Mandik Sopok Angen merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Wajageseng sebagai salah satu rangkaian acara pernikahan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi ritual mandi pranikah sopok angen diperbolehkan, karena dilihat dari cara pelaksanaannya sudah mulai sesuai dengan ajaran agama atau tidak bertentangan dengan dalil syarak. Pencuri Pengantin” namun selain “Pengantin Pencuri” juga ada tradisi “Mandik Sopok Angen” yang dilakukan di Desa Wajageseng, Kecamatan Kopang.
Upacara perkawinan adat suku Sasak yaitu Mandik Sopok Angen merupakan upacara perkawinan yang didalamnya terdapat ritual-ritual yang harus dilakukan sebelum melanjutkan proses perkawinan secara agama. Dari kepercayaan masyarakat Sasak khususnya di Desa Wajageseng, sebelum melakukan prosesi pernikahan lainnya, kedua mempelai harus dimandikan terlebih dahulu yang dikenal dengan istilah Mandik Sopok Angen. Dalam proses ini, mandi dengan sopok angen dilakukan pada malam hari ketika pengantin baru tiba setelah membalikkan punggung atau bergegas ke rumah pengantin pria.
3 Lalu Agus Rosihun, Wawancara “Tradisi Ritual Mandi Pranikah Sopok Angen Dalam Tinjauan Hukum Islam”, 3 Mei 2022 (10:00 WITA). Bagaimana pandangan tokoh agama dan tokoh masyarakat terhadap praktek tradisi ritual Mandik Sopok Angen di Desa Wajageseng Kecamatan Kopang. Peneliti hadir sebagai pengamat partisipan yaitu mewawancarai tokoh agama dan adat setempat.
Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumbernya, mulai dari informasi informan melalui wawancara atau observasi hingga penggunaan teknik dokumentasi dalam memperoleh data terkait Tradisi Ritual Pranikah Mandik Sopok Angen dalam Tinjauan Hukum Islam (Studi Kasus di Desa Wajageseng). , Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah). b) Data sekunder.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Ruang Lingkup dan Setting Penelitian
Telaah Pustaka
Kerangka Teori
Metode Penelitian
Sistematika Penulisan
PAPARAN DATA DAN TEMUAN
Gambaran Umum Desa Wajageseng, Kec. Kopang Kabupaten
PEMBAHASAN DAN ANALISIS
Analisis Terhadap peraktik Tradisi Mandik Sopok Angen di Desa
Oleh karena itu, masyarakat Desa Wajageseng melakukan kegiatan ini sebagai upaya menjaga keamanan. Melalui penelitian ini penulis akan menganalisis sebuah tradisi bernama Mandik Sopok Angen di Desa Wajageseng, Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah. Karena beragamnya tradisi yang ada di Indonesia, maka masyarakat desa Wajageseng juga memiliki tradisi dalam pernikahan yaitu Mandik Sopok Angen yang sudah ada sejak nenek moyang mereka yang masih dilestarikan hingga sekarang.
Memandikan kedua mempelai sebelum akad nikah di Desa Wajageseng memiliki maksud dan tujuan, sedangkan tujuan memandikan kedua mempelai sebelum akad nikah adalah untuk mensucikan hati calon mempelai agar tidak memikirkan orang lain lagi. namun hanya akan mencintai pasangannya, selain untuk mensucikan hati calon pengantin, ritual ini juga bertujuan untuk melindungi kedua mempelai agar tidak mudah terkena segala bentuk seher (ilmu hitam), sisi lain dari kepercayaan masyarakat Desa Wajageseng adalah dengan Mandik Sopok Angen sebuah keluarga akan bahagia dan dipenuhi keberkahan hidup baik lahir maupun batin. Dari sudut pandang masyarakat Desa Wajageseng mengenai tradisi ini harus tetap dilaksanakan karena jika tidak maka dianggap tidak mengikuti adat yang ada dan bagi yang tidak melaksanakan tradisi ini akan dikenakan sanksi sosial oleh banyak kalangan. masyarakat, karena tradisi ini masih cukup kuat di masyarakat. Dari pengamatan peneliti juga menemukan bahwa dengan perkembangan zaman yang sangat pesat ini, masyarakat sendiri perlu terus melestarikan adat-istiadat yang diwariskan oleh nenek moyangnya sebagai pengenalan identitas dan ciri khas yang melekat pada masyarakat Desa Wajageseng. namun akulturasi juga terjadi dalam budaya masyarakat melalui Ketika agama datang, banyak kegiatan adat yang disesuaikan dengan ajaran agama, meskipun ada juga tradisi yang tidak sejalan dengan ajaran agama.
Bagi masyarakat Desa Wajageseng, pelaksanaan adat merupakan hal yang wajib dilakukan karena adat sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka, oleh karena itu adat Mandik Sopok Angen juga harus dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian upacara pernikahan di Desa Wajageseng. 47 Amaq mardan, Wawancara “Tradisi Mandik Sopok Angen Pranikah Dalam Tinjauan Hukum Islam”, 25 Mei 2022 (pukul 09:00 WITA). Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan penulis, istilah dan prosesi mandik sopok angen sesuai dengan teori urf yaitu adat yang sudah berlaku sejak lama dan terus dilakukan oleh masyarakat. sehingga Mandik Sopok Angen merupakan warisan leluhur yang sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Desa Wajageseng dan diyakini masyarakat sebagai hukum yang harus dipatuhi bersama.
Dilihat dari bentuknya, Mandik Sopok Angen termasuk dalam Urf Fi'li yang berarti kebiasaan yang berlaku untuk perbuatan.51 Jika dilihat dari segi penilaian baik dan buruk, para ulama fikih membagi Urf menjadi dua jenis, yaitu Urf-Shahih dan Urf-Fasid. . Sumber tradisi yang dilakukan masyarakat desa Wajageseng berasal dari nenek moyang, bukan ajaran Islam. Meskipun tradisi Mandik Sopok Angen tidak ada dalam ajaran Islam, bukan berarti tradisi ini tidak boleh dilakukan. prinsip Ushul Fiqh.
Dilihat dari bentuk Urf di atas, Mandik Sopok Angen dapat dikategorikan sebagai adat yang sahih (urf shahih) karena mekanisme dari Mandik Sopok Angen itu sendiri. Bahan ini tidak semuanya untuk sesajen, melainkan kain putih atau kain batik untuk digunakan saat mandi sedangkan bunganya hanya perlu dicampurkan dengan air di wadah, kecuali itu semua kembali kita lihat tujuan dari Mandik Sopok Angen adalah untuk melindungi mempelai wanita. dan laki-laki terhadap Bahkan ritual hal-hal gaib ini adalah bentuk upaya untuk meminta bantuan Allah SWT melalui doa-doa yang diucapkan oleh belian (orang mereka) ketika ritual dilakukan. Selama ritual tradisi Mandik Sopok Angen tidak bertentangan dengan syariat Islam dan sesuai dengan Urf Shahih, maka masyarakat Desa Wajageseng tentunya dapat terus melakukannya.
Pandangan Tokoh Agama Terhap Peraktik Tradisi Mandik Sopok
Yang dimaksud dengan “perbuatan biasa” adalah perbuatan manusia dalam kehidupannya yang tidak berkaitan dengan kepentingan orang lain. Tradisi Mandik Sopok Angen dalam acara pernikahan warga Desa Wajageseng merupakan salah satu rangkaian yang tidak boleh ditinggalkan oleh warga Desa Wajageseng. Syarat ini hanya memperkuat syarat diterimanya adaat yang sah, karena jika adat tersebut bertentangan dengan prinsip syara' yang telah ditetapkan, maka adat fasid yang telah disepakati para ulama untuk ditolak.
Sedangkan yang disebut ma'ruf adalah yang dinilai umat Islam sebagai baik, berulang dan tidak bertentangan dengan fitrah manusia yang hakiki, serta berpedoman pada prinsip-prinsip umum ajaran Islam. Terus gunakan Urf dan itu bagian dari pemeliharaan maslah. 68 Urf mensyaratkan pemahaman non-harfiah terhadap nash. Oleh karena itu, suatu Urf yang diakui, meskipun secara harfiah bertentangan dengan nash, tetapi tidak bertentangan dengan Maqashid al-syariah, dapat menimbulkan kemaslahatan dan menghindari kemudharatan.
Berdasarkan penjelasan dari berbagai informan sebelumnya, tradisi Mandik Sopok Angen yang dilakukan oleh masyarakat Desa Wajageseng merupakan salah satu cara mereka untuk mencari perlindungan dari Allah SWT melalui doa-doa yang dipanjatkan oleh belian pada saat ritual Mandik Sopok Angen dilakukan. Ketika keterangannya menjelaskan bahwa tidak ada larangan untuk melakukan ritual bridal shower yang biasa, jika dalam pelaksanaannya tidak ada unsur yang melanggar Alquran dan hadits, misalnya jika sebelumnya bridal shower hanya menggunakan kemben, sekarang ini adalah tidak dilakukan, maka diperbolehkan saja. Berdasarkan beberapa pendapat para ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada payung hukum mengenai mandi pada pengantin pria.
Selanjutnya, dilihat dari sudut teori maslahah mursalah, ash-Syatibi mendefinisikan maslahah mursalah sebagai maslahah yang terdapat dalam perkara baru yang tidak ditunjukkan oleh dalil khusus, tetapi mengandungi kelebihan yang selaras dengan (al-munasib) dengan tindakan. syariah. Berdasarkan teori ini, dapat difahami bahawa mandi pengantin perempuan adalah tradisi masyarakat yang tidak mempunyai asas atau hujah yang sah. Menurut kepercayaan masyarakat zaman dahulu, upacara ritual mandi pengantin perempuan berkait rapat dengan kepercayaan manusia terhadap budaya yang berbeza di alam ghaib ini yang didiami oleh pelbagai makhluk dan kuasa yang tidak dapat dikawal oleh manusia dengan cara yang luar biasa sehingga mereka ditakuti orang.
Kepercayaan ini biasanya melibatkan rasa membutuhkan suatu bentuk komunikasi untuk menangkal kejahatan, untuk menangkal kemalangan seperti pengantin yang pingsan atau kejadian yang tidak diinginkan. Maka melihat teori maslahah, Mandik Sopok Angen tidak menjadi masalah jika terus diamalkan selama tidak bertentangan dengan Al-Qur'an, hadits dan ijma'. Oleh karena itu, acara Mandik Sopok Angen harus dilaksanakan dengan tetap menjaga kemesraan kedua mempelai agar tidak terjadi pertentangan antara tradisi atau adat istiadat dalam masyarakat dan agama.
Kesimpulan
Berlawanan dengan pandangan Islam, tradisi ini diperbolehkan karena dalam praktiknya tidak ada yang bertentangan dengan ajaran Islam, baik dari segi praktik maupun tujuan mandik sopok angan, tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan al-Hadits. , sehingga tradisi tersebut diperbolehkan untuk dilanjutkan .
Saran
A Djazuli, Kaidah Fikih: Kaidah Hukum Islam Dalam Menyelesaikan Masalah Praktis, Jakarta: Media Pernada, 2021. Irfan, “Tinjauan Hukum Islam terhadap Praktek Boho Oi Mbaru dalam Perkawinan Adat di Desa Raba Kecamatan Wawo Kabupaten Bima” (afhandling, FS Universitas Islam Negeri Mataram, 2019. Sirajudin, Wacana Hukum Islam Lintas Budaya, Bogor: Pt Press, 2014 Murgianto, Tradisi dan Inovasi Jakarta: Sastra wedatama widya, Muri Yusuf 2014 kvantitatif, kualitatif, dan metode penelitian.
Pranikah Sopok Angen Dalam Tinjauan Hukum Islam«, 12. maj 2022 5. G. J, Intervju »Tradisi Ritual Mandik Sopok Angen Pranikah. Gospa Intan, intervju "Tradisi Ritual Sopok Angen Mandik Pra Nikah dalam Tinjauan Hukum Islam", 28 Mei 2022.