• Tidak ada hasil yang ditemukan

tinjauan yuridis pembubaran ormas di indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "tinjauan yuridis pembubaran ormas di indonesia"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hak dan kewajiban warga negara dalam kehidupan bernegara dan hak serta kewajiban seseorang dalam kehidupan. Mengenai jenis sanksi administratif, Pasal 61 Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan mengatur bahwa sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (1) terdiri atas: teguran tertulis, penghentian bantuan dan/atau sumbangan, penghentian sementara. kegiatan dan/atau pencabutan Surat Tanda Pendaftaran (SKT) atau pencabutan status badan hukum.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Kegunaan Penelitian

Sebagai sumbangsih penulis terhadap ajaran Islam khususnya mengenai tinjauan hukum pembubaran Ormas di Indonesia berdasarkan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas UU No. Sebagai klarifikasi hukum bagi masyarakat, tinjauan hukum pembubaran ormas di Indonesia didasarkan pada Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas UU No.

Penelitian Terdahulu

Yang terbaru adalah Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017, Ketentuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan Menjadi Undang-Undang.6. Penelitian terdahulu tidak terbatas dan fokus pada satu undang-undang saja, sedangkan penelitian ini fokus pada Perppu Nomor 2 Tahun 2017.

Metode Penelitian

Dasar dan kriteria pembubaran organisasi kemasyarakatan sebelumnya diatur dalam Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Dalam hal ini penulis menggunakan pendekatan normatif yang timbul dari hukum positif dan hukum Islam dengan tujuan untuk mengetahui permasalahan yang ada dengan melihat model penyelesaian permasalahan pembubaran Ormas di Indonesia berdasarkan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang sosial. organisasi Perspektif Siyasah Dusturiyah.

Sistematika Penulisan

Sumber data sekunder atau pendukung antara lain karya ilmiah berupa skripsi, artikel, jurnal, dan buku-buku yang berkaitan dengan penelitian. Data yang digunakan berupa data hukum material karena berasal dari bahan hukum dari konsep peraturan atau undang-undang yang akan dianalisis. satu.

LANDASAN TEORI

Pengertian Organisasi Kemasyarakatan

Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 pasal 1, “Organisasi kemasyarakatan adalah organisasi yang dibentuk secara sukarela oleh anggota masyarakat yang berkewarganegaraan Republik Indonesia berdasarkan kesepakatan dalam kegiatan, pekerjaan, fungsi, agama dan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk ikut serta dalam kesatuan kesatuan”. negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila Artinya, anggota masyarakat yang merupakan warga negara Republik Indonesia diberi kebebasan untuk membentuk, memilih, bergabung dalam organisasi-organisasi kemasyarakatan sesuai dengan kepentingannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berdasarkan persamaan. dalam kegiatan, profesi, fungsi, agama, dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atau bergabung dalam komunitas organisasi yang mempunyai lebih dari satu ciri dan/atau keistimewaan.

Nomenklatur Organisasi Masyarakat

Hakikat Organisasi Masyarakat

Garis waktu hanya bisa dikuasai oleh organisasi progresif yang selalu berperang dengan massa rakyat. Garis waktu hanya bisa dikuasai oleh organisasi yang selalu berperang dengan massa.

Status Hukum Organisasi Kemasyarakatan

Situasi mengenai bantuan dari pihak asing nampaknya tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penyusunan dan diundangkannya UU Ormas, karena bagaimanapun juga Ormas Indonesia yang menjadi subjek undang-undang tersebut. Istilah yang kemudian digunakan dalam Undang-Undang Ormas di Indonesia yaitu Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 adalah Organisasi Kemasyarakatan (UU Ormas) yang sudah mencakup seluruh konteks kemasyarakatan/perkumpulan. Undang-undang tersebut mengatur “...dasar-dasar kesepakatan dalam kegiatan, profesi, fungsi, agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa” yang mengandung arti adanya kesatuan seluruh bentuk organisasi.

Hal ini menunjukkan keabsahan Undang-Undang Ormas tentang keberadaan Ormas di Indonesia bahwa pertumbuhan Ormas harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Organisasi yang dianggap baik adalah organisasi yang diakui eksistensinya, hal ini karena organisasi tersebut memberikan kontribusi, misalnya: mengambil sumber daya manusia sehingga dapat mengurangi angka pengangguran. Tujuan suatu organisasi harus dijelaskan dengan jelas agar kegiatan yang dilakukan diarahkan pada pencapaian tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.

Mekanisme Pembubaran Organisasi Kemasyarakatan (ORMAS)

Mengenai proses pembubaran ormas yang tidak berbadan hukum, hal ini tidak jauh berbeda dengan ormas yang berbadan hukum. Pembubaran ormas mempunyai perbedaan yang cukup mendasar antara ormas yang tidak berbadan hukum dan ormas yang berbadan hukum. Hal ini memiliki perbedaan yang cukup mendasar dengan mekanisme Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan, dimana pemerintah wajib meminta imbalan kepada Mahkamah Agung pada saat pembubaran, serta bagi organisasi kemasyarakatan yang berbadan hukum melalui Badan Hukum. persidangan di pengadilan negeri.

Dalam artian dengan adanya aturan tersebut, maka pembubaran organisasi masyarakat sipil sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah. Dari filosofi tersebut timbul keraguan terhadap kewenangan yang diberikan melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan, dimana kewenangan untuk membubarkan organisasi kemasyarakatan diberikan pada penuh. kepada pemerintah. Terkait dengan proses pembubaran organisasi masyarakat sipil, diatur dalam peraturan perundang-undangan dengan memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk membubarkan organisasi masyarakat sipil.

Hirarki Undang-Undang

Seperti yang dikatakan Kelsen, “Kesatuan norma-norma ini terletak pada kenyataan bahwa penciptaan norma – yang terendah – ditentukan oleh norma lain – yang tertinggi – yang penciptaannya ditentukan oleh norma yang lebih tinggi lagi, dan bahwa kemunduran ini berakhir dengan suatu norma yang lebih tinggi, mendasar, yang menjadi alasan tertinggi bagi sahnya seluruh tatanan hukum, merupakan kesatuannya”. Tingkat tertinggi (seperti konstitusi) harus berpegang pada norma hukum yang paling mendasar (grundnorm). Menurut Kelsen, norma hukum yang paling dasar (grundnorm) tidak bersifat konkrit (abstrak).Contoh norma hukum yang paling dasar yang bersifat abstrak adalah Pancasila. Teori Hans Kelsen mengenai hierarki norma hukum diilhami oleh Adolf Merkl dengan menggunakan teori das doppelte rech stanilitz, yaitu norma hukum mempunyai dua wajah yang artinya: Norma hukum berada di atas, berasal dan bertumpu pada norma-norma di atas. itu; Dan.

Norma hukum yang kebawah, juga menjadi landasan dan sumber dari norma yang dibawahnya. Sehingga norma-norma tersebut mempunyai masa berlaku yang relatif (rechkracht), karena masa berlaku suatu norma tergantung pada norma hukum yang diatasnya, sehingga apabila norma hukum yang diatasnya dicabut atau dihapus, maka norma hukum yang ada dibawahnya. juga dicabut atau dihapus. Teori Hans Kelsen yang banyak mendapat perhatian adalah hierarki norma hukum dan rantai keabsahan yang membentuk piramida hukum (stufenteori).

Siyasah Dusturiyah

Sebab salah satu aspek isi konstitusi atau UUD adalah bidang kekuasaan negara. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) merupakan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal-hal yang bersifat mendesak. Dalam hal mendesak, Presiden berhak menetapkan peraturan pemerintah, bukan undang-undang.”

Dalam keadaan mendesak, presiden berhak mengeluarkan peraturan pemerintah, bukan undang-undang.” Singkatnya, itulah cikal bakal lahirnya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 tentang Ketentuan Peraturan Negara Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Kemasyarakatan Menjadi Undang-Undang. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 tentang Ketentuan Peraturan Negara, menggantikan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas), diundangkan pada tanggal 22 November 2017.

Hal ini terlihat dari sistematika Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 yang hanya terdiri dari dua pasal. Terkait mekanisme pembubaran ormas, lampiran Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 tentang Penetapan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Ormas memuat dua jenis sanksi, yakni sanksi administratif dan sanksi pidana.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Diterapkankah Mekanisme Pembubaran Ormas di Indonesia Berdasarkan

Kebebasan warga negara Indonesia untuk berorganisasi dan berekspresi sebenarnya diatur dalam Pasal 28 UUD 1945 yang berbunyi; Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-undang mempunyai kedudukan yang setara dengan undang-undang. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 merupakan hasil pengesahan yang dilakukan DPR dari suatu peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perppu) yang juga merupakan produk hukum yang juga diakui dalam sistem hukum dan hierarki peraturan perundang-undangan.

Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan sudah tidak memadai lagi sebagai sarana untuk mencegah penyebaran paham yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, baik dari aspek substantif terkait norma, larangan, dan sanksi, maupun dari aspek hukum yang ada. prosedur. Pemerintah menilai undang-undang ini tidak mampu menyelesaikan permasalahan organisasi kemasyarakatan yang berkembang saat ini. Berdasarkan Pasal 80A, pencabutan status badan hukum organisasi massa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80A dinyatakan bubar berdasarkan Undang-undang ini.

Tinjauan Yuridis Terhadap Pembubaran Ormas Di Indonesia Berdasarkan

Mekanisme pembubaran ormas di Indonesia berdasarkan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan, dengan menerapkan asas contrarius actus yang artinya pejabat pemerintah yang berhak mengeluarkan izin sahnya ormas di Indonesia. Indonesia, juga mempunyai kewenangan untuk mencabut atau membubarkan mereka jika ormas tersebut menerapkan larangan yang ditetapkan undang-undang. Dengan demikian, mekanisme pembubaran organisasi kemasyarakatan berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan jika dilihat dengan menggunakan wilayah al-Hisbah mempunyai fungsi dan tujuan yang sama yaitu amar ma'ruf nahi mungkar, namun yang membedakannya , adalah proses pemberian hukuman atau peringatan dalam melakukan amar ma'ruf. Oleh karena itu, dari segi fiqh Siyasah, penulis berpendapat bahwa dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan, masih perlu adanya pembatasan pemerintah dalam aturan yang membubarkan ormas untuk kepentingan seluruh organisasi kemasyarakatan.

Agar pembekuan dan pembubaran Ormas sesuai dengan prinsip supremasi hukum dan demokrasi, serta terjaminnya kebebasan berserikat di Indonesia, maka Undang-Undang No. 16 Tahun 2017 tentang Ketentuan Perppu No. 2 Tahun 2017 untuk melakukan perubahan yang lebih materiil. Kewenangan pembubaran ormas dapat diberikan kepada Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi sebagai penafsir dan penjaga UUD, yang dapat memutus penyimpangan hak kebebasan berserikat sebagaimana diatur dalam UUD 1945. Jika dalam Perppu Nomor 2 Tahun 2017 Persidangan di Mahkamah Agung tidak ada batasnya, akibatnya kasus pembubaran ormas berlarut-larut dan berlangsung bertahun-tahun.

PENUTUP

Kesimpulan

Kewenangan pemerintah membubarkan Organisasi Kemasyarakatan (ormas) dalam undang-undang Ormas yang terakhir merupakan bentuk kekuasaan dan hubungannya dengan lembaga peradilan. Dalam pembahasan Siyasah Dusturiyah konsep kekuasaan dalam suatu negara salah satunya adalah sulta qada'iyyah (kekuasaan kehakiman), yaitu lembaga negara yang menjalankan kekuasaan kehakiman/kehakiman. Kekuasaan kehakiman dalam Islam (Sultah kada’iyyah) terbagi menjadi tiga lembaga atau institusi, meliputi wilayah al-Qada, yaitu lembaga peradilan untuk memutus perkara peradilan antar warga negaranya.

Saran

Mekanisme pembubaran dalam Perpp harus tetap mencantumkan proses hukum untuk menghindari kesewenang-wenangan pemerintah. Pemerintah dapat mempersingkat tahapan pembubaran ormas, seperti memberikan batas waktu bagi lembaga peradilan untuk memeriksa, mengadili, dan memutus perkara pembubaran ormas. Dengan demikian, dalam Perpp bisa saja memberi waktu 45 hari kepada MA dan Mahkamah Konstitusi untuk memeriksa perkara, sehingga ada kepastian atas perkara tersebut.

Abd al-Wahid al-Najjar, Al-Khulafa' al-Rasyidin (Dar al-Kutub al-Ilmiyat, Bairut, 2000). 1998 Hadi Sutrisno, Izobraževalna raziskovalna metodologija, (Bandung.Alfabeta, 2016) Jimly Asshiddiqie, Ustavno pravo in stebri demokracije, Sinar. Bambang Ariyanto, Juridical Review of the Dissolution of Community Organisations, Pravna fakulteta, Univerza Hang Tuah, Surabaya, Journal of Legal Perspectives, Vol.

Referensi

Dokumen terkait

Thesis Title: Dual Circularly Polarized Antennas for Full-duplex Radios Name of Thesis Supervisors : Prof Rakhesh Singh Kshetrimayum and Dr Ramesh Kumar Sonkar Thesis Submitted to