• Tidak ada hasil yang ditemukan

TGS MANDIRI PEDAGOGIK DESI

N/A
N/A
Rasidah Rasidah

Academic year: 2025

Membagikan "TGS MANDIRI PEDAGOGIK DESI"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

NAMA : MELI ASNARTI NPK : 0882370025013

TUGAS MANDIRI MODUL PEDAGOGIK

GAGASAN YANG SAYA TEMUKAN DALAM TOPIK 1-8

Model Pembelajaran Berbasis Masalah atau PBL adalah seperangkat model mengajar yang menggunakan masalah sebagai fokus untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, materi, dan pengaturan diri. Pelajaran dari pembelajaran berbasis masalah memiliki tiga karakteristik, yakni: (1) pelajaran berfokus pada memecahkan masalah, (2) tanggung jawab untuk memecahkan masalah bertumpu pada siswa, dan (3) pengajar mendukung proses saat peserta ajar mengerjakan masalah. Sintax Model PBL ada lima Tahapan yaitu: pertama: orientasi masalah, kedua, pengorganisasian peserta didik untuk belajar (dalam kelompok),ketiga: Membimbing

(2)

penyelidikan atau pengumpulan data, Keempat: pengembangan dan penyajian hasil kerja dan yang kelima: evaluasi dan refleksi.

Model Pembelajaran Berbasis Proyek atau PJBL adalah model pembelajaran yang secara langsung melibatkan siswa dalam proses pembelajaran melalui kegiatan penelitian untuk mengerjakan dan menyelesaikan suatu proyek pembelajaran tertentu. Sintaks Model PJBL ada enam tahapan dan akan dipaparkan sesuai peta konsep berikut:

Model pembelajaran berdiferensiasi (Differentiated Instruction atau DBL) merupakan pendekatan pembelajaran yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan beragam peserta didik dalam satu kelas. Model ini didasarkan pada gagasan bahwa setiap siswa memiliki perbedaan dalam hal kesiapan belajar, minat, gaya belajar, dan kebutuhan sehingga pembelajaran perlu disesuaikan untuk memastikan keberhasilan belajar secara optimal.

Pembelajaran Berdiferensiasi ada 3 jenis yaitu Diferensiasi Konten, Diferensiasi Proses dan Diferensiasi Produk. Ada 4 Komponen utama dalam pembelajaran berdiferensiasi, yaitu: isi, proses, produk, dan lingkungan belajarnya. Sintax DBL ada Empat tahapan yaitu : Pertama Melakukan Asesmen Diagnostic, kedua menganalisis hasil asesmen diagnostic, ketiga Pelaksanaan Pembelajaran dengan merancang pembelajaran sesuai kebutuhan siswa. Keempat, Evaluasi dan Presentasi.

Technology Pedagogy Content Knowledge (TPACK) merupakan suatu rangkaian pemahaman dari pembelajaran dimana kemampuan seseorang melalui penguasaan teknologi yang terintegrasi dan tidak dapat dipisahkan dari suatu komponen-komponen penyusunnya yaitu materi pelajaran, teknologi, dan pedagogik. Sintax Pembelajaran Berbasis TPACK ada lima langkah yaitu: Pertama: Identifikasi Kompetensi Pembelajaran, Kedua: Pemilihan Teknologi yang Relevan, Ketiga: Aktivitas Pembelajaran Interaktif, Keempat: Evaluasi dan Refleksi Pembelajaran dan Kelima: Penguatan dan Pengayaan. Deep Learning adalah sistem pembelajaran yang didesain untuk menguatkan pemahaman siswa melalui pendekatan lebih dalam. Tujuannya adalah memberikan pengalaman belajar lebih bermakna sekaligus menyenangkan bagi siswa. Hal ini didukung oleh tiga pilar utama dalam Kurikulum Deep Learning, yaitu Mindful Learning (memberikan kesempatan bagi siswa untuk aktif berdiskusi dan bereksperimen ), Meaningful

(3)

Learning (mengajak siswa memahami alasan di balik setiap materi yang dipelajari), dan Joyfull Learning (berfokus pada kepuasan dari pemahaman mendalam,). Sintax Pembelajaran Deep Learning ada empat Tahapan yaitu: Pertama Fase Persiapan berupa membangun kesadaran (Mindful Learning) Kedua Fase Eksplorasi yaitu Menciptakan Pembelajaran Bermakna (Meaningful Learning) dan Ketiga Fase Aplikasi yaitu Menjadikan Pembelajaran Menyenangkan (Joyful Learning) dan Keempat Fase Refleksi dan Evaluasi.

Bimbingan konseling adalah proses hubungan interpersonal yang dirancang untuk membantu individu mengembangkan pemahaman tentang diri mereka sendiri dan lingkungannya sehingga mereka dapat membuat keputusan yang tepat. Supervisi klinis adalah proses profesional yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi konselor dalam memberikan layanan yang efektif kepada klien. Dalam konteks ini, supervisor memainkan peran penting sebagai fasilitator, mentor, dan evaluator. Supervisi klinis tidak hanya berfokus pada pengembangan keterampilan teknis, tetapi juga mencakup aspek etika, emosional, dan pengembangan pribadi konselor. Sintax dalam Pelayanan Bimbingan Klinis untuk Supervisi Klinis dalam Pembelajaran PAI ada Lima langkah yaitu Pertama : tahap persiapan supervisi, konselor atau supervisor mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk melakukan supervisi klinis, Kedua : Tahap observasi dan analisis kasus. Supervisor melakukan observasi langsung terhadap proses pembelajaran PAI, mengamati interaksi guru dengan siswa, serta metode dan media yang digunakan, Ketiga : tahap implementasi perbaikan dilakukan. Supervisor dan guru PAI bersama-sama merumuskan solusi untuk mengatasi masalah yang ditemukan, Keempat : Tahap umpan balik dan refleksi.

Supervisor memberikan umpan balik konstruktif tentang pelaksanaan strategi, termasuk keberhasilan dan tantangan yang dihadapi., Kelima : Tahap evaluasi dan tindak lanjut.

Supervisor mengevaluasi efektivitas strategi perbaikan yang telah diimplementasikan, misalnya melalui peningkatan motivasi siswa atau kualitas pembelajaran PAI. Berdasarkan hasil evaluasi, rencana tindak lanjut disusun untuk memperkuat keberhasilan dan mengatasi kekurangan yang masih ada. Seluruh proses supervisi juga didokumentasikan sebagai bahan referensi untuk perbaikan di masa depan.

MATERI YANG MENIMBULKAN MISKONSEPSI PADA TOPIK 1-8 : 1. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL):

Miskonsepsi:

o Menganggap PBL hanya tentang menyelesaikan masalah tanpa memperhatikan proses pembelajaran.

o PBL hanya cocok untuk mata pelajaran sains.

o Guru kehilangan kendali atas kelas dalam PBL.

o PBL sama dengan pembelajaran kelompok biasa.

Kebenaran:

(4)

o PBL menekankan pada pengembangan keterampilan pemecahan masalah, berpikir kritis, dan kolaborasi.

o PBL dapat diterapkan di berbagai mata pelajaran.

o Guru berperan sebagai fasilitator, bukan pemberi informasi tunggal.

o PBL memiliki tahapan yang terstruktur.

2. Model Pembelajaran Berbasis Proyek (PJBL):

Miskonsepsi:

o PJBL hanya tentang membuat produk yang bagus.

o PJBL terlalu memakan waktu dan sulit dikelola.

o PJBL mengabaikan pembelajaran konten.

o PJBL hanya cocok untuk kegiatan ekstrakulikuler.

Kebenaran:

o PJBL menekankan pada proses pembuatan produk yang mengembangkan keterampilan siswa.

o Dengan perencanaan yang baik, PJBL dapat dilaksanakan dengan sukses.

o PJBL mengintegrasikan pembelajaran konten dengan aplikasi praktis.

o PJBL baik untuk di masukan kedalam kurikulum inti.

3. Model Pembelajaran Berdiferensiasi (DBL):

Miskonsepsi:

o DBL berarti memberikan tugas yang berbeda-beda untuk setiap siswa.

o DBL terlalu rumit dan memakan waktu.

o DBL hanya untuk siswa dengan kebutuhan khusus.

o DBL berarti menurunkan standar pembelajaran.

Kebenaran:

o DBL berarti menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa, bukan hanya tugas.

o DBL dapat diimplementasikan dengan efektif melalui perencanaan yang baik.

o DBL bermanfaat untuk semua siswa, bukan hanya yang berkebutuhan khusus.

o DBL bertujuan untuk memaksimalkan potensi setiap siswa, bukan menurunkan standar.

4. Technology Pedagogy Content Knowledge (TPACK):

Miskonsepsi:

o TPACK hanya tentang menggunakan teknologi canggih dalam pembelajaran.

o TPACK menggantikan peran guru.

o TPACK hanya fokus pada penguasaan teknologi.

o TPACK hanya menambahkan teknologi kedalam pembelajaran.

Kebenaran:

o TPACK menekankan pada pemilihan teknologi yang tepat untuk mendukung tujuan pembelajaran.

o Guru tetap memegang peran penting dalam TPACK.

(5)

o TPACK mengintegrasikan teknologi, pedagogi, dan konten.

o TPACK adalah pengintegrasian dari teknologi, pedagogi, dan konten.

5. Deep Learning:

Miskonsepsi:

o Deep Learning hanya tentang menghafal informasi.

o Deep Learning terlalu sulit untuk siswa.

o Deep Learning mengabaikan pembelajaran dasar.

o Deep Learning hanya untuk siswa yang cerdas.

Kebenaran:

o Deep Learning menekankan pada pemahaman mendalam dan aplikasi pengetahuan.

o Deep Learning dapat diadaptasi untuk berbagai tingkat kemampuan siswa.

o Deep Learning membangun pembelajaran dasar dengan pendekatan yang lebih bermakna.

o Deep Learning dapat di terapkan kepada semua siswa.

6. Bimbingan Konseling dan Supervisi Klinis:

Miskonsepsi:

o Bimbingan konseling hanya untuk siswa yang bermasalah.

o Supervisi klinis hanya tentang menilai kinerja konselor.

o Supervisi klinis adalah proses yang menakutkan.

o Supervisi klinis hanya menambah beban kerja konselor.

Kebenaran:

o Bimbingan konseling membantu semua siswa dalam pengembangan diri.

o Supervisi klinis bertujuan untuk meningkatkan kompetensi konselor.

o Supervisi klinis adalah proses kolaboratif dan mendukung.

o Supervisi klinis bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan konselor.

Referensi

Dokumen terkait

Secara singkat alur proses pembelajaran dalam model learning cycle 7E dimulai dengan mendatangkan pengetahuan awal siswa, melibatkan siswa dalam kegiatan pengalaman langsung,

Kegiatan pembelajaran dengan model PjBL merupakan kegiatan siswa dalam kelompok melakukan perencanaan untuk merancang proyek yang akan dilakukan, kemudian membuat produk,

Secara keseluruhan, penerapan model pembelajaran berbasis proyek (PjBL) dengan pendekatan STEM dapat meningkatkan literasi sains siswa SMP pada tema pencemaran

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan keterampilan berbasis proyek dan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran Project Based Learning

Pembelajaran berbasis proyek (PjBL) dapat menghasilkan barang-barang nyata sekaligus membantu siswa meningkatkan pemahaman konseptual melalui kegiatan pemecahan masalah

Model Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) merupakan salah satu model yang dapat digunakan pada pendidikan kejuruan atau SMK untuk meningkatkan proses evaluasi

Pemilihan model pembelajaran berbasis proyek atau Project Based Learning (PjBL) dapat diterapkan untuk mengatasi permasalahan lemahnya pemberdayaan pola berpikir

Penelitian ini mengeksplorasi efektivitas penggunaan model Pembelajaran Berbasis Proyek (PJBL) dalam meningkatkan minat belajar siswa pada materi norma dan