• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendalaman Materi Manajemen Limbah Indutri Perikanan

N/A
N/A
Hendicho Muzaky Nurlathif

Academic year: 2023

Membagikan "Pendalaman Materi Manajemen Limbah Indutri Perikanan"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Hendicho Muzaky Nurlathif NIM : 21/474183/PN/17118 Prodi : Teknologi Hasil Perikanan

Pendalaman Materi Manajemen Limbah Indutri Perikanan

1. Konsep Lingkungan Laut

a) Blue Economy

Konsep blue economy pertama kali diperkenalkan oleh ekonom Belgia Gunter Pauli dalam bukunya “The Blue Economy, 10 Years, 100 Innovations, 100 Million Jobs”. Konsep ini menerapkan logika ekosistem, yaitu ekosistem selalu bekerja menuju tingkat efisiensi lebih tinggi untuk mengalirkan nutrien dan energi tanpa limbah untuk memenuhi kebutuhan dasar bagi semua kontributor dalam suatu sistem. Ekonomi biru juga menitikberatkan pada inovasi dan kreativitas, yang meliputi variasi produk, efisiensi sistem produksi, dan penataan sistem manajemen sumber daya. Menurut World Bank, blue economy menyiratkan 'penggunaan sumber daya laut yang berkelanjutan untuk pertumbuhan ekonomi, peningkatan mata pencaharian, dan pekerjaan sambil menjaga kesehatan ekosistem laut. Konsep ekonomi biru berupaya untuk menjamin kelestarian sumber daya dan lingkungan pesisir dan laut serta mendorong pertumbuhan ekonomi di industri kelautan dan perikanan, mengingat Indonesia merupakan negara maritim (Prayuda & Sary, 2019).

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa blue economy adalah upaya memanfaatkan sumber daya berbasis kelautan secara optimal dengan tetap menjaga kelestarian laut agar tercipta pembangunan ekosistem laut yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Pengembangan konsep blue econmy sendiri diperkenalkan dengan dua prinsip. Pertama, efisiensi alam, dimana ekonomi biru meniru ekosistem alam dan ini bekerja sesuai dengan apa yang ditawarkan alam secara efisien, memperkaya daripada menguranginya. Prinsip kedua adalah zero waste, artinya, limbah dari satu sumber dapat menjadi makanan atau sumber energi bagi sumber lain, memungkinkan sistem biologis ekosistem menjadi seimbang dan berkelanjutan (Sari & Muslimah, 2020).

b) Circular Economy

Ekonomi sirkular adalah sistem yang bertujuan untuk memaksimalkan siklus hidup produk mulai dari pemilihan sumber daya, produksi, konsumsi hingga pembuangan dengan mendorong praktik seperti desain tanpa limbah (zero-waste design), menggunakan kembali, memperbaiki dan berbagi sumber daya (Darmastuti, et.al., 2020). Ekonomi sirkular pada prinsipnya berdasarkan pada konsep 3R (Reduce, Reuse Recycle) dengan tingkat produksi optimal dalam memanfaatkan sumber daya alam dengan meminimalkan eksploitasi alam, meminimalkan pencemaran lingkungan, mengurangi kadar emisi dan limbah dengan mengimplementasi-kan konsep yang berkelanjutan (Ilmiah, 2022). Selain itu pada sistem ekonomi sirkular, penggunaan sumber daya, sampah, emisi, dan energi terbuang diminimalisir dengan menutup siklus produksi- konsumsi dengan memperpanjang umur produk, inovasi desain, pemeliharaan, pengunaan kembali, remanufaktur, daur ulang ke produk semula (recycling), dan daur ulang menjadi produk lain (upcycling).

(2)

c) Zero Waste

Zero waste adalah suatu proses dari dimulainya produksi sampai berakhirnya produksi dan dapat meminimalisir terjadinya sampah. Konsep zero waste ini menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Pemikiran konsep zero waste adalah pendekatan serta penerapan sistem dan teknologi pengolahan sampah perkotaan skala individual dan skala kawasan secara terpadu dengan sasaran untuk dapat mengurangi volume sampah seminimal mungkin (Suryanto, dkk., 2005). Pada konsep Zero Waste limbah sudah diminimalisasi, ditekan sedemikian mungkin pada seluruh tahapan produksi, sejak awal proses produksi hingga akhirnya produk tersebut selesai digunakan sehingga limbah yang dihasilkan benar-benar mendekati nilai nol (Widiarti, 2012). Pengelolaan prinsip ini dilakukan dengan pemilahan, pengomposan dan pengumpulan barang layak jual. Zero waste mencakup seluruh kegiatan manusia, sehingga semua bidang kehidupan dan segala aktifitas manusia dapat menerapkan prinsip ini. Manfaat yang diharapakan dari konsepsi Zero Waste ini adalah mampu mendukung keberlanjutan ekonomi, daya dukung lingkungan, dan daya dukung social.

d) Clean Production

Konsep produksi bersih (Cleaner Production) dicetuskan oleh United Nation Environmental Program (UNEP) pada bulan Mei 1989. UNEP menyatakan bahwa produksi bersih merupakan suatu strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif, terpadu dan diterapkan secara kontinu pada proses produksi, produk, jasa untuk meningkatkan ekoefisiensi sehingga mengurangi resiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan (Nugraha & Susanti ,2006). Produksi Bersih juga didefinisikan sebagai suatu tindakan efisiensi pemakaian bahan baku maupun bahan pendukung dengan sasaran peningkatan produktivitas dan minimalisasi residu maupun limbah yang dihasilkan. Tujuan produksi bersih adalah untuk memenuhi kebutuhan kita akan produk secara berkelanjutan dengan menggunakan bahan yang dapat diperbarui, bahan tidak berbahaya, dan penggunaan energi secara efisien dengan tetap mempertahankan keanekaragaman. Sistem produksi bersih berjalan dengan pengurangan penggunaan bahan, air, dan energi. Selain itu, produksi bersih bertujuan untuk mencegah dan meminimalkan terbentuknya limbah atau bahan pencemar lingkungan di seluruh tahapan produksi (Sari et al., 2012). Adapun dalam aplikasinya menggunakan pronsip 5 R (Rethink, Reuse, Reduction, Recovery, Recycling).

2. Contoh Manajemen Limbah Indstri Perikanan

Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya semakin menginovasi masyarakat untuk memanfaatkan limbah industri perikanan menjadi beragam produk, baik untuk kebutuhan manusia (pangan dan nonpangan), pertanian (tumbuhan/tanaman), maupun hewan (pakan).

Limbah industri perikanan (cangkang udang, kepiting, dan rajungan) dapat diolah menjadi kitin dan kitosan sebagai pengawet pangan (bahan antimikroba), serta pelapis benih dan buah. Selain itu, kitin dan kitosan telah diaplikasikan sebagai bahan baku obat dan kosmetik. Di bidang pencemaran lingkungan/badan air, kitin dan kitosan dipakai untuk pejernih air karena memiliki sifat multikationik dalam mengikat senyawa organik dan anorganik yang terlarut dan tersuspensi sehingga mampu mereduksi beban pencemaran air (Sahubawa, 2012)

(3)

Pada konsep inegrasi pertanian, limbah air industri pengolahan dan budi daya perikanan dapat diaplikasikan secara langsung pada area pertanian terpadu sebagai pupuk cair organik karena mengandung hara makro dan mikro. Produk samping berupa kulit dan tulang dari industri perikanan juga dapat digunakan sebagai bahan baku potensial pembuatan gelatin dan kolagen untuk obat-obatan dan kosemtik serta sebagai bahan penstabil makanan (Sahubawa dan Naro, 2010).

Dalam dunia kedokteran dan atau farmasi, gelatin dan kolagen kulit ikan belum banyak diaplikasikan sebagai bahan baku pengganti jaringan ikat babi karena masih terbatas riset aplikatif meskipun memiliki potensi cukup besar sebagai bahan baku maupun potensi pasar yang luas karena pasti mendapat tanggapan positif dari kalangan umat muslim dunia yang menggunakan produk berbahan dasar nonbabi.

Minyak ikan hasil sampingan industri pengolahan tepung ikan serta kulit dan jeroan ikan hasil sampingan industri filet dan loin ikan beku yang mengandung minyak/lemak dalam jumlah besar dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku potensial biodiesel pada skala rumah tangga (Sahubawa dan Ningtyas, 2010; Sahubawa dan Mastori, 2010). Hal menarik lainnya dari pemanfaatan limbah industri perikanan ialah limbah kulit ikan dapat diolah dengan teknologi penyamakan sebagai bahan baku produk kulit komersial (dompet, sepatu, tas, sarung tangan, serta aksesori menarik lainnya) dengan nilai ekonomi yang sangat tinggi.

Limbah jeroan ikan juga dipakai sebagai bahan baku pembuatan pakan atau dedak ikan dan ternak (sapi, kerbau, kambing, domba, ayam, dan itik). Di bidang perikanan, jeroan ikan telah dimanfaatkan secara luas sebagai sumber protein dalam pembuatan pakan ikan dan atau diberikan secara langsung dalam bentuk segar sebagai pakan ikan lele. Pada kondisi harga pakan yang semakin meningkat pada satu sisi dan keterbatasan ekonomi kelompok pembudidaya dalam mendapatkan kualitas pakan yang baik pada sisi lain, limbah jeroan ikan akan menjadi alternatif menarik dalam penyediaan pakan ikan berprotein tinggi (Sahubawa, dkk., 2010).

(4)

DAFTAR PUSTAKA

Darmastuti, R., Intan, P.c. & Syarif, A. 2020. Pendekatan Circular Economy Dalam Pengelolaan Sampah Plastik di Karang Taruna Desa Baros, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang. Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. 1(2) : 1-18.

Ilmiah, D. 2022. Ekonomi Sirkular dan Pembangunan Berkelanjutan. Jejak Pustaka, Yogyakarta.

Nugraha. D.N. & Ina, S. 2006. Studi Penerapan Produksi Bersih (Studi Kasus Pada Perusahaan Pulp And Paper Serang). Jurnal PRESIPITASI, 1(1) : 43-48.

Prayuda, R. & Sary, D. V. (2019). Strategi Indonesia Dalam Implementasi Konsep Blue Economy Terhadap Pemberdayaan Masyarakat Pesisir di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN. Indonesian Journal of International Relations, 3(2), 46-64.

Sari, D. A. A., & Muslimah, S. (2020). Blue economy policy for sustainable fisheries in Indonesia. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 423(1).

Sahubawa, L. 2012. Teknik Analisis Beban Pencemaran Limbah Industri Pengolahan Hasil Perikanan.

Bahan Ajar Manajemen Limbah Industri Perikanan, Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, UGM.

Sahubawa, L. & Indun, P. 2021. Manajemen Limbah Industri Perikanan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Sahubawa, L. dan Ningtyas, D.P. 2010. Pengaruh Penggunaan Katalis Kimia (NaOH) pada Reaksi Transesterifikasi terhadap Kualitas Biodiesel Limbah Minyak Tepung Ikan Sardin. Jurnal Manusia dan Lingkungan. PSLH UGM, Edisi November 2010, 17(3).

Sahubawa, L. dan Mastori, 2010. Pembuatan Biodiesel dari Limbah Minyak Tepung Ikan Sardin dengan Katalis Alami (Abu Ampas Tebu).

Suryanto, A. & Diana, S. (2005). Kajian Potensi Ekonomis dengan Penerapan 3R Pada Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Kota Depok. Proceding, Seminar Nasional Pesat 2005 Auditorium Universitas Gunadarma.

Widiarti, I.W. 2012. Pengelolaan Sampah Berbasis “Zero Waste” Skala Rumah Tangga Secara Mandiri.

Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan. 4(2) : 101-113.

Referensi

Dokumen terkait