• Tidak ada hasil yang ditemukan

TRANSGENDER DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "TRANSGENDER DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

Tesis berjudul “Transgender Dalam Perspektif Hukum Islam” yang disusun oleh Acep Jurjani dengan nomor induk mahasiswa 214610181 telah melalui proses pembimbingan yang baik dan dinilai oleh pembimbing telah memenuhi syarat keilmuan untuk diujikan pada sidang Munaqasyah. Disertasi berjudul “Transgender dalam Perspektif Hukum Islam” yang disusun oleh Acep Jurjani dengan nomor induk mahasiswa 214610181 diuji pada 20 Agustus dalam sidang Munaqasyah program pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta. Tahun 2016, PASS dinyatakan dan disahkan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Hukum (MH) bidang Hukum Ekonomi Syariah (Mu'amalah). Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayat dan ‘inayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan disertasi yang berjudul “Transgender dalam Perspektif Hukum Islam” sebagai syarat penyelesaian studi di Fakultas Hukum Islam. Program Magister Ilmu Syariah di Institut Sains Al-Qur'an a (IIQ) Jakarta.

Bapak dan Ibu dosen program pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta yang telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat bagi penulis. Berdasarkan penelitian penulis, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Transgenderisme terbagi menjadi dua dalam konteks hukum Islam.

الله اهتعضو ةعيبطو يرصم ،ةعيبط ةلأسم ةقيقلحا في هنلأ .هدض باذعلاو نعللا وأ ،رظح نكيم لا رمأ اذهو .ام صخشل

ثنخلما نع هقفلا ءاملع ينب يأرلا في فلاتخا يأ

VOKAL PENDEK

VOKAL PANJANG

DIFTONG

PEMBAURAN

Pandangan Hukum Islam Terhadap Pelaku Transgender A. Transgender Menurut Hukum Islam

Pendahuluan

Sebagai kecintaan Allah SWT kepada umat manusia, Allah SWT telah menurunkan pedoman dan aturan hidup untuk dijadikan acuan dalam mengarungi kehidupan dan kehidupan ini agar manusia dapat meraih kesuksesan, keselamatan dan kemuliaan di dunia dan akhirat. Dalam praktiknya, hukum Islam selalu memperhatikan kemaslahatan manusia dengan mengajak umatnya untuk mentaati perintahnya dan menjauhi larangannya. Hukum Islam akan mengambil tindakan tegas dan tegas terhadap pelanggar yang melanggar ketentuan dan peraturannya sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran dan Hadits.3.

Peraturan itu boleh direalisasikan dalam kehidupan sebenar sekiranya wujud kesedaran umat Islam untuk mengamalkannya iaitu melaksanakan setiap perintah dan menjauhi segala larangan yang digariskan oleh al-Quran dan hadis. Dalam pengajian hukum Islam, syariat (sebagai kata nama) berkaitan dengan istilah tasyri', yang menunjukkan proses pembuatan syariat. Jika syariah adalah peraturan dan undang-undang yang ditetapkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya, tasyri’, wadhi’i bermaksud proses penetapan peraturan hukum.

Jadi istilah tasyri' adalah ilmu tentang cara, proses, dasar dan tujuan Allah SWT menetapkan hukum-hukum atas perbuatan manusia dalam kehidupan beragama di dunia.5. 4 Ramlan Yusuf Rangkuti, Homoseksualitas dalam Perspektif Islam, dalam Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum Vol. 5 Samsul Bahri, Landasan Syariat Islam, Strategi Positivisasi Hukum Islam Melalui Fikih Mahkamah Agung, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2007), Cet.

Peraturan Allah yang dirumuskan dalam ajaran Islam sesuai dengan fitrah manusia, dengan tujuan agar fitrah manusia mempunyai fungsi dan tugas, dan tidak disia-siakan tanpa manfaat.

سمشلا ةروس7

Permasalahan

  • Identifikasi Masalah
  • Pembatasan Masalah
  • Perumusan Masalah

Dan ada juga orang yang melakukan hubungan seks ganda yaitu perempuan dan laki-laki yang belum jelas status gendernya sebenarnya. Transgender adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang bertindak, merasa, berpikir atau berpenampilan berbeda dari gender yang ditetapkan pada mereka saat lahir. 27 Ibnu Manzhur dalam kamus Lisan al Arab mengatakan: “Khuntsa adalah orang yang merasuki laki-laki dan perempuan sekaligus.”

Ibnu Manzhur juga mengatakan: “Khuntsa adalah orang yang tidak murni (sempurna) baik laki-laki maupun perempuan. Jika hukum Islam menghukum tegas pelaku homoseksual dan lesbian dengan hukuman yang telah ditentukan, bagaimana hukum Islam memandang pelaku transgender, yang juga merupakan bentuk pelecehan seksual? perilaku menyimpang secara seksual Tesis ini berupaya untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana hukum Islam memandang kaum transgender dan bentuk hukuman apa yang dijatuhkan kepada pelaku transgender.

Agar kajian dalam penelitian ini tidak terlalu luas sehingga sulit untuk memfokuskan dan menganalisanya lebih dalam, maka penulis akan membatasi penulisan skripsi ini pada perspektif hukum Islam terhadap pelanggar transgender dan sanksi hukum bagi pelaku transgender. pelaku transgender menurut hukum Islam. Dari latar belakang permasalahan tersebut, disertai dengan upaya identifikasi permasalahan tersebut di atas, maka penulis ingin membatasi diri pada permasalahan bagaimana kaum transgender ditinjau dari hukum Islam. Dalam kajian ini, hukum Islam mengacu pada hukum-hukum yang ditetapkan untuk menstrukturkan dan mengatur hubungan antara individu dan masyarakat untuk mewujudkan kemaslahatan dunia.

Dari keterbatasan permasalahan tersebut, maka dapat dirumuskan inti permasalahan penelitian ini yaitu ‘Transgender dalam perspektif hukum Islam’.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tinjauan Penelitian Terdahulu

Tokoh transgender dalam novel Taman Api dengan demikian merupakan cerminan kegelisahan pengarang terhadap keadaan masyarakat yang abu-abu. Penelitian ini jelas berbeda dengan penelitian yang akan dibahas dalam skripsi ini karena penelitian dalam skripsi ini melihat kaum transgender dari sudut pandang hukum Islam. Nur Kholis, Humanisme Hukum Islam Tentang Waria, Kajian Filsafat Hukum Islam Tentang Amalan Keagamaan Waria di Pondok Pesantren Waria Senin-Kamis Yogyakarta.

33 Sri Apriwatie, Integrasi sosial dalam novel Taman Api karya Yonathan Raharjo, (Surabaya: Universitas Muhammadiyah Surabaya, 2013), Skripsi (tidak diterbitkan). 34 Nur Kholis, Humanisme Hukum Islam Dalam Kaitannya dengan Waria Kajian Filsafat Hukum Islam Dalam Kaitannya dengan Praktik Keagamaan Waria di Pondok Pesantren Waria Senin-Kamis Yogyakarta. Oleh karena itu, sisi kemanusiaan para waria dalam beragama patut diimplementasikan sebagai pertimbangan dalam hukum Islam, yang dapat diwujudkan melalui rumusan fiqh waria (fiqh al-mukhannats), yaitu seperangkat pendapat hukum Islam (fiqh) secara khusus. bagi kaum transgender yang menjalankan agamanya berdasarkan kekhususan kondisi kehidupannya. .

Secara umum hasil penelitian ini hampir sama dengan penelitian yang akan dibahas dalam skripsi ini. Muslim Hidayat, Waria Dihadapan Tuhan: Menggali Kehidupan Beragama Waria dalam Pemahaman Diri, (Skripsi: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, 2012) 35 Penelitian ini menemukan bahwa individu dapat memahami waria sebagai takdir Tuhan bila didukung oleh ustadz yang mengatakan bahwa Waria adalah disebutkan dalam kitab suci Al-Qur'an. 35 Muslim Hidayat, Waria Dihadapan Tuhan: Mengeksplorasi Kehidupan Beragama Waria dalam Makna Diri, (Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 2012), Tesis (unpublished).

Dari penelitian-penelitian terdahulu di atas, yang membedakan tulisan penulis dengan artikel-artikel tersebut adalah penulis membahas tentang revisi hukum Islam terhadap pelaku transgender dan hukuman apa yang sebaiknya dijatuhkan kepada pelaku transgender menurut hukum Islam.

Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

  • Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Metode Analisis Data

13. Tokoh agama Islam menentang keberadaan transgender di wilayah Surabaya, Jawa Timur) yang ditulis oleh mahasiswa Winda Novtatika Anggraeni dari Jurusan Sosiologi Ilmu Sosial Universitas Airlangga. Berdasarkan hasil penelitiannya dijelaskan bahwa para pemuka agama Islam saat ini tidak memiliki pandangan negatif terhadap keberadaan kaum transgender. Misalnya, mereka menganggap perilaku transgender tidak pantas, apalagi jika dikaitkan dengan perilaku para pemuka agama itu sendiri, seperti yang sering terlihat di acara-acara televisi.

Singkatnya, ajaran Islam melarang laki-laki berperilaku seperti perempuan dan sebaliknya. Syarh Sahih Muslim, Sunan Ibnu Majah, Syarh Sunan Nasa'i, Sunan at-Tirmidzi, Sahih Muslim, Tafsir Ilmi: Seksualitas Dalam Perspektif Islam dan Ilmu Pengetahuan, Al-Quran dan Isu Kontemporer II (Tafsir Al-Quran Tematik), Maqâsidusy -Syarî'ah; Memahami tujuan utama syariah (tafsir tematik Al-Quran), tafsir tematik Al-Quran. Setelah data terkumpul, data tersebut diklasifikasikan berdasarkan proporsi dan kemudian diolah dengan metode analisis deskriptif39.

Dengan metode ini, penulis mencoba menyajikan data secara sistematis dan obyektif berdasarkan kerangka teori yang telah ditentukan. Data yang berkaitan langsung dengan pokok bahasan yang diteliti dideskripsikan dan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis isi, yaitu menganalisis data menurut isinya; upaya menelaah makna isi berupa informasi yang terkandung dalam dokumen.40. Data yang dikumpulkan dari literatur, baik primer maupun sekunder, akan digunakan sebagai bahan penentuan untuk menganalisis permasalahan ini.

Artinya, setelah mengumpulkan data umum, kondisi spesifik dianalisis dengan pendekatan yang berbeda-beda.41.

Teknik dan Sistematika Penulisan 1. Teknik Penulisan

  • Sistematika Penulisan

Kedua, laki-laki yang diciptakan dengan alat kelamin laki-laki namun bertingkah laku seperti perempuan atau menjadi perempuan, atau sebaliknya. Jumhur Fuqaha berpendapat, jika khuntsā gelap ini buang air kecil dari kemaluan laki-laki sebelum mencapai usia dewasa, maka dia dihukum sebagai laki-laki. Jika dia menumbuhkan janggut, mengeluarkan sperma melalui buah zakar, atau dapat menghamili seorang wanita, maka dia akan dihukum oleh laki-laki.

Namun jika ia mempunyai ambing, dapat menghasilkan susu, sedang menstruasi atau sedang bercinta, maka ia jelas berjenis kelamin perempuan. Pembahasan tentang khuntsâ menurut para fuqaha tidak ada hubungannya dengan orang yang melakukan perilaku menyimpang. Oleh karena itu, mengenai masalah khuntsâ tidak ada pembahasan tentang tidak sahnya statusnya, atau kutukan dan hukuman terhadapnya.

Sedangkan untuk kelompok mukhannats, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama fiqh mengenai status haramnya. Dalam konteks ini tidak ada ruang ijtihad dan tidak ada ruang pembenaran terhadap perilaku menyimpang, maka yang dilakukan Islam terhadap mereka adalah mengharamkan perilaku menyimpang, menghukum pelakunya dengan ta’zir, membentuk dan menyembuhkan mereka dari penyimpangan tersebut, bukan memaafkan. , apalagi untuk membenarkan penyimpangan tersebut. Adapun bagi para transgender yang telah menjalani operasi ganti kelamin menjadi laki-laki, hal ini termasuk dalam praktik homoseksual, karena dokter tidak dapat mengubah ciri-ciri kelaki-lakiannya, meskipun sudah memiliki alat kelamin perempuan.

Pada pasangan yang salah satunya pernah menjalani operasi ganti kelamin, secara lahiriah (secara kasat mata) terlihat istri adalah perempuan dan suami laki-laki, padahal sebenarnya mereka berjenis kelamin sama.

Saran

Al-Qur'an menentang hal tersebut karena merupakan perbuatan keji (al-fâhisyah) yang harus dihindari. Ali, Hasan M., Masail Fiqhiyah al-Haditsah: Permasalahan Hukum Islam Kontemporer, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000, Cet 4. Ali, Mohammad Daud, Hukum Islam Pengantar Ilmu Hukum dan Fikih Islam di Indonesia, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2011, Pers.

Bahri, Samsul, Landasan Syariat Islam, Strategi Positivisasi Hukum Islam Melalui Fikih Mahkamah Agung, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2007, Cet. Bisri, Cik Hasan, Pilar Penelitian Hukum Islam dan Lembaga Sosial, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004, Cet. Ali, Masail Fiqhiyah al-Haditsah: Masalah Hukum Islam Kontemporer, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000, Cet.

Kholis, Nur, Humanisme Hukum Islam tentang Waria Kajian Filsafat Hukum Islam tentang Amalan Keagamaan Waria di Pondok Pesantren Waria Senin-Kamis di Yogyakarta. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, Tafsir Ilmi: Seksualitas Dalam Perspektif Islam dan Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, 2012, Cet. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, Al-Quran dan Edisi Kontemporer II (Tafsir Al-Quran Tematik), Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, 2012, Cet.

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, Maqâsidusy-Syarî'ah; Razumevanje glavnih ciljev šeriata (tematski tafsir Kur'ana), (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, 2013), Cet. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, Tafsir Al-Qur'an Thematic Volume 3, Jakarta: Kamil Pustaka, 2014, Cet 1. Al Munawar, Said Agil Husin, Al-Qur'an Builds a Tradition of True Piety, Jakarta: Ciputat Press , 2003, Cet.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait