• Tidak ada hasil yang ditemukan

TERJEMAHAN KEL 4 GELATIN KERAPU

N/A
N/A
Dessy Dhavina

Academic year: 2024

Membagikan "TERJEMAHAN KEL 4 GELATIN KERAPU"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Suprayitno Eddy

Jurusan Teknologi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Indonesia E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Gelatin adalah protein yang diekstraksi dari jaringan kolagen hewan pada kulit, tulang, ligamen, atau jaringan ikat hewan. Gelatin memiliki daya cerna yang tinggi, sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan baku pembuatan edible film. Edible film adalah lapisan tipis yang dibuat untuk melapisi atau diletakkan di atas atau di antara komponen pangan yang dapat dimakan atau dapat dikonsumsi. Dalam pembuatan edible film berbahan hidrokoloid, kualitas film seringkali rapuh, sehingga membutuhkan bahan tambahan yang berfungsi sebagai plasticizer. Plasticizer adalah cairan dengan titik didih tinggi yang akan memberikan sifat lunak dan fleksibel ketika dicampur dengan polimer. Gugus poliol, termasuk gliserol, sorbitol, dan polietilen glikol (PEG), umumnya digunakan sebagai plasticizer untuk edible film. Hasil penelitian utama menunjukkan bahwa pemlastis berbeda berpengaruh nyata terhadap sifat fisik edible film yaitu laju transmisi uap air, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kuat tarik, tebal, elongasi, dan sifat kimia edible film yaitu air. isi. Edible film terbaik dari gelatin kulit ikan kerapu diperoleh pada konsentrasi plasticizer gliserol 1% dengan karakteristik fisik dan kimia antara lain kuat tarik 12,07 MPa, elongasi 67,33%, ketebalan 0,11 mm, laju transmisi uap air 167,50 g/m2 /hari, dan kadar air 13,22%.

Hasil analisis profil asam amino menunjukkan bahwa kandungan asam amino edible film tertinggi adalah glisin sebesar 185.559,12 mg/kg. Sebagai perbandingan, asam amino terendah adalah L-Tirosin sebesar 2.893,97 mg/kg.

Dalam memproduksi edible film berbahan hidrokoloid, kualitas film seringkali rapuh, sehingga DOI 10.18551/rjoas.2021-10.29

Gelatin memiliki daya cerna yang tinggi, sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan baku pembuatan edible film. Edible film dapat dibuat dari tiga jenis bahan penyusun yang berbeda, yaitu hidrokoloid, lipid, dan komposit keduanya. Edible film adalah lapisan tipis yang dibuat untuk melapisi atau diletakkan di atas atau di antara komponen pangan yang dapat dimakan atau dapat dikonsumsi. Pada produk pangan, edible film menghambat perpindahan uap air dan pertukaran gas, mencegah hilangnya aroma dan perpindahan lemak, memperbaiki sifat fisik, sebagai pembawa zat aditif, dan ramah

lingkungan. Edible film merupakan kemasan biodegradable yang ramah lingkungan dan mudah terurai (Miwada et al., 2015). Pembuatan edible film tidak hanya menggunakan bahan penyusun utama tetapi juga plasticizer.

GELATIN KULIT

Pemanfaatan limbah secara optimal dengan biaya yang murah dapat menciptakan pendapatan tambahan, mengurangi limbah perikanan dan meningkatkan nilai jual limbah. Salah satu alternatif yang dapat diambil adalah dengan membuat gelatin dari kulit ikan, salah satunya adalah kulit Kerapu. Kulit ikan mengandung kolagen yang menghasilkan gelatin ketika dihidrolisis (Ismail dan Suprayitno, 2019).

Gelatin adalah protein yang diekstraksi dari jaringan kolagen hewan pada kulit, tulang, ligamen, atau jaringan ikat hewan. Penambahan gelatin sangat penting dalam penganekaragaman bahan pangan karena nilai gizinya yang tinggi terutama kandungan protein, serta kandungan asam amino dan lemak yang rendah (Pantow et al., 2016). Gelatin berfungsi sebagai stabilizer, pengental, emulsifier, gelling agent, edible coating, mikro enkapsulasi, foaming agent, dan pembentuk film (Atma, 2016).

KARAKTERISTIK KIMIA EDIBLE FILM TERBUAT DARI KERAPU

KATA KUNCI

Gelatin, edible film, gliserol, sorbitol, polietilen glikol (PEG).

PENGARUH PENGGUNAAN PLASTIKISER YANG BERBEDA TERHADAP FISIK DAN

(2)

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari bahan baku pembuatan gelatin yaitu kulit ikan Kerapu, asam sitrat (C6H807), air suling, dan air.

Tahap pertama dalam produksi kolagen adalah membuat gelatin kulit Kerapu yang diperoleh pada penelitian ini. Kemudian ditimbang 5 gram gelatin kemudian dilarutkan dengan 100 mL akuades sampai larut. Larutan gelatin dipanaskan di atas hot plate pada suhu 60oC selama 15 menit dan diaduk menggunakan magnetic stirrer. Selanjutnya ditambahkan variasi konsentrasi plasticizer yaitu 1% gliserol, 1,2% sorbitol, dan 1% polietilen glikol (PEG). Semua bahan yang tercampur diaduk menggunakan magnetic stirrer dan dipanaskan kembali di atas hot plate pada suhu 60oC selama 15 menit sampai homogen.

Selanjutnya bahan pembuatan edible film adalah gelatin kulit kerapu, gliserol, sorbitol, dan polietilen glikol (PEG).

titik yang akan memberikan sifat lunak dan fleksibel bila dicampur dengan polimer (Arini et al., 2017).

Campuran tersebut kemudian dituang ke dalam loyang berukuran 18x8 cm untuk dikeringkan menggunakan oven pada suhu 65oC selama 18 jam. Tahap selanjutnya adalah melakukan proses peeling untuk melepaskan film. Film disimpan dalam desikator dan siap untuk diuji.

Kekuatan tarik diukur menggunakan Texture Analyzer. Ketebalan spesimen edible film diukur menggunakan mikrometer kemudian ditempelkan antar grip dengan jarak awal 50 mm/menit. Kekuatan tarik dihitung dengan membagi gaya maksimum (F) yang diterapkan pada film untuk merobek (N) per satuan luas film (m). Kekuatan tarik dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yang dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah penelitian pendahuluan yang bertujuan untuk mencari konsentrasi optimal pada masing-masing jenis plasticizer, meliputi gliserol, sorbitol, dan polietilen glikol dalam proses pembuatan edible film dari gelatin kulit Kerapu. Tahap kedua adalah penelitian utama yang bertujuan untuk mengetahui penggunaan pemlastis yang berbeda dengan konsentrasi yang optimal untuk menghasilkan edible film dari gelatin kulit Kerapu dengan karakteristik fisik dan kimia terbaik. Pengujian karakteristik fisik dan kimia meliputi ketebalan, kekuatan tarik, perpanjangan, laju transmisi uap air, kadar air, dan profil asam amino.

Jenis dan konsentrasi plasticizer yang tepat akan menghasilkan sifat film yang baik. Gugus poliol, termasuk gliserol, sorbitol, dan polietilen glikol (PEG), umumnya digunakan sebagai plasticizer untuk edible film. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan gelatin dari kulit ikan kerapu sebagai bahan baku pembuatan edible film dengan berbagai plasticizer agar lebih mudah diaplikasikan masyarakat pada bahan kemasan.

Ketebalan diukur menggunakan mikrometer dengan ketelitian 0,01 mm. Pengukuran dilakukan dengan menempatkan film di antara rahang mikrometer. Pengukuran ketebalan dilakukan pada 5 titik yang berbeda pada setiap sampel untuk mendapatkan rata-rata ketebalan sampel edible film.

Pembuatan gelatin dimulai dengan menyiapkan bahan baku kulit ikan Kerapu dan merendamnya dalam air hangat pada suhu 50oC selama 30 menit. Kulit ikan yang bersih (100 g) kemudian ditimbang dan dipotong-potong dengan ukuran 1 cm2. Selanjutnya kulit ikan direndam kembali menggunakan asam sitrat konsentrasi 1% dengan perbandingan 1:3 (b/v) selama 24 jam. Setelah selesai, kulit ikan dicuci dengan air mengalir hingga pH netral, kemudian diekstraksi dengan penangas air pada suhu 60-70o C selama 6 jam. Perbandingan antara kulit Kerapu dan air suling adalah 1:3 (b/v). Proses selanjutnya adalah menyaring larutan gelatin menggunakan kain belacu. Larutan gelasi yang telah disaring dituang ke dalam loyang untuk dikeringkan menggunakan oven pada suhu 60oC selama 48 jam. Gelatin yang diperoleh kemudian dihaluskan menggunakan blender dan disimpan dalam desikator untuk dianalisis lebih lanjut.

( / ²) =

(3)

% AA = mol AA =

E (%) =

Panjang awal

B C

(cm)

W % =

× 100%

WVTR =

x 100%

B A

(cm)

Berdasarkan Gambar 1, nilai kuat tarik dengan penambahan plasticizer gliserol 1% (G(1), plasticizer sorbitol 1,2% (S(1,2)), dan plasticizer PEG 1% (P(1) adalah 12,07 MPa, 9,29 MPa, dan 8,07 MPa. Penambahan 1% gliserol plasticizer (G(1) menghasilkan kekuatan tarik tertinggi, sedangkan

penambahan 1% PEG plasticizer (P(1) menghasilkan kekuatan tarik terendah. Semakin tinggi konsentrasi plasticizer yang ditambahkan , semakin rendah kekuatan tarik Penambahan plasticizer menyebabkan molekul plasticizer berinteraksi dengan membentuk ikatan hidrogen pada rantai antar polimer, sehingga mengurangi interaksi antar molekul biopolimer (Tanjung et al., 2020).

dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

Gambar 2 menunjukkan bahwa nilai elongasi edible film dengan penambahan 1% gliserol plasticizer (G(1), 1,2% sorbitol plasticizer (S(1.2), dan 1% PEG plasticizer (P(1)) adalah 67,33± 67, masing-masing 47%,59,59±50,64%, dan 1,14±0,49% Penambahan plasticizer gliserol 1% (G(1) menghasilkan nilai elongasi tertinggi, sedangkan penambahan plasticizer PEG 1% (P(1) menghasilkan nilai elongasi tertinggi) nilai elongasi yang paling rendah Nilai elongasi yang tinggi menunjukkan bahwa

Sampel edible film dilekatkan dengan kuat pada ujung kedua klem. Itu area pengukuran diatur ke berat yang sesuai, dan perekam diatur ke nol (default).

Kadar air dianalisis menggunakan oven. Cangkir porselen dikeringkan dalam oven selama 30 Pengujian sampel edible film dilakukan sampai pecah. Perpanjangan ditentukan dan

menit, kemudian didinginkan dalam desikator selama 15 menit. Kemudian, 5 gram sampel adalah

Profil asam amino dianalisis menggunakan metode UPLC. 0,1 gram sampel adalah Laju transmisi uap air ke film diukur dengan gravimetri

ditimbang dalam cawan dan dikeringkan dalam oven pada suhu 100oC dengan tekanan tidak lebih dari 10 mmHg

ditimbang dalam tabung reaksi tertutup, kemudian ditambahkan 5 mL HCl 6 N dan divorteks. Itu dihitung pada saat film pecah (dinyatakan sebagai persentase). Rumus untuk

metode. Langkah pertama adalah memotong sampel film yang akan diuji sesuai dengan ukuran yang ditempelkan pada a

selama 5 jam atau sampai beratnya konstan. Cawan dan isinya kemudian didinginkan dalam a

sampel diterbangkan dengan gas nitrogen. Selanjutnya tabung yang berisi sampel dimasukkan ke dalam menghitung elongasi adalah sebagai berikut:

wadah yang berisi silika gel. Sebelumnya silika gel dikeringkan pada suhu 105oC selama 2 jam. Itu

desikator dan ditimbang. Kadar air dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

oven pada suhu 110oC selama 22 jam. Setelah dingin, sampel dipindahkan ke 50 mL pengukuran dilakukan setiap hari selama satu minggu dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

labu ukur dan ditambahkan aquabidest (air suling ganda) sampai tanda batas. Itu

HASIL DAN DISKUSI

sampel disaring dengan membran filter 0,45 m. Konsentrasi asam amino adalah

× 100

×

×

× G t A

(4)

Gambar 2 – Hasil Perpanjangan Gambar 1 – Hasil Kekuatan Tarik

Gambar 3 – Hasil Ketebalan

beban dan kekuatan tarik. Penggunaan hidrokoloid dapat meningkatkan daya putus dan elongasi karena menghasilkan efek pelumas sehingga emulsi edible film lebih elastis, fleksibel, dan kuat (Shinta et al., 2016).

Gambar 3 menunjukkan bahwa nilai ketebalan edible film dengan penambahan 1%

gliserol plasticizer (G(1), 1,2% sorbitol plasticizer (S(1.2), dan 1% PEG plasticizer (P(1)) adalah 0,11 ± 0,02 mm 0,10 ±0,01 mm, dan 0,09 ± 0,01 mm Penambahan plasticizer gliserol 1%

(G(1) menghasilkan nilai ketebalan paling tinggi, sedangkan penambahan plasticizer PEG 1%

(P(1) menghasilkan nilai ketebalan terendah Ketebalan edible film dipengaruhi oleh plasticizer

yang digunakan karena plasticizer memiliki sifat hidrofilik yang dapat meningkatkan kelarutan

dan kemampuan penyerapan uap air dari edible film tersebut. Banyak ruang Molekul plasticizer

yang ditempatkan pada rongga matriks edible film akan mengentalkan edible film (Suryadri et

al., 2020).

(5)

Gambar 4 – Hasil Laju Transmisi Uap Air

Gambar 5 – Hasil Kadar Air

film yang dapat dimakan sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat polimer yang digunakan. Lebih

aditif yang digunakan dalam proses produksi film (Salimah et al., 2016).

hidrofilik dan kationik suatu polimer, semakin tinggi WVTR film (Ningrum et al., 2020).

Profil asam amino dianalisis untuk mengetahui komposisi asam amino yang terkandung dalam Gambar 4 menunjukkan bahwa tingkat transmisi uap air dari edible film dengan

bahan makanan. Asam amino dapat ditemukan pada makanan yang mengandung protein. Kandungan asam aminonya adalah

Berdasarkan Gambar 5, nilai kadar air edible film dengan penambahan 1%

penambahan plasticizer gliserol 1% (G(1), plasticizer sorbitol 1,2% (S(1,2)), dan PEG 1%

dipengaruhi oleh jenis, organ yang diamati, umur panen, dan fisiologis

plasticizer gliserol (G(1), plasticizer sorbitol 1,2% (S(1,2)), dan plasticizer PEG 1% (P(1) adalah

proses organisme (Niccyet al., 2020).

plasticizer (P(1) adalah 167,50 ± 22,46 g/m²/hari, 38,57±22,07 g/m²/hari, dan 144,17 ± 22,60

13,22 ± 0,78%, 12,16 ± 1,90%, dan 14,20 ± 1,70% masing-masing. Penambahan 1% PEG

Seperti yang terlihat pada tabel 1, terdapat 15 jenis asam amino mulai dari 4.200 mg/kg hingga 210.700 mg/kg. Hasil asam amino tertinggi adalah Glycine (210.700 mg/kg), dan hasil asam amino terendah adalah L-Tyrosine (4.200 mg/kg). Sedangkan hasil asam amino L-Proline mencapai 102.300 mg/kg. Asam amino utama penyusun gelatin adalah glisin, prolin, dan hidroksiprolin.

Menurut Nasution dkk. (2018), glisin dan prolin adalah dua asam amino utama dalam gelatin, hampir g/m²/hari masing-masing. Penambahan plasticizer gliserol 1% (G(1) menghasilkan tertinggi

plasticizer (P(1) menghasilkan nilai kadar air tertinggi, sedangkan penambahan 1,2%

laju transmisi uap air, sedangkan penambahan 1,2% sorbitol plasticizer (S(1.2) menghasilkan

sorbitol plasticizer (S(1.2) menghasilkan nilai kadar air terendah

dalam tingkat transmisi uap air terendah. Tingkat Transmisi Uap Air (WVTR)

kandungan dalam edible film dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain bahan dasar dan

(6)

Tabel 2 – Hasil Profil Asam Amino Edible Film Tabel 1 – Hasil Analisis Profil Asam Amino Gelatin

posisi glisin-XY, dimana posisi X diisi dengan asam amino prolin, dan posisi Y

kekuatan 12,07 MPa, perpanjangan 67,33%, ketebalan 0,11 mm, uap air

urutan berulang. Prolin sering terjadi pada posisi X. Oleh karena itu, kedua asam amino ini paling banyak terdapat dalam gelatin. Gelatin kulit kerapu kemudian sering digunakan sebagai bahan baku pembuatan edible film.

posisinya diisi dengan asam amino hidroksiprolin (Firdayanti dan Suprayitno, 2019). Gelatin

laju transmisi 167,50 g/m2 /hari, dan kadar air 13,22%. Hasil dari amino

Seperti terlihat pada tabel profil asam amino edible film berbahan baku Kerapu

dengan asam amino glisin dan prolin yang tinggi akan memiliki kekuatan gel yang lebih tinggi. Kedua asam amino

analisis profil asam menunjukkan bahwa kandungan asam amino tertinggi dari edible film adalah glisin pada gelatin kulit di atas, terdapat 15 jenis asam amino mulai dari 2.893,97 mg/kg sampai

juga memiliki peran penting dalam sifat fisik gelatin. Kandungan glisin dalam

185.559,12 mg/kg, sedangkan asam amino terendah adalah L-tirosin sebesar 2.893,97 mg/kg.

185.559,12 mg/kg. Hasil asam amino tertinggi adalah Glycine (185.559,12 mg/kg), dan

agar-agar sangat penting dalam mengikat air ketika diterapkan pada produk (Utomo dan Suprayitno, hasil asam amino terendah adalah L-tirosin (2.893,97 mg/kg). Tingginya kandungan glisin dan L Prolin pada edible film disebabkan tingginya kandungan glisin dan L-Prolin yang dimiliki oleh gelatin.

2019).

Struktur gelatin pada kulit ikan didominasi oleh asam amino, antara lain 14% hidroksiprolin,

KESIMPULAN

16% prolin, dan 26% glisin. Itu tergantung pada komposisi kolagen dalam mentah

Edible film terbaik dari gelatin kulit Kerapu diperoleh pada konsentrasi bahan. Struktur kolagen triple helix dirakit dari polipeptida spesifik dengan

1% plasticizer gliserol dengan karakteristik fisik dan kimia, termasuk tarik

Satuan mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg

15.861,99 L-Treonin

L-Histidin 1 2

3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

21.200

41.100 L-Alanine

67.279.30 glisin

L-Leusin

31,193.59 L-lisin

102.300

L-isoleusin Asam L-Glutamat

21,897,08 86.000 Hasil

L-Histidin

5.904,01 185.559.12 19.200

L-lisin L-arginin

23.700 Asam L-Aspartat

L-Serin

Hasil L-fenilalanin

9.635.56 80.600

L-Valin

21.069.50 L-tirosin

L-isoleusin

210.700

L-Alanine

15.646,85 glisin

26.300

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Asam L-Glutamat

26.313,71 7.900 Parameter

L-Prolin

7.100 L-Leusin

25.800 L-Valin

2,893,97 58.052,78 L-arginin

L-Treonin

Satuan mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg

75.700

Parameter

16.700 L-Serin

60.350.76 4.200

18,128.10 Asam L-Aspartat

L-tirosin

84.613,99 L-Prolin

L-fenilalanin

(7)

karakteristik gelatin dari kulit kaki ternak dan potensinya sebagai edible film. Majalah Ilmiah Peternakan, 18(3), 109-113. ISSN: 0853-8999.

ISSN: 2656-1913.

REFERENSI

6. Mulyadi, AF, MH Pulungan & N. Qayyum. (2016). Pembuatan edible filmmaizena dan uji aktifitas antibakteri (kajian konsentrasi gliserol dan ekstrak daun beluntas (pluchea indica l.).JTMA, 5(3), 149-158. ISSN: 2549-3892.

13. Suryadri,H., R. Andriani., MG Aditya D., & Damris. (2020). Perbandingan penambahan CMC dan sorbitol dengan penambahan gelatin dan gliserol terhadap edible film yang terbuat dari limbah cair tahu. Jurnal Chempublish, 5 (2): 93-104. ISSN: 2503-4588.

1. Arini, D., M. Syahrul & Kasman. (2017). Pembuatan dan pengujian sifat mekanik plastik biodegradable berbasis tepung biji durian. Jurnal Sains dan Teknologi, 6(3), 276- 283.

ISSN: 2541-1969.

7. Nasution, AY, Harmita, H., & Harahap, Y. (2018). Karakterisasi gelatin hasil ekstraksi dari kulit ikan patin (Pangasius hypophthalmus) dengan proses asam dan basa.

14. Tanjung, MR, Rostini, I, Ismail, MR & Pratama, RI. (2020). Karakterisasi edible film dari limbah cair surimi ikan lele (Pangasius sp.) dengan penambahan sorbitol sebagai

plasticizer.World News of Natural Sciences An International Scientific Journal. 28, 87-102.

ISSN: 2543-5426.

Ilmu & Penelitian Farmasi, 5(3), 142 – 151. ISSN 2407-2354.

2. Atma, Y. (2016). Pemanfaatan limbah ikan sebagai sumber alternatif produksi gelatin dan peptida bioaktif. Jurnal UMJ Seminar Nasional Sains dan Teknologi. ISSN: 2460-8416.

15. Utomo, AM, & E. Suprayitno. (2019). Analisis sifat fisikokimia gelatin dari kulit mahi-mahi (Coryphaena hippurus). Jurnal Internasional Publikasi Ilmiah dan Penelitian, 9(9), 832-836.

ISSN: 2250-3153.

8. Niccy, S., Suhandana, M., & Ilhamdy, AF (2020). Pengaruh perebusan terhadap karakteristik asam amino dan logam berat pada daging keong bakau (Telescopium telescopium).

Bumbu, 3(1), 72-88. ISSN: 2654-4415.

3. Firdayanti, W., & E. Suprayitno. (2019). Profil asam amino gelatin yang diekstraksi dari kulit ikan patin (Abalistes stellaris) dan penentuan sifat fisiknya.

9. Ningrum, RS, D. Sondari., P. Amanda., BA Widyaningrum.,D. Burhani., F. Akbar & Y.

Sampora. (2020). Sifat edible film dari pati sagu termodifikasi yang diendapkan butanol.

JUSAMI, 21(4), 164-169. ISSN: 1411-1098.

Jurnal Internasional Publikasi Ilmiah dan Penelitian. 9(4), 774-778. ISSN: 2250- 3153.

10. Pantow, IM, M. Sompie., AD Mirah., Linda & M. Karisoh. (2016). Pengaruh perbedaan konsentrasi larutan asam asetat (CH3COOH) terhadap karakteristik gelatin kulit kaki ayam.

Jurnal Zootek, 36(1), 23-32. ISSN: 0852-2626.

4. Ismail, S&E. Suprayitno. (2019). Pengaruh variasi konsentrasi asam asetat terhadap karakteristik gelatin kulit ikan bandeng (Chanoschanos). Jurnal Pertanian dan Ilmu Kedokteran Hewan IOSR (IOSR-JAVS), 12(5), 52-56. ISSN: 2319-2380.

11. Salimah, T., WF Ma'ruf & Romadhon. (2016). Pengaruh transglutaminase terhadap mutu edible film gelatin kulit ikan kakap putih (Lates calcalifer). Jurnal Pengolahan dan

Bioteknologi Hasil Perikanan, 5(1), 49-55. ISSN: 2442-4145.

5. Miwada, INS, Simpen, IN, Hartawan, M., Puger, AW, & Sriyani, NPL (2015).

12. Shinta, D., A. Supriadi dan SD Lestari. 2016. Pemanfaatan air cucian surimi belut sawah

(Monopterus albus) dalam pembuatan edible film. Jurnal FishtechH. 5(1): 85-93.

Referensi

Dokumen terkait