Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman
Permanent link for this document: https://doi.org/10.33367/tribakti.v33i1.2006
Teacher Ethics Perspective Syed Naquib Al-Attas and KH. M. Hasyim Asy'ari Etika Guru Perspektif Syed Naquib Al-Attas and KH. M. Hasyim Asy'ari
Muhamad Arif
STAI Al-Azhar Menganti Gresik, Indonesia [email protected]
Abstract
This study wants to reveal in detail the teacher's ethics according to two different points of view. First, the point of view of the leader of Islamic education reformer Syed Naquib Al-Attas Malaysia. Second, is the figure of Indonesian Islamic education, KH. M. Hasyim Asy'ari Indonesia. The research method used is a literature study combined with content analysis. So the answer is that the teacher ethics perspective of Syed Naquib Al-Attas and KH. M. Hasyim Asy'ari has differences in the details. However, it has a similar goal, namely to strengthen the transfer of knowledge that is strongly connected with the transfer of attitude (Adab/Akhlak).
Keywords: Teacher Ethics, Syed Naquib Al-Attas, KH. M. Hasyim Asy'ari
Abstrak
Penelitian ini ingin mengungkap secara detail tentang etika guru menurut dua sudut pandang berbeda. Pertama, sudut pandang tokoh pembaru pendidikan Islam, Syed Naquib Al-Attas Malaysia. Kedua, adalah tokoh pendidikan Islam Indonesia, KH. M.
Hasyim Asy’ari Indonesia. Metode penelitian yang di gunakan adalah studi pustaka yang dipadukan dengan content analisis. Maka didapatkan jawaban bahwa etika guru perspektif Syed Naquib Al-Attas dan KH. M. Hasyim Asy’ari terdapat perbedaan secara perinciannya. Namun, mempunyai tujuan yang sejalan yaitu untuk menguatkan transfer of knowledge yang terkoneksi kuat dengan transfer of attitude (Adab/Akhlak).
Kata Kunci: Etika Guru, Syed Naquib Al-Attas, KH. M. Hasyim Asy'ari
Pendahuluan
Pendidikan merupakan sebuah proses yang harus dilakukan oleh setiap individu agar dapat mengikuti perkembangan peradaban, terlebih masuknya era digital membuat semua elemen pendidikan berubah secara bertahap.1 Menindaklanjuti ketidakpastian dalam proses pendidikan, maka pendidikan harus mempersiapkan guru secara maksimal. Keadaan ini juga dilakukan Negara Finlandia sebagai salah satu Negara dengan basis pendidikan terbaik pertama di dunia.2 Walker menyampaikan bahwa organ pendidikan yang harus diperbaiki pertama adalah guru. Guru menjadi pekerjaan
1 Barbara B. Lockee, ‘Shifting Digital, Shifting Context: (Re) Considering Teacher Professional Development for Online and Blended Learning in the Covid-19 Era’, Educational Technology Research and Development 69, no. 1 (February 2021): 17–20, https://doi.org/10.1007/s11423-020-09836-8.
2 ‘10 Sistem Pendidikan Terbaik Di Dunia 2021 | Beasiswa X: Beasiswa X’, accessed 15 October 2021, https://xscholarship.com/id/top-10-education-systems-in-the-world/.
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman profesional dengan tanggung jawab besar, posisi guru harus menempuh program pendidikan minimal magister dengan fokus riset pendidikan serta pelatihan secara terus- menerus.3 Selain memberikan pelayanan terbaik pada proses transfer pengetahuan kepada peserta didik. Guru mempunyai tugas lain, yaitu memberikan contoh karakter terbaik pada siswa, sehingga peserta didik mendapatkan masukan dari dua sudut pandang, pengetahuan dan karakter.4
Keberadaan guru adalah motor penggerak utama dalam lingkaran pendidikan.
Maka, tidak dapat ditolak bahwa salah satu elemen penting dalam pendidikan (guru) menjadi kajian menarik dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Beberapa pakar pendidikan dari dunia barat dan timur juga memberikan pandangan posisi guru dalam pendidikan. Mulai dari guru profesional, guru berkarakter, hingga guru digital abad 21.5 Para pakar pendidikan Islam mempunyai sudut pandang mendasar tentang guru selain mentransfer ilmu. Hal ini juga disampaikan oleh Syed Naquib Al-Attas yang lebih mendefinisikan pendidikan Islam pada kata ta’dib dari pada kata tarbiyah dan ta’lim.
Pemilihan kata ta’dib tidak terlepas dengan pengertian bahwa pengetahuan (ilmu) mempunyai sifat dengan derajat yang mengikuti kapasitas jasmani intelektual dan rohaniah individu.6 Sedangkan dalam pandangan Al-Ghazali seorang guru mempunyai tugas untuk mendekatkan peserta didik kepada Allah bukan hanya bertugas sebagai transfer of knowledge, karena di sinilah ada unsur keseimbangan antara jiwa duniawi dan ukhrawi.7
Az-Zarnuji lebih memberikan sudut pandang seorang guru sebagai pribadi dengan akhlak mulia dalam memberikan ilmu, sehingga guru menjadi cerminan peserta didik.8 Sejalan dengan KH. Hasyim Asy’ari bahwa guru mempunyai kewajiban selain memberikan ilmu adalah
3 Timothy D Walker, Teach Like Finland 33 Strategies For Joyful Classrooms, 2019th ed.
(London: Pasi Sahlberg, n.d.).
4 Darcia Narvaez and Daniel K. Lapsley, ‘Teaching Moral Character: Two Alternatives for Teacher Education’, The Teacher Educator 43, no. 2 (March 2008): 156–72, https://doi.org/10.1080/08878730701838983.
5 Yifat Ben-David Kolikant, Dragana Martinovic, and Marina Milner-Bolotin, eds., STEM Teachers and Teaching in the Digital Era: Professional Expectations and Advancement in the 21st Century Schools (Cham: Springer International Publishing, 2020), https://doi.org/10.1007/978-3-030- 29396-3.
6 Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam, a Frame Work for an Philosopy of Education (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995).
7 Abdul Madjid Ma’rufi, ‘Teacher’ and Student’s Ethical Concept in Al Ghazali’s Prespective’, Journal of Islamic Education and Pesantren 1, no. 1 (2021): 45–60, https://doi.org/10.33752/jiep.v1i1.1751.
8 Nadatil Muntachobat, Rosichin Mansur, and Yorita Febry Lismanda, ‘Konsep Kompetensi Kepribadian Guru Pendidikan Agama Islam (tela’ah Kitab Ta’lim Al-Muta’allim Karya Az- Zarnuji Dan Kitab Adab Al-‘Alimiwa Al- Muta’allim Karya Kh.hasyim Asy’ari)’ 4 (2019): 9.
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman
memberikan teladan bagi peserta didik.9 Keberadaan guru menjadi individu yang cukup besar berperan dalam dunia pendidikan. Maka, tidak berlebih jika beberapa pakar pendidikan Islam memberikan bahasan tentang kewajiban guru kepada kepribadiannya. Sebagaimana Zakiah Daradjat menggaris bawahi posisi guru untuk memperbaiki profil pribadi, sehingga baik tidaknya peserta didik tergantung kepribadian gurunya.10 Maka, tidak berlebih jika Wan Mohd Nor Wan Daud memberikan pandangan bahwa guru menjadi profil pendidik dalam menanamkan adab kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat bermanfaat pada dirinya sendiri dan masyarakat.11
Beberapa riset terdahulu memberikan sumbangsih pemikiran pada peneliti, sebagaimana hasil penelitian Kosim, Kustati dan Murkimin, menjelaskan bahwa adanya relevansi pendidikan dari Syed Naquib Al-Attas dengan pendidikan di Indonesia, sebagaimana adanya dikotomi ilmu pengetahuan. Al-Attas lebih melakukan penjelasan bahwa seluruh ilmu pengetahuan datang dari Tuhan.12 Hal senada di sampaikan Sutrisno, bahwa pandangan pendidikan dari Syed Naquib Al-Attas, lebih logis dan realistis, terlebih tentang perkembangan dunia pendidikan Islam di Indonesia, yang secara geografis tidak berbeda jauh dengan peradaban di Malaysia.13 Maka, pandangan Syed Naquib Al-Attas dalam dunia pendidikan Islam adalah tentang bagaimana merobohkan hegemoni peradaban Barat yang sekuler melalui peradaban Islam yang terpadu, multi dan interdisipliner,14 karena pada dasarnya pemikiran Al-Attas banyak mengambil beberapa pemikiran Al-Ghazali.15
Berbeda dengan Syed Naquib Al-Attas, tokoh pendidikan Islam terkenal di Indonesia, KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, seperti hasil riset Muspawi, menyatakan
9 Hasyim Asyari, Adabul Alim Wal Muta’alim (Jombang: Maktabah Tsalasah Islami, 1999), 6.
10 Zakiyah Daradjat, Kepribadian Guru (Jakarta: Bulan Bintang, 2005), 7.
11 Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas Terj The Education Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al-Attas, 2003rd ed. (Bandung:
Mizan, 2019), 201.
12 Muhammad Kosim, Martin Kustati, and Murkilim Murkilim, ‘Syed Muhammad Naquib Al- Attas’ Ideas On The Islamization Of Knowledge And Its Relevance With Islamic Education In Indonesia’, MIQOT: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman 44, no. 2 (2021): 250–250, https://doi.org/10.30821/miqot.v44i2.724.
13 Andri Sutrisno, ‘Islamisasi Ilmu Pengetahuan Perspektif M. Naquib Al-Attas’, Ar-Risalah:
Media Keislaman, Pendidikan Dan Hukum Islam 19, no. 1 (2021): 1–1, https://doi.org/10.29062/arrisalah.v19i1.566.
14 Mahmudin Mahmudin, Zayyadi Ahmad, and Abdul Basit, ‘Islamic Epistemology Paradigm:
Worldview of Interdisciplinary Islamic Studies Syed Muhammad Naqueb Al-Attas’, International Journal of Social Science and Religion (IJSSR), no. Query date: 2021-10-12 11:32:46 (2021): 23–42, https://doi.org/10.53639/ijssr.v2i1.41.
15 Syed Jawad Ali Shah and Shuja Ahmad, ‘Al-Ghazali And Hume On Natural Causal Necessity And Miracles’, Al-Idah 39, no. Query date: 2021-10-12 11:32:46 (2021), https://doi.org/10.37556/al- idah.039.01.0702.
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman bahwa reformis pendidikan Islam Indonesia tidak dapat terlepas dengan Muhammad Hasyim Asy’ari dengan tiga tema besarnya, pembaharuan pesantren Tebuireng Jombang, pendirian organisasi Nahdlatul Ulama, dan gagasan penguatan bidang karya ilmiah. Ketiganya menjadi motor perubahan pendidikan Islam di Indonesia.16 Selain itu, Munandar dan Khoirunnisfa mengomentari kepiawaian KH. M. Hasyim Asy’ari dalam memodernisasi dunia pendidikan Islam yang menekankan posisi guru sebagai organ terpenting dalam pendidikan Islam.17 Senada dengan hasil riset Amma, Bahri dan Munawir, tentang pemikiran KH. Hasyim Asy’ari dalam memperkuat pendidikan Islam, posisi terpenting ada pada guru. Selain harus profesional, guru juga harus memiliki sifat tawadu’, tawakkal dan sabar dalam memberikan ilmu kepada peserta didik.18
Beberapa hasil riset terdahulu di atas memunculkan satu sudut pandang baru yang perlu dilakukan riset secara spesifik, terlebih keberadaan pemikiran Syed Naquib Al-Attas dan KH. M. Hasyim Asy’ari yang perlu dianalisis secara mendalam. Sehingga peneliti menemukan ruang kosong pada posisi guru sebagai sumber utama dalam proses transfer of knowledge pada peserta didik perspektif pemikiran Syed Naquib Al-Attas dan KH. M. Hasyim Asy’ari. Penelitian ini terfokus pada dua kajian, pertama, bagaimana etika guru perspektif Syed Naquib Al-Attas. Kedua, bagaimana etika guru perspektif KH. M. Hasyim Asy’ari.
Metode
Tulisan ini merupakan kajian penelitian kualitatif dengan jenis studi pustaka.
Penelitian terfokus pada pemikiran pendidkan dua tokoh yaitu Syed Naquib Al-Attas dan KH.Muhammad Hasyim Asy’ari. Data primer yang digunakan adalah buku The Concept of Education in Islam, a Frame Work for an Philosopy of Education, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, dan kitab Adabul Alim Wal Muta’alim karya KH. M. Hasyim Asy’ari.19 Pengayaan data dengan merujuk beberapa artikel nasional dan internasional sebagai bahan analisis, sebagaimana proses analisis
16 Mohamad Muspawi, ‘K.H. Hasyim Asy’ari: The Reformer of Islamic Education of East Java’, Jurnal Pendidikan Islam 7, no. 1 (n.d.): 17.
17 Siswoyo Aris Munandar and Rinda Khoirunnisfa, ‘KH Hasyim Asy’ari and the Teacher Code of Ethics: Thought Study KH. Hasyim Asy’ari on Ethics Education and Its Relevance to Modern Education in Indonesia’, Journal EVALUASI 4, no. 1 (7 March 2020): 114, https://doi.org/10.32478/evaluasi.v4i1.359.
18 Mahmudin, Ahmad, and Basit, ‘Islamic Epistemology Paradigm: Worldview of Interdisciplinary Islamic Studies Syed Muhammad Naqueb Al-Attas’.
19 Asyari, Adabul Alim Wal Muta’alim.
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman
yang dipilih pada penelitian ini adalah content analisis.20 Prosedur analisisnya melalui beberapa tahap yaitu, peneliti mengidentifikasi pemikiran Syed Naquib Al-Attas dan KH. M. Hasyim Asy’ari yang berkaitan erat dengan guru. Setelah itu, mengelompokkan data yang telah sesuai dengan tema kajian, etika guru perspektif kedua tokoh. Kemudian memilah dan menyandingkannya untuk memperoleh dua sudut pandang dari dua tokoh sebagaimana fokus penelitian artikel.
Hasil dan Pembahasan
Etika Guru Perspektif Syed Naquib Al-Attas
Syed Naquib Al-Attas memberikan banyak catatan tentang proses pendidikan, mulai dari pendefinisian kata ta’dib sebagai pilihan dalam proses pembelajaran (trasansfer of knowledge).21 Senada dengan hasil riset Wahyudi, bahwa kata ta’dib lebih bermakna luas dibandingkan tarbiyah dan ilm. Pengertian kata ta’dib mengandung proses mendidik kognitif, moral, spiritual, dan sosial peserta didik.22 Selain itu, Al-Attas menggagas konsep islamisasi ilmu sebagai jalan keluar problem dikotomi keilmuan. Al- Attas menyampaikan bahwa ilmu datangnya hanya dari Allah,23 Al-Attas juga mengritik ilmuan Barat dengan filsafat sekulernya, sebagaimana keberadaan posisi guru dalam proses memberikan ilmu.24 Sejalan dengan beberapa kajian awal Syed Naquib Al-Attas dalam pendidikan Islam, maka tulisan ini mengkaji tentang pentingnya etika guru menurut Syed Naquib Al-Attas serta ruang lingkup pendidikan Islam yang meliputi:25
Pertama, guru dalam mengajar tidak boleh keluar dari otoritas tertinggi keilmuan yaitu Al-Qur’an dan Hadis. Hal senada disampaikan Muchlasin dalam risetnya tentang sekolah yang harus melakukan penguatan pendidikan berbasis Al-Qur’an dan Hadis terlebih dalam mendidik karakter peserta didik di zaman digital.26 Kedua, guru harus memiliki sifat rendah diri, menjauhkan diri dari sifat sombong dan riya’. Sifat rendah
20 Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2011), 79.
21 al-Attas, The Concept of Education in Islam, a Frame Work for an Philosopy of Education, 90.
22 Muhammad Wahyudi, ‘Konsep Ta’dib Sebagai Alternatif Pendidikan Islam Menurut Syed. M.
Naquib Al-Attas’, Jurnal Lughowi; Jurnal Pendidikan Bahasa 2, no. 02 (2021): 60–80.
23 Abdul Muhaimin, ‘Strategi Pendidikan Karakter Perspektif Kh. Hasyim Asy’ari’, Nidhomul Haq 2, no. 1 (March 2017): 12.
24 Muhammad Arsyad, ‘Konsep Manusia Dan Pendidikan Dalam Pandangan Syed Muhammad Naquib Al-Attas: Catatan Awal’, SIASAT 3, no. 2 (2019): 51–59, https://doi.org/10.33258/siasat.v1i1.29.
25 Mahmudin, Ahmad, and Basit, ‘Islamic Epistemology Paradigm: Worldview of Interdisciplinary Islamic Studies Syed Muhammad Naqueb Al-Attas’.
26 Merri Yulia Muchlasin, Galih Pratama Pratama, and Akhmad Alim, ‘Strengthening the Character Education Based on Syed M. Naquib Al-Attas (a Case of Study of Al-Ishlah Cibinong Junior High School)’, Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 4, no. 01 (28 January 2021):
223, https://doi.org/10.30868/im.v4i01.923.
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman hati juga menjadi sorotan pada riset Tzifopoulos and Tang, dkk yakni posisi rendah hati pada diri guru dapat memberikan rasa nyaman pada proses pendidikan,27 sehingga kolaborasi antara guru dan peserta didik dapat mempercepat tercapainya pendidikan yang unggul.28 Glickman and Burns, memberikan catatan pentingnya membiasakan sifat rendah hati sebagai salah satu strategi untuk mengurangi tekanan dalam pendidikan di era digital.29 Ketiga, guru harus memiliki rasa kasih sayang kepada peserta didik.
Sebagaimana proses pembelajaran yang membutuhkan pendekatan pada peserta didik.
Selain itu, Entending mencatat sifat peserta didik bercermin dari pendidik.30 Keempat, guru tidak diperbolehkan mengajar pelajaran yang keluar dari bidang kajiannya.
Kelima, guru tidak diperkenankan menyalurkan ilmu sebelum guru meyelesaikan proses pembelajaran. Sebagaimana regulasi tentang undang-undang guru dan dosen sehingga guru merupakan profesi yang harus dijalankan secara profesional.31 Keenam, guru tidak hanya menransfer ilmu tapi juga adab pada peserta didik.32 Paramitha Nanu memberikan penguatan tentang posisi adab sebagai salah satu misi utama Nabi Muhammad kepada kaum kafir Quraish, maka secara utuh Al-Attas lebih menekankan proses adab kepada peserta didik sebagai misi pendidikan agama Islam.33 Ketujuh, guru perlu memiliki keluasan hati ketika peserta didik memberikan masukan/nasihat. Hal ini juga di paparkan Al-Ghazali bahwa guru harus sabar menerima seluruh pernyataan dan pertanyaan yang disampaikan oleh peserta didik sebagai salah satu cara menanamkan rasa bersahabat pada peserta didik.34
Kedelapan, guru disarankan untuk menghargai setiap kemampuan yang ditunjukkan peserta didik. Yusuf dan Nafi’uddin menyampaikan bahwa Ki Hajar Dewantara juga memberikan catatan bagi guru untuk menghargai seluruh kemampuan
27 Menelaos Tzifopoulos, ‘School Teachers Dare to Teach Democratically?’, Quest Journals Journal of Research in Humanities and Social Science 9, no. 1 (2021): 12–20.
28 Yihe Tang et al., ‘Humble Teachers Teach Better Students for Semi-Supervised Object Detection’, Cvc Publication (Proceedings), 2021, 3132–41.
29 Carl Glickman and Rebecca West Burns, ‘Supervision and Teacher Wellness: An Essential Component for Improving Classroom Practice’, Journal of Educational Supervision 4, no. 1 (May 2021):
18–25, https://doi.org/10.31045/jes.4.1.3.
30 Almustari Enteding, ‘Peran Guru Dalam Pengembangan Nilai Etika Peserta Didik Di SMP Negeri 4 Batui Kabupaten Banggai’, Jurnal Linier 04, no. 07 (March 2020): 9–15.
31 Khusnul Wardan, Guru Sebagai Profesi (Yogyakarta: CV Budi Utama, 2019), 14.
32 Muhammad Hasan Mahrus, Sarjuni, and Moh Farhan, ‘Konsep Adab Peserta Didik Dalam Kitab Adabul Alim Wal Muta’allim Karya Ulama Nusantara Kh. Hasyim Asy’ari’, Prosiding Konferensi Ilmiah Mahasiswa UNISSULA 2, Oktober 2019, 1419–28.
33 Rafiyanti Paramitha Nanu, ‘Syed Muhammad’s thoughts. Naquib Al-Attas on Education in the Modern’, Tarbawi: Jurnal Pendidikan Agama Islam 6, no. 1 (2021): 14–29.
34 Ma’rufi, ‘Teacher’ and Student’s Ethical Concept in Al Ghazali’s Prespective’.
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman
yang dimiliki peserta didik karena guru berada pada ranah membimbing peserta didik.35 Meskipun, guru perlu mengoreksi setiap peserta didik ketika melakukan kesalahan.
Kesembilan, Al-Attas menggarisbawahi pentingnya guru pendidikan Islam dalam mencerminkan kepribadian yang mulia sebagaimana Imam Nawawi menekankan pentingnya guru mempraktikkan akhlak mulia kepada peserta didik dan kehidupan di tengah masyarakat.36 Kesepuluh, guru diharuskan melatih kedisiplinan peserta didik, terlebih dalam hal pemberian ilmu. Ibn Al Barr dalam Muslim memberikan sudut pandang lebih jauh, peserta didik harus diajarkan pentingnya membangun karakter kedisiplinan pada peserta didik.37 Kesebelas, guru diharuskan mampu mengeluarkan semua potensi peserta didik dalam proses belajar sehingga peserta didik tidak takut berbuat salah sebelum melangkah. Kedua belas, guru layaknya seorang ayah yaitu memantau anaknya dari berbagai sudut pandang, mulai spiritual, intelektual, sikap serta akhlaknya. Sebagaimana Ibnu Sahnun menilai guru sebagai sosok yang penuh tanggung jawab dalam memerhatikan peserta didik, kecuali dalam keadaan tertentu.38 Ketiga belas, guru yang baik adalah guru yang memberikan contoh pada peserta didik tentang akhlak mulia.39 Az-Zarnuji dalam Wahyudi, juga memberikan beberapa metode pendidikan akhlak untuk guru kepada peserta didik seperti menasehati dan mengingatkan ketika peserta didik lalai.40 Keempat belas, guru dalam proses memberi ilmu diharuskan dengan sifat yang ikhlas hanya karena Allah. Ikhlas Menurut Imam Nawawi adalah Implementasi ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah, terutama dalam mengamalkan Ilmu.41 Senada dengan KH. Muhammad Hasyim Asy’ari bahwa
35 Wiwin Fahrudin Yusuf and Moh Badrun Nafi’uddin, ‘Prinsip Kebebasan Belajar Imam Al - Ghazali Dalam Sistem Among Prespektif Ki Hajar Dewantara’, SAMAWA : Jurnal Hukum Keluarga Islam 1, no. 2 (2021): 133–40, https://doi.org/10.53948/samawa.v1i2.30.
36 Dadan Nurulhaq, Miftahul Fikri, and Shopiah Syafaatunnisa, ‘Etika guru PAI menurut Imam Nawawi (analisis ilmu pendidikan Islam)’, Atthulab: Islamic Religion Teaching and Learning Journal 4, no. 2 (21 November 2019): 133–43, https://doi.org/10.15575/ath.v4i2.4682.
37 Muslim Muslim, Abdul Hayyie Al-Kattani, and Wido Supraha, ‘Konsep Adab Penuntut Ilmu Menurut Ibn Abd Al-Barr Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Nasional’, Tawazun: Jurnal Pendidikan Islam 10, no. 2 (Desember 2017): 280–95, https://doi.org/10.32832/tawazun.v10i2.1164.
38 Siti Salwa Sawari and Azlina Mustaffa, ‘Guru Bersahsiah Mulia Menurut Pandang Ibnu Sahnun:
Analisa Buku Adab Al Mualimin’ 2, no. 2 (July 2014): 1–10.
39 Moch Mahsun and Danish Wulydavie Maulidina, ‘Konsep Pendidikan dalam Kitab Ta’limul Muta’allim Karya Syekh Al-Zarnuji dan Kitab Washoya Al-Aba’ Lil-Abna’ Karya Syekh Muhammad Syakir’, Bidayatuna: Jurnal Pendidikan Guru Mandrasah Ibtidaiyah 2, no. 2 (Oktober 2019): 164–97, https://doi.org/10.36835/bidayatuna.v2i2.438.
40 Muhammad Wahyudi, ‘Pendidikan Akhlak Menurut Az-Zarnuji Dalam Kitab Ta’limul Muta’allim’ 1, no. 02 (2020): 38–53.
41 Muhammad Ridwan Hidayatulloh, Aceng Kosasih, and Fahrudin Fahrudin, ‘Konsep Tasawuf Syaikh Nawawi Al-Bantani Dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Agama Islam Di Persekolahan’, TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education 2, no. 1 (5 May 2015): 1, https://doi.org/10.17509/t.v2i1.3373.
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman dalam mengamalkan ilmu seorang guru diharuskan melatih keihlasannya, agar tujuan pembelajaran dimudahkan oleh Allah.42
Etika Guru Perspektif KH. Muhammad Hasyim Asy’ari
KH. Hasyim Asy’ari memberikan pendapat serta fatwa pentingnya guru dalam memberikan keteladanan pada peserta didik. Senada dengan Supriyanto, dkk bahwa dalam proses mendidik etika sebagai salah satu kunci keberhasilan.43 KH. Muhammad Hasyim Asy’ari menyederhanakannya melalui kitab Adabul Alim Wal Muta’alim,44 kitab penuh sejarah yang di dalamnya membahas tentang adab dari guru dan peserta didik. Namun, pada bahasan ini, peneliti hanya memfokuskan tentang bagaimana etika guru perspektif KH. Muhammad Hasyim Asy’ari yang memuat tiga strata etika guru;
Etika Guru Pada Dirinya
Guru sebagai teladan dan pembagi pengetahuan mempunyai kewajiban untuk terus memperbaiki dirinya sendiri. KH. Hasyim Asy’ari memberikan catatan, yaitu;45 pertama, guru harus membiasakan merasa dilihat oleh Allah sehingga guru diwajibkan memupuk perilaku baik melalui ketakwaan kepada Allah,46 baik di tempat sepi maupun ramai. Khairoh, dkk memperkuat pentingnya menguatkan takwa kepada Allah dalam segala kondisi. Karena ketakwaan adalah manifestasi paling berharga pada diri manusia.47 Kedua, menanamkan rasa takut kepada Allah (khauf) sebagai representasi guru pendidikan Islam yang baik terlebih banyaknya godaan di era digital.48 Selain itu perlu sifat khasyyah dalam setiap langkah guru mengamalkan ilmu. Ketiga, guru harus
42 Roy Bagaskara, ‘Reorientasi Pemikiran Pendidikan Kh. M. Hasyim Asy‘ari: Etika Dalam Pendidikan Islam’, Islamuna: Jurnal Studi Islam 6, no. 2 (10 December 2019): 153, https://doi.org/10.19105/islamuna.v6i2.2545.
43 Supriyanto Supriyanto et al., ‘The Educational Thinking of Hasyim Asy’ari about Student Ethics Against to the Teachers in the Digital Era’, in Proceedings of the Proceedings of the 1st International Conference on Business, Law And Pedagogy, ICBLP 2019, 13-15 February 2019, Sidoarjo, Indonesia (Proceedings of the 1st International Conference on Business, Law And Pedagogy, ICBLP 2019, 13-15 February 2019, Sidoarjo, Indonesia, Sidoarjo, Indonesia: EAI, 2019), https://doi.org/10.4108/eai.13-2- 2019.2286036.
44 Hasyim Asyari, Pendidikan Karakter Khas Pesantren (Adabul Alim Wal Muta’alim) (Jombang:
TS Mart, 2010), 2.
45 Asyari, Adabul Alim Wal Muta’alim, 98.
46 Azlisham Abdul Aziz et al., ‘Turkish Journal of Computer and Mathematics Education Vol.12 No. 9 (2021), 3152-3159 Research Article’, Turkish Journal of Computer and Mathematics Education 12, no. 9 (2021): 3152–59.
47 Ishak Khairon, Kamarul Azmi Jasmi, and Mohamad Khairul Latif, ‘Thrust of Faith and Manifestations to Faith According to the Qur’an and Hadith: A Study of Content Analysis’, Palarch’s Journal Of Archaeology Of Egypt/Egyptology 18, no. 4 (2021): 295–314.
48 Budiman Budiman, Syaiful Anam, and Firmansyah Firmansyah, ‘Karakteristik Peserta Didik Ideal Dalam Perspektif Al-Qur’an Dan Hadist’, At-Turots: Jurnal Pendidikan Islam 3, no. 1 (June 2021):
103–16.
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman
membiasakan diri untuk tenang dalam setiap perbuatan, terlebih dalam mengambil sebuah keputusan. Sebagaiaman Al-Ghazali dan Ibnu Miskawaih memberikan pandangan bahwa dalam kondisi tidak terkontrol, manusia harus menenangkan diri karena nafsu yang diikuti secara terus-menerus akan menjadi karakter manusia.49 Keempat, menjaga diri dari perbuatan yang diharamkan Allah.50 Finanti, juga menjelaskan tentang pentingnya guru dalam membangun karakter religius pada peserta didik, yakni dengan memperbaiki pribadi serta menjauhi setiap yang dilarang Allah.51
Kelima, guru harus melatih kerendahan hati meskipun banyak orang yang mencacimaki.52 Keenam, khusyu’ dalam proses memberikan ilmu karena kadar kefokusan guru dapat menentukan keberhasilan penyampaian pembelajaran kepada peserta didik karena guru yang tidak konsisten dapat dikatakan belum mencapai standar kompetensi profesional.53 Ketujuh, guru diharuskan tawakkal yakni sifat menghamba dan menyandarkan semuanya kepada Allah, serta yakin bahwa baik dan buruknya sesuatu tidak terlepas dari takdir yang sudah digariskan oleh Allah.54 Kedelapan, guru dilarang menghina ilmu terlebih menjadikan ilmu sebagai batu loncatan untuk tujuan duniawi. Al-Ghazali menyampaikan hal senada bahwa guru dilarang menghina ilmu, terlebih ilmu agama karena berakibat pada ketidakmanfaatan pada individu dan peserta didik.55 Kesembilan, guru dilarang melanggar syariat Islam yang bersifat dzahir.56 Kesepuluh, memberikan edukasi terkait pentingnya melakukan sunnah dan mengcounter kaum yang suka membid’ahkan amalan sunnah. Hal senada juga disampaikan Zaini dalam risetnya bahwa terdapat faham Wahabisme di Indonesia, yang dapat merusak harmoni agama dan budaya. Salah satu kesalahannya terdapat pada buku Dakwatus Syaikh Muhammad Bin Abd Wahab, bahwa Maulid Nabi, ziarah kubur
49 Abdul Halim, ‘Pembelajaran Perspektif Al Ghazali Dan Ibnu Miskawaih’, Journal PIWULANG 1, no. 2 (2019): 156–156, https://doi.org/10.32478/ngulang.v1i2.232.
50 Munandar and Khoirunnisfa, ‘KH Hasyim Asy’ari and the Teacher Code of Ethics’.
51 Asyah Finanti, Sri Mulyati, and Afsun Aulia Nirmala, ‘Nilai-Nilai Religius Dalam Novel Merasa Pintar Bodoh Saja tak Punya Karya Rusdi Mathari’, Jurnal Ilmiah KORPUS 5, no. 2 (31 August 2021): 206–16, https://doi.org/10.33369/jik.v5i2.16828.
52 Bagaskara, ‘Reorientasi Pemikiran Pendidikan Kh. M. Hasyim Asy‘ari’.
53 John Kwasi Annan, ‘Preparing Globally Competent Teachers: A Paradigm Shift for Teacher Education in Ghana’, Education Research International 2020 (22 September 2020): 1–9, https://doi.org/10.1155/2020/8841653.
54 Nurmiati Nurmiati, Achmad Abubakar, and Aan Parhani, ‘Nilai Tawakal dalam Al-Qur’an’, Palita: Journal of Social Religion Research 6, no. 1 (April 2021): 81–98, http://10.24256/pal.v6i1.1985.
55 Ma’rufi, ‘Teacher’ and Student’s Ethical Concept in Al Ghazali’s Prespective’.
56 Tasurun Amma, M. Saiful Bahri, and Ahmad Munawir, ‘The Competence of Islamic Religious Education Teachers Perspective K.H. Hasyim Asy’ari’, INTERNATIONAL JOURNAL OF CONTEMPORARY ISLAMIC EDUCATION 3, no. 1 (20 June 2021): 1–18, https://doi.org/10.24239/ijcied.Vol3.Iss1.28.
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman merupakan amalan bid’ah (dalam pandangan salah pengikut wahabbi).57 Kesebelas, guru mempunyai kewajiban untuk membiasakan akhlak mulia di tengah masyarakat serta menghilangkan akhlak tercela. Al-Ghazali, A-Attas, Az-Zarnuji dan Al-Barjah juga memberikan pandangan senada bahwa posisi guru harus memberikan teladan pada peserta didik. Maka, pendidikan tidak hanya soal menrasnfer pengetahuan, namun, pendidikan juga mempunyai pekerjaan menrasnfer akhlak mulia kepada peserta didik.58 Kedua belas, guru mempunyai kewajiban menanamkan sifat cinta ilmu yakni dengan terus belajar dan tidak malu jika belajar dengan status di bawahnya baik secara umur, jabatan ataupun nasab.59 Ketiga belas, guru hendaknya memupuk kerajinan pada dirinya dalam menyusun karya tulis sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Pentingnya kompetensi menulis juga disampaikan Najih Maimoen bahwa di masa Rasulullah menulis dijadikan sebuah kepentingan yang harus diajarkan kepada masyarakat Madinah sebagaimana Rasulullah memerintahkan Abdullah bin Sa’id bin al-Ash.60
Etika Guru Pada Proses Pembelajaran
Guru dalam mengawali pembelajaran diusahakan membiasakan dengan niat dan etika mulia,61 sebagaimana KH. Muhammad Hasyim Asy’ari menyebutkan beberapa kewajiban bagi guru ketika melaksanakan proses pembelajaran. Pertama, guru harus memperbaiki niat, semata-mata yang diajarkan adalah untuk mencari rida Allah. Az- Zarnuji memberikan strata tertinggi tentang pentingnya niat. Selain itu, niat merupakan pondasi awal menuju tujuan yang diinginkan.62 Kedua, guru sebaiknya menghindari bersenda gurau berlebihan sehingga mengurangi wibawa guru di hadapan peserta didik.
Arifin memperkuat pentingnya menghindari senda gurau berlebihan berlandaskan Surat
57 M. Farid Zaini, ‘Wajah Bengis Hukum Islam dalam Tafsir Kaum Muslim Radikal’, Jurnal Kajian Hukum Islam 7, no. 2 (30 September 2020): 107–25, https://doi.org/10.52166/jkhi.v7i2.19.
58 Nur Akhda Sabila, ‘Integrasi Aqidah Dan Akhlak (Telaah Atas Pemikiran Al-Ghazali)’, NALAR: Jurnal Peradaban Dan Pemikiran Islam 3, no. 2 (2020): 74–83, https://doi.org/10.23971/njppi.v3i2.1211; Moch. Tolchah, ‘Studi Perbandingan Pendidikan Akhlak Perspektif Al-Ghazāli Dan al-Attas’, EL-BANAT: Jurnal Pemikiran Dan Pendidikan Islam 9, no. 1 (2019): 79–106, https://doi.org/10.54180/elbanat.2019.9.1.79-106; Wahyudi, ‘Pendidikan Akhlak Menurut Az-Zarnuji Dalam Kitab Ta’limul Muta’allim’; Muhamad Arif, ‘Konsep Pendidikan Akhlak Dalam Kitab Kitab Ahlakul Lil Banin Karya Umar Ibnu Ahmad Barjah’, Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Kemanusiaan 2, no. 2 (Oktober 2018): 401–13.
59 Titik Handayani and Achmad Fauzi, ‘Konsep Pendidikan Karakter Kh. M. Hasyim Asy‘ari:
Studi Kitab Âdâb Al-‘Âlim Wa Al-Muta‘allim’, Islamuna: Jurnal Studi Islam 6, no. 2 (10 December 2019): 120, https://doi.org/10.19105/islamuna.v6i2.2285.
60 Muh. Najih Maimoen, Karakter Pendidikan Abuya As-Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki (Rembang: Toko Kitab Al-Anwar 1, 2012), 31–32.
61 Bagaskara, ‘Reorientasi Pemikiran Pendidikan Kh. M. Hasyim Asy‘ari’.
62 Hayyul Mubarok, ‘Az-Zarnuji’s Perspective of Islamic Education as Insights in Learning’, AL- FIKRAH: Jurnal Studi Ilmu Pendidikan dan Keislaman 4, no. 1 (30 June 2021): 97–119, https://doi.org/10.36835/al-fikrah.v4i1.113.
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman
Al-Lukman Ayat 12-19.63 Ketiga, memulai proses pembelajaran dengan membaca ayat Al-Qur’an agar pembelajarannya mendapatkan keberkahan.64 Keempat, guru dalam menjelaskan materi secara maksimal agar tersampaikan secara baik. Az-Zarnuji dalam kitabnya mengingatkan guru untuk menghindari berbicara dengan nada kecil, cepat, terlalu banyak bicara hingga peserta didik bosan,65 serta melarang siswa untuk bertanya ketika tidak paham. Kelima, guru harus bersifat lemah lembut dan kasih sayang dalam menyampaikan pembelajaran,66 sehingga persepsi yang terbangun pada peserta didik adalah kenyamanan dengan guru dan menyukai proses belajar.67
Etika Guru Pada Peserta Didik
Selain kedua proses di atas, guru mempunyai kewajiban menjaga etika kepada peserta didik, aspek terkecil yang hampir tidak pernah diperhatikan ilmuwan Barat. Namun, ilmuwan Timur, KH. Muhammad Hasyim Asy’ari mengajarkan pentingnya menjaga etika guru pada peserta didik.68 Sebagaimana yang tertulis dalam kitab Adabul Alim Wal Muta’alim,69 yaitu;
Pertama, guru harus menata niat hanya karena Allah dalam mengawali transfer of knowledge.
Imam Nawawi dalam Rosidi mengomentari tentang niat dalam melakukan semua kegiatan karena pemberian pahala tergantung niat awalnya.70 Kedua, guru harus memberikan pemahaman pada peserta didik tentang pentinya niat dalam belajar. Selain itu, guru mempunyai kewajiban untuk memotivasi peseta didik kepada kebaikan.71 Ketiga, guru harus sabar ketika menghadapi siswa yang kurang baik karena sabar menjadi aspek pokok dalam proses mendidik.72 Dari sifat
63 Muh Luqman Arifin, ‘Analisis Nilai-Nilai Pendikan Dalam Surat Luqman[31]: 12-19’, Dialektika FKIP 2, no. 1 (2018): 40–49.
64 Asyari, Adabul Alim Wal Muta’alim, 27.
65 Wiwin Candra, Ahmad Dibul Amda, and Bariyanto Bariyanto, ‘Peran Guru Dan Akhlak Siswa Dalam Pembelajaran: Perspektif Syekh Az-Zarnuji Kitab Ta’lim Muta’allim’, Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Islam 2, no. 2 (10 August 2020): 262–79, https://doi.org/10.36671/andragogi.v2i2.100.
66 Hryhoriy Vasianovych, Galina Shewkun, and Kateryna Latyschevska, ‘Aesthetic Categories “Love”,
“Joy” and “Fear” in the Professional Activity of a Teacher’, Journal of Vasyl Stefanyk Precarpathian National University 8, no. 1 (1 April 2021): 17–23, https://doi.org/10.15330/jpnu.8.1.17-23.
67 Anneli Niikko, ‘Examining Images of Teacher Students’, European Early Childhood Education
Research Journal 28, no. 6 (1 November 2020): 884–97,
https://doi.org/10.1080/1350293X.2020.1836587.
68 Tasurun Amma, M. Saiful Bahri, and Ahmad Munawir, ‘The Competence of Islamic Religious Education Teachers Perspective K.H. Hasyim Asy’ari’, International Journal of Contemporary Islamic Education 3, no. 1 (20 June 2021): 1–18, https://doi.org/10.24239/ijcied.Vol3.Iss1.28.
69 Asyari, Adabul Alim Wal Muta’alim, 49.
70 Ayep Rosidi, ‘Niat Menurut Hadis Dan Implikasinya Terhadap Proses Pembelajaran’, Jurnal Inspirasi 1, no. 1 (June 2017): 39–50.
71 Nik Haryanti, ‘Implementasi Pemikiran Kh. Hasyim Asy’ari Tentang Etika Pendidik’, Epistemé:
Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman 8, no. 2 (12 December 2013): 439–50, https://doi.org/10.21274/epis.2013.8.2.439-450.
72 Candra, Amda, and Bariyanto, ‘Peran Guru Dan Akhlak Siswa Dalam Pembelajaran’.
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman sabar muncullah kasih sayang. Keempat, guru harus penuh semangat dan rajin dalam memberikan ilmu kepada peserta didik. Kelima, guru mengampu pelajaran yang sesuai dengan bidang keahliannya. Keenam, guru tidak dibenarkan melakukan diskriminasi kepada peserta didik. Artinya, guru wajib bersikap demokratis kepada peserta didik dan memberikan kesempatan setara pada peserta didik.73 Ketujuh, guru harus menjalin komunikasi yang baik dengan peserta didik untuk membangun harmoni. Kedelapan, guru bertanggung jawab untuk melakukan mentoring kepada peserta didik yakni dengan memantau perilaku peserta didik dan mengarahkannya pada akhlak mulia.74 Kesembilan, guru harus menjadi contoh di depan peserta didik, maka guru harus bersikap terpuji dan rendah hati.
Etika Guru Perspektif Syed Naquib Al-Attas dan KH. M. Hasyim Asy’ari
Kajian tentang etika guru perspektif Syed Naquib Al-Attas dan KH. M. Hasyim Asy’ari mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam klasifikasinya. Hal ini terlihat dari karya Syed Naquib Al-Attas yang membagi etika guru secara umum tanpa klasifikasi terperinci.75 Sedangkan KH. M. Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adabul Alim wal Muta’alim lebih memberikan perincian etika guru secara ketat, dari etika guru pada dirinya sendiri, etika guru dalam mengajar serta etika guru kepada peserta didik.76 Keduanya mempunyai tujuan yang sama terkait etika guru yaitu tetap menguatkan posisi adab (akhlak) sebelum ilmu dalam konteks pemikiran pendidikan Islam, khususnya pada ranah moral atau karakter.77
Gambar 1: Penguatan Etika Guru yaitu transfer of attitude and transfer of knowladge
73 Nurulhaq, Fikri, and Syafaatunnisa, ‘Etika guru PAI menurut Imam Nawawi (analisis ilmu pendidikan Islam)’.
74 Arif, ‘Konsep Pendidikan Akhlak Dalam Kitab Kitab Ahlakul Lil Banin Karya Umar Ibnu Ahmad Barjah’.
75 Kosim, Kustati, And Murkilim, ‘Syed Muhammad Naquib Al-Attas’ Ideas On The Islamization Of Knowledge And Its Relevance With Islamic Education In Indonesia’.
76 Haryanti, ‘Implementasi Pemikiran Kh. Hasyim Asy’ari Tentang Etika Pendidik’.
77 Sabila, ‘Integrasi Aqidah Dan Akhlak (Telaah Atas Pemikiran Al-Ghazali)’.
Transfer Of Knowladge (Ilmu)
Transfer Of Attitude (Adab/Akhlak) Syed Naquib Al-
Attas
&
KH.M. Hasyim Asy’ari
Connected
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman
Gambar 1 merupakan pemetaan dan deskripsi pemikiran kedua tokoh pemikir Islam Syed Naquib Al-Attas dan KH. M. Hasyim Asy’ari tentang etika guru dalam proses pembelajaran yang tidak hanya terpaku pada tahap transfer of knowledge.
Namun, tentang bagaimana posisi guru mempunyai keterkaitan yang kuat untuk melakukan transfer of attitude (Adab/Akhlak) agar peserta didik mendapatkan kadar pendidikan yang seimbang antara adab/akhlak dan ilmu. Maka, sudut pandang peneliti tentang penguatan tentang pentingnya etika guru untuk diimplementasikan pada dunia pendidikan dalam menyongsong era society 5.0. sebagaimana Zarkasy dalam Prastowo menyampaikan bahwa dalam menyongsong era society 5,0. Posisi pendidikan akhlak (adab) perlu dilakukan penguatan.78
Kesimpulan
Kajian ini menemukan bahwa terdapat perbedaan perincian mengenai konsep etika guru perspektif Syed Naquib Al-Attas dan KH. M. Hasyim Asy’ari. Namun, keduanya mempunyai tujuan yang sejalan yaitu untuk melakukan penguatan transfer of knowledge yang terkoneksi kuat dengan transfer of attitude (Adab/Akhlak). Secara terperinci Syed Naquib Al-Attas memaparkan etika guru meliputi; guru mengajar berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis, mencerminkan akhlak mulia, menyelesaikan studi sebelum mengajar, bersifat kasih sayang, menghargai setiap kemampuan peserta didik, transfer adab, mengajar sesuai dengan keahlian, mengeluarkan potensi siswa dan memantau dalam intelektual, sikap dan akhlak, melatih disiplin peserta didik, rendah hati, menerima nasihat peserta didik, dan mencerminkan akhlak mulia. Sedangkan KH.
M. Hasyim Asy’ari membagi etika guru menjadi tiga bagian yaitu, adab guru kepada dirinya sendiri, adab guru dalam pembelajaran, dan adab guru kepada peserta didik.
Daftar Pustaka
‘10 Sistem Pendidikan Terbaik Di Dunia 2021 | Beasiswa X: Beasiswa X’. Accessed 15 October 2021. https://xscholarship.com/id/top-10-education-systems-in-the- world/.
Amma, Tasurun, M. Saiful Bahri, and Ahmad Munawir. ‘The Competence of Islamic Religious Education Teachers Perspective K.H. Hasyim Asy’ari’.
INTERNATIONAL JOURNAL OF CONTEMPORARY ISLAMIC EDUCATION 3, no. 1 (20 June 2021): 1–18. https://doi.org/10.24239/ijcied.Vol3.Iss1.28.
78 Agung Ilham Prastowo et al., ‘The Independent Learning Curriculum Concept of Imam Zarkasyi’s Perspective In Pesantren For Facing The Era of Society 5.0’, in Proceedings of the 4th International Conference on Learning Innovation and Quality Education (ICLIQE 2020: The 4th International Conference on Learning Innovation and Quality Education, Surakarta Indonesia: ACM, 2020), 1–6, https://doi.org/10.1145/3452144.3452147.
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman
———. ‘The Competence of Islamic Religious Education Teachers Perspective K.H.
Hasyim Asy’ari’. International Journal of Contemporary Islamic Education 3, no. 1 (20 June 2021): 1–18. https://doi.org/10.24239/ijcied.Vol3.Iss1.28.
Annan, John Kwasi. ‘Preparing Globally Competent Teachers: A Paradigm Shift for Teacher Education in Ghana’. Education Research International 2020 (22 September 2020): 1–9. https://doi.org/10.1155/2020/8841653.
Arif, Muhamad. ‘Konsep Pendidikan Akhlak Dalam Kitab Kitab Ahlakul Lil Banin Karya Umar Ibnu Ahmad Barjah’. Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Kemanusiaan 2, no. 2 (Oktober 2018): 401–13.
Arifin, Muh Luqman. ‘Analisis Nilai-Nilai Pendikan Dalam Surat Luqman[31]: 12-19’.
Dialektika FKIP 2, no. 1 (2018): 40–49.
Arsyad, Muhammad. ‘Konsep Manusia Dan Pendidikan Dalam Pandangan Syed Muhammad Naquib Al-Attas: Catatan Awal’. SIASAT 3, no. 2 (2019): 51–59.
https://doi.org/10.33258/siasat.v1i1.29.
Asyari, Hasyim. Adabul Alim Wal Muta’alim. Jombang: Maktabah Tsalasah Islami, 1999.
———. Pendidikan Karakter Khas Pesantren (Adabul Alim Wal Muta’alim). Jombang:
TS Mart, 2010.
Attas, Syed Muhammad Naquib al-. The Concept of Education in Islam, a Frame Work for an Philosopy of Education. Kuala Lumpur: ISTAC, 1995.
Aziz, Azlisham Abdul, Mohd Nor Mamat, Daud Mohamed Salleh, and Syarifah Fadylawaty Syed. ‘Turkish Journal of Computer and Mathematics Education Vol.12 No. 9 (2021), 3152-3159 Research Article’. Turkish Journal of Computer and Mathematics Education 12, no. 9 (2021): 3152–59.
Bagaskara, Roy. ‘Reorientasi Pemikiran Pendidikan Kh. M. Hasyim Asy‘ari: Etika Dalam Pendidikan Islam’. Islamuna: Jurnal Studi Islam 6, no. 2 (10 December 2019): 153. https://doi.org/10.19105/islamuna.v6i2.2545.
Ben-David Kolikant, Yifat, Dragana Martinovic, and Marina Milner-Bolotin, eds.
STEM Teachers and Teaching in the Digital Era: Professional Expectations and Advancement in the 21st Century Schools. Cham: Springer International Publishing, 2020. https://doi.org/10.1007/978-3-030-29396-3.
Budiman, Budiman, Syaiful Anam, and Firmansyah Firmansyah. ‘Karakteristik Peserta Didik Ideal Dalam Perspektif Al-Qur’an Dan Hadist’. At-Turots: Jurnal Pendidikan Islam 3, no. 1 (June 2021): 103–16.
Candra, Wiwin, Ahmad Dibul Amda, and Bariyanto Bariyanto. ‘Peran Guru Dan Akhlak Siswa Dalam Pembelajaran: Perspektif Syekh Az-Zarnuji Kitab Ta’lim Muta’allim’. Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan
Islam 2, no. 2 (10 August 2020): 262–79.
https://doi.org/10.36671/andragogi.v2i2.100.
Daud, Wan Mohd Nor Wan. Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al- Attas Terj The Education Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al-Attas. 2003rd ed. Bandung: Mizan, 2019.
Drajat, Zakiyah. Kepribadian Guru. Jakarta: Bulan Bintang, 2005.
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman
Enteding, Almustari. ‘Peran Guru Dalam Pengembangan Nilai Etika Peserta Didik Di SMP Negeri 4 Batui Kabupaten Banggai’. Jurnal Linier 04, no. 07 (March 2020): 9–15.
Finanti, Asyah, Sri Mulyati, and Afsun Aulia Nirmala. ‘Nilai-Nilai Religius Dalam Novel Merasa Pintar Bodoh Saja tak Punya Karya Rusdi Mathari’. Jurnal Ilmiah
KORPUS 5, no. 2 (31 August 2021): 206–16.
https://doi.org/10.33369/jik.v5i2.16828.
Glickman, Carl, and Rebecca West Burns. ‘Supervision and Teacher Wellness: An Essential Component for Improving Classroom Practice’. Journal of Educational Supervision 4, no. 1 (May 2021): 18–25.
https://doi.org/10.31045/jes.4.1.3.
Halim, Abdul. ‘Pembelajaran Perspektif Al Ghazali Dan Ibnu Miskawaih’. Journal
PIWULANG 1, no. 2 (2019): 156–156.
https://doi.org/10.32478/ngulang.v1i2.232.
Handayani, Titik, and Achmad Fauzi. ‘Konsep Pendidikan Karakter Kh. M. Hasyim Asy‘ari: Studi Kitab Âdâb Al-‘Âlim Wa Al-Muta‘allim’. Islamuna: Jurnal Studi
Islam 6, no. 2 (10 December 2019): 120.
https://doi.org/10.19105/islamuna.v6i2.2285.
Haryanti, Nik. ‘Implementasi Pemikiran Kh. Hasyim Asy’ari Tentang Etika Pendidik’.
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman 8, no. 2 (12 December 2013):
439–50. https://doi.org/10.21274/epis.2013.8.2.439-450.
Hidayatulloh, Muhammad Ridwan, Aceng Kosasih, and Fahrudin Fahrudin. ‘Konsep Tasawuf Syaikh Nawawi Al-Bantani Dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Agama Islam Di Persekolahan’. TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education 2, no. 1 (5 May 2015): 1. https://doi.org/10.17509/t.v2i1.3373.
Khairon, Ishak, Kamarul Azmi Jasmi, and Mohamad Khairul Latif. ‘Thrust of Faith and Manifestations to Faith According to the Qur’an and Hadith: A Study of Content Analysis’. Palarch’s Journal Of Archaeology Of Egypt/Egyptology 18, no. 4 (2021): 295–314.
Kosim, Muhammad, Martin Kustati, and Murkilim Murkilim. ‘Syed Muhammad Naquib Al-Attas’ Ideas on the Islamization of Knowledge and Its Relevance With Islamic Education in Indonesia’. MIQOT: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman 44, no. 2 (2021): 250–250. https://doi.org/10.30821/miqot.v44i2.724.
Lockee, Barbara B. ‘Shifting Digital, Shifting Context: (Re)Considering Teacher Professional Development for Online and Blended Learning in the COVID-19 Era’. Educational Technology Research and Development 69, no. 1 (February 2021): 17–20. https://doi.org/10.1007/s11423-020-09836-8.
Mahmudin, Mahmudin, Zayyadi Ahmad, and Abdul Basit. ‘Islamic Epistemology Paradigm: Worldview of Interdisciplinary Islamic Studies Syed Muhammad Naqueb Al-Attas’. International Journal of Social Science and Religion (IJSSR), no. Query date: 2021-10-12 11:32:46 (2021): 23–42.
https://doi.org/10.53639/ijssr.v2i1.41.
Mahrus, Muhammad Hasan, Sarjuni, and Moh Farhan. ‘Konsep Adab Peserta Didik Dalam Kitab Adabul Alim Wal Muta’allim Karya Ulama Nusantara Kh. Hasyim
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Asy’ari’. Prosiding Konferensi Ilmiah Mahasiswa UNISSULA 2, Oktober 2019, 1419–28.
Mahsun, Moch, and Danish Wulydavie Maulidina. ‘Konsep Pendidikan dalam Kitab Ta’limul Muta’allim Karya Syekh Al-Zarnuji dan Kitab Washoya Al-Aba’ Lil- Abna’ Karya Syekh Muhammad Syakir’. Bidayatuna: Jurnal Pendidikan Guru Mandrasah Ibtidaiyah 2, no. 2 (Oktober 2019): 164–97.
https://doi.org/10.36835/bidayatuna.v2i2.438.
Maimoen, Muh. Najih. Karakter Pendidikan Abuya As-Sayyid Muhammad Alawi Al- Maliki. Rembang: Toko Kitab Al-Anwar 1, 2012.
Ma’rufi, Abdul Madjid. ‘Teacher’ and Student’s Ethical Concept in Al Ghazali’s Prespective’. Journal of Islamic Education and Pesantren 1, no. 1 (2021): 45–
60. https://doi.org/10.33752/jiep.v1i1.1751.
Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2011.
Mubarok, Hayyul. ‘Az-Zarnuji’s Perspective of Islamic Education as Insights in Learning’. AL-FIKRAH: Jurnal Studi Ilmu Pendidikan dan Keislaman 4, no. 1 (30 June 2021): 97–119. https://doi.org/10.36835/al-fikrah.v4i1.113.
Muchlasin, Merri Yulia, Galih Pratama Pratama, and Akhmad Alim. ‘Strengthening the Character Education Based on Syed M. Naquib Al-Attas (a Case of Study of Al- Ishlah Cibinong Junior High School)’. Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 4, no. 01 (28 January 2021): 223.
https://doi.org/10.30868/im.v4i01.923.
Muhaimin, Abdul. ‘Strategi Pendidikan Karakter Perspektif Kh. Hasyim Asy’ari’.
Nidhomul Haq 2, no. 1 (March 2017): 12.
Munandar, Siswoyo Aris, and Rinda Khoirunnisfa. ‘KH Hasyim Asy’ari and the Teacher Code of Ethics: Thought Study KH. Hasyim Asy’ari on Ethics Education and Its Relevance to Modern Education in Indonesia’. Journal
EVALUASI 4, no. 1 (7 March 2020): 114.
https://doi.org/10.32478/evaluasi.v4i1.359.
Muntachobat, Nadatil, Rosichin Mansur, and Yorita Febry Lismanda. ‘Konsep Kompetensi Kepribadian Guru Pendidikan Agama Islam (tela’ah Kitab Ta’lim Al-Muta’allim Karya Az- Zarnuji Dan Kitab Adab Al-‘Alimiwa Al- Muta’allim Karya Kh.hasyim Asy’ari)’ 4 (2019): 9.
Muslim, Muslim, Abdul Hayyie Al-Kattani, and Wido Supraha. ‘Konsep Adab Penuntut Ilmu Menurut Ibn Abd Al-Barr Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Nasional’. Tawazun: Jurnal Pendidikan Islam 10, no. 2 (Desember 2017): 280–
95. https://doi.org/10.32832/tawazun.v10i2.1164.
Muspawi, Mohamad. ‘K.H. Hasyim Asy’ari: The Reformer of Islamic Education of East Java’. Jurnal Pendidikan Islam 7, no. 1 (n.d.): 17.
Nanu, Rafiyanti Paramitha. ‘Syed Muhammad’s thoughts. Naquib Al-Attas on Education in the Modern’. Tarbawi: Jurnal Pendidikan Agama Islam 6, no. 1 (2021): 14–29.
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman
Narvaez, Darcia, and Daniel K. Lapsley. ‘Teaching Moral Character: Two Alternatives for Teacher Education’. The Teacher Educator 43, no. 2 (March 2008): 156–72.
https://doi.org/10.1080/08878730701838983.
Niikko, Anneli. ‘Examining Images of Teacher Students’. European Early Childhood Education Research Journal 28, no. 6 (1 November 2020): 884–97.
https://doi.org/10.1080/1350293X.2020.1836587.
Nurmiati, Nurmiati, Achmad Abubakar, and Aan Parhani. ‘Nilai Tawakal dalam Al- Qur’an’. Palita: Journal of Social Religion Research 6, no. 1 (April 2021): 81–
98. http://10.24256/pal.v6i1.1985.
Nurulhaq, Dadan, Miftahul Fikri, and Shopiah Syafaatunnisa. ‘Etika guru PAI menurut Imam Nawawi (analisis ilmu pendidikan Islam)’. Atthulab: Islamic Religion Teaching and Learning Journal 4, no. 2 (21 November 2019): 133–43.
https://doi.org/10.15575/ath.v4i2.4682.
Prastowo, Agung Ilham, Arham Junaidi Firman, Tri Mulyanto, and Rz. Ricky Satria Wiranata. ‘The Independent Learning Curriculum Concept of Imam Zarkasyi’s Perspective In Pesantren For Facing The Era of Society 5.0’. In Proceedings of the 4th International Conference on Learning Innovation and Quality Education, 1–6. Surakarta Indonesia: ACM, 2020.
https://doi.org/10.1145/3452144.3452147.
Rosidi, Ayep. ‘Niat Menurut Hadis Dan Implikasinya Terhadap Proses Pembelajaran’.
Jurnal Inspirasi 1, no. 1 (June 2017): 39–50.
Sabila, Nur Akhda. ‘Integrasi Aqidah Dan Akhlak (Telaah Atas Pemikiran Al- Ghazali)’. NALAR: Jurnal Peradaban Dan Pemikiran Islam 3, no. 2 (2020): 74–
83. https://doi.org/10.23971/njppi.v3i2.1211.
Sawari, Siti Salwa, and Azlina Mustaffa. ‘Guru Bersahsiah Mulia Menurut Pandang Ibnu Sahnun: Analisa Buku Adab Al Mualimin’ 2, no. 2 (July 2014): 1–10.
Shah, Syed Jawad Ali, and Shuja Ahmad. ‘Al-Ghazali And Hume On Natural Causal Necessity And Miracles’. Al-Idah 39, no. Query date: 2021-10-12 11:32:46 (2021). https://doi.org/10.37556/al-idah.039.01.0702.
Supriyanto, Supriyanto, Elly Malihah, Helius Sjamsudin, and Erlina Wiyanarti. ‘The Educational Thinking of Hasyim Asy’ari about Student Ethics Against to the Teachers in the Digital Era’. In Proceedings of the Proceedings of the 1st International Conference on Business, Law And Pedagogy, ICBLP 2019, 13-15 February 2019, Sidoarjo, Indonesia. Sidoarjo, Indonesia: EAI, 2019.
https://doi.org/10.4108/eai.13-2-2019.2286036.
Sutrisno, Andri. ‘ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN PERSPEKTIF M. NAQUIB AL-ATTAS’. Ar-Risalah: Media Keislaman, Pendidikan Dan Hukum Islam 19, no. 1 (2021): 1–1. https://doi.org/10.29062/arrisalah.v19i1.566.
Tang, Yihe, Weifeng Chen, Yijun Luo, and Yuting Zhang. ‘Humble Teachers Teach Better Students for Semi-Supervised Object Detection’. Cvc Publication (Proceedings), 2021, 3132–41.
Tolchah, Moch. ‘Studi Perbandingan Pendidikan Akhlak Perspektif Al-Ghazāli Dan al- Attas’. EL-BANAT: Jurnal Pemikiran Dan Pendidikan Islam 9, no. 1 (2019):
79–106. https://doi.org/10.54180/elbanat.2019.9.1.79-106.
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Tzifopoulos, Menelaos. ‘School Teachers Dare to Teach Democratically?’ Quest Journals Journal of Research in Humanities and Social Science 9, no. 1 (2021):
12–20.
Vasianovych, Hryhoriy, Galina Shewkun, and Kateryna Latyschevska. ‘Aesthetic Categories “Love”, “Joy” and “Fear” in the Professional Activity of a Teacher’.
Journal of Vasyl Stefanyk Precarpathian National University 8, no. 1 (1 April 2021): 17–23. https://doi.org/10.15330/jpnu.8.1.17-23.
Wahyudi, Muhammad. ‘Konsep Ta’dib Sebagai Alternatif Pendidikan Islam Menurut Syed. M. Naquib Al-Attas’. Jurnal Lughowi; Jurnal Pendidikan Bahasa 2, no.
02 (2021): 60–80.
———. ‘Pendidikan Akhlak Menurut Az-Zarnuji Dalam Kitab Ta’limul Muta’allim’ 1, no. 02 (2020): 38–53.
Walker, Timothy D. Teach Like Finland 33 Strategies For Joyful Classrooms. 2019th ed. London: Pasi Sahlberg, n.d.
Wardan, Khusnul. Guru Sebagai Profesi. Yogyakarta: CV Budi Utama, 2019.
Yusuf, Wiwin Fahrudin, and Moh Badrun Nafi’uddin. ‘Prinsip Kebebasan Belajar Imam Al - Ghazali Dalam Sistem Among Prespektif Ki Hajar Dewantara’.
SAMAWA : Jurnal Hukum Keluarga Islam 1, no. 2 (2021): 133–40.
https://doi.org/10.53948/samawa.v1i2.30.
Zaini, M. Farid. ‘Wajah Bengis Hukum Islam dalam Tafsir Kaum Muslim Radikal’.
Jurnal Kajian Hukum Islam 7, no. 2 (30 September 2020): 107–25.
https://doi.org/10.52166/jkhi.v7i2.19.