• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN HUKUM ACARA PERDATA TERHADAP PUTUSAN AKHIR TANPA ADA PEMERIKSAAN POKOK PERKARA (Analisis Putusan No. 446/Pdt.G/2021/PA.Srh)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "TINJAUAN HUKUM ACARA PERDATA TERHADAP PUTUSAN AKHIR TANPA ADA PEMERIKSAAN POKOK PERKARA (Analisis Putusan No. 446/Pdt.G/2021/PA.Srh)"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Bagaimana hukum acara perdata meninjau putusan akhir tanpa ada peninjauan terhadap pokok permasalahan (Analisis Putusan No. 446/Pdt.G/2021/PA.Srh).

Faedah Penelitian

Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak-pihak terkait, termasuk kepentingan negara, bangsa, masyarakat, dan pelaku hukum.

Tujuan Penelitian

Hukum acara perdata merupakan peraturan hukum yang menentukan cara penyelesaian perkara perdata melalui badan peradilan. Hukum acara perdata merupakan peraturan hukum yang menentukan cara penyelesaian perkara perdata melalui badan peradilan. Undang-undang ini diubah dengan undang-undang no. 8 Tahun 2004, namun tidak ada kaitannya dengan hukum acara perdata.

Hukum acara perdata merupakan peraturan hukum yang mengatur bagaimana hukum perdata substantif harus dipertahankan dan ditegakkan. Revisi hukum acara perdata terhadap putusan akhir tanpa adanya pemeriksaan pokok perkara berdasarkan putusan No.

Definisi Operasioanal

Keaslian Penelitian

Peninjauan Kembali Hukum Acara Perdata Terhadap Putusan Akhir Tanpa Pemeriksaan Pokok Perkara (Analisis Putusan Nomor 446/Pdt.G/2021/PA.Srh). Penulis berpendapat, belum banyak penelitian terdahulu yang mengangkat permasalahan ini. Berdasarkan literatur dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara dan perguruan tinggi lainnya, penulis tidak menemukan penelitian dengan topik yang sama dengan yang penulis teliti. Penerapan Putusan oleh Hakim Pemeriksa Perkara Menurut Hukum Acara Perdata di Indonesia “Studi Putusan Nomor: 930/K/PDT/2015).

Secara konstruktif, isi dan pembahasan kedua penelitian tersebut di atas berbeda dengan penelitian yang dilakukan penulis kali ini, yaitu mengenai pengujian hukum acara perdata setelah putusan akhir tanpa ada penyidikan terhadap pokok perkara.

Metode Penelitian

  • Jenis dan Pendekatan Penelitian
  • Sifat Penelitian
  • Sumber Data
  • Alat Pengumpul Data
  • Analisis Data

Penelitian berarti suatu proses pengumpulan data dan analisis data yang dilakukan secara sistematis untuk mencapai tujuan tertentu.9. Penelitian hukum dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: penelitian hukum normatif dan penelitian hukum empiris. Penelitian hukum normatif disebut juga penelitian hukum doktrinal, dimana hukum dikonsepkan seperti yang tertulis dalam peraturan hukum (law in books).

Dalam penelitian hukum ini penulis menggunakan metode penelitian normatif, dengan menggunakan metode penelitian normatif ini akan dilakukan penelitian kepustakaan, sehingga dapat diketahui bagaimana proses peradilan acara perdata dalam mengambil keputusan akhir tanpa ada penyidikan terhadap pokok perkara. Penelitian hukum bertujuan untuk mengetahui dan mampu menggambarkan keadaan ditinjau dari apa dan bagaimana norma hukum itu ada serta bagaimana fungsi norma hukum dalam masyarakat. Data yang dikumpulkan dapat dijadikan acuan dasar ketika melakukan analisis data dan dapat menggambarkan data yang dikumpulkan untuk memecahkan masalah penelitian.

TINJAUAN PUSTAKA

  • Pengertian Hukum Acara Perdata
  • Asas-asas Hukum Acara Perdata
  • Sumber Hukum Acara Perdata
  • Tinjauan Mengenai Putusan Akhir
    • Pengertian Putusan Akhir
    • Putusan Akhir Dalam Perkara Perdata
    • Kekuatan Putusan Pengadilan
  • Pemeriksaan Pokok Perkara

Soedikno Mertokusumo menulis bahwa hukum perdata acara adalah peraturan hukum yang mengatur cara menjamin ditaatinya hukum perdata substantif melalui perantaraan hakim atau peraturan hukum yang menentukan bagaimana menjamin terlaksananya hukum perdata substantif. Konkritnya, hukum acara perdata mengatur cara pengajuan tuntutan hak, peninjauan kembali serta penetapan dan pelaksanaan putusan. Menurut Abdul Kadir Muhammed, hukum acara perdata adalah peraturan hukum yang mengatur tentang proses penyelesaian perkara perdata melalui hakim (pengadilan) sejak diajukannya gugatan sampai dengan dilaksanakannya putusan hakim.

Sumber penetapan asas hukum KUHAP adalah Pancasila dan UUD 1945. Oleh karena itu, asas hukum yang dikembangkan dapat dianut dalam KUHAP.13. Hukum Acara Perdata merupakan bagian dari hukum perdata yang mengatur kepentingan perseorangan (bijzondere belangen).

Pada dasarnya jika kita berbicara tentang hukum acara perdata Indonesia, ternyata sampai saat ini kita masih berpedoman pada hukum acara perdata yang berasal dari peninggalan kolonial. HIR (Het Herziene Indoneisch Reglement) adalah hukum acara perdata yang berlaku di Pulau Jawa dan Madura. Hukum acara perdata dalam HIR dijelaskan dalam Pasal 115-245 BAB IX dan dalam beberapa pasal yang tersebar di antara Pasal 372-394.

23 dan BW buku IV sebagai sumber hukum acara perdata dan selebihnya tersebar di BW. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 merupakan Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang yang memuat ketentuan hukum acara perdata khusus untuk perkara kepailitan. Ketentuan KUHAP terdapat dalam Pasal 5 ayat (2) dan Pasal 36 ayat (3), selain memuat hukum acara secara umum.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 adalah Undang-Undang Perkawinan yang memuat ketentuan-ketentuan Undang-Undang Acara Perdata (Khusus) yang berkaitan dengan penyidikan, penetapan, penetapan dan penyelesaian perkara-perkara perdata yang berkaitan dengan perkawinan, pencegahan perkawinan, pembatalan perkawinan, dan perceraian. pada Pasal dan 66. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 adalah Undang-Undang Mahkamah Agung yang mulai berlaku berdasarkan perintah pada tanggal 30 Desember 1985, yang kemudian mengalami Perubahan Pertama dan Perubahan Kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, namun Hukum Acara Perdata Perbuatan yang terdapat dalam pasal tersebut tidak mengalami perubahan. Beberapa kasus hukum, khususnya dari Mahkamah Agung, merupakan sumber hukum acara perdata yang sangat penting di negara kita.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kedudukan Eksepsi Sebagai Pertimbangan Hakim Dalam

Agar gugatan yang diajukan penggugat dapat diterima oleh pengadilan maka harus mempunyai alasan yang kuat, salah satu alasan yang harus dipenuhi adalah adanya pelanggaran hak dan telah menimbulkan kerugian bagi penggugat. Apabila tuntutan yang diajukan penggugat kepada pengadilan tidak mempunyai dasar yang kuat mengenai terjadinya peristiwa itu, maka tuntutannya di persidangan akan mengakibatkan hakim yang mengadili perkara itu menyatakan tidak dikabulkan. Inilah hakikat gugatan, yang memuat fakta-fakta yang menguatkan hubungan hukum antara penggugat dengan obyek sengketa dalam satu aspek.

Banyak tuntutan hukum yang panjang namun berbelit-belit, sebaliknya tuntutan hukum tersebut tidak memenuhi syarat dan dapat mengakibatkan gugatan tersebut disebut sebagai pencemaran nama baik atau tidak jelas. Dalam prakteknya, penggugat dapat menghindari kesulitan dengan menyebutkan dua jenis tuntutan secara bersamaan dalam pernyataan tuntutannya, sedangkan hakim sendiri yang memilih jenis tuntutan mana yang dianggap tepat dalam kasus tertentu. Salah satu unsur gugatan yang bersifat hak milik adalah bahwa landasan pokok gugatan ini adalah adanya hak mutlak atas suatu harta benda. Dengan demikian, gugatan dikatakan bersifat hak milik, apabila terdapat hak mutlak atas suatu barang. harta benda yang diganggu oleh orang lain.

3 Rv, yang mensyaratkan pokok gugatan, yang meliputi: identitas para pihak, tuntutan konkrit tentang adanya hubungan hukum yang menjadi dasar dan alasan-alasan gugatan. Berdasarkan hal tersebut maka timbullah jawaban atas tuntutan yang biasa disebut eksepsi terhadap gugatan yang diajukan. Dalam perkembangannya, ternyata eksepsi tersebut tidak hanya menyangkut soal keabsahan formal saja, melainkan menyangkut pokok perkara, yang menentukan dapat dilanjutkan atau tidaknya pemeriksaan pokok perkara.

Namun keberatan atau sanggahan yang diajukan dalam bentuk eksepsi ditujukan pada hal-hal yang berkaitan dengan syarat formalitas gugatan dan tidak ditujukan atau menyinggung keberatan terhadap pokok perkara (pembelaan pokok). Pengecualian terhadap yurisdiksi absolut diajukan bersamaan dengan pengajuan jawaban setelah pembacaan pokok gugatan/permohonan dan harus diputuskan sebelum pokok perkara diputus. Exceptiono dilatoria atau dilatoria Exception yang berarti gugatan penggugat belum dapat diterima untuk pemeriksaan sengketa di pengadilan, karena masih prematur yang berarti gugatan yang diajukan masih terlalu dini.

Dalam praktiknya, hal ini tidak hanya menyangkut persoalan legalitas formil saja, namun juga dapat menyangkut subjek perkara yang menjadi penentu apakah penyidikan terhadap perkara tersebut dapat dilanjutkan atau tidak.

Tinjauan Hukum Acara Perdata Terhadap Putusan Akhir Tanpa Ada

Dalam gugatannya, penggugat tidak menyebutkan dasar hak milik atas tanah/bangunan tersebut, namun hanya menyatakan “…ahli waris meninggalkan warisan (tirkah)…”, yang tidak dapat dijadikan dasar untuk itu. -ditelepon Hak milik ahli waris atas benda yang disengketakan harus tetap dicantumkan oleh penggugat dalam gugatan (apabila tanah/bangunan itu didaftarkan) dan harus dijabarkan letak, luasnya, dan batas-batasnya (jika tanah/bangunan itu tidak didaftarkan). Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, sudah selayaknya majelis hakim menyatakan gugatan penggugat tidak dapat diterima (Niet Ontvankelijke Verklaard); Berdasarkan pertimbangan di atas, sudah selayaknya majelis hakim menyatakan gugatan penggugat tidak dapat diterima (Niet Ontvankelijke Verklaard).

Oleh karena penggugat telah menjelaskan jenis kelamin masing-masing pihak yang digugat, dengan menyatakan pada posita nomor 1 bahwa tergugat I sampai dengan VII dan penggugat adalah ahli waris, maka menurut pendapat majelis hakim alasan eksepsi tersebut di atas ditolak. . Para tergugat yang mengambil eksepsi mendalilkan bahwa gugatan tersebut tidak menarik seluruh ahli waris, yaitu orang tua masing-masing ahli waris. Penggugat dalam sidang posita nomor 3 telah menerangkan bahwa “Pewaris meninggalkan 8 (delapan) anak kandung yang selanjutnya disebut sebagai ahli waris.”

Apabila ternyata ada ahli waris, maka bagian ahli waris yang meninggal itu menjadi hak ahli warisnya. Sepanjang orang tersebut berhak dan mempunyai hak untuk menggugat, maka perbuatan hukum tersebut tidak dapat dikatakan mengandung cacat formil berupa diskualifikasi pribadi, yaitu pihak yang bertindak sebagai Penggugat adalah orang yang tidak memenuhi syarat-syarat yang harus dilakukan. dia. . Gugatan tidak dapat diterima (Dinyatakan Tidak Dapat Diterima) adalah putusan yang hakim menyatakan gugatan tidak dapat diterima, karena mengandung cacat formil.

Dalam kasus yang diteliti, alasan ditolaknya gugatan dalam perkara ini adalah adanya permohonan pencemaran nama baik secara gelap. 70 I Gusti Agung Ketut Bagus Wira Adi Putra, “Gugatan tidak dapat diterima (Niet Ontvankelijke Verklaard) dalam gugatan cerai di Pengadilan Agama Badung”, Jurnal Konstruksi Hukum, Vol. Gugatan tersebut tidak dapat diterima karena adanya faktor pencemaran nama baik yang tidak jelas dimana dalil-dalil gugatan yang diajukan penggugat kepada Majelis Hakim tidak sesuai dengan fakta-fakta yang ada atau dapat dikatakan tidak rinci dan penggugat telah lalai, lalai dan lalai. ceroboh. dalam penyusunan Posita dan Petitumnya yang diutarakan dengan jelas alasannya, alasan dan dasar hukum gugatan tidak jelas dan tidak dapat diterima.

Perbuatan itu harus dengan jelas menyatakan siapa pihak yang melakukan perbuatan itu, sehingga perbuatan itu kurang formal, sehingga perbuatan itu tidak dapat diterima karena pencemaran nama baik yang nyata-nyata.

KESIMPULAN DAN SARAN

Saran

Dalam menyusun surat klaim sebaiknya mengacu pada HIR dan RGB, serta yurisprudensi dan peraturan lainnya. Diharapkan terbentuknya peraturan mengenai kewenangan hakim untuk dapat menghentikan pemeriksaan perkara perdata di peradilan agama apabila lembaga peradilan telah menyatakan surat pengaduan dari penggugat mengandung cacat formil untuk lebih menjamin pelaksanaan Pasal 2. Ayat (4) Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman yang merupakan penegasan asas peradilan. Melalui penelitian ini, disarankan agar dalam mengajukan gugatan di Pengadilan Agama, hendaknya penggugat lebih berhati-hati dalam menyusun dan menyusun gugatannya agar tidak mempunyai cacat formil.

Referensi

Dokumen terkait