• Tidak ada hasil yang ditemukan

TOKOH ALKITAB PB PL sil 2024

N/A
N/A
Novelyn

Academic year: 2025

Membagikan "TOKOH ALKITAB PB PL sil 2024"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

CHARLOTTE DIGGES "LOTTIE" MOON

Charlotte Digges Moon atau yang lebih dikenal sebagai "Lottie Moon” lahir pada 12 Desember 1840 di Albermarle County, Virginia. Ia lahir dari keluarga pemilik tanah yang kaya raya dan dari orang tua yang memiliki iman Baptis yang kuat. Meskipun demikian, Lottie terkenal nakal disekolahan (tidak pergi beribadah, melewatkan 26 chapel pada 2 semester terakhir). Lottie bertobat pada tahun 1858 ketika John Broadus pendeta sekaligus kepala sekolahnya berkhotbah dan mengajak jemaat untuk berdoa bagi mereka yang terhilang. Saat itu teman-temannya dan keluarganya berdoa bagi Lottie Moon.

Setelah kebaktian itu, Lottie Moon tidak bisa tidur nyenyak dan mempertanyakan kehidupan setelah kematian. Maka akhirnya Lottie pergi untuk mengikuti ibadah dan setelah ibadah itu dia pergi ke kamarnya menangis dan berdoa menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat dan memberikan diri dibaptis. Meskipun Lottie terkenal sebagai anak yang pendek karena ukuran badannya yang berkisar 4 kaki 3 inches (1.30m), Lottie juga terkenal sangat pintar dalam literatur dan bahasa asing (Latin, Yunani, Perancis, Italia, dan Spanyol. Dia juga fasih dalam membaca bahasa Ibrani. Kemudian, dia menjadi ahli dalam bahasa mandarin). Sehingga pada 1861 Lottie menerima gelar Master of Arts yang petama yang diberikan kepada seorang wanita oleh lembaga di Amerika Selatan dan John Broadus menganugerahkan Lottie sebagai wanita paling berpendidikan di Amerika Selatan.

Setelah lulus sekolah dia menjadi guru di Georgia dan pindah ke Kentucky dan pindah lagi ke Georgia untuk mengajar, namun tidak berlangsung lama karena ia mendengar ibunya sakit dan ia harus pulang dan mengurus ibunya. 1872 Edmonia (Kakaknya) melayani sebagai seorang misionaris di Dengzhou, Shandong, China. Namun karena kakaknya tidak bisa beradaptasi dengan baik, ditambah lagi dengan kondisi fisik yang lemah maka kakaknya dipulangkan, dan Lottie Moon resmi ditunjuk sebagai misionaris ke Cina Utara pada 7 Juli 1873 oleh Dewan Misi Luar Negeri Amerika Selatan. Lottie mengambil alih sekolah di tempat kakaknya mengajar. Lottie Moon berhenti mengajar dan mulai melakukan pekabaran Injil.

Lottie berpendapat bahwa untuk menginjili wanita diperlukan misionaris wanita. Sehingga Lottie melakukan kampanye persamaan suara dalam misi (Pria dan Wanita boleh menjadi misionaris dan jumlahnya tidak boleh dibatasi). Lottie mendorong wanita Baptis Selatan untuk membantu mendukung calon misionaris tambahan dan menulis jurnal tentang persembahan natal untuk misi. “Persembahan Natal untuk misi" pertama dilakukan pada tahun 1888 dan mengumpulkan lebih dari $3.315, cukup untuk mengirim tiga misionaris baru ke China.

Meskipun Lottie lahir dari keluarga yang kaya raya, Lottie tidak lepas dari kesengsaraan, perang dan kelaparan selama pekerjaan misinya di Cina. Di Cina anak-anak menyebut Lottie sebagai Cookies Lady karena Lottie suka membagikan biskuit kepada anak-anak yang dilayaninya. Untuk bisa menghindari kelaparan, Lottie menggunakan uang pribadi untuk dibagibagikan kepada orang lain, karena saat itu Badan Misi memiliki banyak hutang sehingga memotong gaji misionaris.

Kisah cintanya juga berakhir menyedihkan, Lottie bertunangan dengan Crawford Howell Toy dan pernikahan yang direncanakan pada musim semi gagal karena isu kepercayaan (Toy mendukung teori Charles Darwin mengenai Evolusi Manusia). Kelaparan di Cina sangat mempengaruhi kondisi fisik dan mentalnya. Pada 1912 berat badannya hanya berkisar 50 pound (22,68 Kg) sehingga ia harus segera dikirim pulang ke Amerika. Pada 24 Desember 1912, ia meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju Amerika (di pelabuhan Kobe, Jepang).

(2)

DAVID LIVINGSTONE

David Livingstone adalah seorang misionaris yang dilahirkan pada 19 Maret 1813 di kota Blantyre, Lanarkshire, Skotlandia.

David kecil adalah anak kedua dari tujuh bersaudara pasangan Neil Livingstone, seorang guru Sekolah Minggu dan istrinya, Agnes Hunter. Terlahir pada masa revolusi industri di Inggris, memaksa David Livingstone bekerja di sebuah pemintalan kapas selama empat belas jam sehari dengan gaji hanya lima shilling per minggu. Jam kerja yang menyita sebagian besar waktunya membuatnya terpaksa bersekolah pada malam hari di Blantyre Village School. Keluarga Livingstone bukanlah sebuah keluarga yang mengedepankan pendidikan. Ia harus menabung sedikit demi sedikit sebelum akhirnya melanjutkan studi ke Anderson`s College di Glasgow pada tahun 1836 dan memperdalam pengetahuannya dalam bidang kedokteran dan penginjilan. Dulu David bercita-cita menjadi seorang dokter di Tiongkok Cina, karena mendapat informasi kurangnya tenaga medis di sana. Pada musim gugur 1838, David Livingstone diterima di London Missionary Society (LMS). David sangat berharap LMS akan mengirimnya ke Tiongkok sebagai tenaga medis.

Sayangnya, perang candu pertama yang pecah di bulan September 1839, tidak memungkinkan David Livingstone melakukan pelayanan ke Tiongkok. Akhirnya, Livingstone untuk sementara menetap di Inggris sambil melanjutkan studinya.

Perkenalannya dengan Robert Moffat pada tahun 1840 membuat hatinya tergugah untuk pelayanan ke Afrika Selatan – dan ia menerima tawaran LMS untuk pergi ke sana. Sebagai salah satu media penginjilan, David Livingstone mempelajari bahasa daerah setempat, kala itu ia tinggal di Lepelole. David menyadari bahwa setiap kali dia selesai berkhotbah, banyak orang- orangnya yang dibunuh, ditangkap, atau diusir. Sebagai jalan keluar, akhirnya pada tahun 1844, David memutuskan untuk pergi ke arah utara, menuju Mabotsa. Di Mabotsa ketika ia sedang memberitakan Injil, ia diserang oleh singa hingga membuat tangan sebelah kirinya tidak dapat digunakan lagi.

Tak berhenti sampai di situ, David berpindah dari satu tempat ke tempat lain banyak tantangan yang dihadapinya, salah satunya adalah masalah bahasa, karena bahasa di Afrika tidak mengenal kata kasih dalam konsep Allah maupun kata dosa.

Karena perjalanannya yang panjang dan sering berpindah-pindah tempat, peta yang awalnya hanya terisi daerah Kuruman hingga Timbuktu kini telah terisi daerah-daerah secara terperinci dan lengkap. Namun lambat laun hubungannya dengan yayasan LMS menjadi tidak baik sehingga David menerima bantuan dari pemerintah Inggris untuk melakukan perjalanan yang kedua ke Afrika Timur dan Tengah untuk kepentingan pemerintah Inggris, namun perjalanan ini tidak berjalan seperti yang mereka inginkan dan pemerintah Inggris sudah tidak tertarik lagi untuk membiayai perjalanannya ke Afrika.

Karena pantang menyerah David mencari dana sendiri untuk kembali lagi ke Afrika, namun perjalanannya kali ini gagal juga. Surat, buku, dan jurnaljurnal milik David Livingstone yang terkenal diterbitkan pada tahun 1857 menceritakan pengalamannya dalam mengajarkan bahwa Allah itu kasih kepada bangsa kanibal di Afrika. David Livingstone meninggal dunia di Chitambo pada 1 Mei 1873 karena menderita penyakit malaria dan pendarahan internal yang disebabkan oleh disentri. David Livingstone menghembuskan napas terakhirnya sambil berlutut di samping tempat tidur dalam posisi berdoa. Semua keberanian, kerja keras dan kekuatan David Livingstone hanya karena percaya kepada janji Tuhan yang tertulis pada Matius 28:20, yaitu tidak peduli seberapa menderitanya ia, seberapa sulitnya kehidupan yang ia jalani, seberapa kesepiannya ia di negeri yang jauh, ia tahu pasti bahwa Tuhan menyertainya. Semboyan hidupnya yang menjadi nasihat bagi anak sekolah di Skotlandia adalah "Takutlah akan Tuhan, dan bekerjalah dengan keras."

(Sumber: https://www.wholesomewords.org/missions/ bliving4.html)

(3)

ELIZABETH "BETTY" GREENE

Meskipun Betty Greene tidak menganggap dirinya sebagai pendiri Mission Aviation Fellowship (MAF), namun pada kenyataannya dialah yang bekerja paling banyak pada tahun-tahun pertama pengajuan konsep organisasi misi penerbangan (mission aviation) sebagai sebuah pelayanan misi khusus. Lebih jauh lagi, dia adalah staf pekerja full time pertama dan pilot pertama yang terbang pada saat organisasi itu baru terbentuk. Meskipun dia seorang wanita, pengalaman dan keahliannya sebagai pilot tidak diragukan lagi. Betty bekerja di Air Force selama bulan-bulan pertama PD II, menerbangkan misi-misi radar.

Terakhir dia ditugaskan untuk mengembangkan beberapa proyek termasuk menerbangkan pesawat-pesawat pengebom B-17.

Namun, pelayanan di dunia militer bukanlah pilihan karier Betty.

Oleh karena itu, sebelum PD II berakhir dia telah meninggalkan dunia militer dan memulai pelayanan seumur hidupnya sebagai seorang pilot misionaris. Betty tertarik di dunia penerbangan sejak usianya yang ke-16 dan mengikuti pelajaran penerbangan. Saat masih kuliah di Universitas Washington, Betty mendaftarkan diri untuk mengikuti program pelatihan pilot pemerintah sipil. Program ini mempersiapkan dirinya untuk mencapai mimpinya menjadi seorang pilot misionaris. Dia bergabung dalam Women's Air Force Service Pilots (WASP). Motivasi utamanya adalah mencari pengalaman yang nantinya akan membantu dirinya dalam melakukan pelayanan misi.

Pada waktu luangnya, Betty menyempatkan diri untuk menulis sebuah artikel tentang pentingnya misi penerbangan, sekaligus rencana-rencananya untuk mewujudkan impiannya. Tulisannya itu diterbitkan oleh InterVarsity HIS Magazine. Tulisan tersebut mendapat perhatian dari Jim Truxton, pilot angkatan laut yang tertarik dengan misi penerbangan. Jim menghubungi Betty dan memintanya untuk bergabung dengan mendirikan organisasi misi penerbangan. Tahun 1945, sesaat setelah MAF didirikan, permintaan penting datang dari Wycliffe Bible Translators (WBT) untuk menolong pelayanan mereka di Mexico.

Kemudian Betty diminta oleh Cameron Townsend (pendiri WBT), untuk menolong pelayanannya di Peru untuk menerbangkan para misionaris dan persediaan ke daerah pedalaman. Betty mengabdikan dirinya kepada para misionaris di Ethiopia, Sudan, Uganda, Kenya, dan Kongo. Pada tahun 1960, Betty menjalani tugas penerbangannya yang terakhir, yaitu ke Irian Jaya.

Tugas tersebut tidak hanya berbahaya, tetapi juga sulit karena hutannya yang berliku-liku dan mengerikan. Untuk menerima bantuan dari misi penerbangan, setiap pos misi harus membangun sendiri tempat tinggal landas pesawat. Sebelum pendaratan dilakukan, seorang pilot yang berpengalaman harus terlebih dulu terbang melintasi wilayah tersebut untuk memastikan keadaannya. Karena sebagian besar tugas Betty adalah di udara, dia segera menyadari bahwa dia tidak dapat mengimbangi teman sekerjanya, Leona St. John, atau delapan orang suku Moni yang membawakan barang-barangnya saat menyusuri hutan di wilayah Irian Jaya. Betty mengatakan bahwa dia tidak tahu seberapa beratnya perjalanan tersebut.

Tapi semua ketakutan dan kelelahan yang dialami dalam menempuh perjalanan itu akhirnya terobati saat Betty, Leona, dan para pembawa barangnya tiba di desa tujuan mereka. Sambutan yang ramah diterimanya dari penduduk setempat dan sepasang misionaris yang telah bertugas di sana. Terlebih dari itu, Betty juga menemukan tempat untuk pesawatnya mendarat.

Perayaan yang sebenarnya baru terjadi keesokan harinya saat seorang pekerja MAF mendarat dengan membawa semua persediaan yang dibutuhkan. Pelayanan Betty mendapatkan banyak penghargaan. Namun, pengalaman yang tak terlupakan sepanjanq kariernya adalah saat dia melayani di Irian Jaya selama hampir dua tahun.

(Sumber: https://biokristi.sabda.org/elizabeth_betty_greene_1)

(4)

JOHN SUNG, OBOR ALLAH DARI ASIA

Sekitar tahun 1900-an lahirlah seorang bayi laki-laki di desa Hong Chek, wilayah kota Putian (Hing-hwa), provinsi Fukien (Fujian), RRC. Bayi tersebut kemudian diberi nama Sung Siong Geh. Bayi Sung tumbuh besar dalam keluarga miskin. Ibunya seorang buruh tani dan ayahnya seorang pendeta. Sung adalah seorang anak yang rajin dan sangat cerdas. Prestasinya di sekolah banyak sekali. Semenjak kecil Sung sudah hafal kitab Mazmur, Amsal, dan kitab-kitab Injil. Ia gemar menulis karangan yang isinya menentang penjajah Jepang. Sung suka membantu ayahnya melayani kebaktian di desadesa lain. Bahkan, bila ayahnya sakit, Sung yang berusia 12 tahun sudah mampu menggantikan tugasnya menyampaikan Firman Tuhan.

Saat ia berusia 18 tahun, Sung memperoleh beasiswa untuk belajar di Amerika Serikat, tepatnya di Wesleyan University, Ohio. Untuk membiayai hidupnya Sung, yang kemudian lebih dikenal sebagai John Sung, bekerja sebagai pembersih sampah dan mesin pabrik. Meskipun ia sibuk bekerja, John Sung tetap giat belajar, sehingga ia lulus sebagai mahasiswa terbaik. Saking istimewanya, berbagai surat kabar di Amerika dan Eropa memberitakan prestasi John Sung tersebut. Setelah lulus kuliah, John Sung melanjutkan studinya di Ohio State University. Di sana ia berhasil memperoleh gelar Master of Science hanya dalam waktu sembilan bulan. Padahal, John Sung belajar sambil sibuk bekerja sebagai pemotong rumput di jalan dan aktif dalam gerakan mahasiswa menentang perlakuan tidak adil dalam masyarakat. John Sung kemudian meneruskan studinya ke jenjang pendidikan doktoral. Setelah belajar mandiri selama satu bulan persyaratan masuk berupa tes bahasa Perancis dan Jerman sukses dilaluinya. Selanjutnya, John Sung hanya membutuhkan waktu tiga semester untuk lulus dengan gemilang dan menjadi doktor ilmu kimia.

Banyak surat kabar di Amerika dan Eropa mencatat kehebatan prestasi John Sung. Ia pun kebanjiran tawaran pekerjaan dengan penghasilan yang sangat besar dari banyak perusahaan maupun pemerintah. Namun, John Sung menolak semuanya.

Ia kemudian memilih menjadi penginjil – memberitakan Kabar Baik tentang Yesus Kristus. Di luar kecerdasan dan prestasi belajarnya yang luar biasa, John Sung sesungguhnya adalah manusia biasa sama seperti kita. Ia pun memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan.

Namun Tuhan menghargai keputusan John Sung untuk melayani-Nya dan memberitakan Injil-Nya. Tuhan memakai John Sung untuk mengabarkan Injil Yesus Kristus di Asia. Sejak tahun 1953 John Sung bepergian ke Filipina, Singapura, Thailand, bahkan Indonesia untuk memberitahu banyak orang tentang anugerah keselamatan dari Tuhan yang hanya dapat diterima melalui Yesus Kristus. Di Indonesia, John Sung beberapa kali mengunjungi kota Surabaya, Madiun, Solo, Magelang, Purworejo, Yogyakarta, Cirebon, Bandung, Bogor, Jakarta, Makasar, Ambon, dan Medan.

Semangat dan kesungguhan John Sung tersebut mendorong orang-orang untuk menjulukinya Obor Allah dari Asia. Seperti John Sung, Tuhan memerintahkan kita untuk mengabarkan Injil Yesus Kristus. Seperti John Sung yang sejak remaja telah sangat bersemangat memberitakan Injil kepada orang-orang di kampungnya, bahkan sampai ke tempat yang jauh dari negerinya, termasuk Indonesia, kiranya generasi muda Baptis juga senantiasa siap menceritakan kasih Allah di dalam Tuhan Yesus kepada orang-orang di manapun juga.

(Sumber: Andar Ismail, Selamat Berkembang: 33 Renungan tentang Spiritualitas, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003)

(5)

INGWER LUDWIG NOMMENSEN, SANG “RASUL” BATAK

Enam Februari ratusan tahun yang lalu, lahirlah seorang anak yang kita kenal bernama Ingwer Ludwig Nommensen di Nortdstrand, perbatasan Denmark – Jerman. Meskipun dia mendapat julukan Rasul Batak bukan berarti bahwa ia adalah keturunan suku Batak dari Indonesia. Lalu mengapa Nommensen mendapat julukan tersebut? Nommensen adalah seorang tokoh pengabar Injil berkebangsaan Jerman yang terkenal di Indonesia.

Hasil dari pekerjaannya adalah berdirinya sebuah gereja terbesar di wilayah suku Batak Toba dengan nama gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Nommensen melakukan pelayanan serta penginjilan untuk orang- orang Batak selama kurang lebih 57 tahun.

Lalu bagaimana Nommensen bisa menjadi seorang pengabar Injil? Ternyata Nommensen lahir bukan dari keluarga yang kaya raya. Sejak kecil ia sudah hidup di dalam kemiskinan dan penderitaan sehingga harus mencari nafkah untuk membantu orang tuanya. Pada umur 8 tahun, ia mencari nafkah dengan menggembalakan domba milik orang lain pada musim panas, dan pada musim dingin ia bersekolah. Pada umur 10 tahun ia menjadi buruh tani. Tahun 1846 Nommensen mengalami kecelakaan yang serius. Pada waktu ia bermain kejar-kejaran dengan temannya, tiba-tiba ia ditabrak oleh kereta berkuda. Kereta kuda itu menggilas kakinya hingga patah, sehingga terpaksa ia hanya bisa berbaring saja di tempat tidur selama berbulan-bulan. Teman-temannya biasa datang untuk menceritakan pelajaran dan cerita-cerita yang disampaikan guru di sekolah. Cerita-cerita itu adalah tentang pengalaman pendeta-pendeta yang pergi memberitakan Injil kepada banyak orang, dan Nommensen sangat tertarik mendengar cerita-cerita itu. Namun lukanya makin parah sehingga ia sama sekali tidak bisa berjalan. Suatu hari ia membaca Yohanes 16:23-26, yaitu tentang kata-kata Tuhan Yesus bahwa “siapa yang meminta kepada Bapa di Surga, maka Bapa akan mengabulkannya.” Ia mengajak ibunya untuk berdoa bersama-sama dan meminta kesembuhan dengan berjanji jikalau ia sembuh, maka ia akan pergi memberitakan Injil.

Dibesarkan di bawah budaya barat, Nommensen berani menetapkan pilihan untuk mendatangi dunia lain yang sama sekali berbeda, jauh dan penuh misteri — Tanah Batak. Perbedaan budaya, bahasa dan agama tidak menyurutkan niatnya untuk memulai “pengabdian” di tengah perlawanan dan ancaman suku Batak yang belum terbiasa menerima kehadiran “orang dari luar negeri”. Nommensen memberitakan Injil di tanah Batak dengan berbagai macam cara. Ia menerjemahkan Alkitab Perjanjian Baru (PB) ke dalam bahasa Toba dan menerbitkan cerita-cerita Batak. Ia juga menggunakan kemampuannya dalam bidang pertanian dan berusaha untuk memperbaiki pertanian, peternakan di sekitar tempat pelayanannya, serta membuka sekolah-sekolah dan balai- balai pengobatan.

Ada begitu banyak cara untuk memulai pekabaran Injil, dan kita sebagai orang-orang Kristen pasti memiliki paling tidak satu talenta atau kemampuan yang dapat digunakan dalam guna pekabaran Injil. Mari kita miliki keberanian memberitakan Injil seperti yang dilakukan Nommensen, selama tubuh kita masih sehat dan kuat.

(Sumber: F.D. Wellem. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993)

(6)

Billy Graham dan Cliff Barrows

Billy Graham adalah seorang penginjil di Amerika yang lahir pada 7 November 1918, sejak masih muda ia sudah berkeliling ke banyak tempat untuk menceritakan Yesus Kristus. Pada tahun 1950 Billy mendirikan Billy Graham Evangelistic Association (BGEA) untuk melayani dan memberitakan Injil kepada orang banyak. Pada tahun 1945 Billy bertemu dengan musisi gereja yang berbakat bernama Cliff Barrows, keduanya memiliki keinginan yang sama yaitu untuk melayani Tuhan dan memberitakan Injil kepada orang-orang di seluruh dunia.

Billy dan Cliff mulai bekerja bersama dalam pelayanan dan pemberitaan Injil. Cliff menjadi pengarah musik dalam acara-acara pemberitaan Injil Billy, melalui music Cliff menciptakan suasana yang mendukung bagi pesan Injil yang disampaikan.

Tidak hanya sekadar rekan kerja, Billy dan Cliff menjadi sahabat yang tak terpisahkan, saling mendukung, mendoakan satu sama lain, dan berbagi sukacita serta kesedihan dalam perjalanan pelayanan mereka. Bahkan mereka juga mengajak orang lain untuk melayani bersama, salah satunya George Beverly Shea Cliff dan Billy telah bersama selama lebih dari 60 tahun, mereka berkeliling ke desa-desa dan kota-kota untuk memberitakan Injil bersama-sama.

Sudah berjuta-juta orang mendengar berita Injil melalui pelayanan Cliff dan Billy, ada yang mendengar melalui Kebaktian Kebangunan Rohani, radio, televisi, film, internet, dll. Meskipun kadang berbeda pendapat mereka tidak pernah bertengkar, Cliff meninggal tahun 2016 dan Billy di tahun 2017. Saat ini Cliff dan Billy sedang memuji Tuhan bersama-sama di Surga. Apakah kamu dan sahabatmu mau bersama-sama melayani dan memberitakan Injil kepada orang lain seperti Billy dan Cliff?

Sumber : https://cliffbarrowsmemorial.org/biography/? https://biokristi.sabda.org/billy_graham_0

(7)

Joseph Medicott Scriven

Apakah kamu pernah ditinggalkan oleh keluargamu, sahabatmu atau orang yang sangat dekat denganmu? Bagaimana perasaanmu saat ditinggalkan? Kebanyakan orang tentu merasa sedih saat ditinggal pergi orang dekat seperti keluarga dan sahabat. Terlebih jika orang tersebut meninggalkan selamanya. Dia meninggalkan dunia ini, sehingga tidak dapat bertemu kembali. Begitu juga yang dirasakan oleh Joseph Medicott Scriven. Joseph M. Scriven lahir di Irlandia pada tahun 1819. Dia berasal dari keluarga yang dipandang baik dan terhormat serta dia mendapat pendidikan yang baik. Pada tahun 1842, setelah ia menyelesaikan pendidikannya di bangku kuliah, ia hendak melangsungkan pernikahannya dengan seseorang yang ia kasihi, seorang gadis Irlandia yang cantik. Dia bahkan sudah membayangkan bahwa masa depannya akan sangat bahagia dan indah.

Akan tetapi rupanya Tuhan punya kehendak lain. Sehari sebelum hari pernikahan mereka, gadis tunangan Scriven mengalami kecelakaan dan meninggal dunia karena tenggelam. Menurutmu bagaimana perasaan Scriven? Dia tentunya merasa sangat sedih. Di saat yang bersamaan pada waktu itu dia juga mulai menghadapi masalah dengan keluarganya.

Akhirnya pada tahun 1844, dia dengan perasaan sedih pindah ke Kanada. Saat di Kanada, ia menjadi guru untuk beberapa saat.

Awalnya menjadi guru di sekolah kemudian menjadi guru khusus untuk anak-anak dalam sebuah keluarga yang kaya. Beberapa waktu kemudian, Scriven bertunangan dengan seorang anak dari keluarga kaya tempat dia mengajar. Tetapi sekali lagi, Tuhan punya kehendak lain. Gadis yang ia kasihi jatuh sakit. Tidak lama sebelum pernikahan mereka, gadis itu meninggal dunia.

Scriven kembali kehilangan orang yang ia kasihi.

Dalam kesedihannya, Scriven pergi ke tempat yang jauh dari keramaian. Ia tinggal seorang diri di sebuah pondok di tepi danau. Dia hidup dengan sederhana bahkan uang dan tenaganya ia pergunakan untuk menolong orang-orang miskin dan yatim piatu. Dia bekerja sebagai tukang kayu secara sukarela bagi para janda yang kekurangan. Dia bahkan memberikan pakaiannya sendiri kepada orang-orang yang membutuhkan. Sepuluh tahun setelah Scriven pindah ke Kanada, ibunya di Irlandia sakit parah dan sangat sedih. Scriven yang tidak sempat untuk mengarungi samudra dan pulang ke negeri asalnya akhirnya punya cara untuk menghibur ibunya. Dalam kamarnya, dia menuliskan sebuah syair tentang Yesus: Yesus kawan yang sejati bagi orang yang lemah. Scriven dapat memahami kesedihan ibunya sebab ia sendiri pun pernah mengalami kesedihan yang mendalam ketika harus ditinggalkan oleh orang-orang yang ia kasihi.

Berhari-hari dia menulis syair itu hingga akhirnya lahirlah syair lagu yang kini dikenal dan mungkin pernah kamu dengar, yaitu “Yesus Kawan Yang Sejati” (Nyanyian Pujian 287). Melalui syair “Yesus Kawan Yang Sejati'' Scriven mengajak ibunya untuk menghadapi kesedihan dengan cara berbagi perasaan itu kepada Tuhan dalam doa. Syair itu berkata bahwa Tuhan Yesus adalah seorang sahabat yang dekat dan akrab yang selalu mempunyai waktu untuk mendengarkan seluruh isi hati para murid-Nya. Yesus adalah sahabat sejati yang tidak ada tandingannya. Saat ditinggalkan seseorang dan hati sedih, Yesus justru mendekati. Berjuta-juta orang di dunia hingga hari ini masih menyanyikan “Yesus Kawan yang Sejati”. Lagu penghiburan yang ditulis oleh Scriven, orang yang mengalami kesedihan namun percaya bahwa tidak ada sahabat yang lebih baik dan setia daripada Tuhan Yesus.

Tuhan Yesus adalah sahabat terbaik, bahkan terhebat. Seperti yang dikatakan oleh Scriven dalam syair lagunya bahwa Yesus adalah sahabat yang selalu dekat dan mengerti isi hati. Dia selalu bersama dengan orang percaya, mendengarkan dan mengetahui setiap cerita senang maupun sedih. Bahkan Dia juga rela memberikan nyawa-Nya untuk sahabat-sahabatnya.

Yesus rela mengorbankan diri-Nya, memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi umat manusia. Dia telah menjadi contoh dalam mengasihi sahabat. Kamu juga dapat menjadi sahabat yang baik seperti Yesus. Maukah kamu menjadi sahabat yang baik bagi sahabat-sahabatmu?

Sumber: https://www.alkitab.or.id/layanan/berita-detail/lagu-penghiburan-karanganorang-sedih

(8)

MARTIN LUTHER KING, JR

Terlahir dengan nama Michael Luther King Jr, pada 15 Januari 1929 di Atlanta, Georgia, AS. Saat remaja, Luther bersekolah di sekolah menengah Booker T. Washington di Atlanta. Di sana bakat dan kemampuannya dalam berbicara dan berpidato di hadapan banyak orang mulai terlihat, hingga membuatnya masuk dalam tim debat sekolah dan memenangi sejumlah kompetisi. Pada masa itu Luther kembali mendapat pengalaman tidak menyenangkan berkenaan dengan warna kulitnya. Dalam perjalanan, dia dan gurunya diminta berdiri dari tempat duduknya agar seorang penumpang kulit putih dapat menempati kursi mereka. Pada masa itu rasisme begitu kental di Amerika, karena orang kulit hitam dicap sebagai keturunan budak dari Afrika. Semakin dewasa, ia bertekad memperjuangkan kesetaraan Hak Asasi Manusia tanpa memandang warna kulit manusia.

Ia kemudian mengikuti jejak sang ayah dan menjadi pendeta di Gereja Baptis Dexter Avenue di Montgomery, Alabama. Di tahun 1955, seorang warga Afrika Amerika, Rosa Park (42) dihukum denda 10 dollar AS karena tindakannya yang menolak menyerahkan tempat duduknya di bus untuk penumpang warga kulit putih. Luther ditunjuk sebagai pemimpin aksi boikot. Dia terpilih karena kemampuannya berbicara di hadapan publik, selain juga demi mendapat pengakuan dari komunitas kulit hitam yang baru diikutinya.

Berkat kemampuannya dalam berbicara, pidato Martin Luther King Jr. saat itu berhasil memberi kekuatan baru ke dalam upaya memperjuangkan hak sipil di Alabama. Namun, selama aksi boikot bus yang berlangsung selama lebih dari satu tahun, membuat warga keturunan Afrika Amerika di Montgomery mendapat tekanan dan intimidasi. Belum lagi harus berjalan ke tempat kerja karena menolak menggunakan bus. Karena aksi boikot itu pula, tempat tinggal Luther sempat mendapat serangan dari oknum tak dikenal. Musim semi 1963, Luther menggerakkan massa untuk berdemonstrasi damai di pusat kota Birmingham, Alabama, dan akhirnya dipenjara.

Selama dalam penjara dia menuliskan surat yang menguraikan gambaran perlawanan tanpa kekerasan terhadap rasisme.

Tulisannya kemudian disebut dengan "Surat dari Penjara Birmingham" itu membuatnya kian dikenal. Pada 28 Agustus tahun yang sama, pidato yang disampaikan Martin Luther King Jr. dalam sebuah aksi demonstrasi besar-besaran yang diikuti 200.000 orang di Lincoln Memorial di Washington menjadi momen bersejarah. Dalam pidato berjudul "I Have a Dream" atau Saya Mempunyai Mimpi, Martin Luther King Jr. mengungkapkan keyakinannya bahwa suatu saat setiap manusia di AS akan dapat saling bersaudara tanpa memperhatikan warna kulit. Pidato Martin Luther King membuat gelombang perlawanan yang mempertanyakan hukum hak sipil warga keturunan Afrika Amerika sebagai penduduk kelas dua. Pada 1964, Undang-Undang Hak Sipil 1964 diloloskan pemerintah federal. Undangundang tersebut melarang adanya diskriminasi rasial di fasilitas milik publik. Di tahun yang sama, Martin Luther King Jr. menerima penghargaan Nobel Perdamaian.

(9)

ANNE VAN DER BIJL – PENDIRI LEMBAGA MISI OPEN DOORS

Anne van der Bijl adalah misionaris pendiri lembaga misi Open Doors. Ia lahir pada 11 Mei 1928 di Sint Pancras, Belanda, sebagai anak keempat dari enam bersaudara di sebuah keluarga yang miskin. Pada tahun 1940-an, ia bergabung dengan tentara kolonial Hindia Belanda, namun ia mengalami stres yang parah ketika menjadi tentara. Anne terluka di pergelangan kaki karena pertempuran dan harus dirawat. Selama masa perawatan Anne membaca Alkitab dengan giat, hingga akhirnya ia percaya kepada Tuhan Yesus. Van der Bijl kemudian berkomitmen untuk belajar di Sekolah Misi Glasgow, Skotlandia. Pada bulan Juli 1955, Anne mengunjungi Polandia untuk melihat bagaimana keadaan jemaat gereja bawah tanah yang ada di sana. Ia berhasil memasuki Polandia dengan mendaftar sebagai turis, dan pada saat itu pemerintah sangat ketat menjaga keamanan negaranya.

Anne merasa terpanggil untuk melayani Tuhan sebagai penginjil, ia teringat akan ayat yang berkata, "Bangun, kuatkan apa yang tersisa dan akan mati" (Wahyu 3:2). Setelah Polandia, Anne pergi ke beberapa negara yang dikuasai komunis di mana Kekristenan sangat menderita dianiaya. Ketika ia berada di sebuah kamp pengungsi di Jerman Barat, Philip Whetstra memanggilnya untuk datang ke Whetstras di Amsterdam. Anne melanggar hukum negara yang ia kunjungi dengan membawa literatur agama, yaitu Alkitab.

Pergerakan komunisme saat itu menciptakan permusuhan antara agama Kristen dan agama-agama lain, kemudian Anne mengunjungi Cina pada tahun 1960-an. Anne pergi ke Cekoslowakia ketika pasukan Soviet menganiaya kebebasan beragama di sana. Dia menuntun orang Ceko untuk percaya Yesus dan memberikan Alkitab kepada pasukan pendudukan Rusia. Setelah tahun-tahun itu, ia juga melakukan kunjungan pertamanya ke Kuba setelah Revolusi Kuba. Pada tahun 1967, ia menerbitkan buku God’s Smuggler, yang ditulis bersama John dan Elizabeth Sherrill. God’s Smuggler (Penyelundup Tuhan) menceritakan kisah masa kecil Anne, lalu pertobatannya menjadi Kristen, dan petualangan sebagai penyelundup Alkitab di balik tirai besi.

Setelah jatuhnya komunisme di Eropa, ia fokus melayani daerah Timur Tengah dan giat berusaha untuk memperkuat gereja di negara muslim. Pada tahun 1970-an, ia mengunjungi Lebanon yang dilanda perang beberapa kali. Dan pada tahun 1990-an, ia kembali melakukan perjalanan beberapa kali lebih banyak ke Timur Tengah.

Dalam bukunya Light Force, ia bercerita tentang gereja-gereja di negara muslim menyatakan kegembiraan yang luar biasa ketika dikunjungi seorang rekan Kristen dari luar negeri. Karena mereka merasa bahwa gereja di dunia Barat pada umumnya mengabaikan mereka. Dan dengan cara yang sama Anne dan rekannya, Al Janssen, mengunjungi para pemimpin Hamas (organisasi perlawanan Islam di Palestina), yaitu Ahmed Yassin dan Yasser Arafat lalu membagikan mereka Alkitab. Anne van der Bijl berkali-kali mempertaruhkan nyawanya demi membagikan Alkitab ke negara-negara yang menganiaya kekristenan.

Ternyata ada begitu banyak orang di berbagai negara yang terus setia kepada Allah dan terus memberitakan Injil di tengah kesulitan. Imannya sungguh totalitas demi membagikan Injil Kristus. Akhirnya ia mendirikan organisasi Open Doors yang menyokong pemberitaan Injil di tempat-tempat yang sulit. Ia dan Open Doors adalah pendukung terhadap para utusan Injil itu.

Beranikah kamu mengambil komitmen untuk mendukung pemberitaan Injil di lingkungan sekitarmu?

(10)

NELSON BELL

Pada tahun 1916, Dr. Nelson Bell dan istrinya Virginia, orang tua Ruth Bell Graham, meninggalkan rumah dan keluarga mereka di Amerika Serikat dan berlayar ke Tiongkok—pada saat itu merupakan negeri misteri di mana hanya segelintir misionaris yang berani melakukannya. Ketika tiba di Tsing Kiang pada bulan Desember, mereka bertemu dengan tanah dan manusia yang sangat dingin. Ladang-ladangnya lembap dan kelabu, dan orang-orang Cina yang percaya takhayul memandangnya dengan rasa tidak percaya. Begitu pula dengan situasi politik di Tiongkok yang penuh ketegangan. Pada tahun 1911, Tiongkok berusaha menjadi negara demokrasi setelah berakhirnya dinasti Manchu, namun upaya tersebut mengalami kekacauan karena salah satu pemimpin mengizinkan kendali provinsi dan panglima perang diizinkan memperkosa, menjarah, dan membunuh warga. Tak lama kemudian, partai komunis terbentuk di Tiongkok dengan bantuan kaum Bolshevik.

Dr. Nelson Bell, ayah Ruth Bell Graham, adalah seorang penemu berbakat dan pemikir kreatif selain menjadi seorang ahli bedah yang terampil. Dia mengubah tempat yang tadinya suram dan sulit untuk ditinggali di sebuah desa petani di Tiongkok menjadi tempat yang terasa seperti tempat yang indah untuk tumbuh bersama Ruth. Dr. Bell percaya bahwa bekerja dan bermain keras sama pentingnya. Dengan tangannya sendiri, dia menggali kolam renang dari batu bata yang menampung lima ribu galon air. Karena suhu di wilayah Tiongkok tersebut bisa mencapai 106 derajat di musim panas, kolam renang memberikan istirahat yang menyenangkan bagi keluarga dari panasnya cuaca.

Dr. Bell juga membangun lapangan tenis tanah liat dengan alasan misi dan membuat lapangan golf dengan mengubur kaleng di halaman untuk digunakan sebagai lubang. Karena dia menciptakan lingkungan yang indah dan menyenangkan bagi keluarganya, mudah untuk melupakan ketakutan yang mungkin mereka alami ketika situasi politik di Tiongkok menjadi semakin buruk. Cara berpikir kreatif Dr. Bell tentu saja diteruskan kepada putrinya, Ruth, yang menemukan kegunaan kreatif untuk barang-barang di sekitar rumahnya, tidak pernah ingin menyia-nyiakan apa pun. Kaleng menjadi lampu, kartu dari bungkusan kaus kaki menjadi buku catatan, dan kabin yang roboh menjadi papan rumah barunya. Meskipun Dr. Bell menyadari betapa pentingnya perhatian medis bagi orang-orang Tiongkok yang datang ke rumah sakit, dia tahu bahwa jiwa mereka memiliki arti yang lebih besar. Dia percaya bahwa rumah sakit misi ada “terutama untuk pemberitaan Injil,” dan pasien yang mampu diharapkan menghadiri kebaktian kapel setiap hari. Dr. Bell percaya bahwa karunia rohani lebih penting daripada bakat lainnya.

Di bawah kaca mejanya, dia meletakkan sebuah catatan yang berisi daftar buah-buah Roh: “Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri”, dan setiap hari mencoba untuk memancarkan karuniakarunia ini di antara mereka yang dilayani.

Referensi

Dokumen terkait