Satjipto Raharjo menyatakan bahwa filsafat hukum mempertanyakan pertanyaan tentang hakikat hukum, tentang landasan kekuatan mengikat hukum, yang merupakan contoh dari pertanyaan mendasar tersebut. Gustav Radburch merumuskan secara sederhana bahwa filsafat hukum adalah cabang filsafat yang mempelajari hukum yang sebenarnya, sedangkan Langemeyer mengatakan bahwa filsafat hukum adalah pembahasan filsafat hukum. Lili Rasjidi dalam bukunya Pengantar Filsafat Hukum menuturkan bahwa ia mengambil kesimpulan dari berbagai pendapat tentang apa itu filsafat hukum.
ARISTOTELES
THOMAS AQUINAS = FILSAFAT SCOLASTIKA
Ketiadaan standar atau ukuran kebenaran akan menimbulkan kebingungan yang pada akhirnya menimbulkan ketidakadilan dan keresahan. Bagi masyarakat Indonesia, yang dijadikan acuan kebenaran adalah pandangan hidup Pancasila dan dasar negara. Karena Pancasila dijadikan oleh bangsa Indonesia sebagai sumber nilai atau sebagai nilai sentral dari berbagai nilai. yang tumbuh dan berkembang di masyarakat Indonesia. Sikap dan tindakan yang tidak sesuai atau bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila adalah sikap dan tindakan yang tidak benar dan tidak dibenarkan oleh masyarakat bangsa dan negara Indonesia. Oleh karena itu, berperilaku dan bertindak yang benar merupakan wujud penghayatan nilai-nilai Pancasila dan juga agama.
Sikap dan perbuatan yang benar menurut Pancasila adalah sikap dan perbuatan yang berdasarkan pada 36 butir Pancasila serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing berdasarkan landasan kemanusiaan yang adil dan beradab. Menghargai dan bekerjasama antara pemeluk agama dan penganut agama yang berbeda, sehingga keharmonisan dalam kehidupan dapat terjalin.
Bangsa Indonesia merasa menjadi bagian dari seluruh umat manusia, oleh karena itu telah mengembangkan sikap hormat dan kerjasama dengan bangsa lain. Selain itu kita juga harus menjunjung tinggi kebenaran, menyatakan perbuatan benar sebagai benar dan menyatakan perbuatan salah sebagai salah. Kita bisa melihat perjuangan negara dalam mewujudkan keadilan dan kebenaran dalam berbagai bidang kehidupan, baik dalam kehidupan hukum, sosial, budaya, ekonomi, agama, dan politik.
Selain negara, masyarakat juga berkewajiban memperjuangkan keadilan dan kebenaran, baik demi kepentingan masyarakat yang diperlakukan secara tidak adil dan salah, maupun demi kepentingan masyarakat lainnya.
FILSAFAT PANCASILA
Pengertian Filsafat dan Filsafat Pancasila 2. Pancasila sebagai suatu sistem filsafat
Ontologi Pancasila
Epistemologi Pancasila 23. Aksiologi Pancasila
Pancasila sebagai Ideologi Bangsa dan Negara
Pancasila sebagai Dasar Negara
Istilah 'filsafat' secara etimologis setara dengan kata falsafah (Arab) dan filsafat (Inggris) yang berasal dari bahasa Yunani (philosophia). Pancasila dapat digolongkan sebagai filsafat dalam arti produk, sebagai pandangan hidup, dan dalam arti praktis. Artinya, falsafah Pancasila mempunyai fungsi dan peranan sebagai pedoman dan pedoman dalam bersikap, berperilaku, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari, dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara bagi bangsa Indonesia.
Pancasila sebagai filsafat memuat pandangan, nilai dan pemikiran yang dapat menjadi substansi dan isi terbentuknya ideologi Pancasila. Filsafat Pancasila secara singkat dapat diartikan sebagai refleksi kritis dan rasional terhadap Pancasila sebagai dasar negara dan realitas kebudayaan nasional, dengan tujuan mencapai titik pemahaman yang mendasar dan menyeluruh. Pancasila dikatakan filsafat karena Pancasila merupakan hasil renungan batin mendalam yang dilakukan oleh pendiri kita yang dituangkan dalam suatu sistem (Ruslan Abdul Gani).
Metode deduktif yaitu dengan mencari hakikat Pancasila dan menganalisis serta menyusunnya secara sistematis menjadi suatu pandangan yang komprehensif dan menyeluruh. Yang dimaksud dengan sistem adalah suatu kesatuan dari bagian-bagian yang saling berhubungan, bekerja sama untuk suatu tujuan tertentu dan secara keseluruhan membentuk satu kesatuan yang utuh. Oleh karena itu Pancasila sebagai suatu sistem filsafat mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan sistem filsafat lainnya, seperti materialisme, idealisme, rasionalisme, liberalisme, komunisme dan sebagainya.
Dengan kata lain, jika tidak bulat dan utuh, atau jika satu sila dipisahkan dengan yang lain, maka ia bukanlah Pancasila.
Susunan Pancasila dengan suatu sistem yang bulat dan utuh itu dapat digambarkan sebagai berikut
Membahas Pancasila sebagai Filsafat berarti mengungkapkan konsep-konsep kebenaran Pancasila yang tidak hanya ditujukan kepada masyarakat Indonesia saja, namun juga kepada masyarakat pada umumnya.
Landasan Ontologis Pancasila
Secara ontologis, kajian Pancasila sebagai filsafat dimaksudkan sebagai upaya memahami hakikat dasar sila Pancasila. Pancasila terdiri dari lima sila, masing-masing sila bukanlah suatu sila yang berdiri sendiri, melainkan mempunyai landasan ontologis yang terpadu. Landasan ontologis Pancasila pada hakikatnya adalah manusia yang mempunyai hakikat mutlak yaitu monopluralisme atau monodualisme, oleh karena itu disebut juga landasan antropologis.
Hal ini dapat dijelaskan oleh mereka yang beriman kepada Yang Maha Esa, mereka yang adil dan beradab, mereka yang bersatu, mereka yang memiliki orang-orang yang berpedoman pada kebijaksanaan dalam musyawarah/perwakilan, dan mereka yang memiliki keadilan sosial, pada dasarnya adalah rakyat. Sedangkan sebagai pendukung sila-sila Pancasila, masyarakat menganut hal-hal yang bersifat mutlak secara ontologis, yaitu tersusun atas susunan alam, jiwa dan raga, jasmani dan rohani. Hakikat hakikat manusia adalah sebagai wujud individu dan wujud sosial, serta wujud pribadi dan wujud Tuhan Yang Maha Esa.
Negara sebagai pendokong hubungan, manakala Tuhan, manusia, satu, rakyat dan keadilan adalah asas hubungan. Dasar sila Pancasila, yaitu Tuhan, manusia, yang satu, rakyat dan keadilan adalah sebab, dan negara adalah akibatnya.
Landasan Epistemologis Pancasila
Tentang sumber pengetahuan manusia;
Tentang teori kebenaran pengetahuan manusia;
Tentang watak pengetahuan manusia
Secara epistemologis, kajian Pancasila sebagai suatu filsafat dimaksudkan sebagai upaya menemukan hakikat Pancasila sebagai suatu sistem ilmu pengetahuan. Pancasila sebagai objek ilmu pengetahuan pada hakikatnya mencakup persoalan sumber ilmu pengetahuan dan susunan ilmu pancasila. Adapun sumber ilmu Pancasila sebagaimana kita pahami bersama adalah nilai-nilai yang ada dalam diri bangsa Indonesia sendiri.
Mengenai susunan Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan, Pancasila mempunyai struktur logis formal, baik dari segi susunan sila-sila Pancasila maupun makna dari sila-sila Pancasila. Sifat hierarki dan bentuk piramida terlihat pada struktur Pancasila, dimana sila pertama Pancasila mendasari dan menjiwai empat sila lainnya, sila kedua berdasarkan sila pertama dan melandasi serta menjiwai sila ketiga, keempat, dan kelima. sila ketiga mendasari dan meresapi sila pertama dan kedua, serta mendasari dan menjiwai sila keempat dan kelima, sila keempat mendasari dan meresapi sila pertama, kedua, dan ketiga, serta melandasi dan meresapi sila kelima, sila sila kelima didasarkan dan meliputi sila pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Kandungan makna Pancasila yang bersifat umum dan universal yaitu hakikat sila Pancasila yang merupakan hakikat Pancasila, sehingga.
Isi arti Pancasila yang umum universal, yaitu hakikat sila- sila Pancasila yang merupakan inti sari Pancasila sehingga
Isi arti Pancasila yang umum kolektif, yaitu isi arti Pancasila sebagai pedoman kolektif negara dan bangsa
Isi arti Pancasila yang bersifat khusus dan konkrit, yaitu isi arti Pancasila dalam realisasi praksis dalam berbagai
Menurut Pancasila, hakikat manusia bersifat monopluralistik, yaitu hakikat manusia yang mempunyai unsur dasar susunan alam yang terdiri atas jiwa dan raga. Hakekat jiwa mempunyai unsur akal, perasaan, kemauan yang merupakan sumber potensial kreativitas manusia, melahirkan pengetahuan sejati berdasarkan daya ingat, perseptif, berpikir kritis dan kreatif. Landasan rasional dan logis Pancasila menyangkut kualitas dan kuantitasnya, serta kandungan makna Pancasila.
Manusia pada hakikatnya mempunyai kedudukan dan kodratnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, sehingga menurut sila pertama Pancasila, epistemologi Pancasila juga mengakui kebenaran wahyu yang mutlak. Dengan demikian kebenaran dan pengetahuan manusia merupakan sintesa harmonis antara potensi psikologis manusia yaitu akal, perasaan dan kemauan manusia untuk mencapai kebenaran yang tinggi. Selain itu, epistemologi Pancasila pada sila ketiga, keempat, dan kelima mengakui kebenaran konsensus, khususnya mengenai hakikat hakikat manusia sebagai makhluk individu dan sosial.
Sebagai suatu konsep epistemologis, Pancasila didasarkan pada pandangan bahwa ilmu pengetahuan pada hakikatnya tidak bebas nilai karena harus ditempatkan dalam kerangka moralitas kodrat manusia dan moralitas agama dalam upaya mencapai tingkat pengetahuan yang mutlak dalam kehidupan manusia.
Landasan Aksiologis Pancasila
Filsafat Pancasila menyatakan bahwa ada tiga tingkatan nilai, yaitu nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praktis. Nilai dasar adalah prinsip yang kita terima sebagai hal yang mutlak, sebagai sesuatu yang benar atau tidak perlu dipertanyakan lagi. Nilai-nilai dasar Pancasila adalah nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kemanusiaan dan nilai keadilan.
Nilai instrumental adalah nilai yang berupa norma sosial dan norma hukum yang selanjutnya akan dikristalisasi dalam peraturan dan mekanisme lembaga negara. Nilai inilah yang menjadi tolok ukur apakah nilai fundamental dan nilai instrumental benar-benar hidup dalam masyarakat. Secara aksiologis, bangsa Indonesia adalah pendukung nilai-nilai Pancasila (penganut nilai-nilai Pancasila), yaitu bangsa yang bertakwa, berkemanusiaan, bersatu, demokratis, dan berkeadilan sosial.
Pengakuan, penerimaan, dan penghayatan terhadap nilai-nilai Pancasila terlihat dari sikap, perilaku, dan tindakan masyarakat Indonesia sehingga mencerminkan ciri khas masyarakat Indonesia.
PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI BANGSA DAN NEGARA
- Dimensi Realitas: nilai yang terkandung dalam dirinya, bersumber dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, terutama pada waktu
- Dimensi idealisme: ideologi itu mengandung cita-cita yang ingin diicapai dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat,
- Dimensi fleksibilitas: ideologi itu memberikan penyegaran, memelihara dan memperkuat relevansinya dari waktu ke waktu
- Etika bersifat absolute, tdk dpt ditawar-2
- Etika memandang manusia dr segi dalam (batiniah) Etiket memandang manusia dr segi luar (lahiriah)
Gunawan Setiardja merumuskan ideologi sebagai seperangkat gagasan dasar tentang manusia dan segala realitas yang menjadi pedoman dan cita-cita hidup. Ciri-cirinya: merupakan cita-cita sekelompok orang untuk mengubah dan memperbaharui masyarakat; atas nama ideologi, pengorbanan yang dilakukan terhadap masyarakat dibenarkan; isinya tidak hanya terdiri dari nilai-nilai dan cita-cita tertentu, tetapi terdiri dari persyaratan operasional yang konkrit dan keras, yang dikedepankan secara mutlak. Ciri-cirinya: bahwa nilai-nilai dan cita-cita tidak dapat dipaksakan dari luar, tetapi digali dan diadopsi dari moral dan budaya masyarakat itu sendiri; landasannya bukanlah keyakinan ideologis sekelompok orang, melainkan hasil musyawarah untuk mufakat masyarakat; Nilai-nilai tersebut bersifat fundamental, hanya bersifat umum saja, sehingga tidak operasional secara langsung.
Menurut Ramlan Surbakti (1999), fungsi utama ideologi dalam masyarakat ada dua, yaitu: sebagai tujuan atau cita-cita yang harus dicapai bersama oleh suatu masyarakat, dan sebagai pemersatu masyarakat dan oleh karena itu sebagai tata cara penyelesaian konflik yang terjadi. di masyarakat. Pancasila sebagai ideologi mengandung nilai-nilai yang berakar pada pandangan hidup dan falsafah nasional bangsa. Dimensi realitas : nilai-nilai yang terkandung dalam diri, bersumber dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, terutama ketika nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, terutama ketika ideologi muncul, sehingga benar-benar dirasakan dan dihargai. nilai-nilai yang menjadi landasan mereka bersama.
Dimensi Idealisme: Ideologi memuat cita-cita yang ingin dicapai dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, yang ingin dicapai dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tekad untuk memperkuat kesadaran akan nilai-nilai dasar Pancasila yang abadi dan keinginan untuk berkembang secara kreatif dan dinamis untuk mencapai tujuan nasional. Arti penting Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia adalah nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi Pancasila merupakan cita-cita normatif bagi penyelenggaraan negara.
Pancasila sebagai ideologi nasional, selain berfungsi sebagai cita-cita normatif penyelenggaraan negara, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan nilai-nilai yang disepakati bersama, oleh karena itu juga berfungsi sebagai alat pemersatu masyarakat, membawa berbagai kelompok dalam masyarakat dapat bersatu. . di Indonesia.
FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA
PEMBUKAAN UUD1945
FUNGSI DAN KEDUDUKAN PEMB.UUD 1945
TATA URUTAN PER-UU-AN
KONSTRUKSI DASAR TERTIB HUKUM INDONESIA
HUBUNGAN PEMB.UUD45 DG HUKUM POSITIF
KONSEKUENSI
KESIMPULAN