• Tidak ada hasil yang ditemukan

tinjauan hukum islam terhadap praktik jual beli

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "tinjauan hukum islam terhadap praktik jual beli"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

Di Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan terdapat 2 (dua) model jual beli kayu: Pertama, dengan sistem jual beli per suku dan dengan sistem borongan. Sehubungan dengan itu, jual beli kayu seperti ini sudah menjadi tradisi di Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan. Kayu, yaitu jual beli kayu yang masih utuh (dalam hal pohon hidup yang belum ditebang atau belum berbentuk kayu bulat).

Bagaimana hukum Islam meninjau kualitas benda dalam jual beli pohon di Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan. Analisis Hukum Islam Terhadap Kualitas Benda Dalam Praktek Jual Beli Pohon Di Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan. Hal ini dapat dijadikan sebagai informasi awal untuk mengetahui lebih jauh mengenai praktek jual beli pohon di Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan.

Namun belum ada pembahasan khusus mengenai jual beli pohon cacat tersembunyi di Kecamatan Ngadirojo. Kedua, tesis Nahrowi yang berjudul “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktek Jual Beli Mebel di UD. Data Praktek Penundaan Penebangan Hutan Yang Terdapat Cacat Tersembunyi Dalam Jual Beli Kayu Di Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan.

Informan yang saya maksud adalah pihak-pihak yang paham dan berkompeten dalam praktek jual beli kayu di Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan.

Pengertian Jual-Beli

Dasar Hukum Jual Beli

Rukun dan Syarat Jual Beli

Pelaku transaksi, yaitu penjual dan pembeli

Objek transaksi, yaitu harga dan barang

Memilikinya, tidak sah menjual barang orang lain tanpa izin pemiliknya, jika tidak maka barang baru itu menjadi miliknya. Diketahui (terlihat) bahwa barang yang diperjualbelikan harus diketahui jumlah, berat, ukuran atau ukuran lainnya, sehingga jual beli tersebut batal, sehingga menimbulkan keragu-raguan di pihak salah satu pihak. Adanya kesepakatan ijab kabul dan qâbul mengenai barang yang ingin mereka berikan satu sama lain berupa barang yang akan dijual dan harga barang tersebut.

Akad Jual Beli Pohon di Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan

Jual beli pohon dilakukan dengan berbagai cara, antara lain jual beli pohon untuk kayu bulat dan grosir. Jual beli grosir juga ada dua jenis, yakni grosir tanpa suspensi dan grosir dengan suspensi potong. Biasanya jika pohon diperjualbelikan batangnya atau dalam jumlah besar tanpa menunda waktu penebangan, walaupun ada penundaan, penebangan pohon biasanya dilakukan 1-2 bulan setelah transaksi penjualan.

Praktek jual beli pohon ini didasari oleh kebutuhan masyarakat yang lebih memilih jual beli dalam jumlah besar, mengingat adanya kebutuhan mendadak akan efisiensi jual beli pohon dengan sistem grosir. Intinya, penjual hanya menerima harga bersih tanpa harus menanggung biaya penebangan dan pengangkutan.” 20 Oleh karena itu, jelas bahwa penjual pada dasarnya lebih memilih menjual pohonnya ketika masih ditanam di dalam tanah. Dalam transaksi jual beli, pembeli berharap mendapatkan pohon yang berkualitas baik, namun kualitas anakan yang siap dijual akan mempengaruhi harga pohon tersebut.

Pohon yang berkualitas tentunya memerlukan ketrampilan pembuat keranjang, broker dan petani, sehingga kita juga bisa melihat kondisi pohon tersebut dengan penilaian. Seperti yang dikatakan oleh Bpk. Hadi, “dengan menunjukkan pohon yang ingin saya jual, tanpa menjelaskan kondisi pohon tersebut, saya hanya menunjukkan pohon tersebut kepada pembeli untuk melihat kondisi (kualitas) pohon tersebut. 21 Dalam hal ini, penjual menjual pohon tersebut dalam keadaan sebenarnya tanpa rekayasa apapun, dan menyerahkan pohon tersebut kepada pemeriksaan keranjang.

Praktek jual beli pohon di Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan, apabila pembeli menemukan cacat pada saat penebangan menurut adat setempat, maka pohon tersebut tidak dikembalikan karena pada dasarnya hal tersebut merupakan resiko yang dapat diterima dalam jual beli barang tersebut.

Analisis Hukum Islam Terhadap Akad Jual Beli Pohon di Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan

Dalam praktek jual beli pohon di Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan dilakukan transaksi jual beli pohon tanpa penundaan tidak menjadi masalah. Sedangkan transaksi jual beli pohon dengan penghentian penebangan juga memenuhi syarat pemenuhan syarat suatu obyek jual beli. Karena obyek jual beli yang berupa pohon pada saat akad muncul juga dapat dilihat dan dinilai, maka perkembangan pohon tersebut serta kualitas dan kuantitasnya dapat diprediksi bahkan melalui penilaian antara keranjang dan penjual. petani

Jadi mengenai tujuan jual beli pohon di Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan menurut syariat Islam sah. Sebagaimana dijelaskan pada Bab 3 Sighat Aqad Jual Beli Pohon di Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan telah memenuhi syarat di atas. Jadi dari sightat aqad, aqad jual beli pohon di Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan menurut syariat Islam adalah sah.

Pembelian dan penjualan pohon tebangan gantung dilakukan dengan harga yang murah mengingat resiko penebangan, resiko kehilangan, penebangan dan biaya pengangkutan ditanggung oleh pembeli. Permohonan penundaan dilakukan pada saat akad dengan menyebutkan jangka waktu penundaan secara jelas karena pohon belum siap dipanen karena masih kecil. Meski dari pihak pembeli aliran dana terhenti karena pohon tidak segera ditebang dan dijual.

Penggunaan tanah oleh pembeli bukan hanya untuk mengeksploitasi saja, melainkan karena pohon tersebut masih berdiri di atas tanah penjual dan belum siap untuk ditebang sebelum waktunya tiba. Analisis Hukum Islam Terhadap Kualitas Barang Jual Beli Pohon Di Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan.

Analisis Hukum Islam Terhadap Kualitas Objek dalam Jual Beli Pohon di Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan

Apalagi praktik jual beli pohon sudah menjadi kebiasaan yang dianggap lumrah oleh masyarakat. Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa dalam transaksi jual beli pohon, baik dengan atau tanpa pembatasan, apabila setelah dilakukan tata cara penebangan ditemukan kesalahan pada objek jual beli berupa pohon. Oleh karena itu penebangan kayu menjadi suatu resiko dan pembeli menerimanya dengan tetap menerima dan membayar harga yang disepakati tanpa harus mengembalikan barang jual beli tersebut.

Dan karena penilaian terhadap mutu benda kayu tersebut juga dapat diberikan kepada pembeli secara terbuka sebagaimana kesaksian penjual, maka berarti apabila penilaian mutu dan kuantitas diserahkan kepada pembeli, maka pembeli dianggap lebih ahli.

PENUTUP

Saran

Bagi pihak yang melakukan praktek jual beli kayu harus dapat mematuhi ketentuan syariat mengenai rukun dan syarat jual beli salam. Apabila penyerahan barang bersifat adat, hendaknya dilakukan pencatatan untuk meminimalisir unsur gharar atau ambiguitas. Sedini mungkin perhatikan ketentuan syariat mengenai prinsip-prinsip akad, berdamai tanpa mengeksploitasi atau bahkan menzalimi salah satu pihak agar tidak saling merasa dirugikan.

Harapan penulis mengenai praktek jual beli kayu di Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan ini adalah agar nasabah yang melakukan transaksi jual beli tanaman berkayu semakin meningkatkan kemampuannya dalam menganalisis objek jual beli berupa tanaman berkayu. , bertransaksi dengan penyerahan barang secara langsung.Jika terpaksa menyerahkan barang jual beli tepat waktu.hentikan penebangan, gunakan sesuai batas normal dan terus lakukan upaya pengawasan harga pasar barang kayu guna mengurangi kerugian yang dapat diterima oleh pihak manapun. Diharapkan semua pihak yang melakukan transaksi ini tidak hanya mengharapkan keuntungan saja, namun juga berharap transaksi jual beli kayu dapat menjadi perdagangan yang sukses dan terhindar dari kesulitan bagi para pelakunya.

Referensi

Dokumen terkait