• Tidak ada hasil yang ditemukan

tujuan pembelajaran sejarah di sekolah adalah

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "tujuan pembelajaran sejarah di sekolah adalah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PENDAHULUAN

Pada dasarnya manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha sengaja dan terencana yang dilakukan untuk membantu mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran. Sistem pendidikan nasional ditujukan untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini dapat dilihat dari isi pembukaan UUD 1945 alinea IV yang menegaskan bahwa salah satu tujuan bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. (UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003).

Lebih lanjut dijelaskan dalam Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan nasional adalah “Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, serta berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut tidak lah mudah, berbagai usaha telah dilakukan pemerintah, baik untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas pendidikan seperti pengembangan kurikulum, membangun ruang belajar, memberikan pelatihan- pelatihan khusus kepada guru agar dapat kualitasnya dalm mengajar. Selain itu pihak sekolah juga melakukan berbagai upaya dalam rangka meningkatkan kualitas belajar peserta didik, diantaranya melalui usaha menyediakan buku- buku di perpustakaan, dan menyediakan alat pembelajaran yang dapat menunjang proses belajar mengajar kearah yang lebih baik.

Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional maka terlihat pendidikan itu bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa. Mata pelajaran Sejarah adalah salah satu mata pelajaran di Sekolah Menegah Atas (SMA) yang mendorong siswa berpikir kritis- analitis dalam memanfaatkan pengetahuan tentang masa lampau untuk memahami kehidupan masa kini dan yang akan datang, memahami bahwa sejarah merupakan bagian dari kehidupan sehari- hari, mengembangkan kemampuan intelektual dan keterampilan untuk memahami proses perubahan dan keberlanjutan masyarakat. Hal ini sesuai dengan tujuan mata pelajaran Sejarah. Berdasarkan KTSP,

tujuan pembelajaran sejarah di sekolah adalah sebagai berikut:

Agar siswa memperoleh kemampuan berpikir historis dan pemahaman sejarah. Melalui pembelajaran sejarah siswa mampu mengembangkan kompetensi untuk berpikir secara kronologis dan memiliki pengetahuan tentang masa lampau yang dapat digunakan untuk memahami dan menjelaskan proses perkembangan dan perubahan masyarakat serta keragaman sosial budaya dalam rangka menemukan dan menumbuhkan jati diri bangsa di tengah-tengah kehidupan masyarakat dunia. Agar siswa menyadari adanya keragaman pengalaman hidup pada masing- masing masyarakat dan adanya cara pandang yang berbeda terhadap masa lampau untuk memahami masa kini dan membangun pengetahuan serta pemahaman untuk menghadapi masa yang akan datang.

Untuk mencapai tujuan pembelajaran sejarah tersebut salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam pembelajaran sejarah adalah motivasi siswa. Motivasi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh besar terhadap kesuksesan dalam belajar. Siswa yang motivasinya tinggi di duga akan mendapatkan hasil belajar yang sempurna.

Pentingnya motivasi dalam belajar terbentuk agar terjadi perubahan belajar yang positif, dibandingkan dengan siswa yang kurang termotivasi dalam belajar.

Hal ini sesuai dengan apa yang di ungkapkan oleh Sardiman (2004:84), bahwa motivasi dapat memberi dorongan kepada siswa untuk lebih semangat dan aktif dalam pembelajaran agar tercapai tujuan belajar.

Siswa akan berhasil belajar bila pada dirinya ada keinginan untuk belajar. Menurut Sardiman (2004:3), motivasi belajar meliputi dua hal yaitu mengetahui apa yang akan di pelajari dan memahami mengapa hal tersebut patut di pelajari. Dua unsur motivasi tersebut dapat dijadikan sebagai dasar pemulaan yang baik untuk belajar. Sedangkan menurut badan penelitian pengembangan pendidikan (2003) mengenai motivasi siswa dalam belajar dapat dilihat sebagai berikut (a). Mendengarkan guru; (b).

Menulis/ Mencatat; (c). Memperhatikan; (d).

Mengunakan buku cetak sebagai sumber belajar; (e).

Menjawab pertanyaan; (f). Bertanya; (g). Berdiskusi;

(h). Mengerjakan tugas; (i). Membuat ringkasan pelajaran.

Beradasarkan pengamatan awal yang penulis lakukan di SMAN 2 Koto XI Tarusan pada semester ganjil 2012/2013 pada mata pelajaran sejarah, masih terlihat rendahnya motivasi siswa dalam pembelajaran sejarah. Dari hasil pengamatan penulis

(3)

pada waktu itu terlihat rendahnya motivasi belajar siswa dalam pembelajaran sejarah, hal ini bisa dilihat banyaknya siswa yang meribut saat guru menerangkan pelajaran, apabila diberi kesempatan untuk bertanya hanya 1 dan 2 yang mau bertanya.

Pada saat proses pembelajaran berlangsung banyak siswa yang tidak mencatat materi pembelajaran pada hari itu. Selama pengamatan dan pengalaman penulis juga melihat adanya siswa yang mengerjakan tugas dengan melihat punya temannya. Dalam keadaan lingkungan sekolah yang nyaman dan dilengkapi sarana dan prasarana belajar seharusnya siswa mempunyai motivasi untuk belajar. Namun dalam kenyataannya terlihat motivasi belajar siswa khususnya dalam pembelajaran Sejarah masih kurang. Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan tentang, Motivasi Siswa Kelas XI Dalam Pembelajaran Sejarah di SMAN 2 Koto XI Tarusan.

Penelitian ini lebih memfokuskan tentang, memperhatikan, mendengarkan, membaca buku cetak, mencatat, bertanya, menjawab, berdiskusi, dan membuat tugas.

Sesuai dengan yang diuraikan dalam pembatasan masalah, maka yang akan diungkap dalam perumusan masalah adalah Bagaimana gambaran motivasi siswa dalam pembelajaran sejarah di kelas XI IPS 1 SMA N 2 Koto XI Tarusan ?

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran motivasi siswa kelas XI IPS 1 dalam pembelajaran Sejarah di SMAN 2 Koto XI Tarusan.

Dengan dirumuskannya tujuan penelitian diatas, maka manfaat penelitian ini diharapkan sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai motivasi belajar peserta didik dalam bidang pendidikan.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Penulis, sebagai syarat untuk mendapat gelar sarjana pendidikan.

b. Bagi Guru, sebagai masukan dalam membantu motivasi belajar peserta didik sehingga mencapai belajar yang efektif.

c. Bagi peserta didik, memperoleh pemahaman dan dapat meningkatkan motivasi belajar.

3. Manfaat Akademis

Sebagai referensi bagi penulis lain yang tertarik untuk melihat masalah yang berkaitan dengan motivasi belajar.

Motivasi dalam belajar adalah suatu perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai oleh timbulnya perasaan dan reaksi yang mencapai tujuan. Motivasi memiliki komponen dalam dan komponen luar. Ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk meninjau dan memahami motivasi, ialah (1). Motivasi dipandang sebagai suatu proses.

Pengetahuan tentang proses ini dapat membantu guru menjelaskan tingkah laku yang diamati dan meramalkan tingkah laku orang lain; (2).

Menentukan karakteristik proses ini berdasarkan petunjuk- petunjuk tingkah laku seseorang. Petunjuk- petunjuk tersebut dapat dipercaya apabila tampak kegunaannya untuk meramalkan dan menjelaskan tingkah laku lainnya.

Menurut Donald (1959) merumuskan bahwa

“Motivation is an energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction”. Yang diartikan, bahwa motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Motivasi siswa dalam belajar menurut badan penelitian pengembangan pendidikan (2003) dapat dilihat sebagai berikut (a).

Mendengarkan guru; (b). Menulis/ Mencatat; (c).

Memperhatika; (d). Mengunakan Buku Cetak sebagai sumber belajar; (e). Menjawab pertanyaan; (f).

Bertanya; (g). Berdiskusi; (h). Mengerjakan tugas;

(i). Membuat ringkasan pelajaran.

Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah:

Skripsi Eliya Eka Putri, Motivasi Siswa dalam Pembelajaran IPS di SMPN 2 Bonjol kabupaten Pasaman. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih ada sebagian siswa yang memiliki motivasi yang rendah dalam pembelajaran IPS, terlihat dari sebagian siswa belum mengerjakan tugas. Batasan masalah dalam penelitian ini adalah motivasi siswa kelas VII dalam pembelajaran IPS di SMPN 2 Bonjol Kabupaten Pasaman dilihat dari ketekunan, kemandirian dan keterampilan siswa dalam belajar.

Skripsi Erma Suryani, Faktor yang mempengaruhi Motivasi Belajar Anak Terhadap Pelajaran IPS kelas IV SDN 09 Kayutanam Padang Pariaman. Masalahnya adalah kurangnya motivasi siswa dalam belajar IPS di sebabkan karena letak sekolah dekat dengan objek wisata.

Selanjutnya hasil penelitian Elda Nengsih, 2012 yang berjudul: Pengaruh Motivasi dan Tingkat Pendapatan Orang Tua Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS di SMPN 2 Batang Anai Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang

(4)

Pariaman. Hasil penelitian ini mengungkapkan, (1).

Terdapatnya pengaruh yang signifikan dan positif antara motivasi orangtua terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS di SMPN 2 Batang Anai, (2). Terdapatnya pengaruh signifikan dan positif antara pendapatan orang tua terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS di SMPN 2 Batang Anai, (3). Terdapatnya pengaruh yang signifikan dan positif antara motivasi orang tua dan pendapatan orang tua secara bersama-sama terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS di SMPN 2 Batang Anai.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian yang dilakukan berbentuk metode study evaluasi analisis kualitatif. metode penelitian Studi evaluative dengan analisis kualitatif karena penelitian ini berusaha mendeskriptifkan atau memberi gambaran mengenai motivasi siswa Kelas XI IPS di SMAN 2 Koto XI Tarusan. Hal ini sejalan dengan pendekatan Stuffiebeam (1971:233), metode study evaluatif itu sebagai proses mengambarkan, memperoleh dan menyajikan informasi/ data yang berguna untuk merumuskan suatu keputuasan.

Sedangkan Farida Yusuf Tayibnasps (2008:21), metode study evaluatif adalah mengamati dan berbicara dengan audiens yang releva dengan cara melakukan observasi dan wawancara.

Tempat penelitiannya adalah SMAN 2 Koto XI Tarusan. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas XI IPS SMAN 2 Koto XI Tarusan. Waktu penelitian ini akan berlangsung pada tahun ajaran 2013-2014.

Untuk menguji data agar dapat dipercaya maka peneliti melakukan observasi, Menurut Nawawi dan Martini Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap unsusr- unsur yang tampak dalam suatu gejala atau gejala- gejala dalam objek penelitian. Dalam penelitian ini peneliti mengunakan teknik observasi pertisipasi.

Dalam penelitian ini peneliti merupakan instrumen utama dalam melakukan observasi dilapangan dengan mengunakan format observas sebagai instrumen untuk mencari data dan mengumpulkan data tentang motivasi siswa dalam pembelajaran sejarah di SMAN 2 Koto XI Tarusan. Teknik observasi ini untuk melihat perilaku kegiatan belajar siswa pada mata pelajaran sejarah, dengan begitu peneliti bisa langsung melihat dan mengamati motivasi siswa pada mata pelajaran sejarah di SMAN 2 Koto XI Tarusan.

Dan wawancara, Wawancara merupakan percakapan tatapan muka (face to face) antara pewawancara dengan responden, dimana pewawancara bertanya

langsung tentang suatu objek yang diteliti dan telah dirancang sebelumnya ( Yusuf, 2005:278). Tujuan dari wawancara ini untuk mendapatkan keterangan tentang baaimana motivasi siswa dalam pembelajaran sejarah di SMAN 2 Koto XI Tarusan. Wawancara ini peneliti lakukan dengan guru dan siswa, dimana wawancara dengan guru berujuan untuk mengetahui lebih dalam motivasi siswa dalam belajar, sedangkan wawancara dengan siswa bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara belajar yang dilakukan guru dalam proses belajar mengajar sejarah.

Teknik analisis data dalam penelitian ini mengunakan teknik analisis interaktif yang dikemungkakan oleh Miles dan Huberman. Menurut Iskandar (2009:222) teknik analisis interaktif ini sangat umum digunakan dengan langkah- langkah sebagai berikut:

1. Pengumpulan Data

Data yang peneliti ambil adalah data yang dikumpulkan dari berbagai sumber yang melalui observasi dan wawancara dengan guru dan siswa kelas XI IPS di SMA N 2 Koto XI Tarusan, yang berkaitan dengan motivasi siswa dalam pembelajaran sejarah.

2. Reduksi Data

Setelah peneliti melakukan pengumpulan data maka langkah selanjutnya yang peneliti lakukan adalah mereduksi data, yang mana pada tahap ini peneliti harus merekap semua data dilapangan dalam bentuk catatan- catatan dan memilih hal- hal yang pokok dan penting. Data yang peneliti dapat dilapangan masing- masing diseleksi agar relevan dengan apa yang diteliti. Reduksi data berlangsung selama peneliti berada dilapangan sampai laporan selesai.

3. Display Data (penyajian data)

Dalam suatu penyajian data, penulis menganalisis data dengan pendekatan kualitatif, analisis dengan cara menentukan persentase setiap motivasi yang diamati dengan mengunakan teknik persentase yang dikemukakan oleh Arikunto (2008:41).

4. Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan dipenelitian ini yaitu kesimpulan mengenai motivasi siswa dalam pembelajaran sejarah di SMA N 2 Koto XI Tarusan.

PEMBAHASAN

(5)

Berdasarkan temuan di lapangan, dalam lima kali pertemuan diperoleh data mengenai gambaran motivasi siswa pada setiap kegiatan, yaitu; 1) kegiatan mendegarkan guru dikategorikan rendah, 2) kegiatan memperhatikan dikategorikan rendah, 3) kegiatan membaca dikategorikan sangat rendah, 4) kegiatan mencatat dikategorikan sangat rendah, 5) kegiatan bertanya di kategorikan sangat rendah, 6) kegiatan menjawab dikategorikan sangat rendah, 7) pada kegiatan membuat tugas dikategorikan sedang, dan 8) pada kegiatan berdiskusi dikategorikan sangat rendah. Dari gambaran tersebut terlihat bahwa, kegiatan yang banyak pada setiap pertemuan adalah kegiatan membuat tugas hal tersebut dikarenakan kegiatan tersebut berkaitan dengan nilai.

Gambaran motivasi belajar siswa pada pembelajaran sejarah yang akan peneliti teliti adalah siswa di kelas XI IPS 1 SMA N 2 Koto XI Tarusan.

Sebagai aspek psikis motivasi sangat sulit untuk diketahui secara langsung. Motivasi hanya dapat diketahui melalui perwujudan dari sikap individu terhadap hal atau tingkah laku. Sebagai perwujudan dari sikap motivasi siswa dalam proses pembelajaran sejarah terlihat dalam indikator motivasi yaitu kecendrungan yang menetap yang dilihat dari kegiatan pembelajaran yaitu kegiatan memperhatikan, mendengarkan, membaca buku cetak, mencatat, bertanya, menjawab, membuat tugas dan berdiskusi . Untuk lebih jelasnya hasil penelitian dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Memberikan reaksi dalam mendengarkan guru

Pertemuan pertama pada tanggal 20 November 2013,berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan mendengarkan pada setiap kali pertemuan adalah, pertemuan pertama sebanyak 25 orang (73,52%), pertemuan kedua 20 orang (57,14%), pertemuan ketiga 10 orang (32,25%), pertemuan keempat 11 orang (35,48%) dan pertemuan kelima 15 orang (42,85%). Setelah diolah data lebih lanjut ternyata siswa yang tidak konsisten dalam lima kali pertemuan yang peneliti lakukan sebanyak 20 orang siswa dan 15 orang siswa yang selalu konsisten memperhatikan dari 35 siswa.

Berdasarkan hal tersebut motivasi siswa dalam mendengarkan pelajaran sejarah terlihat masih kurang. Setelah dilakukan wawancara kurangnya motivasi siswa dalam kegiatan mendengarkan dalam pembelajaran sejarah siswa merasa bosan dengan cara guru mengajar. Dari hasil wawancara dengan salah seorang siswa yaitu Ardison, yang menyebutkan bahwa:

“Kami kurang memahami pelajaran sejarah, karenanya kami kurang menyukai pelajaran ini. Salah satu penyebab kurang sukanya kami terhadap pelajaran sejarah adalah disebabkan cara guru menyampaikan materi pelajaran tidak menarik motivasi kami terhadap mata pelajaran ini. Biasanya dalam kegiatan pembelajaran sejarah ini, guru lebih banyak mengajar dengan cara berceramah saja, sehingga kami merasa jenuh untuk mendengar ceramah guru.” (Wawancara dengan Ardison pada tanggal 20 November 2013).

b. Memberikan reaksi dalam memperhatikan Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan memperhatikan penjelasan guru pada setiap kali pertemuan adalah, memperhatikan penjelasan guru pertemuan pertama 10 orang (32,25%), pertemuan kedua 12 orang (38,70), pertemuan ketiga 10 orang (25,80), pertemuan keempat 13 orang (41,93) dan pertemuan kelima 15 orang (48,38%).

Kegiatan memperhatikan merupakan hal yang penting dalam kegiatan pembelajaran. Setiap siswa diharapkan untuk memperhatikan guru menerangkan pelajaran di depan kelas. Apabila siswa tidak memperhatikan penjelasan guru dengan baik, akan menyebabkan siswa tidak mengerti apa yang disampaikan guru. Dari hasil wawancara dengan guru bidang studi sejarah yang mengajar di kelas XI IPS 1, yaitu Bapak Syahrijal, yang menjelaskan bahwa:

“Pada saat bapak menerangkan pembelajaran di lokal XI IPS 1, sebagian besar siswa banyak yang tidak memperhatikan penjelasan bapak, walaupun telah berkali-kali bapak tegur, namun hal tersebut masih sering mereka lakukan. Berbagai upaya telah bapak coba untuk menumbuhkan motivasi mereka terhadap pelajaran sejarah ini, namun hal itu belum membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan. “ (Wawancara dengan bapak syahrijal pada tanggal 20 November 2013).

Selanjutnya wawancara dengan salah seorang siswa yaitu Bayu Arahman, yang menjelaskan bahwa:

“Pelajaran sejarah itu kurang menarik bagi kami, sehingga kami malas untuk memerhatikan penjelasan-penjelasan guru seputar materi yang diajarkan. Penyebabnya guru kurang bisa menarik perhatian kami untuk memperhatikan penjelasan seputar materi yang diajarkan dan terlalu cepat dalam penyampaiannya. Karenanya, pada setiap dilaksanakannya proses pembelajaran, kami banyak tidak memperhatikan dan kami asyik dengan kegiatan-kegiatan lain yang tidak ada kaitannya

(6)

dengan pelajaran tersebut.” (Wawancara dengan Bayu Arahman pada tanggal 4 Desember 2013).

Hal yang berlawanan disampaikan oleh rani amelia miranda, yang menjelaskan bahwa:

“Tidak seluruh kami di dalam kelas ini yang dikategorikan siswa bandel dan banyak bermasalah, karena didalam lokal ini masih banyak juga kami yang betul-betul serius untuk mengikuti seluruh kegiatan pembelajaran, termasuk dengan pembelajaran sejarah.

Memang ada sebagian teman yang tidak mau mengikuti dengan serius penjelasan guru terhadap materi pelajaran yang diajarkan, namun sebagian lainnya tetap serius dan bahkan memberi pertanyaan pada guru apabila ada keterangan guru yang tidak mereka pahami tentang pelajaran yang diajarkan. Hal tersebut membuktikan bahwa, di lokal ini siswa juga termotivasi terhadap pelajaran sejarah.”

(Wawancara dengan Rani Amelia Miranda pada tanggal 4 Desember 2013).

c. Memberikan reaksi dalam membaca

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan membaca pada setiap kali pertemuan adalah membaca buku sebelum proses pembelajaran dimulai pertemuan pertama sebanyak 5 orang (16,12%), pertemuan kedua 4 orang (12,90%), pertemuan ketiga 6 orang (19,35%), pertemuan keempat 0 orang (0%), dan pertemuan kelima 2 orang (6,45%), kemudian yang membaca catatan pertemuan pertama sebanyak 2 orang (6,45%), pertemuan kedua 4 orang (12,90%), pertemuan ketiga 0 orang (0%), dan pertemuan kelima sebanyak 1 orang (3,22%).

Dari hasil wawancara dengan salah seorang siswa yaitu Rama Juwita, yang menyebutkan bahwa:

“Pelajaran sejarah ini kurang menarik bagi kami, karenanya kami malas untuk membaca dan mempelajari buku-buku pelajaran yang berhubungan dengan materi pelajaran sejarah ini.

Penyebab utama dari malasnya kami membaca buku-buku pelajaran sejarah ini adalah disebabkan materinya kurang menarik dan menyebabkan kami jenuh untuk mempelajarinya di tambah metode yang digunakan guru tidak bervariasi guru hanya menggunakan metode ceramah . Karenanya buku mata pelajaran sejarah lebih banyak hanya dijadikan bantal daripada dibaca. Oleh sebab itu sebagian besar siswa yang memiliki buku mata pelajaran ini kelihatan bukunya masih rapi dari awal belajar sampai dilaksanakannya ujian semester.” (Wawancara

dengan Rama Juwita pada tanggal 4 Desember 2013)

d. Memberikan reaksi dalam mencatat

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan mencatat pada setiap kali pertemuan adalah pertemuan pertama 4 orang (12,90%), pertemuan kedua 5 orang (16,12%), pertemuan ketiga 8 orang (25,80%), pertemuan keempat 2 orang (6,45%) dan pertemuan kelima 5 orang (16,12%).

Rendahnya motivasi siswa dalam kegiatan mencatat disebabkan karena siswa beranggapan bahwa mereka sudah mempunyai buku pegangan yang dianjurkan guru sehingga menyebabkan siswa malas untuk mencatat. Sesuai dengan hasil wawancara dengan salah seorang siswa yaitu, Rendi Saputra, yang menyebutkan bahwa:

“Mata pelajaran sejarah merupakan mata pelajaran yang membosankan oleh sebahagian besar siswa di lokal ini. Karena kurang tertariknya kami terhadap pelajaran ini, maka kami malas untuk mencatat penjelasan guru tentang materi yang diajarkan. Oleh sebab itu sebahagian kami lebih mengandalkan buku-buku pegangan sebagai sumber pelajaran yang kami harus pelajari.”

(Wawancara dengan Rendi Saputra pada tanggal 4 Desember 2013).

e. Memberikan reaksi dalam Bertanya.

Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan bertanya pada setiap kali pertemuan adalah, bertanya kepada guru pada pertemuan pertama sebanyak 2 orang (6,45%), pertemuan kedua 0 orang (0%), pertemuan ketiga 2 orang (6,45%), pertemuan keempat 1 orang (3,22%) dan pada pertemuan kelima 0 orang (0%) dan bertanya kepada teman mulai dari pertemuan pertama sampai pertemuan kelima 0 orang (0%).

f. Memberikan reaksi dalam Menjawab

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan menjawab pertanyaan dari guru pada pertemuan pertama 2 orang (6,45%), pertemuan kedua 1 orang (3,22%), pertemuan ketiga 1 orang (3,22%) dan pertemuan keempat an kelima 0 orang (0%). Kegiatan menjawab pada kegiatan pembelajaran sejarah juga sangat rendah. Kegiatan menjawab ini merupakan kegiatan yang paling sedikit pada kegiatan pembelajaran, kadang-kadang guru memberikan pertanyaan tetapi ada juga yang tidak menjawab padahal jawabannya ada di buku, karena siswa itu banyak yang malas membaca dan akhirnya tidak tahu mana jawabannya. Dari hasil wawancara dengan Danil Candra, diketahui bahwa:

“Kami tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan guru, karena kami tidak menguasai

(7)

materi pelajaran dan tidak mengulangi atau menghafal pelajaran di rumah. Hal inilah yang jadi penyebab utama kami tidak bisa menjawab dan kalaupun ada yang menjawab, pada umumnya jawaban itu tidak sesuai dengan pertanyaan yang dilontarkan guru tentang materi pelajaran yang ditanyakan.” (Wawancara dengan Danil Candra, pada tanggal 5 Desember 2013).

g. Memberikan reaksi dalam Membuat tugas Pertemuan pertama, tidak ada tugas yang di berikan oleh guru, Pertemuan kedua, sebanyak 27 orang siswa, Pertemuan ketiga, sebanyak 35 orang siswa, Pertemuan keempat, tidak ada, Pertemuan kelima, sebanyak 35 orang siswa. Membuat tugas adalah kegiatan yang paling banyak di setiap pertemuan bila dibandingkan dengan kegiatan yang lainnya. Namun ada juga siswa yang tidak membuat tugas karena mereka merasa capek dan malas. Selain malas, siswa juga beranggapan bahwa kadang- kadang tugas tersebut tidak diperiksa hanya dikumpulkan saja. Dari uraian diatas jelas tampak bahwa motivasi siswa dalam kegiatan pembelajaran sosiologi masih kurang, dan berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Syahrijal, yang menjelaskan sebagai berikut:

“bapak selalu berusaha untuk meningkatkan motivasi siswa terhadap mata pelajaran sejarah di lokal ini. Oleh sebab itu berbagai upaya telah bapak coba lakukan untuk tujuan siswa dapat memahami berbagai materi pelajaran yang bapak ajarkan. Salah satunya cara yang bapak lakukan adalah dengan memberi mereka tugas tentang materi-materi yang diajarkan. Namun kenyataannya sebagian besar dari mereka tidak mampu mengerjakan dan menyelesaikan dengan baik tugas yang bapak berikan. Apabila bapak beri mereka pekerjaan rumah, kebanyakan dari mereka mengerjakannya di sekolah dan itupun dengan jalan mencontek hasil pekerjaan teman yang telah selesai membuat tugas di rumah.”

(Wawancara dengan Bapak Syahrijal, pada tanggal 21 November 2013).

h. Memberikan reaksi dalam berdiskusi

Dari pertemuan pertama samapai pertemuan kelima guru tidak melakukan diskusi pada setiap pelajaran, guru hanya langsung memberikan tugas.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa belum semua kegiatan pembelajaran berjalan sesuai dengan keinginan yang diharapkan. Berdasarkan hasil

penelitian yang telah dilakukan dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Motivasi belajar siswa dilihat dari kegiatan memperhatikan pembelajaran Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan memperhatikan penjelasan guru pada setiap kali pertemuan adalah, memperhatikan penjelasan guru pertemuan pertama 10 orang (32,25%), pertemuan kedua 12 orang (38,70), pertemuan ketiga 10 orang (25,80), pertemuan keempat 13 orang (41,93) dan pertemuan kelima 15 orang (48,38%).

2. Motivasi belajar siswa dilihat dari kegiatan mendengar, Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan mendengarkan pada setiap kali pertemuan adalah, pertemuan pertama sebanyak 25 orang (73,52%), pertemuan kedua 20 orang (57,14%), pertemuan ketiga 10 orang (32,25%), pertemuan keempat 11 orang (35,48%) dan pertemuan kelima 15 orang (42,85%).

3. Motivasi siswa dilihat dari kegiatan membaca, dalam kegiatan membaca ini siswa masih dikategorikan sangat rendah. Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan membaca pada setiap kali pertemuan adalah membaca buku sebelum proses pembelajaran dimulai pertemuan pertama sebanyak 5 orang (16,12%), pertemuan kedua 4 orang (12,90%), pertemuan ketiga 6 orang (19,35%), pertemuan keempat 0 orang (0%), dan pertemuan kelima 2 orang (6,45%), kemudian yang membaca catatan pertemuan pertama sebanyak 2 orang (6,45%), pertemuan kedua 4 orang (12,90%), pertemuan ketiga 0 orang (0%), dan pertemuan kelima sebanyak 1 orang (3,22%).

4. Motivasi siswa dilihat dari kegiatan mencatat, berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan mencatat pada setiap kali pertemuan adalah pertemuan pertama 4 orang (12,90%), pertemuan kedua 5 orang (16,12%), pertemuan ketiga 8 orang (25,80%), pertemuan keempat 2 orang (6,45%) dan pertemuan kelima 5 orang (16,12%).

5. Motivasi siswa dilihat dari kegiatan bertanya, Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan bertanya pada setiap kali pertemuan adalah, bertanya kepada guru pada pertemuan pertama sebanyak 2 orang (6,45%), pertemuan kedua 0 orang (0%), pertemuan ketiga 2 orang (6,45%), pertemuan keempat 1 orang (3,22%) dan pada pertemuan kelima 0 orang (0%) dan bertanya kepada teman mulai dari pertemuan pertama sampai pertemuan kelima 0 orang (0%).

6. Motivasi siswa dilihat dari kegiatan menjawab pertanyaan, dalam kegiatan ini siswa masih

(8)

dikategorikan masih sangat rendah, Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan menjawab pertanyaan dari guru pada pertemuan pertama 2 orang (6,45%), pertemuan kedua 1 orang (3,22%), pertemuan ketiga 1 orang (3,22%) dan pertemuan keempat an kelima 0 orang (0%).

7. Motivasi siswa dilihat dari kegiatan mengerjakan tugas, dalam kegiatan ini siswa dikategorikan sedang, Berdasarkan keterangan-keterangan di atas dapat dipahami bahwa, membuat tugas adalah kegiatan yang paling banyak di setiap pertemuan bila dibandingkan dengan kegiatan yang lainnya. Namun ada juga siswa yang tidak membuat tugas karena mereka merasa capek dan malas.

8. Motivasi siswa dilihat dari kegiatan berdiskusi, dalam kegiatan ini guru sangat jarang melakukan diskusi kepada siswa, guru hanya langsung memberikan tugas.

DAFTAR PUSTAKA A. BUKU

A.Daliman, 2012. Metode Sejarah. Penerbit Ombak Afifudin dan Saeani Beni Ahmad. 2012. Metodologi

Penelitian Kualitatif. Bandung: Pustaka Setia.

Arikunto, Suharsimi, 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta

Cholid, Narbuko dan Achamadi Abu. 2009.

Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara Depdikbud. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP). Jakarta : Pustaka Litbang

Elida, Prayitno, 1989. Motivasi Dalam Belajar.

Jakarta: Depdiknas

Hamalik, Oemar. 2009. Metode Belajar dan Kesulitan Belajar. Bandung: Tarsito

Hamzah. 2012. Teori Motivasi dan Pengukurannya.

Jakarta: Bumi Aksara

Moleong, Lexy. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya

PusatKurikulum.2006,(Online),(http://teachingofhisto ry.blogspot.com/2012/06/tujuanpembelajaran sejarah.html, diakses 09 Juni 2013)

Sarbini. 2011. Perencanaan Pendidikan. Bandung:

Pustaka Setia

Sardiman. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. PT Raja Grafindo Persada

UU Sisdiknas. 2013. Sistem Pendidikan Nasional.

Bandung: Fokusmedia

Sugiyono. 2012. Metode penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta Tayibnapis, Farida Yusuf. 2008. Evaluasi Program

dan Instrumen Evaluasi. Jakarta: Rineka Cipta

B. SKRIPSI

Eliya Eka Putri, Motivasi Siswa dalam Pembelajaran IPS di SMP N 2 Bonjol kabupaten Pasaman.

Erma Suryani, Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Belajar Anak Terhadap Pelajaran IPS Kelas IV SDN 09 kayutanam Kabupaten Padang Pariaman.

Elda Negsih, Pengaruh Motivasi dan Tingkat Pendapatan Orang Tua Terhadap hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS di SMP N 2 Batang Anai Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman.

Referensi

Dokumen terkait

Gen z sebagai generasi yang inovatif melihat kesempatan menjadi sebuah ide bisnis yang memiliki nilai tambah, gen z juga berperan penting didalam membantu meningkatkan