• Tidak ada hasil yang ditemukan

tinjauan hukum islam terhadap transaksi shopee

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "tinjauan hukum islam terhadap transaksi shopee"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

Shopee PayLater merupakan solusi kredit instan yang diluncurkan oleh Shopee yang memberikan kemudahan bagi penggunanya dalam membayar belanjaan dalam 1 bulan, atau dengan cicilan 2, 3, dan 6 bulan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana hukum Islam mengkaji transaksi Shopee PayLater yang dilakukan mahasiswa IAIN Ponorogo. Dari penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa mekanisme praktek jual beli menggunakan Shopee PayLater secara umum telah memenuhi syarat jual beli.

Kedua, transaksi Shopee PayLater di aplikasi Shopee tidak valid, sehingga transaksi menggunakan Shopee PayLater oleh masyarakat termasuk pelajar dilarang. Meski begitu, Shopee PayLater saat ini menjadi salah satu metode pembayaran yang paling diminati karena memberikan kemudahan dalam berbelanja online. Berdasarkan beberapa hal diatas serta munculnya fenomena-fenomena baru yang dirasa belum diteliti, hal inilah yang melatar belakangi peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul “TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP TRANSAKSI SHOPEE PAYLATER OLEH MAHASISWA IAIN PONOROGO”.

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Penelitian Terdahulu

Muhammad Dannirrahman, 2019 dengan judul “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktek Jual Beli Kredit Online Pada Aplikasi Cicil.co.id”. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik jual beli pulsa online pada aplikasi Cicil.co.id menerapkan sistem penarikan tunai, dimana pembelian barang dan transaksi dilakukan dengan cara copy link produk barang yang diinginkan kemudian paste link produk tersebut. , tentukan jumlah uang muka (DP) dan jangka waktu yang diinginkan, ajukan angsuran dan bayar.8. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah penelitian ini membahas masalah pengaruh kepercayaan dan.

8 Muhammad Dannirrahman, “Review Hukum Islam Tentang Praktek Jual Beli Kredit Online Pada Aplikasi Cicil.co.id”. Hasil penelitian ini adalah perbandingan praktik pengkreditan barang menurut hukum ekonomi Islam dan KUHP. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah penelitian ini membahas tentang denda keterlambatan, sedangkan penelitian ini membahas tentang dampak penggunaan PayLater bagi pelajar.

Metode Penelitian

Data yang berasal dari mahasiswa IAIN Ponorogo yang menggunakan Shopee PayLater merupakan data yang akan digunakan oleh peneliti, data tersebut merupakan data umum seperti pelaksanaan akad jual beli dan mekanisme praktek Shopee PayLater di marketplace Shopee. Wawancara merupakan data khusus yang akan peneliti gunakan terhadap mahasiswa IAIN Ponorogo pengguna shopee paylater di pasar shopee. Dalam skripsi ini, data primer berasal dari wawancara dengan mahasiswa IAIN Ponorogo pengguna Shopee PayLater.

Tujuan dari wawancara ini adalah untuk memperoleh informasi kontrak dan opini pengguna Shopee PayLater mengenai penggunaan Shopee PayLater di marketplace Shopee. Observasi dilakukan untuk memperoleh data mengenai mekanisme kontrak dan opini pengguna Shopee PayLater mengenai penggunaan Shopee PayLater di marketplace Shopee. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, peneliti memperoleh data yang mendalam, sehingga peneliti mampu mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi mahasiswa IAIN Ponorogo menggunakan Shopee PayLater.

Sistematika Pembahasan

Bab ini berisi data rangkuman umum mengenai fitur-fitur PayLater yang dijelaskan pada marketplace Shopee dan memuat mekanisme penggunaan Shopee PayLater oleh mahasiswa IAIN Ponorogo. Pada bab ini peneliti akan membahas dan menganalisis data terkait ulasan hukum islam transaksi shopee paylater yang dilakukan oleh mahasiswa IAIN Ponorogo. Pengertian perjanjian dalam hukum kontrak mengandung pengertian suatu perbuatan hukum yang berdasarkan suatu perjanjian sehingga menimbulkan akibat hukum 2 Akibat hukum tersebut terjadi karena suatu perjanjian yang dibuat secara sah, sehingga berlaku sebagai hukum bagi yang membuatnya. .

Jual beli dalam bahasa Arab berasal dari kata (ﻊﯿﺒﻟ) yang berarti menjual, mengganti dan menukarkan (sesuatu dengan sesuatu yang lain). Kata (ﻊﯿﺒﻟ) dalam bahasa Arab kadang mempunyai arti sebaliknya yaitu kata ءاﺮﺸﻟا, sehingga kata (ﻊﯿﺒﻟ) berarti kata menjual dan sekaligus ا berarti kata “beli”.3. Pengertian jual beli menurut fuqaha yang dikutip Abu Al-Rahman adalah menukarkan sesuatu dengan suatu harga.

هيِف َنِم

Ulama Hanafiah menjelaskan jual beli adalah menukarkan suatu benda dengan dua mata uang yaitu emas, perak dan sejenisnya. Ulama Hanafiyah mengemukakan definisi khusus bahwa jual beli itu harus melalui ijab (pernyataan membeli dari pembeli) dan qabul (pernyataan jual beli dari penjual), atau bisa juga melalui pemberian barang dan harga satu sama lain dari penjual dan pembeli. Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa jual beli pada umumnya adalah suatu perjanjian pertukaran barang atau benda yang mempunyai nilai yang dapat diterima bersama antara kedua belah pihak.

Pihak yang satu menerima benda tersebut dan pihak yang lain menerima uang sebagai imbalan atas benda tersebut, dan ditukarkan dengan instrumen yang dapat dipertukarkan yang dapat dipertanggungjawabkan menurut pengaturan dan syarat-syarat yang ditegaskan dan disepakati oleh syariat. Islam menekankan keabsahan dan keabsahan jual beli secara umum, serta menolak dan mengharamkan konsep riba.7.

سَمْلا َكِلٓذ

نِٰمهِٰبَّر

داَع َكِٕىۤ

لوُاَف ُبٓحْصَا

لَْواوُتْؤُ ت

تَّلا َلَع َج

مَا ْمُكَلاَو

نِا َٰٓللّا

Manakala menurut jumhur ulama, rukun jual beli terdiri daripada Sîghat al-aqd (îjȃb dan qȃbul), aqid (penjual dan pembeli), ma’qûd alaih (objek akad) dan maudhu ‘al’aqd. Namun, menurut mazhab Hanafi, baligh bukanlah syarat sah jual beli, selagi kanak-kanak itu sudah cukup umur, tidak membahayakan dirinya atau orang lain serta mendapat izin walinya. Dalam perjanjian jual beli, tujuan utama adalah untuk memindahkan barang daripada penjual kepada pembeli.

Dari berbagai rukun dan syarat-syarat tersebut di atas, baik dilihat dari pihak yang melaksanakan akad (ȃqidain) maupun barang yang dijadikan obyek akad, harus dipenuhi agar transaksi jual beli tersebut dianggap sah. hukum Islam. Jual beli kredit (bai' at-taqsi>th) secara bahasa berarti membagi dan memisahkan sesuatu menjadi beberapa bagian tersendiri. Sedangkan dari segi bai' taqsi>th adalah transaksi pembelian dan penjualan dengan sistem pembayaran angsuran (kredit) dalam batas waktu tertentu dengan harga yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan harga yang menggunakan sistem pembayaran tunai. menjual secara kredit adalah seorang pedagang menjual suatu barang yang jika dibayar tunai harganya segitu, dan jika dicicil harganya segitu, yaitu lebih tinggi dari harga tunainya.19.

Karena selain tidak melibatkan barang riba, penambahan harga dalam hal ini lebih merupakan bentuk toleransi untuk memberikan keleluasaan dalam bertransaksi. 21 Terdapat perbedaan mendasar antara jual beli secara kredit dan bunga. 22. Sedangkan dalam jual beli secara kredit, pembeli menerima barang dan penjual menerima pembayaran dalam bentuk uang. 23 Khaer, Misbakhul dan Ratna Nurhayati, Jual Beli Taqsithi (Kredit) Dalam Perspektif Hukum Ekonomi Islam, vol.

Tidak ada dalil yang mengharamkan jual beli kredit, berdasarkan aturan diatas berarti jual beli jenis ini halal.26. Menurut sejumlah ulama, sistem kredit ini masih masuk dalam ranah asas keadilan, artinya meskipun ada tambahan harga dalam sistem jual beli kredit, namun pihak tersebut tidak menerima pembayaran secara tunai dan tidak dapat membayar. kembalikan itu.itu. penjualan dilakukan secara langsung sehingga wajar untuk menutupi keterlambatan pembayaran dengan menaikkan harga.27. Kedua, kelompok yang menyatakan bahwa jual beli secara kredit tidak boleh dan haram menerapkan harga tambahan sebagai kompensasi atas keterlambatan pembayaran antara lain diungkapkan oleh Zaidiyah (salah satu aliran dalam Syiah), Ibadiyah. (dari mazhab Khawarij), Zain Al-Abidin, Ali bin Al-Husain, An-Nashir, Al Manshur Nillah, Imam Yahya, Abu Bakr Ar-Razi dan Al-Jashesh Al-Hanafi. 28.

Menurut Imam Zaid, Muhammad Abu Zahrah mengatakan bahwa ayat ini menjelaskan tentang larangan berbagai jual beli yang memerlukan pembayaran tambahan sebagai kompensasi atas keterlambatan pembayaran, karena jual beli tersebut termasuk dalam konteks riba.

لاَو ْمُك

Gambaran Aplikasi Shopee dan Fitur Shopee PayLater

Mengenai keputusan penentuan akun pengguna yang dapat menggunakan Shopee PayLater merupakan keputusan tim terkait. Hal yang membuat Anda tertarik menggunakan Shopee PayLater adalah membantu ketika ada kebutuhan mendesak untuk membeli. Shopee PayLater memudahkan pembayaran jika Anda ingin membeli sesuatu tetapi tidak mempunyai uang saat itu.

Tidak semua akun pengguna shopee memiliki fitur shopee paylater, dan hanya akun tertentu saja yang dapat mengaktifkan shopee paylater.3. Pada saat transaksi jual beli menggunakan Shopee PayLater, jangka waktu atau periode pembayaran angsuran ada pada informasi waktu pembayaran. Oleh karena itu jual beli menggunakan Shopee PayLater memenuhi syarat dan ketentuan akad jual beli kredit.

Dapat disimpulkan bahawa transaksi pembelian dan penjualan kredit menggunakan Shopee PayLater telah memenuhi beberapa tunggak.

Gambar 1.1 Tampilan Menu Shopee  2.  Klik Aktifkan Sekarang
Gambar 1.1 Tampilan Menu Shopee 2. Klik Aktifkan Sekarang

Analisis Hukum Islam Terkait Dampak Hukum Shopee PayLater oleh Mahasiswa IAIN Ponorogo

Jika dalam transaksi Shopee PayLater tidak disebutkan besaran bunga di aplikasi Shopee, hal ini dapat menimbulkan unsur penipuan (gharar). Ketidakjelasan perjanjian pembelian kredit menggunakan Shopee PayLater terlihat dari ketidakpastian harga yang diberikan kepada konsumen, yaitu besarnya bunga yang tidak disebutkan dan denda yang tidak ditunjukkan pada saat dibuatnya perjanjian. Shopee PayLater adalah sistem jual beli pulsa online yang dapat dibayar tepat waktu atau dicicil sesuai ketentuan yang digunakan oleh Shopee.

Pada penelitian kali ini akan dibahas bagaimana dampak hukum Shopee PayLater dianalisis oleh mahasiswa IAIN Ponorogo dengan menggunakan hukum Islam. Pengguna Shopee PayLater dapat melakukan transaksi meskipun uangnya tidak cukup karena proses pembayaran dapat dilakukan secara mencicil. Shopee PayLater juga memudahkan pengguna yang tidak memiliki layanan m-banking atau berada di daerah yang jauh dari ATM dan mini market karena pembayaran dapat dilakukan sebulan sekali.

Berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai sumber terungkap bahwa Shopee PayLater berpengaruh terhadap perilaku konsumen pengguna. Namun hal ini menjadi pemicu pengguna untuk tetap menggunakan Shopee PayLater karena prosesnya yang mudah dan cepat. Hal ini mendorong pengguna untuk terus membeli kebutuhan sehari-hari menggunakan metode pembayaran Shopee PayLater.

Dengan demikian, peneliti dapat menyimpulkan bahwa akibat hukum transaksi Shopee PayLater tidak sah karena syarat-syarat kontrak belum dipenuhi. Secara umum, mekanisme akad jual beli praktis menggunakan Shopee PayLater memenuhi beberapa pilar akad jual beli (bai' taqsi>th). Ketidakjelasan kontrak jual beli menggunakan Shopee PayLater terlihat dengan menawarkan harga yang tidak menentu kepada konsumen, seperti besaran bunga dan denda yang tidak disebutkan pada saat penandatanganan kontrak.

Akibat hukum dari transaksi Shopee PayLater adalah batal karena tidak dipenuhinya syarat-syarat kontrak.

Saran

Pengguna Shopee yang menggunakan fitur Shopee PayLater hendaknya menghentikan praktik Shopee PayLater dan lebih bijak dalam memenuhi kebutuhannya. Sidiq Ghofar, Teori Maqashid Syariah dalam Hukum Islam, Sultan Agung Vol XLIV, No. 118, (Juni-Agustus 2009). Harun, Pemikiran Najmudin at-Thufi tentang Konsep Maslahah Sebagai Teori Istinbath dalam Hukum Islam, Jurnal Digital Ishraqi vol.5, 1 (Januari-Juni 2009) Ḥirzillah, al-Madkhal ilā 'Ilm.

Referensi

Dokumen terkait