalah dosen senior Jurusan Haji dan Umroh Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri Surakarta. Ia juga mengelola yayasan pesantren serta sekolah berbasis agama. Dalam penelitian ini beliau bertanggung jawab dalam pengumpulan dan identifikasi data penelitian.
Kusnarto Kurniawanadalah kepala Departemen Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Semarang. Kusnarto Kurniawan melakukan penelitian di bidang psikologi pendidikan dan psikologi terapan. Hasil studinya telah dipublikasikan di jurnal internasional dan nasional serta prosiding konferensi.
Eko Nusantoroadalah Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Konselor Universitas Negeri Semarang. Eko Nusantoro melakukan penelitian di bidang psikologi pendidikan dan manajemen bimbingan dan konseling.
Hasil penelitiannya telah dipublikasikan di jurnal internasional dan nasional serta prosiding konferensi.